[Multichapter] My Lovely Petto (story 5)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Multichapter~ 😛
Chapter     : Lima
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *YESSSS!! :P*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 5 ~

“Bagaimana ini… bagaimana??!!” keluh Din panik.

Naskah yang sejak tadi ia lihat itu kini basah kuyup. Karena panik Din membersihkannya dengan baju yang ia kenakan, dan hasilnya, naskah itu semakin tak terbaca saja.

“Dou shiyo? Master pasti marah…”

Pintu kamar seketika terbuka, Din melemparkan naskah itu ke sembarang tempat. Berharap Yuya tak akan sadar akan hilangnya naskah tersebut.

“Kau tidak ribut kan?” tanya Yuya lalu pelan – pelan menutup pintu di belakangnya.

Din menggeleng cepat, “Tidak master…” jawabnya.

Yuya mengangguk – angguk lalu duduk di kasur. Pandangan Din masih waspada, ia berharap Yuya tak menyadari apa yang terjadi tadi.

“Kenapa wajahmu aneh begitu?” tanya Yuya melihat Din yang sejak tadi terus menatapnya.

Din menggeleng, “Ti…tidak ada apa – apa..” jawabnya lagi.

“Dasar kucing aneh…” gumam Yuya lalu membuka ponselnya.

Seketika ia tersenyum karena nama Aiko muncul di layar ponsel itu.

“Moshi – moshi?” angkat Yuya cepat.

“Takaki – senpai… anou… maafkan untuk hari ini…” suara Aiko di seberang sana.

“Hmm..tidak masalah kok…”

“Minggu depan ada bunkasai di SMA kita… bagaimana jika kita kesana?”

“Eh?? boleh juga…” jawab Yuya gugup.

Setelah menutup telepon Yuya menatap Din, “YATTA!!!” ia berlari menghambur memeluk Din, “hehehehe..”

Sementara itu Din kaget karena Yuya tiba – tiba memeluknya.

“Master…” bisik Din masih setengah kaget.

“Yatta!!” Yuya lalu melepasakan pelukan itu, “Hari ini ku traktir… ayo ganti baju, kita makan diluar..” ajak Yuya.

“Eh??!! horeeee!!” Din ikut meloncat dari kursi.

=========

“Bunka..sai?” tanya Daiki bingung sambil menatap Saifu yang duduk dihadapannya.

Saifu mengangguk, “Kau tak tahu bunkasai?” Saifu balik bertanya.

Daiki yang duduk dihadapannya menggeleng dengan wajah bingung.

“Hahaha..sudah kukira..” Saifu terkekeh pelan, “Itu seperti festival sekolah..” lagi-lagi dahi Daiki berkerut mendengar tentang festival sekolah, membuat Saifu kembali terkekeh pelan.

“Pokoknya nanti akan ada festival disekolahku..setiap kelas membuka stand, asik loh..” jelas Saifu.

Daiki mengangguk – angguk walaupun sebenarnya dia tak sepenuhnya mengerti.

“Oh ya..”

Daiki menatap Saifu, “Kenapa?”

“Kau boleh berwujud manusia saat festival disekolahku…” kata Saifu. Ia kasihan juga kalau Daiki harus seharian berwujud anjing dan menunggunya hingga festival selesai dan lagi dia tak yakin akan sempat memberi makan Daiki jika dia berwujud anjing, setidaknya jika dia berwujud manusia dia bisa membeli makanan sendiri.

“Tak apa – apa nih?” tanya Daiki meyakinkan.

Saifu mengangguk, “Iya..lagipula aku takut nanti kau bosan dan ingin jalan jalan, kalau dalam bentuk anjing nanti kau bisa terinjak, hehe..” kata Saifu sambil terkekeh pelan.

Daiki mencibir, “Baiklah..aku mengerti..anou..”

“Nani?”

“Aku mau pocky..” kata Daiki sambil menatap Saifu,

Saifu tertawa sesaat, “Baiklah..” berdiri lalu membuka pintu kamar, “Tunggu disini jangan berisik ya, pocky nya habis aku akan beli di minimarket dulu..dekat kok, jadi jangan berisik” Saifu memperingatkan, Daiki mengangguk sambil tersenyum manis, Saifu balas tersenyum lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari luar.

Daiki masih menatap pintu kamar Saifu yang tertutup , entah kenapa setiap dia melihat wajah Saifu yang tersenyum dia merasakan perasaan aneh dalam dadanya dia tak tahu kenapa, dan tak mengerti kenapa itu bisa terjadi.

Daiki merebahkan dirinya dilantai, menatap langit langit kamar Saifu, menatap lama tanpa berkata apapun, meresapi apa yang ingin dia fikirkan saat itu.

“Kenapa..aku..begini?” gumamnya pelan.

===========

“Jangan loncat – loncat begitu…” tegur Yuya melihat Din meloncat – loncat di sebelahnya.

“Hehehe…” suasana hati Din sedang baik hari ini, ditambah ia senang sekali memakai baju yang dibelikan Yuya, sebuah baju terusan selutut yang manis berwarna pink muda.

“Mau makan apa?” tanya Yuya.

Din berfikir, mengedarkan pandangannya saat menemukan sebuah gambar yang menarik untuknya, “Itu!! Itu!!” tunjuk Din dengan bersemangat.

“Ramen?”

“Namanya Ramen?” Din malah balik bertanya.

“Baiklah…ayo..” Yuya menarik tangan Din.

Ketika masuk ke dalam kedai Ramen itu, bau harum khas Ramen menyeruak di hidung Din.

Ia tak bisa berhenti tersenyum karena sejak tadi ia sangat senang dibawa oleh Yuya jalan – jalan.

“Eh!! Yuyan!!” sebuah suara menyadarkan Din.

Yuya sendiri kaget karena Hikaru ternyata berada di belakang counter kedai tersebut, memakai seragam pelayan disitu.

“Ngapain kau disini?” tanya Yuya setengah kesal melihat Hikaru disitu.

“Aku kan kerja disini…” jawabnya lalu tersenyum memamerkan gigi gingsulnya dengan jelas, “Dinchaaann~ seperti biasa kau kawaii sekali…” goda Hikaru pada Din.

“Eh? Hontou? Baju ini dibelikan Mast..” belum sempat Din menyelesaikan kalimatnya Yuya menutup mulut Din cepat.

“Bajunya dibelikan Mama ku…” jawab Yuya cepat lalu membawa Din duduk di salah satu kursi di depan counter.

Selama beberapa saat setelah itu Din sibuk dengan Ramen nya. Ia belum pernah merasakan makanan itu walaupun sudah beberapa kali melihatnya saat ia bertugas dulu. Namun karena ia tak bisa terlihat manusia, ia tak bisa merasakan makanan itu.

Hikaru terus memperhatikan Din sejak tadi, lalu menarik Yuya membelakangi Din.

“Ayolah Yuya… kau harus bisa membuatku dengannya berkencan…” kata Hikaru pada Yuya.

“Kau apa – apaan sih…sudahlah lupakan saja..” tolak Yuya.

Hikaru menyodok pelan perut Yuya, “Sekali saja…kumohon..”

Yuya malas menanggapi playboy cap jempol itu jika saja ia bukan sahabatnya pasti sudah ia tolak terus. Namun Hikaru tipe pemuda yang tidak mudah menyerah dalam soal wanita. Mungkin dengan membuat mereka berdua berkencan Hikaru akan menyerah soal Din, mengingat gadis itu cukup aneh untuk ukuran manusia.

“Baiklah… kau boleh berkencan dengannya…”

“Hontou?? Kapan??”

“Datanglah ke bunkasai di SMA kita… kau boleh kencan dengannya disana…” putus Yuya akhirnya.

“Hehehe.. terima kasih kawan…” bisik Hikaru sumringah.

===========

Saifu mengambil beberapa kotak pocky dari raknya, lalu hanya memegangnya saja tidak menaruhnya didalam keranjang. Dia tak mengambil keranjang untuk menaruh belanjaannya karena toh dia pikir dia hanya ingin membeli beberapa kotak pocky yang bisa dia pegang dengan tangannya.

“Ah…aku mau teh..” Saifu berjalan kerah rak yang memang biasanya ditaruh minum-minuman di minimarket ini, langkahnya seketika berhenti ketika dia melihat dua orang yang dikenalnya sedang memilih minuman yang ingin mereka beli.

“Ah..Takaki-san,” salah satunya menoleh dan mendapati Saifu yang hanya diam terpaku.

Saifu tersenyum canggung, tapi tidak dengan Ryutaro yang nampak tidak enak, “Ayukawa-san…konnichiwa..” sapa Saifu ramah lalu berjalan menghampiri Sora dan Ryutaro walau dia merasa langkahnya sungguh berat.

“Kau sedang belanja?” tanya Sora.

Saifu mengangguk, “Kalian juga?”

“Kami sedang kencan ..hehehe..” jawab Sora sambil terkekeh pelan, dan Saifu hanya bisa tersenum canggung. Dengan buru-buru dia mengambil salah satu minuman dirak itu tanpa melihat minuman apa yang dia ambil.

“Aku duluan ya..” kata Saifu pelan, lalu buru – buru meninggalakan minimarket itu tentunya setelah membayar di kasir.

Saifu tak ingin, tapi entah kenapa dia malah menangis lagi. Air matanya mengalir di pipinya.

“Bodoh..jangan menangis..” keluh Saifu, merutuki dirinya yang lemah itu sambil mengusap air mata yang masih saja jatuh.

=========

“Kita mau kemana Yuya-chan??” tanya Din yang heran sejak tadi Yuya terlihat mencari seseorang.

“Nah! Itu dia…”

Hikaru datang menghampiri Yuya dan Din.

“Hikaru-chan?” tanya Din heran.

“Hari ini kau pergi bersama Hikaru ya…” bisik Yuya, ketika melihat Hikaru melambai ke arah mereka.

“Eh? kenapa?”

“Sudah… kau ingin aku bersama Aiko kan? Sekarang ikuti saja perintahku..” bisik Yuya lagi, tepat sebelum Hikaru sampai di hadapan mereka.

“Yo! Dinchan…”

Yuya sengaja membiarkan Hikaru pergi duluan dengan Din sebelum Aiko datang. Karena kalau tidak begitu, pasti Aiko akan sedih melihat Hikaru bersama Din.

“Ayo Dinchan..” ajak Hikaru.

Din masih menoleh pada Yuya ketika Hikaru menarik lengan Din pelan.

Yuya melotot mengisyaratkan agar Din harus bersama Hikaru saja.

“Dinchan senang ke festival?” tanya Hikaru membuyarkan pikiran Din sejak tadi.

“Eh? festival? Hmmm.. iya..” jawab Din walaupun tak yakin benar apa itu festival.

“Sou ne.. aku ini rajanya festival loh!” seru Hikaru ceria.

Din menatap Hikaru masih bingung, namun sesaat setelah mereka tiba di gerbang depan sekolah itu membuat Din tersenyum lebar.

Warna – warni mencolok, berbagai hiasan terpasang di depan gerbang. Din melihat banyak sekali pernak – pernik di dalam tempat itu.

“Waaaa….”

Hikaru menyelipkan jemarinya di jemari Din, “Ayo masuk..” katanya lagi.

“Maaf aku telat senpai..” Aiko datang dua menit setelah waktu janjian.

Biasanya Yuya tak suka menunggu, namun karena ini Aiko, ia memaafkannya.

“Tak apa… ayo masuk..” kata Yuya pada Aiko.

Aiko mengangguk pelan. Langkah keduanya menyusuri tempat mereka dulu di sekolah terasa menyenangkan.

“Baru saja lulus, tapi rasanya sudah rindu suasana festival seperti ini…” gumam Aiko mengedarkan pandangannya di seluruh sudut sekolah.

“Hmmm..”

“Aku ingat ketika tahun pertamaku, Yaotome-senpai berperan sebagai pangeran…” Aiko seakan menyadari sesuatu, “Gomen…aku..”

“Tak perlu dipikirkan…” balas Yuya walaupun sedikit dongkol mendengarnya.

===========

Saifu yang pulang dengan wajah sedikit sembab sehabis pulang dari minimarket terus membuat Daiki khawatir. Walaupun Saifu bilang tak apa – apa, tapi tetap saja Daiki terus memikirkan apa penyebab wajah sembab Saifu.

“Daiki..” panggil Saifu menyadarkan lamunan Daiki.

Daiki yang tengah menopang wajah di salah satu bangku yang disediakan stand Moe Moe cafe kelas Saifu menatap gadis itu, sedikit kaget karena sekarang Saifu tengah memakai baju maid ala yukata sambil memegang baki ditangannya, membuat Saifu terlihat manis.

“Eh..ah..apa?” Daiki sedikit salah tingkah melihat wajah bingung Saifu yang dimatanya malah terlihat sangat manis.

“Kau haus? Atau lapar?” tanya Saifu, sedari tadi Saifu sudah dibuat pusing oleh teman-teman perempuannya yang heboh menanyai siapa Daiki, Saifu bilang Daiki adalah sepupunya, dan nampaknya teman-temannya itu akan terus bertanya tentang Daiki kalau dia tetap berada di belakang membantu temannya membuat pesanan, maka dari itu Saifu lebih memilih melayani tamu – tamu dengan pesanannya.

“Kau bosan ya?” taanya Saifu, Daiki menggeleng

“Tidak kok…kau manis sekali pakai baju seperti itu” puji Daiki.

Saifu tersenyum, “Arigatou ne..”

Daiki balas tersenyum.

“Saifu!bantu kami..” seru teman Saifu yang mulai sibuk karena mulai banyak orang yang mengunjungi stand kelas mereka.

“Ah ..hai” Saifu menyahut, “Kutinggal ya..nanti Dinchan dan Nii-chan katanya ingin kemari jadi mungkin kalau bosan kau boleh pergi bersama Dinchan dulu, sudah ya” kata Saifu lalu berjalan kearah pintu menyambut tamu yang masuk ke stand kelasnya.

Daiki masih memerhatikan Saifu yang dengan sopannya menyambut setiap tamu yang masuk.

“irrashaimaseee..” seru Saifu saat melihat Sora berjalan mausk ke stand kelasnya, Saifu tersenyum.

Daiki sedikit menegang melihat Sora dengan Saifu namun tak dapat berbuat banyak, hanya diam sambil melihat setiap ekspresi yang keluar dari wajah Saifu.

“Wa…Takaki-san, kau manis sekali..” puji Sora, Saifu membalasnya dengan tersenyum.

“Arigatou… silahkan masuk” kata Saifu sopan.

“Eh..tidak usah..” tolak Sora halus.

“Eh?Kenapa?”

“Aku hanya mencari Ryu..” kata Sora sambil melirik kedalam isi kelas, namun tak menemukan sosok Ryutaro di situ.

“Ryutaro-kun membantu membuatkan pesanan di bagian dapur” jelas Saifu.

Sora menatap Saifu lalu mengangguk mengerti, “Baiklah… kalau bertemu dengannya bilang agar tak lupa dengan janjinya sore ini,” kata Sora lalu beranjak pergi.

“Jya nee…” kata Sora lalu berjalan menajuh, meninggalakan Saifu yang hanya bisa diam ditempatnya.

Daiki masih menatap Saifu, wajahya berubah kecut meihat wajah Saifu yang tak lagi ceria dia sedikit murung walau begitu Saifu masih saja berusaha tersenyum.

=========

“Mau kesana?” tanya Hikaru menunjuk sebuah stand purikura yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Memang bukan purikura asli, melainkan kelas yang membuat seolah – olah mereka bisa membuat purikura di tempat itu.

“Apa itu?” tanya Din bingung.

“Purikura…ayo kita berfoto bersama!!” kata Hikaru.

Mereka mendaftar dan harus menunggu beberapa saat sebelum di foto. Membayar beberapa yen untuk di foto seorang anak di stand tersebut.

“Ayo…lebih dekat dong senpai..” kata anak yang bertugas mem foto mereka itu.

Hikaru menatap Din sekilas, lalu tanpa aba – aba menarik wajah Din menghadap ke arahnya, menempelkan bibirnya di bibir Din tepat ketika blitz menyala untuk memfoto mereka.

“Eh?” Din kaget dengan apa yang Hikaru lakukan.

“Hehehehe…”

“Tunggu fotonya dicetak ya…” kata anak yang bertugas tadi.

“Baiklah…aku lapar…ayo Dinchan..” Hikaru menarik tangan Din menuju ke tempat lain. Din masih setengah percaya dengan apa yang ia alami tadi.

“Eh…ada stand purikura juga tahun ini!!” seru Aiko bersemangat.

“Tahun kemarin kelas kalian ya yang membuatnya?” tanya Yuya pada Aiko.

Aiko tersenyum menatap Yuya, “Senpai ingat?”

“Tentu saja… aku bulak – balik ke stand mu terus… mana mungkin aku lupa..” kata Yuya lagi.

“Hehehe.. iya ya Senpai.. natsukashii…” ucap Aiko, senyum masih terus mengembang di bibir gadis itu.

“Mau foto?” tanya Yuya, Aiko hanya mengangguk setuju.

“Aku pilih latar dulu..” kata Aiko meninggalkan Yuya yang melihat – lihat foto yang sudah jadi.

Yuya melihat sebuah foto.

“Eh?”

Mata Yuya terbelalak melihat apa yang ada di foto itu, terlebih lagi siapa yang ada di foto itu.

“EEEHHH???”

Yuya menutup mulutnya sendiri, foto Hikaru dan Din yang berciuman.

===========

Shift Saifu hanya sampai jam dua siang saja, setelah ini temannya yang akan menggantikannya, Saifu menghampiri Daiki yang masih duduk di meja tadi.

“Daiki..ayo jalan-jalan..” ajak Saifu. Daiki mendongak menatap Saifu, lalu bangkit berdiri, berjalan disamping Saifu yang membawanya berkeliling festival sekolah.

Saifu membelikan Daiki macam-macam makanan, Daiki nampak bersemangat mencoba tiap makanan yang ada di setiap stand kelas yang menjual makanan.

“Saifu~” panggil Daiki pelan.

Gadis yang di panggil itu menatap Daiki, bingung dengan Daiki yang sedikit murung, “Kau kenapa?” tanya Saifu

Daiki menggeleng.

“Kau bosan?”

Daiki kembali menggeleng.

“Lapar?”

Lagi – lagi Daiki menggeleng.

“Kau kenapa?” tanya Saifu bingung, tak biasanya Daiki bersikap seperti itu.

“Tidak apa – apa kok..hehe..” Daiki tersenyum Saifu berfikir sebentar, lalu menarik tangan Daiki yang nampak bingung, “Ayo main denganku…” kata Saifu sambil tersenyum.

Daiki hanya mengikuti gadis muda itu, entah kenapa dia hanya ingin mengikuti si pemilik senyum itu.

“Saifu!!” panggil Yuya yang berlari kearah Saifu yang sedang bersama Daiki, Yuya terengah – engah diikuti Aiko dibelakangnya.

“Nii-chan..kenapa?” tanya Saifu bingung dengan wajah panik kakaknya.

“Kau lihat Dinchan??” tanya Yuya tampak terburu – buru.

Saifu menggeleng, “Tidak Nii-chan…”

“Eh?? Din kemana??” tanya Daiki ikut panik.

Bukannya menjawan Yuya malah langsung pergi meninggalkan Daiki dan Saifu yang masih menatapnya bingung sedangkan Aiko berlari mengejar Yuya.

“Din…Din, kau dimana?” panggil Daiki lewat telepatinya namun tak ada jawaban.

“sial..dia kemana sih?”, gumam Daiki kesal.

=========

Yuya masih berlari mencari Din sementara Aiko sedari tadi hanya mengikuti senpai nya itu tanpa tahu tujuan yang pasti.

“Takaki-senpai… ada apa dengan Dinchan?” tanya Aiko dengan nafas tersengal – sengal.

“Err…” Yuya tak bisa menjawab bahwa ia melihat foto Din berciuman dengan Hikaru.

Sesaat setelah melihat foto itu, entah kenapa Yuya merasa marah pada Hikaru dan Din. Ia tak terima saja dengan hal itu.

Yuya masih mengedarkan pandangannya di sekeliling tempat itu, namun tak ada tanda – tanda keberadaan Din maupun Hikaru. Dengan tergesa ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Hikaru namun hasilnya tetap nihil. Hikaru sama sekali tak menjawab teleponnya.

“Sial! Dimana sih bocah itu??!!” rutuk Yuya kesal.

“Kenapa senpai?” tanya Aiko belum menyerah untuk bertanya pada Yuya.

Yuya menatap Aiko, “Gomen Aiko-chan… aku harus mencari Din…sungguh..” kata Yuya menunduk pada Aiko.

Aiko menatap Yuya lama, “Baiklah senpai…aku tunggu disini ya..” kata gadis itu menunjuk sebuah stand café di hadapannya.

Yuya mengangguk dan berlari menjauh. Ia khawatir pada Din, selain karena gadis itu begitu polos, Hikaru punya reputasi cukup buruk soal wanita. Seluruh pikiran buruk akan hal tersebut memenuhi pikirannya saat ini.

Bagaimana jika Din di salah gunakan oleh Hikaru?

Ia tak mau berpikiran jelek pada sahabatnya itu, namun kenyataan memang Hikaru cukup berbahaya bagi gadis polos seperti Din.

Sambil masih mencoba menghubungi Hikaru ia merutuki diri sendiri tak memberi Din alat komunikasi sehingga ia bisa mencari Din.

Yuya berlari ke arah belakang sekolah, dan menemukan Din dan Hikaru di bawah sebuah pohon, keduanya tampak bercanda.

“DINCHAAANN!!” seru Yuya menghampiri keduanya.

Din berdiri bingung melihat tuannya itu berlari dengan penuh peluh.

“Kau kenapa Yuya? Ada yang salah?” tanya Hikaru bingung, ikut berdiri dengan Din.

Dengan masih terengah – engah Yuya menarik lengan Din, “Ayo pulang!” serunya kesal.

“Hah?” Din memiringkan kepalanya, “Kenapa? Kata Hikka-chan, ada pesta kembang api nanti malam…” ucap gadis itu setengah sebal pada majikannya itu.

“Kubilang pulang!!” seru Yuya tak sabar.

“Jangan bentak – bentak, Yuya!!” Hikaru menarik lengan Din yang sedari tadi di pegang oleh Yuya.

“Kau jangan ikut campur!!” seru Yuya lalu menarik Din menjauh dari tempat itu.

“Master…sakit..” keluh Din karena Yuya mencengkram tangannya terlalu kuat sambil berjalan tadi.

Yuya melepaskan tangannya, “Gomen…”

“Ada apa Yuya-chan?” tanya Din menatap wajah Yuya yang terlihat marah sejak tadi.

Yuya menatap wajah Din yang begitu dekat dengan wajahnya. Ia tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan tindakannya tadi. Hanya rasa marah ketika melihat Din bersama Hikaru begitu jelas di otaknya saat itu.

“Gomen…” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Yuya.

Din manyun, “Tapi master… aku ingin lihat hanabi…” keluh gadis itu lagi.

Yuya duduk di sebelah Din, tak mampu menjawab apapun.

“Master…” panggil Din pelan.

“Hmmm?”

“Tadi siang Hikka-chan menciumku… menurutmu kenapa ya?” tanya Din tiba – tiba.

Seperti biasa gadis itu memang sangat random dalam berbagai hal.

Yuya menatap Din, “Menurutmu?”

“Aku tak tahu master… makanya aku bertanya padamu…” keluh Din kesal karena Yuya malah balik bertanya.

“Memang rasanya seperti apa?” tanya Yuya lagi.

Din menoleh, “Seperti ini..” tanpa aba – aba Din menempelkan bibirnya pada bibir Yuya, “Eh…kenapa rasanya berbeda ya?” muka Din memerah karena kaget.

Wajah pemuda yang duduk di sebelahnya juga tak kalah merah. Ya, rasanya memang beda. Setidaknya itulah yang Yuya akui.

=========

“Daiki…kau khawatir dengan Dinchan?” tanya Saifu.

Daiki yang duduk disampingnya mengangguk, Saifu membawanya ke atap, Saifu membawa sebuah plastik yang Daiki tak tahu apa isinya, “Habis dia kan polos begitu, makanya aku khawatir..” jelas Daiki.

“Sou..”

“Oh ya…”

“Hmm?”

Saifu membuka plastik yang ada ditangannya.

“Kita mau main apa?” tanya Daiki bingung, permainan apa yang bisa mereka lakukan berdua di atap sekolah? Membuatnya bingung sedari tadi.

“Kore..” Saifu menunjukkan sebuah benda panjang yang dia genggam, “Kita main kembang api” kata Saifu riang, “Kembang api dari sekolah masih nanti malam..” jelas Saifu lagi.

“Hanabi??” Daiki nampak bingung.

Saifu tersenyum, “Kalau aku sedang sedih..aku suka main ini..” Saifu menyalakan kembang api kecil itu, membuat bunga bunga api bermunculan, Daiki menatap kembang api itu.

“Saat kecil, kalau aku jatuh lalu menangis…Nii-chan akan membelikanku kembang api..lalu dia menyalakannya dan bilang ‘rasa sakit hilanglah…’, atau ‘rasa sedih hilang lah..terbakar..terbakar..’, lalu saat kembang apinya habis Yuya-Nii akan membuanganya dan bilang, ‘nah rasa sedihnya sudah dibuang..sekarang tersenyumlah..’ begitu..” jelas Saifu lalu tersenyum menatap Daiki yang terpaku menatapnya.

“nah..” Saifu memberikan satu kembang api untuk Daiki lalu menyalakannya, “Semua rasa sedih Daiki…hilanglah..terbakar….terbakar..” gumam Saifu sambil tersenyum memejamkan matanya dan memegang tangan Daiki yang hanya menatap Saifu.

Saat kembang api itu habis, Saifu mengambil nya dari tangan Daiki, “Nah…” Saifu membuang kembang api itu, “Sekarang tersenyumlah..” kata Saifu sambil tersenyum menatap Daiki.

Wajah terpaku Daiki lama – lama berubah, dia menarik sudut – sudut bibirnya membentuk senyuman manis yang sangat pas diwajahnya itu.

“Arigatou…master..” gumam Daiki pelan, sambil menatap Saifu yang juga masih menatapnya.

Dia merasa benar-benar menyukai Saifu, tapi dia tak boleh jatuh cinta. Dia peri cinta dan aturan paling jelas di dunia peri adalah ia tak boleh jatuh cinta, terlebih pada seorang manusia.

============

Setelah insiden ciuman itu Yuya selalu merasa ia malu terhadap Din. Rasanya canggung sekali setiap bertatapan dengan gadis itu. Malam ini pun ia merasa sulit tidur, namun tak lama ia mendnegar suara isakan tangis dari arah jendela.

Din menangis menatap ke luar jendela. Yuya bangun dan menghampiri Din.

“Ada apa?” tanya Yuya pelan.

Din menoleh menatap Yuya, “Aku kangen dunia peri…aku tak pernah selama ini jauh dengan tempat asalku…” kata Din di sela isak tangisnya.

Yuya menatap Din bingung, “Sabarlah…” kata Yuya tak yakin harus mengatakan apa.

Din malah terisak makin keras.

“Dinchan…sudahlah…”

Din menghambur ke pelukan Yuya, “Huwaaaa!!”

Yuya mendekap Din berdoa semoga isakan Din tak terdengar keluar kamarnya.

“Sudahlah jangan menangis..” bujuk Yuya pelan.

Din masih menangis di dada Yuya, pemuda itu bahkan merasa kaosnya mulai basah oleh air mata Din.

Tak lama isak tangis itu berhenti, Din menangis hingga kelelahan dan tertidur di pelukan Yuya.

“Dinchan…” panggil Yuya namun tampaknya tidur Din pulas sekali, ia tak tega membangunkan gadis itu.

Yuya menyandarkan punggungnya di jendela, diterangi sinar bulan yang cukup terang malam itu ia tidur pulas dengan Din tertidur di dekapannya. Entah dengan alasan apa ia tak mau melepaskan pelukan itu.

===========

TBC lagiiiiii~

Apakah chapter ini sedikit jelas atau tidak???hahahaha~
But still, COMMENTS ARE LOVE kawan2… hehehe



Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (story 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s