[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 1)

Title        : Jumping To My Heart
Type          : Multichapter
Chapter     : One
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance, a little bit Fantasy
Ratting    : PG-13 ada adegan yang sedikit dewasa…maapkan saia.. *bow*
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Hinata Thalia (OC), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Yoshitaka Asuka (OC), Suzuki Saifu (OC), Yanagi Riisa (OC), Tsukiyomi Michiko (OC), Sawatari Mika (OC), Kujyo Aoi (OC), Sugawara Ichiko (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Ikuta Din.. :P. All HSJ members are belong to JE, Thalia pinjem ama Thalia, Opi punyaan Opichi, Asuka charanya PyPy, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Michiko charanya Jenny Winarta, Mika punyaan Fasha, Aoi pinjem juga punya Fanny, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Note : Rada2 OOC ya kawan~ soalnya saia gak tau persis Character asli para pemaen… #Plakk… but it’s just a fiction… maafkan saia kawan2…hahaha

Jumping To My Heart
~ Chapter 1 ~


“Ohayou~” Yabu masih menutup sebagian matanya ketika sampai di ruang latihan pagi itu.

“Wajahmu jelek,” goda Inoo lalu duduk di sebelah Yabu.

“Berisik,” semalaman ia tak bisa tidur karena tetangganya yang manja itu terus menganggunya.

Inoo tak menggubris Yabu dan mulai memainkan laptopnya lagi.

“Tugas?” tanya Yabu akhirnya.

“Sou yo… tugas lagi tepatnya..” Inoo yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Meiji tingkat lima itu membuatnya sedikit kewalahan menjadi penyanyi sekaligus mahasiswa.

“Jangan terlalu keras pada dirimu…” kata Yabu pada Inoo.

“Hmmm..” Inoo menjawab seadanya.

Ponselnya menyala tiba – tiba. Yabu meliriknya sepintas, ia tahu pasti orang yang sama dengan yang semalam meneleponnya.

“Thalia… aku sedang latihan…” angkat Yabu sedikit terganggu.

“Kenapa Kou-chan selalu gitu sama aku…” Thalia manyun di seberang sana.

“Sudahlah…nanti aku telepon lagi…”

“Chotto!! Kou-chan!! Nanti pulang latihan ke rumah ya… aku buatkan brownies untuk Kou-chan loh…” ucap Thalia manis.

“Ok desu… sudahlah…kau masih di sekolah kan?”

“Masih…hehehe..” Thalia memutuskan hubungan telepon itu.

“Thalia lagi?” tanya Inoo.

Yabu hanya mengangguk. Hinata Thalia, temannya sejak kecil. Thalia dan dirinya berbeda hampir enam tahun, tapi karena mereka terlalu sering bersama, Thalia sudah menganggap Yabu seperti temannya saja. Namun sejak beberapa bulan lalu, Thalia terus berkata ia ingin berpacaran dengan Yabu.

Bukannya Yabu tak ingin berpacaran, tapi kesibukannya sekarang sungguh tak mungkin ia kesampingkan. Ia memang bukan ketua resmi di boyband yang sudah terbentuk sejak tahun 2007 ini, tapi sebagai anggota tertua, dia mau tak mau merasa sedikit bertanggung jawab. Lagipula ia selalu melihat Thalia sebagai adiknya sendiri.

“Yabu-kun… Takaki-kun belum datang…” lapor Keito mendekati Yabu.

“Bocah itu…” Keluh Yabu lalu men dial nomor Yuya.

=======

“Hai??” Yuya mengangkat telepon itu setengah sadar.

“KAU DIMANA??!! LATIHAN AKAN DI MULAI!!!” teriak Yabu tak sabar.

Yuya menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan Yabu, “Eh? sudah waktunya ya?” Yuya mengacak rambutnya yang sebenarnya sudah acak – acakan itu.

“CEPAT DATANG!!”

“Wakatta..” Yuya menutup flip ponselnya, mengguncang tubuh di sebelahnya.

Orang di sebelahnya itu menggeliat sebentar, “Apa?” ia merasa terganggu.

“Aku harus latihan Dinchan… nanti ku telepon… oh iya, ini kunci cadangan…” Yuya memaksa tubuhnya beranjak dari kasur.

Din menguap, menutupi tubuhnya yang tak memakai apapun saat itu.

“Tak keberatan kan aku merokok disini?” ucap Din.

“Ii yo…” Yuya masuk ke kamar mandi dan bersiap – siap untuk pergi.

“Yuya… aku lapar…” keluh Din.

“Ada makanan di lemari…ambil saja… jya! Aku berangkat dulu…” Yuya merapikan sedikit rambutnya dan mengambil kunci mobil.

Din mengepulkan asap rokoknya, sedikit pusing karena semalam ia minum cukup banyak. Mansion yang cukup mahal, pikir Din. Ia tak pernah tinggal di mansion semewah ini.

Din mengambil pakaiannya yang di lucuti Yuya semalam. Ia memakainya kembali dan mencari makanan di dapur.

“Tak buruk…” Din mengambil mie instan dan mulai memasaknya. Sambil menunggu, ia menemukan sebuah pesan dari sahabatnya.

From : Opichi~
Subject : doko?
Kau dimana sih?
Kenapa teleponku tak diangkat?
Besok siang kita ada presentasi…

Din menepuk dahinya karena lupa akan presentasi siang ini. Ia sama sekali belum membaca bahan untuk presentasi. Sambil makan, ia mencoba membaca sedikit bahan presentasinya.

“Ah!” karena rasa malas, ia segera berhenti dan mengambil lipstik di tasnya, beranjak masuk kembali ke kamar.

Thanks for last night~

Ia terkikik membaca tulisannya sendiri di kaca kamar Yuya. Ia tahu selamanya ia hanya akan jadi teman dengan Yuya, tapi paling tidak memiliki Yuya untuk beberapa malam tidak buruk juga.

========

“Hikaruuuuu!!!” Asuka menyeruak masuk ke mansion itu dengan sedikit kesal.

Ruangan itu kosong. Tak biasanya mahluk malas itu sudah bangun sepagi ini. Asuka melongok ke dalam kamar, tapi ruangan itu juga kosong.

Dengan kesal ia segera menelepon Hikaru.

“Kau dimana?!” seru Asuka.

“Latihan…hehehe.. hebat kan aku bisa bangun pagi?” tawa Hikaru yang khas memenuhi telinga gadis itu.

Asuka tersenyum, “Bagus… kau banyak kemajuan ya…”

“Sampai kapan kau masih merasa aku seperti dulu?”

“Selalu…” Asuka menutup teleponnya dan memandang mansion ukuran sedang itu lalu menggeleng malas.

Selalu berantakan, dan ujungnya memang ia yang akan membereskan semua kekacauan kamar ini. Sejak ia kecil, kamar Hikaru selalu berantakan, dan ia yang akan membereskannya.

Hingga mereka pindah ke Tokyo, dan punya mansion bersebelahan pun tetap saja sama.

“Baka…” ucapnya lirih.

Namun sekesal apapun ia pada Hikaru, pada akhirnya ia selalu kembali membantu teman kecilnya itu. Mungkin karena sejak kecil, cintanya memang hanya untuk pemuda gingsul yang berantakan itu.

==========

Saifu tersentak ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.

“Kau kenapa?” pemuda itu tersenyum, senyum paling manis yang bisa selalu membuat Saifu berteriak di hadapan laptopnya.

“Kenapa…kenapa?” Saifu linglung.

Ia selalu meng idolakan Arioka Daiki, tapi kenapa orang itu kini ada di hadapannya? Lengkap dengan senyum nya yang menawan, lengkap dengan segalanya.

“Saifu-chan… daijoubu?”

‘DIA TAHU NAMAKU!!NAMAKU!!’ Saifu makin tak mengerti apa yang terjadi?

Seketika rasanya badannya lemas tak berdaya. Kenapa ini bisa terjadi? Arioka Daiki mengetahui namanya?

“Ano ne… jangan berwajah seram begitu… aku kan tidak menggigit..” kata Daiki lagi.

Makin sesak nafaslah dia, Saifu hanya ingin berteriak karena Daiki berada di hadapannya.

“Fu-chan!! Fu-chan!!”

Saifu setengah tak percaya ketika ia terbangun, “Aku dimana?”

“Di kelas lah…” Mika memandang sahabatnya itu tak mengerti, “Kau kenapa sih?” dahi Mika berkerut.

“Aku…” mimpinya terasa sangat nyata. Ia tak merasa bahwa itu adalah mimpi.

“Kau kenapa?” desak Mika lagi.

“Aku memimpikan Arioka Daiki…” kata Saifu dengan suara serak.

Mika mencibir, “Kenapa harus dia sih? Lagipula dia sudah lulus dari sekolah ini…” ungkap sahabatnya itu.

Mika memang tak pernah suka dengan boyband yang selama ini membuat Saifu tergila – gila. Apalagi anggota boyband itu memang lulusan dari sekolah mereka, Horikoshi. Saifu hanya tersenyum kecut, kalau saja Mika tahu alasannya masuk ke sekolah ini memang karena Hey! Say! JUMP, pasti Mika akan memarahinya.

Sementara Mika masuk ke sekolah ini karena memang ia mendapat beasiswa.

“Sawatari Mika ditunggu di ruang OSIS sekarang…” suara itu menggema di seluruh kelas.

“Pasti si ketua OSIS mangkir lagi…” umpat Mika kesal.

Saifu tak membalas, dirinya masih terus memikirkan mimpi tadi, “Kenapa terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi ya?” keluhnya, berharap peristiwa di mimpi tadi bukan sekedar bunga tidurnya.

==========

Mika berjalan di koridor dengan malas – malasan. Kalau bukan karena ia dapat beasiswa dan harus menjadi anggota OSIS, ia tak akan mau melakukannya. Di daulat sebagai sekretaris OSIS memang menyenangkan, tapi hanya jika si ketua OSIS bisa diajak kerja sama. Lagipula, kenapa juga Nakajima Yuto yang notabene adalah dari kelas artis bisa terpilih jadi ketua OSIS? Membuatnya repot saja.

“Ada apa sensei?” tanya Mika ketika sudah masuk ke ruang OSIS.

“Karena hari ini Nakajima-kun tak bisa masuk, kau bisa membantu bapak menulis laporan ini?” katanya seraya memberikan sebundel kertas pada Mika.

“Wakatta…” Mika sudah malas berdebat.

Walaupun ketua OSIS itu akan lulus tahun ini, ia tetap kesal karena Yuto belum juga lengser dari jabatannya. Sementara khas seperti artis, ia jarang sekali masuk.

“Kau jadi sekretaris ya…” ucapan Yuto di awal semester itu menjadi awal ketidak beruntungannya terus berada dekat dengan Yuto.

Jika saja Saifu yang kebagian tugas ini, ia pasti girang karena bisa dekat dengan salah satu idolanya, tapi buat Mika ini sebuah bencana.

“Laporan lagi?” tanya Saifu kaget melihat Mika datang membawa banyak kertas.

“Un, si ketua mangkir lagi…”

“Oh ya? Dia kemana?” Saifu langsung sumringah.

“Entah…urusan artis..” keluh Mika.

“Kau jangan begitu… mereka kan sibuk, jadi wajar jika mereka jarang masuk…” kata Saifu mulai membela idolanya.

“Hmmm..”

Mika tak mendengarkan lagi, ia mulai membaca bundel kertas itu dengan perasaan masih dongkol setengah mati.

=============

“Oke…latihan hari ini cukup..” kata pelatih sebelum akhirnya membubarkan pertemuan hari itu.

Semua member serentak mengambil minuman dingin dan duduk berserakan di lantai ruang latihan. Karena hari ini adalah latihan yang cukup melelahkan. Persiapan konser memang selalu membuat mereka harus berlatih ekstra keras.

“Aku harus ke kampus..” kata Inoo yang beranjak paling awal sambil mengelap keringatnya.

“Aku juga!” Keito ikut bangun dan masuk ke ruang ganti bersama Inoo.

“Hmmm..” yang lain hanya menjawab seadanya.

Yamada berguling mengambil laptopnya yang sejak tadi ia charge baterainya.

“Sudah penuh..” katanya senang, lalu segera menyalakan laptopnya.

“Pasti masuk Fan café lagi ya?” tanya Daiki ikut berguling mendekati Yamada.

“hehehe..” Yamada hanya tertawa.

“Kau masuk Fan Café?” tanya Chinen ikut – ikutan ke depan laptop.

“Jangan berisik!!” seru Yamada.

“Aduh… sejak pagi aku sakit perut..” keluh Chinen yang terlihat kesakitan.

“Cepat bangun…aku antar ke Rumah Sakit…” Yabu menarik tangan Chinen.

Yamada dan Daiki hanya melihat sekilas, kembali melihat layar laptop setelahnya.

“Waaa~ namamu…”

Yamada menutup mulut Daiki cepat. Memang Yamada sengaja masuk ke fan café milik JUMP. Berawal sejak seminggu lalu ketika ia merasa sangat bosan di rumah. Ia ingin tahu apa saja yang fansnya katakan tentang dirinya. Maka ia membuat akun palsu, dengan nama Ryo0905.

Thread tentangnya memiliki beberapa pendatang ketika ia login dengan nama tersebut.

Ryo0905 has 1 new message

Yamada meng klik tulisan tersebut. Ternyata salah satu fansnya membalas pesan yang ia kirimkan semalam.

Terima kasih Ryo0905!! Kenapa kau bisa menyukai Yama-chan? Aku sudah suka dia sejak setahun lalu… kalau kau tanya kenapa? Aku suka karena Yama-chan tampan *siapa juga yang memungkiri kenyataan ini?* 😛 tapi Yama-chan juga punya sisi yang sangat charming, ia punya banyak kelebihan…
Bagaimana denganmu?

-MichikoLoveYama-

“Hehehehe…” Yamada terkekeh sesaat setelah membaca pesan itu.

“Siapa itu?” tanya Daiki.

“Fansku..hehehe.. semalam ia membahasku di salah satu thread, dan kata – katanya sungguh membuatku penasaran dengannya…”

“Dasar orang aneh…” cibir Daiki.

“Hehehe…” Yamada masih terbang lalu mengetik balasan untuk orang tersebut.

Hai MichikoLoveYama!!
Jangan kaget karena aku ini laki – laki loh, bisa dibilang aku fanboy nya Yama-chan.. 🙂 Ia memang punya banyak bakat, suaranya juga bagus, selain itu ia pintar menari kan? Hehehe~
Aku ingin berkenalan denganmu…siapa tau kita bisa berbagi info soal Yama-chan?

-Ryo0905-

“Narsis tingkat dewa!” seru Daiki memukl pelan kepala Yamada lalu beranjak dari tempat itu.

“Berisik!” balas Yamada masih terkekeh pelan.

=======

“Kenapa dengan perutmu?” tanya Yabu yang mengantarkan Chinen ke Rumah Sakit.

“Entahlah…sejak pagi sakit… tapi ku abaikan..” jawab Chinen.

“Lain kali sebelum terlanjur sakit kau harusnya ke Rumah Sakit…” kata Yabu yang menyetir di sebelahnya.

“Gomen Yabu-kun…”

Tak sampai dua puluh menit mereka sudah sampai di sebuah Rumah Sakit. Yabu mengantar Chinen ke Instalasi Gawat Darurat.

Chinen ditangani dengan cepat dan disuruh istirahat sebentar sambil menunggu obat yang akan diberikan padanya.

“Kenapa katanya?” tanya Yabu masuk ke bilik di mana Chinen berbaring.

“Aku kecapean, makan tidak teratur dan pencernaanku terganggu..” jawab Chinen singkat.

“Sudah kubilang…”

“Iya Papa… wakatta…” potong Chinen malas karena ia yakin Yabu akan mulai berceramah lagi.

“Aku ambil obatmu dulu…” kata Yabu akhirnya.

Ketika Yabu beranjak, tirainya tiba – tiba terbuka lagi. Ia kaget melihat seorang gadis masuk ke situ.

“Siapa kau??!” seru Chinen.

Gadis itu mendekati Chinen dan menutup mulut laki – laki itu cepat, “Jangan berisik!!nanti aku ketahuan…” bisiknya sangat pelan.

Chinen memperhatikan gadis itu memakai baju pasien.

“Ngapain kau disini?” tanya Chinen setelah melepaskan tangan gadis itu dari mulutnya.

“Hehehe.. aku sedang kabur… jangan bilang – bilang ya…” bisiknya lagi.

“Kujyou-san!! Kujyo-san!!!” seru suster yang ada di luar.

“Mereka mencarimu?” tanya Chinen.

“hehehe… Kujyo Aoi desu…” jawab gadis itu sambil tersenyum manis.

“Oh… Chinen Yuuri desu…” ucap Chinen juga, merasa dirinya harus memperkenalkan diri pada gadis di hadapannya.

“Maaf ya aku main masuk saja..” katanya lagi.

Baru kali ini Chinen merasa senyum di hadapannya sangat tulus dan manis kepadanya, membuat jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya. Ia tak percaya cinta pada pandangan pertama hingga hari ini ia merasakannya sendiri.

===========

“Ichiko… sore ini kau ada pemotretan…” kata manajernya sambil kembali mencatat apa saja yang dibutuhkan artisnya itu.

“Wakatta…” Ichiko meluruskan badannya yang sedikit sakit karena terlalu banyak berlatih siang ini.

Sebagai pendatang baru, dirinya memang dituntut bekerja lebih keras dari orang lain.

“Hey!Say! JUMP akan mengeluarkan single baru?” Ichiko bergumam membaca berita yang ia dapat di dunia maya itu.

Deg.

Mendengar nama boyband itu membuatnya sedikit malas. Salah seorang membernya adalah temannya. Tepatnya orang yang paling ia benci hingga sekarang.

“Oh iya… ada tawaran main dorama… kau mau ambil?” tanya manajernya lalu duduk di sebelah Ichiko.

“Hmmm..kenapa tidak?” gumam Ichiko.

“Aku akan rapat dengan pihak PH, setelah itu kau harus audisi..mengerti?”

Ichiko hanya mengangguk pelan.

“Pemeran utamanya katanya Rytutaro Morimoto dari Hey!Say!JUMP..”

Hah?

Ichiko hendak menolak ketika manajernya sudah berlalu ke ruangan lain. Mana tahan ia bersama orang yang sudah merebut ciuman pertamanya itu?

Buruknya lagi, orang itu tak ingat ia pernah mencium Ichiko. Membuatnya marah saja.

=============

“Gomen aku baru datang…” sapa Din pada Opi yang sudah menunggunya di depan perpustakaan.

“Presentasi masih dua jam lagi kok..” kata Opi.

“Hmmm…”

Opi memperhatikan sahabatnya itu dari atas hingga bawah, “Bajumu gak ganti ya?”

“Hehehe…” Din hanya terkekeh karena tak sempat pulang ke apartemen untuk ganti baju. Ia hanya mengambil kemeja Yuya untuk sedikit menutupi bajunya kemarin.

“Kau dimana semalam?” tanya Opi ketika mereka sudah masuk ke Perpustakaan.

Din tak menjawab.

“Kenapa di perpustakaan gak boleh merokok?” keluh Din.

“Kau harusnya berhenti merokok, Dinchan…” kata Opi mengingatkan.

Din mengangkat bahunya malas.

Opi tak melanjutkan, karena ia tahu sahabatnya itu keras kepala. Walaupun sudah berkali – kali ia mengingatkan hingga ia merasa mulutnya berbusa, tapi Din tetap saja melakukan kebiasaan buruk itu.

“Kau belum menjawab aku…” kata Opi lagi.

“Di rumah pacarku..” jawab Din singkat.

Opi mafhum. Din dengan pacarnya memang sering menghabiskan waktu bersama, tapi seingatnya ia baru saja bertengkar hebat dengan kekasihnya itu.

Ia ingin bertanya lagi, tapi Opi melihat Din tak ingin membahas itu sehingga ia terpaksa menahan pertanyaannya itu hingga mood Din kembali menjadi baik.

Pintu Perpustakaan terbuka, sesaat kemudian perhatian semua orang tersedot ke arah pintu untuk beberapa saat.

“Inoo-kun..” gumam Din melihat siapa yang berjalan masuk.

Din menatap Opi lalu tersenyum, “Inoo mu tuh…”

Opi menunduk, “Apa sih Din!! Sudahlah…” Opi membuka buku miliknya, mulai membaca isinya walaupun pikirannya juga sebenarnya memikirkan apa yang dikatakan Din.

Inoo Kei adalah teman satu fakultas mereka. Walaupun berbeda jurusan, tapi mereka sering melihat sosok Inoo Kei di kampus ini. Sejak dua tahun lalu, Opi sebenarnya sudah memerhatikan Inoo, tapi tentu saja hal yang tak mungkin dirinya mendekati idola se-tenar Inoo Kei.

Din ingin sekali bilang jika ia berteman dengan Yuya dan bisa mengenalkan Opi pada Inoo. Namun perjanjiannya dengan Yuya untuk tak membuka rahasia mereka membuatnya tak bisa berkata apapun pada Opi.

“Dekati dia dong…” kata Din menggoda Opi yang tersipu – sipu di hadapannya.

“Dinchan!!” protes Opi dengan sedikit berbisik.

“hahaha..” Din terkekeh pelan.

Diam – diam Opi memperhatikan gerak – gerik Inoo yang berada di front desk Perpusatakaan itu, berbicara pada petugas di hadapannya.

Inoo berjalan ke arah mereka beberapa menit kemudian. Opi menunduk karena kaget, setelahnya pemuda itu tersenyum sekilas padanya ketika berpapasan di meja itu.

“Dia tersenyum…” gumam Opi kaget.

“Hahahahaha…” Din terbahak membuat seorang petugas mengisyaratkan ia menganggu ketenangan Perpusatakaan itu.

“Dinchan!! Jangan berisik..”

“Habis wajahmu itu lucu banget…” Din menahan tawanya dengan menutup mulutnya.

“Sudahlah…kau memang selalu begitu…” keluh Opi kesal.

“Gomen… gomen… lagipula kalau kau benar suka, dekati saja dia…” kata Din lalu menyesap kopi yang ia bawa tadi.

“Mana mungkin…lagipula aku hanya fans nya saja kok..” elak Opi.

“Benarkah?”

“Sudahlah…waktu presentasi hampir tiba…” keluh Opi mengalihkan pembicaraan itu.

============

“Kuliah hari ini selesai…” Dosen tersebut keluar setelah itu.

Keito menggeliat merasa sangat ngantuk karena ia harus kuliah setelah latihan berat tadi pagi.

“Aku duluan..” kata seorang teman pada Keito.

Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan kepalanya direbahkan sekejap di meja. Ia kini tahu bagaimana rasanya menjadi Inoo Kei. Ternyata kuliah sambil bekerja itu memang cukup membuatnya lelah.

Tak lama, ruangan menjadi sangat hening karena semua mahasiswa dan dosen sudah keluar dari ruangan itu. Tapi Keito belum berniat meninggalkan ruangan itu, ia masih ingin bermalasan sebentar. Lagipula ia tak punya jadwal kuliah setelah ini.

Keito akhirnya beranjak, namun alih – alih keluar kelas, ia malah turun ke tempat dosen mengajar. Ia melihat sebuah ruangan di belakang mimbar tempat dosennya tadi mengajar. Karena penasaran, Keito membuka ruangan itu.

“Waaa..” seekor laba – laba menyapanya ketika ia masuk.

Ia terus berjalan ketika merasa pijakannya tidak mantap, sedetik kemudian ia merasa terjun bebas.

“Waaaaaaa!!!!”

BRUGH!

Pendaratan yang tidak mulus membuatnya sedikit kesakitan. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ruangan yang sama dengan tempatnya kuliah tadi, namun ia merasa sedikit asing dengan tempat itu. Cat temboknya berbeda, bahkan mimbarnya pun terlihat sangat aneh, berbeda dengan yang biasa ia lihat.

“Kau baik – baik saja?” sebuah suara membuatnya menoleh, seorang gadis berdiri di hadapannya.

Keito hanya mengangguk canggung.

“Ayo..aku antar ke ruang pengobatan…tanganmu berdarah..” kata gadis itu lagi.

Ruang pengobatan?

Keito hanya ikut dengan gadis itu ketika melihat sekitarnya terlihat sungguh berbeda. Ini memang kampusnya, namun ia meras semuanya terlalu asing untuknya.

“Ayo masuk..”

Keito menurut, ia masih memikirkan apa yang salah dengan tempat ini?

Gadis itu mengeluarkan obat merah dengan plester. Lalu mengobati Keito yang terluka di lengannya.

“Namamu siapa? Aku tak pernah melihatmu di kampus ini…” kata gadis itu sambil membubuhkan obat merah di lukanya.

“Okamoto Keito desu…” jawab Keito.

“Aku Yanagi Riisa desu…” kata gadis itu, lalu setelahnya ia seakan mengingat sesuatu.

“Okamoto… kau kenal dengan gitaris Otokogumi?” tanya gadis itu memandang Keito.

Otokogumi?

Otaknya bekerja cepat. Tentu saja, itu kan band Ayahnya, mana mungkin ia tak kenal ayahnya sendiri?

“Maksudmu?”

Gadis itu menggeleng, lalu menempelkan plester yang sejak tadi ia pegang.

Keito masih bingung ketika matanya menangkap kalender yang ada di belakang gadis itu.

“Ini?” Keito berlari ke arah kalender.

“Kenapa Okamoto-san?”

“Sekarang tahun 1988??!!” teriak Keito kaget.

“Kenapa kau begitu kaget? Tentu saja tahun 1988…”

Keito seakan ingin pingsan, pantas saja ia merasa asing. Semua orang di sekitarnya memakai pakaian yang aneh, gaya rambut yang aneh, bahkan gadis di hadapannya juga.

Keito mengguncang bahu Riisa dengan sedikit keras, “Kau tidak bercanda kan??!! Tidak kan??!!” seru Keito.

“Aduh…sakit…” keluh Riisa.

“Ini 1988??!! 1988??!!”

Gadis itu hanya mengangguk. Keito mencubit dirinya sendiri, dan kini ia tahu ia tak bermimpi.

==========

TBC kawan~
Ini masih prolog sebenernya…
Btw, saia minta ide untuk chapter selanjutnya…apakah saia harus ngerjainnya keroyokan satu chapter semua member, atau mau satu chapter satu member tapi tamat??hehehe~
Harap diberi ide dan dieberi saran… dan jika tak cukup bagus, marin hentikan saja…hehehehehe 😛
COMMENTS ya kawan.. I LOVE COMMENTS because COMMENTS are LOVE~
Hehehehe.. 🙂


Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 1)

  1. Yoshitaka Asuka

    bgus din 🙂
    paling suka yang keito, agak beranjak dr sekadar romance dengan latar misteri, kalo bisa yang lain juga ada yang dibuat aneh din
    supaya cerita tidak terlalu ringan dengan tokoh yang banyak begini… 🙂

    kalo menurutku, mau keroyokan atau satu-satu bagus-bagus aja…
    kalo satu-satu berarti harus bener-bener one shoot kan?
    semangat din! *gomen baru baca ini aja*

    Reply
  2. dinchan

    hehehe… 😛
    memang Py…din rada mikir lama yang bagian keito..
    tapi setelah ini berarti kudu cari info soal tahun 1988 di Jepang..hahaha :))

    yep…kudu oneshot..
    itu sih rencana din dari awal..
    Py kan tahu..hehe

    Reply
  3. dinchan

    @thalia : hehehe.. iya ya?? padahal saia nebak2 aja chara michiko..XP

    @lisa : hehehe.. aku tahu kau suka fantasi.. 😛 karena aku bosan jadi anak baik2 mulu..LOL

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s