[Multichapter] Happiness (chapter 11)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Eleven
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 11 ~



“Tadaima…” suara Aiba begitu pelan, namun Din dapat mendengarnya.

Din ke depan, mendapati kekasihnya itu babak belur, berwajah tak keruan dan ada darah dimana – mana.

“Masaki-kun!!” teriak Din kalut.

Aiba tak menjawab, membiarkan Din mengobati lukanya. Pikirannya terasa terlalu penuh dengan segala masalah yang ada. Sakurai Yui melahirkan, lalu dimana anaknya sekarang?

Demi apapun di dunia ini, ia mau bertemu dengan anaknya itu walaupun ia harus mengorbankan segalanya.

“Kau tidak baik – baik saja kan?” tanya Din pelan.

Aiba menatap kekasihnya itu dengan nanar, “Kau membenci aku jika aku tak bisa menjelaskannya sekarang?” tanya Aiba lirih.

“Kenapa tak bisa?” tanya gadis itu, menuntut kejelasan dari calon suaminya itu.

Aiba menggeleng, “Segalanya terlalu rumit, aku tak tahu harus mulai dari mana… aku… tak yakin kau bisa memaafkan aku…” bisik Aiba.

“Aku sudah bersamamu selama empat tahun… kau pikir semuanya main – main?” mata Din berkaca – kaca, “dan aku calon istrimu…”

Sedetik kemudian tubuh Din berada dalam pelukan Aiba, “Gomen… kumohon… percaya padaku… aku akan menjelaskan semuanya…”

Din tahu, ia cukup mengenal Aiba. Untuk kali ini, ia tahu kekasihnya itu tak main – main. Ia tahu, ada persoalan yang cukup rumit sehingga Aiba tak bisa menceritakannya. Tapi ia tahu, saat nanti Aiba memberi tahunya, ia harus siap dengan kemungkinan terburuk bagi mereka berdua.

===========

“Tsukareta~” seru Opi saat ia menuju rumah. Tangan kanannya menenteng tas merah. Sedangkan tangan kiri membawa kantong berisi makan malamnya. Tugasnya yang semakin hari semakin banyak membuatnya selalu pulang malam. Sehingga ia tidak akan sempat untuk memasak.

Setelah sekitar lima belas menit berjalan, Opi sudah berdiri di depan rumahnya. Ia membuka tasnya dan mencari kunci rumah.

“Mana kuncinya?” gumam Opi sambil terus mengaduk-aduk tasnya.

“Konbanwa, Opi-san!”

Opi menengok ke arah sumber suara. Terlihat ada Din yang berada di ambang pintu rumah keluarga Ohno, yang merupakan rumah kakaknya Din.

“Konbanwa, Din-san,” balas Opi sambil tersenyum ramah. “Sedang mampir?”

“Ya. Sepertinya Opi-san sedang kesulitan,” tebak Din setelah melihat Opi kebingungan.

“Ah~ itu..” Opi terlihat salah tingkah karena malu. “Aku sedang mencari kunci rumahku. Ah……sudah ketemu.” Opi mengangkat kuncinya yang berhasil ia temukan dengan riang.

“Kau sendirian di rumah? Aku dengar Ninomiya-kun sedang pergi,” lanjut Din.

Mendengar nama kakaknya disebut membuat Opi diam sesaat. Entah kenapa hanya mendengar namanya saja sudah membuat Opi sangat merindukan Kazunari.

“Ya. An-chan pergi untuk sementara. Nanti dia akan kembali.” An-chan pasti akan cepat kembali, lanjut Opi dalam hatinya dengan penuh harap.

“Souka. Pasti sangat kesepian di rumah sendirian.”

Opi hanya tersenyum mendengar tanggapan Din. Sebenarnya ia merasakan yang lebih buruk dari pada rasa kesepian. Kazunari tidak pernah meninggalkannya. Sehingga ia merasa sangat kehilangan dengan kepergiannya.

Di saat Opi merenung, terdengar suara yang memanggil Din dari arah dalam rumah keluarga Ohno.

“Din nee-san, Rei nee-san memanggilmu.”

“Ya, Saifu-chan. Aku ke sana,” balas Din.

Opi mengerutkan keningnya saat melihat orang yang memanggil Din tadi. Sepertinya ia mengenalnya.

“Saifu Suzuki?” gumam Opi sedikit ragu.

Suara Opi memang pelan saat ia menyebutkan nama orang yang ada di samping Din, tapi ternyata Din menyadari gumaman Opi.

“Kau mengenalnya?” tanya Din pada Opi.

Opi menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Sebenarnya…”

“Ah~” Saifu teringat sesuatu. “Yang bersama Daiki waktu itu…”

Opi mengangguk, “Ninomiya Opi desu. Aku temannya Daiki.”

“Are? Aku tidak tahu kalian saling mengenal,” lanjut Din merasa bingung.

“Sebenarnya tidak disebut kenal juga,” jawab Opi.

“Oh iya, mulai sekarang Saifu akan tinggal di sini,” jelas Din.

“He? Maji de?” Opi kaget dengan kebetulan yang sangat menyenangkan ini.

“Kenapa kalian mengobrol di luar?” Kini Ohno Satoshi muncul diantara Din dan Saifu. “Eh? Ada Opi-chan. Baru pulang?” tanyanya kemudian pada Opi.

“Konbanwa Satoshi-san. Iya baru saja pulang,” jawab Opi.

Entah itu hanya perasaannya atau memang itu yang tertangkap oleh matanya saat ia melihat wajah Satoshi berubah menjadi mendung. Seolah merenungkan sesuatu.

“Kalau tidak keberatan, mau bergabung dengan kami? Kebetulan kami sedang mengadakan pesta penyambutan untuk Saifu. Kau sudah berkenalan dengannya kan?”

Opi menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Terima kasih, Satoshi-san. Aku sudah membeli makan malam. Kalau begitu aku masuk dulu.”

Opi tahu maksud Satoshi baik. Tapi ia merasa tidak enak karena itu adalah acara keluarga. Ia tidak ingin mengganggu. Selain itu ia sedang ingin sendiri.

“Tadaima,” ucap Opi begitu ia masuk ke dalam rumah. Opi tetap mengucapkan itu walaupun ia tahu tidak akan ada jawab yang ia terima. Tapi karena hal yang merupakan kebiasaannya, ia tetap melakukannya. Ini juga merupakan cara agar ia selalu ingat kalau suatu hari nanti Kazunari akan cepat pulang.

Setelah berada di ruang keluarga, ia lalu melemparkan semua barang yang ia bawa kemudian menghempaskan tubuh di sofa. Hari ini terasa berat karena ia begitu merindukan kakaknya. Ia ingin sekali mengetahui dimana kakaknya itu berada sekarang.

Di sela-sela ia berpikir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Setelah ia melihat nama yang tertera, Opi menjawabnya dengan sedikit malas.

“Hai? Doushite Aiba-kun?”

“Kau sudah makan?” tanya Aiba di ponselnya.

Opi melirik makanannya yang belum ia sentuh sama sekali. “Baru saja akan makan. Kenapa?”

“Aku hanya bertanya saja. Besok aku ingin mengajakmu pergi. Ada waktu?”

Opi diam sejenak lalu menjawab, “Aku harus mengerjakan tugasku yang masih belum selesai. Gomen.”

“Wakatta,” ucap Aiba terdengar sedikit kecewa. “Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu. Cepat makan dan jangan tidur terlalu malam.”

“Hai. Oyasumi.” Opi cepat-cepat memutuskan sambungan teleponnya. Ia benar-benar tidak ingin diganggu siapapun dan tidak ingin melakukan apapun. Seketika rasa laparnya menghilang dan kini berganti rasa sedih yang mendalam karena kesepian.

=======

“Chotto!! Apa itu di tanganmu?!” seru Rei seketika meraih tangan Din.

Din menarik tangan yang dipegang oleh kakaknya, “Bukan apa – apa…” elak Din malas.

“Kau?? Bertunangan?!!” seru kakaknya heboh.

Muka Din memerah, “Sudahlah… tak perlu dibesar – besarkan Nee-chan…” jawabnya.

“Are??!!” Satoshi ikut kaget.

“Dinchan… kau itu baru dua puluh… dua puluh… kau mau menikah di umur semuda ini???!! Tidak bisa… ini tidak bisa…” Rei mulai emosi.

“Dua puluh satu..” protes Din sambil menyendok makanan yang ada di meja.

“Baru dua puluh satuuuuu…” balas Rei lagi.

“Sudah dua puluh satu…” ujar Din tak mau kalah.

Rei mencubit pipi adiknya itu dengan gemas, “Kau sudah yakin benar?! Ayolah Din… kau jangan terburu – buru begini…”

“Aduh Neechan… aku yakin…sangat yakin..”

“Sudahlah Rei… adikmu sudah yakin. Lagipula, aku kenal Aiba… dia pasti akan menjaga adikmu dengan baik…” kata Satoshi menenangkan istrinya.

“Tapi Satoshi… anak ingusan macam dia tahu apa soal cinta?!” seru Rei pada Satoshi.

Saifu ikut kaget mendengar kakaknya itu berkata demikian.

“Aku sudah bersama dengan Masaki selama empat tahun Neechan…” protes Din.

“Selama ini aku diam saja ketika kau tinggal bersamanya… tapi menikah? Din…fikirkan lagi…” ucap Rei.

“Jangan karena kau tak bisa menikah dengan cinta pertamamu, kau menghalangi aku!!”

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Din.

“Rei!!” Satoshi berdiri meraih tangan Rei.

Ruangan itu mendadak menjadi sangat hening.

“Fu-chan… bawa Hiroki ke dalam…” perintah Satoshi pada Saifu.

Saifu mengangguk dan menarik Hiroki yang masih kaget dengan apa yang terjadi di hadapannya.

Din mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu, “Bisakah Neechan memberiku selamat saja?” tangis Din merebak.

Langkah Din semakin cepat, ia masih harus ke tempat kerja setelah ini. Membuat moodnya semakin tak keruan. Saat seperti ini, ia hanya ingin bertemu Aiba dan menumpahkan segala tangisnya pada Aiba. Hanya pria itu yang kini menjadi sandarannya.

Karena seharusnya ia belum ada pekerjaan hingga dua jam setelah ini, Din datang ke tempat syuting dua jam lebih awal. Untunglah mereka syuting di suatu pusat pertokoan, sehingga ia bisa menunggu di sebuah kedai kopi di sekitar situ.

“Kau kenapa?” belum setengah jam ia disitu, suara Jun tiba – tiba saja membuyarkan lamunannya.

Din menoleh, “Jun…”

“Kau lebih on time dariku ya ternyata…” kata Jun tertawa ringan.

Din menunduk. Sejak hari itu, ia tak berani mendatangi Jun, ia tak berani menghubungi Jun kecuali hal itu berhubungan dengan pekerjaan.

“Tak sampai seminggu lagi kau akan mengundurkan diri…iya kan?” tanya Jun lalu duduk di sebelah Din.

“Maafkan aku Jun…”

“Aku yang harusnya minta maaf padamu…” kata Jun dengan senyum mengembang di bibirnya.

“Jun…”

“Di kehidupan selanjutnya, aku akan mendatangimu lebih dulu daripada Masaki… agar aku bisa memilikimu…” ucap Jun lalu menyesap kopinya.

Din terdiam, tak bisa menjawab.

“Jangan bilang seperti itu… kau bisa mendapatkan gadis mana saja yang kau inginkan,” balas Din.

“Sayangnya aku tak ingin gadis manapun selain dirimu…” jawab Jun cepat.

“Kau akan menemukan gadis lain…” kata Din lagi.

Jun hanya tertawa pelan, meraih tangan Din yang memakai cincin tunangannya bersama Aiba.

“Harusnya aku mengaku kalah sebelum terlibat terlalu jauh denganmu,” Jun membelai cincin itu sekilas.

“Ini juga salahku…” aku Din, “aku memberi harapan padamu,” lanjutnya.

“Jika aku tak menemukan penggantimu, kau harus mencarikan aku pendamping… dan aku akan setuju pada siapapun yang kau rekomendasikan…” ucap Jun tak menjawab apa yang Din ungkapkan.

“BAKA!” balas gadis itu kesal.

“Dinchan…. besok makan malam yuk~ terakhir sebelum kau benar – benar meninggalkan aku…”

Din hanya bisa mengangguk. Ia tak bisa menolak Jun untuk kali ini. Hatinya juga sakit sekali. Kehadiran Jun di hatinya juga tak sedikit membuatnya membuatnya membutuhkan sosok Jun di sisinya. Tapi ia tak boleh serakah, ia harus memilih, ia tak boleh menyakiti Jun dan Aiba terus – menerus dengan ke egoisannya.

===========

“Kita mau kemana?” tanya Opi pada Sho. Mereka berdua berjalan menelusuri jalan. Tangan kanan Opi sudah digenggam erat oleh Sho sehingga Opi hanya dapat menuruti kemana ia berjalan.

“Mengajakmu jalan-jalan,” jawab Sho singkat sambil tersenyum. Senyuman yang sudah membuat Opi jatuh cinta pada Sho.

“Sho-kun..tadi kan aku sudah bilang aku sedang tidak ingin kemana-mana,” keluh Opi malas.

“Aku tahu,” balas Sho santai. “Tapi apa kau tidak bosan terus-terusan di rumah? Apalagi sudah beberapa hari ini kau jarang kuliah.”

Opi mengerutkan keningnya. Ia terkejut Sho tahu kalau ia sudah beberapa hari ini membolos kuliah. Jika dihitung dari 7 hari yang lalu, ia pergi kuliah hanya 1 hari. Sisanya ia habiskan waktunya di rumah.

“Kalau kau ingin bertanya kenapa aku bisa tahu, jawabannya adalah Daiki. Dia yang memberitahuku. Malah dia bertanya padaku kau ada dimana,” lanjut Sho lagi.

Sho melihat Opi lalu diam. Sudah seminggu ini Sho sangat sibuk. Beberapa hari yang lalu ia baru saja melakukan wawancara ke luar kota. Jika bukan karena pekerjaan, ia tidak ingin menerima tugas itu. Apalagi mengingat kondisi Opi yang belum stabil setelah kepergian Kazunari. Karena pekerjaannya itu praktis Sho tidak bertemu dengan Opi dan hanya menghubungi gadis itu lewat ponsel.

Tangan Sho merasakan sebuah hentakan yang menyebabkan ia mundur beberapa langkah karena Opi tiba-tiba berhenti berjalan.

“Kenapa kita ke sini?” Opi menatap Sho dengan enggan.

“Tentu saja menjemput Reina. Sekarang kan jam dia pulang.”

Opi dan Sho kini berada di depan TK milik Kazunari. Salah satu tempat yang sangat Opi hindari karena akan mengingatkan ia pada Kazunari. Kalau sejak awal ia tahu akan ke sana, sudah jelas Opi akan menolak. Tapi karena ia sudah terlanjur berada di depan sekolah itu, mau tidak mau Opi mengikuti Sho.

Saat akan berjalan menuju kelas Reina, dari kejauhan terdengar suara yang memanggil mereka dan ternyata yang memanggilnya adalah Kana, salah satu guru di TK.

“Opi-chan, bisa bicara sebentar?”

Opi menoleh pada Sho lalu Sho mengangguk mengerti.

Perempuan yang bernama Kana itu lalu mengajak Opi untuk duduk di bangku panjang yang memang disediakan di taman. Suasana taman itu sangat tenang dan memang sangat pas untuk membicarakan hal yang penting. Sedangkan Sho hanya menunggu di koridor sambil sesekali melirik kedua perempuan itu berbicara.

Pembicaraan rahasia itu tidak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian bel berbunyi tanda kegiatan di sekolah berakhir. Hanya dalam hitungan detik, anak-anak berhamburan untuk pulang ke rumah masih-masing termasuk Reina.

“Papa…” seru Reina begitu melihat Sho di depan kelasnya. “Loh? Papa sendirian?”

Biasanya Reina melihat Sho selalu bersama Opi. Sepertinya ia sudah mengerti tentang kedekatan Papa-nya dan Opi.

Sho akan membuka mulutnya hingga Opi sudah ada di balik punggungnya. “Ada aku,” ucap Opi sambil tersenyum.

“Opi-chan…” Reina menghambur pada Opi dengan riang. “Opi-chan, ayo kita pergi ke toko baru itu,” ajak Reina sambil menarik-narik tangan Opi.

“Toko baru apa?”

“Ada toko kue baru. Ayo kita mencobanya,” Reina masih menarik-narik tangan Opi.

“Dimana kau melihatnya?” tanya Sho heran karena anak umur lima tahun dapat melihat ada toko kue baru.

“Setiap Papa menjemput Reina, Reina melihat ada toko yang belum pernah Reina lihat. Jadi kemungkinan besar itu toko yang baru saja dibuka. Ayo kita mencobanya,” kini tangan kanannya beralih menarik tangan Sho sedangkan tangan kirinya masih berada di tangan Opi.

“Baiklah..baiklah…” akhirnya Sho menyerah lalu menatap Opi. “Tidak apa-apa kan menemani Reina dulu sebentar?”

Opi tersenyum. “Daijoubu. Aku senang menemani Reina.”

Sho bahagia karena Opi sudah tersenyum kembali. Ia masih dapat mengingat bagaiman frustasinya Opi melewati hari-harinya tanpa Kazunari. Walaupun ia dapat melihat akhir-akhir ini gadis itu sedikit lebih tenang tapi masih ada raut kesedihan yang tampak di wajahnya. Saat itu ia tahu cinta Kazunari hanya bertepuk sebelah tangan pada Opi. Tapi sepertinya ia mulai mengetahui jika perasaan Opi tidak sesederhana itu pada Kazunari. Sho tidak mau membayangkan bahkan takut mengakuinya kalau perasaan Opi akan berubah pada Kazunari dan gadis itu akan meninggalkannya.

“Sho-kun? Kau dengar atau tidak?”

Sho tersentak kaget saat menyadari Opi memanggilnya. Setelah ia sadar sepenuhnya lalu menatap wajah bingung Opi dengan linglung.

“Ada apa?”

“Aku tadi tanya kau mau kue yang mana? Sepertinya semuanya enak. Kalau boleh saran kau pesan yang itu saja.” Opi menunjuk sepotong cake yang di atasnya terdapat selai blueberry dengan hiasan coklat dan cherry.

“Kenapa tidak kau saja yang memesan itu?” tanya Sho kembali.

“Karena aku juga ingin mencoba kue yang ini. Ayo lah Sho-kun.”

“Ayolah Papa,” tambah Reina dengan wajah memohon.

Sho menatap gadis kecilnya. “Kenapa kau juga ikut-ikutan?”

“Karena Reina juga ingin mencoba yang itu,” ucap Reina dengan jawaban yang sama dengan Opi.

Melihat kedua gadis di hadapannya memohon, mau tidak mau Sho akhirnya setuju.

“Baiklah….kalian menang.”

Opi dan Reina lalu tersenyum senang. Sho ikut tersenyum. Asalkan kedua orang yang paling penting untuknya itu senang, ia akan melakukan apapun.

Sudah lama sekali Sho tidak merasakan dirinya lengkap seperti ini. Dia bersama Opi dan Reina. Momen yang tidak akan ia lupakan.

Tapi kebahagiaannya serasa runtuh saat Opi tiba-tiba menyerukan sebuah nama yang sangat ia benci. Orang yang menghancurkan hidup adiknya.

“Aiba-san…Din-san…”

Kedua orang yang dipanggil oleh Opi lalu menoleh. Perempuan yang bernama Din langsung tersenyum begitu melihat wajah yang ia kenal. Tapi berbeda dengan Din, laki-laki yang bernama Aiba hanya diam bahkan terlihat kaget.

“Wah…sepertinya menyenangkan makan bersama di sini,” seru Din setelah menghampiri mereka.

“Mau bergabung?” tanya Opi.

Din langsung menggeleng pasti. “Tidak. Aku harus cepat kembali bekerja setelah membelikan kue untuk kakakku. Tapi aku ingin sekali bergabung dengan kalian.”

“Sayang sekali,” balas Opi.

Sho memang mendengar percakapan Opi dan Din tapi ia tidak dapat mengalihkan tatapannya pada laki-laki yang sekarang ada di hadapan yang tak lain adalah Aiba.

“Kalian sudah saling kenal kan? Kenapa tegang begitu?” Orang yang dimaksud oleh Din adalah Sho dan Aiba. Kalau ia mengikuti hubungan antara beberapa kenalan mereka, Din yakin kalau Sho dan Aiba juga saling mengenal.

Sho maupun Aiba tidak menanggapi kata-kata Din. Setelah diam sesaat, Sho akhirnya membuka mulutnya.

“Kebetulan sekali kau ada di sini, Masaki,” Sho lalu berdiri dan menatap Aiba dengan jarak yang semakin dekat seolah menantang. “Aku ingin kau bertemu dengan seseorang. Sesuai dengan permintaanmu”, lanjutnya.

Aiba masih tidak merespon. Tapi terlihat dari wajahnya kalau ia sangat tegang dan takut.

Sho kemudian menoleh ke arah Reina yang sedang melahap cake-nya dan berkata, “Dia…..namanya Reina. Dia anak perempuan Yui.”

Aiba diam sesaat dan memandang Reina lekat – lekat. Pantas saja wajahnya mirip Yui, matanya juga ada di mata Reina.

Sho mendorong Aiba pelan, “Jangan berani kau sentuh dia…”

“Tapi Sho..”

“Kau bilang mau bertemu kan? Sudah kupertemukan kalian berdua…sekarang… pergi!!”

Din menarik Aiba. Ia tak ingin jadi pusat perhatian, apalagi semua orang mulai melihat mereka dengan tatapan aneh.

“Sekarang bisa kau jelaskan semua ini?” sejak tadi di toko kue, Din hanya bisa diam dan tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi antara Aiba dan pria bernama Sho Sakurai.

Sakurai Sho yang Din hanya tahu sebagai teman Jun, yang berarti teman Aiba juga. Sakurai Sho yang seorang newscaster.

“Masaki! Jawab aku!” seru Din keras.

Aiba menoleh ke arah Din yang duduk di sebelahnya.

“Reina-chan itu…anakku…” ucap Aiba tak kuasa lagi menahan tangisnya.

===========

“Tadaima…” suara menggemaskan Reina langsung membahana begitu ia masuk ke rumah orang tua Sho.

“Okaeri.”

Dari dalam lalu keluar seorang wanita setengah baya. Wajahnya terlihat masih segar dan cantik untuk ukuran wanita yang sudah memiliki anak berumur 29 tahun.

“Ayo masuk Opi. Hari ini makan malam di sini kan?”

Opi mengangguk pelan. “Arigatou sudah mengundangku.”

“Tidak perlu sungkan seperti itu,” balas ibu Sho. “Ayo masuk.”

Opi dan Sho lalu masuk ke dalam rumah yang terlihat besar itu. Tapi kemudian Opi menarik tangan Sho sehingga mencegahnya masuk.

“Ada apa?” tanya Sho sambil menatap Opi.

“Aku ingin kau menjelaskan tentang yang tadi,” pinta Opi tegas.

“Yang mana?”

“Aku ingin tahu ada hubungan apa antara Aiba-kun dan Reina,” ulang Opi.

Sho diam sebentar lalu menghela nafas dan menyenderkan tubuhnya di tembok.

“Aku pernah bercerita kalau aku berharap tidak bertemu dengan ayah kandung Reina. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Reina memang harus tahu siapa ayahnya,” kata Sho lirih.

“Maksudnya?”

“Walaupun aku terus menghindar agar Reina tidak bertemu dengannya, tapi sepertinya takdir memang harus mempertemukan mereka.”

Opi mengerutkan keningnya. Ia semakin bingung dengan perkataan Sho.

“Aiba Masaki yang selama ini kau kenal adalah ayah kandung Reina. Dia adalah orang yang telah meninggalkan Yui dan membuat Yui menopang bebannya sendiri.”

Opi yang sudah mengetahui kenyataan tentu saja kaget dengan penjelasan Sho. Ia tidak menyangka mengenal orang yang merupakan ayah kandung Reina.

Di saat Sho dan Opi merenungkan pikirannya, bel rumahnya berbunyi. Sho yang kebetulan berada dekat dengan pintu langsung membuka dan betapa kagetnya ia karena kedatangan tamu yang tidak ia harapkan.

“Mau apa kau ke sini, Masaki?” tanya Sho sinis.

“Mana Reina? Aku ingin bertemu dengannya,” desak Aiba mencoba masuk.

“Sudah cukup kau bertemu dengannya tadi. Dan aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Reina lagi,” tolak Sho.

“Kenapa kau tidak memberikanku kesempatan? Aku ingin menebus kesalahanku pada Yui.”

Sho tidak memperdulikan teriakan Aiba. Ia lalu menutup pintu dan menguncinya agar Aiba tidak dapat masuk.

“Aiba-san, ini aku Opi. Lebih baik Aiba-san pulang saja. Biar aku yang bicara dengan Sho-kun. Dan aku akan memastikan kau bisa bertemu dengan Reina,” ucap Opi setengah berteriak agar Aiba yang di balik pintu mendengar suaranya.

Tidak ada jawaban dari Aiba tapi terlihat dari bayangannya kalau Aiba sudah meninggalkan rumah Sho.

“Ada apa ribut-ribut di luar?” tanya ibu Sho panik. Reina yang ikut menghampiri hanya diam sambil menggenggam tangan neneknya.

“Tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja,” jawab Opi menenangkan. Ia tahu ibu Sho tidak mengetahui tentang hal ini. Sehingga ia memutuskan untuk tidak menceritakan apapun.

Sepeninggalan ibu Sho dan Reina yang kembali masuk ke dalam rumah, Sho hanya terduduk lemas dengan menempelkan punggungnya di pintu.

Opi berlutut di depan Sho yang menundukkan kepalanya di antara kedua lututnya. “Ada apa denganmu? Kenapa berteriak-teriak seperti tadi? Aiba-san hanya ingin bertemu dengan Reina.”

“Aku takut….aku takut dia akan mengambil Reina. Aku tidak mau memberikan Reina pada orang yang tidak pernah membuat Yui bahagia. Walaupun dia adalah ayah kandungnya,” ucap Sho lirih.

Opi menatap sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu. Sho Sakurai yang biasanya tegar sekarang terlihat rapuh karena mengingat adiknya dan Reina.

Opi tidak dapat berkata apa-apa. Ia tidak tahu harus membalas apa untuk menenangkan kekasihnya itu. Ia lalu melingkarkan tangannya di leher Sho dan bergumam tepat di telinga Sho.

“Reina tidak akan meninggalkanmu. Dimanapun dia, hanya kau Papa-nya.”

Tangan Sho bergerak melingkar di pinggang Opi lalu menarik tubuhnya sehingga ia dapat memeluknya erat.

“Reina pasti tahu…cepat atau lambat ia akan sadar…” kata Sho lirih, masih memeluk Opi.

“Maksudnya?”

“Reina selalu tahu aku bukan Papanya…aku tak mau merusak kenangan akan Yui yang sebenarnya adalah adikku…ia tahu aku hanya Pamannya. Tapi sejak kecil, Reina selalu memanggilku dengan sebutan Papa…” gumam Sho sedikit menyesal akan apa yang ia lakukan.

“Lalu?” tanya Opi bingung.

“Tak adil jika aku tak memberi tahu Reina… aku begitu kejam telah membuat anak dan ayah terpisah…tapi aku takut kehilangan Reina…” suara Sho terdengar sangat lemah sekarang.

“Pikirkan apa yang paling baik untuk Reina, Sho-kun…”

“Aku tahu…aku hanya belum siap kehilangan Reina…”

=========

Aiba menangisi dirinya sendiri. Laki – laki pengecut yang bahkan tak mampu berbuat apapun sekarang ini. Mata Reina yang menatapnya, mata yang persis mirip dengan matanya.

Ia sangat ingin memeluk gadis kecil itu. Darah dagingnya sendiri, anaknya yang ia sia – siakan enam tahun lalu.

Aiba kaget ketika melihat Din berada di dalam mansion. Ia kira Din sudah pergi meninggalkannya.

“Dinchan…” panggil Aiba lirih.

“Duduklah…semuanya harus di jelaskan…” kata Din parau, gadis itu sepertinya baru saja menangis.

Aiba menurut saja, ia tak ingin berdebat.

“Maafkan aku…tadi aku pergi begitu saja…” ujar Din.

Setelah pengakuan Aiba, Din meninggalkan mobil dan pergi dengan air mata terus mengalir di pipinya.

Pria itu tak bisa menjawab, semuanya terlalu rumit baginya.

“Jadi… kenapa Sakurai Reina bisa jadi anakmu?” tanya Din tegas, ia tak mau berlama – lama kebingungan.

Aiba bercerita semuanya. Sejak ia bertemu Yui, berpacaran hingga peristiwa itu terjadi. Yui meninggalkannya dan ia tak pernah tahu jika ia punya seorang anak dari wanita itu.

“Maafkan aku tak pernah bercerita soal ini padamu…” kata Aiba mengakhiri cerita itu.

Din terpekur dalam diam yang cukup lama. Keheningan tercipta diantara keduanya.

Tak lama, Din melepaskan cincin berlian yang Aiba berikan padanya.

“Selesaikanlah dulu masalahmu dengan Sakurai-san… aku tak bisa menerima ini semua…” isak tangis Din memenuhi ruangan itu.

“Dinchan…” Aiba menoleh kaget.

“Aku juga sepertinya harus jujur padamu…”

Din menarik nafas panjang, semuanya sudah terlanjur, sudah saatnya mereka saling jujur satu sama lain.

“Hubunganku dan Jun bukan sekedar teman kerja…”

“Apa maksudmu?”

“Aku berselingkuh darimu…”

Aiba tiba – tiba saja berdiri, “Kenapa?!”

“Sebelum kita berhenti menyakiti satu sama lain, lebih baik kita tak usah bertemu dulu…” Din berdiri dan meninggalkan ruangan itu, menuju kamar dan mengunci pintu rapat – rapat.

Kemarahan menguasai diri Aiba, tapi ia juga tak mampu berbuat apapun. Semuanya terbongkar, kenyataan terhampar di depan matanya. Pikirannya kalut, hatinya sakit memikirkan semuanya.

=========

“Dai-chan!!” Saifu melambai pada Daiki ketika melihatnya di depan sekolah.

Daiki balas melambai sambil tersenyum.

“Sudah lama?” tanya Saifu ketika menghampiri Daiki.

“Tidak…aku baru sampai kok…” jawab Daiki lalu berjalan di sebelah Saifu yang tampak riang sekali siang itu.

“Dai-chan… mau makan es krim tidak? Aku tahu tempat es krim yang enak sekali…” ajak Saifu pada Daiki.

Daiki mengangguk dan mengikuti langkah Saifu.

Tak sampai setengah jam kemudian, keduanya sampai di sebuah restaurant sederhana. Saifu dan Daiki memesan es krim dan duduk di sebuah meja yang menghadap langsung ke jalan.

“Kau memang suka es krim ya?” tanya Daiki menatap Saifu.

Saifu mengangguk, “Yup… memangnya Dai-chan tak suka?”

“Aku juga suka kok…” jawab Daiki sekenanya.

Dulu ia tak pernah memerhatikan jika Saifu punya senyum yang sangat manis, gadis itu lebih sering murung dan tak bersemangat sebelum ini. Mungkin karena sekarang ia sudah bertemu dengan Ohno Satoshi, yang ternyata adalah kakak kandung dari Saifu, keadaan gadis itu lebih baik dari dahulu.

Pesanan mereka datang tak berapa lama. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing – masing, hanya sesekali melihat sambil memakan es krim di hadapan mereka.

“Kau tahu… es krim itu bisa membuat seseorang gembira?” ujar Daiki tiba – tiba.

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena ini makanan yang menyenangkan… jadi kau bisa mendapatkan sedikit kekuatan setelah memakan es krim…” jelas Daiki.

“Benar juga..hehehe..” Saifu kembali menyendokkan es krimnya, memakannya sambil masih menatap Daiki.

Daiki berhenti sebentar, memerhatikan Saifu yang duduk di sebelahnya. Tak makan waktu lama hingga Daiki mendekatkan diri dan mencium bibir Saifu dengan bibirnya.

Saifu kaget karena gerakan Daiki yang spontan itu. Namun tak lama Saifu menutup matanya, menikmati ciuman yang diberikan Daiki.

“Gomen…aku terburu – buru..” ucap Daiki setelah melepaskan diri dari Saifu.

Saifu merasa pipinya panas dan memerah akibat ciuman Daiki tadi.

“Tak apa…” jawab Saifu pelan.

“Itu…ciumanku yang sebenarnya…”

Daiki memang pernah menciumnya sebelum ini, tapi Saifu juga merasakan perbedaan dari ciumannya tempo hari.

“Hahaha..” Saifu tak mampu menahan tawanya.

Daiki ikut tertawa, merasa bodoh karena mengatakan hal bodoh macam itu.

“Tak perlu buru – buru Fu-chan… kita punya banyak waktu bersama setelah ini…” kata Daiki sambil merengkuh bahu Saifu erat.

“Dai-chan…” panggil Saifu.

“Hmmm?”

“Apa Dai-chan mau menungguku jika aku pergi jauh?” tanya Saifu pelan.

Daiki melepaskan Saifu, memandang gadisnya itu, “Maksudmu?”

“Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku ke Korea…”

“Hah? Korea?”

Saifu mengangguk, “Sebenarnya Niichan akan membuka cabang kantornya disana… untuk itu Niichan pasti akan cukup lama disana.. aku memutuskan untuk ikut dengannya…” jawab Saifu.

“Kenapa tiba – tiba?”

“Karena… Niichan ingin aku menemaninya…” jelas Saifu lagi.

“Tapi… bagaimana dengan…” Daiki menelan ludahnya, “Aku?” tanyanya lirih.

“Aku tak mau bersama Dai-chan sebelum aku benar – benar dewasa dan bisa menentukan hidupku sendiri…”

Saifu melihat segala yang terjadi di rumahnya ketika Din bertengkar dengan kakak iparnya. Din tak bisa memutuskan untuk meninggalkan Aiba karena ia sudah terlalu lama bersama dengan pria itu.

Seperti yang ia dengar dari Din, setelah empat tahun bersama, Din tumbuh dewasa bersama Aiba. Sejak umurnya baru tujuh belas. Sehingga kini, ia bergantung sepenuhnya pada Aiba. Ia tak ingin seperti itu, bila pun ia ingin bersama Daiki, waktunya bukan sekarang.

“Tapi Fu-chan…”

“Kumohon mengertilah Dai-chan…”

Hidup susah membuat Saifu banyak berfikir akan hidupnya sendiri. Sekarang, setelah ia menemukan lagi keluarganya, banyak kesempatan yang bisa ia ambil. Untuk itu, ia tak mau menyia – nyiakannya.

Daiki hanya mengangguk pelan, “Aku mengerti… tapi ingat satu hal… aku tetap akan menunggumu…”

Daiki tak main – main dengan ucapannya. Ia rela menunggu untuk gadisnya itu.

=========

Rei memasukkan sebagian barang – barang milik Satoshi ke sebuah kardus besar. Ia melipat beberapa baju milik suaminya itu.

“Hati – hati disana..” ucap Rei masih sibuk beres – beres.

Kali ini Rei memang tidak ikut menemani Satoshi ke Korea. Alasannya adalah karena perusahaan di Jepang akan dikelola oleh Rei sementara waktu.

“Paling lama aku pulang tiga bulan sekali kok…” kata Satoshi yang juga berada di kamar, ikut beres – beres.

“Tiga bulan itu lama,” Rei manyun.

“Gomen na… tapi kan rencana ini sudah lama kita buat…” kata Satoshi mengingatkan.

“Iya… karena beberapa pelanggan dan rekanan kita berada di sana kan?” Rei tahu itu.

“Yup…tapi sebelum pergi, sebenarnya ada yang masih ingin kutanyakan padamu…” Satoshi berhenti sebentar, berbalik menatap istrinya.

“Apa?”

“Apa benar kau menyesal tak bisa menikah dengan cinta pertamamu?” tanya Satoshi.

Pertanyaan itu mengganjal dalam pikirannya beberapa hari ini. Ia mengingat apa yang Din katakan ketika bertengkar dengan Rei.

Rei mendelik, “Kenapa kau tanya itu?”

“Cinta pertamamu itu….Sho-chan kan?” tanya Satoshi lagi.

“Hmmm..” jawab Rei singkat.

“Jadi kau menyesal telah meninggalkan dia?” tanya Satoshi masih penasaran karena Rei tak menjawabnya langsung.

“Satoshi!” teriak Rei tiba – tiba.

Satoshi berhenti seketika, menahan nafas menunggu istrinya itu kembali meledak seperti biasanya jika ia marah.

“Orang yang jatuh cinta pada Sakurai Sho tujuh tahun lalu…” Rei menggantung kalimatnya sebentar, “Sudah tak ada disini…”

“Hah?”

“Aku berubah…semua orang berubah… dan aku tak pernah berfikiran bisa mencintai Sho lagi…karena sejak hari dimana aku melahirkan Hiroki dan kau datang ke sampingku setelah berlari dari bandara…” Rei menghampiri suaminya, menggenggam tangan Satoshi, “Aku jatuh cinta padamu…”

Satoshi tersenyum. Ia tak punya alasan untuk meragukan apa yang dikatakn istrinya itu. Semuanya terpancar jelas dari mata Rei yang sama sekali tak berbohong.

“Wakatta…” sahut Satoshi mantap.

========

Din menyembunyikan semua barang – barangnya di sebuah hotel. Ia sudah keluar dari mansion Aiba, ia juga tak bisa kembali ke rumah Rei karena ia masih dalam keadaan bertengkar dengan kakaknya itu.

Makan malam di sebuah restaurant dengan Matsumoto Jun. Siapa yang akan menolaknya?

Ia berdandan cukup pantas karena tahu jika Jun mengatakan ‘Makan Malam’, maka acuannya adalah sebuah restaurant dengan segala tata krama dan menu – menu yang mungkin sangat jarang Din temukan.

Dugaan Din benar. Sebuah restaurant a la barat dengan ruangan pribadi dan bahkan band pengiring pribadi bagi mereka sudah tersedia di sana.

“Anggaplah karena ini adalah saatnya kita harus merayakan kebahagianmu…” kata Jun menarik Din masuk ke ruangan bernuansa romantis itu.

“Iya Jun…arigatou..” senyum Din kecut.

Kebahagiaan apa yang ia rayakan? Semuanya sudah hancur karena Aiba dan dirinya tak lagi akan bersama.

“Rencanamu setelah ini apa?” tanya Din pada Jun di tengah makan malam itu.

“Kau tahu kan… kau kan mantan asistenku…” kata Jun tersenyum.

Din tahu jadwal Jun masih padat hingga akhir tahun nanti.

“Sayang aku tak bisa menyanyi di hadapanmu…” Jun memang berencana menjadi penyanyi juga tahun ini.

“Jun…jangan sakit ya… aku tak bisa langsung berlari lagi jika mendengarmu sakit… kau harus jaga kesehatanmu..” ucap Din khawatir dengan kebiasaan Jun yang tidak memerhatikan kesehatannya.

“Wakatta…” jawab Jun sambil tersenyum lembut pada Din.

“Sayonara Jun…” Din menambahkan dalam hati.

“Dinchan… lalu rencanamu apa?” pria itu tak tahan juga untuk bertanya pada Din.

“Sejujurnya… aku belum tahu…paling tidak pergi ke tempat lain dulu..hehehe..”

Jun tahu ada yang salah dengan Din hari ini, “Kau dan Masaki?”

“Ada sedikit masalah, dan kami tak bisa bersama dulu untuk saat ini…” Din sudah lelah berbohong pada orang – orang.

Terlebih pada Jun, tak mungkin pria itu tak tahu apa yang ia sembunyikan.

“Tapi aku juga tak bisa bersamamu…” Din tahu persis apa yang akan Jun katakan jika ia mendengar hubungannya dengan Aiba tak berjalan dengan lancar.

Saat memandang mata Din, Jun tahu gadis itu sungguh – sungguh, tapi ia masih saja ingin bertanya, “Kenapa?”

“Karena aku harus menyelesaikan masalahku dengan hatiku dulu…”

Jawaban yang sudah cukup menggambarkan segalanya untuk Jun. Sepertinya gagasan itu tak buruk juga jika ia lakukan.

“Aku juga…harus menyelesaikan masalahku dengan hatiku…” kata Jun.

“Ganbatte…”

Di temani alunan musik, di meja yang penuh dengan aura romantis itu keduanya hanya bisa saling memandang. Satu hal yang selalu Din tolak untuk mengakuinya, ia juga punya perasaan yang sama pada Jun.

==========

“Dia baik – baik saja…” suara yang mengabarkan keadaan itu membuat Kazunari sedikit tenang.

Opi baik – baik saja, sudah cukup baginya.

“Arigatou Sho-chan,” balas Kazunari.

“Tak usah khawatir, aku akan menjaganya…”

Sambungan telepon di putus. Kazunari menatap pemandangan bukit – bukit yang mengelilingi tempat ini. Sebuah desa kecil yang damai dengan penduduknya yang tidak terlalu banyak.

Ia memutuskan untuk pindah ke daerah pinggir Osaka yang tak mungkin akan terfikirkan oleh Opi. Urusan TK nya juga sudah diserahkan pada seorang asistennya, Kana.

Bukannya ingin melarikan diri, tapi saat seperti ini memang keputusan inilah yang paling tepat agar dia bisa menenangkan dirinya.

Tempat ini di rekomendasikan oleh Aiba. Sahabatnya itu bilang ia pernah ke tempat itu ketika sedang ada masalah. Tempatnya sekarang tinggal pun Aiba bilang adalah kenalannya.

Ternyata tempatnya cukup menyenangkan, selain itu pemiliknya pun ramah.

Sebuah tempat di pegunungan yang bisa membuatnya sibuk karena setiap hari ia bekerja di sebuah perkebunan. Pekerjaan yang cukup melelahkan, tapi sangat membantunya melupakan segala masalahnya.

“Kazu!! Ini ambilah minuman ini…” kata seseorang membuyarkan lamunannya.

Sekarang ini ia memang sedang istirahat di sela – sela pekerjaannya di perkebunan.

“Sankyu!!” seru Kazunari menerima minuman itu.

Hari sudah cukup sore. Sudah waktunya ia kembali ke rumah bersama beberapa pekerja di situ. Pekerja perkebunan itu terdiri dari berbagai macam orang. Mulai dari kakek – kakek hingga anak muda yang lebih muda darinya. Ada juga beberapa pekerja wanita.

Rumah yang ia tempati itu cukup sederhana. Isinya terdiri dari sepasang kakek dan nenek, serta seorang anak laki – laki berumur sepuluh tahun. Menurut kakek dan nenek itu, anak itu adalah cucu mereka.

Kazunari pulang bersama kakek dari perkebunan, sementara nenek menunggu di rumah.

“Tadaima…” seru kakek dari pintu.

“Okaeri…kakek!! Dinchan datang!!! Dinchan datang!!!” serunya heboh menyambut kedatangan Kazunari dan kakek.

“Matsuyama-san!!” Din memeluk orang yang sudah lama ia kenal itu.

Din sudah menganggap keluarga Matsuyama seperti keluarganya sendiri. Sejak kecil, ia sering bermain ke tempat ini. Dulu kakeknya juga tinggal di sekitar sini, namun sejak kakeknya meninggal Din tak pernah datang lagi kesini.

“Eh? Dinchan??” gumam Kazunari kaget.

“Ninomiya-kun!!!!” seru Din tak kalah kaget.

==========

TBC~ masih TBC kawan2…hahahaha
Kayaknya rada aneh ya…hahaha..LOL
Biarkanlah…
COMMENTS ARE LOVE~



Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chapter 11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s