[Multichapter] My Lovely Petto (Story 4)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Multichapter~ 😛
Chapter     : Empat
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *hohohoho~*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 4 ~


“Kenapa kau tak bilang?!” seru Saifu sambil terisak, dia membenamkan wajahnya di bantal, berusaha meredam suara tangisnya.

“Gomen..aku juga tak tahu kalau itu pacarnya,” kata Daiki sambil menatap Saifu yang masih terisak.
===========

-Flashback-

“Ryu…dia siapa?” tanya seorang gadis yang kini berdiri disamping Ryutaro yang nampak salah tingkah, Ryutaro menatap Saifu yang menatap gadis disampingnya dengan bingung

“Ryuu?” panggil gadis itu lagi.

“Sora..dia Saifu, sahabatku..” kata Ryutaro sambil menatap Sora,sudut mata Ryutaro menatap Saifu dengan khawatir.

“Saifu..dia Sora, pacarku..” Ryutaro menatap Saifu yang nampak kaget

“Eh?”

‘sial..’ Daiki berdecak kesal sambil tetap menatap Saifu, menunggu reaksi Saifu.

Sora mendekat ke Saifu,lalu tersenyum dan menyodorkan tangannya, “hajimemashite..Ayukawa Sora desu..yoroshiku ne..” kata Sora sambil tersenyum.

Mata Saifu bergerak gerak bingung,lalu tersenyum canggung dan menyambut tangan Sora “hajimemashite…Takaki Saifu desu..” kata Saifu pelan,

Ryutaro menatap Saifu, lalu memegang bahu Sora yang lalu menatap Ryutaro, “Sora..tunggu aku dibawah ya..aku ada urusan sedikit dengan Saifu..” kata Ryutaro lalu menatap Sora, Sora menatap Ryutaro lalu mengangguk dan meninggalkan Ryutaro dan Saifu berdua, ah tidak..bertiga dengan Daiki juga.

“Saifu..gomen, aku..” kata Ryutaro serba salah.

Saifu menggeleng, “daijobu..” kata Saifu sambil tersenyum namun sebenarnya dia menahan tangisnya.

Ryutaro mendekat ke Saifu tapi Saifu malah langsung menggendong Daiki,”Aku duluan ya..” kata Saifu sambil menunduk.

Ryutaro menarik lengan Saifu, “tunggu..”

Saifu menepis tangan Ryutaro, “gomen..” Saifu berlari tanpa menghiraukan Ryutaro yang terus memanggilnya.

-Flashback end-

=========

“Master!! Omedetou!! Omedetouuu!!” Din menyalami tangan Yuya dengan bersemangat.

“Untuk apa?” Yuya lama – lama merasa terbiasa dengan kedatangan Din yang selalu tiba – tiba, atau membangunkan tidurnya seperti sekarang.

“Karena Master dan Aiko-chan sudah menjadi sepasang kekasih kan?!” seru Din sumringah.

Yuya menggeleng, “Apa sih maksudmu?” padahal ia tak mau mengakui jika kini wajahnya memerah.

“Mou… kemarin saja naik bianglala tanpa mengajakku…” Din manyun duduk di sebelah Yuya.

“Uhuk!!” Yuya terbatuk karena sedang minum, “Apa sih?!”

-Flashback-

Wajahnya tegang, ia mungkin dikenal sebagai vokalis band, cowok yang lumayan populer, tapi ia tak pernah kencan sebelumnya. Type cowok yang payah dalam percintaan adalah dirinya.

From : Aiko
Subject : Besok.
Besok senpai ada acara?
Aku punya tiket gratis ke Taman Bermain…
Bagaimana jika pergi bersama?

Jawaban dari Yuya tentu saja setuju. Bahkan karena terlalu bersemangat, kini ia berada di depan pintu gerbang setengah jam lebih cepat. Dua puluh menit setelah ia menunggu, sosok Aiko akhirnya datang.

Din sudah diperingatkan untuk tidak ikut. Tapi ia selalu saja melanggar peraturan Yuya dan ikut kemana saja Yuya pergi. Akhirnya Yuya menyerah dan membiarkan Din ikut dengan syarat tidak boleh berubah jadi manusia.

“Eh? Senpai sudah datang?” Aiko merasa dirinya terlalu cepat datang, namun ia mendapati teman kencannya sudah datang lebih dahulu daripada dirinya.

Yuya mengangguk singkat, “Un… ya sudah… ayo masuk saja..” ajaknya gugup.

“Aku dapat tiket ini dari pamanku… katanya ia dapat dari kantornya…” jelas Aiko.

“Sou ne…” Yuya hanya mengangguk pelan.

Mau tak mau dia merutuki dirinya sendiri. Sebagai pria, seharusnya dia lah yang membelikan tiket untuk kencan mereka. Bukan mendapat tiket gratis dari Paman si gadis.

Selama beberapa jam ke depan mereka sibuk bermain semua wahana yang ada di Taman Bermain itu. Din bahkan sampai kelelahan mengikuti Yuya. Padahal sejak pagi ia tak dapat makanan dari Yuya. Membuat perutnya keroncongan saja.

“Mayday… mayday… aku lapaaarr…” keluh Din mendekati Yuya.

“Gyaaa!! Kawaii koneko!!” seru Aiko ketika melihat Din.

Yuya berdecak malas.

Aiko menunduk dan membelai pelan Din, “Kawaii… sayang sekali kau terlantar…” kata Aiko.

“Ugh… aku lapaaarr..” keluh Din lagi.

Din terus menggesekkan kepala kucingnya dengan kaki Yuya, berharap laki-laki itu mengerti jika peliharaannya ini lapar tingkat akut.

“Kucing ini sepertinya menyukai Takaki-senpai..” kata Aiko sambil tertawa.

“Hehehe…” Yuya hanya bisa tertawa, tak bisa menjawab.

Tak lama, Yuya menyodorkan sepotong roti pada Din, “Makanlah..”

“Yattaaaaa!!” Din menjilat – jilat kaki Yuya karena berterima kasih.

“Hora!! Kucing ini menyukai Takaki-senpai…kyaaa~ kawaii na…” kata Aiko lagi.

“Mau… naik apa lagi?” tanya Yuya pelan.

Mencoba mengalihkan perhatian Aiko dari Din.

Aiko beranjak, “Naik bianglala yuk!!” ajaknya.

“Eh?”

“Iya…sebentar lagi kan sunset…” kata Aiko lagi.

Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya naik bianglala. Tentu saja Din tak bisa naik karena berwujud kucing.

Di dalam bianglala.

Hanya berdua saja.

Walaupun Yuya tak berpengalaman, tapi ia tahu di film – film harusnya adegan ini adalah adegan paling romantis antar pemeran utama pria dan wanita. Seharusnya sebentar lagi mereka setidaknya saling menyatakan perasaan.

Sejak tadi Yuya memerhatikan Aiko terus saja menunduk, seakan memikirkan sesuatu.

“Aiko-san… kau baik – baik saja?” tanya Yuya pelan.

“Un…”

“Kau kenapa?” Yuya melihat wajah Aiko tidak menunjukkan baik – baik saja.

“Ada yang ingin kusampaikan pada Takaki-senpai…”

Sebuah pernyataan dari pihak wanita? Apa Yuya tak bisa lebih menyedihkan dari ini?

“Aku…”

Yuya berharap ia bisa menyatakannya lebih dulu, tapi ia juga ingin mendengar ungkapan isi hati dari Aiko.

“Aku menyukai Yaotome-senpai…”

“Hah???! Apa?” Yuya tak lupa mengorek kupingnya, ia juga tak punya masalah pendengaran.

“Iya senpai… aku menyukai Yaotome-senpai… tapi… aku tak berani mendekatinya… ia terlalu baik pada semua wanita.. aku takut tersakiti…”

Bagus.

Jadi alasan Aiko mengajaknya hanya untuk meminta bantuan Yuya untuk mendekati Hikaru.

Bibir Yuya terkunci rapat hingga pulang tiba.

-Flashback End-

“Jangan sok tahu!” seru Yuya kesal.

Din memiringkan kepalanya menatap Yuya yang tiba – tiba saja marah, “Master…ada yang salah?”

Yuya merasa sangat lemah. Bahkan ketika Aiko bilang ia menyukai Hikaru, kata – kata yang Yuya katakan selanjutnya hanya memberinya ide untuk menyatakannya pada Hikaru.

“Tapi master dan Aiko-chan sudah jadian kan??!” tanya Din untuk kesekian kalinya.

“Tidak… aku tidak jadian dengannya..” jawab Yuya kesal.

“Eh? Nande??!! Sayang sekali master terlalu lambat!! Nanti Aiko-chan ada yang ambil loh!!” seru Din lagi, lalu mendekati Yuya.

“Urusai na!!” seru Yuya lagi.

“Kenapa kau marah – marah terus sih?? Ne?? Yuya-chaaan…” kata Din lalu menghampiri Yuya, meraih lengan Yuya.

Yuya terdiam. Semuanya terasa tak ada yang lebih menjengkelkan daripada hal ini. Ia sudah menyukai Aiko sejak SMA, tapi kenapa Aiko malah menyukai Hikaru? Lagipula bukankah Hikaru itu lebih mudah di dekati daripada dirinya?

Yuya mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan.

“Yuya-chan..” panggil Din lagi masih meremas pelan lengan Yuya yang duduk di kasur, gadis itu duduk di sebelahnya.

“Jalan – jalan yuk..” Yuya berdiri dan mengambil mantelnya, melemparkannya kea rah Din.

“Eh? benarkah?!” senyum Din mengembang senang.

“Iya…” Yuya mengambil mantelnya yang lain dan bergerak keluar, “Berubah dulu…” kata Yuya mengingatkan.

===========

“Kaing..” kata Daiki yang berarti “berhenti!”

Daiki tak tahu apa Saifu mengerti atau tidak, tapi yang pasti Saifu berhenti, hanya diam sambil menunduk, beruntung jalanan sepi jadi tak ada yang begitu menghiraukan Saifu yang hanya diam sambil menunduk. Daiki melompat dari gendongan Saifu, lalu perlahan berubah menjadi manusia.

“Fu-chan…” bisik Daiki lirih, bahu Saifu naik turun, gadis itu menangis sesenggukan sejak tadi, “Kau tidak baik – baik saja kan?”

Sejak tadi Saifu tak menjawab, hanya terus menangis.

Daiki meraih bahu Saifu lalu memeluknya, membiarkan tangis itu tumpah ruah di pelukannya. Ia tak keberatan walaupun kini bajunya basah oleh air mata itu

“Master… jangan menangis…” kata Daiki, namun Saifu masih saja terisak.

Daiki memeluk Saifu makin erat, mengelus kepala, “Nakanaide yo….” hanya ucapan itu saja yang sedari tadi bisa ia katakan.

“Harusnya kau bilang kalau kau pernah meiihatnya bersama pacarnya!! Jadi aku tak usah seperti orang bodoh!!” seru Saifu kesal sambil menatap Daiki, air matanya masih saja mengalir.

“Maafkan aku…aku tak tahu kalau..”

“Tetap saja kau harusnya beritahu aku!!” bentak Saifu lalu melepaskan diri dari Daiki, beralih mengambil bantal dan membenamkan kepalanya di bantal tersebut.

“Gomen..” Daiki tak punya kata lain.

Namun tak ada jawaban dari mulut Saifu,  gadis itu masih betah terisak tak mau berhenti.

“Gomen na… aku hanya ingin kau bahagia…” bisiknya lagi.

“Dinchan..Din..?” Daiki memangil Din dengan telepatinya.

“Ya, Dai-chan?” jawab Din.

“Aku sudah gagal lagi…” ucap Daiki lesu.

“Eh? kau baik – baik saja Dai-chan??”

“Gomen ne…” kata Daiki pelan, lalu memutus telepatinya dengan Din, Daiki menatap Saifu yang nampaknya masih terisak.

=========

“Dai-chan? Dai-chan??!!”

Din manyun karena Daiki tak menjawab dirinya lagi. Temannya yang biasanya sok tegas dan berwibawa itu terdengar sangat sedih tadi. Ada apa dengannya?

“Kenapa kau merengut begitu?” protes Yuya yang berjalan di sebelahnya.

Ia diizinkan Yuya untuk berubah menjadi manusia hari ini.

“Tidak apa – apa… Dai-chan sepertinya kena masalah…” jawab Din.

Mereka lalu masuk ke sebuah kafe es krim yang cukup terkenal.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Yuya yang masih penasaran.

“Karena kita punya telepati… jadi, jika Dai-chan ingin menghubungiku, kita bisa langsung bercakap – cakap dalam hati…” jawab Din.

“Seperti ponsel?” tanya Yuya.

“Ponsel? Apa itu?” dahi Din mengerenyit tidak mengerti.

Yuya mengeluarkan ponselnya, “Ini yang namanya ponsel. Jadi, kita bisa menghubungi orang lain yang jauh tempatnya dengan benda ini…” jelasnya lagi.

Din mengambilnya dari tangan Yuya, “Waaa… aneh sekali…” katanya sambil masih terus meneliti tiap inci dari ponsel itu.

“Hehehe…bentuknya aneh…” gumam Din.

Yuya mengambil kembali ponselnya, “Punya telepati lebih praktis ya sepertinya?”

Din mengangguk – angguk setuju, ia menggaruk badannya yang sudah cukup lama tak di cuci. Merasa mulai terganggu dengan hal itu.

“Kau kenapa?”

“Gatal…aku sudah lama tidak mandi…” keluh Din.

“Hahaha… baiklah… setelah ini kita ke pemandian umum ya..” ajak Yuya.

“Yuya-chan… kalau tersenyum lebih tampan loh…” seru Din.

“Urusai na..” Yuya menoleh dan berdiri, “Aku ambil es krim dulu…” imbuhnya.

Yuya menunggu Din selesai mandi di sebuah super market. Ia tentu saja sudah mandi di rumah.

Mata Yuya berhenti di sebuah baju terusan selutut berwarna pink.

“Bagus… pasti cocok buatnya…” gumam Yuya.

Ia bergerak mendekati baju itu, ternyata harganya juga cukup murah. Setelah menimbang – nimbang, akhirnya Yuya membeli baju itu.

“Kau sudah berapa lama di dalam?! Aku sampai kedinginan…” keluh Yuya lalu meneguk kaleng bir yang ia pegang hingga habis.

Din baru saja keluar dari pemandian umum, “Habis rasanya nyaman sekali!!hehehe..”

“Mana ada kucing yang suka air?! Dasar kucing aneh..” seru Yuya lalu menyerahkan tas belanja pada Din.

“Apa ini?” tanya Din bingung.

“Baju… untukmu… tak bagus terus jalan dengan baju aneh mu itu…” Yuya berkata sambil melenggang menjauh.

“Masteeerrr!!!arigatouuu!!” Din berlari mendahului Yuya, lalu memeluk pemuda itu tanpa segan.

“Anou…” Yuya terdiam, tak siap dengan gerakan tiba – tiba ini.

“Arigatou master!!” Din mencium pipi Yuya sekilas.

“Hmmm.. sama – sama…” mukanya terasa panas setelahnya, padahal cuaca cukup dingin.

Ponselnya tiba – tiba berbunyi. Yuya mengangkatnya tanpa repot melihat layarnya terlebih dahulu.

“Moshi – moshi?”

“Yuya… ada yang ingin kubicarakan…” suara Hikaru jelas sekali di ujung sana.

==========

Daiki duduk di pojok kasur Saifu, lalu hanya diam sambil menatap Saifu,

“Ryuu..” Saifu terisak pelan, Daiki yang tertidur di pojok kasur Saifu terbangun, lalu mengusap matanya. Jam dinding di kamar Saifu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Daiki bangkit berdiri, tidur dalam posisi duduk membuatnya benar – benar pegal. Daiki mengulat lalu berjalan mendekati Saifu, dia berjongkok menatap wajah Saifu yang sembab, Daiki mengusap wajah gadis itu pelan.

“Saat tidur pun..kau tetap memanggil namanya ya…” ucap Daiki masih sambil menatap wajah Saifu.

“Ryuu..” bisik Saifu lagi, dia mengigau. Wajahnya terlihat sedih walau sedang tertidur, air mata keluar dari sudut mata Saifu, Daiki mengusap air mata itu dengan tangannya.

“Jangan menangis master…” bisik Daiki sangat pelan, sedetik kemudian ia mendekat dan mencium pipi Saifu.

Daiki menatap wajah Saifu, lalu entah karena dorongan apa, Daiki mendekat ke wajah Saifu lalu mencium bibir gadis yang masih terlelap itu.

Daiki melepaskan ciumannya itu, ia naik ke kasur Saifu dan kembali mencium bibir gadis itu.

Pemuda itu berhenti sejenak, menatap wajah Saifu yang masih terlihat sedih.

“Jangan berwajah sedih…” bisik Daiki sambil menatap wajah Saifu yang terbaring disebelahnya.

“Ryuu..” ucap Saifu lagi.

“Jangan sebut namanya..” Daiki tak rela, lalu kembali mencium bibir Saifu, “Jangan sebut nama bajingan itu…” bisiknya lagi.

Daiki terdiam sesaat, mungkin ini salah. Daiki tak seharusnya begini, namun entah kenapa Daiki malah melakukan hal yang seharusnya tak boleh dilakukan oleh peri cinta, yaitu jatuh cinta.

=========

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yuya tampak sedikit terganggu dengan kedatangan Hikaru.

Ini tak adil untuk Hikaru jika ia bersikap seperti itu. Namun ia juga sulit membuat sikapnya biasa saja.

“Hanya mengobrol saja…” mata Hikaru menangkap sosok Din yang duduk di meja lain di bar yang sama, “Sepupumu ikut?”

“Saat kau menelepon, ia bersamaku..” jawab Yuya singkat.

“Sou ka…”

“Jadi, ada apa?” tanya Yuya cepat. Ia ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini.

Hikaru mengaduk minuman di hadapannya, “Aiko mendatangi aku.. dan bilang ia menyukaiku…”

Yuya meneguk minumannya hingga tandas, “Lalu?”

“Aku tak pernah tahu ia menyukai aku…” tambah Hikaru.

“Aku tak peduli..”

“Aku tahu kau peduli Yuya… ia cinta pertamamu kan?” seru Hikaru memotong apa yang ingin Yuya katakan.

Yuya tak menjawab.

“Aku tak bisa menyukainya… Aiko sudah seperti adikku sendiri…”

Yuya menoleh, menatap pemuda di sebelahnya yang menunduk. Tak butuh waktu lama Yuya menarik kerah baju Hikaru, “Kau menolaknya?!!!” teriak Yuya marah.

Hikaru menghempaskan tangan Yuya dengan kasar, “Kau berharap apa?! Aku tak bisa mengkhianati sahabatku sendiri!!” balas Hikaru tak kalah marah.

Tak bisa menjawab, Yuya berdiri, “Kenapa?”

Hikaru yang biasanya punya semua jawaban atas pertanyaan apapun, kini diam tak menjawab.

“Ia menyukaimu… aku tak bisa menggantikannya..” kata Yuya pelan.

“Aku tak bisa menyukainya…aku menyukai orang lain…” jawab Hikaru akhirnya.

“Kenapa tak bisa? Aiko kan gadis baik…”

Yuya merutuki dirinya yang lemah, namun kebahagiann Aiko adalah yang terpenting baginya saat ini.

“Tak bisa Yuya… aku menyukai sepupumu… aku tak bisa menjauhkan sosoknya dari pikiranku sejak bertemu dengannya malam itu..”

“APA?!”

“Iya.. aku menyukai Dinchan…” ucap Hikaru sangat jelas.

“Kau bercanda kan?! Maksudku…dia… itu… dia…” Yuya gelagapan tak mampu mengatakan apapun.

“Kau tak keberatan aku mendekatinya kan?” Hikaru menoleh ke belakang. Din sedang memainkan es krim yang ia pesan.

Sejak makan es krim tadi siang, ia jadi sangat menyukai makanan dingin itu.

“Tidak bisa… kau tak boleh menyukainya…” kata Yuya lagi.

Hikaru menatap Yuya aneh, “Kau kenapa sih?”

===========

“Saifu…” panggil Daiki pada Saifu yang nampak tengah bersiap – siap untuk berangkat sekolah, Daiki tadi malam tertidur disamping Saifu, namun gadis itu nampaknya tak keberatan karena ia tak berkata apapun.

“Hmm..?” Saifu sedang menyidir rambutnya.

“Gomen ne..soal..”

“Daijobu.. gomen ne, kemarin aku marah – marah padamu..” kata Saifu meminta maaf.

Daiki menatap Saifu, dia tahu Saifu sebenarnya masih sedih namun gadis ini masih saja tersenyum di depannya, Daiki mendekat, “Gomen ne..” Daiki menunduk.

“Daijobu…” Saifu menepuk pundak Daiki yang menatapnya, “Sudahlah… tak apa kok..ne?” kata Saifu sambil tersenyum, Daiki mendekat lalu mencium pipi Saifu.

“Eh…?” Saifu nampak kaget dan memegang bagian pipinya yang dicium Daiki.

“Hadiah untuk kau yang berwajah manis…” kata Daiki sambil tersenyum.

Wajah Saifu tampak kaget, tapi tak lama sudut – sudut mulut Saifu tertarik membentuk sebuah senyum, “Arigatou..nah ayo, kita bisa terlambat..” kata Saifu, Daiki mengangguk lalu berubah wujud menjadi anjing.

“Saifu..” panggil Ryutaro yang baru saja datang.

Saifu yang duduk dibangkunya tersenyum menatap Ryutaro yang berwajah bersalah .

“Ohayou Ryu-chan…” sapa Saifu .

Daiki menatap Ryutaro dari dalam tas, dia nampak awas menatap Ryutaro yang menatap Saifu.

“Maaf..kemarin..” ucapnya Ryutaro pelan, “Aku…”

“Daijobu..” potong Saifu cepat, lalu tersenyum, “Aku mengerti… kita tetap teman kan?” tanya Saifu.

Ryutaro tersenyum menatap Saifu, “Un..mochiron..” kata Ryutaro sambil tersenyum, Saifu pun tersenyum menatap Ryutaro.

==========

Yuya terbangun dari tidurnya. Sudah beberapa hari ini ia sulit tidur, namun semalam ia cukup pulas tertidur.

Sejak hari dimana Hikaru menyatakan bahwa ia menyukai Din, pemuda itu selalu menanyakan bagaimana jika ia berkencan dengan Din? Sungguh membuatnya sakit kepala.

Ia menemukan sosok Din yang masih terbaring di bawah kasurnya, Din akhirnya mengerti jika ia harus tidur di bawah.

Deg.

Yuya meneliti tiap jengkal wajah Din yang masih tertidur pulas. Rasanya sosok itu sudah menjadi bagian hidupnya. Walaupun sebentar, tapi membuat Yuya nyaman. Padahal, Din bukan siapa – siapa bagi dirinya.

“Kau pasti capek tidur seperti itu..” bisik Yuya lalu memapah tubuh Din dan membaringkannya di kasurnya.

“Mulai malam ini kau tdiur di kasurku…” bisik Yuya lagi.

Sebuah e-mail tiba – tiba saja masuk ke ponselnya.

From : Aiko
Subject : —
Senpai, bisa kita bicara?
Aku mau meminta maaf padamu…
T.T

Yuya bergerak dalam diam, lalu membiarkan Din yang masih tertidur lelap.

“Hari ini kau tak boleh kemana – mana…” Yuya bergerak keluar lalu mengunci kamarnya dari luar.

“Ada apa?” tak sampai sejam kemudian, ia sudah bertemu dengan Aiko di sebuah restaurant.

“Aku menyatakan perasaanku pada Yaotome-senpai… tapi dia menolakku..” air mata Aiko mengalir.

Yuya menyerahkan tissue pada Aiko, “Aku sudah dengar…”

“Bodoh sekali aku merasa bahwa dia bisa menyukai aku…” kata Aiko di sela isak tangisnya.

Yuya menggaruk kepalanya yang tdiak gatal. Setiap orang di tempat itu pasti menyangka dirinya membuat gadis itu menangis.

Ia pindah ke sebelah Aiko, “Jangan menangis… sudahlah…”

Aiko menyandarkan kepalanya di bahu Yuya, “Yaotome-senpai bilang ia menyukai Dinchaan…” serunya.

“Errr…” Yuya salah tingkah dan hanya bisa membelai kepala Aiko pelan.

Aiko masih saja terisak, kini ia melingkarkan tangannya di badan Yuya, “Kalau saja aku menyukai Takaki-senpai… pasti aku tak akan sakit hari seperti ini…” ucap Aiko lirih.

“Kenapa tidak?”

Tangis Aiko berhenti, matanya menatap Yuya nanar, “Maksud senpai?”

“Aku… suka padamu…” kata Yuya lirih.

============

Ini tak baik bagi Daiki, dia mulai merasa menyukai Saifu. Walau begitu Daiki sebisa mungkin memendam saja perasaannya itu, dia sebenarnya tak yakin juga dengan perasannya sendiri dan lebih memilih terus mendukung Saifu dengan cintanya ketimbang mengubris perasaannya sendiri, dia peri dan tak seharusnya dia jatuh cinta.

“Daiki?kenapa melamun ?” tanya Saifu sambil menatap Daiki yang duduk disampingnya dengan cemas, tak mengubris cake coklat yang ada di hadapannya hanya diam saja sedari tadi di bangku cafe di sebelah Saifu.

Daiki menggeleng, “iie…” jawab Daiki.

“Aku bertanya kenapa kau melamun? Ada yang salah?” tanya Saifu.

Daiki hanya tersenyum canggung menanggapi keluhan Saifu itu, lalu tiba tiba Saifu memberikan sebuah strawberry dari cheese cakenya membuat Daiki menatapnya bingung.

“Makanlah…kau suka kan? Agar kau tak hanya diam..makanlah” kata Saifu sambil tersenyum, membuat Daiki untuk beberapa saat terpana menatap Saifu.

Daiki  ikut tersenyum.

“Arigatou..” ucapnya pelan.

Saifu tersenyum, “douita..” lalu kembali melanjutkan makannya.

Daiki menatap Saifu sekilas, lalu menghela nafas berat menatap sepotong strawberry yang diberikan Saifu, menusuknya dengan garpu lalu memakannya.

Rasa manis campur asam, sama seperti perasaannya sekarang. Perasaannya yang campur aduk.

=========

Din terbangun, dan mendapati dirinya berada di atas kasur.

“Eh?” Din sedikit bingung lalu turun dari kasur itu, “Yuya-chan mana ya?” gumamnya.

Kaos yang Din pakai cukup kebesaran. Kata Yuya kaos itu sudah tak pernah ia pakai, sehingga ia memberikannya pada Din.

Sambil menguap Din duduk di meja belajar milik Yuya, “Aku lapaarr…” keluhnya.

Matanya menangkap sebuah snack dan sekotak susu yang Yuya simpan di meja itu.

Untuk Dinchan…

Makan ini dulu…aku pergi sebentar…
Nanti aku belikan makanan…
Jangan coba – coba berisik, nanti Okaa-chan menemukanmu..
Mengerti?

-Yuya-

“Hehehe.. baiklah..” Din membuka snack itu dan mulai memakannya.

Pandangan Din menyapu ke setiap penjuru kamar itu. Sungguh kamar khas cowok dengan barang – barang berserakan tak beraturan. Din mengambil sebuah buku, membukanya dan melihat – lihat gambarnya.

Buku itu penuh dengan tulisan dan coretan.

“Love story..” baca Din pelan, “Naskah.. apa itu naskah?”gumamnya.

Din mulai haus dan membuka kotak susu itu namun ia tak hati – hati dan membuat kotor buku yang tengah ia buka dengan susu coklat itu.

“Waaa!!” Din berusaha membersikannya namun malah membuat buku itu semakin kotor.

“Bagaimana ini?!” keluh Din.

Ia mengambil gelas yang masih terisi penuh. Sepertinya sisa Yuya semalam, lalu mengguyur buku itu dengan air mineral itu.

“Waaa!!” bukannya lebih baik, buku itu malah terlihat semakin menyedihkan.

“Bagaimana ini… bagaimana??!!” keluh Din panik.

=========

TBC~
Maap ya lamaaaaa~ hehehehe.. 😛
Comments are Love~



Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s