[Multichapter] My Lovely Petto (Story 3)

Title        : My Lovely Petto
Type          : It seems like Multichapter~ 😛
Chapter     : Tiga…
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *it’s our style anyway~*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 3 ~


Senja telah turun sejak tadi. Din mulai gelisah karena Yuya sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Ia menggosok – gosokkan kakinya yang mulai terlihat kotor karena tak memakai alas kaki. Selama ini ia selalu terbang, karena itulah ia tak memerlukan alas kaki, tapi kini karena sayapnya hilang, ia terpaksa berjalan kaki.

“Mana sih Yuya-chan?” gumamnya sedikit kesal.

Sejak tadi kertas yang diberikan Saifu terus ia genggam dengan erat. Perutnya juga mulai keroncongan karena sejak siang tidak makan lagi.

Sementara itu di dalam JUMP studio akhirnya kumpulan orang yang latihan itu berhenti. Mereka berlatih ekstra untuk pertunjukkan di sebuah kampus. Sebuah festival band. Mereka tak mau ketinggalan.

“Latihannya segini saja dulu!” seru Yabu.

Kelima laki – laki itu berhenti dan duduk beristirahat melepas kelelahan mereka.

“Mudah – mudahan kita bisa bermain sebagus latihan tadi…” kata seorang pria berwajah manis, masih duduk di belakang keyboardnya, memainkan beberapa tuts nada.

“Benar Inoo-kun! Kuharap juga begitu..” timpal Yuto, drummer band yang termuda di antara mereka.

Yuya duduk bersandar lalu meneguk penuh sebotol air mineral di hadapannya. Ketika tiba – tiba ponselnya berbunyi nyaring.

“Hai? Moshi – moshi? Angkat Yuya cepat.

“Yuya… bantu ibu ya… ke apotek sebelum pulang… Ayah butuh obat batuk..” seru Ibu di seberang.

“Wakatta…”

“Aku pulang duluan ya…” Hikaru beranjak lalu membereskan Bass nya.

“Aku juga deh..” putus Yuya lalu ikut berdiri dengan Hikaru.

“Baiklah… hari sabtu jangan lupa ya!!” seru Yabu lantang sebelum keduanya keluar dari ruangan itu.

Din tertunduk, berjongkok mulai kedinginan.

“Waaa!! Apaan itu??!” Hikaru melompat dan berlindung di belakang Yuya.

Din mendongak, wajahnya kaget campur senang melihat Yuya di hadapannya.

“Yuya-chaannn!!” seketika Din memeluk Yuya.

“Eh? Siapa dia?!” Hikaru agak aneh melihat dandanan Din, ditambah gadis itu tak memakai alas kaki.

Yuya melepaskan pelukan Din, “Apa – apaan sih??!! LEPAS!!” serunya kesal.

Din manyun ke arah Yuya, “Ayo makan… aku lapar…” rengek Din lagi.

“Ne… Yuya…siapa dia?” tanya Hikaru sambil menyikut pelan perut Yuya.

“Bukan siapa – siapa…” Yuya menarik lengan Din, “Ayo!!” ajaknya sambil membawa Din ke tempat lain.

“Yuya!! Kenalkan dia padaku!!!” teriak Hikaru lalu tertawa melihat ekspresi Yuya yang terlihat terganggu dengan gadis itu.

“Sudah kubilang kan, jangan menggangguku terus!!” seru Yuya kesal.

Mereka kini berada di sebuah taman kota. Malam hari begini tentu saja sepi dan tak terlihat manusia lain disitu.

“Mou… kenapa Yuya-chan berwajah seperti itu sih?” protes Din melihat Yuya marah.

“Baiklah… jangan ganggu aku lagi!! Sekarang, pergilah!!” bentak Yuya.

Setelah itu ia berbalik dan meninggalkan Din. Ia kesal setengah mati karena gadis itu selalu saja mengikutinya, bahkan sekarang malah membuatnya malu di hadapan Hikaru.

Yuya mendengar suara langkah mendekat, ia menoleh dan mendapati Din masih mengikutinya.

“Sudah kubilang, PERGI!!” bentak Yuya lagi.

Din tak menjawab dan masih mengikuti langkah Yuya yang makin cepat saja.

“JANGAN IKUTI AKU!!!” teriakan itu sukses membuat Din berhenti, tapi ia tak mau menyerah, ia menarik lengan Yuya.

“Yuya-chaaann… aku tak punya tempat tinggal lagi… aku tak tahu tempat ini… kenapa kau tega sekali?!” isak tangis Din mulai terdengar.

“Mou… mendokusai na…” gumam Yuya malas, “Tapi itu bukan urusanku…” bisik Yuya lalu menghempaskan tangan Din yang masih memegang erat lengannya.

“Ouch!!”

Belum lagi sepuluh langkah, Yuya mendengar rintihan Din. Ia menoleh, dan melihat Din bersimpuh terduduk lalu terlihat darah mengalir dari telapak kaki Din.

“Aduuh..sakiit..” Din menangis campuran sakit dan sangat bingung akan keadaannya sekarang.

Selama ini ia tak pernah diperlakukan sekasar ini. Sekarang, seorang manusia yang bahkan baru saja ia kenal, malah membuatnya sangat sakit hati.

Yuya tak tega juga melihat Din seperti itu.

“Baiklah…” ia menghembuskan nafas berat dan berbalik menghampiri Din.

“Aku benar – benar tak tahu apa yang harus kulakukaaann… semuanya serba asing, aku takuut..” tangis Din semakin menjadi ketika Yuya menunduk, menyentuh kaki Din yang berdarah.

“Kita harus ke rumah sakit…” gumam Yuya, lalu dengan cepat ia memapah tubuh Din seperti seorang putri.

Tangis Din berhenti seketika.

“Yuya-chan…”

Yuya tak menjawab, langkahnya menuju Rumah Sakit sambil terus menggendong Din.

==========

“Nah…kalau mau keluar, kau harus memakai sandal itu..” kata Yuya ketika mereka sudah keluar dari rumah sakit, Yuya membelikan sepasang sandal manis yang sederhana.

“Waa…omoshiroii na!!” seru Din mematut kakinya lagi.

“Kaki mu masih sakit?” tanya Yuya sedikit khawatir.

Din menggeleng lalu tersenyum, “Sudah tidak!! Terima kasih master!!”

Yuya mau tak mau tersenyum juga melihat Din.

“Ah iya!! Aku nanti mau kesini ya..” Din menyerahkan secarik kertas yang sudah sangat lusuh karena sejak siang tadi terus ia genggam.

Yuya membaca perlahan alamat yang tertera di kertas itu.

“Hah? Ini kan alamat rumah…” gumam Yuya bingung.

“Kau dapat dari siapa?!” tanya Yuya, menatap Din.

“Dari masternya Dai-chan!! Namanya…” Din mencoba mengingat gadis yang tadi siang ia temui, “Saifu-chan!!”

“Dai-chan? Siapa?”

“Itu…dia partnerku… tapi, saat turun ke bumi, kami berpisah dan Dai-chan dibawa oleh gadis itu…” kata Din ringan.

“Ayo ikut!” kata Yuya lalu menarik Din keluar dari toko 24 jam itu.

Tak lama, mereka sampai di depan rumah.

“Kenapa Yuya-chan?” tanya Din heran, “Ini kan rumahmu?”

“Berubah wujud dulu… aku mau memperlihatkan sesuatu..” perintah Yuya cepat.

Perlahan Din mengembalikan tubuhnya ke wujud kucing, setelah itu dengan hati – hati Yuya memasukkan Din ke dalam tasnya.

“Jangan berisik…” bisik Yuya sesaat sebelum masuk ke rumah.

“Tadaimaa!!!”

“Okaeri!! Malam sekali kau pulang…” protes Ibunya dari arah dapur.

“Gomen Kaa-chan… ini obat Otou-san..” kata Yuya lalu menyerahkan sebuah plastic pada Ibunya.

“Arigatou na… kita sudah makan malam. Kau juga makan ya..”

Yuya mengangguk, “Wakatta Kaa-chan..”

Yuya lalu menuju ke lantai dua. Ia mencoba sepelan mungkin agar tak terdengar siapapun. Ia tiba di depan kamar adik semata wayangnya, Saifu.

“Sudah kubilang jangan berantakan kalau makan… nanti ketahuan Ibu…” keluh Saifu lalu membereskan sisa bungkus Pocky yang berserakan di kamarnya.

“Habis makanan ini enak…” ucap Daiki sambil masih terus mengunyah pocky yang dibeli lagi oleh Saifu.

Saifu tersenyum geli melihat Daiki sejak tadi siang terus mengunyah makanan kecil itu.

“Saifu…” sebuah suara terdengar dari luar.

“Aaa.. Nii-chan!! Daiki…. ayo berubah…ayo…” bisik Saifu sedikit panik.

Daiki melemparkan bungkus Pocky itu lalu segera berubah menjadi anjing dan bersembunyi di balik tirai kamar.

Saifu membuka pintu kamar dengan sikap protektif, “Ada apa Nii-chan?” tanya Saifu masih dengan wajah sedikit panik.

“Kau menyembunyikan sesuatu ya?” tanya Yuya.

Saifu menggeleng cepat, “Apa sih maksud Nii-chan??! Tidak… aku tak menyembunyikan apapun…” elak Saifu.

“Jangan bohong padaku…” Yuya mendorong pintu kamar sementara Saifu mati – matian menolak kakaknya masuk.

Pertandingan memperebutkan pintu itu tentu saja dimenangkan oleh Yuya. Terlebih karena tenaga Yuya lebih besar dari tenaga Saifu.

“Nii-chan!! Keluaaarr!!” seru Saifu kesal.

“Sssshhhtt… lihat ini..” Yuya mengeluarkan Din dari tasnya.

“Eeeh??” Saifu kaget melihat seekor kucing jingga yang kakinya terbalut sebuah perban.

Tiba – tiba Daiki keluar dari tirai dan sudah berbentuk manusia.

“Dinchaaann!!”

Din segera berubah juga, “Dai-chaaann!!”

“Eeeehh??” Yuya malah bingung melihat Din dan Daiki yang saling berpelukan seakan mereka teman lama.

“Ini partnerku Yuya-chan…”

“Daiki desu..” kata Daiki sambil mengulurkan tangannya pada Yuya.

Yuya menyambutnya dengan masih setengah percaya.

“Jadi… kau diambil kakakku?” tanya Saifu kaget.

Din mengangguk dengan semangat, “Iyaaaa!!”

“Kakakmu?” Daiki heran.

“Iya… dia kakakku…”

“Jadi?” Din memiringkan mukanya, “Kita tinggal serumah?” tanyanya lagi.

“YATTA!!YATTA!!” teriak Din dan Daiki bersamaan.

Yuya menarik Saifu menjauh dari euforia perayaan aneh antar peri itu.

“Kau menemukannya dimana?” bisik Yuya.

“Saat pulang sekolah… dia berbentuk anjing kecil…” jawab Saifu ikut berbisik.

“Sou ne… ternyata mereka diturunkan dengan bentuk binatang…”

“Kumohon Nii-chan.. jangan bilang pada Ibu…” keluh Saifu.

“Baka… mana mungkin aku bilang? Aku juga memelihara kucing di kamarku… pokoknya ini rahasia kita berdua… mengerti?” putus Yuya masih berbisik – bisik.

“Wakatta Nii-chan…” jawab Saifu.

============

“Hmmm….” Saifu mengernyitkan matanya, apa-apaan itu? Wajah manis yang tengah tertidur lelap disampingnya?

Ini sudah pagi, tapi berhubung sekarang hari sabtu, ia malas – malasan bangun pagi.

“Ahaha..pasti mimpi,” gumam Saifu lalu kembali melanjutkan tidrunya, ketika tangan si pemuda manis memeluk pinggangnya seolah – olah dia adalah guling, Saifu sadar sepenuhnya.

“HYAAAA!!!!” Saifu menendang Daiki yang tertidur disebelahnya hingga terjatuh ke lantai.

“Apa-apaan sih??” protes Daiki yang nampak kesakitan karena tiba-tiba ditendang oleh Saifu.

Wajah Saifu berubah merah, “Kau!! Kenapa tidur di kasurku!??” tanya Saifu.

“Aku tak suka tidur dilantai, lagipula hewan peliharaan memang suka tidur satu kasur dengan pemiliknya kan?” kata Daiki enteng.

‘kalau kau bentuk anjing sih tak masalah,tapi kau bentuk manusia..’ umpat Saifu dalam hati.

“Oh iya.. apa tidak apa-apa saat jalan denganku aku pakai baju peri ku?” tanya Daiki sambil duduk dilantai, menatap Saifu yang tengah duduk dikasurnya.

“Hmm..iya ya?” Saifu beranjak dari kasurnya, “karena sekarang hari sabtu, aku libur sekolah..ayo kita beli baju..” ajak Saifu.

Daiki tersenyum, “Ikou..”,

“Aku mandi dulu..” kata Saifu lalu mengambil baju di lemari pakaiannya,

“Lalu aku? Apa mandi juga?” tanya Daiki. Kilatan nakal tergurat di mata Daiki.

Sukses membuat Saifu melemparkan sebuah bantal pada Daiki.

Wajah Saifu berubah memerah ,namun menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya itu, “ti..tidak usah..” kata Saifu gugup lalu meninggalkan Daiki yang kebingungan di kamar.

“Dia kenapa sih?” Daiki bingung, “ahhh…” Daiki seakan teringat tentang dia yang waktu itu mandi bersama dengan Saifu walau waktu itu dia dalam bentuk anjing.

“Hahhaa..cewek aneh..” gumamnya lagi.

“Apa ini?” tanya Daiki heran karena Saifu memberinya sebuah kaos dan celana ¾.

“Pakai itu, itu punya Nii-chan.. kau bisa dikira sedang cosplay kalau kau masih berpakaian seperti itu..” kata Saifu sambil tersenyum.

‘Tak usah tersenyum, kau jadi terlihat manis asal kau tahu’, rutuk Daiki, “Ah..baiklah,” kata Daiki lalu membuka bajunya,

“WAAA!!”  Saifu berteriak karena Daiki membuka bajunya,

“Kenapa sih??” Daiki semakin bingung.

“A… aku keluar dulu” kata Saifu lalu buru-buru keluar dari kamar.

‘dasar, kukira apa..’, gumam Daiki dalam hati lalu mengganti bajunya.

=========

Sinar matahari pagi masuk lewat sela jendela kamar Yuya. Ia merasa sedikit sulit bergerak.

“Ugh…” keluh Yuya.

Padahal seingatnya ia tak ber olahraga atau apapun yang membuat dirinya sakit di badannya.

Yuya membuka matanya lagi, dan ia mendapati Din memeluknya.

“Gyaaa!!” Yuya mendorong tubuh Din hingga terjatuh ke bawah.

“Aduuhh..” Din sepenuhnya bangun dari tidurnya.

“Jangan peluk orang sembarangan…” Yuya mendumel sendiri, ia bangkit dan mengambil ponselnya.

E-mail dari Yabu sudah masuk mengatakan mereka harus kumpul di Universitas tempat mereka akan tampil.

“Aku mau pergi…kau disini saja ya…” kata Yuya lalu membuka lemari mengambil pakaiannya.

“Mou…gak mau… aku mau ikut…” keluh Din.

Yuya berhenti lalu melihat ke arah Din, “Baiklah… tapi jangan membuntuti aku… sudahlah.. aku siap – siap dulu..” kata Yuya lalu keluar dari kamar.

Ia tahu Din pasti akan mengikutinya juga kalau tidak diperbolehkan untuk ikut pergi.

Din mengikuti langkah Yuya dengan berwujud kucing. Alasan Din ingin ikut karena tentu saja ia akan bosan jika terus berada di kamar itu. Ia tak pernah suka diam di satu tempat terlalu lama.

Piip…Piip..

Sebuah sinyal dari Daiki membuat Din tersadar dari lamunannya.

“Iya Dai-chan??”

“Kau dimana? Kenapa aku tak bisa menemukanmu di kamar?” tanya Daiki di seberang sana.

“Yuya-chan membawaku keluar…kenapa?”

“Tidak apa – apa.. ya sudah… nanti kita bertemu malam saja..” kata Daiki lagi.

“Ok desu..”

Sambungan terputus, ketika itulah Yuya menggendong Din turun dari bus yang mereka tumpangi.

Suasana di sekitar panggung ternyata sudah ramai sekali. Banyak stand tempat makanan dan segala pernak – pernik di jual. Ada juga orang – orang lalu lalang. Membuat Din sedikit sulit bergerak di tempat itu.

Yuya berbelok ke dalam gedung dan hendak masuk ke sebuah ruangan dengan tulisan ‘BAND’. Ketika ia menyadari Din ada di belakangnya.

“Kau…hmmm..ikut aku..” Yuya membawa Din ke sebuah lorong dekat ruangan, “Kau tunggu disini…jangan kemana – mana..”

Din mengeong yang Yuya artikan sebagai tanda setuju Din.

“Gomen..aku sedikit terlambat..” kata Yuya ketika baru amsuk dan bertemu ke empat temannya.

“Mana pacarmu? Kok gak dibawa?” tanya Hikaru cepat.

Yuya memukul kepala Hikaru dengan tangan kosong, “Pacar siapa?”

“Itu..cewek manis yang kemarin menunggumu di depan studio..” kata Hikaru lagi, masih mengusap – usap kepalanya yang terasa sakit karena dipukul Yuya.

“Dia…” otaknya berfikir keras, “Sepupuku…”

“Kau punya sepupu cewek?” tanya Inoo.

“Iya… dia baru datang dari luar negeri…iya…” Yuya sedikit gelagapan menjawabnya.

“Pantas saja.. bajunya a la Yunani gitu ya..” timpal Hikaru.

“Maa…dia punya selera fashion yang agak aneh…” jelas Yuya cepat.

“Ohayou…senpai-tachi!!”

Semuanya menoleh. Yuya sedikit kaget melihat siapa yang datang.

“Aiko-chaann!! Sankyu sudah datang…” Hikaru menyambut Aiko.

“Eh?” Yuya mendelik kea rah Hikaru.

“Aku sengaja mengundang Aiko-chan… ku pikir kita butuh dia untuk sekedar menjadi manajer sementara kan?” kata Hikaru sambil merangkul Aiko.

“Kau gak bilang padaku…” protes Yabu.

“Gomen Kou-chan… hehehe…” Hikaru nyengir dan memberi sinyal pada Yuya.

Sementara itu Din yang sudah berwujud manusia, melihat Aiko berjalan masuk ke ruangan itu. Ia jadi penasaran dan segera mengikuti Aiko.

“Wah.. wajah master kalau melihat cewek itu pasti berubah sedikit tegang…” gumam Din sambil melihat ke sekeliling ruangan yang penuh sesak oleh orang – orang.

Tanpa ia sadari, ia melangkah masuk mengikuti Aiko.

“Ah! Itu kan…cewek kemaren!!” seru Hikaru heboh sambil menunjuk ke arah Din.

Yuya menatap Din, ia panik kenapa Din bisa masuk ke tempat itu, padahal ia sudah melarangnya.

“Ini…” Yuya menghampiri Din, “Sepupuku… namanya…” Yuya mengedarkan pandangan, “Takaki Din…iya… dari pihak ayahku…” seru Yuya lagi.

“Hai Dinchan…Hikaru desu..”

Semua anggota band mengenalkan diri pada Din. Ia hanya bisa tersenyum canggung diiringi tatapan marah dari Yuya.

“Matsuda Aiko desu…” kini Aiko yang menghampiri Din.

“Kawaaii..” ucap Din sambil tersenyum.

Ia tersenyum karena akhirnya ia juga bisa berjuang seperti Daiki. Ia akan menyatukan Yuya dan Aiko. Bagaimanapun juga, itu satu – satunya cara agar ia bisa kembali ke dunia peri.

==========

“Kau ingin baju seperti apa?” tanya Saifu saat mereka sudah berada di toko baju.

Daiki nampak berfikir, “Apa saja, yang menurutmu bagus untukku..” kata Daiki, Saifu mengangguk.

Demi apapun Daiki hanya tahu satu model baju yang tak perlu ia ganti sepanjang hidupnya. Sehingga tentu saja ia tak tahu baju apa yang bagus untuknya? Membeli baju saja tidak pernah.

“Baiklah..” Saifu memilih – milih baju untuk Daiki, sedangkan Daiki melihat lihat toko itu, menunggu Saifu memilihkan baju untuknya.

‘chotto..’  Daiki menyipitkan matannya melihat sosok yang sepertinya dia kenal sedang berjalan dengan seorang gadis di luar toko, ‘Ryutaro kan? Lalu gadis itu??’ Daiki berfikir ini buruk, nampaknya itu pacar Ryutaro, karena mereka bergandengan tangan dan nampak bercanda dengan mesra.

‘gawat..’ gumam Daiki dalam hati.

“Daiki ini bagaimana?” Saifu memanggil Daiki namun laki – laki itu sama sekali tak menoleh, “apa yang kau lihat?” tanya Saifu mengikuti pandangan Daiki.

“Eh?ah..waaa…!! Tidak tidak,kau sudah pilih baju untukku?” tanya Daiki berusaha menutupi apa yang dia lihat dengan tubuhnya.

Saifu menatap Daiki dengan heran, “Kau lihat apa sih?” tanya gadis itu sambil berusaha melihat apa yang disembunyikan Daiki.

Daiki mendorong tubuh Saifu, “Tidak ada..nah ini baju untukku?” Daiki mengambil alih baju yang dipegang Saifu.

“Iya..bagus tidak?coba dulu ya..” kata Saifu,

Daiki mengangguk lalu mencoba baju yang direkomendasikan Saifu, lalu membayar dikasir dan tentu saja Saifu yang membayar semuanya.

“Din..? Din..ini gawat..” Daiki berusaha memanggil Din lewat telepatinya, namun tak ada jawaban dari partnernya itu.

“Dinchaaannn!!” Daiki memanggil lagi.

Namun tiba – tiba sambungan itu diputus secara sepihak oleh Din.

“Huh…kau kemana sih? Ini penting…” gumam Daiki kesal.

Daiki menatap Saifu yang tengah memilih milih topi untuk Daiki, lalu berdecak kesal.

‘Bagaimana ini?’ keluh Daiki dalam hati.

“Kita belanja banyak ya..” Saifu menaruh kantung-kantung belanjaannya, lalu membuka tasnya, mengeluarkan Daiki dalam bentuk anjing. Tak mungkin kan dia masuk rumah bersama Daiki dalam bentuk manusia?apalagi masuk ke kamar. Dia bisa dimarahi Orang tuanya.

=========

“Sebentar lagi penampilan Band nya Takaki-senpai ya…” kata Aiko pada Din.

“Hoo… kenapa hanya Yuya-chan yang kau tanyakan?”

Wajah Aiko serentak berubah menjadi merah, “Hmm.. tidak apa – apa…” katanya lalu menunduk.

Din terkekeh, “Apa Matsuda-chan menyukai Yuya?” selidik Din penuh harap.

“Dinchan dan Takaki-senpai dekat ya?” Aiko tiba – tiba mengubah arah pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan Din.

“Bisa dibilang begitu…” jawab Din ringan.

“Sou ka na… Takaki-senpai itu sulit di dekati ya…” gumam Aiko pelan, namun Din bisa mendengarnya.

“Matsuda-chan…”

“Panggil Aiko saja…kita seumuran kan?” sela Aiko tiba – tiba.

Din mengerenyitkan dahi. Ia tak pernah tahu umurnya. Sepertinya peri tidak bertambah tua dengan cepat. Itu pikir Din.

“Iya kan?” tanya Aiko lagi.

Din akhirnya mengangguk, “Un…iya…”

“Dinchan kuliah? Atau kerja?” tanya Aiko lagi.

Gadis yang ditanyai hanya menelan ludah, tak tahu apa yang harus ia jawab.

“Tadi, Takaki-senpai bilang kau baru datang dari luar negeri…” jelas Aiko.

“Ah! Aku sedang liburan..iya!! liburan…” jawab Din cepat.

“Souka…” Aiko tersenyum, lesung pipi nya terlihat.

‘Pantas saja Yuya-chan menyukainya… Ia sangat manis dan baik..’ kata Din dalam hati.

“Aiko-chan…” panggil Din hingga Aiko menoleh padanya, “Kalau menyukai Yuya-chan…katakan saja padanya…” tembak Din langsung.

Pipi Aiko memerah, “Hmmm.. bukan begitu…” elaknya sambil menunduk malu.

“Tapi…cinta itu tak akan bisa diraih jika Aiko-chan hanya diam saja..” kini Din mulai meluncurkan serangan kata – katanya pada Aiko.

Aiko tak menjawab, hanya menunduk saja.

‘Aduh… kedua orang ini payah sekali…’ keluh Din dalam hati.

“Nah! Itu Yuya-chan!!” seru Din ketika melihat Yuya dan teman – teman se Band nya keluar dari ruangan.

Aiko tersentak dan serta – merta berdiri dengan seidkit kaget.

Din berlari ke arah mereka. Sebentar lagi memang mereka harus stand by sebelum manggung.

“Aku check ke panitia dulu…” kata Yabu, di susul Inoo dibelakangnya.

“Yuto-chan!! Hikaru-chaaann!!” Din menarik – narik kedua laki – laki itu menjauh dari Yuya dan Aiko.

Yuya merasa aneh, namun ketika dilihatnya Aiko berada di hadapannya, ia sedikit salah tingkah dan melirik ke Aiko yang juga sejak tadi hanya menunduk.

“Ahh!!” angin menyapu rambut Aiko hingga rambut panjang itu sedikit berantakan.

Dengan canggung Aiko membenarkan rambutnya.

Tiba – tiba saja Aiko merasa kepalanya dipasangi sebuah topi, “Angin sedang kencang…” kata Yuya acuh.

“Un! arigatou senpai…” kini Aiko memberanikan diri untuk menatap Yuya.

Ternyata Yuya juga sedang menatapnya, lalu sedetik kemudian Yuya membuang pandangannya. Merasa sedikit gugup sekarang.

“Anou… senpai… setelah manggung… hmmm..” Aiko mengepalkan jeamri tangannya, mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya, “Makan es-krim yuk…” ajak Aiko akhirnya.

Yuya merasa jantungnya berdebar sangat kencang, “Hmmm.. boleh saja…” jawabnya pelan.

Aiko tersenyum dan tepat setelah itu Yabu dan Inoo datang untuk memberi tahu saatnya mereka manggung.

==========

“Ah…badanku kaku “ keluh Daiki .

Saifu terkekeh pelan

“Aku lapar Fu-chan..” kata Daiki, dan lagi – lagi membuat Saifu merasa aneh karena Daiki memanggilnya dengan sebutan itu.

“Hmm…tadi kita beli makanan kan..” Saifu mengambil kantung berlabel nama sebuah minimarket, “kore.. ini namanya onigiri, enak loh..” kata Saifu lalu memberikannya satu utuk Daiki, ia pun mengambil satu lagi untuknya sendiri.

Daiki membuka bungkus onigiri itu,lalu memakannya, “hmm..enak..”

Saifu yang juga sedang mengunyah tersenyum, membuat Daiki merutuk lagi dalam hati, ‘kubilang jangan tersenyum, dasar manusia wajah manis’

“Ah..ya.. aku tak yakin akan memakai aksesoris yang tadi kau sarankan untuk aku beli,” Saifu mengambil kantung berisi jepitan, bando dan sirkam lalu mengeluarkan isinya.

“Pakai saja..” Daiki mengambil bando yang tergeletak didepan Saifu, “Kau pasti terlihat manis” Daiki memakaikan bando itu dikepala Saifu.

“Kau manis sekali …” puji Daiki.

Saifu tersenyum, “Arigatou..”

Daiki mengangguk, “Nah kau harus percaya diri.. kau harus katakan kau suka padanya!”

“Kalau itu..aku..” Saifu terlihat ragu.

“Ayolah Fu-chan..” bujuk Daiki, “yakinlah pada dirimu sendiri..” kata Daiki lagi sambil menatap Saifu, Saifu seolah diberi kekuatan dengan tatap Daiki,menganggguk.

“un..” akhirnya Saifu mengangguk. Merasa mendapat kekuatan dari tatapan Daiki.

===========

Festival Band sudah selesai. Aiko menunggu Yuya di depan ruangan, tak lama Yuya keluar sudah berganti kostum dengan kaos biasa.

“Ayo..” ajak Yuya sedikit canggung.

Aiko mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Yuya. Sementara Din berubah menjadi kucing dan mengikuti pasangan itu.

“Tempat es krim nya dimana ya?” tanya Yuya pada Aiko.

“Itu.. disana senpai!!” Aiko secara refleks menarik lengan Yuya, “Eh! Gomen..” Aiko merasa tak enak karena tiba – tiba berbuat seperti itu.

Yuya tak menjawab, “Souka… ayo kesana…”

Sisa perjalanan ke tempat jual es krim terasa lebih lama bagi mereka berdua. Keduanya sibuk dengan fikiran mereka masing – masing. Yuya berjalan lebih cepat, ketika ia baru menyadari Aiko sudah tidak ada di belakangnya.

Lalu lalang manusia yang padat di stand – stand makanan membuatnya sulit mencari Aiko. Yuya bergegas kembali ke belakang, berusaha mencari sosok Aiko.

“Aiko!!” Ia melihat Aiko juga sedang mencari – cari.

Aiko tersenyum, “Maaf… tadi aku lihat – lihat… saat menoleh senpai sudah tidak ada…” kata gadis itu manis.

Yuya menarik lengan Aiko, menggenggam tangan gadis itu erat, “Nanti kau hilang lagi… ayo…”

Aiko tersenyum mengikuti langkah Yuya.

“Yes! Yesss!!” seru Din senang.

============

Saifu mengepalkan tangannya, dia sungguh gugup,namun berusaha menghilangkan kegugupannya, dia berjalan menghampiri Ryutaro yang tengah duduk dibangkunya.

“Anou..”

Ryutaro menengadah menatap Saifu, “Ya? Ada apa Fu-chan?”

“Anou..” Saifu mengatur nafasnya agar sedikit lebih tenang.

“Kaing..” Daiki berkata pelan, yang sebenarnya berarti “cepat..”

“Pulang sekolah nanti..ada yang ingin kubicarakan..” kata Saifu gugup.

Ryutaro tersenyum, “baiklah…” jawabnya ringan.

Saifu langsung duduk dibangkunya dengan perasaan yang sangat gugup, jantungnya berdebar lebih keras dua kali lipat dari biasanya. Sedangkan Daiki sedikit waswas, ia merasa akan gagal pada misi kali ini.

“Jangan gugup..” kata Daiki menenangkan Saifu yang kini sangat gugup,

Sekarang sudah jam pulang sekolah dan tadi Saifu menyuruh Ryu menunggu di atap sekolah.

“Hwaa..aku gugup sekali..” wajah Saifu memerah seperti tomat.

“Tarik nafas..hembuskan..” perintah Daiki dan Saifu menuruti saja perkataan Daiki itu.

“Lebih tenang, kan?” tanya Daiki.

Saifu mengangguk.

“Ah..dia datang..” kata Daiki lalu mengubah wujudnya lagi menjadi anjing.

“Fu-chan maaf lama..” kata Ryutaro, Saifu mengangguk gugup.

Ryutaro duduk di sebelah Saifu.

“Da..daijobu..” Saifu kembali menarik nafasnya agar membuat dirinya sedikit tenang.

“Oh ya..ingin bicara apa?” tanya Ryutaro, lalu ia menoleh pada Daiki, “Hai Dai-chan..” sapanya ke Daiki yang duduk disamping kaki Saifu.

Daiki menyalak pelan.

“Anou..”

Ryutaro menoleh kembali pada Saifu, “Ya? Ada apa Fu-chan?”

“Suki…” kata Saifu pelan.

“Eh?nani?” walau pelan sebenarnya Ryutaro dapat mendengarnya, namun dia merasa aneh dengan sikap Saifu.

“Suki desu… Aku menyukaimu…” Saifu menunduk, wajahnya memerah dan ia hampir – hampir menangis karena terlalu gugup.

“Fu-chan..tapi..” Ryutaro berkata lirih.

Crekk..

Pintu atap dibuka sesosok gadis masuk dan menghampiri Ryutaro, gadis yang dilihat Daiki waktu itu.

‘ah..jangan bilang..’ Daiki mengeluh dalam hati.

“Ryu..kenapa ada disini..dia siapa?” tanya gadis itu.

Ryutaro serba salah, Saifu mendongak melihat gadis itu. Saifu yakin, jika ia bisa memutar waktu, ia ingin semua yang telah ia katakan di hapus saja. Karena gadis itu menggenggam tangan Ryutaro dengan sikap sangat protektif.

Kini air matanya benar – benar mengalir.

===========

TBC yaaa~

Maap lama update nya… mengalami stuck setelah lebaran…
COMMENTS ARE LOVE!!! ^^



Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s