[Multichapter] Happiness (Chapter 10)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Ten
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 10 ~


“Dinchan? Kau dimana?” suara itu terdengar di telinganya ketika ia baru saja bangun.

Din menggeliat dan menatap jam dinding di kamar, baru saja pukul delapan pagi.

“Jun… berhenti menggangguku sepagi ini..” keluhnya masih setengah tersadar.

Ia merasakan tangan Aiba masih berada di pinggulnya, memeluknya erat dari belakang tubuhnya.

“Hari ini kita ada syuting… ada pemotretan!!” serunya heboh.

“Stop! Baiklah… tapi itu masih dua jam lagi..” Din heran Jun akhir – akhir ini bersikap lebih manja kepada dirinya.

“Baiklah… jemput aku sejam lagi..” perintah Jun tiba – tiba.

Waktunya dengan Jun tinggal tiga minggu lagi, tapi ia belum bisa mengutarakan apa yang ingin ia katakan pada Jun. Bahwa ia harus pergi dari Jun. Meninggalkan Jun dan pekerjaan ini. Dulu, pekerjaan ini lebih mudah ia jalani. Ia tak punya perasaan apapun pada Jun, dan Din pikir Jun juga begitu padanya. Semuanya jadi lebih rumit sekarang.

“Baby-chan..” panggil Aiba dari belakang tubuhnya.

Din tersenyum. Ia sudah memutuskan bahwa Aiba memang yang terbaik untuknya, ia tak perlu banyak perfikir lagi. Ia tak mau menyia – nyiakan hubungannya dengan Aiba. Ia tak mau jadi pembohong juga, maka malam ini ia memutuskan akan mengatakan semuanya pada Aiba.

“Bangun Masaki-kun… kau harus kerja kan?” bisik Din.

Wajah Aiba mendekat ke telinganya, mencium pelan daun telinga Din dengan mesra.

“Aku gak mau kerja… boleh gak?”

Din melepaskan diri dari Aiba, “Sudah cepat siap – siap..” seru Din sambil menarik selimut yang mereka pakai berdua.

Aiba bangun dan sepenuhnya sadar. Ia ingat rencana yang ingin ia lakukan pagi ini. Setelah semalam mereka berbicara banyak hal, dan membuat dirinya yakin akan keputusannya.

“Dinchan…ambilkan barangku di lemari dong..” ucap Aiba pada Din sambil duduk menghadap Din.

“Hah? Ambil apa?”

“Itu.. di lemari bajuku.. aku malas bergerak..” keluh Aiba kembali berbaring di kasur.

Din mengerenyitkan dahi tak mengerti, namun akhirnya beranjak ke ruangan lemari tempat baju mereka berada.

“Sebelah mana?” teriak Din dari dalam ruangan.

“Rak ketiga dari atas, sebelah kanan..” seru Aiba lagi.

Din mencari – cari ditumpukan dasi yang berjejer rapi walaupun jarang sekali Aiba pakai. Ia menemukan sebuah kotak aneh yang sama sekali tak matching dengan semua dasi yang ada di situ.

“Masaki-kun?” Din kaget karena ternyata Aiba sudah berada di belakangnya, memeluknya erat.

Aiba mengambil kotak itu, membukanya perlahan di hadapan Din. Wajahnya menempel pada wajah Din dari belakang.

Sebuah cincin bertahtakan berlian.

“Maukah kau menghabiskan seluruh hidupmu denganku? Ikuta Din?” bisiknya tepat di telinga Din.

“Masaki-kun…” ucap Din lirih tak percaya kalau Aiba melamarnya.

“Will you?” tanya Aiba lagi.

“I do…” jawab Din pelan, Aiba meraih tangan kiri Din, menyematkan cincin itu di jari manis kekasihnya.

“Kau akan jadi Mrs. Aiba sebentar lagi…” pelukan Aiba mengendor, lalu membalik tubuh Din dan mengecup bibir gadis itu lama.

Air mata Din tiba – tiba saja jatuh.

“Kenapa?” tanya Aiba heran.

“Aku sangat bahagia…” jawab Din menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Aiba. Ia tahu ini keputusan tepat, setidaknya itulah yang ia rasakan sekarang.

==========

“An-chan!!!!!” seru Opi takjub saat ia sudah ada di depan sebuah gedung pertunjukkan besar. Terlihat banyak orang yang berbondong-bondong memasuki pintu utama gedung.

“Nani? Kenapa memanggilku seperti itu?” protes Kazunari tapi ia tidak bisa mencegah bibirnya untuk tersenyum saat melihat wajah senang Opi.

“An-chan yakin kita akan menonton butai Matsumoto-san? Aku dengar tiketnya langsung habis hanya dalam waktu 30 menit.” Opi masih tidak dapat percaya. Ia salah satu penggemar berat Jun Matsumoto. Ia sangat kecewa saat mengetahui ia kehabisan tiket. Padahal ia sangat ingin menonton pertunjukkan itu. Terlebih yang bermain adalah aktor kesukaannya.

“Itu lah gunanya mempunyai teman yang terkenal,” ucap Kazunari bangga.

Kazunari dan Jun memang saling mengenal. Opi tidak percaya dengan hubungan mereka saat mengetahui kalau kakaknya mengenal baik idolanya. Walaupun kadang Jun menghabiskan waktu bersama Kazunari di rumahnya, tapi ia masih belum terbiasa dengan hal itu.

Opi menoleh pada Kazunari dan tersenyum. “Wakatta…kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita masuk!” Tanpa ragu Opi menarik tangan Kazunari.

Kazunari tahu apa yang sangat disukai adiknya. Saat Opi mengajaknya untuk bersenang-senang, ia tiba-tiba teringat dengan butai ini dan tanpa berpikir lagi membeli tiketnya langsung. Kazunari tahu tujuan mereka untuk menyenangkan hatinya. Tapi selama Opi senang, ia tidak membutuhkan apapun lagi.

Saat akan mencari tempat duduk mereka, Kazunari berkata pelan pada Opi, “Aku akan menyapa Jun. Kau ikut?”

Opi mengangkat sebelah alisnya dan bergerutu. “Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku ikut.”

Kazunari tersenyum lalu mengajak Opi ke arah belakang panggung.

Kazunari mengetuk sebuah pintu saat mereka sudah berada di depan suatu ruangan. Saat pintu dibuka, muncul seorang gadis dari balik pintu itu.

“Din-san?” seru Opi kaget begitu melihat orang yang ia kenal.

“Opi-san? Sedang apa di sini?” Din ikut bertanya.

“Dia bersamaku,” sela Kazunari pada Din.

“Ah~ Ninomiya-kun. Konichiwa,” sapa Din lalu menoleh pada Jun yang sedang bersiap-siap. “Jun, Ninomiya-san datang.”

“Masuk saja.” Kazunari dan Opi hanya dapat mendengar suara Jun tanpa melihat sosok laki-laki itu.

“Ah~ sumimasen. Dia sedang memakai kostumnya. Douzo.” Din mempersilahkan Kazunari dan Opi masuk.

Suasana yang berbeda langsung terasa saat mereka memasuki ruangan itu. Ada beberapa orang yang mengurusi segala keperluan Jun dimulai dari kostum hingga make up. Termasuk Din yang sejak tadi mengurusi Jun yang meminta ini itu.

“An-chan, sepertinya Matsumoto-san sedang sibuk,” bisik Opi.

Kazunari hendak membalas perkataan Opi lalu tiba-tiba Jun menghampiri mereka dengan kostum dan make up lengkap. Opi sempat terpana melihat laki-laki itu yang berubah sekejap.

“Kazunari, arigatou sudah datang,” ucap Jun sambil menepuk bahu Kazunari pelan.

“Jangan salah sangka. Kalau bukan karena dia yang ingin menonton, aku tidak akan datang,” jawab Kazunari ketus sambil menunjuk ke arah Opi.

Alih-alih marah, Jun hanya tertawa karena ia tahu Kazunari hanya bercanda. “Kalau begitu setiap aku ada pertunjukkan, aku akan mengirim tiket ke rumahmu agar kau datang.”

Mau tidak mau Kazunari ikut tertawa. “Kalau kau melakukan itu terus, nanti banyak penggemarmu yang cemburu.”

“Bagaimana pun aku ingin berterima kasih juga pada Opi-chan karena sudah mau datang dan juga karena sudah membawa Kazunari kemari,” lanjut Jun pada Opi. “Dia sangat susah untuk kuundang kemari.”

Opi tertawa. “Karena aku mengagumi Matsumoto-san, tentu saja aku tidak boleh melewatkan ini,” sahut Opi.

“Ah~” seru Jun sambil menarik tangan Opi ke genggamannya. “Kawaii. Kau terlihat manis saat mengucapkan itu.”

Kazunari menatap Jun dengan risih lalu mendorong bahu Jun pelan sehingga tangan Opi terlepas dari genggaman Jun. “Jangan menggoda adikku,” protes Kazunari geram.

Jun dan Opi tertawa bersama melihat sikap Kazunari.

“Ayo Jun. Sudah saatnya,” seru Din memotong pertemuan ‘teman lama’ mereka.

“Kalau begitu aku dan Opi kembali ke kursi penonton,” ucap Kazunari lalu menarik tangan Opi untuk keluar. Sebelum keluar ruangan Opi menunduk sedikit ke arah Jun dan Din lalu mengikuti kakaknya menuju kursi penonton.

“Sudah kuduga Matsumoto-san sangat pantas memerankan peran itu,” ucap Opi senang saat mereka baru saja keluar dari aula tempat pertunjukkan yang selesai beberapa menit yang lalu.

“Kau sudah mengucapkannya beberapa kali. Sampai bosan aku mendengarnya,” sahut Kazunari sambil menggerutu.

Opi mengerucutkan bibirnya. “Memang begitu kok. Matsumoto-san kakkoi~,” serunya.

“Lalu apa Jun se-kakkoi Sho?” tanya Kazunari tiba-tiba.

Opi diam. Tentu saja Sho, balasnya dalam hati. Tapi ia tidak tahu harus menjawab apa di ‘kencan’ mereka. Menjawab sejujurnya atau lebih baik diam?

“Ini mantelmu.” Kazunari menyerahkan mantelnya yang baru saja diserahkan oleh petugas penitipan barang.

Opi mengambil mantelnya dari tangan Kazunari masih sambil berpikir. Apa ia tetap harus menjawab pertanyaan Kazunari atau ini adalah cara pengalihan pembicaraan?

“An-chan,” panggil Opi.

“Hmm?”

“Arigatou. Sudah mengajakku kemari. Aku sangat puas dan senang. Tapi aku merasa tidak enak. Seharusnya An-chan yang bersenang-senang. Bukan aku,” ucap Opi menyesal.

Kazunari tersenyum lalu menyentuh sebelah pipi Opi dengan tangannya. “Selama kau senang, aku juga senang. Jadi tidak masalah kan?”

Opi merasa pipinya memanas karena sikap Kazunari yang tiba-tiba. Tapi jawabannya membuat Opi ikut tersenyum.

“Un~” Opi mengangguk.

“Kalau begitu kita ke perjalanan selanjutnya,” putus Kazunari.

Opi mengerutkan keningnya. “Eh? Kemana?”

Kazunari memegang perutnya. “Tentu saja kita makan. Aku lapar. Ikkou~”.

========

Aiba kembali membuka ponselnya, menatap nama itu lama.

Ia kembali memaksakan dirinya untuk memencet nomor itu, tapi ia tak tahu kenapa selalu saja egoisnya menang, maka ia kembali mengalah pada kemarahan yang ia buat sendiri.

“Baka…” gumamnya pelan.

Nama Sakurai Yui di ponsel itu masih saja belum terhapus. Ia mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Yui, tapi hasilnya nihil, ia tak punya keberanian untuk menghadapi mantan kekasihnya itu.

Kesalahan yang hingga hari ini selalu menghantui dirinya. Kesalahan fatal ketika ia menyuruh kekasihnya itu untuk menggugurkan kandungannya. Saat Yui pergi, ia bahkan tak mampu menahan Yui dan membiarkan dirinya benar – benar lepas dari masalah.

Satu nama yang berada di atas kontak milik Yui, Sakurai Sho, ia juga sebenarnya tak punya keberanian untuk menghadapi Sho. Tapi kini ia sudah berada tepat di depan gedung mansion tempat Sakurai Sho tinggal. Dulunya, adalah sahabatnya. Walaupun Aiba tak yakin Sho masih tinggal disitu, tak ada salahnya ia mencoba.

Kakinya sungguh terasa berat, seakan berkeringat dingin ia mulai merasa AC di ruangan itu terlalu dingin.

Tak lama, lift yang membawanya ke lantai atas gedung mansion itu berhenti, dadanya berdegup kencang. Pertemuan ini pasti membawa setidaknya satu atau dua pukulan dari Sho. Dan ia sudah siap mental akan hal itu.

Aiba meraih bel mansion itu, ia hanya berharap Sho mengampuninya, dan ia ingin sekali bertemu Yui.

“Ojii-chan? Cari siapa?” seorang anak kecil yang berumur lima tahun mendongak menatap wajah Aiba yang tegang.

Aiba kaget dan menoleh ke bawah, “Anou… Sakurai Sho… ada?” tanyanya terbata – bata.

“Papa belum pulang… ia masih di kantor..” serunya lucu.

Aiba berlutut agar wajahnya sejajar dengan anak itu, “Papa? Kau anak Sakurai Sho?” tanyanya bingung.

Anak kecil itu mengangguk semangat, “Un! Sakurai Reina desu!!”

“Reina-chan… paman bisa tahu kapan Papa mu pulang?” tanya Aiba ramah.

Reina membulatkan matanya, “Tidak tahu paman… Papa selalu pulang malam… hari ini saja dia tidak tahu aku sudah pulang, makanya aku mau membuat surprise untuk Papa!!” begitu polosnya Reina membuat Aiba tersenyum.

“Bisa sampaikan kalau teman lamanya mencari Papa?” kata Aiba sambil masih tersenyum.

Reina mengagguk, “Nanti aku sampaikan pada Papa… Oji-chan mau masuk dulu? Obaa-chan membuatkan agar – agar yang sangat enak…”

Deg.

Aiba terdiam sesaat, Obaa-chan? Itu artinya Ibunya Yui ada di dalam. Ia tak yakin bisa menghadapi wanita baik yang selama ia berpacaran dengan Yui selalu begitu perhatian juga dengannya. Setelah kejadian itu, untuk meminta maaf pun ia tak pernah berani.

“Tak usah… paman pulang saja…”

“Nama paman siapa?” tanya Reina ketika Aiba sudah beranjak dari depan pintu.

“Aiba Masaki… namaku Aiba Masaki…”

Reina mengangguk, “Dadah Aiba-jichan!!”

Satu hal yang sejak tadi terus mengganggunya. Kenapa anak Sho begitu mirip Yui? Dengan mata yang identik dengan matanya? Ia berusaha menepiskan kenyataan itu. Ia tak mau berasumsi berlebihan.

========

Sho berdecak saat panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Opi. Sejak pagi tidak ada kabar apapun dari kekasihnya itu. Terakhir kali ia mendapat pesan darinya adalah kemarin malam. Dari pesan yang gadis itu kirimkan, Sho memang tahu kalau Opi akan sangat sibuk hari ini. Itu yang membuatnya menghubungi Opi pagi-pagi sekali tadi. Tapi ternyata tidak mendapat jawaban apapun.

Sho menatap sekeliling ruangan yang sedang ia diami. Ruangan kerja dengan dinding penuh tempelan deadline. Ia melihat kea rah fotonya bersama Reina, dan merasa sangat rindu juga pada gadis kecilnya itu.

“Hah~” desah Sho. “Di saat seperti ini, kenapa kedua gadis itu tidak ada?” keluhnya.

Ia menatap jam yang menempel di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Tiba-tiba ia merasa perutnya sangat kosong dan ia sangat kelaparan sekarang. Hari libur, seharusnya ia libur, tapi ia mendadak mengambil pekerjaan karena merasa sepi di rumah.

Sho kemudian mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja. Siang ini ia sangat malas untuk memasak sehingga memutuskan untuk makan siang di luar. Dan kebetulan sekali pekerjaannya sudah selesai. Ia sangat banyak mempunyai waktu luang. Sangat disayangkan Opi tidak ada di sisinya. Padahal ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk bersama dengan gadis itu.

Sho memilih memasuki sebuah restoran langganannya. Ia bukan tipe pemilih makanan, tapi ia sangat cocok dengan makanan di tempat tersebut. Selain itu banyak sekali menu yang dapat ia pilih.

Saat memasuki restoran itu, Sho berkeliling mencari tempat duduk yang kosong. Siang ini tempat itu terlihat cukup ramai. Ia sedikit kesulitan untuk mencari tempat kosong.

“Anou~ Sho Sakurai-san ?” Di sela-sela kesibukannya, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampirinya. Sho menatap laki-laki itu dengan seksama.

“Daiki?” hanya kata itu saja yang dapat ia ucapkan.

Daiki tersenyum lega. “Ternyata benar. Makan siang di sini juga?” tanyanya.

Sho mengangguk. “Kebetulan sekali bertemu di sini.”

Daiki membalas dengan senyum. Senyuman yang cukup dapat membuat gadis manapun menyukainya. Itu menurut Sho.

“Kalau tidak keberatan, mau bergabung? Kulihat di sini cukup ramai dan tidak ada kursi kosong.”

Sho sangat senang dengan penawaran yang Daiki berikan. Ia menyetujui alasannya. Selain itu ia sedang tidak ingin makan sendirian.

“Arigatou,” ucap Sho lalu duduk di kursi yang tepat di hadapan Daiki. “Kau sendirian?” tanyanya sambil melihat beberapa kertas yang tersebar di meja mereka.

“Sebenarnya aku sedang menunggu orang. Tapi hanya menyerahkan berkas ini saja. Sepertinya dia sedang sibuk sekali sehingga meluangkan waktu sedikit untuk mengambil ini,” jelas Daiki sukses menghilangkan kekhawatiran Sho karena ia tidak tahu Daiki sedang menunggu seseorang.

Sho mengangguk mengerti. Ia lalu mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan.

“Sakurai-san tidak bekerja?” tanya Daiki setelah pelayan itu berlalu untuk mengambil pesanan yang disebutkan oleh Sho.

Sho menggeleng. “Aku baru saja pulang dari kantorku. Jadi sekarang aku nganggur,” Sho lalu tertawa.

“Sou da ne…”

“Tapi aku juga tidak bisa pulang ke rumah, karena putriku sedang tidak ada di rumah sehingga aku hanya sendirian,” jelas Sho.

Daiki mengangguk. Ia tahu kekasih temannya itu memiliki seorang anak perempuan. “Kenapa tidak pergi dengan Opi?” tanya Daiki lagi.

“Dia sedang sibuk. Sejak pagi aku tidak dapat menghubunginya. Aku pikir kau tahu tentang ini.”

Daiki mengangkat bahunya tanda ia juga tidak tahu. Tidak biasanya Opi sibuk seperti ini tanpa dirinya.

Daiki masih memikirkan apa yang Opi lakukan saat tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di atas meja bergetar.

“Moshi-moshi? Hai. Masuk saja. Aku menunggu di dalam.” Lalu Daiki menutup ponselnya dan meletakkan kembali di atas meja. “Sepertinya dia sudah datang,” ucapnya pada Sho.

Sho sedikit tidak menanggapinya karena minuman yang ia pesan sudah datang.

Sesaat terdengar bunyi dentingan bel yang biasa berbunyi jika ada yang masuk ke dalam restoran tersebut.

“Ah~ itu dia,” seru Daiki lalu berdiri melambaikan tangan. Sho tidak melihat siapa yang datang karena ia duduk membelakangi orang tersebut. Sedangkan ia sedang sibuk dengan minumannya.

“Gomen ne Daiki. Aku jadi merepotkanmu,” ucap laki-laki itu penuh penyesalan.

“Daijoubu senpai. Aku sudah memasukkan semuanya.”

“Hai..sankyuu. Ah~ kau sedang bersama temanmu?” terdengar suara laki-laki itu bertanya. Sho merasa orang yang dia maksud adalah dirinya.

Sho bukan orang yang tidak tahu tata krama. Setelah teman Daiki menyadari kehadiran dirinya, Sho memutuskan untuk menyapanya walaupun sekedar basa basi.

Sho yang awalnya ingin menunjukkan wajah ramahnya, tiba-tiba meredup saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Ia tidak pernah berharap hari seperti ini datang. Karena jika ia bertemu, ia bersumpah akan menghajar orang ini hingga tidak dapat bergerak kembali.

“Sho….chan?” Laki-laki itu terlihat sama kagetnya dengan Sho. Tapi dia lebih mampu mengeluarkan suara dibandingkan dirinya.

Sho diam sebentar. Tak berapa lama, senyum sinisnya muncul. “Apa kabar, Masaki?” tanya Sho atau lebih pantas disebut menyindir dari pada bertanya.

“Are? Kalian saling mengenal?” tanya Daiki melihat kedua orang yang dihadapannya ternyata mengenal satu sama lain.

Sho maupun Aiba tidak menjawab pertanyaan Daiki. Mereka kini sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tentang hubungan mereka dan apa yang terjadi di masa lalu.

=======

Kazunari menyenderkan punggungnya di kap mobil. Pandangannya menatap lurus ke arah matahari yang sedang tenggelam. Sejenak ia merasa damai tanpa masalah yang membebaninya akhir-akhir ini.

“Kirei na~.” Opi yang berada di sampingnya berseru kagum. Kazunari mengangguk menyetejui ucapan Opi.

“Lain kali mungkin kita harus mengunjungi Okaa-chan dan Otou-chan di Okinawa. Pantai di sana pasti sangat indah,” lanjut Opi tanpa mengalihkan perhatiannya pada matahari yang perlahan-lahan mulai menghilang di ujung laut.

“Kau benar,” sahut Kazunari singkat.

Sesaat kemudian mereka diam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Opi. Sedangkan Kazunari memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Bertepatan dengan menghilangnya matahari, semua akan kembali seperti semula. ‘Kencan’ mereka akan berakhir.

“An-chan..” panggil Opi.

“Nani?” balas Kazunari. Keduanya masih tidak menoleh.

“Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan An-chan.”

Kazunari mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Opi.

“Aku tidak akan membuat An-chan cemas lagi. Aku akan bersama An-chan. An-chan senang kan?” Opi menoleh pada Kazunari sambil tersenyum.

“Maksudmu?”

“Aku hanya akan memikirkan An-chan. Aku tidak akan memikirkan siapa pun lagi,” jawab Opi datar.

Kazunari diam sejenak lalu berkata, “Apa yang kau katakan?”

“Aku hanya ingin membuat An-chan bahagia. Apa aku salah?” sela Opi saat mendengar Kazunari malah mempertanyakan niatnya.

Kazunari meraih bahu Opi dan menatap wajah adiknya lekat. “Kau sadar apa yang kau katakan?” tanya Kazunari.

“Aku sadar. Aku akan belajar melihat An-chan bukan sebagai kakakku. Bukankah itu yang An-chan inginkan? Bukankah itu yang dapat membuat An-chan senang?”

Plakk….

Tanpa sadar Kazunari menampar pipi Opi.

“BAKA~” teriak Kazunari. “Kau pikir aku akan membiarkanmu seperti itu?”

Opi memegang pipinya yang terasa sakit. “Kenapa An-chan menamparku?”

“Itu untuk menyadarkanmu. Kau pikir aku akan senang? Kalau itu yang kau pikirkan, sangat salah besar. Aku tidak senang mendengarnya,” jawab Kazunari marah.

“Tapi kenapa?”

Kazunari tidak menjawab. Ia menarik tangan Opi sehingga tubuh gadis itu berada didekapannya.

“Kau hanya mencintai Sho. Jangan berbuat bodoh dengan mengatakan ingin bersamaku,” jawab Kazunari keras. “Walaupun kau ingin, tapi perasaanmu tidak akan semudah itu berubah. Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu. Aku tetap akan menjadi kakakmu. Dan kau tetap adikku. Selamanya tidak akan berubah. Aku menyayangimu sebagai adikku.”

Kazunari merasakan Opi mulai terisak. Ia menyesal sudah berkata keras padanya. Tapi ia tidak ada pilihan lain untuk menyadarkan Opi.

“Aku tidak akan kemana-mana. Aku tetap bersamamu,” tambah Kazunari lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Opi yang menangis. “Kau tahu, senyummu saat bersama Sho adalah senyummu yang paling manis. Dan itu yang paling membuatku bahagia.”

“An-chan…” Opi menghambur pada Kazunari dan kembali menangis. Lebih keras dari pada sebelumnya. Kazunari tersenyum kemudian membelai rambut Opi. Ia yakin sudah mengambil keputusan yang tepat. Dengan ini ia berharap semua akan kembali seperti semula karena tidak ada yang membuatnya bahagia selain melihat Opi tertawa dan bercanda seperti dulu.

========

Daiki turun dari busnya. Untuk kesekian kali apartemen kumuh itu ia datangi. Berkali – kali pula ia diusir oleh Saifu.

Gadis yang dulu sangat memperhatikannya, gadis yang kini ia cintai. Menolaknya dengan segala alasan yang bisa ia utarakan. Ia tak menyalahkan Saifu. Toh memang semua ini adalah kesalahannya.

“Kumohon…kali ini harus berhasil…” bisik Daiki pelan.

Langkahnya mantap menuju pintu itu, namun setelah beberapa lama, apartemen itu tak menjawab. Tak ada juga yang keluar untuk mengusirnya.

“Suzuki-san sudah pindah!!” seru seorang bapak yang baru saja keluar dari apartemen di sebelah milik Saifu.

“Hah?” Daiki menoleh kaget, “Pindah?”

“Iya… kemarin sore barang – barangnya di angkut jasa pemindahan… setelah itu Suzuki-san juga menyerahkan kuncinya pada saya..”

“Anda pemilik apartemen ini?” tanya Daiki sopan.

“Iya… kau siapa? Kalau mau mencarinya, cari di tempat lain saja!” serunya sedikit kesal, sepertinya Daiki menganggunya saja.

“Bisa kau beri tahu aku kemana dia pindah?” tanya Daiki.

“Tak tahu..aku tak ikut campur kemana dia mau pindah… cih~ aku jadi harus mencari penyewa baru..” keluhnya bersungut – sungut lalu turun ke lantai bawah.

Daiki merasa tak ada gunanya ia menanyakannya lagi pada pemilik apartemen. Ia berjalan mencoba mencari ide untuk mencari Saifu.

Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menelepon Saifu walaupun ia tahu tak mungkin gadis itu mau mengangkatnya. Maka ia coba cara terakhir, yaitu menghubunginya lewat pesan e-mail.

To : Fu-chan
Subject : (no subject)
Kau dimana?

Daiki menutup ponselnya, masih berjalan tanpa arah. Ia begitu merindukan Saifu, dan untuk pertama kali ini, ia tahu rasanya merindukan seseorang. Dulu dirinya begitu tak berperasaan. Hatinya menolak untuk mengkhawatirkan siapapun hingga kali ini, gadis sederhana yang dulu tinggal di apartemen kumuh itu memporak porandakan pertahanannya. Ia kalah telak.

=======

“An-chan…” teriak Opi saat ia turun melalui tangga. Ia tidak menemukan kakaknya di kamarnya. Ini masih jam 8 pagi. Terlalu awal untuk Kazunari pergi keluar rumah.

“Ohayou..” sapa seseorang dari dapur. Awalnya Opi mengira itu Kazunari, tapi sepertinya suaranya berbeda.

“Sho-kun?” seru Opi kaget melihat kekasihnya sudah ada di rumahnya.

“Ohayou..” sapa Sho lagi. “Aku akan membuat sarapan,” lanjutnya.

Opi masih bingung dengan kehadiran Sho di rumahnya. Sedang apa laki-laki itu sepagi ini?

“Mana An-chan?” tanya Opi langsung.

Sho diam sejenak lalu tersenyum. “Lebih baik kau siap-siap dulu. Ada kuliah pagi kan?”

Opi mengangguk lalu menuruti perintah Sho.

Seperti biasa, sebelum Opi ke kamarnya ia melihat beberapa surat yang baru saja datang. Di antara tumpukan surat itu, ada selembar kertas yang mencurigakan. Opi merasa aneh karena kalau itu surat yang datang, kenapa tidak disertai dengan amplop?

Karena penasaran, Opi membuka kertas yang terlipat itu dan membacanya perlahan.

Opi, maaf An-chan tidak mengatakan ini sebelumnya. Tapi saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada di rumah. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah setelah apa yang terjadi beberapa hari ini. Aku tahu aku seperti laki-laki pengecut yang pergi begitu saja. Tapi aku rasa ini bukan suatu perpisahan. Aku pasti akan kembali ke rumah. Entah itu satu bulan, satu tahun, atau beberapa tahun. Aku belum memutuskannya. Tapi walaupun kau tidak tahu aku dimana, aku tetap bersamamu. Aku sudah menitipkan segalanya pada Sho. Aku percaya dia akan membuatmu bahagia. Dan aku yakin dia akan menjagamu menggantikan aku. Aku selalu menyayangimu.

Kazunari.

Setelah membaca surat itu, mendadak tubuhnya lemas. Dadanya sakit karena menahan kesedihan. Otaknya tidak dapat berpikir. Dan sekelilingnya terasa hening.

“Opi..” gumam Sho setelah mengetahui Opi telah membaca surat itu. Ia berencana memberitahu tentang hal ini saat mereka sarapan. Tapi ia tidak menyangka Opi akan tahu secepat ini.

“Kapan An-chan pergi?” tanya Opi. Gelagatnya terlihat tenang.

“Pukul 6 pagi. Dia sengaja berangkat pagi-pagi sekali. Dia tidak ingin kamu tahu,” jelas Sho pelan sambil mendekati Opi yang masih berdiri dengan surat dari Kazunari di tangannya.

Opi tiba-tiba melempar kertas yang sejak tadi ia pegang lalu berlari menuju pintu.

Sho kaget dengan Opi yang tiba-tiba berlari. Tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sho kemudian menarik tangan gadis itu untuk mencegahnya pergi.

“Kau mau kemana?”

“Tentu saja mengejar An-chan. Lepaskan aku Sho-kun,” Opi tetap mencoba berlari walaupun tangannya tertahan.

“Kau tidak akan bisa mengejarnya. Bisnya sudah berangkat sejak tadi. Aku sendiri yang mengantarnya.” Sho mencoba menjelaskan. Ia berharap Opi cepat mengerti.

“An-chan pasti menungguku. Aku akan menyusulnya,” sahut Opi bersikeras.

Sho lalu menarik tubuh Opi ke dekapannya. Mencoba menenangkannya.

“Kau akan sia-sia pergi ke sana. Kazu sudah pergi. Seperti yang ia katakan di surat itu. Kau harus menerimanya,” ucap Sho menyesal. Dia tidak tega melihat Opi yang seperti ini. Tapi ia sudah berjanji pada Kazunari.

Sho merasa tubuh Opi melemas dan jatuh terduduk membuatnya ikut jatuh. Opi lalu menangis. Menangis sekeras-kerasnya.

“K-kenapa An-chan pergi? D-dia janji..d-dia tidak akan me-meninggalkanku,” ucap Opi di sela-sela tangisannya.

Sho tidak memiliki jawaban yang dapat menenangkan gadis itu. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu padanya. Ia hanya dapat mendekap erat tubuh kecil itu yang semakin berguncang keras dan gemetar.

==========

“Setelah ini… latihan butai untuk bulan depan..” kata Din mantap ketika mereka di dalam mobil.

Baik Jun maupun Din sama – sama hening setelahnya. Din emngambil alih kemudi karena Jun terlalu merasa pusing hari itu setelah semalaman ikut pesta dengan teman – temannya.

“Wakatta…” Jun membuang pandangannya dari jari manis Din.

Sudah seminggu ia melihat cincin itu tersemat di jari manis Din. Cincin berlian yang menandakan ia sudah bertunangan. Sampai sekarang Din sama sekali tak menjelaskan apapun padanya. Membiarkannya bingung dengan perasaannya.

Seluruh otaknya terasa bekerja melambat. Ia tahu pasti Aiba sudah melamarnya, kalau tidak, mana mungkin Din memakai cincin itu?

“Kau kenapa? Kau tak boleh bete gitu…” ujar Din sambil masih berkonsentrasi pada jalan.

“Tidak ada apa – apa..” jawab Jun acuh.

“Jun-chan!!” Jun kaget ketika sampai di lokasi, ia bertemu Takeda.

Ini bukan saatnya rapat pekerjaan, maka ia sedikit aneh ketika manajernya itu masuk ke ruang make – up nya sore ini.

“Ada apa Takeda?” tanya Jun lalu meminum air mineral yang tadi Din siapkan.

Gadis itu kini tengah sibuk menyiapkan baju milik Jun.

“Baiklah… duduk dulu..” perintah Takeda tegas.

Jun dan Takeda duduk berhadapan satu sama lain.

“Ini..”

Jun mengambil berkas yang disodorkan, dan menemukan beberapa biodata orang – orang yang tidak ia kenal.

“Maksudmu apa?” Jun menatap Takeda bingung.

“Itu calon asistenmu yang baru… kau harus memilih salah satu..”

Mata Jun terbelalak, “Apa ini maksudnya??!!”

“Dinchan mengundurkan diri, dan dalam dua minggu ia tidak akan menjadi asistenmu lagi… orang – orang yang kusodorkan padamu adalah hasil wawancaraku. Jadi, aku yakin salah satu dari mereka bisa jadi asistenmu yang lain..” kata Takeda ringan.

Dengan marah Jun melemparkan semua berkas itu, “AKU TAK MAU ASISTEN LAIN!!” serunya marah.

“Ini keputusan Dinchan sendiri…”

Tanpa pikir panjang Jun keluar dari ruangan itu, ia menemukan Din sedang mengambil makanan untuknya.

“Jun?” tanya Din heran ketika Jun menghampirinya dengan wajah marah.

Tak menjawab, Jun menarik Din hingga piring yang Din pegang terjatuh. Ia menyeret Din.

“Sakit! Jun!!” Din masih mencoba meronta.

Jun tak peduli dan membawa Din pergi dari gedung tempatnya berlatih butai sore itu.

“Kau mau kemana?!” seru Din.

Jun masih tak menjawab. Ia membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi. Jun sebenarnya tak tahu mereka akan kemana, tapi ia sudah kalut dan pikirannya kacau.

Tanpa sadar, mereka berhenti di sebuah tampat sepi di pinggiran Tokyo.

“Apa maksudmu??!! Kau mengundurkan diri tanpa memberi tahuku?” Jun membuka percakapan itu pada akhirnya.

Din menunduk, “Gomen Jun.. aku tak bisa memberitahumu..” jawab Din lirih.

Jun menarik tangan Din dengan sedikit kasar, “Apa karena ini? Karena kau akan menikah dengan Masaki??!!” serunya lagi.

Din menarik tangannya, “Bukan urusanmu!!”

“JADI URUSANKU!! Karena aku mencintaimu!!” balas Jun kalap.

Jun menunduk, ia tak tahu harus bagaimana lagi. Hatinya sakit, Din tak jujur padanya, ia tahu perasaannya ini salah. Tapi sisi egoisnya membuat dirinya tak mau kalah dengan keadaan seperti ini.

“Jun.. aku tak bisa mengkhianati Aiba.. kita sudah terlalu lama bersama!!” ucap Din sambil berurai air mata.

Kalau mau jujur, hati Din juga sakit sekali rasanya.

“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa jadi milikku?!” tangis Jun juga merebak.

Ia memeluk Din sepenuh hatinya. Segalanya terasa sulit baginya, dan kini Din bahkan memutuskan untuk meninggalkannya.

=======

“Ohayou!!” Rei tersenyum sumringah mendapati suaminya telah bangun.

“Ohayou…” jawab Satoshi pelan.

“Aku membuatkan sarapan untukmu…” kata Rei ceria, “dan untuk Saifu-chan..”

Satoshi menoleh. Untuk beberapa waktu Saifu emmang terpaksa tinggal di hotel walaupun sebagian barangnya sudah ada di rumah Satoshi. Namun pria itu memutuskan untuk membiarkan istrinya benar – benar menerima Saifu, baru ia akan menjemput Saifu.

“Kau yakin?” tanya Satoshi menghampiri istrinya.

“Tambah satu anggota keluarga tidak buruk juga..” kata Rei lalu tersenyum pada Satoshi.

Satoshi mendekat dan mencium pelan pipi Rei, “Arigatou..”

Tak lama, Satoshi berangkat ke hotel. Kini saatnya Saifu bisa masuk ke rumahnya dengan tenang.

“Nii-chan… aku takut..” bisik Saifu ketika mereka sudah sampai di depan kediaman Satoshi.

“Tenang saja.. kakak iparmu tak gigit kok..hehe..”

Saifu mendelik ke arah kakaknya, “Apa sih?”

“Oh iya… ini… aku juga akan segera mengurusnya di sekolahmu kalau kau mau..” Satoshi menyerahkan sehelai kertas.

“Ohno Saifu?” baca Saifu, lalu ia menoleh menatap kakaknya.

Satoshi tersenyum lembut, “Bagaimana?”

“Anou.. Nii-chan… bolehkah aku tetap memakai nama Suzuki?” tanya Saifu takut – takut.

Satoshi diam sejenak, “Kenapa?”

Saifu masih ingin nama ayahnya ada di belakang namanya. Bagaimanapun juga, itu Ayahnya, dan ia tak punya rencana mengganti namanya dengan nama belakang Satoshi.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan..” Satoshi mengambil kertas itu, lalu merobeknya.

“Suzuki Saifu… ayo masuk..” ajak Satoshi sambil turun dari mobilnya.

Saifu tersenyum simpul. Ia bahagia sekali kakaknya sangat baik terhadapnya.

“Ojamashimasu!!” teriak Saifu.

Rei berlari ke arah pintu, “Chigau yo! ‘Tadaima’… kau harusnya bilang begitu..” Rei mengembangkan senyumnya.

Saifu kaget, namun hatinya kini penuh rasa hangat yang tak pernah ia rasakan setelah Ayahnya tak ada.

“Tadaima… Neechan… Niichan..” kata Saifu malu – malu.

“Okaeri..” jawab keduanya hangat.

Bahkan kini ia punya tempat untuk pulang. Saifu menangis, air matanya kini mengalir, ia begitu bahagia.

=========

From : Sakurai Sho
Subject : penting!
Datang ke tempat ini!

Aiba kembali membaca e-mail singkat itu. Setelah pertemuannya di café siang itu, tiba – tiba saja Sho memberi pesan padanya. Hari itu memang Aiba setelahnya harus pergi, sehingga ia tak bisa berbicara pada Sho.

Sebuah alamat tertera di pesan itu. Ia tak tahu itu dimana, ia tak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya.

Sosok Sho berdiri di sebelah mobil miliknya, ia memakai jas hitam. Tampak sangat mwngancam bagi Aiba.

“Ada apa Sho-chan? Kenapa kita harus kesini?!” tanya Aiba ketika ia sudah turun dari mobilnya sendiri.

Tak banyak bicara, Sho menarik kerah baju Aiba dan menyeretnya di jajaran batu nisan yang terhampar. Aiba tak pernah suka pemakaman.

Sebelum Aiba bisa berfikir lebih jauh, matanya tertumbuk pada sebuah nisan.

Sakurai Yui.

Aiba terdiam sepenuhnya, mulutnya terkunci rapat.

“Kau memang sahabatku… Masaki… tapi aku tak bisa memaafkanmu karena telah membunuh adikku..”

BUGH!

Sebuah pukulan mendarat keras di pipi kanan Aiba. Pria itu terhuyung tak siap dengan serangan tiba – tiba macam itu.

Sho menarik lagi kerah baju Aiba, ia kembali memukul Aiba dengan keras, “Aku tak pernah bisa memaafkanmu!!”

Darah segar mengalir dari sudut bibir Aiba, “Tunggu Sho-chan!! Sungguh aku tak tahu… aku…”

BUGH!

Satu pukulan telak kembali mendarat kini di mata kiri Aiba.

Aiba akhirnya membalas Sho, hingga beberapa menit keduanya masih terlibat adu pukul satu sama lain. Hingga Aiba menyudutkan Sho.

“AKU TAK PERNAH TAHU SOAL YUI!!!” teriak Aiba.

Sho terdiam sesaat, “Jangan bohong!! Kau menghamilinya lalu meninggalkannya kan??!!” serunya lalu mencoba menghantam Aiba lagi.

Keduanya babak belur, mereka terbaring di samping satu sama lain. Senja turun begitu cepat tanpa mereka sadari.

“Aku tak bohong Sho… terakhir kali Yui mendatangiku.. ia bilang sudah membereskan masalahku…kupikir… ia mengguggurkan kandungannya..” ucap Aiab lirih.

Sho berdiri, “Aku tak percaya omongan bajingan macam kau!!” balasnya.

“Percaya padaku…mungkin aku pengecut, setelahnya aku tak pernah menghubungi Yui.. tapi… aku…” Aiba kehilangan kata – kata untuk mengutarakan perasaan yang kini ia rasakan.

Semuanya menjadi serba bingung baginya. Ia selalu menganggap Yui masih ada, hingga kini ia bisa meminta maaf pada Yui. Tapi kenyataannya, ia kini berada di depan batu nisan milik gadis itu.

“Ia kesakitan… tubuhnya tak kuat karena ia memang sejak dulu lemah… Yui meninggal setelah melahirkan…” isak tangis Sho semakin menjadi.

Aiba bangun dan menghampiri Sho, “Melahirkan??!! Ia melahirkan??!!”

Sho mengangguk, “Iya… ia selalu bilang kau sudah pergi ke luar negeri.. sehingga aku tak berencana untuk mencarimu… aku kaget sekali ketika bertemu denganmu…”

“Ke luar negeri?!”

Sho menatap Aiba bingung juga, “Yui membohongiku agar aku tak membunuhmu…” Sho kembali memukul rahang Aiba dengan keras hingga Aiba tersungkur lagi.

“Sudahlah… aku masih tak bisa memaafkanmu… tapi, setidaknya aku tahu Yui tak mau aku jadi pembunuh hanya karena bajingan sepertimu!” Sho beranjak dan meninggalkan jajaran nisan itu.

“Sho!!” Aiba berhasil mengejar Sho, “Kumohon… aku ingin bertemu anakku…kumohon Sho…”

=========

Semua mata kuliahnya hari ini sudah selesai. Daiki memutuskan untuk mencari Saifu lagi di sekolahnya.

Sudah ke beberapa tempat ia mencari, mulai dari tempatnya bekerja, namun ternyata Saifu sudah tak bekerja lagi disitu. Lalu ke tempat – tempat lain, namun ia sangat sulit mendapatkan informasi keberadaan Saifu.

Ia hanya berharap satpam sekolah tak lagi mengusir dirinya seperti tempo hari.

Cuaca dingin membuat Daiki menggosok – gosokkan tangannya, ia berharap Saifu segera keluar dari sekolah.

Beberapa lama, Daiki masih terus menunggu hingga ia menemukan sosok Saifu berjalan sendirian dari dalam sekolah. Ia bersama teman – temannya, tak seperti biasanya. Saifu selalu pulang sendirian, tapi kini ia sudah punya teman. Membuatnya tersenyum karena senang.

Daiki membuntuti Saifu sebentar hingga ia berpisah dengan teman – temannya. Daiki melihat Saifu lebih bahagia, ia kini sering tersenyum.

“Baguslah… kau baik – baik saja..” bisik Daiki.

“Fu-chaann!!” Daiki memanggil Saifu.

Saifu menoleh dan kaget melihat sosok Daiki yang kini berdiri di hadapannya. Saifu, entah dengan alasan apa, merasa lega melihat Daiki lagi.

“Kau kemana saja?” tanya Daiki menghampiri Saifu yang masih terpana.

Saifu berhasil mengendalikan dirinya, lalu berkata ketus, “Bukan urusanmu!!”

Gadis itu berbelok dan meninggalkan Daiki, dengan refleks Daiki menahan tangan Saifu.

“Aku tak akan lagi memaksamu.. Fu-chan…”

Saifu berhenti tiba – tiba ketika mendengar itu.

“Aku sudah habis akal untuk mendapatkanmu… aku mencintaimu… dan jika kau bahagia… itu sudah cukup bagiku..” ucap Daiki lagi.

Saifu merasa air matanya mulai meleleh. Ia hanya tak bisa membedakan, apakah ini benar – benar dari hati Daiki? Atau hanya kebohongannya yang lain?

“Semuanya salahku. Aku yang membohongimu, tapi kini mengemis meminta maafmu… Maafkan aku..”

“Aku benci sekali padamu!!” seru Saifu tanpa menatap Daiki.

Daiki menghela nafas berat, “Aku tahu…kau memang seharusnya membenci aku..”

Saifu menoleh dengan air mata berlinangan di pipinya, “Aku benci Dai-chan!! Aku benci sekali padamu!!”

“Fu-chan…”

“Aku benci kenapa aku tak bisa melupakan Dai-chan?!! Walaupun aku sudah berusaha keras untuk melupakanmu??!!” teriak Saifu dengan emosi meluap – luap.

“Tak bisakah kita berhenti saling menyakiti…dan sekarang kita akui saja… kita saling membutuhkan..” ucap Daiki lirih sambil memeluk Saifu erat.

Orang yang kini berada di pelukannya, ia tak ingin melepaskannya lagi.

========

Masih TO BE CONTINUED alias TBC!!!
Maap rada gajeeee~ 😛
Comments Are Love!!! Please leave some comments!!yeaaaahhh!! 😛



Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Happiness (Chapter 10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s