[Multichapter] My Lovely Petto (Story 2)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Minichapter *I don’t know if it will minichapter or multichapter* LOL
Chapter     : Dua ^^
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *yeah~ right!!*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Ikuta Din (OC), Takaki Saifu (OC), Aiko (OC).dan beberapa karakter lainnya.. 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki and Takaki Yuya are belong to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 2 ~



“WAAAAAA!!!!??!!” Yuya berteriak kaget dengan apa yang di hadapannya.

Seorang gadis memakai baju terusan berwarna putih, tengah berada di kamarnya. Din berlari ke arah Yuya, menerjang tubuh Yuya dan menutup mulut pria itu, “Shhhhtt!!!”

Mata Yuya terbelalak melihat gadis yang kini berada di atas tubuhnya.

“Shhhtt..” Din menempelkan telunjuknya di bibirnya, “Jangan ribut… kumohon!!”

Yuya menarik tangan Din dan seketika mengambil alih posisi, ia berada di atas Din, “Siapa kau?! Kenapa ada di kamarku??!!”

Din mendorong Yuya, lalu mengepalkan kedua tangannya di pipinya, “Nyan~” ucap Din berpose layaknya seekor kucing.

Mata Yuya terbelalak, “Iiya!! Muri da yo!!” serunya.

Mana mungkin seekor kucing dapat berubah menjadi manusia? Ia berbalik dan memukul pipinya berkali – kali, “Baka… baka… pasti aku hanya berkhayal!!” gumamnya pada diri sendiri.

“Doushita noo??” Din mendekati Yuya dan menyentuh tangan Yuya.

Ia terlonjak kaget, “Kyaa!! Mana mungkin?! Keluar kau!!” seru Yuya lagi.

Din manyun lalu duduk di kasur milik Yuya, “Baiklah… perhatikan..” Din mengubah dirinya kembali menjadi kucing.

Yuya tak percaya yang ia lihat, dan mulai merasa agak sinting karena melihat hal – hal aneh seperti itu. Tak lama, Din kembali berwujud manusia, “Dou? Sudah percaya?”

Mata Yuya masih awas, meneliti setiap gerakan dari Din.

“Siapa kau?!” seru Yuya lagi, tangannya bersiap mengambil apa saja yang ada di dekatnya.

Siapa tahu gadis aneh ini berbahaya?

“Din desu… aku peri cinta…” seru Din lagi.

“Kau…” Yuya yakin kini ia berhalusinasi, “Apa?”

“Aku peri cinta… tapi sedang bertugas di dunia… dan… aku kena hukuman sebenarnya…” kini wajah Din terlihat sedih.

Selama hidupnya hingga kini ia berumur dua puluh satu, sungguh ia tak pernah percaya dengan tetek bengek soal peri cinta. Dan kini seorang gadis berdiri di hadapannya berkata ia peri cinta? Apa gadis ini sedang cosplay? Tapi, Yuya kembali mengingat bagaimana gadis itu berubah jadi kucing.

“Ah!! Kau penyihir? Atau pesulap ya?!” seru Yuya tiba – tiba mengingat ide itu.

“He? Apa itu? Tentu saja bukan… kubilang juga aku peri cinta…”

“Demo… anou…”

“Kumohon… izinkan aku tinggal disini hingga aku bisa menyelesaikan tugasku… ne??” Din mendekati Yuya lalu berjongkok menatap Yuya penuh harap.

‘Yabee… choo kawaii.. dia benar – benar seperti kucing’ batin Yuya.

“Onegai…” kata Din lagi, “Lagipula malam – malam begini aku bisa kemana?” katanya lagi.

“Shoganai na…” keluh Yuya, ia tak tahan melihat pandangan penuh harap dari Din.

“Yatta!!” Din berteriak lalu memeluk Yuya, “Arigatou!!”

“Chotto!!” Yuya mendorong tubuh Din, “Nani sore??!!”

“Yoroshiku ne… master…” kata Din lalu tersenyum, dan lagi – lagi berpose seperti kucing.

“Master?”

“Un! Aku akan jadi petto mu yang baik mulai sekarang…hehehe..”

Yuya salah tingkah, ia duduk di meja belajar, “Terserah kau..”

“Yuya-chan.. ne?”

“Chotto…jangan seenaknya memanggil namaku…” protes Yuya.

Din manyun, “Dasar manusia memang aneh!!” keluh Din lalu merebahkan diri di kasur, “Gyaaa~ aku ingin tidur..”

Sebelum sempat protes, Yuya melihat Din menarik selimut dan tidur di atas kasur miliknya.

“Maa.. untuk malam ini tak apa..” katanya lalu mengambil file yang harus ia kerjakan. Toh malam ini ia tak akan tidur.

=========

Saifu mengigit bibirnya, tangannya sudah menempel di gagang pintu kamarnya, tapi dia ragu campur takut untuk membukanya.

“Ahh..bagaimana ini..” keluh Saifu.

Pintu tiba –tiba dibuka, Saifu mematung karena kini laki –laki itu berdiri dihadapnnya sambil tersenyum, “Masuklah..” perintahnya, Saifu masih mematung ditempatnya berdiri, mau tak mau Daiki menariknya masuk, dia tak mungkin menjelaskan siapa dia di depan pintu kamar gadis itu.

Kini Saifu dan Daiki saling duduk berhadapan, dengan Saifu yang memandang Daiki takut-takut sedangkan Daiki tersenyum memandang Saifu.

“Hajimemashite..” kata Daiki sopan.

“Ha..hajimemashite..” kata Saifu takut takut.

“Daiki desu, aku peri cinta dan bertugas menyatukan hati dua orang manusia..” jelas Daiki dengan senyum 100 watt yang semua orang pasti setuju senyumnya sangat manis.

“HAH???”

“Ja..jadi kau peri cinta??” tanya Saifu dengan nada tak percaya.

Setahunya peri cinta adalah mahluk – mahluk kecil dengan sayap dan pipi gemuk, sering kali digambarkan tak berpakaian. Pipi nya memang gemuk, tapi masa iya dia peri?

Daiki mengangguk, “Benar..dan aku akan membantumu mendapatkan orang yang kau cintai, kau punya kan? Aku bisa melihatnya, di hatimu terlihat seseorang..”, kata Daiki sok tahu.

Sumpah juga Daiki sebenarnya hanya menebak – nebak saja. Gadis ini pasti percaya jika ia berkata seperti itu.

Wajah Saifu berubah merah, karena Daiki menyinggung tentang orang yang disukainya, Ryutaro Morimoto sahabatnya sejak dia masuk SMA, hampir tiga tahun ini Saifu hanya memendam saja perasaannya terhadap Ryutaro karena dia belum berani menyatakannya, karena Ryutaro itu sahabat Saifu .

“Kenapa kau tak menyatakan perasaanmu?” tanya Daiki.

‘Gadis ini mudah dibaca…’ batin Daiki. Ia bisa melihat dengan jelas gadis itu memang sedang jatuh cinta.

“Eh?” Saifu gelagapan. Tak siap dengan pertanyaan seperti itu.

“Kalau kau suka, lebih baik kau menyatakan perasaanmu kan? Jadi kami para peri cinta tak usah repot ,ne? dan aku tak usah sampai dihukum begini..” kata Daiki sambil menatap Saifu.

“Kau..sedang dihukum?” tanya Saifu.

Daiki mengangguk, “Un..hanya karena aku selalu gagal menyatukan hati dua orang, sebenarnya aku bersama temanku..tapi saat diturunkan ke bumi kami terpisah..” Daiki merasa lapar, “Anou..bisa beri aku makanan?aku lapar sekali” katanya.

“Eh?makanan ya?”,Saifu bangkit lalu mencari sesuatu di dalam tas sekolahnya, lalu menyodorkan Daiki sebuah kotak merah.

“Makan Pocky itu dulu ya, nanti malam saat semuanya sudah tidur aku akan ambilkan makanan” jelas Saifu, Daiki mengangguk.

“Arigatou..” Daiki membuka kotak merah itu,lalu mulai memakannya, “ini enak..” gumam Daiki dan mulai sibuk memakan Pocky yang diberikan oleh Saifu.

Saifu tersenyum.

“Nah..Aku akan membantumu menyatukan hatimu dengan laki laki itu,” kata Daiki mantap.

Saifu hanya melihat Daiki tak percaya. Baru kali ini ia sekamar dengan laki – laki. Dan laki – laki ini malah berkata ia peri cinta? Siapapun tak akan percaya hal itu kan?

“Anou… aku masih lapar..” keluh Daiki.

“Ah! Baiklah… tunggu sebentar..” Saifu bergegas keluar kamar.

“Yo! Dinchan!! Dinchan!!” Din yang dipanggil oleh Daiki sama sekali tak menyahut.

“Sial.. dia sudah tidur..” rutuk Daiki.

Padahal ia ingin memberitahu jika ia sudah menemukan setidaknya satu orang yang bisa ia jadikan penyelamatnya.

============

“Kau ngapain?” tanya Yuya ketika melihat adiknya mengendap – endap ke dapur.

“Mou… Nii-chan…kupikir siapa?!” seru Saifu kaget setengah mati karena kakaknya itu keluar dari kegelapan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yuya lagi.

Saifu mendekat ke arah kulkas, “Itu.. aku… lapar lagi! Iya! Lapar lagi!!” serunya, ia tak mau kakaknya itu tahu ia membawa seekor anjing ke rumah. Terlebih lagi ternyata anjing itu dapat berwujud seorang laki – laki.

“Kau aneh sekali…kenapa mukamu tegang sekali?” kata Yuya heran melihat gelagat adiknya.

Saifu menggeleng cepat, “Iiya! Betsu ni…”

“Maa.. aku duluan..” kata Yuya setelah mengambil sekaleng jus.

“Yokatta…” Saifu menghela nafas panjang.

Setelahnya Saifu menyiapkan makanan untuk Daiki. Untung saja masih banyak sisa makan malam kali ini. Seketika Saifu berhenti karena ingat sesuatu.

“Yabee… tadi kan… chotto..” ia lupa jika tadi ia mengajak anjing kecilnya itu mandi bersama.

“Tidak!! Ini tidak mungkin…kyaaaa~” serunya histeris, namun ia tahan suaranya agar tak terdengar siapapun.

============

“Ohayou!! Goshujin sama…”

Yuya mengerjapkan matanya, sekilas ia melihat senyum yang sedikit asing untuknya.

“Ohayou!!” kata Din lagi dengan bersemangat.

“Gya! Kenapa kau ada disitu?!” seru Yuya kaget karena Din berada di atas tubuhnya. Ternyata semalam ia ketiduran di bawah meja belajarnya.

“Aku kan membangunkan masterku!!” seru Din lagi.

“Aaarrgghh!!” Yuya paling benci dibangunkan secara paksa.

“Hari ini kita kemana tuan? Kita jalan – jalan?” tanya Din dnegan bersemangat.

“Tak bisa.. aku ada kuliah hingga sore… dan setelahnya masih harus latihan band..” jawab Yuya malas.

“Tsumanai na…” seru Din manyun, “Kalau gitu aku ikut ke kuliah mu itu?! Boleh?!” tanya Din lagi dengan mata berbinar – binar.

“Jangan! Kubilang… jangan!!” seru Yuya.

Bagaimana tanggapan teman – temannya jika tiba – tiba saja ia datang bersama seorang wanita.

“Yuya-chan membosankan…” Din menggembungkan pipinya.

“Jangan keluar kamar!!” kata Yuya lalu bersiap mengambil bajunya.

Ketika ia sadar Din masih disitu, “Jya.. aku harus berangkat!” seru Yuya lalu memutuskan untuk ganti baju di kamar mandi.

==========

“Kau tak apa kan?” Saifu sedikit mengintip kedalam tasnya yang berisi Daiki yang tentunya dalam bentuk anjing, dia sedang di kereta menuju sekolahnya.

“Kaing kaing kaing kaing..” kata Daiki yang berarti “un..sedikit panas dan sesak, tapi taka pa..ah tolong buka seleting tasmu sedikit lebih lebar lagi”.

Daiki sejak pagi juga mencari Din, tapi gadis itu sama sekali tak menjawab. Sungguh membuat dirinya khawatir.

“Anou..” Saifu mengerutkan dahinya karena tak mengerti dengan perkataan Daiki.

Daiki sadar Saifu tak mengerti apa yang dia katakan, maka dari itu Daiki mendorong sendiri resleting tas Saifu dengan kakinya.

“Ohhh..resleting ya..” seru Saifu.

“Dasar manusia” gumam Daiki pelan.

“Saat di kelas, jangan mengonggong ya?” pinta Saifu,

“Hai hai..wakatta…” kata Daiki malas, “Manusia ini, siapa juga yang ingin menggongong? memangnya kau punya telepati seperti Din?? kalau ada aku tak usah  repot –repot menggonggong dalam sosok anjing seperti ini hanya untuk mengajakmu bicara” batin Daiki kesal dalam hati.

“Sabar sebentar ya?aku tak bisa mengeluarkanmu di kelas, nanti bisa ketahuan guru dan dimarahi..” kata Saifu lagi.

Mereka akhirnya tiba di sekolah. Setelah membuat Daiki pusing setengah mati karena terombang – ambing di dalam tas Saifu.

“Hmm,” sebagian diri Daiki masih sangat mual.

Saifu tersenyum, lalu meletakkan tas nya di lantai kelas.

Tak lama, sosok itu datang, sosok Ryutaro yang berjalan masuk kekelas, lalu langsung duduk di bangku tepat didepannya, Ryutaro memutar tubuhnya menghadap kebelakang, menatap Saifu.

“Ohayou Fu-chan..oh ,ya..soal bahasa inggris nomor 7 apa kau mengerti?” tanya Ryutaro sambil membuka buku tugasnya dan memperlihatkannya pada Saifu.

“Ah..itu, ini kan hanya pakai rumus ini..” kata Saifu lalu berkonsentrasi dengan buku Ryutaro.

Ryutaro melirik tas Saifu yang ditaruh dibawah, “Kenapa tas mu di taruh bawah?” tanya Ryutaro lalu mengangkat tas Saifu yang tadi ada dilantai.

“JANGAN!!” seru Saifu .

“Eh?” Ryutaro kaget, karena didalam tas Saifu ada seekor anjing yang kini menatapnya awas.

“Fu kau..” Ryutaro menatap Saifu yang tampak panik, lalu langsung merebut tasnya yang dipegang Ryutaro.

“Hei pelan-pelan!!” seru Daiki kesal.

“Fu kau..”

“Tolong jangan bilang siapa –siapa” kata Saifu panik.

===========

Kuliah pagi ini ia sedikit tak berkonsentrasi. Ia mengingat keadaan kamarnya, dan pasti Ibunya akan masuk untuk merapikannya.

Bagaimana jika Ibunya menemukan gadis itu di kamarnya?

“Doushiyo?” gumam Yuya bingung.

Kalaupun gadis itu berubah menjadi kucing, sudah pasti ia akan kena usir. Dan malam nanti ia pasti kena marah.

“Kenapa kau terlihat sangat lesu?!” tanya seseorang sambil menepuk bahunya.

“Ah.. cuma Hikka…” keluh Yuya yang sebenarnya sedikit kaget.

“Goukon kemaren rame loh… sayang sekali kau tak ikut!!” seru Hikaru.

Yuya mendelik pelan, “Memangnya aku peduli?” gumam Yuya.

“Lihat ini… aku dapat nomor teleponnya!! Hehehe…” seru Hikaru lagi.

“Urusai na… omae..” ucap Yuya kesal.

“Ah… Yuya gak asik! Apa kau masih memikirkan cinta pertamamu itu?”

“Urusai na!!”

Topik sensitif paling malas ia bicarakan. Jika menyangkut soal cinta, ditambah tentang cinta pertamanya. Yang hingga sekarang belum bisa ia lupakan.

Yuya tak menjawab lalu beranjak dari kelas, Hikaru menyusul di sebelahnya.

“Jangan lupa kita ada latihan sore ini..” kata Hikaru.

“Wakatta…”

Seminggu sekali mereka latihan. Memang hanya band yang baru saja mulai, tapi setidaknya ini juga salah satu hobi dari Yuya. Ia di daulat jadi vokalis, dan niatnya ikut band memang memmbantu teman – temannya sejak SMA. Maka setiap satu minggu, saat ia tak kerja sampingan ia ikut latihan band.

Yuya terdiam seketika ketika seseorang lewat di hadapannya. Matanya menagkap bayang Yuya lalu menunduk sopan, “Hai.. hisashiburi..” sapanya.

“Hi… hisashiburi…”

Orang itu.

Gadis itu. Gadis cinta pertamanya yang kini ada di hadapannya.

“Anou… ada apa kau kemari?” tanya Yuya heran.

“Hmm.. aku kan sekarang kuliah disini senpai..” katanya manis.

“Waaa~ Ai-chan!! Hisashiburi!!” seru Hikaru yang baru saja kembali setelah membeli minuman.

“Hisashiburi Yaotome-senpai..” katanya sopan.

“Aiko-chan.. jurusan apa?” tanya Yuya. Matanya masih terus menatap lurus pada Aiko.

“Aku jurusan design… wah~ tak sangka bisa bertemu Takaki-senpai dan Yaotome-senpai!!” serunya manis.

“Maa.. ne…”

“Waaaa!! Sasuga Aiko-chan ga kawaii naaa…” seru Hikaru.

Disambut sikutan oleh Yuya, “Urusai!”

“Ah… Yaotome-senpai bisa saja…” Aiko melihat jamnya, “Sayang sekali aku harus masuk kelas… aku duluan ya..” ia kembali membungkuk sekilas pada Yuya dan Hikaru.

“Jya!! Mata ne!!” seru Hikaru sambil masih melambai pada Aiko.

“Urusai yo omae!!” sahut Yuya setelah Aiko pergi.

“Ittai yo… ya sudah.. aku pergi dulu!!” Hikaru mengacak rambut Yuya lalu melambai dan pergi ke arah lain.

Yuya menghela nafas. Sejak dulu ia memang tak pernah bisa bicara dengan normal dengan Aiko. Walaupun mereka dulu satu klub di SMA, ia sama sekali tak bisa bicara pada Aiko. Bahkan tak bisa menyatakan perasaannya hingga ia lulus dan meninggalkan adik kelasnya itu.

“Cewek itu manis juga…”

“Waaa!!” Yuya kaget ketika melihat Din sudah berada di sebelahnya.

“Apa yang kau lakukan disini??!!” seru Yuya.

“Kau menyukai gadis itu?” tanya Din lagi tanpa menggubris pertanyaan Yuya.

“Bukan urusanmu!” Yuya meninggalkan Din.

“Ne… master… aku lapaaaarr~” keluh Din sambil memegang lengan Yuya.

Yuya mendelik menatap Din, “Kenapa kau ada disini?! Sudah kubilang diam di kamar kan?”

“Tapi… membosankan sekali… lagipula aku sangat lapaaar..” kata Din lalu berjongkok dan menengadah menatap Yuya.

“Mendokusai na… ya sudah ayo kita makan!!”

Din seketika melonjak dan memeluk Yuya, “Arigatou master!!!” setelahnya Din mencium pipi Yuya.

“Apa – apaan itu?!” protes Yuya, namun ia merasa dadanya dag-dig-dug karena kaget.

“Aku kan petto mu… bukankah itu yang dilakukan petto pada masternya??!” tanya Din dengan polos.

“Terserah kau saja…” sahut Yuya pelan lalu berjalan mendahului Din.

“Aku mau omurice!!!” Din berlari – lari di sebelah Yuya.

==========

“Jadi kau memungutnya?” tanya Ryutaro lalu mengelus – elus anjing yang kini tengah memakan sosis yang diberikan Saifu dari bentounya.

Sekarang istirahat siang, Saifu dan Ryutaro makan diatap, dan Daiki dalam bentuk anjing juga dibawa ke atap itu.

“Hei !hentikan..aku bukan anjing, dan jangan menggangguku makan!!”seru Daiki kesal.

“Ah..dia tak suka padaku ya..” Ryutaro menggendong anjing yang terus mengonggong itu, Ryutaro tak tahu saja kalau sebenarnya anjing itu sedang mendumal kesal karena dia mengangkatnya.

“Turunkan aku! Dasar!” seru Daiki lagi,

“Ah..!” Saifu mengambil alih Daiki dari tangan Ryutaro.

“Setidaknya digendong olehmu lebih baik,” kata Daiki, lalu menjilat tangan Saifu.

“Anou.. mungkin dia masih liar..haha..gomen,” kata Saifu meminta maaf pada Ryutaro.

“Hah??Liar??” Daiki berdecak kesal. Mana ada peri yang liar? Daiki menggeleng – geleng tak terima.

“Daijobu..” Ryutaro mengelus Daiki yang ada digendongan Saifu itu, “nanti dia juga akan jinak kok, siapa namanya?” tanya Ryutaro masih sambil tersenyum menatap Daiki.

“Kau terlalu dekat..” keluh Daiki.

“Da…. Daiki!!” kata Saifu.

“Daiki??” Ryutaro menatap Saifu, “Nama yang tak umum untuk seekor anjing ya?” kata Ryutaro lalu kembali mengelus Daiki.

“Sebenarnya Dai-chan…iya… Dai-chan..” kata Saifu lagi.

“Souka… halo Dai-chan… kawaii naaa..” seru Ryutaro sambil mengelus kembali kepala Daiki

Saifu hanya tersenyum memandang Ryutaro itu sedangkan Daiki menatap Ryutaro kesal.

==========

“Dinchan!! Doko??!!” Daiki kembali membuka jalur telepatinya dengan Din.

Beruntung kali ini Din menyahutnya, “Dai-chaaann!!” suara Din etrdengar sedikit panik.

“Kau dimana? Kau baik – baik saja?” tanya Daiki.

“Un! Aku baik – baik saja… masterku sangat baik…” seru Din dengan nada bicara yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

“Master?” dahi Daiki berkerut heran.

“Un… dia menganggapku peliharannya… jadi ya sudah..begitu saja..” kata Din ringan.

“Souka.. kau dimana sekarang?” tanya Daiki.

“Aku di depan sebuah studio… kata Yuya-chan aku tak boleh masuk walaupun dalam keadaan menjadi kucing..” keluh Din.

“Kita harus ketemu! Dan aku punya berita baik…”

“Oh ya? Apa?”

“Orang yang memungutku mungkin bisa menjadi jalan kita untuk pulang ke kahyangan lagi!!” seru Daiki heboh.

“Yatta!! Kalau begitu Dai-chan kesini saja..” kata Din.

“Dimana? Aku akan tanya pada Fu-chan… studio apa namanya?”

“Studio JUMP?” kata Din setelah mengedarkan pandangannya.

Sambungan Daiki putus. Setelah itu ia menatap Saifu.

“Aku harus ke suatu tempat…” tapi dia lupa ia masih berbentuk anjing, sehingga Saifu tak mengerti apa yang ia katakan.

Saifu menatap Daiki, “Ada apa?”

Saifu lalu mengeluarkan Daiki dari tasnya, sekarang memang sudah pulang sekolah, sehingga ia bisa bebas mengeluarkan Daiki.

Sedikit demi sedikit Daiki berubah menjadi manusia, “Aku harus ke suatu tempat!”

“Kemana?” tanya Saifu heran, dan dia baru menyadari Daiki tak menggunakan sepatu.

“JUMP studio?”

Saifu tahu karena beberapa kali kakaknya menyebutkan tempat itu.

“Aku tahu tempatnya!! Demo… kita beli sandal dulu ya?”

“Un!” seru Daiki dengan riang mengikuti Saifu.

Ia tak pernah pakai sandal, karena baginya cukup terbang saja selama ini.

“Rasanya sedikit aneh..” keluh Daiki menatap kakinya yang kini memakai sandal.

Saifu menarik lengan Daiki, “Itu… itu JUMP studio..” kata Saifu menunjuk sebuah gedung sederhana.

“Dinchaaannn!!” Daiki berlari berhamburan mendekati Din yang sedang berdiri di depan gedung itu.

“Dai-chaaaannn!!” Din senang sekaligus sangat lega karena ternyata ia bisa kembali bertemu Daiki.

Saifu kelimpungan namun ikut lari ke arah Din.

“Kyaaaa!!” Din memeluk Daiki erat, dirinya sangat bahagia bisa bertemu Daiki.

Saifu memerhatikan Din dengan baju yang mirip dengan Daiki, ditambah lagi ia sama – sama tak pakai sepatu. Mungkin ini partner yang Daiki bicarakan.

“Din desu!!” seru Din pada Saifu lalu menyodorkan tangannya.

Saifu tersenyum canggung, “Takaki Saifu desu..” jawabnya lalu menyambut uluran tangan Din.

“Jadi kau tinggal disini?” tanya Daiki.

“Chigau yo!! Masterku sedang latihan itu… apa namanya… band-nantoka.. aku tak mengerti… jadi dia menyuruhku menunggunya di depan..”

“Mastermu jahat!” protes Daiki.

Din menggeleng cepat, “Dia baik kok!! Tadi dia membelikanku omurice yang enak sekali…”

Daiki mulai khawatir pada Din. Partnernya itu sangat polos dan cenderung tak banyak berfikir.

“Kau benar baik – baik saja?” tanya Daiki.

Din mengangguk, “Tentu saja! Kita sama – sama berjuang ya Dai-chan!!”

“Saifu-chan…” Din tiba – tiba menoleh dan meraih tangan Saifu, “Jaga Dai-chan baik – baik ya…”

“Eh?” dengan bingung Saifu hanya mengangguk pelan.

“Dengar…” Daiki menarik tubuh Din agar fokus terhadapnya, “Pokoknya jika laki – laki itu kurang ajar padamu, segera beri tahu aku… mengerti?!”

Tersenyum lalu mengangguk pelan, “Wakatta yo..” jawab Din ringan.

“Ah!” seru Saifu tiba – tiba, “Kau bisa memberi tahu temanmu alamat ini..” kata Saifu yang sibuk menulis sesuatu di binder kecil miliknya.

“Apa ini?” tanya Din bingung.

“Itu namanya alamat rumah… kalau kau mencari Daiki, kau tinggal kesitu saja..ne?”

Daiki menatap Saifu, “Arigatou Fu-chan!!”

Saifu sedikit kaget mendengar Daiki memanggilnya seperti itu.

“Jya!! Hati – hati Dinchan!!” seru Daiki setelahnya meninggalkan Din yang masih menunggu Yuya. Tak sabar memperlihatkan kertas dengan tulisan tangan Saifu yang kini ia genggam.

=========

“Dasar! kalau begitu lagi aku tak akan membantumu dengannya.. dia mengelusku terus memangnya aku anjing?” kata Daiki kesal saat mereka sudah di kamar Saifu.

“Gomen ne..” kata Saifu sambil menunduk.

‘Tapi dia kan memang anjing..’ batin Saifu, namun tak berani mengatakannya pada Daiki.

‘Sial,wajah maanusia ini manis sekali..’ kata Daiki dalam hati, “Ah sudahlah.. kumaafkan kalau kau memberiku pocky lagi,” kata Daiki.

Saifu tersenyum, lalu buru – buru keluar dari kamarnya dan kembali membawa dua kotak pocky ditangannya.

“Silahkan..” kata Saifu sambil tersenyum, menyodorkan dua kotak camilan itu di hadpan Daiki yang nampak terpana melihat wajah Saifu.

“Waaa… kau punya banyak…” serunya takjub.

“Tentu saja…kita kan tinggal membelinya..” kata Saifu heran.

“Souka… arigatou na!!” kata Daiki senang.

Saifu tersenyum pada Daiki, ‘Kenapa dia kawaii sekali?!’ rutuk Daiki sedikit gugup karena Saifu masih tersenyum dihadapannya,

==========

TBC oh TBC lagi ya kawaaaannn~ hahaha
😛
^^
COMMENTS ARE LOVE!!! ^^



Advertisements

6 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s