[Multichapter] My Lovely Petto (Story 1)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Minichapter
Chapter     : Satu~
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *lalalala hahaha~*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ) Ikuta Din (OC), Takaki Saifu (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki and Takaki Yuya are belong to JE, Din, Saifu are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 1 ~


Bisik – bisik itu terus terdengar, membuat Daiki menggosok kupingnya yang panas.

“Cih~ mereka itu bisanya mengkritik saja..” umpat Daiki lalu menoleh pada temannya yang masih menangis sesenggukan, “Sudahlah Dinchan… hukuman kita tak akan berat kok..”

“Demo Dai-chan… ini kan sudah kesalahan ke tiga ratus dua puluh… yakin dewa tak akan mengusir kita?” isak tangis Din masih juga terdengar.

“Tidak!! Dewa tak akan berbuat seperti itu…”

Begitulah nasib dua peri cinta yang kelewat sering gagal. Mereka berdua partner, tapi karena terlalu banyak berfikir, maka jarang sekali mereka bisa berhasil membuat dua insan jatuh cinta. Dewa tak habis fikir bagaimana hingga tugas mereka yang ke tiga ratus dua puluh, mereka belum juga berhasil.

“Ayo…” Daiki menarik tangan Din.

Keduanya punya perasaan yang sama. Deg – degan, tak tahu harus berkata apa? Semuanya campur aduk menjadi satu untuk mereka berdua.

Ruangan serba putih yang berhiaskan awan – awan menggantung di segala sisi. Penuh dengan peri – peri lain yang duduk dan berdiri menyaksikan dua peri gagal itu berjalan menghadap Dewa cinta.

Din bisa melihat dewa cinta tak begitu senang dengan kedatangan dirinya bersama Daiki.

“Duduk!” seru Dewa Cinta sedikit terlihat mengamuk.

Daiki duduk, disebelahnya Din juga ikut duduk menghadap langsung ke Dewa Cinta yang duduk di singgasananya yang megah.

“Kalian berdua…” Dewa cinta menghela nafas kesal, ia mengelus – elus jenggot putihnya yang semakin tua, “Sudah ke tiga ratus dua puluh… dan belum ada satu pun yang berhasil?!”

Din tak menjawab hanya menunduk tak kuasa melihat mata Dewa Cinta yang terlihat begitu marah.

“Itu… begini… kami lebih memilih membuat mereka jatuh cinta dengan sendirinya… tak perlu dengan panah asmara kami… begitu…” ucap Diaki terbata – bata.

“BAKA!!”

Seketika ruangan menjadi gelap,  sebuah kilat beserta gunturnya meluncur tepat di samping Din dan Daiki, membuat keduanya terlonjak. Saat itu mereka tahu, dewa cinta sudah benar – benar marah.

“Kalian tahu kan? Aku sudah begitu baik masih mentolerir kalian!!”

“Kumohon Dewa Cinta… beri kami kesempatan lagi!!” seru Din pada Dewa Cinta.

Dewa melihat ke mereka sebentar, lalu berdiskusi dengan beberapa petinggi peri yang duduk di sebelahnya.

Baik Din maupun Daiki sama – sama merasakan ketegangan karena seluruh pasang mata di tempat itu terus memperhatikan gerak – gerik mereka.

“Baiklah… sudah kami putuskan!!” kata seorang petinggi peri.

Dengan mata awas semuanya menoleh pada peri tersebut.

“Kalian berdua akan dihukum!!”

Seketika semuanya terdengar berbisik – bisik mengira apa yang akan dijatuhkan pada kedua peri tak beruntung itu.

“Kalian akan turun ke bumi!! Sebelum kalian kembali kesini, kalian harus bisa membuat seorang manusia bersatu dengan cintanya!!”

Bisik – bisik kembali terdengar di setiap tempat. Tentu saja bagi seorang Peri hal itu sangat memalukan. Seharusnya mereka tak terlihat, hanya memantau dari jauh, tapi kini mereka harus turun ke bumi, berbaur dengan manusia lainnya.

Tangis Din kembali mengalir. Ia tak rela, pasti orang tuanya sangat kecewa anaknya tak mampu menjadi Peri yang baik.

Daiki berteriak tepat ketika kursi mereka seketika terasa lebih ringan, lalu dengan sekali hentakan, mereka jatuh dan melayang seperti terjun bebas dari langit.

Keduanya berteriak minta tolong, angin kencang membuat mereka tak bisa melihat satu sama lain.

“Dai-chaaaannnn!!!” teriak Din, namun tak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian, semuanya terasa gelap. Baik bagi Din, maupun Daiki.

=========

“Maji ka yo? Dimana ini?” Din memutar kepalanya, ia merasa gedung di sebelahnya terlihat sangat tinggi.

Pemandangan yang tidak biasa ia lihat.

“Are? Kenapa orang itu besar sekali?” gumam Din bingung.

Ia terus berjalan ketika ia rasakan ada yang salah dengan tubuhnya.

“Kyaaaa!! Apa ini?” tubuhnya berbulu lebat.

Ia merasa tak pernah punya bulu sebanyak ini, ditambah lagi warnanya jingga? Ia berjalan dengan dua tangan dan kakinya.

“Chotto… nani sore?”

Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi malah suara “Miaw..” keluar dari mulutnya.

“Kyaaa~ kucingnya lucu ya…” kata seseorang mendekati dirinya, berjongkok dan memeblai dirinya.

“Hah? Kucing? Siapa yang kucing?” Din berlari ke arah lain, ketika ia menoleh dan mendapati tubuhnya di dalam tubuh seekor kucing.

“Apaan ini?!hufft~”

“Dinchan… yo! Dinchan!! Dnegar aku?”

Ia bersyukur ternyata kemampuan berkomunikasinya dengan Daiki melalui telepati masih berjalan.

“Dai-chan? Doko?” tanya Din sambil masih terpana melihat dirinya di pantulan sebuah gedung bertingkat.

“Yabee!! Aku jadi anjing masa??! Dewa Cinta keterlaluan!!” seru Daiki di seberang sana.

“Huhuhu~ aku jadi kucing!! Bagaimana ini? Aku tak tahu aku dimana?!” seru Din lagi.

“Sama… tempatnya aneh sekali… penuh sesak orang – orang..” keluh Daiki.

“Iya… gedungnya tinggi – tinggi sekali… ffiuh~”

“Dengar kalian berduaaa!!” suara Dewa Cinta di benak mereka membuat keduanya berhenti bicara satu sama lain.

“Kalian bisa berubah jadi manusia, tapi tidak boleh ketahuan. Satu lagi, sayap kalian hilang selama kalian di bumi… jadi kalian tidak akan terlihat seperti peri… jya!! Lakukan tugas dengan benar!!” seru Dewa Cinta, lalu terdengar bunyi klik sebelum sambungan antara mereka terputus.

“Dai-chaaannn~ doshi yo?? Kau dimana?” Din mulai panik, ia berlari mencoba mencari tempat aman karena seketika itu turun hujan.

“Hujan!! Hujan!!” seru Daiki di seberang sana.

“Chotto! Berisik!!” Din segera memutuskan hubungan telepati itu dan berlari ke sebuah halte.

Sementara itu Daiki tak menemukan tempat untuk berteduh, ia terus berlari hingga basah kuyup, beruntung ia menemukan sebuah pohon yang cukup besar, setidaknya walaupun sedikit basah, bisa melindunginya sebentar saja.

Ia mengeluh. Din tak mau menyambung telepatinya lagi. Pasti gadis itu juga sedang sedikit marah. Bagaimana tidak? Keluarga mereka selalu jadi peri terbaik setiap tahunnya, namun kesalahan Daiki dan Din menjadi aib bagi keluarga mereka.

“Doshiyo ka na??” keluh Daiki kesal pada dirinya sendiri.

==============

“Hey! Yuya!! Ini tugas yang harus kau kerjakan!”

“Wakatta yo Yabu~ arigatou..” kata Yuya lalu mengambil kertas – kertas file yang Yabu serahkan.

“Oh iya… mau ikut goukon tidak? Aku diajak Hikaru nanti malam?” tanya Yabu pada Yuya.

“Hmmm~ tidak bisa… aku baito, lagipula tugasku ini kan banyak..” tolak Yuya.

“Kau ini terlalu serius. Sekali – kali main dengan kita…” kata Yabu sambil mesejajarkan langkahnya dengan Yuya.

Yuya tertawa, “Aku kan selalu main jika akhir minggu…” protesnya.

“Iya sih… ya sudah… jangan iri kalau nanti aku dapat pacar ya??!! Hahaha.. jya ne!!” Yabu berbelok menuju kantin sementara Yuya terus menlangkah di koridor.

Ia melongok ke jendela, ternyata di luar hujan. Tak salah tadi pagi Ibunya menyuruhnya membawa payung. Walaupun baginya itu sangat menyebalkan, tapi akhirnya ia bawa karena tak mau mendengar ocehan dari Ibunya sepanjang pagi.

Ia kerja sampingan di sebuah toko peminjaman film. Cita – citanya menjadi sutradara tentu saja tidak ada hubungannya. Namun, dengan bekerja di tempat itu ia bisa meminjam beberapa film secara gratis setiap minggunya. Sehingga baginya itu sudah cukup selain gajinya yang lumayan.

Yuya membuka payungnya, berjalan di tengah hujan setelah memasukkan file tugasnya di tas. Ia tak mau semua kertas tugas itu hancur berantakan. Umurnya dua puluh satu tahun, kini masuk di semester tiga, jurusan film. Minat Yuya memang di film, dan ia sangat ingin mewujudkan cita – citanya menjadi seorang sutradara.

“Yosh!” Yuya sampai di halte depan kampusnya, bus yang membawanya ke tempat kerja sebentar lagi datang.

Ketika mengeringkan badannya, matanya terhenti pada seekor kucing malang yang duduk dan terlihat kedinginan. Tapi rasanya aneh, kucing itu terlihat sedikit tak normal dari kucing biasanya. Ia duduk dengan awas, dan Yuya merasa kucing itu memperhatikannya.

Kini ia merasa agak sinting, mana ada seekor kucing bisa melihatnya? Yuya menoleh ke segala arah, tapi memang benar pandangan kucing itu terkunci padanya.

“Kawaii da ne…” seru Yuya lalu mendekati kucing itu, lalu menyentuh dagunya.

Kucing itu seketika berdiri dan mundur beberapa langkah.

Setahu Yuya, kucing adalah binatang paling manja, bukankah seharusnya ia senang di belai seperti tadi?

“Kawaii… kocchi..kocchi..” panggil Yuya lalu kambali mencoba membelai si kucing di hadapannya itu.

“Manusia ini kenapa sih? Kan geli..” seru Din pada Yuya yang mencoba membelainya terus. Tapi yang bisa ia hasilkan hanya sebuah suara mengeong.

Ia merasa geli, walaupun rasanya memang nyaman. Tak ada manusia lain disini. Tapi Din tak bisa memutuskan apa dia harus ikut pria aneh di hadapannya ini atau tidak.

“Dai-chan… Dai-chan..” panggil Din.

“Yo! Kenapa?” bisik Daiki.

“Ada manusia disini… apa aku harus ikut dengannya? Sejak tadi ia membelai – belaiku terus…” keluh Din.

Yuya mengangkat tubuh kucing itu, “Kau lapar? Aku bawa biskuit… mau tidak?”

Demi apapun, Din memang kelaparan karena sejak pagi belum makan apa – apa.

“Kau yakin?” tanya Daiki.

“Entahlah… tapi dia keliatannya baik…” kata Din lagi.

“Baiklah… ikut saja dulu… nanti kalau ada apa – apa, bilang padaku..” seru Daiki lalu sambungan telepati itu terputus.

Yuya mengeluarkan sebuah biskuit bolu dan memberikannya pada Din, “Ayo makan…” ucapnya.

Din melahap habis biskuit itu karena ia memang sangat lapar.

Tak lama, sebuah bus datang. Yuya beranjak, “Jya kawaii neko!! Aku pergi dulu!!”

Din terkesiap dan tak rela pria itu meninggalkannya, di tengah hujan dan cuaca dingin serta tanpa ada makanan, sepertinya memang harus ikut dengan pria itu. Din ikut meloncat masuk ke dalam bis.

“Aduh… kenapa kau ikut naik?” seru Yuya bingung.

Din menatap Yuya lama, “Kumohon…” bisik Din dalam hati.

“Tapi.. tak bisa… aduh…”

Sampai di tempat kerja Yuya berusaha melarikan diri dari kucing itu. Namun alih – alih pergi, kucing itu malah terus membuntuti Yuya.

“Aduh… bagaimana ini?” Yuya lalu masuk ke toko, namun kucing itu juga ikut masuk.

“Kau tak boleh masuk… nanti aku dimarahi sama Takuya-san..” keluh Yuya, setelahnya ia mengeluarkan Din dari toko.

“Shoganai na.. aku akan menunggu di luar..” kata Din.

Ia tak tahu menunggu berapa lama, setelahnya tiba – tiba Yuya kembali keluar dari toko tersebut, “Arigatou Takuya-san… “ katanya sambil menunduk.

Din berdiri, rasanya pegal juga duduk berjam – jam.

“Are? Kau masih disini?!!” Yuya heran karena ini bukan kebiasaan seorang kucing jalanan.

Yuya menunduk, lalu mengangkat Din.

“Gomen na.. aku tak bisa membawamu… nanti Ibuku marah – marah…” kata Yuya.

“Aku gak bisa balik!! Gak bisa~” keluh Din.

Setelah Yuya menurunkan tubuh Din, kucing itu masih saja mengikuti Yuya.

“Kumohon… kumohon…” seru Din. Yang tetu saja di dnegar Yuya hanya suara kucing mengeong.

“Yappa~ kau kawaii sekali…” Yuya melihat mata kucing itu penuh harap padanya.

“Baiklah… ayo pulang…” Yuya menggendong tubuh Din, yang kini bentuknya kucing, “Aku akan membawamu malam ini saja ya…” bisik Yuya.

=============

Saifu berjalan pulang menyusuri jalan rumahnya, menghela nafas, kegiatan klubnya membuatnya benar benar lelah, dia ingin cepat cepat sampai rumah lalu tidur.

“Kyaaa~ kawaii..” Saifu melihat seekor anjing kecil yang dibawa pemiliknya, “Namanya siapa?” tanya Saifu pada sang pemilik.

“Namanya Maron-chan..”

“Halo Maron-chan…” sapa Saifu sambil membelai anjing tersebut.

Saifu sedikit kesal pada ibunya yang masih saja melarangnya memelihara seekor anjing, dia pikir toh hanya seekor anjing, mereka tak akan jatuh miskin atau langsung terkena wabah penyakit kan kalau hanya memelihara satu binatang?

“Jya!! Dadah Maron-chan!!” Saifu melambai pada anjing kecil itu, kembali berjalan menuju rumah.

Padahal sejak dulu Saifu sudah sering meminta pada ibunya, namun selalu di tolak dengan berbagai alasan, itulah mengapa Saifu sering membeli kalung untuk anjing tapi tak pernah bisa dia pakai. Sampai akhirnya dia menyerah saja dan tak pernah lagi membeli kalung untuk anjing. Dia pernah berniat membeli anjing walaupun tanpa persetujuan ibunya, namun begitu sampai toko hewan, Saifu hanya bisa merenggut karena harga anjing ternyata sangat mahal. Untuk ukuran kantong seorang siswi SMU biasa, tentu tidak terjangkau.

“Ah…capek..”,keluh Saifu sambil sedikit mengulet.

“Kaing..”,

Saifu seperti mendengar suara seekor anjing, Saifu mengedarkan pandangannya, beberapa meter di depannya seekoa anjing kumal dan sedikit basah duduk di tengah jalan sambil melihat kearahnya, terbersit di pikiran Saifu untuk membawa pulang anjing itu, tapi lupakan! Ibunya tak akan mengizinkan, tapi Saifu sungguh tak tega melihat anak anjing kecil itu. Saifu terus berjalan berusaha tak peduli dengan anak anjing itu, namun sepertinya anjing it uterus mengaing dengan nada sedih , membuat Saifu akhirnya berbalik lalu berjongkok menatap anjing itu.

“Anjing kecil..” Saifu mengangkat anjing kecil itu,lalu menatap anjing yang lumayan basah itu.

Saifu menatap pada mata anjing itu, anjing itu seolah mengatakan ingin dibawa pulang, seketika itu Saifu memeluk tubuh anjing itu.

“Hwaa..aku ingin memebawamu pulang,tapi okaa-san bilang tak boleh pelihara binatang..” rengek Saifu.

“Kumohon bawa aku…” Daiki sejak tadi kedinginan dan kelaparan, “kaing kaing,…” hanya suara itu yang bisa ia hasilkan.

Saifu merasa anjing itu seolah mengerti dengan perkataan Saifu, lalu menjilat pipi Saifu dengan lidahnya.Saifu berfikir sebentar.

“Aku akan bawa kau pulang..tapi janji, jangan berisik ya?ne ?” Saifu tersenyum sambil menatap anjing ditangannya.

“Kaing..”, jawab si anjing yang diartikan Saifu sebagai jawaban ‘Iya’.

Saifu tersenyum,lalu bangkit berdiri ,

“Nah..ayo pulang..”

“Din-chan Din-chan…” panggil Daiki lewat telepatinya ke Din.

“Ya kenapa Dai-chan?” jawab Din.

”Aku akan ikut seseorang, dia seorang gadis dan nampaknya baik” kata Daiki lewat telepatinya.

“Wakatta..kalau ada apa apa hubungi aku ya..”,kata Din.

“un…” Daiki berharap makanan terhidang di hadapannya sekarang, plus tubuhnya yang basah ini segera kering. Ia benci kena flu.

==========

“Tadaimaa…” seru Saifu buru buru,lalu langsung berlari ke kamarnya di lantai dua, dia tak mau anjing yang dia masukkan kedalam tasnya itu mati, karena sebelum tadi dimasukkannya ke tas, anjing itu dibalutnya dengan syal putihnya agar tak kedinginan.

“kaing..”

“Nah anjing kecil..ah tidak, hmm..namamu apa ya..”, Saifu Nampak berfikir

“Ah…bagaimana kalao Choko?habis warnamu coklat..ne?dou?kau suka?”, Saifu dengan bodohnya bertanya dengan anjing.

“Choco? Chocolate? No way~ namaku Daiki!!” serunya. Tentu saja gadis di hadapannya ini tak mengerti.

“Jangan menggonggong!! Nanti Ibu dengar!!” seru Saifu lagi.

“kaing..”

Saifu tersenyum,karena lagi lagi dia menganggap anjing itu setuju dengan perkataannya,

“Ah..kau kotor ya..” Saifu menatap anjing yang kini dipegangnya,

“Kalau begitu ayo mandi..” ajak Saifu.

Ia perlahan membawa anjing itu lalu turun ke bawah.

“Ibu… aku mau mandi dulu boleh tidaaakk??!!” seru Saifu.

“Eh? kenapa?” tanya Ibunya yang masih sibuk di dapur.

“Itu… badanku lengket… tadi kan habis klub..” jawabnya asal.

Ibu menatapnya sebentar, “Baiklah… sudah Ibu hangatkan kok ofuronya..”

“Haaaiii!!” Saifu segera masuk ke kamar mandi tak lupa membuka balutan syal yang ia bawa, berisikan anjing kecil tadi.

“Kita mandi ya anjing kecil”

Daiki tak mampu melukiskan apa yang ia lihat. Dosakah ia?

Tapi gadis ini yang mengajaknya mandi bersama kan? Semoga Dewa Cinta tak tahu akan hal ini.

“Segar yaa..” kata Saifu lalu mengeringkan badan anjing itu dengan handuk, dia mengambil hair dryer yag ditaruhnya dimeja riasnya, dia mencolok hair dryernya lalu mengarahkannya ke rambutnya yang basah.

Saifu terkekeh karena anjing itu menggoyang goyangkan badannya berusaha menghilangkan kadar air yang ada di bulu bulunya,

“Kukeringkan ya..” kata Saifu lalu mengarahkan hair dryernya ke tubuh anjing itu.

“Kimochii…” Daiki merasa sedikit lebih baik setelah mandi.

Setidaknya tubuhnya tak terasa lengket, tapi ia tetap tak sabar untuk kembali berubah wujud. Rasanya badannya kaku semua setelah seharian seperti ini.

“Panas ya?” Saifu menurunkan sedikit temperaturnya, lalu kembali mengarahkan ke bulu Daiki.

“Nah sudah kering, habis mandi segar kan?”,kata Saifu

“kaing kaing..” yang sebenarnya Diaki berkata, “Tentu saja!! Hahaha…”

Saifu tersenyum, “Sebentar..” Saifu beranjak lalu tampak mencari cari sesuatu di laci meja riasnya.

“Ah..ini..” Saifu mengambil kalung anjing berwarna coklat dengan bamdul bentuk anjing, “Bagaimana ini bagus?” kata – kata Saifu terhenti seketika, “KYAAAAAAAA!!!”

Saifu kaget karena kini yang ada dihadapannya adalah seorang pria manis dengan baju putih, tersenyum ke arahnya.

Saifu baru akan berteriak lagi ketika laki laki itu dengan sigap segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, “Shhttt..jangan teriak..” bisik laki laki itu, wajahnya sangat dekat dengan wajah Saifu itu yang kini menatapnya ketakutan.

“SAIFU!!MAKAN MALAM!!” seru ibu dari arah dapur.

“i..Iyaaa Bu!!” jawab Saifu takut – takut sambil tetap menatap awas pada laki – laki manis dihadapnnya itu. Lalu dengan merayap didinding Saifu lalu buru-buru membuka pintu kamarnya lalu turun ke ruang makan masih dengan perasaan bingung campur tak percaya.

=========

“Jangan berisik… kau harus diam jika mau selamat..” kata Yuya lalu masuk ke rumah dengan sedikit hati – hati.

“Tadaima!!” seru Yuya di depan pintu.

“Okaerinasai… “

Setelah itu Yuya langsung melesat ke kamarnya di lantai dua. Ia tak mau Ibunya, atau adiknya tahu ia membawa seekor kucing ke rumah.

Ibunya tak suka peliharaan apa saja. Sejak kecil mereka tak diperbolehkan punya binatang peliharaan, padahal Yuya senang sekali dengan binatang.

“Gomen na koneko chan…” Yuya mengeluarkan Din dari tasnya.

“Sabar ya… aku ambil makanan dulu…” kata Yuya lalu keluar dari kamar.

“Huwaaa!! Pegal sekali..” keluh Din.

Beberapa saat kemudian Yuya datang dengan semangkuk makanan berupa daging.

“Aku akan meninggalkanmu ya… aku akan makan malam… kau juga makan malam.. jadi anak baik ya..” Yuya kembali keluar setelahnya.

Din menatap mangkuk itu. Sepertinya berubah wujud tidak buruk juga. Ia segera merubah wujudnya menjadi manusia. Ia menoleh dan memang ternyata sayapnya sudah hilang entah kemana?

Ia menatap tubuhnya dan rasanya sedikit nyaman sudah kembali ke wujud asli, minus sayapnya tentu saja.

Setelah makan, ia menatap kamar Yuya yang cukup berantakan. Din mengedarkan pandangannya, “Oh… namanya Yuya..” gumam Din melihat beberapa buku yang tergeletak begitu saja di meja.

Tanpa Din sadari, pintu kamar terbuka.

“WAAAAAA!!!!??!!” Yuya berteriak kaget dengan apa yang di hadapannya.

Seorang gadis memakai baju terusan berwarna putih, tengah berada di kamarnya. Din berlari ke arah Yuya, menerjang tubuh Yuya dan menutup mulut pria itu, “Shhhhtt!!!”

Mata Yuya terbelalak melihat gadis yang kini berada di atas tubuhnya.

=======

TBC oh TBC~ hasil collab saia dengan anak tercinta…
douzo di komen di komen..hahaha~ 😛



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s