[Multichapter] Happiness (chapter 9)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Nine
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 9 ~

Malam sudah larut, awan tampak mendung sehingga tak satu pun bintang terlihat di langit.

Satoshi turun dari mobilnya, memarkirnya tepat di depan apartemen kumuh itu. Ia kembali memandangi surat yang sejak tadi ia genggam.

Sudah saatnya Saifu tahu.

Sudah saatnya ia benar – benar melindungi adiknya itu. Setelah Satoshi mendengar kabar dari panti asuhannya dahulu, bahwa Ibunya punya anak lagi, ia selalu berusaha mencari adiknya itu. Ia terus mencari dari satu tempat ke tempat lain. Hasilnya tak mengecewakan, kini ia tahu siapa adiknya, dengan bukti yang cukup kuat.

Saifu menyelimuti tubuhnya ketika ketukan di pintu terdengar. Ia langsung duduk tegak karena masih trauma dengan para pengganggunya tempo hari.

Ketukan itu kembali terdengar. Saifu beranjak dan berdoa semoga saja itu bukan orang aneh yang datang hampir tengah malam begini.

“Ohno-san?” seru Saifu kaget melihat Satoshi berdiri di depan pintu apartemennya.

“Saifu!” Satoshi memeluk Saifu erat.

“Anou… ada apa ini?” Saifu merasa kaget dengan reaksi Satoshi yang tiba – tiba.

Semuanya menjadi sangat jelas untuk Saifu ketika Satoshi menyerahkan sebuah surat beserta sebuah foto yang ia kenal sebagai ibunya. Ayahnya selalu membanggakan Ibunya itu. Walaupun ia tak pernah bertemu, karena Ibunya meninggal setelah melahirkan dirinya.

“Kau?” Saifu menengadah setelah membaca surat itu, matanya berkaca – kaca.

“Aku kakakmu…” Satoshi menyerahkan surat lain yang ia kumpulkan dari pengurus panti asuhan.

Ternyata selama ini Ibunya berkorespondensi dengan salah satu pengurus panti asuhan. Setelah bertahun – tahun ia berhasil menemukan Satoshi, namun Ibunya takut untuk mengambil putranya itu. Tekanan dari keluarga membuatnya membiarkan Satoshi di panti asuhan. Bukan karena ia tak peduli, tapi karena ia tak di izinkan. Ibunya juga takut, jika ia mencoba mengambil Satoshi, maka Satoshi akan kembali dipindahkan, itu berarti ia tak tahu lagi dimana harus mencari Satoshi.

“Kau benar – benar kakakku?” kini Saifu benar – benar menangis tak percaya.

Setelah kehilangan Ibu, lalu Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu yang menyebabkan ia harus tinggal dengan keluarga Ayahnya yang bahkan tak peduli dengannya. Hingga ia memutuskan untuk melarikan diri ke Tokyo. Kini ia benar – benar bertemu kakak kandungnya.

“Aku kakakmu Saifu Suzuki…” kata Satoshi lagi.

Saifu menghambur ke pelukan Satoshi, “Nii-chan…” bisiknya pelan. Ia merasa sangat bahagia dan lega.

Setidaknya, selama ini keluarganya masih ada, kakaknya mencarinya hingga kini ia bisa bertemu lagi dengan Satoshi.
=============

Opi mengerang pelan saat ia mendengar bunyi sesuatu. Ia mengabaikan suara itu dan terus tidur seolah ia sama sekali tidak terganggu. Tapi lama kelamaan suara itu ternyata mengganggunya juga. Walaupun ia tahu itu menganggunya, ia tetap tidak menghiraukan.

“Opi-chan, ponselmu berbunyi.”

Opi membuka matanya pelan saat ia mendengar adanya suara laki-laki di sampingnya, tepatnya laki-laki yang sedang mendekapnya. Gadis itu bangun dengan malas dan meraih ponselnya yang berada di atas meja.

“Moshi-moshi?” sahutnya.

“Opi? Kau baru bangun?” Laki-laki yang di seberang itu bertanya padanya.

“Oh..ternyata Dai-chan. Ada apa?” tanya Opi balik dengan malas karena ia merasa nyawanya belum terkumpul semua.

“Kau bilang ada apa? Bukankah kau akan mengantarku hari ini?” gerutu Daiki mengingatkan.

“Jam berapa sekarang?” gumam Opi pelan sambil mencari dimana jam dinding itu bertengger. Suaranya sangat pelan karena ia tidak mau Daiki mendengarnya dan mengira kalau ia lupa dengan janjinya, walaupun ia memang benar-benar lupa.

“Jam 10 pagi,” jawab laki-laki yang duduk di sampingnya.

Opi mengernyit. “Daiki Arioka, ini masih jam 10. Kau bilang kita akan pergi jam 11. Jangan berlebihan,” ujarnya kesal.

Terdengar Daiki terkekeh. “Aku hanya mengingatkan. Cepat mandi dan jangan membuatku menunggu,” perintah Daiki lalu memutuskan hubungan ponselnya.

Opi mendengus kesal. Sampai hari ini ia masih meragukan, apakah Daiki itu sahabatnya atau majikannya? Karena laki-laki itu senang sekali memerintahnya dan herannya ia menurut saja.

“Telepon dari Daiki?”

Opi menoleh dan mengerjapkan matanya. “Sakurai…..kun?”

Sho tersenyum. “Ya. Ini aku. Sho Sakurai,” katanya memperjelas.

“Astaga…” Opi berseru. Ia baru saja menyadari kalau tadi dia tidur bukan di kamarnya. Tapi dia berada di apartemen milik Sho Sakurai. Dan orang yang mendekapnya saat tidur, adalah laki-laki itu.

“Ada apa?” tanya Sho bingung.

Opi beranjak dari sofa tempat ia dan Sho tidur lalu membungkuk berkali-kali.

“Sumimasen…aku membuat masalah tadi malam. Sampai aku menginap di sini. Dan aku sudah merepotkan Sakurai-kun,” ucap Opi.

Sho kembali tersenyum. “Aku tidak merasa direpotkan. Aku justru sangat senang. Apalagi dengan yang sudah terjadi tadi malam.”

“Eh? Apa yang terjadi tadi malam?” Opi melihat pakaiannya dengan panik dan semuanya masih lengkap tidak kurang satupun.

Sho menahan tawanya. “Ohayou, Opi-chan!” Ia beranjak dari duduknya lalu mengecup puncak kepala Opi. Opi tidak bereaksi apapun. Ia hanya mengerjapkan matanya.

“Mau sarapan apa?” tanya Sho saat ia sudah di dapurnya hendak membuat sesuatu.

“Hmm…terserah Sakurai-kun,” jawab Opi gugup karena dirinya masih mencerna dengan apa yang dilakukan Sho tadi.

“Baiklah. Sekarang kau mandi. Aku akan menyiapkan sarapan.”

Opi menuruti apa yang disuruh oleh Sho dan ia kemudian masuk ke kamar mandi.

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Sho saat mereka menikmati sarapan masing-masing.

Opi berpikir sebentar. “Aku harus mengantar Daiki. Lalu…….”

“Lalu apa?”

“Aku akan ke rumah,” lanjut Opi pelan.

Sho menghentikan kegiatannya melahap roti lalu menatap Opi.

“Aku tidak mau pulang. Aku tidak mau bertemu An-chan.”

Sho tertegun. Ia sadar masalah gadis itu dan Kazunari tidak semudah yang ia pikirkan.

“Aku akan mengantarmu. Kita harus bertemu dengan Kazunari,” putus Sho.

“Untuk apa?” tanya Opi bingung.

“Untuk meminta apa yang ingin aku miliki,” jawab Sho.

“He? Maksud Sakurai-kun?” tanya Opi tidak mengerti.

“Hei…sampai kapan kau memanggilku Sakurai?” protes Sho.

Opi memiringkan kepalanya. “Bukankah aku memang selalu memanggilmu seperti itu?”

“Setelah apa yang terjadi tadi malam?”

“Yang terjadi tadi malam?” Opi terdengar kaget. “Apa maksudnya? Sakurai-kun mengatakannya seperti……” Opi bergumam sendiri.

Tadi malam memang terjadi hal yang diluar dugaannya. Tapi itu hanya pengungkapan perasaan Sho dan saat laki-laki itu menciumnya. Hanya itu saja. Dan Opi merasa kata-kata Sho seolah mereka sudah melakukan hal yang lebih dari itu.

“Jadi?” Sho bertanya pada Opi.

“Jadi apanya?” Opi kembali bertanya.

“Daisuki… Lalu kau?”

Opi menatap Sho. Ia sedikit bingung tapi mata Sho menunjukkan bahwa laki-laki itu sangat serius. Lalu bukankah ini yang ia inginkan? Sho Sakurai ternyata menyukainya. Ini lebih dari harapannya.

“Sama sekali tidak romantis,” dengus Opi sedikit kesal. “Demo…daisuki mo,Sho-kun ” lanjutnya membuat Sho tersenyum bahagia.

======

Kazunari berdiri di ambang pintu kamar Opi dan mendesah pelan. Tadi malam Opi tidak pulang setelah kejadian itu. Ia menebak mungkin adiknya itu menginap di rumah salah satu temannya. Ia memang mencemaskannya, tapi di situasi saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Kazunari lalu masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi yang menghadap meja. Wajahnya terlihat lesu karena pikirannya yang bercabang. Terlebih lagi tentang Opi. Tak berapa lama ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk.

“Ada apa, Masaki?” tanya Kazunari setelah menempelkan ponselnya di telinga.

“Opi sudah pulang?” tanya Aiba. Setelah kemarin ia tidak menemukan Opi dimana pun, ia menjadi ikut mencemaskannya.

“Belum. Kamarnya kosong. Dan tidak ada tanda Opi masuk ke kamarnya,” jelas Kazunari.

Lalu suasana menjadi hening. Baik Kazunari maupun Aiba tidak berbicara satu sama lain.

“Apa ini yang terbaik?” tanya Kazunari memecah keheningan.

“He?”

“Apa lebih baik dia membenciku agar aku melupakan perasaanku?” tanya Kazunari lagi.

“Dia tidak membencimu. Dia hanya belum bisa menerimanya. Ini pasti sangat mengejutkannya,” sahut Aiba mencoba berpikir positif.

Kazunari tidak menanggapi.

“Aku akan mencarinya lagi. Kau tidak usah khawatir,” ucap Aiba menenangkan. “Dan bersemangatlah.”

Kazunari tersenyum pendek. “Arigatou, Masaki.”

======

“Daiki, aku harap urusanmu itu penting. Kau sudah mengganggu tidurku,” sungut Opi kesal saat ia dan Daiki sedang berjalan.

“Aku yakin ini penting,” ujar Daiki mantap.

Opi mengangkat bahunya dan berharap yang Daiki katakan itu benar. Kalau tidak, ia bersumpah akan menghajar laki-laki di sampingnya itu.

Beberapa saat setelah itu, Daiki berhenti melangkah dan menatap ke arah sebuah toko yang ada di seberang jalan. Opi ikut berhenti melangkah dan menatap Daiki bingung.

“Ada apa?”

Daiki tidak menjawab. Pandangannya hanya fokus pada satu objek. Opi mengikuti arah pandang Daiki dan dia ternyata sedang menatap gadis yang sedang berjaga di depan sebuah café, mekai seragam pelayan.

“Ah….” seru Opi. “Ternyata kau menatap gadis itu? Genit juga kau sampai hanya dapat melihatnya dari jauh,” godanya sambil memukul pelan bahu Daiki.

“Dia pacarku,” ujar Daiki pelan.

Opi menoleh Daiki cepat. “Eh?”

“Dia pacarku sampai dua hari yang lalu. Kami sudah berpisah,” tambah Daiki tanpa mengalihkan pandangannya.

“Kenapa?”

Daiki kembali diam. Opi melihat dia tersenyum. Pandangan Opi kemudian beralih kepada gadis yang membagikan selebaran itu dan ternyata dia sudah melihat mereka. Terlihat gadis itu kaget sekali.

“Kau tunggu di sini,” suruh Daiki yang kemudian berjalan ke arah gadis itu.

Sepertinya mereka ada masalah karena gadis itu menolak untuk bertemu. Daiki mencoba menjelaskan sesuatu tapi Opi tidak tahu apa yang ingin temannya itu sampaikan. Beberapa kali Daiki menahan gadis itu dengan memegang tangannya, tapi terus ia tepis dan akhirnya ia pergi meninggalkan Daiki sendirian.

Opi tahu Daiki mempunyai pacar. Tapi ia tidak pernah berkenalan apalagi bertemu dengannya sampai hari ini. Daiki selalu menolak setiap ia ingin berkenalan dengan pacarnya. Opi tidak dapat memaksa temannya itu karena ia yakin Daiki mempunyai alasan. Tapi ia tidak mengerti kenapa saat ini Daiki malah mengajaknya untuk bertemu dengan pacarnya, tepatnya mantan pacarnya itu.

“Daiki..” panggil Opi saat ia menghampiri Daiki yang tidak juga beranjak dari tempat ia berdiri tadi.

“Ayo pergi,” Daiki berbalik dan pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Opi masih tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya dapat mengikuti kemana Daiki pergi dan berharap dia akan menjelaskan semuanya.

Opi hanya menatap tangannya. Saat ini ia dan Daiki sedang duduk di bangku yang memang disediakan di taman. Daiki sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan gadis itu serta apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu. Opi sedikit kaget dengan semua cerita laki-laki itu. Tapi ia tetap percaya pada Daiki.

“Jadi namanya Saifu Suzuki..” gumam Opi. Hanya kalimat itu saja yang bisa ia ucapkan.

Daiki mengangguk. “Bodohnya aku. Aku memang sudah bersalah karena memanfaatkan dia. Tapi sekarang aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan padanya. Aku tidak ingin kehilangan dia.”

Opi memeluk Daiki. Saat ini hatinya pasti sangat sakit.

“Aku mencintainya, Opi”, lanjut Daiki terisak.

Untuk pertama kalinya Opi melihat Daiki terpuruk seperti ini. Daiki yang biasanya menyiksanya untuk mengerjakan tugas kini seperti bayangan saja. Sesaat Opi teringat dengan Kazunari. Apakah ada rasa menyesal yang dirasakan oleh kakaknya itu? Tapi satu hal yang ia tahu, Kazunari pasti tersiksa dengan perasaan yang ia miliki untuknya, sama seperti Daiki terhadap Saifu.

======

Sho menatap ponselnya lama. Ia sedikit ragu untuk menghubungi orang yang akan ia telepon. Tapi ini harus cepat diselesaikan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi membuatnya sedikit tersentak.

“Moshi-moshi?” ujarnya begitu ia menempelkan ponselnya di telinga.

“Sho, ini Okaa-san.”

“Okaa-san? Doushite? Reina baik-baik saja kan?”

Reina sejak kemarin memang berada di rumah orang tuanya. Entah kenapa gadis kecil itu merindukan kakek dan neneknya.

“Dia baik-baik saja. Okaa-san menghubungimu karena ingin meminta izin untuk mengajak Reina pergi. Otou-san baru saja pulang dan dia rindu sekali dengan Reina,” jelas ibunya.

“Tentu saja. Memangnya mau kemana?”

“Otou-san mau mengajak Reina ke Hakodate.”

“Hakodate?” Sho sedikit kaget. Tidak heran kalau ayahnya senang melakukan perjalanan jauh. Tapi dengan mengajak Reina, ini untuk pertama kalinya.

“Sho, ini Otou-san. Hari ini kami mau pergi ke Hakodate,” seru ayahnya gembira.

Sho menyipitkan matanya. “Otou-san, jangan meracuni Reina dengan hobimu yang suka pergi jauh. Dia masih kecil,” kata Sho geram.

Ayahnya tertawa. “Hanya ke Hakodate. Ini pun hanya empat hari.”

Sho berpikir sebentar. “Baiklah. Tapi setelah empat hari, kalian harus pulang. Mengerti?”

“Papa, ini Reina. Reina mau jalan-jalan dengan Oji-chan…” Kini Reina yang berbicara dengan ceria.

“Ya. Reina jangan nakal nanti. Jangan membuat Oba-chan dan Oji-chan kerepotan.”

“Un~. Nanti Reina belikan oleh-oleh yang banyak buat Papa. Dadah Papa.”

Sho menutup flip ponselnya sambil tersenyum. Rasanya bahagia sekali mendengar Reina yang selalu ceria walaupun dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

Sho kembali menatap ponselnya. Tapi lagi-lagi bunyi ponselnya tanda ada panggilan masuk membuatnya kaget.

“Opi-chan? Doushite?” tanya Sho pada orang yang menghubunginya yang ternyata adalah Opi.

“Aku sekarang ada di apartemen Daiki. Mungkin sampai sore,” jelas Opi.

“Un~. Kalau begitu nanti aku jemput kau di sana.”

Sho kembali tersenyum pada ponselnya saat ia menutup flip ponsel. Hatinya saat ini sangat ringan. Bahagia. Ia tidak menyangka gadis itu sekarang sudah menjadi kekasihnya. Tapi rasanya akan jauh lebih ringan jika ia dapat menyelesaikan satu masalah lagi. Kazunari.

“Moshi-moshi?” ucapnya begitu hubungan tersambung di ponselnya. “Kazu? Ini aku Sho.”

Sho sedikit melirik Ninomiya Kazunari yang ada di sampingnya. Mereka sama-sama duduk di kursi bar yang menghadap bartender.

“Jadi Opi tadi malam ada di rumahmu?” tanya Kazunari setelah Sho menjelaskan tentang keberadaan Opi.

Sho mengangguk. “Aku membawanya karena aku melihat dia seperti orang yang depresi. Sebenarnya apa yang terjadi?”

Kazunari mendesah panjang. “Ini semua salahku. Aku sudah membohonginya,” ucap Kazunari terlihat tenang.

“Membohonginya?”

“Kau pasti akan kaget mendengarnya. Tapi kenyataannya, aku adalah kakak kandung Opi dan aku mencintainya.”

Sho terperanjat. Ia tidak mengira mengetahui hal mengejutkan seperti ini.

“Aku baru saja tahu beberapa hari yang lalu saat ibuku pulang. Ibuku yang mengatakannya sendiri kalau aku adalah anak kandungnya,” lanjut Kazunari.

Sho tidak merespon apapun. Ia menunggu Kazunari untuk melanjutkan ceritanya.

“Tapi aku sudah melakukan hal yang membuat Opi sangat kecewa.”

Sho tahu itu. Dan Kazunari sudah mencium Opi. Ia melakukan hal itu pada adiknya sendiri.

“Kazu, aku menyukai Opi,” ucap Sho tiba-tiba. “Aku sudah mengatakan padanya dan aku ingin kau tahu sebagai kakaknya dan sebagai rivalku.”

Kazunari menoleh pada Sho. “Lalu apa yang Opi katakan?”

“Aku rasa kau tahu jawabannya,” balas Sho lalu tersenyum.

Kazunari ikut tersenyum. “Walaupun kau sahabatku, tapi aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani menyakitinya,” ancamnya.

“Aku tidak akan melakukan hal itu.” Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama dengan Masaki, lanjut Sho dalam hatinya.

======

“Ohayou~” Din menatap Aiba yang baru saja keluar dari kamar.

“Kau sudah bangun?” Aiba heran namun menghampiri Din di dapur.

“Un~” Din mengangguk dan menyiapkan sarapan untuk Aiba.

“Kau tetap belum boleh bekerja keras… mengerti? Malam aku jemput…” kata – kata yang sama selama seminggu ini kerap Aiba katakan pada Din.

Din tersenyum, “Wakatta yo…” setidaknya, Din merasa Aiba lebih menghargai dirinya, bahkan ia berusaha selalu menjemput dan menelepon Din jika sempat.

“Pagi ini mau ku antar juga?” tanya Aiba lalu meminum susu yang Din sediakan.

Din menggeleng, “Tak usah… Jun menjemputku…”

Kalimat itu menghentikan gerakan Aiba. Sejak hari dimana Jun menyatakan bahwa ia menyukai Din, Aiba selalu merasa terganggu jika nama Jun disebut oleh Din. Ia tak tahu apa Jun sudah menyatakannya pada Din atau tidak, dan itu membuat posisinya sebagai pacar Din terancam. Apalagi Jun seharian bersama Din.

“Dinchan…” panggil Aiba pelan.

“Hmm?”

Aiba bergerak ke belakang Din dan memeluk Din, “Berlebihan tidak jika aku memintamu berhenti bekerja dengan Jun?” bisiknya lirih.

“Kenapa tiba – tiba?” tanya Din. Ia bisa merasakan nafas Aiba di tengkuknya.

“Aku hanya….” Kalimat Aiba terpotong, ia sebenarnya tak ingin jadi posesif begini, “Aku hanya tek rela…” tambahnya.

Din terdiam. Rencana ini memang sudah ia fikirkan. Ia memutuskan untuk meninggalkan Jun. Apapun konsekuensinya nanti, ia tahu seharusnya ia tak seperti ini. Rasanya seperti memanfaatkan kebaikan kedua pria ini.

Masa depannya dengan Aiba pun ia fikirkan kembali. Apa ia akan berhenti, atau tidak?

Ia masih belum mendapatkan jawaban untuk hal itu.

“Din..” suara Aiba membuyarkan lamunannya.

“Aku tak tahu Masaki-kun…” jawab Din pelan.

“Gomen…” Aiba melepaskan diri, “Sudahlah tak usah difikirkan… oke? Aku siap – siap dulu…” kata Aiba meninggalkan Din.

Aiba merutuki dirinya sendiri. Sikap kekanakannya bisa membebani Din.

Tak lama setelah Aiba ke kamar mandi, ponsel Din berdering tanda telepon masuk.

“Moshi – moshi?” angkat Din.

“Aku diluar… ayo berangkat..” suara Jun di seberang sana.

“Oke… aku ke bawah sekarang..”

Ia menutup flip ponselnya lalu berteriak ke arah kamar mandi, “Masaki-kun!! Aku duluan yaaa!! Bentou mu di meja makan!!” seru Din.

“Wakatta…” jawab Aiba pelan.

Din berlari menuju ke pintu setelah mengambil PDA, dan tas besar berisi baju milik Jun. Hari ini akan jadi hari yang cukup melelahkan karena mereka syuting outdoor.

“Ohayou!!” sapa Din setelah masuk ke mobil Jun.

“Ohayou… “ balas Jun.

Mobil itu melaju ke daerah pinggiran Tokyo. Baik Jun maupun Din merasa sedikit canggung karena setelah seminggu berselang, Din tak menunjukkan tanda – tanda memikirkan perasaan Jun.

“Hmmm… hari ini full syuting outdoor… tapi nanti malam kau harus ke stasiun TV X untuk wawancara film terbaru mu..” jelas Din masih melihat ke arah PDA yang ia pegang.

“Souka… wakatta manajer-san..” sambut Jun.

“Aku bukan manajermu…” protes Din.

“Asisten-san kalau begitu?”

Din menelan ludah, sebentar lagi bukan, batin Din dalam hati.

Sesampainya di lokasi Jun langsung ke ruang make-up. Din berjalan ke arah staff, akhirnya menemukan seseorang yang ia cari, Takeda, manajer Jun.

“Ohayou gozaimasu Takeda-san…” sapa Din.

“Yo! Dinchan! Duduk saja…” kata Takeda menyambut kedatangan Din, hari ini memang ia sengaja datang ke syuting pertama artisnya itu.

“Ini…” Din menyerahkan sebuah surat, tak lain adalah surat pengunduran dirinya.

“Kau sudah memikirkannya matang – matang Dinchan?” tanya Takeda.

Din mengangguk, “Aku yakin Takeda-san…”

“Baiklah… dampingi Jun hingga syuting film ini selesai, paling tidak sebulan ini. Setelahnya kau boleh benar – benar meninggalkan Jun. Selama itu, aku akan mencoba mencari penggantimu…” jelas Takeda memegang surat itu, sebenarnya sulit mencari asisten yang akan diterima oleh Jun, mengingat sifat Jun yang sangat pemilih.

“Wakatta… arigatou Takeda-san…” Din beranjak menunduk sekilas pada manajer itu.

“Kau bisa menghubungiku kapan saja kalau kau berubah pikiran..”

Din menghela nafas berat. Ini keputusannya, dan ia tak mau memikirkannya lagi. Otaknya sudah pusing selama seminggu ini terus memikirkan hal yang sama.

============

Satoshi kembali berkonsentrasi di depan laptopnya. Ia kembali mengerjakan semua tugasnya di rumah.

Keadaannya dengan Rei belum juga membaik. Ia ingin memberi tahu soal Saifu, tapi Rei sering sekali menghindar darinya. Bahkan beberapa kali ia coba bicara, yang ada Rei marah – marah.

Padahal hari ini ia berencana membawa Saifu ke rumah ini. Ia telah mengurusi beberapa hal sehingga adiknya itu bisa tinggal dengannya.

Bukannya ia tak mau meminta persetujuan Rei, tapi sulit sekali mengajak istrinya itu bicara. Sampai – sampai Hiroki juga bingung karena melihat kedua orang tuanya mengadakan perang dingin.

“Rei…” panggil Satoshi yang melihat Rei di dapur.

Siang ini tentu saja Hiroki masih ada di sekolah.

“Kita harus bicara…” kata Satoshi lagi karena Rei tak merespon dirinya.

Rei berbalik, ia menghela nafas namun akhirnya mengikuti Satoshi ke ruang tengah.

“Dengarkan aku… aku tak mengerti kenapa kau marah padaku saat aku tak tahu apa salahku?” ucap Satoshi cepat.

Rei diam, ia masih enggan menjawab suaminya itu.

“Rei… aku ingin memberi tahumu sesuatu..”

“Apa?” akhirnya ia mengeluarkan suara, ia takut. Rei begitu takut jika yang ia dengar adalah hal paling buruk dalam pernikahannya ini.

Ia tak siap. Selama ini ia diam untuk menutupi rasa sedihnya, ia ingin bertanya tapi tak mampu mendengar penjelasan yang akan keluar dari mulut Satoshi.

Selama ini juga ia ber asumsi gadis yang ia temui sore itu adalah seseorang yang baru untuk Satoshi, sikap Satoshi yang memberinya uang, memerhatikan kebutuhan gadis itu adalah sikap yang tidak biasa menurutnya.

“Seseorang akan tinggal disini… ia..”

“Siapa? Selingkuhanmu?” air mata Rei mengalir, ia melemparkan apron yang ia pakai dan berlari keluar.

“Rei!!” satoshi menyadari kesalahannya. Ia salah memulai penjelasan itu.

Rei berlari mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Din. Tapi ponsel Din sibuk, ia kalut dan memencet nomor yang selama ini sudah jarang ia hubungi.

“Moshi – moshi?” angkat orang di seberang.

“Sho… tolong aku… tolong aku…” isak tangis Rei semakin menjadi.

==========

Sore ini Saifu merasa sangat senang. Kakaknya bilang ia boleh pindah ke rumahnya. Bagaimana pun Saifu merasa kini dirinya lengkap. Ia punya kakak, dan membuatnya sangat bahagia.

Ia melirik ponselnya, lagi – lagi e-mail masuk dari Daiki. Pria itu belum juga menyerah untuk mendekatinya. Sebagian hatinya masih ingin bersama Daiki, tapi lukanya belum sembuh. Haga dirinya terlukai lebih dalam dari yang ia pikirkan.

“Fu-chan!” ternyata Daiki ada di depan sekolahnya.

Saifu mengacuhkan Daiki dan berbelok untuk berjalan pulang. Ia tak ingin Daiki mengejarnya terus.

“Fu-chan!! Kumohon!!” Daiki menarik tangan Saifu.

“Apa sih?! Sudahlah!! Tinggalkan aku!!” Saifu menghempaskan tangan Daiki.

“Tidak mau!” seru Daiki bersikeras dan kembali menarik tangan Saifu.

“Kubilang lepaskan!!” Saifu kambali mencoba melepaskan tangan Daiki.

Alih – alih melepaskan, Daiki mendorong tubuh Saifu hingga terpojok, punggung Saifu menyentuh keras tembok di belakangnya. Ia ingin memperjelas semuanya.

“Kau!! Apa – apaan ini?!!” bentak Saifu kaget.

“Dengar Fu-chan… aku serius… aku tak pernah seserius ini…”

Saifu tertegun, bibirnya seketika terkunci rapat.

“Aku ingin melindungimu… aku…” kata – kata ini terus terfikirkan olehnya beberapa hari ini, “Aku mencintaimu…” ucap Daiki.

Saifu mendorong pertahan Daiki yang paling kuat, yaitu tembok tinggi yang selama ini Daiki bangun agar dirinya tak pernah tersakiti oleh wanita mana pun. Gadis polos yang lebih muda darinya itu meruntuhkan semuanya.

“Jangan bercanda!! Aku tak bisa tahu mana yang benar dan salah?! Aku tak percaya padamu!!” seru Saifu lalu melepaskan diri dari Daiki, berlari meninggalkan Daiki.

“Aku serius… Fu-chan..” bisik Daiki.

Ia sudah hilang akal bagaimana caranya agar Saifu percaya padanya. Ia tak ingin kehilangan Saifu, bagaimanapun caranya.

=========

“Rei?” Sho memandang Rei yang duduk di hadapannya, di sebuah café.

Rei berlari keluar tanpa mantel, hanya memakai celana jeans dan kaos tipis saja. Beruntung Sho sedang istirahat sehingga bisa menemui Rei.

“Rei? Daijoubu?” tanya Sho sedikit bingung karena sejak tadi Rei hanya diam tak berkata apapun.

Sho beranjak duduk di sebelah Rei, ini memang kebiasaan Rei. Jika sedih, jika merasa depresi, ia akan diam dan sulit di tanyai hingga Rei sendiri yang memutuskan untuk membuka mulutnya dan mengatakan semuanya.

“Kau benar – benar tak mau menceritakannya?” tanya Sho lagi, menunduk menatap wajah Rei.

Tangis Rei mengalir, “Satoshi….”

Ia membiarkan Rei menangis di pelukannya sambil bercerita segalanya. Sho tak peduli beberapa orang melihat mereka dengan pandangan sedikit aneh.

“Baiklah… kau minum dulu..” kata Sho menyerahkan secangkir teh hangat pada Rei.

Sho beranjak, “Aku ke kamar mandi dulu..”

Satu orang yang harus tahu dimana Rei berada, ia harus menghubungi orang itu. Masalah ini harus diselesaikan atau segalanya akan menjadi tambah rumit.

“Moshi – moshi… Satoshi?”

Rei kini duduk di apartemen Sho. Sore ini Sho sengaja minta izin, dengan konsekuensi ia harus lembur malam ini.

“Sebentar..” kata Sho ketika mendengar bel rumahnya berbunyi.

Ia membuka pintu, “Satoshi…”

Wajah Satoshi khawatir, “Ia baik – baik saja?” tanyanya.

“Iya… masuklah…kau harus menjelaskan semuanya..” kata Sho.

Rei menoleh ketika melihat Satoshi masuk ke ruangan itu.

“Ngapain kau kesini?!” bentak Rei ketika Satoshi masuk dan duduk di hadapannya.

“Aku ke swalayan dulu… bicaralah dulu..” kata Sho lalu mengambil mantel dan kunci mobilnya.

“Rei… kau harus dengarkan aku dulu.. kau salah paham..”

“Apanya yang salah paham?!” mata Rei mendelik kesal.

“Saifu Suzuki itu adikku!! Ia adik kandungku yang selama ini aku cari… kau ingat aku pernah sekali menceritakannya padamu…” kata Satoshi cepat. Ia tak ingin Rei memotong pembicarannya lagi.

“Hah? Apa?” Rei kini memandang suaminya itu.

“Aku bersumpah… dia adikku..” Satoshi menyerahkan surat milik ibunya pada Rei.

Rei membaca sedikit demi sedikit. Ia merasa bodoh telah mencurigai suaminya secara berlebihan.

“Kenapa kau tak menceritakannya sejak lama?” tanya Rei kini menatap Satoshi.

“Aku ingin… tapi buktinya belum cukup, dan aku juga tak mau gegabah.. aku..”

“Aku ini istrimu Satoshi… bukan orang lain, harusnya kau menceritakan apapun padaku..” potong Rei kesal.

“Seperti kau tak menceritakan kalau kau dan Sho adalah mantan kekasih?”

“Hah?” mata Rei terbelalak kaget.

Dari mana Satoshi tahu?

“Sho menceritakan semuanya tempo hari…” jelas Satoshi, “Kita impas kan? Pulanglah Rei… jangan seperti ini… aku tak pernah menyalahkanmu karena beberapa waktu kau melarikan diri dengan mendatangi Sho,”

“Aku… itu… aku… tapi itu kan salahmu!” seru Rei, “Karena aku…”

“Sudahlah… Rei..”

“Karena aku cemburu..” ucap Rei pelan sekali, namun Satoshi dapat mendnegarnya dengan jelas.

“Maafkan aku… aku janji ini rahasiaku yang terakhir…”

Satoshi memeluk Rei, “Jangan kabur lagi… dan aku tak pernah menyesal menikahimu… ini adalah keputusan paling tepat yang pernah aku buat..” bisik Satoshi.

Ia ingin Rei tahu, ia tak mau semua kesalah pahaman ini membuat semuanya hancur.

=======

“Baiklah… semuanya sudah beres..” gumam Aiba lalu berdiri dari mejanya.

“Tolong bereskan sisanya!” teriak Aiba pada seorang pegawai magang.

Pegawai itu mengangguk, “Wakatta Aiba-san!”

“Oh iya Arioka-kun… jangan lupa kirimkan file ini pada atasan.. mengerti?” ia kembali berkata pada Daiki.

“Mengerti Aiba-san… kembali pulang cepat?” tanya Daiki.

Daiki perhatikan akhir – akhir ini Aiba jarang sekali pulang malam. Ia selalu menyerahkan pekerjaan detail pada Daiki. Ia sih merasa beruntung, karena dengan begitu ia bisa belajar lebih banyak lagi.

“Ya… saatnya aku memprioritaskan yang lain… lagipula dengan begini kau bisa lebih berkembang kan?” kata Aiba sambil membereskan barang – barangnya.

“Hai… arigatou Aiba-san..” kata Daiki sedikit menunduk pada Aiba.

“Kau tahu… cinta itu bisa mengubah seseorang lebih dari yang kau fikirkan..”

Daiki sepenuhnya setuju karena ia juga sedang merasakannya. Daiki mengangguk lalu mengambil alih laptop milik Aiba yang diserahkan pada Daiki.

“Baiklah.. aku pulang… otsukaresamadeshita..”

“Otsukaresama deshita Aiba-san!!”

Aiba menempelkan ponselnya sementara ia berjalan menuju mobilnya yang di parkir.

“Dinchan? Sudah akan pulang? Oh… di situ.. ok…”

Aiba menutup ponselnya. Melajukan mobilnya menuju sebuah stasiun TV yang Din sebutkan. Katanya syuting terakhir malam itu di stasiun TV itu, dan ia bisa pulang lebih awal karena Jun sudah tak membutuhkannya.

Din merapikan kembali baju milik Jun, “Baiklah… setelah ini kau tinggal pulang.. istirahat yang benar… besok jadwalmu lebih padat..” kata Din melipat baju lainnya.

“Wakatta..” Jun sedikit bingung dengan perubahan sikap Din akhir – akhir ini.

“Oh iya… ikut party tidak? Jin mengundangku..” kata Jun sambil masih merapikan rambutnya dengan berkaca.

“Hmmm.. tidak bisa Jun… aku di jemput Masaki-kun…”

Jun berhenti dan menatap Din, “Kau menghindari aku?” tanyanya tepat melihat ke mata Din.

Din menunduk risih, “Tidak Jun… sudahlah…”

“Kau ini sebenarnya kenapa? Ada yang salah?” tanya Jun mendekati kursi yang Din duduki dengan kursinya.

“Tidak ada… kumohon Jun… sudahlah..”

Jun menggenggam tangan Din, “Dinchan.. sudah kubilang aku akan menunggumu kan? Itu tak masalah bagiku… jadi jangan begini..”

Dengan canggung Din melepaskan tangan Jun, “Aku tak bisa Jun… aku tak bisa memilih..”

=========

Sedikit kerepotan Din turun menuju lobby. Ia sudah janjian dengan Aiba di bawah sana.

“Eh? Sakurai-san?” Din kaget karena ia melihat Sho di lobby juga.

“Sudah mau pulang?” tanya Sho melihat barang – barang yang Din bawa.

Din mengangguk, “Aku menunggu di jemput..”

“Souka… sayang sekali aku tak bisa lama – lama.. aku harus ke atas… sampai jumpa nanti Ikuta-san!” seru Sho lalu berbalik dan berlari menuju lift yang kebetulan sedang terbuka.

Sementara itu Aiba sudah tiba sejak tadi dan kaget ternyata Din kenal dengan Sho.

“Dinchan… kau kenal Sakurai Sho?” tanya Aiba pelan ketika mereka sudah berada di dalam mobil Aiba.

“Kenal… dia kan newscaster.. masa kau tak kenal?”

Bukan itu, batin Aiba. Semuanya kembali teringat olehnya, kesalahannya enam tahun lalu yang tak pernah Din tahu.

-Flashback-

Aiba menatap sejenak Yui yang duduk gelisah di hadapannya. Gadis itu berkali – kali meminum air mineral di hadapannya.

“Ada apa Yui-chan?” tanya Aiba.

“Itu… aku… aku hamil..” suara Yui tercekat, wajahnya pucat.

Aiba kaget setengah mati. Ia tak pernah membayangkan Yui hamil anaknya. Sejenak Aiba terdiam tak mampu bersuara.

Sudah dua tahun ia berpacaran dengan Yui, tapi tak pernah terifkirkan ia akan membuat Yui hamil. Ia tak siap. Ia masih muda dan tak mungkin menjadi ayah, apalagi menikahi Yui.

“Aiba-kun…” panggil Yui yang bingung.

Aiba menatap Yui, “Aku… aku tak tahu harus bagaimana..” bisik Aiba pelan.

“Yui-chan… apa tak mungkin kita gugurkan saja kandunganmu itu?” tanya Aiba akhirnya.

Yui terlihat kaget, “Tapi Aiba-kun…”

“Aku tak sanggup..maksudku…” Aiba berusaha mencari kata – kata yang tepat, “Kita masih terlalu muda Yui…”

Beberapa minggu setelahnya Aiba mencoba mencari cara. Ia bingung, hidupnya saja belum stabil setelah keluar dari rumah orang tua angkatnya, tak mungkin sekarang juga ia menikahi Yui.

Setelah itu, Yui kembali meminta bertemu dengan Aiba.

“Aiba-kun… kau tak usah khawatir.. aku sudah menyelesaikan masalahmu.. semuanya sudah selesai..” kata Yui.

“Maksudmu Yui?”

“Tapi… aku ingin kita putus…” wajah sedih Yui terlihat, namun Aiba tak bisa berkata apa – apa.

“Yui-chan…”

“Jangan menghubungiku lagi… semuanya sudah selesai..”

-Flashback end-

Sakurai Yui, mantan pacarnya dan orang yang ia lihat tadi adalah Sakurai Sho, kakak dari Yui. Dulunya adalah sahabatnya, tapi Sho secara mengejutkan tak pernah lagi berhubungan dengannya.

Aiba tahu mungkin Yui sudah menceritakan bahwa ia mengugurkan kandungannya demi Aiba. Dan kakak manapun di dunia ini pasti marah mendengarnya. Ia ingin sekali kembali bertemu Yui, untuk kata maaf yang belum sempat ia katakan pada gadis itu.

“Masaki-kun? Kau baik – baik saja?” Din heran karena sejak tadi Aiba tak juga beranjak dari tempat parkir.

“Iya.. aku… baik – baik saja..” jawab Aiba sedikit kaget dengan suara Din.

‘Apa yang kau lakukan selama enam tahun ini Aiba Masaki?’ tanya Aiba pada dirinya sendiri. Tanpa ia jawab pun ia tahu jawabannya, melarikan diri.

===========

“Aku mau pulang,” ucap Opi pada Sho saat ia berada di dalam mobil milik Sho.

“Kau yakin?” tanya Sho.

Opi mengangguk. “Tapi Sho-kun harus menemaniku.”

Sho lalu tersenyum dan menyentuh kepala Opi dengan lembut. “Tentu saja. Aku akan menemanimu.”

Begitu mereka sampai di depan rumah Opi, gadis itu diam sejenak tidak langsung masuk ke dalam rumah.

“Doushite?” tanya Sho.

“Aku takut.”

Sho memegang kedua bahu Opi seolah memberi kekuatan pada gadis itu. “Daijoubu. Aku ada bersamamu.”

Opi mengangguk yakin. Saat ia akan menarik handle pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dan muncul Kazunari dari balik pintu itu membuat Opi tersentak kaget.

“An-chan?” gumam Opi terbelalak.

“Kenapa lama sekali? Makanan sudah siap sejak tadi. Cepat masuk dan kita makan bersama. Tentu saja kau juga harus ikut, Sho-chan.” Ocehan Kazunari membuat Opi mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan kakaknya itu.

“An-chan? Kenapa?”

Kazunari tersenyum. “Lebih baik kita lupakan apa yang terjadi kemarin. Kita hanya hidup berdua di sini. Tidak seharusnya kita membuat masalah. Kau adikku satu-satunya. Dan aku tidak mau kehilangan keluargaku,” jelas Kazunari pelan. “Dan maafkan aku sudah melakukan hal yang membuatmu kecewa,” lanjutnya dengan kepala tertunduk.

Tanpa berpikir lagi, Opi melingkarkan kedua lengannya di pinggang Kazunari dan memeluknya erat.

“Maafkan aku juga. Aku tidak benar-benar membenci An-chan. Aku tidak pernah membenci An-chan. Dan aku menyesal sudah mengatakan hal yang buruk,” balas Opi sedikit terisak.

Kazunari membalas memeluk Opi sebentar lalu mendorong bahunya sehingga ia dapat menatap mata adiknya.

“Kenapa kau menangis? Kau pasti merindukanku kan?” tebak Kazunari asal sambil menghapus air mata Opi yang mengalir melewati pipinya.

Opi cemberut. “Tentu saja. Aku tidak pernah jauh dari rumah dan An-chan sebelumnya walaupun hanya sehari.”

Kazunari tertawa. “Baiklah. Lebih baik kita masuk. Kau juga Sho. Dan kalian harus menceritakan padaku apa yang sudah aku lewatkan tentang kalian.”

Suasana makan malam bersama Kazunari dan Sho membuat Opi sangat senang. Dan kakaknya itu sudah tahu tentang hubungannya dan Sho. Dan yang sangat mengejutkan, Kazunari merestui hubungan mereka padahal sebelumnya Kazunari melarangnya untuk bertemu dengan Sho. Tapi walaupun begitu, ia merasa Kazunari sering melamun bahkan saat ditengah-tengah mereka makan.

Ia tahu kakaknya sudah meminta untuk melupakan apa yang terjadi kemarin. Tapi bagaimana dengan perasaan Kazunari padanya?

“An-chan..” panggil Opi saat Kazunari sedang mencuci peralatan makan.

“Hmm?”

“Besok An-chan sibuk?” tanya Opi.

Kazunari menggeleng. “Sepertinya tidak. Ada apa?”

“Besok aku ingin pergi bersama An-chan. Kemanapun. Ke tempat yang An-chan sukai,” jawab Opi.

Kazunari memutar kran air agar air berhenti mengalir lalu menatap Opi bingung. “Sebenarnya ada apa?”

“Kita memang sebaiknya melupakan apa yang terjadi kemarin. Aku bisa melakukannya. Tapi bagaimana dengan perasaan An-chan?”

Kazunari menatap Opi. “Aku sudah melupakannya,” gumamnya pelan.

“Usotsuki..” ucap Opi cepat. “Apa dengan semudah itu?”

Kazunari diam. Ia memang tidak dapat melupakan perasaannya walaupun ia sangat ingin melakukannya. Tapi ia berjanji akan melupakannya dan pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Aku akan melakukan apapun agar An-chan bahagia. Apapun yang ingin An-chan lakukan,” ucap Opi lagi. “Dan aku sedang tidak bercanda.”

Kazunari menatap mata coklat itu dan sepertinya adiknya tidak bercanda. Ia bersungguh-sungguh.

“Baiklah kalau memang itu keinginanmu.” Kazunari membuka mulut. “Dan kita lupakan semuanya. Hanya untuk besok.”

Opi mengerti apa yang dimaksud Kazunari. Ia ingin melupakan kenyataan bahwa mereka adalah kakak-adik walaupun hanya satu hari. Ini memang terdengar gila. Tapi demi kebahagiaan kakaknya, ia akan melakukan apapun.

Opi mengangguk mantap dan berharap ia tidak akan menyesali keputusannya.

=========

TBC oh To Be Continued~

Yeaaaahhhh!!!!
Hahahaha… 😛
Maap kalau sedikit mengecewakan ceritanya, tapi tetap COMMENTS ARE LOVE~ XP



Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chapter 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s