[Oneshot] Between You and Her

Title    : Between You and Her
Author    : Dinchan Tegoshi
Type      : Oneshot, SongFic
Song     : Precious One by. KAT-TUN
Genre    : Romance *yeah~ here we go again*
Ratting    : PG – 13
Fandom: JE
Starring    : Aioka Daiki (HSJ), Ikuta Din (OC), Suzuki Saifu (Fukuzawa Saya’s OC), Tegoshi Yuya (NEWS), dll…
Disclaimer : I don’t own all character here. Arioka Daiki and Tegoshi Yuya are belongs to Johnnys & Association. Ikuta Din is my OC, and Suzuki Saifu is Fukuzawa Saya’s OC. Entah kenapa jadi bikin cerita kayak gini…btw, saia agak – agak ngarang soal penyakitnya… tapi…  it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Between You and Her

Apartemen murah yang kehilangan cahaya malam ini. Gadis itu lupa membayar tagihan listrik bulan ini. Sang pria yang duduk di sebelahnya hanya mencoba menghibur gadis itu. Ia tak tahu harus berkata apa, melihat gadis itu berlumuran darah sore itu.

Gadis itu seperti gadis lain. Punya kepribadian yang cukup menarik jika baru saja bertemu. Tapi, dia punya kebiasaan buruk, dan hal itu yang menyebabkan pria di sebelahnya tak bisa meninggalkannya begitu saja.

“Gomen… gomen Dai-chan..” seru gadis itu masih juga menangis sejak tadi.

Daiki menoleh, membelai lembut kepala gadis itu, “Sudahlah Dinchan… besok biar aku yang bayar, dan kau tak salah apa – apa…” jawabnya.

“Aku salah…aku harus di hukum… aku salah…” tangis Din terus mengalir tanpa henti.

Daiki merasakan kaos yang ia kenakan basah oleh air mata Din.

“Kau tak salah… sekarang tidurlah…” Daiki menyelimuti Din yang berada di pelukannya.

Tak lama berselang, Din tertidur pulas, mungkin karena kecapekan menangis sepanjang sore ini. Daiki melepaskan diri dan mengambil bir dingin di kulkas. Ia memandang wajah Din yang tertidur. Gadis itu memang penyelamatnya, ia sempat terkatung – katung di jalanan selama beberapa minggu hingga Din menemukannya. Ia sudah hampir mati ketika Din membawanya ke apartemen. Memberinya makanan layak dan tempat tinggal. Sejak saat itu Daiki bertahan di tempat milik Din.

Belakangan Daiki juga sudah menemukan pekerjaan, kuliahnya juga masih jalan hingga hari ini. Smeuanya berkat Din. Satu alasan kenapa ia tak bisa meninggalkan gadis itu. Selain itu, Din mulai berulah lagi. Ia tak pernah tahu Din mengidap semacam syndrom menyakiti diri sendiri. Ia merasa bersalah, maka ia akan menyakiti dirinya sendiri.

Daiki tak mungkin meninggalkannya, ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri.

Time goes by, we have so many meetings and partings
Here I am, relying on someone’s kindness, I lost sight of something

Pagi itu Din bangun dan merasakan tangannya sedikit kram. Ternyata tangannya sudah dibalut oleh perban baru oleh Daiki.

“Ohayou…” sapa Daiki yang berdiri di dapur, menyiapkan sarapan.

“Ohayou… aku kenapa?” tanya Din bingung dengan keadaannya sendiri.

“Tidak apa – apa.. sekarang siap – siaplah,” katanya tanpa menoleh melihat Din.

“Sou ne… aku siap – siap dulu…” kata Din sambil mengangkat tubuhnya ke kamar mandi.

Daiki menghela nafas berat. Satu lagi, Din tak pernah sadar apa yang ia perbuat setelahnya. Itulah mengapa Din selalu menolak dibawa ke dokter.

“Dai-chan… tanganku kenapa?” tanya Din sambil menghampiri Daiki yang menyimpan sarapan mereka di meja makan.

Daiki tak menjawab, berapa kali pun ia menjawab, Din tak pernah percaya dan itu membuatnya lelah harus terus menjelaskan, atau kadang berbohong.

“Apa aku melakukan hal aneh lagi?” tanya Din lagi.

“Sudahlah… makan sarapanmu… aku pulang malam, mulai hari ini aku mulai bekerja di studio foto..” jelas Daiki sambil tersenyum pada Din.

“Omedetou ne.. Dai-chan… “ Din juga balas tersenyum pada Daiki.

Daiki mengangguk. Setelah sarapan keduanya berangkat. Din ke kantornya, Daiki menuju kampus tempat dia kuliah.

Sudah setahun ini Din bekerja sebagai magang di sebuah perusahaan fashion. Ia masih jadi pegawai magang, dan belum diangkat sebagai pegawai tetap. Setelah lulus kuliah, ia berhenti meminta uang dari kedua orang tuanya yang tinggal jauh di luar kota. Sebagai gantinya ia harus bekerja.

“Diantar pacar lagi ya?” tanya seseorang membuyarkan lamunan Din.

Din tersenyum, “Ya… begitulah… kau sendiri belum punya pacar, Opi-chan?” tanya Din pada rekan kerjanya itu.

“Maa.. ne… mungkin aku harus punya satu ya… biar bisa diantar juga.. hehehe..” Opi tertawa kecil lalu meninggalkan Din.

Ia ingat dengan perbannya, seketika ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengan lengannya itu. Kenapa terasa perih dan Daiki membalutnya dengan perban? Ia merasa sedikit pusing hingga ia memakan sebuah obat, “Dame da yo…hufft” keluh Din.

What do you think of now, all alone at night as you count the seasons past?

“Ohayou Fu-chan…” sapa Daiki.

“Eh?! Dai-chan! Ohayou~” seru Saifu menoleh dari buku yang sedang ia baca.

“Sudah baca pagi – pagi begini?” tanya Daiki menarik buku itu dan membaca judulnya, sebuah buku tentang fotografi, lagi.

“Sore ini aku mulai bekerja… arigatou na Fu-chan… berkat kamu, aku bisa bekerja disana,” kata Daiki.

Memang pekerjaannya itu di dapat atas rekomendasi Saifu yang juga sudah bekerja disitu selama enam bulan.

“Un! Sama – sama… habis Dai-chan mengeluh terus ingin pekerjaan..” kata Saifu.

Daiki tersenyum, “Sou ne… nanti ku traktir deh..”

“Yay! Arigatou senpai…” jawab Saifu tersenyum lembut pada Daiki.

Saifu Suzuki, gadis yang lebih muda dari Daiki itu memang adik kelasnya. Tapi karena Daiki sempat tak kuliah hampir dua semester, kini ia mengulang dan sekelas dengan Saifu.

“Jangan panggil aku seperti itu…” protes Daiki.

“Hhehe…” Saifu terkekeh pelan, lalu kembali membaca bukunya.

Senyum itu, senyum Saifu yang selalu Daiki suka. Ia tak mau mengakuinya, terlalu sulit untuknya saat ini. Ia sulit mengatakannya, ia jatuh cinta pada Saifu. Tapi ia tak bisa egois, Din terlalu membutuhkannya.

Sometime, sometimes the loneliness overwhelms my heart

“Yo! Kau sudah pulang?” seorang pria dengan jas dan bunga mawar warna pink menyapa Din di luar kantor.

Din mengacuhkannya lalu berjalan menjauh dari laki – laki tersebut.

Pria itu menahan lengan Din, “Kau masih tak mau bicara denganku?”

“Tidak, dan tak akan pernah mau lagi…”

“Kenapa?” pria itu menuntut penjelasan lebih, sejak lima tahun lalu ia meninggalkan Din.

“Karena aku menyesal pernah mencintaimu!” Din menghempaskan tangan pria itu dan berlari menjauh.

Halte itu tampak lengang. Din duduk sendirian menunggu bisa datang. Daiki tak menjemputnya, ia harus pulang sendirian mulai sore ini.

Teringat kembali olehnya sosok pria tadi. Mantan kekasihnya yang dulu sangat ia cintai, Tegoshi Yuya. Ia memang menyesal bertemu dengan Yuya lagi. Ia tak mau lagi mengingat sakit hatinya dulu, ketika Yuya mengkhianatinya dengan orang lain.

Tapi setahun lalu ia kembali, meminta maaf padanya, datang setiap hari memintanya untuk bisa bersama kembali. Lukanya lima tahun lalu ternyata masih membekas, belum juga sembuh.

Din mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Daiki lewat e-mail.

To : Dai-chan
Subject : (no subject)
Kau sedang apa?
Pulang cepat ya~ aku akan memasak untukmu…

Tak lama balasan datang.

From : Dai-chan
Subject : re: (no subject)
Aku sedang kerja Dinchan~
Baiklah.. tapi jangan kecapekan ya..
🙂

Din merasa sedikit lebih baik, lalu pulang ke apartemennya bersama Daiki. Ia pun memasak seperti janjinya kepada Daiki.

I don’t want to be all alone, it’s so bittersweet

Daiki menyimpan file terakhir yang harus ia bereskan hari itu. Sedikit menggeliat karena pegal di punggungnya menjalar hingga lengannya. Sudah lama ia tak berdiri selama itu, sehingga membuat otot kakinya juga terasa kaku.

“Dai-chan… sudah selesai?” tanya Saifu yang melihat hasil kerja di hari pertama Daiki.

“Un!” Daiki menoleh dan mengangguk pada Saifu, “Ayo pulang!” ajak Daiki.

Menyusuri jalan setapak menuju halte memang menyenangkan jika dibagi berdua. Terutama bagi Daiki saat ini. Tanpa ada yang tahu, sebenarnya diam – diam Saifu juga menyukai Daiki. Tapi, ia tak berani mengungkapkannya. Baginya sistem lama antara wanita dan pria masih berlaku, dimana ia hanya akan menunggu pria itu mendatangi dirinya, bukan sebaliknya. Bagi Saifu, Daiki adalah kakak kelas yang ia kagumi, selain itu Daiki juga baik padanya, terkadang sangat perhatian.

Tak terasa bus yang mereka tumpangi sampai di tujuan Saifu.

“Eh? kok Dai-chan ikut turun?” tanya Saifu kaget.

“Sudah malam.. tak baik kau jalan sendirian… biar kuantar,”

“Tapi…”

Daiki cuek dan menarik tangan Saifu turun dari bus.

Berjalan berdampingan lagi, membuat Saifu selalu salah tingkah. Malam yang cukup dingin sehingga keduanya berjalan berdekatan, membuat gesekan di bahu satu sama lain.

“Dai-chan…” panggil Saifu pelan.

“Ya?”

“Arigatou,” bisik Saifu.

“Tak masalah… aku tak tenang jika kau jalan sendirian…” jelas Daiki.

Saifu mengangguk – angguk mengerti.

“Nah…sudah sampai… sudah kubilang rumahku dekat kan?” seru Saifu ketika sampai di depan sebuah gedung apartemen.

“Kau tinggal sendirian?” tanya Daiki memandangi gedung itu.

Saifu menggeleng, “Aku tinggal dengan Ibuku..” jawabnya.

“Hmmm… ya sudah.. oyasumi..” Daiki tersenyum dan melambai pada Saifu.

“Anou!” panggil Saifu pada Daiki yang hendak menjauh, membuat Daiki menoleh kembali pada Saifu, “Arigatou!!”

Daiki mengangguk dan meninggalkan tempat itu. Hatinya tak pernah seringan ini sebelumnya. Ia ingin sekali memiliki Saifu, tapi separuh dari dirinya juga tak bisa meninggalkan Din.

One day, one day you’ll fine your precious one
If you look up at the sky, there’s a single shining star

“Tadaima…” Daiki melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

“Okaeri!” jawab Din dari dalam.

Din segera menghampiri Daiki, lalu mengambil tas serta jaket yang Daiki kenakan.

“Ayo makan… sudha hampir dingin loh..” kata Din tersenyum.

Daiki tahu. Radarnya tak pernah salah, setelah tiga tahun tinggal bersama, tentu Daiki bisa melihat perubahan Din sekecil apapun. Senyum itu ganjil, seperti biasa jika Din sedang kambuh. Ia tak mengerti kenapa serangan kambuh itu akhir – akhir ini datang lebih sering dari biasanya.

“Dinchan… daijoubu?” tanya Daiki sambil mengikuti Din ke dapur.

Din mengagguk, “Aku baik – baik saja…”

Daiki duduk, setelah itu Din menyiapkan makanan untuk Daiki. Curry Rice buatan Din memang selalu enak, begitu pikir Daiki ketika mulai makan.

“Dou? Enak?” tanya Din penasaran.

“Un! Enak sekali… seperti biasa…” jawab Daiki lalu tersenyum.

Din pun menyuapkan makanannya, sedetik kemudian ia melemparkan piring itu.

“Ini rasanya tanah… tanah…” seru Din dengan mata terbelalak.

Daiki berdiri karena kaget, “Tidak… ini rasa kari terenak…” Daiki menghampiri Din yang kini menangis.

“Kau bohong!! Jangan bohongi aku!!” Din berlari ke dapur, dan menjatuhkan panci berisi penuh kari.

“Dinchan!! Tenang!! Dinchan!!” Daiki meraih tangan Din yang melepuh karena panci itu ternyata masih panas, lalu menyiramnya dengan air kran.

Dengan kasar Din memukuli dada Daiki, menangis pilu, “Din!!” Daiki memeluk Din mencoba menenangkan gadis yang sedang ngamuk itu.

“Aku kenapa?! Aku kenapa?! Beritahu aku… kenapa aku selalu bodoh dan tak berguna?!!” serunya lagi.

Lama kelamaan pukulan Din melemah, badannya lemas dan bertumpu pada badan Daiki.

“Kumohon Din…” air mata Daiki mengalir, ia tak sanggup terus melihat Din seperti ini.

Tell me why, why do we long for love like this?

“Genki jyanai no?” tanya Saifu mengagetkan Daiki yang terdiam di meja kantin.

“Hmmm… genki..” jawab Daiki lalu mengaduk pelan kopi di hadapannya.

“Akhir – akhir ini kau lebih sering melamun. Ada masalah?” tanya Saifu yang ikut duduk disitu.

Daiki menggeleng, Saif memang belum tahu soal Din, “Tidak ada apa – apa… mungkin aku sedikit capek saja..” elaknya.

“Sou ne…” Saifu curiga sebenarnya, beberapa minggu ini Daiki memang terlihat lebih lelah dari biasanya. Padahal kuliah mereka sama, kerja pun bersama, ia menebak – nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Daiki.

“Fu-chaaann!!” seorang laki – laki seumuran Saifu datang menghampiri meja yang mereka tempati.

“Ada apa Ryutaro-kun?” tanya Saifu yang heran melihat temannya itu berlari – lari.

“Aku itu… aku…” Ryutaro tampak kehabisan nafas karena berlari – lari, “Aku dapat tempat bagus untuk memotret!” akhirnya ia berhasil mengeluarkan kata – kata itu.

“Hontou?!” mata Saifu berbinar mendengarnya.

Ryutaro mengangguk, “Besok sore aku jemput ya… soalnya perjalanannya agak jauh..” jelasnya lagi.

Saifu mengangguk, “Un! Wakatta!!”

“Jya! Nanti ku telepon!! Aku ada kelas!!” serunya lagi lalu melambai menjauh dari Daiki dan Saifu.

“Waaa… ureshii..” gumam Saifu senang.

Daiki mendelik melihat Saifu, “Siapa dia?”

“Itu… dia temanku di klub fotografi… karena kubilang aku ingin memotret  tempat yang indah… jadi dia mencarikan tempat,” jelas Saifu lagi.

Daiki mengangguk walaupun ia agak curiga pada Ryutaro.

“Jya! Aku ke perpus dulu ya Dai-chan…” seru Saifu sambil beranjak dari tempat itu.

Ia ingin sekali mencegah Saifu, tapi satu hal, dia bukan siapa – siapa Saifu.

Ahh… The starry sky is honest, decorating the night with its tender sparkling

Hari libur yang tenang. Kerjaan Din hari ini hanya menonton dan tidur, melemparkan tubuhnya di sofa sambil mencari channel yang menarik. Daiki sudah berangkat sejak tadi pagi, katanya ada kuliah tambahan.

“Ah! Aku akan memasak untuk Dai-chan..” gumam Din lalu beralih ke dapur.

Kulkas mereka kosong. Sudah beberapa hari ini ia memang tak belanja kebutuhan apapun.

“Shoganai… aku belanja saja..” gumam Din lagi.

Ia memutuskan untuk pergi ke swalayan terdekat.

Sementara itu Daiki sudah selesai kuliah. Ia terus menerus mencari sosok Saifu yang sejak siang tadi tak terlihat batang hidungnya. Berarti ia benar – benar akan pergi dengan pria bernama Ryutaro yang mengajaknya kemarin. Hingga mengorbankan kuliahnya.

Ia berusaha tak peduli, tapi sebenarnya sejak tadi selain memutar kepala tiap pintu terbuka atau menoleh mencari sosok Saifu di kelas. Ia juga tak putus – putusnya mencoba mengirim e-mail pada Saifu. Hasilnya nihil. Saifu sama sekali tak menjawabnya.

Setelah kelas selesai, ia segera menelepon Saifu.

“Moshi – moshi?” angkat Saifu di seberang sana.

“Kau dimana?” tanya Daiki langsung.

“Hmmm.. aku di stasiun… lima belas menit lagi kereta ku datang… kenapa?” Saifu terdengar biasa saja.

Ia menutup ponselnya dan berlari ke arah stasiun. Otaknya kosong, hanya dipenuhi keinginan untuk bertemu Saifu saat itu juga. Entah kenapa ia begitu memaksakan kehendaknya saat ini. Tapi, untuk Daiki saat ini, yang penting adalah ia bisa mencegah Saifu pergi dengan Ryutaro.

“Fu-chan!!” Daiki berhasil sampai di stasiun tepat satu menit sebelum kereta datang.

Saifu dan Ryutaro yang sedang menunggu kereta pun kaget melihat Daiki. Saifu berdiri dan menghampiri Daiki yang tertunduk seakan kehabisan nafas.

“Yokatta… Mani atta…” ucapnya di tengah nafasnya yang memburu.

“Ada apa?” tanya Saifu bingung.

Tak lama terdengar pengumuman bahwa kereta sudah datang.

“Ayo Fu-chan…” ajak Ryutaro yang kini berdiri hendak bersiap – siap.

Saifu menoleh, tapi fokusnya masih tetap pada Daiki yang tersengal di hadapannya.

“Jangan pergi!” Daiki kini berkata tegas dan langsung menatap mata Saifu.

“Hah?”

“Jangan pergi! Kumohon….” Ucapnya lagi.

Saifu menoleh, kereta datang dan pintu terbuka. Ryutaro berjalan menuju kereta sambil masih memanggil Saifu untuk naik.

“Anou… Dai-chan… tapi…”

Daiki menarik Saifu ke dalam dekapannya, “Onegai…”

Saifu terdiam sejenak lalu berteriak, “Gomen Ryutaro-kun!!”

Ryutaro tak menajwab, tapi lalu tersenyum dan duduk di kereta tanpa menoleh lagi.

“Dai-chan…” ucap Saifu lirih.

“Sukida… “ Daiki masih memeluk tubuh Saifu, membisikkan kata itu tepat di telinga Saifu.

Saifu begitu bahagia. Ternyata salama ini perasaannya tidak sepihak saja. Daiki juga ternyata menyukainya, itu sudah bisa menjelaskan semuanya, kenapa Daiki berlari mengejarnya.

Somewhere, somewhere there’s my precious only one
You’re not all alone anymore, you’re not alone

“Hmmm.. kayaknya aku bikin sphagetti aja deh..” kata Din sambil memasukkan beberapa bahan yang ia butuhkan.

Tak lupa ia juga membeli beberapa kebutuhan pokok lainnya.

“Maa.. pasta gigi milik Dai-chan juga sudah habis..” gumam Din lagi.

Setelah selesai belanja, Din bermaksud membeli takoyaki yang di jual dekat kuil. Ia pun menyalakan kembali ipod yang ia sering pakai jika berjalan sendirian.

Din terbelalak hingga belanjaan dan ipodnya terjatuh ke tanah.

Daiki.

Ia tidak sendirian. Tangannya menggenggam erat tangan gadis lain.

Gadis lain.

Pemandangan yang sama seperti yang Din lihat lima tahun lalu saat Yuya mengkhianatinya.

Tanpa pikir panjang Din berlari ke arah Daiki dan Saifu. Pikiran Din kalut, semuanya terasa menghitam dan ia tak mampu berfikir apapun lagi.

Saifu kaget ketika tubuhnya terdorong hingga ia tersungkur di tanah. Daiki menoleh dan kaget melihat Din dengan wajah marah.

“Dai-chan milikku!! Ia milikku!!” teriakan Din membuat sebagian pejalan kaki berhenti untuk melihatnya.

Saifu bingung, ia tak kenal wanita di hadapannya itu.

“Dinchan! Tenang! Dinchan!!” Daiki kaget karena Din berlari ke arah jalan raya.

“Aku salah… aku buat Dai-chan membenciku… tidak… Dai-chan membenciku!!” Din berlari dengan kalut sementara Daiki berusaha mengejar Din.

Saifu ikut berlari mencoba mengejar mereka berdua.

“Abunai!!” Saifu berteriak karena Din hendak menyebrang.

Beruntung Daiki menariknya tepat sebelum sebuah truk lewat di hadapannya, membuat mereka berdua terjatuh dengan tubuh Din di bawah tubuh Daiki.

“Dinchan… tenang!!” seru Daiki lagi karena Din masih berontak dengan air mata yang terus mengalir.

“Aku benci diriku sendiri… aku benci…” Omongan Din melantur kemana – mana sehingga Daiki menarik Din dan memeluk tubuh gadis itu dengen erat.

“Kumohon Din… berhenti… berhenti…” bisik Daiki lirih.

Someday, someday you’re fated to meet someone you’ll love
Before you realize it, they’ll be by your side

Daiki tertunduk menangis tak tahu mengapa air matanya itu mengalir. Saifu duduk di sebelahnya, mereka berdua ada di ruang tunggu Rumah Sakit.

Saifu tak berani bertanya apapun. Ia hanya berasumsi macam – macam, walaupun ia sebenarnya sangat ingin tahu kebenarannya.

“Fu-chan… gomen…” ucap Daiki pelan.

Saifu menatap Daiki, bukan kata – kata maaf yang ia inginkan saat ini. Baru saja mereka mengutarakan perasaan mereka yang saling mencintai, tapi kejadian ini malah membuat Saifu bimbang. Terlebih Daiki.

“Kenapa gomen?” Saifu merasakan pipinya hangat karena air matanya juga kini mengalir.

“Aku tak bisa meninggalkan Dinchan… ia bisa.. ia bisa mati jika aku tak ada…” Daiki menutup wajahnya dengan kedua tangannya, hatinya sakit tak keruan.

Saifu berdiri dari tempat duduk itu, “Wakatta…” ia berlari meninggalkan Daiki yang bahkan untuk saat ini tak mampu mengejar Saifu.

Seorang dokter keluar dan menghampiri Daiki.

“Anda teman Ikuta-san?” tanyanya.

“Iya..” Daiki menengadah dan akhirnya masuk ke ruang dokter.

“Saya Tegoshi Yuya… dokter yang menangani Ikuta-san..”

“Arioka Daiki desu..”

“Baiklah Arioka- san..” Yuya menunjukkan hasil CT-Scan serta MRI milik Din, “Lihat bagian yang tertutup ini?” di bagian kepala Din terdapat semacam kabut, begitu mungkin yang Daiki lihat.

“Hai..”

“Ini adalah cairan yang sudah memenuhi kepala Din.. maksud saya Ikuta-san. Cairan ini menyebabkan ia sering berhalusinasi dan bahkan membuat kondisi mentalnya terganggu,”

Daiki tak pernah tahu walaupun Din memang sering mengekuh sakit kepala.

“Maksud dokter?”

“Ia mengidap tumor otak, parahnya lagi, ini menyerang sistem ingatannya. Tumor ini bisa diangkat, tapi akan menyebabkan sebagian ingatannya hilang, atau lebih parah ia akan melupakan semuanya,”

Kini semuanya jelas. Kemana Din selama ini selalu pergi setiap bulannya, obat yang Din konsumsi walaupun Din bilang itu adalah vitamin. Semuanya bohong, Din tak pernah memberi tahunya.

Yuya berdiri di luar kamar Din, mengintip sedikit ke dalam di mana seorang pemuda tengah menunggui Din.

Ia baru saja dipindah ke Rumah Sakit ini dua bulan lalu, dan tak pernah menyangka malah Din yang ia temukan sedang sekarat. Selama ia berpacaran dengan Din, tentu saja ia tak tahu ada yang salah dengan diri Din, hingga sekarang.

“Ore wa baka da ne…” bisik Yuya lalu meninggalkan ruangan itu.

Even if a million years go by
We never change, no worries, you’ll be alright

Sudah seminggu tanpa kabar sama sekali. Saifu mulai penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Daiki juga tak pernah masuk kuliah.

Maka siang ini, Saifu melangkahkan kaki ke Rumah Sakit itu. Sebuah buket bunga tersampir di tangannya. Ia kesini bukan untuk menemui Daiki, tapi untuk menemui gadis yang mengamuk kemarin.

Pintu itu sedikit terbuka. Saifu mengintip sebentar, Din sedang berbincang – bincang dengan seorang dokter.

Ia pun akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu.

“Sepertinya kau ada tamu… aku tinggal dulu..” kata Yuya lalu meninggalkan ruangan.

“Doumo… Aku.. Suzuki Saifu…” kata Saifu sambil membungkuk dalam, lalu menghampiri Din dan memberikan sebuah buket bunga pada Din.

“Hajimemashite.. Ikuta Din desu..”

Keheningan tercipta sementara Saifu bergerak mendekati kasur Din.

“Untuk hari itu.. maafkan aku… Daiki memberi tahu semuanya..” kata Din tersenyum canggung.

“Iie.. tak apa – apa..” Saifu yang awalnya ingin bertanya banyak hal, kini bibirnya terkunci dan kebingungan.

“Daiki sudah bersamaku sejak SMA… ia anak yang baik… tapi kurasa sudah waktunya aku melepasnya…” kata Din.

Din tak buta, dan sorot mata Daiki saat melihat Saifu jelas penuh cinta. Tatapan yang sudah hilang dari Daiki untuknya.

“Tapi.. Ikuta-san…”

“Aku ada tumor otak, dan memutuskan untuk mengangkatnya… mungkin setelahnya aku tak akan pernah ingat Dai-chan lagi..” Din tersenyum miris.

“Eh?”

Kata – kata Din terus terngiang, hingga ia tak sadar seseorang menepuk bahunya.

“Dai-chan!!”

“Kau? Ngapain kesini?” tanya Daiki yang tampak membawa beberapa tas.

Keduanya akhirnya memutuskan untuk duduk di lobby Rumah Sakit.

“Jadi kau sudah dengar dari Dinchan?” Daiki menunduk dalam.

Saifu mengangguk, “Ia pacarmu ya? Tapi kenapa Dai-chan gak pernah bilang sama aku?”

“Karena aku… lemah dan egois.. aku ingin memiliki Fu-chan…” ucap Daiki lirih.

Saifu terdiam sejenak, lalu meraih tangan Daiki, “Matteru yo… aku akan menunggu Dai-chan…”

“Eh?” Daiki menoleh kaget dengan ucapan Saifu.

“Aku ingin… jika Dai-chan bersamaku, hanya aku yang Dai-chan ingat, hanya aku yang Daichan sentuh… bukan orang lain…” kata Saifu.

“Fu-chan…”

“Aku berharap yang terbaik untuk Ikuta-san…” setelah berkata demikian, Saifu beranjak, “Kita masih teman Dai-chan…” katanya lalu tersenyum pada Daiki.

I know you’ll meet your precious only one
One day you’ll find them on this earth, I believe in love
Always

“Kau sudah memutuskan?! Dinchan!!” Daiki marah karena ternyata Din sudah menandatangani surat pernyataan kesiapan operasi.

Tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu.

“Orang tuaku sudah setuju… jadi aku tak punya alasan lain…” kata Din enteng.

“Tapi Dinchan…”

“Setelahnya aku akan menjalani perawatan di Kyoto…” kata Din lagi.

“Hah?”

“Sepertinya syndrome ini sudah mempengaruhi mentalku, maka aku tak hanya harus mengangkat tumor ini, tapi juga aku harus mengobati gangguan jiwaku..”

“Dinchan….” suara Daiki melemah, ia tak tahu kenapa rasanya Din tak menganggapnya lagi.

“Aku tak bisa tinggal dengan Dai-chan lagi… tinggalkan aku Dai-chan…” Din menahan air matanya, ia tak lagi merasa dirinya harus menahan Daiki.

Semuanya sudah jelas, dan kini walaupun bayang lima tahun lalu masih menyakitinya, tapi setidaknya Yuya kini bisa membantunya lebih baik.

Sometime, sometimes the loneliness overwhelms my heart
I don’t want to be all alone, it’s so bittersweet

-2 years later-

“Omedetou!! Mulai hari ini kau bisa keluar dari tempat ini…” kata seorang dokter pada Din.

Din tersenyum dan menunduk.

Ketika melangkahkan kaki keluar, Din menemukan Yuya membawa sebuket bunga mawar pink.

“Untukmu… omedetou Dinchan!!”

“Arigatou dokter Tegoshi…” jawab Din sambil tersenyum.

Seluruh ingatannya selama hampir sepuluh tahun hilang. Ia tak bisa mengingat apapun setelahnya, selama dua tahun ini Din juga mengatasi gangguan jiwanya yang terkadang masih muncul, tapi kini sudah tak pernah kambuh lagi karena terapi.

Yuya berada di sampingnya hingga dua tahun ini. Din selalu bilang hatinya merasakan sesuatu jika Yuya berada di dekatnya, walaupun ia tak bisa mengingat kenapa.

“Ayo pulang…” kata Yuya sambil membukakan pintu untuk Din.

Din mengangguk, hari ini ia akan pulang ke Tokyo. Tempat orang tuanya.

“Hmmm.. Dai-chan!!” panggil Saifu dari jauh.

Daiki balas melambaikan tangannya pada Saifu. Mereka memang tetap bertemu walaupun tak ada ikatan pacar. Selama dua tahun ini, Daiki memutuskan untuk memnatau Din dari jauh, tidak menemuinya. Hari ketika Din membuka matanya, Daiki berada di samping Din, dan kata pertama yang keluar saat melihat Daiki adalah “hajimemashite”.

Sejak saat itu ia menghindar, baginya tak ada lagi gunanya ia terus bersama Din, pasti Din akan menemukan kebahagiannya jika tak bersama dirinya.

“Hei… ayo… filmnya nanti mulai!!” seru Saifu menggamit lengan Daiki.

“Fu-chan!”

Saifu menoleh, “Apa?”

Daiki menatap Saifu lama, lalu menggeleng, “Tidak ada apa – apa.. baiklah…”

“Tunggu… aku ke toilet dulu ya..” kata Saifu.

Daiki mengangguk dan mengedarkan pandangan di gedung bioskop itu, matanya tertumbuk pada pasangan yang tengah tertawa sambil menengadah, sepertinya memutuskan akan menonton film apa.

Din.

Dengan Dokter Yuya yang belakangan Daiki tahu adalah mantan pacar Din.

Ia tampak bahagia, senyum yang selama ini Daiki tahu adalah senyum terbaik milik Din.

Somewhere, somewhere there’s my precious only one
You’re not all alone anymore, you’re not alone
Someday, someday you’re fated to meet someone you’ll love
Before you realize it, they’ll be by your side
You’ll be by their side
You’ll meet your only one

“Kau hari ini diam saja… ada yang salah?” tanya Saifu ketika mereka keluar dari bioskop.

“Fu-chan…” panggil Daiki.

“Hmm?” Saifu menghentikan langkahnya, “Kenapa?”

“Kali ini… aku hanya akan melihat Fu-chan… dan hanya akan menyentuh Fu-chan…”

“Dai-chan…”

Daiki menggenggam tangan Saifu erat, “Aku janji…”

Saifu tak menjawab, mata Daiki tak lagi bingung seperti dulu, kini ia benar – benar menatap matanya dengan tegas.

“Wakatta…” seru Saifu.

Daiki meraih bibir Saifu dengan bibirnya. Ciuman itu tak hanya untuk hari ini. Ia akan terus melakukannya hingga nanti.

Sesaat setelah melihat Din tertawa bersama Yuya, ia tahu Din akan baik – baik saja. Karena itu, sudah saatnya ia berjalan maju tanpa menoleh lagi ke belakang. Din adalah kenangan baginya, dan untuk kali ini, Saifu adalah masa depannya, yang akan dia jaga. Ia tahu, sejak ia jatuh cinta pada Saifu.

Somewhere, somewhere there’s my precious only one
You’re not all alone anymore, you’re not alone
Sometime, sometimes the loneliness overwhelms my heart
I don’t want to be all alone, it’s so bittersweet

=============
OWARI~ nyeh!!! Gaje abis…
=.=
Tapi, komen lah ya…hahaha



Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] Between You and Her

  1. Morimoto Lisa

    huaaaahhhhaahh. Fu udh baca belom ya? hahahahahaha. apa reaksinya fu ya kalo udh baca? hahahaha.
    Kerrrrreeeeeeeennn. Tak pernah bisa buat sebagus, serapi, dan sekeren ini. Bunda is the best.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s