[Oneshot] Love Fool

Title    : Love Fool
Author    : Dinchan Tegoshi
Type      : Oneshot
Genre    : Romance, a little bit Shounen-Ai
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom: JE
Starring    : Yabu Kota (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Miko (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Yabu and Inoo are belongs to Johnnys & Association. Miko is my own OC… membuatnya karena suka pair YabuNoo… NO OFFENSE sodara – sodara~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

LOVE FOOL



Yabu’s POV

“Suki dakara!!”

Aku memandang gadis itu lama. Ia masih berteriak dihadapanku dengan wajah tegas tanpa ragu sama sekali.

“Tapi… Mii-chan…” bibirku kelu, harusnya ia tahu, dan ia tak perlu mengatakan ini lagi.

Ia mendekatiku, sedetik kemudian ia menarik kemejaku hingga aku menunduk. Bibirnya menempel pada bibirku untuk beberapa saat.

“Aku… tak akan kalah!!” genderang perang dibunyikan, tanpa aku tahu bagaimana perasaanku sekarang. Sosok itu masih menghantuiku hingga kini, dan sulit rasanya aku harus melepaskannya. Ia sudah terlalu lama berada di otak dan hatiku.

Pertemuanku dengan Miko berlangsung setahun lalu. Tepatnya saat kami baru saja masuk ke jurusan yang sama di sebuah perguruan tinggi. Ia begitu ceria, dan mengajakku berkenalan dengan gayanya yang well, bisa dibilang cukup aneh. Mungkin jika ia bertemu Inoo, ia akan cocok dengannya.

Ya, Inoo Kei. Temanku, tidak ia sahabatku sejak kami masih duduk di sekolah menengah. Pertemanan yang cukup kompleks, mengingat Inoo type orang yang sulit bisa serius. Sedangkan aku cenderung sensitif dan memikirkan segala hal.

Kembali pada Miko, ia gadis biasa namun jarang sekali bisa berteman dengan wanita. Mungkin karena ia terlalu spontan dan cuek, sehingga ia lebih cenderung berteman dengan pria.

“Mii-chan…” Miko melepaskan kerah kemejaku saat ia dipanggil oleh Inoo.

“Kei-chan!!” kini wajahnya kembali tersenyum melihat Inoo dan melambai penuh semangat.

“Ayo pulang! Kou-chan~ Mii-chan…” ajaknya sambil tersenyum.

“Urusanmu sudah selesai?” tanya Miko menghampiri Inoo, sedagkan aku masih diam di tempat tak bersuara karena sebagian diriku masih shock.

Inoo mengangguk, “Un! Ayo Kou-chan!” panggilnya lagi.

Aku pun mengangguk mencoba berekspresi se-normal mungkin. Mungkin aku lihat tanda – tandanya. Miko memang suka padaku, iya aku tidak sebodoh itu untuk tak menyadari perasaannya, tapi mungkin hingga kini aku hanya terus menolak perasaan itu, mencoba melupakan fakta jika orang yang aku sukai justru tak menyukaiku, dan aku terlalu gengsi untuk mengakui jika perasaan Miko setidaknya sudah membuatku sedikit tenang akhir – akhir ini. Maka selama sisa perjalanan, aku hanya termenung melihat keluar jendela, tawa Miko dan Inoo sama sekali tak bisa kurasakan. Aku laki – laki payah nomer satu di dunia.

Inoo’s POV

Aku melihatnya. Bodoh jika tidak, dan kenapa juga aku menunggu hingga Miko mencium Yabu. Seharusnya sebelum itu aku masuk saja melerai mereka berdua. Kini aku menyesal, dan aku ingin sekali menyatakannya pada Miko, aku menyukainya. Sejak setahun lalu kami bertemu.

“Ne.. Kei-chan.. mau ke Shibuya dulu tidak?” tanya Miko membuyarkan lamunanku.

“Hmmm.. boleh.. ke toko yang kemarin itu?” tanyaku.

Miko mengangguk, “Iya! Aku sudah berhasil mengumpulkan uang untuk membelinya…” matanya hilang saat ia tersenyum, membuatku gemas terhadapnya.

“Maa ne.. baiklah… aku tak mau tuan putri tersesat, jadi aku akan menemanimu..” jawabku lalu tersenyum padanya.

“Kou-chan ikut tidak ya?” Miko menunduk, tampaknya ia masih malu akibat kejadian tadi.

“Kou-chan! Mau ikut ke Shibuya tidak?!” seruku pada Yabu yang tampak tidak bersemangat dan terus – menerus melamun sejak tadi.

Yabu menoleh ke arahku, “Sepertinya tidak… suasana hatiku sedang buruk..” jawabnya.

Aku segera menatap Miko, matanya berkaca – kaca. Semua orang bisa melihat Miko sebagai orang yang tegar dan manis, ia tak pernah memperlihatkan kesedihannya pada orang lain, kecuali padaku.

“Baiklah… nanti aku bawakan oleh – oleh!” seruku.

Aku dan Yabu tinggal di satu gedung apartemen. Tidak sekamar, tapi satu gedung. Sejak sekolah menengah rasanya kami sulit sekali terpisahkan.

“Kou-chan… kami duluan ya!!” seru Miko melambai ke arah Yabu dengan bersemangat.

Aku tertawa melihatnya begitu, ia selalu tampak bersemangat dan tak terlihat bersedih.

“Kei-chan…” setelah bus yang ditumpangi Yabu menghilang di kejauhan, Miko menarik jaket yang aku pakai, ia tertunduk.

“Mii-chan daijoubu?” tanyaku berbalik ke arah Miko.

“Daijoubu jyanai yo.. huwaaaa!!” Miko menangis sesenggukan, ia pasti sudah menahan tangis itu sejak tadi.

“Nakanaide yo… Mii-chan…”

“Aku tadi malah… malah…”

“Wakatta…” aku menarik badan Miko dan meraihnya ke dalam pelukanku, “menangislah…” kataku pelan.

Selama beberapa menit kemudian suasana lalu lalang orang tak membuat Miko menghentikan tangisnya di pelukanku, jika saja yang ia sukai itu aku.

Miko’s POV

Aku bodoh.

Aku tak tahu bagaimana harus menunjukkan diri pada Yabu lagi nantinya. Aku sudah mengungkapkan perasaanku, bahkan menciumnya.

“Arigatou ne… Kei-chan..”

Inoo tersenyum lalu melambai meninggalkan pagar rumahku. Ia mengantarku sampai rumah walaupun apartemennya berlawanan arah dengan rumah ini. Beruntung sekali aku punya sahabat sepertinya.

Masuk ke kamar tak membuat suasana hatiku lebih baik. Foto yang terpajang di meja belajar adalah fotoku bersama Yabu dan Inoo. Mereka sahabatku, setidaknya hingga tadi sore saat aku mengungkapkan perasaanku pada Yabu.

Meihat foto itu membuatku ingat pada kejadian malam itu. Malam yang membuatku memutuskan untuk menyatakan perasaanku.

-Flashback-

“Kou-chan! Kau mabuk…” keluhku sambil menopang badan Yabu yang walaupun terlihat kurus, tetap berat dan sulit berjalan dengan orang setingginya dalam keadaan mabuk.

Inoo tak ikut pesta malam ini, sehingga aku terpaksa mengantar Yabu pulang sendirian. Nyatanya Inoo sedang pulang ke rumahnya.

“Kau tahu Mii-chan… aku menyukai seseorang…”

DEG!

Aku kaget, tak tahu harus berkata apa. Harapan ini kembali terasa di dalam dadaku. Harapan jika Yabu bisa mencintaiku seperti aku mencintainya.

Mata Yabu bergerak – gerak tak fokus, jelas ia sedang mabuk berat.

“Kou-chan… hati – hati!” seruku ketika ia menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah itu.

Beruntung kami sudah sampai di apartemen milik Yabu.

Yabu tertidur di sofa itu, aku segera mengambilkan selimut milik Yabu di kamarnya ketika buku itu terjatuh, buku milik Yabu yang seharusnya tidak aku lihat.

Aku mengangkat buku itu yang serta merta terbuka di lantai, aku tahu buku ini adalah buku yang selalu Yabu bawa kemanapun.

‘Perasaanku pada Kei-chan seharusnya tidak ada… ini salah, dan seharusnya tidak ada…’

Aku menjatuhkan buku itu dengan kaget, tanpa berfikir lagi aku berlari ke arah Yabu yang tertidur di sofa. Mataku berair, dadaku sesak karena kenyataan pahit yang tak mungkin ku lawan.

“Kei-chan..” gumam Yabu di sela tidurnya.

Aku melemparkan selimut itu dan berlari meninggalkan apartemen itu dengan hati sakit dan air mata yang terus mengalir. Yabu menyukai Inoo? Tapi sejak kapan?

-Flashback end-

Aku tertunduk, kata – kata di buku bersampul hijau itu masih terus terngiang di otakku.

‘Perasaanku pada Kei-chan…’

Perasaan Yabu pada Inoo? Lalu dengan bodohnya aku menghampiri Yabu dan mendeklarasikan perang terhadap Inoo. Jelas Inoo tak tahu, karena hingga saat ini hubungan persahabatan mereka belum terlihat rengangg sama sekali. Apa aku harus memberi tahunya? Agar Inoo menjauh dari Yabu, dan aku bisa bersama Yabu? Pikiran busuk ini menghantuiku selama beberapa hari ini.

“Ai ga… kurushii..Cinta itu menyakitkan…” gumamku, air mataku mengalir lagi.

Yabu’s POV

Kurobek halaman demi halaman yang kutulis sejak aku sekolah menengah. Nama yang sama menghiasi setiap halamannya. Nama yang hampir tujuh tahun ini menjadi nama yang selalu aku pikirkan setiap saat. Inoo Kei.

Aku tak mempersoalkan gender. Ini memang tak normal, katakan lah begitu, tapi perasaan ini ku tahu berbeda sejak aku bertemu Inoo tujuh tahun lalu di sekolah. Ia orang pertama yang menghampiriku dan berkenalan denganku. Anak ringkih tak percaya diri bernama Yabu Kota.

Praktis sejak saat itu aku selalu bersama Inoo. Tentu saja ia tak tahu perasaan ini, ia akan menjauhiku bahkan mungkin membenciku jika aku mengungkapkan perasaan ini. Tentu saja ini ide buruk, tapi lama kelamaan aku hilang kesabaran. Selama ini aku tak pernah menginginkan apapun selain berada di sampingnya, melihatnya tersenyum dan bahagia. Tapi akhir – akhir ini, aku menginginkan lebih dari itu. Perasaan ini membuatku setengah gila memikirkan kenyataan ia dan aku sama – sama laki – laki.

“Kou-chan!! Ini kubawakan pizza!!” suara Inoo membuatku kaget. Aku segera mengumpulkan kertas – kertas tadi dan menlemparnya ke dalam lemari pakaian.

“Yo!” sapaku lalu keluar dari kamar dan menghampiri Inoo yang sudah duduk di sofa ruang tengah.

“Kenapa rasa ini? Aku tak suka…” kataku protes melihat pizza yang Inoo bawa.

“Cerewet! Aku kan suka..hahaha..” jawabnya acuh lalu memasukkan pizza itu ke mulutnya.

Aku mengambil satu potong dan mulai memakannya juga. Selama beberapa menit hanya terdengar suara kunyahan dan TV yang tadi Inoo nyalakan.

“Kau terlihat sedikit aneh akhir – akhir ini… ada masalah apa?” tanya Inoo tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.

“Tidak ada…” jawabku singkat.

“Kau harus menjawab Mii-chan… ia menunggumu loh…”

Aku terdiam. Kunyahanku berhenti seketika. Apa tadi ia melihat Miko menyatakan perasaannya padaku?

“Kau melihatnya?” tanyaku pelan.

“Tak sengaja… aku kembali tepat pada saat ia berteriak padamu…”

“Souka… aku tak melihatnya seperti itu…” jawabku, “aku hanya menganggapnya teman…”

“Beritahu dia. Lebih baik kau jujur padanya kan?” tambah Inoo.

“Iya.. aku tahu… aku takut menyakiti perasaannya,” nafasku terasa lebih berat dari biasanya.

“Souka… aku siap menangkapnya saat ia jatuh..kau tak perlu khawatir,”

“Hah?” aku menoleh seketika, “Kau? Menyukai Mii-chan?” tanyaku pelan.

Inoo tertawa pelan, “Maa ne… ia menyukaimu, tapi aku menyukainya… ironis..” katanya lagi.

Aku tak mau menjawab. Selama tujuh tahun ini, kali ini aku benar – benar patah hati. Inoo benar – benar jatuh cinta pada Miko. Beberapa kali ia berpacaran dengan wanita lain, dan aku selalu merasa tak terganggu, karena itu hanyalah main – main saja. Tapi kali ini, sorot mata Inoo serius. Ia serius dengan perasaannya pada Miko.

Inoo’s POV

“Mii-chan!!! Ohayooouuu!!” seruku saat Miko datang pagi itu. Aku sengaja menghampirinya di depan gerbang kampus.

“Ohayou Kei-chan!!”

Matanya sembab. Jelas semalaman ia menangis lagi, walaupun pastinya ia tak akan mengakuinya.

“Sore ini ada film baru rilis… mau nonton bersamaku?” ajakku mengimbangi langkah Miko masuk ke dalam kampus.

“Suasana hatiku tidak bagus Kei… nanti aku malah merusak moodmu juga,” jawabnya masih menunduk sambil berjalan cepat.

Aku berhenti tepat di depannya membuat Miko kaget dan berhenti mendadak, “Apa sih Kei?” serunya kaget.

“Aku akan membuatmu tidak sedih lagi, bagaimana?” tawarku lagi.

Miko menimbang – nimbang, “Baiklah…”

“Yatta!!hehehe…”

Yabu ternyata ikut sore itu. Walaupun ini karena permintaan Miko. Sebenarnya aku ingin berduaan saja dengan Miko. Tapi karena Miko ingin mengajak Yabu, aku mencobanya, dan ternyata ia mau.

Suasana canggung sungguh terasa ketika kami berjalan bertiga. Tak seperti biasanya. Sejujurnya aku tak suka suasana seperti ini. Mencekik sekali rasanya, tak nyaman dan udara terasa lebih mendung dari biasanya.

“Mii-chan… mau popcorn?” tanyaku.

Miko mengangguk, Yabu seketika berdiri dan beralih ke mesin penjual popcorn, “Biar aku yang belikan..”

Aku hanya mengangguk melihat punggung Yabu beranjak dari tempat ini.

“Mii-chan… kau baik – baik saja?” bisikku pada Miko.

Miko menggeleng, “Aku tak bisa bersikap biasa… bagaimana ini?” keluhnya lagi.

Aku menyentuh pelan kepala Miko, “Tenang…” bisikku pelan.

“Anou Kou-chan!!’ teriak Miko ketika kami sudah hampir sampai di apartemen. Yabu memutuskan untuk pulang duluan sementara aku akan mengantar Miko ke rumahnya.

“Ya?” Yabu menoleh menatap Miko.

“Ada yang mau kubicarakan! Penting!!” serunya membuat sebagian penumpang melihat ke arah kami.

“Hah?”

“Boleh kan aku ke apartemenmu?!” tanya Miko gugup.

“Betsu ni… ii yo..” jawab Yabu enteng.

Tunggu dulu. Apa – apaan ini? Kenapa mereka tiba – tiba akan berduaan di apartemen Yabu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Walaupun Yabu bilang ia tak menyukai Miko. Tetap saja! Aku panik dan mencoba memberi kode pada Yabu agar menolak permintaan Yabu yang olehnya sama sekali tak di gubris.

Miko’s POV

Yabu bersikap sangat wajar dan terkesan lebih cuek dari biasanya. Aku menelan ludah ketika Yabu benar – benar menutup pintu di belakangku, ia melewatiku dan duduk di sofa ruang tengah.

“Duduk saja Mii-chan…” katanya ringan.

Aku menghampiri Yabu dan duduk dengan sedikit canggung.

“Kau mau bir atau teh saja?” tanyanya lalu tersenyum.

Tak mampu melihat mata Yabu aku hanya mengangguk – angguk.

“Apa itu maksudnya? Kau mau bir atau teh?” tanyanya lagi.

“Bir saja..” jawabku cepat.

Yabu beranjak dan menuju dapur. Aku terus memandangi punggung itu, rasanya walaupun kami berdua disini, Yabu sama sekali tak terlihat peduli walaupun aku setengah mati gugup.

Yabu kembali membawa dua kaleng bir dingin yang salah satunya ia berikan padaku.

“Arigatou…”

“Jadi… ada apa ini? Hingga kau ingin kesini?” tanya Yabu dengan wajah heran.

Aku menyimpan kaleng bir yang sama sekali belum ku buka, “Kou-chan… jawab aku dengan jujur… kau menyukai Kei-chan kan?”

Yabu tersedak dan terbatuk – batuk karena kaget, “Kau?! Apa maksudmu?!”

“Aku melihatnya… aku melihat tulisan Kou-chan?!!” air mataku kini susah payah ku tahan.

Pria di hadapanku itu dengan mata tak percaya melihatku dengan heran, “Kau melihatnya? Kapan?!”

“Malam saat Kou-chan mabuk!!” aku terbatuk pelan, kepalaku pusing karena menahan air mata sejak tadi.

Ia terdiam, menoleh dan menghindari tatapanku.

“Kou-chan… atashi nara dame na no?” aku menyentuhkan tanganku di tangannya.

Yabu menoleh, “Kau tak mengerti Mii-chan…”

“Aku bisa menggantikan Kei-chan… aku yakin bisa membuat Kou-chan jatuh cinta padaku!” kini aku tak peduli dengan air mata, semuanya sudah tumpah ruah di pipiku.

Sukses membuat Yabu menoleh, “Mii-chan.. kumohon… berhenti seperti ini… kau sudah tahu perasaanku kan?”

“Aku tak peduli!” dengan gerakan cepat aku menarik Yabu dan menempelkan bibirku pada bibir Yabu.

Sejenak Yabu terdiam, aku melumat bibirnya dengan harapan Yabu membalasnya.

Tapi aku merasakan Yabu mendorong bahuku pelan, “Mii-chan… aku tak bisa…” katanya lagi.

Ia beranjak dan berjalan menuju kamarnya, aku berlari tanpa pikir panjang, tanganku meraih pinggang Yabu dan memeluknya.

“Kenapa Kou-chan? Kenapa?!” isak tangisku tak lagi kutahan, dadaku terasa sakit sekali.

“Karena aku mencintai Kei-chan… kau tahu itu kan?” jawabnya lirih tapi tak melepaskan pelukanku.

Aku berlari ke hadapan Yabu, melakukan hal yang seharusnya tak kulakukan, tapi pikiranku sudah kalut.

Yabu’s POV

“Mii-chan!! Stop!!” aku menghampiri Miko yang melucuti pakaiannya di hadapanku.

Aku berteriak tepat ketika Miko merobek baju terusan yang ia pakai tadi.

“Mii-chan!”

PLAKK!

Aku menamparnya, wajahnya terlihat begitu frustasi. Seketika ia memegangi pipinya dan terduduk di lantai apartemenku. Ia melemparkan dirinya padaku. Ia menyerahkan segalanya, dan aku tetap tak bisa mencintainya.

“Mii-chan… gomen..”

Ia tak menjawab, dengan hanya memakai pakaian dalam itu ia menangis pilu di hadapanku. Aku berdiri mematung memandangi Miko, gadis yang selama ini tak pernah kulihat sekalipun ia menangis.

“Mii-chan…” aku menghampirinya, menariknya ke dalam pelukanku.

“Kou-chan… nande?! Nande yo?!” isakannya semakin keras, aku merasakan air matanya jatuh satu – satu ke kemeja yang kupakai.

“Gomen… gomen na…” kurengkuh tubuh ringkih itu dan kubaringkan di tempat tidurku.

“Peluk aku.. Kou-chan..” bisiknya lirih.

Aku tak punya rencana untuk menolaknya malam ini. Tidak dalam keadaan seperti ini, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Kupeluk tubuh Miko malam itu, ia masih terus terisak hingga kelelahan dan tertidur pulas di dekapanku.

Cahaya matahari menganggu mataku pagi ini. Aku kupa menutup tirai semalam, sehingga ketika matahari terbit, cahaya nya langsung sedikit membutakan.

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku dan menyadari Miko masih berada di dalam dekapanku. Ia masih tertidur pulas.

“Ohayou!! Kou!” pintu kamarku terbuka dan Inoo berdiri di pintu seakan melihat hantu.

“KALIAN??!” mulut Inoo terbuka dan kaget dengan apa yang dilihatnya.

Miko bergerak pelan, mungkin karena mendengar suara bising dari arah pintu.

“Chigau! Kei-chan!!” seruku.

Terlambat. Inoo berlari meninggalkan kamarku.

Aku melepaskan Miko dan mengejar Inoo, “Kei-chan!” aku sadar aku masih memakai pakaian kemarin, ditambah lagi sekarang kusut karena kupakai tidur semalaman.

BUGH!

Tinju itu terasa lebih menyakitkan ketika kulihat Inoo berdiri dengan tatapan marah terhadapku.

“Apa yang kau lakukan pada Mii-chan?! HAH?!” ia maju dan menarik kerah kemejaku dengan kasar.

“Chigau tte!! Kau salah paham!” seruku melepaskan tangan Inoo, saat itu juga kurasakan darah segar mengalir di susut bibirku.

“Lalu apa itu tadi?! Bukankah kau bilang kau tak menyukai Mii-chan?!”

Aku diam tak peduli Inoo kembali menarik kerah kemejaku.

“Aku tak menyukainya!!” seruku lalu mendorong Inoo dengan kasar.

Aku habis kesabaran, dan sepertinya percuma membicarakan ini dengan Inoo yang sedang emosi.

“KAU??!!” kepalan tangan Inoo sempat kutangkis, ia terlihat sangat marah.

“Aku menyukaimu! Jelas??!!”

Kudorong tubuh Inoo dan berlalu dari hadapannya, yang kubutuhkan sekarang hanya bir, vodka, apapun yang bisa membuatku melupakan hari buruk ini.

Inoo’s POV

“Aku menyukaimu! Jelas??!!”

Tidak.

Yabu pasti bercanda. Tapi candaannya ini tidak lucu. Apa maksudnya?

Entah sudah berapa lama aku terduduk di tangga darurat ini, tak mampu bergerak, otakku rasanya macet.

Rasanya selama tujuh tahun aku bersahabat dengan Yabu, ia tak pernah se aneh ini. Dan jelas ini bukan lelucon yang biasa ia buat padaku. Bukan.

“Kei-chan!”

Aku menoleh dan mendapati Miko memakai baju Yabu, kebesaran untuknya.

“Kei-chan salah paham! Itu… Kou-chan…”

Miko menjelaskan semuanya, hingga detail dan aku terkaget mendengarnya.

“Mii-chan… aku menyukaimu..” kataku pada Miko yang kini duduk tepat di sebelahku.

“Arigatou na… Kei-chan… tapi aku..”

“Ya… kau menyukai Kou-chan kan?”

Miko tertunduk, “Kou-chan menyukaimu…” ia menyerahkan sebuah buku bersampul hijau yang kutahu memang buku milik Yabu.

Halaman – halamannya sudah tak lagi utuh, sobek disana sini.

“Mii-chan…”

Ia tak lagi bersuara, Miko beranjak dan meninggalkan tempat itu. Sedangkan aku tak mampu bahkan untuk memanggilnya, rasanya sesak dan tak nyaman.

Namaku tertulis di setiap halaman ini. Rasanya aneh mengetahui sahabat yang selama tujuh tahun ini bersamamu, ternyata menyukaimu. Terlebih jika ia juga laki – laki. Aku menengadah dan menghirup udara yang terasa sangat berat.

Bagaimana aku menghadapi Yabu setelah ini?

“Yo! Berencana mabuk?” sapaku menghampiri Yabu yang duduk di meja bar langganan kami.

Ia tak menjawab, pandangannya lurus ke arah botol – botol yang berjajar rapi di hadapannya. Ya, aku memutuskan untuk menemui Yabu.

“Ne.. Kou-chan… arigatou atas perasaanmu… tapi.. aku tak bisa melihatmu..”

“Sebagai kekasih kan? Aku tahu..” jawabnya pelan, “Aku tahu hanya selama ini aku tak mau tahu, dan aku tak tahu harus berhenti kapan? Karena kupikir yang penting aku berada di sampingmu…” jelasnya.

Aku sedikit kaget, “Kou-chan…”

“Ne.. Kei-chan… aku akan pindah ke Hokkaido minggu depan…”

“Hah?! Maksudmu?!”

“Aku ikut ujian lagi, dan tahun ini aku memutuskan untuk pindah ke Hokkaido…” Yabu menoleh, “Pengecut memang… tapi aku mungkin bisa melupakan perasaanku jika aku jauh darimu…”

Yabu’s POV

“Baiklah… semuanya sudah siap..” kataku memandangi ruangan kosong apartemen.

“Kou-chan… jangan lupa kirim e-mail padaku ya…” Miko menghampiriku.

Sejak kejadian itu, Miko meminta maaf, dan sikapnya kembali normal. Setidaknya itu lebih baik.

“Baiklah… aku akan kirim e-mail setiap hari… tapi tidak pada Kei-chan..” seruku.

“Kenapa gak adil?!” serunya dari dapur.

Aku hanya tertawa tak menjawab Inoo.

“Eh… aku belikan makanan dulu ya… tunggu sebentar…” Miko keluar sebelum aku sempat mencegahnya.

“Mii-chan sebenarnya bisa menyukaimu juga..” kataku pada Inoo yang masih merapikan dapur.

“Maa ne.. karena Kou-chan sudah tak ada.. aku yakin aku bisa.. hahaa..”

Aku mengambil wajan yang Inoo pegang, lalu memukulnya pelan, “Ia tetap sahabatku, jadi jangan harap kalau kau menyakitinya aku akan diam saja…” kataku lalu memasukannya ke sebuah kardus.

“Ittai yo… ne.. Kou-chan… mau ciuman perpisahan?”

Sukses membuatku menjatuhkan wajan yang kupegang.

“Apa maksudmu?!” seruku.

Wajah Inoo sudah beberapa senti di hadapanku, aku kaget tak siap dengan adegan macam ini. Sedetik kemudian bibirnya menempel pada bibirku, dan Inoo melepaskannya cepat.

“Maa.. ne… rasanya aneh..” katanya lalu tertawa canggung.

Aku ikut tertawa, karena memang tak ada perasaan sama sekali yang kurasakan dari ciuman tadi. Kurasa Inoo memang tak punya perasaan apapun padaku.

“Jangan lagi kau coba – coba menciumku seperti itu!” seruku kesal.

Inoo tertawa, “Goodbye Kiss…” tambahnya.

“Jaga dirimu ya Kou-chan…” Miko tersenyum simpul padaku.

Aku tertawa, “Sudahlah… ada Kei-chan kan? Jaga baik – baik Mii-chan ya?!”

Inoo mengangguk. Aku berbalik menuju gerbang keberangkatan pesawatku. Perasaan ini terasa lebih ringan. Inoo sudah tahu perasaanku, dan ternyata mengejutkan sekali ini sudah lebih dari cukup.

Aku tersenyum melambai ke arah Miko dan Inoo. Mereka akan selalu jadi sahabatku, dan aku tak pernah menyesal akan perasaanku pada Inoo. Kumasuki gerbang itu dengan perasaan ringan, ku tahu ada masa depan yang menungguku di depan. Sudah saatnya aku berjalan sendiri menyambut masa depan itu.

===========

OWARIIIII~ hahahaha…
Gilaaaa~ untung saia gak puasa… #apasih..
COMMENTS ARE LOVE~



Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] Love Fool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s