[Multichapter] Happiness (chapter 8)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Eight
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
 ~Chapter 8~


Kazunari menyipitkan matanya saat cahaya matahari pagi mengganggu matanya.

“Hmm~” . Ia mengerang pelan dan memposisikan tubuhnya dengan membelakangi jendela. Perlahan matanya terbuka dan hal yang pertama kali ia lihat adalah adanya seseorang di sampingnya sedang tertidur lelap.

“Astaga~” seru Kazunari terbangun lalu menutup mulutnya karena dirasanya suaranya terlalu nyaring. Ia mengerutkan keningnya sambil menatap orang di sampingnya.

Bukankah itu Opi? Kenapa dia tidur di sini? Sebenarnya apa yang terjadi?

Kazunari mengucek matanya berharap ia salah melihat. Tapi pandangannya tidak berubah. Orang yang di samping itu memang Opi.

“Hmm~”

Kazunari menoleh saat Opi bergeliat. Dia bingung apa yang harus dilakukannya? Tetap bangun dan menjadi seperti tersangka yang tertangkap basah atau pura-pura tidur seolah tidak terjadi apa-apa karena dia pun tidak ingat sama sekali.

Dengan sedikit waktu, akhirnya Kazunari memilih pura-pura tidur dengan posisi menghadap wajah Opi.

Ia merasakan Opi duduk di tempat tidurnya lalu diam sesaat. Setelah itu Opi menyibakkan selimutnya dan keluar dari kamar. Tepat setelahnya, Kazunari  membuka matanya dan kembali terduduk.

“Opi sama sekali tidak kaget,” katanya karena dirasanya tidak ada gerak gerik dari Opi yang menandakan dirinya kaget setelah melihat ia di sampingnya.

Kazunari mengacak-acak rambutnya dengan bingung dan melemparkan tubuhnya hingga terbaring kembali. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Ohayou, An-chan”, sapa Opi saat Kazunari sudah ada di depan meja makan. Sepertinya Opi baru saja membuatkannya sarapan.

“Ayo sarapan. Sebentar lagi kan An-chan harus ke TK,” lanjut Opi sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Kazunari yang sudah duduk di kursi.

“Opi…” panggil Kazunari.

“Hmm?”

Kazunari diam sesaat lalu tersenyum. “Nani mo nai. Itadakimasu!”

Kazunari berpikir bukan keputusan yang bagus jika ia menanyakannya sekarang. Karena ia tidak yakin dengan reaksi Opi yang akan dilihatnya.

Kazunari terus memikirkan apa yang ia lakukan tadi malam sampai Opi tidur bersamanya. Ia mencoba mengingatnya. Dan sejak di rumah, yang ia ingat hanya saat dia pergi bersama Ohno.

“Satoshi?”

Seolah mendapat petunjuk penting, Kazunari lalu menarik ponsel yang ada di sakunya dan menghubungkannya.

“Moshi-moshi? Satoshi? Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin?”
=======

Sore sudah menjelang, seharian ini Din hanya diam di kamar, menghabiskan waktu dengan tidur – tiduran. Aiba tak mengizinkannya bekerja dulu, jadi Din menurut saja dan membiarkan dirinya di atas kasur seharian ini.

Tapi lama – kelamaan dia bosan juga. Ia mulai bergerak mengambil segelas susu dan memanaskannya di atas kompor sambil mengoles setangkup roti dengan selai strawberry kesukaannya.

“Bosaaannn~ bosaaann…”, keluhnya.

Ia jarang bisa bersantai, tapi seperti ini ia selalu merasa tak berguna jika tak melakukan apa – apa.

Din memainkan ponselnya sambil menyalakan televisi, mencoba mencari acara menarik. Inbox serta Missed Call nya di dominasi dua nama yang akhir – akhir ini hal yang membuat dirinya senang, sekaligus bingung. Aiba Masaki, jelas pria ini kekasihnya, jelas ia tak mungkin menyangkalnya, seluruh perasaannya masih untuk pria satu ini. Tapi, ada nama lain, Matsumoto Jun, pria baik yang selama ini menjadi sandarannya ketika ia sedih, ketika ia merasa terkhianati oleh Aiba.

Helaan nafas Din berat, ia tak menyangka akan serumit ini rasanya. Kalau berdasarkan perasaan, tentu ia tak perlu banyak berfikir, nama Aiba pasti langsung muncul dalam benaknya. Cinta pertamanya, orang yang pertama kali mengajarkan padanya apa itu cinta? Tapi, jika cinta itu akhir – akhir ini terasa lebih menyakitkan? Ia ingin memilih Jun.

“Huaaaa~”, Din mengacak rambutnya yang semakin panjang tak keruan. Otaknya mau pecah hanya karena memikirkan dua orang ini.

Bel apartemen itu berbunyi. Din menuju pintu, dan mengintip sebentar.

“Jun?”, seru Din saat membuka pintu.

Satu orang yang sejak tadi ia pikirkan tiba – tiba saja muncul di hadapannya. Kaca mata hitam, syal dan jaket kulit menyamarkan dirinya. Sudah pasti ia tak didampingi manajernya, maka butuh penyamaran ekstra.

“Kau sudah baikan?”, Jun menyentuh dahi Din, beralih mendekatkan dahinya dengan dahi Din, “Sepertinya masih sedikit demam…”, putusnya cepat.

“Hahaha.. begitulah..”, jawab Din canggung.

Keduanya masuk ke apartemen itu, Din mengambil sekaleng bir untuk Jun.

“Kau tak kerja?”, Din beranjak mengambil PDA nya yang terletak di meja makan.

“Sialnya aku punya kekasih seorang asistenku…”, cibir Jun.

“Hah?”, Din menoleh menatap Jun.

“Iya… kalau bolos pasti ketahuan..”, tambah Jun lagi.

Din tertegun mendengar kata ‘kekasih’ dari mulut Jun. Rasanya terlalu mudah mulut Jun berkata demikian sementara Din belum bisa memilih siapapun.

“Maa… kau ada syuting dua jam lagi…pantas saja..”, kata Din menge check jadwal Jun di PDA nya.

“Iya…makanya aku kesini dulu…karena..aku khawatir padamu.” jelas Jun.

Din menghampiri Jun yang ada di sofa, lalu duduk di sebelahnya, “Tak usah… aku baik – baik saja kok…”, jawab Din.

Jun memeluk tubuh Din, seakan ingin menghangatkan gadis itu, tapi tak satu pun kata keluar dari mulut Jun. Segalanya terlalu sult diungkapkan dengan kata – kata.

“Jun-kun…”, bisik Din lirih.

“Sial aku tak bisa berbuat apapun selain diam – diam mendatangimu…”, kata Jun sedih.

“Hah?”

Jun tak menjawab dan keduanya tak perlu kata – kata untuk mengungkapkan perasaan mereka. Din sepenuhnya tahu apa maksud Jun, tapi di sisi lain ia juga tak bisa mengkhianati hubungannya dengan Aiba yang sudah berjalan lebih dari empat tahun.

Waktu yang sempit itu mereka gunakan untuk berbicara, Jun tak menuntut apapun, tapi Din tahu pasti apa yang ada di pikiran Jun. Ia ingin gadisnya itu hanya jadi miliknya saja.

“Sudahlah Jun-kun… sepertinya aku tak ingin membicarakan ini dulu..”, elak Din lalu beranjak menuju kamarnya.

Juga kamar Aiba tentunya.

“Antar aku ke café ya… aku bosan…”, kata Din pada Jun.

“Kau masih sakit,” tolak Jun.

“Sudahlah… aku tak akan apa – apa, aku janji.” kata Din lagi.

Jun akhirnya mengizinkan Din pergi. Ia mengantar Din ke sebuah café yang tak jauh dari tempat syutingnya berada.

“Ini kan café yang kemarin…”, gumam Din.

“Kapan?” tanya Jun.

“Itu… café tempatku pingsan kemarin,” jelas Din lagi.

“Hmmm…ya sudah…pokoknya kalau ada apa – apa cepat hubungi aku..”, kata Jun setelah Din turun tepat di depan café tersebut, “Atau Masaki…”, tambah Jun pelan.

“Wakatta… jya! Hati – hati ya Jun!!”

Setelah melambaikan tangan Din masuk ke café itu, dan kaget melihat seseorang yang sama seperti tempo hari ia pingsan.

“Opi-san!!”, sapa Din menghampiri Opi yang lagi – lagi, dengan banyak file di sekelilingnya.

Bedanya kali ini ia didampingi seorang pria, yang Din kenal sebagai seorang newscaster, Sakurai Sho.

“Hai! Din-san… sudah baikan?”, tanya Opi sambil berdiri dan tersenyum pada Din.

“Sudah… aku bosan diam di rumah… jadi aku kesini.”, jelas Din.

“Souka… gabung saja disini..”, ajak Opi ramah.

“Tidak apa – apa nih?”

“Douzo…”, seru Opi lagi, “Ini temanku… Ikuta Din..”, jelasnya pada Sho.

“Kita sudah saling kenal kok.. iya kan Sakurai-san?”, tanya Din.

“Iya… kami sudah saling kenal…dia pernah datang bersama Jun ke studio untuk wawancara..”, jelas Sho.

“Souka….”, Opi mengangguk – angguk.

Sho tiba – tiba melihat jam tangannya, “Sayang sekali aku harus kembali ke ke kantor sekarang… aku duluan ya Opi-chan… Ikuta-san..” pamit Sho sambil berdiri.

Din hanya mengangguk pelan.

“Nanti aku telepon..”, kata Sho pada Opi.

“Jadi..kau kenal juga dengan Sakurai Sho?” tanya Din setelah mereka keluar dari café, dan malah memutuskan untuk berjalan – jalan di taman sekitar situ.

“Iya… kau juga? Wah~ dunia ini sempit ya…” kata Opi tertawa kecil.

Din mengangguk, “Sakurai-san itu temannya Jun…” kata Din.

“Souka… dia juga teman kakakku…” jelas Opi.

“Dan kakakmu teman Masaki… ah iya~ Jun juga kenal dengan kakak iparku loh… maksudku… Ohno Satoshi..” kata Din pada Opi.

“Sakurai-kun juga kenal dengan kakakmu…” kata Opi.

“Masa? Sungguh~ dan sekarang kita juga kenal.. hahahaha…” Din jadi ingin tertawa mendengar semuanya, rasanya terlalu aneh bisa punya koneksi yang begitu aneh satu sama lain.

Opi jadi ikut tertawa dan duduk di bangku taman diikuti Din.

“Yang aku tahu… kakakku dan Sakurai-san itu dulunya satu panti asuhan…”

“Eh? ya… Masaki dan Ninomiya-kun juga kan? Jadi mereka satu panti asuhan juga… dan… Jun juga…” Din bergumam karena Jun juga bercerita bahwa dirinya satu panti asuhan dengan Sakurai Sho.

“Eh? masaka… Ohno-san juga?”, mata Opi terbelalak karena kaget.

“Sou ne!! waaa?? Sugoi… hahaha…” Din kembali tertawa.

Pembicaraan sore itu malah membawa keduanya mengetahui banyak hal tentang orang – orang di sekitar mereka. Opi dan Din tenggelam dalam pikiran masing – masing, bingung akan semua koneksi ini.

===========

Opi menoleh cepat saat bahunya ditepuk oleh Daiki ketika ia sedang ada di kantin kampusnya. “Dai? Jangan membuatku kaget,” serunya kesal.

“Gomen ne. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” kata Dai sambil duduk di kursi kosong yanga ada di hadapan Opi.

“Dari mana saja? Aku baru melihatmu sekarang.” Jam kuliah pertama sudah berakhir 20 menit yang lalu. Opi tadi tidak melihat sosok Daiki di mana pun. Sehingga ia menganggap Daiki memang tidak ikut kuliah.

“Dari rumah sakit,” jawab Daiki singkat.

“Siapa yang sakit?” nada suara Opi berubah menjadi sedikit cemas.

“Pacarku.”

Opi mengangguk. “Souka..”

“Lalu kau kenapa?” Giliran Daiki yang bertanya.

“Aku?” Opi menunjuk dirinya sendiri.

“Tentu saja kau. Siapa lagi? Tadi aku melihat kau melamun. Tanganmu memang mengaduk minuman, tapi matamu itu….” Daiki menunjuk mata Opi.

Opi menunduk sebentar lalu mengangkatnya kembali dan menggeleng. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja.”

Daiki mengerutkan keningnya. Dia tahu saat Opi berbohong. Tapi sepertinya gadis itu belum mau menceritakannya dan ia tidak ingin memaksa.

“Souka..” sahut Daiki.

Kepala Opi tertunduk. Pikirannya kembali mengingat kejadian tadi malam.

-flash back-
“Daisuki..hontou ni daisuki,” gumam Kazunari. Opi merasa tubuhnya kembali membeku karena Kazunari mengucapkannya tepat di telinganya.

“Jangan pergi dengan Sho…” Kazunari kembali bergumam.

Opi tidak menjawab apapun. Ia hanya diam. Perlahan tangannya melingkar di tubuh Kazunari dan membenamkan kepalanya di dada laki-laki itu.

Opi merasakan pelukan kakaknya melonggar. Tangan Kazunari mendorong pelan bahunya sehingga kini mata mereka saling bertatapan lalu kembali menciumnya lembut. Opi tidak tahu bagaimana menghadapi kakaknya yang seperti ini. Yang jelas ia tidak ingin melihat kakaknya berteriak seperti tadi sehingga ia memutuskan membalas ciuman Kazunari meskipun sebenarnya ia sangat takut.

Setelah menciumnya, tiba-tiba tubuh Kazunari melemas dan jatuh tepat di atas Opi yang ikut terjatuh juga.

“Ittai~” keluhnya karena harus menahan berat badan Kazunari.

Opi menoleh pada Kazunari yang ternyata sudah tertidur. Wajahnya sangat damai dan tenang.

“Ternyata An-chan tidur,” katanya pelan.

Opi berusaha melepaskan diri agar ia bisa membawa Kazunari ke kamarnya. Karena masalah berat badan, Opi akhirnya menyeret tubuh Kazunari hingga kamar.

Setelah dengan susah payah menyeret, Opi lalu melempar tubuh Kazunari ke tempat tidurnya dan dengan sendirinya, Kazunari memposisikan tidurnya agar merasa nyaman.

“Capek…” seru Opi ikut berbaring sejenak di tempat tidur.

Opi menatap wajah Kazunari. Tiba-tiba wajahnya memerah mengingat kejadian tadi. Beberapa kali kakaknya menciumnya. Tidak hanya itu. Akhirnya Kazunari menyatakan perasaannya juga.

“Aku harus bagaimana?” gumamnya bingung sambil memegang kedua pipinya yang sekarang terasa panas.

Opi berniat akan kembali ke kamarnya tapi tangannya tertahan oleh tangan Kazunari yang mencegahnya pergi.

“Jangan pergi,” gumam Kazunari dengan mata tertutup.

Opi bingung. Apakah kakaknya sedang mengigau?

Setelah berpikir sebentar, tidak ada salahnya ia tidur di sini untuk menemani kakaknya. Akhirnya Opi terbaring di atas tempat tidur Kazunari dengan tangan yang masih digenggam.

-flashback end-

“Haaah~” desah Opi sambil menyenderkan kepalanya di atas meja.

“Nah kan…sebenarnya ada apa?” tanya Daiki sedikit memaksa karena ia sangat penasaran dengan sikap sahabatnya yang aneh.

Opi menggeleng. Ia malu harus menceritakan hal yang terjadi tadi malam. Apalagi ia melakukannya bersama kakaknya. Walaupun ia tahu kalau Kazunari adalah kakak angkatnya.

“Kalau kau tidak mau bercerita, jangan memasang tampang seperti itu. Membuat orang lain penasaran saja,” gerutu Daiki kesal.

Opi menatap Daiki. Terlihat sekali dia pun sedang ada masalah. Tapi Opi sedang tidak ingin mengetahui masalah orang karena masalahnya sendiri belum terselesaikan dan semakin rumit.

Tapi saat ia bertemu dengan kakaknya di rumah, Opi berhasil mengendalikan sikapnya. Ia memutuskan untuk tidak berkata apapun pada Kazunari karena percuma saja ia menceritakannya. Kazunari tidak akan ingat karena dia menciumnya dalam keadaan mabuk. Apalagi selain menciumnya, Kazunari tidak melakukan apapun lagi yang akan fatal akibatnya.

==========

Din bermaksud pulang ke apartemen dengan bus ketika ponselnya berbunyi. Ia segera melihat ponselnya “Neechan”, tertera di LCD nya.

“Hah? Moshi – moshi neechan… ada apa?” tanya Din sesaat setelah mengangkat telepon.

“Dinchan… temani aku ya…” suara kakakknya sedikit berbisik – bisik.

“Hah? Maksudmu?”

“Sudah jangan banyak tanya… cepat ke toko dekat stasiun Shibuya… cepaaatt!!” seru kakaknya itu, dan segera menutup teleponnya.

“Baiklah… beri aku satu alasan kenapa kita ada di sini?” tanya Din ketika ia sudah di toko yang kakaknya maksud.

“Lihat itu… gadis itu…” tunjuk Rei pada seorang gadis yang sedang bekerja membagi – bagikan selebaran pada pejalan kaki.

“Neechan!! Itu tak menjelaskan apapun!!” protes Din.

Rei menutup mulut Din yang bersuara terlalu keras, “Ssshhtt.. nanti dia dengar…”

“Neechan… dia itu siapa?” tanya Din lagi.

“Nanti kau juga mengerti…” kata Rei lalu merapikan rambutnya yang panjang itu dan segera menghampiri gadis itu, tak lupa ia menarik tangan Din untuk ikut.

“Silahkan bu… disini sedang diskon..”, serunya ramah pada Rei ketika ia menghampiri gadis muda itu.

“Aku ingin bicara padamu…” kata Rei.

“Eh? ada apa ya bu?” tanya gadis itu heran.

“Aku Ohno Rei…” Rei menyodorkan tangannya, “Aku yakin kau tahu apa maksudku…”

Din memerhatikan gadis ringkih di hadapannya, make up yang terlalu tebal untuk gadis seusianya, baju yang juga terlalu minim di cuaca yang cukup dingin. Ia masih tak mengerti kenapa kakaknya ingin bicara pada gadis itu.

“Anou… Ohno-san… ada apa sebenarnya??”

“Namamu siapa?” tanya Rei cepat.

Gadis muda itu melihat Rei dengan takut – takut, “Aku Suzuki Saifu…”

“Baiklah Suzuki-chan… ada hubungan apa kau sebenarnya dengan suamiku?”, tanya Rei to-the-point.

Din menoleh melihat kakaknya, “Satoshi-nii? Ada apa sih ini?”

“Sssshhht… kau diam saja dulu..” Rei menatap Din dengan galak, membuat Din terdiam dan memutuskan untuk melihat saja terlebih dahulu.

“Sebenarnya.. aku juga tak tahu…” jawab Saifu pelan.

“Apa maksudmu kau tidak tahu? Kau jelas sekali sering bertemu suamiku kan? Hah?” seru Rei kesal.

“Begini…”, Saifu menunduk, “Ohno-san.. maksudku.. Ohno Satoshi-san sangat baik padaku. Dulu ia pernah datang ke host club tempatku bekerja…”

“Lalu kalian melakukan apa?!” mendengar kata host club membuat penilaian Rei pada gadis itu semakin buruk saja.

“Tidak ada!!” jawab Saifu cepat, “Ohno Satoshi-san bilang ia memang mencariku… setelah itu ia memberiku pekerjaan, dan membayari uang sekolahku.. tak ada yang lain… aku saja tak tahu kenapa ia begitu baik padaku…” lanjutnya dengan suara bergetar.

Rei sedikit aneh dengan penuturan Saifu, “Ia benar hanya memberimu uang? Apa yang suamiku inginkan darimu?” tanya Rei lagi.

“Tidak tahu… aku sendiri bertanya padanya, tapi ia tak pernah menjawabnya..” kata Saifu lagi.

“Kau yakin ia tak berbohong?” tanya Rei pada Din setelah mereka berada di mobil, menuju rumah Rei.

“Aku yakin Neechan… kau tak lihat ia begitu polos?” jawab Din yakin.

Alasan Rei meminta Din menemaninya karena ia tak yakin bisa menahan emosinya maka ia ingin Din menemaninya.

“Tapi apa alasan Satoshi begitu melindunginya?” seru Rei lagi.

“Hmmm.. mungkin sebaiknya Neechan bertanya langsung pada Satoshi-nii…” jawab Din.

“Aku tak berani…” bisik Rei.

Memang Rei tak pernah berani bertanya hal seperti itu karena pasti akan menimbulkan pertengkaran di antara mereka.

“Tapi Neechan… kalau kau tak bertanya padanya, semuanya akan tetap jadi tanda tanya saja, kau harusnya bertanya pada Niichan..” kata Din lagi.

Rei memberhentikan mobilnya, menatap adiknya itu dengan mata berkaca – kaca, “Dinchan… bawa mobil ya…”

==========

“KAU DIMANA??!!” teriakan itu sukses membuat Din menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Tenang Masaki-kun… aku di rumah Neechan kok…” Din menatap layar ponsel, dan menyadari sekarang baru pukul setengah enam sore, jam pulang kantor yang normal, tapi tidak normal untuk seorang Aiba Masaki.

“Aku kesana… awas kau berani menghilang lagi..” ancamnya lalu segera menutup teleponnya.

Din manyun menatap ponselnya, “Apa aku harus selalu sakit agar kau mendatangi aku?” keluhnya pada layar ponsel yang menunjukkan fotonya bersama Aiba.

“Bicara pada ponsel lagi?” kata Rei menghampiri Din.

“Hehehe… tidak juga..” elak Din lalu mengambil sekaleng jus jeruk di kulkas.

“Oh iya… kemarin lusa Toma menelepon… tapi katanya ponselmu sibuk terus?” ujar Rei mulai menggunakan apronnya, bersiap membuat makan malam.

“Hah? Dimana dia sekarang?”, tanya Din.

“Masih ingin di Eropa…” jawab Rei ringan.

“Ah dia kapan – kapan pulangnya~ aku sudah bosan bertanya kapan dia pulang? Hahaha..” Din tersenyum lalu bersender pada kitchen set, memerhatikan kakaknya yang mulai memasak.

Ia merasa pemandangan ini tak asing. Tentu saja, ia ingat ia selalu begini setiap Aiba memasak untuknya, sekedar melihat Aiba mengerjakan semuanya sementara dirinya hanya mengajaknya mengobrol saja. Ia rindu pemandangan ini.

Bel rumah berbunyi, “Din… Aiba mu tuh!”, seru rei membuyarkan lamunan Din.

“Ah iya!”, Din bergegas ke pintu depan dan membukakakn pintu.

“Ojamashimasssuu!!” seru Aiba dari depan pintu.

“Irrasahai!!” jawab Din lalu tersenyum pada Aiba.

“Apa aku harus menjagamu seharian agar kau tak kabur?” tanya Aiba sebal karena gadisnya tiba – tiba menghilang dari apartemen.

“Mungkin…” jawab Din ringan beranjak menemui kakaknya diikuti Aiba, “Neechan… aku pulang saja ya…” pamit Din.

“Baiklah…”

“Nee-san.. kami pulang dulu… terima kasih sudah menjaga Din…” pamit Aiba juga.

Rei hanya tersenyum menanggapi perkataan Aiba.

Mereka pun keluar rumah ketika bertemu Opi yang baru saja pulang.

“Opi-san!!” seru Din melambaikan tangan pada Opi.

“Eh… Din-san… Aiba-kun?!”

“Yow! Hisashiburi… kalian sudah kenalan ya?” tanya Aiba bingung.

Din tak menjawab, hanya mengangkat bahu dan bertukar pandang dengan Opi.

“Kazu sudah pulang?” tanya Aiba.

“Belum… sepertinya dia ada urusan di luar..” jawab Opi pada Aiba.

“Souka… kalau gitu kita duluan ya…”

Setelah pamitan Din dan Aiba pun meluncur meninggalkan pemukiman itu. Tanpa mereka sadari Sakurai Sho yang baru saja mengantar Opi masih terdiam di mobilnya, ia mengeluarkan sebuah foto yang selama ini terus ia bawa, foto Sakurai Yui, adik perempuannya, Ibu dari Reina.

“Yui… aku bertemu lagi dengannya… tanpa kusadari ia begitu dekat…”, katanya pada foto itu, “Bolehkah aku membunuhnya saja? Atau Reina harus tahu Ayahnya masih hidup?” Sho tak ingin menangis, tapi ia merasa sangat sedih, “Yui… apa aku boleh membunuh Aiba Masaki untukmu?!! Jawab aku Yui…” bisik Sho lirih.

============

Saifu duduk di futon yang sudah ia gelar sejak tadi. Ia sangat letih, karena ada tawaran dari temannya untuk menyebarkan pamphlet siang tadi. Alhasil kini ia pulang dengan badan babak belur karena kecapekan.

Ia masih terheran – heran dengan datangnya dua wanita tadi siang. Salah satunya ternyata adalah istri dari Satoshi Ohno, seniman yang selama ini terus membantu keuangannya. Sejujurnya ia juga sangat ingin tahu alasan apa yang melatar belakangi sikap Satoshi selama ini, dan hingga saat ini seniman itu sama sekali tak pernah mengatakannya pada Saifu.

Ponselnya berbunyi ketika ia masih memikirkan hal itu, ia segera mengangkatnya.

“Moshi –moshi?”

“Fu-chan… anou…”

“Kenapa Dai-chan?” Saifu kaget karena yang terdengar di seberang adalah suara Daiki, ia tak sempat melihat layar ponselnya.

“Aku ada di luar, bisa kita bicara sebentar?”, tanya Daiki tampak menimbang – nimbang.

“Hmm.. baiklah… diluar?”

“Tak usah…aku yang masuk saja ya?”

“Baiklah…”

Tak sampai lima menit kemudian Daiki duduk di hadapan Saifu dengan sedikit gugup. Ia tak pernah melakukan ini sebelumnya, bahkan membayangkannya saja ia tak pernah.

“Maaf ya Dai-chan… teh nya habis… aku hanya punya air putih..”, kata Saifu menyimpan segelas air putih di hadapan Daiki.

“Daijoubu Fu-chan…” jawabnya lalu menelan segelas air itu untuk membuat dirinya tenang.

“Ada apa Dai-chan? Kenapa terlihat tegang begitu?”, tanya Saifu bingung. Ia tak pernah melihat seorang Daiki se-gugup itu sebelumnya.

Daiki menarik nafas panjang. Ia sudah memutuskannya, dan ia harus terima akibatnya apapun itu nantinya.

“Aku tak pernah punya ibu yang sedang sakit… dan bohong jika aku membutuhkan uang untuk kuliahku…”

Saifu menatap Daiki dengan sedikit kaget. Ia tahu Daiki kadang berbohong, tapi sebesar inikah kebohongannya?

“Kau mungkin aneh mendengarku berkata seperti ini… tapi rasanya aku sudah memutuskan…” mata Daiki menatap langsung pada mata Saifu.

“Maksud Dai-chan apa?!!” seru Saifu, dengan matanya yang kini sudah mulai berkaca – kaca.

“Aku tak bisa membohongi orang yang ingin ku lindungi…”

Semanis apapun kata – kata Daiki tadi, Saifu masih tak bisa menerima kebohongan Daiki yang terlalu besar itu.

“Kenapa kau berbuat ini padaku?!” Air mata Saifu kini benar – benar mengalir.

“Karena itu lah diriku… aku tak pernah mencintai seseorang, semuanya hanya untuk kepentingan diriku saja…” Daiki kembali menatap Saifu, “Dengan kata lain aku memanfaatkanmu….”

Mata Saifu bergerak – gerak bingung. Sebagian dirinya marah besar pada Daiki, tapi sebagian dari dirinya juga tak ingin Daiki pergi meninggalkannya, ia tak yakin ia bisa melepaskan Daiki.

“Kau boleh membenci aku… tapi aku tak akan meninggalkanmu…” ucap Daiki tegas, tapi Saifu tak tahu ia bisa memercayai kata – kata ini atau tidak.

PLAKK!!

“PERGI!!!”

Daiki meninggalkan tempat itu, ia tahu ia tak akan melanggar janji yang sudah ia katakan. Tak masalah Saifu percaya atau tidak. Sementara itu Saifu hanya bisa meratap tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Daiki yang selama ini membuatnya merasa jatuh cinta setiap harinya, berbohong. Ia tahu Daiki sudah mengakui semuanya, tapi harga dirinya terlukai, dan ia tak tahu apa luka itu bisa sembuh dengan cepat atau tidak.

==========

Jun meraih ponselnya, setelah yakin malam ini tak ada lagi jadwal syuting atau pemotretan, ia mencari satu nama yang akhir – akhir ini sangat ingin ia temui.

“Sudah waktunya…”, bisik Jun lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.

Mereka sepakat untuk bertemu di sebuah bar langganan Jun. Setengah jam kemudian dua pria dewasa itu duduk bersebelahan, keduanya terlihat serius.

“Kau harus tahu Masaki… Dinchan itu kesepian…”, jelas Jun pada Aiba yang duduk di sebelahnya.

“Jun… kenapa kau tiba – tiba mengajakku keluar dan tiba – tiba berkata seperti ini… ada apa sebenarnya?”, bukannya menjawab, Aiba malah melontarkan pertanyaan lain untuk Jun.

Jun menghela nafas berat. Aiba dan dirinya sudah terlalu lama bersama, dan selama ini ia selalu meyakinkan dirinya agar tidak menyakiti temannya sendiri.

“Jun… mungkin kau berfikir aku bukan pria yang baik untuk Din… dan iya.. aku sering sekali menyakitinya, tapi aku memang sangat mencintainya…”

“Tapi jika kau terus begitu, bukankah Dinchan yang menjadi korbannya? Kau harus memikirkan itu..”, lanjut Jun.

“Tunggu Jun…apa kau menyuruhku untuk putus dengan Din?”, dahi Aiba berkerut, ia tahu Din juga asisten Jun, tapi wajarkah seorang Jun secara tiba – tiba begitu mengkhawatirkan masalah pribadi asistennya?

“Bukan begitu Masaki…”

“Sebenarnya ada apa?”, potong Aiba cepat.

“Baiklah… menurutku percuma juga aku menyembunyikan ini darimu..”, Jun melanjutkan, “Aku juga mencintai Din… dan jika kau tak bisa membahagiakannya… biar aku yang melakukannya..”

Aiba berdiri dan menarik kerah Jun dengan kasar, “Apa – apaan ini Jun?!”

“Kau dengar cukup jelas kan? Aku juga mencintai Dinchan…”

BUGH!

Aiba tak perlu lagi mendengar Jun, ia cukup tahu bahwa orang yang selama ini ia anggap sahabat, mengkhianatinya. Jawaban Aiba cukup jelas dengan pukulan itu, ia ingin sekali meneruskannya jika saja beberapa orang tak menghalanginya.

“Aku serius Aiba Masaki…”, seru Jun sambil mengelap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.

Aiba tak menjawab dan melepaskan diri dari orang – orang yang memeganginya, meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal dan marah.

========

Seminggu setelah itu, Opi jarang sekali bertemu dengan Kazunari. Mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan mereka. Kazunari sibuk dengan TK nya sedangkan Opi sibuk dengan kuliah dan tugasnya. Seperti hari ini. Tubuhnya lemas sekali. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus mendesah karena kelelahan. Ini semua karena Daiki yang terus-terusan mengomelinya agar sedikit serius mengerjakan tugas mereka. Sebenarnya ia sangat serius, tapi ia merasa tidak mempunyai tenaga hari ini karena tugas-tugasnya yang lain.

“Besok aku akan meminta Dai mentraktirku makan siang. Ini semua gara-gara dia,” rutuk Opi kesal.

Tak berapa lama, Opi sudah di depan pintu rumahnya. Saat ia menutup kembali pintunya, ia melihat ada sepasang sepatu yang tidak ia kenal.

“Ada tamu yah?” tebak Opi pelan.

Opi berjalan menuju ruang tengah untuk memastikannya. Tapi ia berhenti melangkah saat melihat ada Aiba bersama kakaknya dan mereka sepertinya sedang dalam pembicaraan serius.

“Apa yang sudah kau lakukan?”

Kening Opi berkerut. Ia penasaran sekali apa yang kakaknya dan Aiba bicarakan. Apa ia sebaiknya menguping diam-diam?

“Aku tidak tahu, Masaki. Saat itu aku sudah melihatnya di sampingku. Aku tidak ingat apa yang terjadi,” jelas Kazunari.

“Kurasa karena kau mabuk berat seperti yang dikatakan oleh Satoshi,” timpal Aiba diikuti anggukan Kazunari.

Opi menyipitkan matanya. Apa mereka sedang membicarakan kejadian malam itu?

Kazunari mendesah pelan. “Kuharap aku tidak melakukan hal yang aneh pada Opi. Itu akan membuatku merasa bersalah karena berani melakukan hal terlarang pada adik kandungku sendiri.”

Apa?!

Opi tercengang. Ia tidak percaya dengan pendengarannya.

“Seandainya Okaa-chan tidak pernah mengatakannya, kalau aku dan Opi adalah saudara kandung. Aku pasti tidak akan merasakan hal yang menyakitkan seperti ini. Aku sangat berharap tidak mempunyai perasaan seperti ini.”

Aiba menatap sahabatnya itu. Ia sama sekali tidak berkata-kata.

“Apa yang An-chan katakan?” tanya Opi akhirnya masuk ke ruang tengah membuat Kazunari dan Aiba kaget.

Kazunari bangkit dari duduknya.“Opi? Kau sudah pulang?”

“Jadi An-chan adalah kakak kandungku?” tanya Opi menghiraukan pertanyaan Kazunari.

Kazunari diam. Ia tidak menjawab apapun.

“Kenapa An-chan tidak pernah bilang?” desak Opi. Suaranya semakin keras dari yang tadi.

“Aku…” Kazunari terlihat bingung. Apa yang harus ia jelaskan?

Opi menghampiri kakaknya. “Lalu apa artinya ciuman itu?”

Mata Kazunari melebar. Terlihat sekali jika ia sangat kaget dengan pertanyaan Opi. “Ciuman?”

“Ya. Malam itu An-chan menciumku. Tidak hanya itu. An-chan menyatakan perasaan padaku. An-chan memelukku,” jelas Opi pelan. “Apa itu yang dilakukan kakak pada adiknya? Kalau An-chan tahu aku adik kandungmu, kenapa An-chan lakukan itu?” seru Opi kembali dengan suara keras.

“Gomen ne, Opi. Aku…tidak sadar melakukannya,” gumam Kazunari pelan.

Wajah Opi memerah karena menahan marah. Ia benar-benar kecewa dengan sikap kakaknya.

“Opi, ini juga kesalahanku. Seharusnya aku mengatakannya saat kita bertemu saat makan siang tempo hari, kalau kau dan Kazunari adalah saudara kandung. Tapi percayalah. Kazunari baru saja mengetahui hal ini, “ jelas Aiba berusaha mendinginkan keadaan.

Opi menatap wajah Aiba lalu kembali menatap Kazunari kembali dengan tatapan marah.

“Aku benci An-chan..” ucapnya sebelum Opi membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Aiba dan Kazunari yang tetap berdiri di tempatnya.

“Kenapa tidak dikejar?” tanya Aiba menunggu yang memang harus Kazunari lakukan.

Kazunari menggeleng. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa,” jawabnya kemudian duduk kembali di kursi yang tepat berada di belakangnya dengan wajah yang sangat pasrah.

Aiba mendecak kesal lalu pergi mengejar Opi walaupun ia tidak tahu kemana gadis itu pergi.

====

“Harusnya aku membawa payung,” gumam Sho saat ia menunggu hujan reda. Hari ini ia lupa sama sekali tentang payungnya. Ia tidak tahu kalau hari ini akan turun hujan. Rasanya lucu sekali ia tidak tahu cuaca padahal dirinya adalah seorang newscaster.

Sho mulai bosan yang hanya berdiri saja di depan sebuah toko. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek daftar panggilan. Jarinya tiba-tiba berhenti pada sebuah nama. Ohno Rei.

Sudah beberapa minggu ini Rei tidak pernah menghubunginya. Tidak ada sesuatu yang aneh karena ketidakhadiran Rei sudah tergantikan oleh perempuan lain. Ia menyadari tidak seharusnya larut dalam masa lalunya.

Senyum Sho mengembang di bibirnya saat mengingat perempuan lain itu yang tak lain adalah adik Kazunari. Setelah dengan nekat ia mengajak Opi berkencan, hubungan mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Oia, akhirnya ia memiliki alamat e-mail gadis itu dan nomor telponnya sehingga mereka sudah berulang kali saling bertelpon. Bahkan ia pernah berhasil mengejutkan gadis itu saat dirinya datang ke kampusnya hanya untuk mengajaknya makan siang. Menyenangkan sekali rasanya walaupun hanya melihatnya tersenyum.

Setelah cukup bosan melihat ponselnya, Sho kembali mengangkat kepalanya dan memperhatikan orang yang berlalu lalang. Tiba-tiba mata Sho menangkap seorang gadis. Gadis itu menarik perhatian orang-orang karena ia berjalan pelan di tengah hujan seperti ini dan dia tidak memakai payung. Normalnya mungkin orang akan berlarian di tengah hujan dan mencari tempat untuk berteduh. Tapi berbeda dengan gadis itu.

“Opi? Apa yang dia lakukan?” tanya Sho pada dirinya sendiri. Ia merasa senang saat melihat Opi tapi sekaligus penasaran karena wajah gadis itu terlihat sedih.

Sho akhirnya menerobos hujan yang praktis membasahi tubuhnya. Ia menghampiri Opi yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

“Opi? Apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti ini?” tanya Sho cemas.

Opi menengadahkan wajahnya dan menatap Sho dengan datar. “Sakurai-san?”

“Ikut denganku!” Sho menarik tangan Opi. Ia sudah terlanjur basah dan memutuskan untuk membawa Opi ke apartemennya.

“Ini..” Sho menyerahkan sebuah handuk pada Opi. Ia melihat tubuh gadis itu gemetar. Sho bertanya-tanya, sebenarnya sudah berapa lama Opi kehujanan?

“Aku akan membuatkan sesuatu untuk menghangatkan tubuhmu. Sambil menunggu lebih baik kau ganti bajumu. Pakai ini.” Sho kini menyerahkan pakaian yang akan Opi pakai. Gadis itu menatap pakaian yang berada di tangan Sho sebentar lalu mengambilnya dan berjalan menuju kamar mandi.

Sho menatap Opi sebentar sebelum ia ke dapur untuk membuatkannya sesuatu. Ia yakin Opi sedang mengalami masalah. Terlihat sekali wajahnya sangat lesu. Ia juga tidak banyak bicara. Jika Sho bertanya, Opi hanya menjawab dengan anggukan. Melihat Opi yang seperti itu membuat Sho sangat sedih.

Tak berapa lama, Opi keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos kebesaran dan celana kepanjangan milik Sho.

“Minum ini. Ini akan membuatmu merasa lebih hangat,” ucap Sho sambil menyodorkan segelas minuman. Opi melihat isi gelas tersebut dan dari wanginya ia menebak itu adalah coklat.

“Arigatou,” ucap Opi seraya mengambil gelas dari tangan Sho kemudian duduk di sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

Opi menyesap coklat panas dari gelasnya. “Umaii~” ucapnya kemudian.

Sho tersenyum.“Umaii deshou?”

Opi kembali menyesap minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam.

“Kalau kau tidak keberatan, sebenarnya ada apa?” tanya Sho.

Opi diam. Wajahnya masih terlihat sedih. Tidak ada senyum atau tawa yang biasanya menghiasi wajahnya.

“Baiklah kalau tidak ingin bercerita,” lanjut Sho pasrah. “Apa kakakmu tahu kau ada di sini?”

Opi menggeleng.

“Kalau begitu, aku hubungi……”

“Jangan!” potong Opi.

“Tapi….”

“Jangan hubungi An-chan. Aku tidak mau bertemu dengannya sekarang,” Opi mengulang kata-katanya.

Sho bingung dengan apa yang terjadi dengan Opi. Tapi ia mengerti. Sho kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Kazunari.

“Ada masalah dengan kakakmu?” tanya Sho lagi. Rasa penasarannya masih terus menggerogotinya.

“Daikirai,” gumam Opi nyaris tidak terdengar oleh telinga Sho. Tapi Sho tetap mendengarnya.

“An-chan no koto….daikirai desu,” ulang Opi.

Sho masih bingung. Tapi ia tetap diam dan membiarkan Opi melanjutkan.

“An-chan sudah tahu aku adalah adik kandungnya. Tapi An-chan tetap melakukannya.”

Adik kandung? Melakukan apa? Bagaimana bisa? Setahunya Kazunari adalah anak angkat di keluarga Ninomiya.

Opi tertawa pendek dan menerawang. “Aku seperti orang bodoh saja yang membalas ciuman kakak kandungku sendiri. Meskipun aku tahu dia sedang mabuk.”

Sho melebarkan matanya. Menciumnya? Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Kazunari saat itu? Ia sama sekali tidak mengerti.

“Jahat. An-chan jahat sudah membuat aku bingung seperti ini.” Opi terisak. Wajahnya ia sembunyikan di antara lututnya.

Sho menatap punggung Opi yang naik turun karena sedang menangis. Ia mengangkat tangannya untuk memeluk Opi. Tapi apakah tidak apa-apa kalau ia melakukannya?

Terdengar suara tangis Opi makin keras. Tanpa ragu lagi Sho memeluk Opi. Sesaat tangisan Opi sedikit mereda karena ia kaget dengan sikap Sho yang tiba-tiba.

“Kau tidak boleh menangis seperti itu,” ucap Sho masih memeluk Opi erat. “Kau hanya boleh tersenyum dan tertawa. Kau tidak pantas menangis.”

Opi mendorong tubuh Sho lalu menatap matanya seolah meminta penjelasan dari semua kata-katanya.

Sho menghapus sisa air mata Opi dengan jarinya lalu menyentuh pipi gadis itu dengan kedua tangannya.

“Tetaplah tersenyum. Karena aku menyukaimu yang seperti itu,” lanjut Sho.

Opi diam karena terlalu tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Sho. Ia tidak menjawab dan hanya membiarkan dirinya saat Sho mengecup bibirnya.

======

Entah sudah berapa lama Kazunari tetap duduk di tempatnya. Setelah Opi pergi dari rumah, ia tidak berusaha untuk mencarinya. Pikiran kacau. Tubuhnya lelah padahal ia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Keheningan yang menyelimuti rumahnya tiba-tiba dipecahkan dering ponsel. Kazunari sedikit tersentak tapi tak membuatnya mengubah posisinya. Ia meraih ponsel yang tepat di samping tangannya.

“Hai?” katanya begitu ponsel sudah menempel di telinganya.

“Kazu, aku tidak menemukan Opi dimanapun,” kata Aiba dengan nafas yang sedikit tersengal.

Tidak ada jawaban dari Kazunari.

“Apa yang kau lakukan, hah? Harusnya kau ikut mencarinya,” Aiba sedikit kesal. Kazunari adalah kakaknya Opi. Tapi dia sama sekali tidak bertindak apa-apa.

Kazunari menghela nafas. “Sudah aku bilang, tidak ada yang bisa aku lakukan sekalipun aku sudah menemukan dia,” jawab Kazunari mengulang.

“Pasti ada yang bisa kau lakukan, “ balas Aiba memaksa. “Apa kau tega membuat Opi kebingungan? Dan sekarang dia entah ada dimana.”

“Kau kembalilah ke sini. Tidak usah mencari Opi lagi,” suruh Kazunari lemas lalu memutuskan hubungan telponnya.

Kazunari kembali menghela nafas. Tapi kali ini lebih panjang seolah ia bisa mengeluarkan bebannya.

Tiba-tiba pandangannya menatap sekilas sebuah foto. Di sisi-sisi lainya  ternyata ada beberapa foto dengan obyek yang sama. Di dalam foto itu tentu saja adalah Opi dan Kazunari.

Kazunari tersenyum saat melihat foto itu satu per satu. Saat itu mereka sangat bahagia dan saling menyayangi sebagai keluarga. Tapi semuanya berubah.

Kazunari memegang dadanya. Rasanya sakit sekali. Ia ingin Opi kembali. Ia ingin semuanya kembali. Tapi setelah apa yang sudah ia lakukan, itu hanya lah sebuah harapan. Harapan yang sepertinya mustahil terwujud.

============

Sebuah mobil van parkir di depan sebuah gedung yang terlihat sudah sangat tua. Seorang pria keluar dari mobil itu, ia mengerenyitkan dahi melihat bangunan tua yang sepertinya sudah tak berpenghuni itu.

Rumput kering merupakan pemandangan pertama yang ia lihat, selanjutnya adalah gedung berkarat yang tampak kumuh.

Pria itu melanjutkan langkahnya, berharap masih ada orang di dalam. Pintunya terkunci, ia mencoba mengetuknya beberapa saat hingga seorang wanita tua membukakan pintu untuknya.

“Selamat siang…”, sapa pria itu ramah.

“Selamat siang… siapa ya?”, tanya ibu tua itu dengan ringkih.

“Ohno Satoshi desu…?”, katanya.

“Siapa ya?” Ibu itu malah semakin bingung.

“Mungkin anda kenal mereka?”, tanya Satoshi sambil menyerahkan sebuah foto using yang selalu ia bawa kemana – mana.

“Satoshi? Satoshi?!” seru Ibu itu memeluk Satoshi dengan hangat.

Ibu itu bercerita pada Satoshi. Segalanya yang ingin ia ketahui tentang masa lalunya.

“Aku sudah bersama Ibumu sejak ia masih sangat kecil… dulu tentu saja aku masih muda…”, katanya sambil tersenyum mengingatnya, “Aku ingat Ibumu sangat lincah dan menggemaskan, ia juga sangat pintar…”, jelasnya hangat.

Satoshi tersenyum.

“Aku sudah menganggapya seperti anakku sendiri… pada umur sembilan belas tahun, ia bertemu orang yang salah… pria itu menghamilinya! Lalu meninggalkannya begitu saja…” kini ia terlihat marah, dan dengan kata – kata yang terbata – bata Ibu itu melanjutkan, “Ia bingung, menangis setiap malam… aku sendiri tak tega melihatnya… lalu ia disembunyikan oleh keluarganya tapi aku tetap mendampinginya…”

Ibu itu melihat Satoshi dengan pandangan hangat.

“Ia melahirkanmu nak… tapi ia takut… takut sekali karena kau direbut paksa oleh keluarganya ketika kau baru beberapa bulan di dekapannya, lalu tiba – tiba saja kau menghilang, ia tak pernah lagi melihatmu..” kini wanita tua itu menangis, Satoshi memberikan sapu tangannya pada wanita renta itu.

“Lalu bu… aku ingin tahu tentang adikku…”, tanya Satoshi cepat.

“Iya… Ibumu lalu kembali menjalankan kehidupannya, walaupun ia berusaha terus mencarimu, tapi tak pernah berhasil… setelah itu ia menikah, tapi tak kunjung punya keturunan… setelah lama, akhirnya ia kembali melahirkan, tapi ia tak muda lagi sehingga ia malah meninggal setelah melahirkan…” Ibu itu semakin keras menangis, Satoshi berusaha menenangkan dengan memberinya segelas air.

“Ayahnya, membesarkan anak itu sendiri, aku tak pernah tahu lagi karena aku tak lagi bekerja dengan mereka. Tapi terakhir kudengar Ayahnya juga sudah tak ada…”

“Tapi bu… apa kau ingat siapa nama anak itu?” Satoshi benar – benar ingin memastikan hal yang sudah ia cari selama beberapa bulan ini.

Ibu itu tak menjawab, lalu beranjak ke tempat lain, tak lama ia kembali membawa sebuah amplop.

“Ini… adalah surat terakhir ibumu padaku. Aku tak pernah bertemu dia setelah ia menikah lagi, tapi ia terus menyuratiku… dan di surat terakhir ini, ia menceritakan tentang kehamilannya..”

Satoshi membuka surat itu, dan beberapa saat kemudian semuanya menjadi sangat jelas, dan ia tak perlu lagi bertanya siapa adiknya. Segalanya terjawab dan usahanya berbulan – bulan mencari bukti terbayar sudah. Ia menangis karena sedih melihat surat itu, sekaligus lega. Sekarang ia tahu tempat selanjutnya yang harus ia datangi, apartemen kumuh di pinggiran Tokyo milik seorang gadis SMA, Suzuki Saifu.

=============

To Be Continued~

Konflik makin puyeng aje…hahaha
COMMENTS ARE LOVE!!! 😛



Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chapter 8)

  1. Morimoto Lisa

    huaaahhh~ aku baca dua kali akibat kelupaan ceritanya kemarin. hahahaha sangking banyak pikiran.
    nga mau banyak komen, aku menyukainya, tapi terlalu panjang buat aku *ketauan malesnya* tapi dibela2in baca karena Penasaran. hahahaha.

    Reply
  2. アユちゃん

    semakin melihat titik terang dari semua kasus yang ada di dalamnya..
    #plakk..
    hehehehe
    dinchan, ah, chigau..
    oneechan..
    lebih baik gitu..
    jadi q pnya byak kkak..

    sueru uabis…
    g mw ktinggalan deh..
    *wlaupun sering tlat bca'a…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s