[Oneshot] When The Little Brother Get Jealous

Title        : When the Little Brother Get Jealous (When The Little Brother Falls In Love Sequel)

Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot
Genre        : Romance, Family
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Arioka Din (OC), Arioka Opi (OC), Inoo Kei (OC), Okamoto Keito (HSJ), Tegoshi Yuya (NEWS), Suzuki Saifu (OC), dan selentingan orang lewat2.
Disclaimer    : I don’t own all character here. All HSJ member and Tegoshi Yuya are belongs to Johnnys & Association. Other character is my OC, except Suzuki Saifu is Fukuzawa Saya’s OC. Ini adalah sequel dari When the Little Brother Falls In Love by Fukuzawa Saya my daughter…… yeah!! Hahahaha.. it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Sungguh saia gak tau kenapa ceritanya jadi gini…but still, COMMENTS ARE LOVE~

 WHEN THE LITTLE BROTHER GET JEALOUS

“Kyaaaa!!! Sugooi!! Sugooii!”, Din berteriak melihat aksi sebuah band di panggung yang lumayan kecil itu.

Opi yang berada tepat di sebelahnya juga tak kalah histeris.

“Itu gitarisnya siapa?? Gantenggg!!”, seru Din.

“Tetap lebih ganteng keyboardistnya…”, balas Opi.

Tentu saja untuk seorang Opi, Inoo Kei, keyboardist band itu paling tampan, karena itu pacarnya. Mereka berdua diundang oleh Inoo untuk menonton live performances mereka di sebuah bar. Bagi band indie yang baru memulai kariernya, tampil di sebuah bar seperti ini lumayan penting bagi kelangsungan band mereka nantinya. Mengumpulkan fans, tentu saja begitu tujuan utamanya.

“Sayang Dai-chan gak mau ikut!! Dia payah~”, seru Din pada Opi.

Opi hanya melihat Din sekilas, lalu tetap mengikuti irama lagu, ikut berjingkrak – jingkrak seperti penonton yang mulai memadati Bar itu.

“Ayo…ikut aja..”, tarik Opi membawa Din ke belakang panggung, bisa dikatakan begitu, walaupun hanya sebuah ruangan kecil yang disediakan oleh pihak bar bagi siapa saja yang akan manggung di tempat itu.

Lima cowok yang tadi manggung ada di ruangan itu. Opi dan Din ikut masuk ke tempat itu, hingga ruangan kini terasa sedikit penuh sesak.

“Ah! Tadi aku salah~ sedikit..”, kata seseorang berambut pirang nyala pada ke empat temannya.

“Iya Hikaru, aku dengar… lagu ketiga, reff kedua kan?”, seru Inoo pada laki – laki itu.

Laki – laki bernama Hikaru itu hanya tersenyum dan meneguk sebotol penuh air mineral di hadapannya.

“Kalian hebat kok!!”, kata Opi pada Inoo, lalu duduk di sebelahnya.

“Arigatou ya.. kau sudah mau datang…”, katanya dengan nada yang sama sekali beda dengan cara bicaranya ketika berteriak pada Hikaru.

Opi mengangguk, “Ah iya! Ini kakakku…”, katanya seakan teringat jika kakaknya juga ikut ke tempat itu.

“Inoo Kei desu…”, kata Inoo seraya berdiri memberi salam pada Din.

“Arioka Din desu..”, jawab Din.

“Itu.. Hikaru..”, tunjuk Inoo pada laki – laki pirang, “Lalu itu Yuya…”, yang Din tahu tadi adalah vokalis band itu, “Itu Yuto..”, Din tahu itu drummer mereka, “Dan itu… Keito..”

Din bersorak dalam hati, sekarang ia tahu siapa nama laki – laki itu, yang sudah ia perhatikan sejak lagu pertama dimulai, sang gitaris, Keito.

“Neechaaannn!!”, Daiki tiba – tiba saja masuk ke kamar Din dan Opi.

Disambut lemparan bantal oleh Din, “Tahu namanya ketuk pintu tidak?”, serunya kesal.

“Hehe.. gomen…”, ia melihat kedua kakak perempuannya itu sedang duduk bersila di kasur sepertinya sedang bercerita, khas cewek, kata Daiki dalam hati.

“Mau apa kau?”, tanya Din galak.

“Aku pinjam laptop dong… butuh spec yang besar nih…”, kata Daiki manis.

“Kalau buat game, tidak ada!!”, balas Din cepat.

Daiki manyun, lalu beralih kepada Opi, “Opi-nee…boleh ya?”, tanya Daiki lagi.

Opi mengangguk, “Ambil saja tuh di atas meja..”, jawabnya.

“Yay!! Aku sayang Opi-nee!!”, seru Daiki sambil mengambil laptop milik Opi di atas meja.

“Opichi… harusnya kau tak memanjakan dia…bentar lagi dia kuliah tuh~ masih saja seperti itu!”, kata Din sepeninggal Daiki.

Opi tertawa, “Biarkan saja… justru karena dia sebentar lagi kuliah kan… bagaimana jika ia benar – benar pindah ke luar kota? Kita praktis sulit sekali bertemu dengannya..”, katanya pada Din.

Din sadar, ia kini sudah bekerja, Opi masuk tahun ke empatnya di kampus. Setelah Opi lulus, maka giliran Daiki yang kuliah. Din sedikit menghela nafas beratnya. Daiki pernah mengutarakan keinginannya sekolah di luar kota, dan itu tentu saja membuat ia sedikit sedih.

“Bocah baka!!”, seru Opi sambil turun dari kasur, mengambil ponsel Daiki yang tertinggal di meja belajarnya.

“Mau lihat tidak?”, jahil Din tetap saja ada.

“Jangan deh… siapa tahu ada hal yang tidak boleh kita lihat…”, kata Opi.

Bagaimanapun kini mereka sudah cukup dewasa untuk tidak melakukan hal semacam itu lagi.

“Hahaha~ iya mungkin ya… sudah sini.. aku yang kembalikan..”, Din beranjak dan mengambil ponsel itu dari tangan Opi. Kebetulan ia memang ingin mengambil minuman dingin.

Din melangkahkan kakinya ke kamar Daiki yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarnya dan Opi.

“Oy!! Dai..”, Din terhenti karena sepertinya mendengar suara lain di kamar itu. Mereka tampaknya sedang asyik bermain game.

“Bukan gitu!! Harusnya kau bergerak kesana dulu!!”, seru Daiki heboh.

Din membuka pintu kamar itu, “Dai-chan… ini ponsel…”

Mata Din tertumbuk pada sosok itu, sosok yang sempat ia tanyakan keberadaannya pada Opi.

“Kenapa Nee?”, tanya Daiki sambil berdiri.

“Ini.. ponselmu tertinggal…”, tapi mata Din tetap melihat pada laki – laki itu.

“Huwaaa!! Jangan bilang kau melihat isinya lagi!!”, protes Daiki.

PLAKK!

Din memukul kepala Daiki dengan tangan kosong, “Berisik!!”

“Konbanwa… Okamoto Keito desu..”, laki – laki itu sudah berada di samping Daiki, memperkenalkan dirinya.

“Arioka… Din… desu..”, ujar Din terbata – bata.

“Keito ini adik kelasku Nee.. kita dekat karena sama – sama suka game…”

“HAAHH???!!”

Mencoba menenangkan dirinya sendiri, sepertinya sudah tiga gelas tandas ia minum tanpa henti.

Adik kelas?

Tidak! Seumur dengan Daiki saja sudah bencana baginya. Di kehidupannya yang sudah hampir dua puluh dua tahun ini ia tak pernah membayangkan akan menyukai seorang anak SMA. Itu mustahil baginya.

“Nee-san? Daijoubu?”

Din terhenyak mendengar suara berat itu tiba – tiba mampir di telinganya, pikirannya tak fokus, sehingga ia tak menyadari Keito sudah ada di hadapannya.

“Eh… Okamoto-kun!”, seru Din gelagapan.

“Aku mau ambil minum juga… kata Dai-chan ambil saja dibawah..”, katanya dengan bahasa yang sungguh sopan.

“Oh…”, jawab Din singkat.

“Jadi… Nee-san boleh geser sedikit dari situ kan?”

Ternyata sejak tadi tubuhnya menutupi kulkas, “Ah! Gomen…”, ia benar – benar salah tingkah.

Gerak – geriknya, bahasa tubuhnya, pandangannya yang tajam. Siapapun tak akan ada yang mengira ia bocah belasan tahun yang bahkan mungkin belum mengenal kata cinta.

“Nee-san yang waktu itu ikut menonton live performances JUMP band ya?”, tanyanya dengan suara yang menurut Din di kategorikan sebagai suara-paling-cowok.

“Hah?”, Din tersenum canggung, “Begitulah…”

“Arigatou… band kita baru mulai, jadi wajar jika belum sempurna permainannya…”, kata Keito lagi.

Mengangguk – angguk tanpa tahu harus berkata apa, sungguh bukan sikapnya yang biasa ia perlihatkan pada orang lain. Ia selalu dinilai punya kemampuan berbicara yang baik, beberapa teman kerjanya senang berkompromi soal apapun dengannya. Tapi menghadapi orang seumur Keito bisa membuat bibirnya terkunci rapat – rapat? Sungguh hebat efek bocah itu.

“Lain kali… Nee-san datang lagi ya…”, senyum itu bahkan bisa meruntuhkan pertahanan Din sejak tadi, ia yakin ia suka pada Keito.

Jadi begitulah. Din kembali terdampar di depan panggung Bar yang sama seminggu kemudian.

“Kau… jadi fans mereka? Aku tidak salah dengar kan?”, tanya Opi kembali menoleh melihat kakaknya yang kini minum, menunggu JUMP band kembali manggung.

Din mengangguk, “Kenapa? Gak boleh?”, tanyanya balik.

“Tidak sih… hanya aneh saja…”, seumur hidup ia bersama kakaknya, ia tak pernah dengar seorang Din seperti ini.

Bukankah biasanya ia tertarik pada boyband saja?

“Tenang…aku tak mengincar pacarmu kok~”, imbuh Din santai.

“Jangan – jangan kau benar – benar suka pada Keito ya?”

Din menyemburkan minuman yang baru saja hampir ia telan, setelahnya terbatuk – batuk.

“Uhuk…uhuk… kau bercanda?!” seru Din kesal.

“Hahaha… sayang sekali nee-chan… wajahmu itu terlalu mudah kubaca…”, balas Opi.

“Apa maksudmu?”

“Kau pikir hidup bersamamu selama dua puluh satu tahun tidak cukup untuk tahu kau sedang jatuh cinta atau tidak?!! Hahaha..” jawab Opi lagi.

“Onegai… jangan bilang pada Dai-chan ya… dia pasti protes kalau tahu aku menyukai…” jawaban itu berhenti sebentar, Din mencoba menarik nafas panjang, “Adik kelasnya..”

Kali ini giliran Opi yang kaget, “Apaaa??!! Adik kelas Dai-chaaann??!!”

Din mengagguk, “Makanya jangan beritahu dia… ya?”

“Nee-san!!”, Keito mengejar Din yang hendak pulang, Opi tidak ada, ia ada acara dengan Inoo setelah JUMP manggung.

Din berbalik, Keito berlarian ke arahnya.

“Ada apa?”, tanya Din heran.

“Anou… ini… kau sengaja memberi ini padaku?”, tanya Keito sambil menunjukkan sebuah kalung yang sebenarnya cukup sederhana, bahkan hanya berbentuk bulu seekor burung, dipahat dengan bahan dasar emas putih tiruan.

“Hmmm… maaa… aku menemukannya dan melihatnya, lalu kupikir akan cocok buatmu… itu saja..”, kata Din cepat, ia tak ingin maksudnya itu akan terbaca oleh Keito.

Laki – laki di hadapannya itu tersenyum, “Arigatou… aku senang sekali…”

“Un… sama – sam..”

Dan sebelum Din bisa menyelesaikan kalimatnya, Keito menarik Din ke dalam pelukannya.

“Nee-san… arigatou… senang sekali mendapatkan hadiah darimu..”, bisiknya tepat di telinga Din.

“Keito-kun… anou…”, bibir Din kelu, segalanya berubah seperti ada kupu – kupu di perutnya, menari – nari, sensasi yang membuatnya mual namun menyenangkan.

“Jya! Aku duluan!!”, seru Opi melambaikan tangan pada teman – temannya.

Inoo seperti biasanya menunggu Opi di parkiran. Mereka satu kampus, hanya berbeda jurusan.

“Capek?”, tanya Inoo lalu menyentuh pelan rambut Opi.

“Hmm.. tidak juga..”, jawab Opi ceria.

Inoo menyerahkan helm pada Opi lalu naik ke motor sport zaman perang yang dipunyai seorang Inoo. Kenapa zaman perang? Karena motor itu sudah cukup tua, terlihat dari beberapa body yang sudah terkelupas, dan berkarat termakan waktu. Hanya motor ini yang Inoo punya, hartanya yang paling berharga.

Opi sendiri tak masalah dengan hal itu, hanya ia tak pernah sekalipun mengatakan ini pada kakaknya, Din, ataupun adiknya. Mereka setengah mati akan memarahinya jika ketauan. Inoo selalu naik kendaraan umum jika pergi ke rumah Opi.

“Kenapa Ayahmu dan Dai-chan masih tak menerima aku ya?”, tanya Inoo lalu duduk di seblah Opi.

Mereka sudah sampai di apartemen lusuh milik Inoo. Hasil jerih payahnya baito selama ini. Ia bukan orang miskin, Opi tahu, hanya pilihan Inoo hidup dengan keringat sendiri, uang kuliah saja ia mencari beasiswa walaupun Ayahnya mau membayar uang kuliah tersebut.

“Tak tahu… Dai-chan selalu bilang kau itu playboy…”, kata Opi tertawa kecil lalu mengambil sekaleng bir dari kulkas kecil di dapur.

“Dulu… kan aku selalu bilang, aku tak main cewek lagi..”, Inoo menggeleng – geleng seakan meyakinkan Opi.

Opi menoleh sesaat, “Benarkah?”, tanyanya.

“Terserah kau tak percaya… atau kau lebih senang pacaran dengan Sakurai itu.”

BRAKK.

Pintu kulkas hampir rusak itu terbanting seketika. Opi tak suka sifat Inoo yang satu ini, membandingkan dirinya dengan Sakurai Sho, mantannya.

“Jangan mulai deh…”, raut muka Opi mulai berubah kesal pada Inoo.

“Kenyataan kan? Dai-chan tak pernah protes jika kau bersama Sakurai siapa itu? Dia lebih mapan dan sudah bekerja kan?”

“Bukankah kita sudah sepakat hal itu tak perlu diungkit lagi?!”, potong Opi cepat.

Inoo berdecak kesal, beralih ke keyboard miliknya. Satu – satunya barang maling mengkilap di tempat ini.

Jari – jarinya mulai memainkan tuts di hadapannya, matanya tertutup menikmati suara yang dihasilkan piano.

“Bagaimana jika aku tak bisa membahagiakanmu Opi-chan?”, tanya Inoo yang tiba – tiba berhenti, namun ia tak menoleh.

“Mana Kei-chan yang selalu optimis akan hal itu? Hah?! Ia kemana?”, tanya Opi, ia sedih dengan keadaan Inoo yang kadang tiba – tiba drop hanya karena beberapa hal.

Inoo menghembuskan nafas panjang, “Entahlah…akhir – akhir ini… aku tak pernah optimis akan hal apapun…”, ia kembali duduk di sebelah Opi.

Opi memeluk Inoo dari pinggir, tubuhnya merengkuh tubuh kurus itu, “Charging~ start!!”, kata Opi tersenyum pada Inoo.

Inoo ikut tersenyum, “start!!”, katanya juga lalu membiarkan Opi sejenak memeluknya, satu – satunya hal yang paling normal dalam hidupnya yang sudah carut – marut akibat ulahnya sendiri ini, hanya Opi.

“Err… Dai-chan…”, panggil Din lalu mendekati adiknya yang masih asyik dengan game di hadapannya.

“Apa?”, tanya Daiki tanpa menoleh.

“Apa kabar kau dengan Fu-chan?”, tanya Din mencoba terdengar biasa saja.

Gerakan Daiki terhenti, “Baik – baik saja… kenapa Nee-chan tiba – tiba bertanya seperti itu?”

“Tidak… kalian sudah kelas tiga kan? Sebentar lagi.. ehem~ berpisah…”, kata Din dengan nada bicara se-normal mungkin.

Daiki benar – benar berhenti menoleh ke kakaknya, “Tidak juga… kami bisa menjalani long distance kok… lagipula pilihan Universitas kami sama… ada apa sih Neechan?”

“Aku hanya mengkhawatirkan adikku saja…”, kata Din.

“Usoo~ sejak kapan kau mencampuri urusanku hingga begini?”, tanya Daiki lagi.

“Hmmm~ Keito-kun itu… adik kelasmu ya?”, kini Din mulai bertanya hal yang memang ingin dia tanyakan sejak tadi.

“Iya… dan asal Neechan tahu… walaupun Neechan menghiba padaku, aku tak akan memberi nomor teleponnya atau e-mailnya… dan…”, Daiki menatap kakaknya, “Aku tak akan pernah merestui kau dengannya…”

BLETAK~

Sebuah pukulan mendarat di kepala Daiki, “Mana mungkin aku tertarik pada bocah ingusan itu? Aku itu…”, Din mencari alasan tepat untuk membohongi Daiki, “Aku itu fans nya tahu… hanya karena dia keren di atas panggung..”

Daiki mengelus kepalanya yang baru saja dipukul tanpa ampun oleh Din, “Awas saja…”

“Lagipula, memangnya kenapa sih?”

“Tak ada… aku hanya tak suka kau dengannya.”

Din meninggalkan Daiki, “Kau memang tak pernah suka aku dengan siapapun!”, cibirnya lalu menutup pintu kamar Daiki dengan kasar.

Daiki menatap pintu itu lama, ya, dia hanya tak ingin perhatian kakaknya terbagi. Sudah cukup Opi yang kini sudah punya pacar, jangan juga Din.

Sudah minggu ke empat ia terus menonton penampilan JUMP band di tempat yang sama. Kadang bersama Opi, kadang tidak. Opi saja tak se setia itu menonton band ini. Terkadang ia tak bisa datang karena tugas kuliahnya.

“Bagaimana tadi?”, tanya Keito menghampiri Din di belakang Bar, kebiasaan baru mereka.

“Bagus.. seperti biasa… kenapa tak coba buat demo ke indie label saja?”

“We work on it…”, jawab Keito dengan bahasa Inggris yang fasih.

“Sou… ganbatte ne..”, kata Din lagi.

Keito hanya mengangguk – angguk, berjalan beriringan sambil menggendong tas gitarnya di pundak.

“Kalau berhasil, kau orang pertama yang kuberi tahu…”, kata Keito mantap.

“Hah? Maa.. Arigatou na..”, ujar Din terbata – bata.

Keito meraih tangan Din dengan tiba – tiba, “Tanganmu dingin…”, katanya lagi.

Entah sejak kapan Keito berhenti memanggilnya ‘Nee-chan’, kini ia seakan seumuran dengan Din saja.

“Anou.. Keito-kun…”, wajah Din memerah, dan di cuaca sedingin ini, ia merasakan pipinya hangat, kehangatan itu bahkan menjalar di sekujur tubuhnya.

“Ne.. Dinchan… ore to tsukiatteru?”

“Hah?”, Ia benar – benar mencoba mencerna kalimat tadi, itu benar – benar maukah-kau-jadi-pacarku kan?

“Keito-kun… tak usah bercanda…aku..”

Keito berbalik dan seketika mencium bibir Din cepat, tak sampai beberapa detik kemudian ia kembali melepaskannya, “Aku serius…”

Din hanya bisa mengangguk dan berharap Daiki tak tahu, ia berharap Keito cukup bijak untuk tak menceritakannya pada Daiki.

“Ojamashimasu…”, Inoo masuk ke rumah itu dengan Opi.

“Masuk saja Inoo-kun..”, sapa Ibunya ramah.

Ayah Opi seketika menghindar dan menghilang dari raung tamu itu. Ayahnya juga menentang hubungan mereka. Mahasiswa miskin yang bahkan mencoba bermain band, bukan jodoh yang Ayahnya inginkan untuk anak gadisnya itu.

Sudah beberapa kali Opi mencoba berbicara dengan Ayahnya, dan jawabannya tetap sama, ia tak mau anak gadisnya berpacaran dengan berandalan yang bahkan tak tahu besok bisa makan atau tidak.

Opi sudah capek berbicara pada Ayahnya, Din juga tak bisa membantu banyak karena tahu sifat keras Ayahnya.

Inoo mau tak mau hanya tersenyum miris melihat penolakan dari Ayah Opi. Tak hanya Ayahnya, Daiki juga menolaknya.

“Tak usah dipikirkan..”, kata Opi singkat.

Inoo duduk di ruang tamu itu dengan sedikit canggung.

“Neechan!! Laptopnya~”, kata – kata Daiki terhenti ketika melihat Inoo di ruang tamu.

“Hai Dai-chan…”, sapa Inoo pelan.

“Hmm..”, jawabnya malas.

“Apa?”, tanya Opi pada Daiki.

Daiki menoleh pada Opi, “Laptopmu sudah kukembalikan..”, katanya cepat.

“Oh… okay~”

“Ia masih playboy…percaya padaku..”, bisik Daiki yang menghampiri Opi di dapur.

“Sudahlah…urusi saja dirimu sendiri..”, kata Opi sebal.

“Huh~ Ayah punya intuisi kuat soal dirinya… dan aku juga tak mau kau sama dia…”, kata Daiki lagi.

Opi tak menjawab. Beda dengan Din, yang selalu memikirkan pendapat Daiki, Opi terkesan cuek dan masa bodoh dengan rasa cemburu Daiki yang berlebihan. Maka selama ini, ia cuek saja berpacaran dengan siapapun, sementara Din lebih sering menyembunyikannya dari Daiki.

From : Keito-kun
Subject : Morning~
Ohayou!
Aku bangun pagi lagi loh…
Makasih ya Dinchan~ ^^
See you~ :-*

Din menatap ponselnya sambil tertawa tak jelas. Ia rasanya kembali ke masa SMA dulu. E-mail singkat seperti itu saja bisa membuatnya senang setengah mati.

“Kau kenapa?”, Din terkesiap. Seorang laki – laki tampan berbicara tepat di sebelahnya.

“Mou… Yuya… berhenti mengagetkanku..”, kata Din kesal.

“Kau sedang jatuh cinta ya?”, tanya Yuya pelan.

“Hah? Tidak juga..”

“Hanya orang jatuh cinta yang melihat ponselnya lalu tertawa gak jelas kayak tadi..”, kata Yuya sambil menuangkan kopi di gelasnya.

Yuya Tegoshi adalah senpai nya di perusahaan iklan ini. Mereka sudah kenal sejak Din masih kuliah dulu.

“Jangan sok tahu…”, balas Din lalu mengambil kopinya dari pantry, menjauh dari Yuya.

“Ah iya! Dinchan… nanti pulang kantor kita meeting dengan klien…”, sahut Yuya.

“Wakatta!!”, jawab Din cepat.

“Ayah sudah bilang, ayah tak akan merestui kalian!! Apa lagi sih ini?!”, seru Ayahnya keras pada Opi.

“Kenapa?!! Aku dan Kei kan sudah sama – sama dewasa!!”, sahut Opi.

Suasana di rumah yang biasanya nyaman dan tentram terusik pertengkaran ayah dan anak ini. Makan malam sedang berlangsung ketika Opi tiba – tiba kembali mengungkit hal yang sangat Ayahnya tak mau diskusikan.

“Aku setuju dengan Ayah!”, seru Daiki tiba – tiba.

Din menatap Daiki dengan kesal, seakan berkata kau-tak-perlu-ikut-campur.

“Sudahlah Ayah… tak usah di permasalahkan bagaimana Inoo-san dan latar belakangnya.. aku lihat dia serius dengan Opi!”, kata Din mencoba menengahi mereka.

“Kau tak tahu apa – apa! Kau tak bisa hidup hanya dengan cinta!!”, seru Ayahnya lagi.

“Anata… sudahlah… anata..”, Ibunya ikut mencoba melerai ini.

“Ayah benar!!”

Din menarik Daiki keluar dari ruangan. Ia bisa gila melihat Daiki terus ikut campur masalah yang sebenarnya bukan waktunya ia ikut campur.

“Dai-chan!!”, bentak Din keras.

“Apa Neechan? Aku hanya setuju dengan pendapat Ayah…”

PLAKK!

“Ingat Dai-chan… kau harus tahu kapan kau bisa ikut campur atau tidak! Kuperingatkan!!”, Diki memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Din.

Ia tertegun. Din tak pernah sekeras ini padanya, ia kaget sekaligus sedih karena kakaknya berubah, ia tak suka perubahan ini.

“Daiki-kun… kenapa melamun?”, tanya Saifu menghampiri kekasihnya yang kini terlihat murung di sudut ruangan kelas.

“Fu-chan…”, Daiki meraih tangan Saifu, menempelkannya di pipinya.

“Ada apa? Kau terlihat murung sekali…”, kata Saifu bingung.

Daiki menghela nafas, “Kakakku berulah lagi… kemarin Opi Neechan bertengkar lagi dengan Ayah…”, jelas Daiki.

“Masalah Inoo-san lagi?”, tanya Saifu.

Daiki mengangguk.

“Lalu?”

“Lalu aku kena tampar Din Neechan karena ikut campur…”, kata Daiki lagi.

“Hah? Kena tampar?!”

“Iya.. aku kan hanya setuju kalau Opi Neechan itu tak sepadan dengan playboy gak jelas kayak Inoo Kei siapa lah itu…”, Daiki mengungkapkan kekesalannya pada Saifu.

“Ne… Daiki-kun… hidoi yo!!”, kata Saifu.

“Hah? Maksudmu?”

“Apa Daiki-kun tak memikirkan perasaan Opi Neechan? Siapa tau memang mereka saling mencintai, dan Inoo-san tak seburuk yang Daiki-kun kira..”, kata Saifu lalu menyentuh kedua pipi Daiki, “Mereka tak pernah protes soal kita kan? Kenapa kini Daiki-kun protes tanpa tahu alasannya…”, Saifu menatap Daiki lama, meyakinkan laki – laki itu.

“Tapi aku tak mau dia tak bahagia…”, kata Daiki beralasan lagi.

“Tapi Daiki-kun hanya tak mau mereka bahagia jika kau begini terus…”, kata Saifu lagi.

“Hah?”

“Apa karena Daiki-kun tak rela kehilangan mereka? Iya?”

Daiki terdiam lama, apa yang Saifu katakan benar, tapi sebagian dari dirinya masih tak menerima hal ini.

“Bawa ini..”, kata Yuya menyerahkan beberapa file pada Din.

“Hey! Tuan Tegoshi Yuya… bawa sebagian dong…”, protes Din kesal.

“Hahaha.. sebentar…”, sore ini mereka kembali akan meeting dengan klien. Karena itulah kini mereka menuju ke halte bis, untuk berangkat ke tempat meeting.

Keito menunggu Din tepat di depan kantornya. Sore ini ia ingin memberi kejutan pada gadis itu. Siapa tau dengan begini Din akan senang, terlebih hari ini adalah tepat sebulan mereka jadian.

Ia masih berjongkok di pelataran kantor ketika melihat Din berjalan bersama seorang pria. Keito tak kenal laki – laki itu, membuatnya sedikit cemburu karena mereka berjalan sambil tertawa – tawa.

“Mou!! Yuya!! Bawa ini!!”, protes Din lagi.

Yuya menghampiri Din, lalu akhirnya mengambil berkas itu, “Manja…”, cibir Yuya.

“Biarin… aku kan cewek…”, balas Din.

Lalu matanya tertumbuk pada sosok Keito. Memakai seragam sekolahnya, melambai padanya seakan tak apa – apa ia ada disana.

“Siapa? Kau kenal?”, tanya Yuya.

“Iya… ini…”, Din memandang Keito sekilas, lalu beralih ke Yuya, “Teman adikku…”, sambar Din cepat.

Keito memandang Din kaget.

“Oh… Tegoshi Yuya desu… aku teman kerja Dinchan..”, kata Yuya dengan sopan.

“Ayo pulang!!”, Keito menarik tangan Din dengan paksa.

Din menghempaskannya dengan kasar, “Maaf Okamoto-kun… aku ada rapat dengan klien…”, lalu menoleh pada Yuya, “Ayo Yuya…”.

“Dia itu sebenarnya siapa?”, tanya Yuya pelan saat mereka sudah di bus.

Din kaget karena sedang melamun, sejak tadi dipandanginya ponsel merah mudanya. Tak satupun e-mail Din dibalas oleh Keito.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Dia bukan sekedar teman adikmu kan?”, tanya Yuya lagi.

“Dia memang teman adikku..”, bantah Din lagi.

“Dinchan…ayolah…siapa dia?”, Yuya mulai tak sabar.

“Maa… dia pacarku..”, bisik Din, namun Yuya bisa mendengarnya dengan jelas.

Yuya tiba – tiba menarik Din dari kursi bus, setelah sampai di halte, mereka tiba – tiba turun.

“Yuya! Kan tempatnya masih dua halte lagi?!”, seru Din.

“Pergilah… jangan sampai kau menyesal nantinya.. meeting ini aku yang handle..”, ucap Yuya tegas.

“Tapi… Yuya…”

Yuya mendorong bahu Din pelan, “Sana! Dia pasti sedang sedih karena sikapmu tadi…”

Tak pikir panjang Din berlarian kembali menuju kantornya. Berharap Keito masih ada di sana.

“Keito!!”, beruntung Keito masih disana, padahal langit sudah gelap sejak tadi.

“Dinchan?!”

“Anou…soal tadi… aku… aku..”

“Tak apa Dinchan.. aku tahu sulit kan mengenalkan aku… bodoh juga aku kesini memakai seragamku..”, kata Keito lagi.

“Kau tak marah?”

Keito menggeleng, “Yang terpenting aku tak kehilanganmu… itu saja sudah cukup..”, jawabnya.

“Lalu kenapa e-mailku tak kau balas?!”, kini Din berbalik marah.

“Hah? Aku tak bawa ponsel…”, jawabnya dengan wajah sungguh polos membuat Din kesal saja.

Din seketika terduduk di tanah, kakinya kelelahan karena berlari menggunakan high heels tadi.

“Din!!”, seru Keito kaget.

“Yokatta~ aku kira kau marah padaku… aku…huuu~ Keito jahaaatt!!”, Din menangis karena lega dan bahagia pada saat bersamaan.

Keito menarik Din dan membantunya berjalan, “Bodoh!”, seru Keito.

“Aku tahu… aku bodoh karenamu…”, seru Din lagi.

Keito mengantar Din pulang dengan menggendong Din di punggungnya. Padahal jarak kantor dengan rumah Din cukup jauh.

“Tadaimaaa!!”, seru Din di pintu rumah.

“Okaer.. Neechan??! Keito??!!”, seru Daiki kaget melihat Din di gendong oleh Keito.

“Dia bodoh dan kecapean…”, jelas Keito.

“Dia juga bodoh…”, balas Din pada Keito.

“Kalian??”, Mata Daiki beralih ke Keito dan Din bergantian.

“Kami pacaran… memangnya kau tidak tahu?”, tanya Keito tenang.

“APAAAAA??!!”

Hujan tak menyurutkan langkah Opi menuju apartemen Inoo. Ia sudah tak sanggup lagi begini, Ayahnya kembali mengungkit dan meinta mereka putus.

“Kei-chaan…”, suara Opi bergetar karena kedinginan.

Inoo membuka pintu apartemennya dan kaget melihat Opi basah kuyup di hadapannya.

“Opi-chan!!”, Inoo mengajak Opi masuk, lalu menyerahkan handuk dan menyuruh gadis itu berganti baju.

Inoo duduk di sebelah Opi, melihat bawaan Opi yang begitu banyak membuatnya sedikit bingung.

“Ada apa ini?!”, tanya Inoo.

“Aku akan tinggal bersama Kei-chan… apapun yang Ayah katakan, aku tak mau putus denganmu!”, seru Opi.

“Jangan bercanda Opi! Kau kabur?”, tanya Inoo.

“Sudahlah… aku muak dengan ayahku…jadi biarkan aku disini…”, Opi menatap Inoo.

Inoo beranjak karena air panas yang ia masak sudah matang. Beberapa saat kemudian ia kembali membawa segelas teh hangat.

“Ini…minumlah dulu..”, kata Inoo pelan.

“Ne.. Kei-chan… jawab aku… kau mencintai aku kan?”

Inoo menghela nafas berat, “Aku mencintaimu… tapi aku tak bisa jadi orang jahat begini…”, katanya pelan.

“Maksudmu?!”

“Maksudku… kau harus pulang… Ayah dan Ibumu pasti khawatir…”

“Tapi Kei-chan??!!”

“Tapi Opi-chan..dengarkan aku…”, Inoo meraih tangan Opi, menenangkan gadisny itu, “Pikirkan… mungkin iya kita akan bisa bertahan berdua… tapi, aku tak mau jika ini tanpa restu Ayahmu… kau mau mebuatku selamanya jadi orang jahat di mata Ayahmu?!”

“Kei-chan…”

Inoo menarik Opi ke dalam pelukannya, “Sabarlah sebentar lagi… aku pasti bisa meyakinkan ayahmu… ne??!”

Opi mengangguk dalam diam, ia sepenuhnya malu karena terbawa emosi sesaat.

“Santai Dai-chan… aku bilang kan kita memang sudah pacaran… kenapa sih?”, Keito kesal karena sejak tadi Daiki terus meng interogasinya.

“Tapi kenapa kakakku?”

“Simply because I Love Her…”, jawab Keito santai.

“Tapi… Keito… gyaaahh!!”

“Sudahlah Dai-chan… bagus kan? Jadi saat kau ke luar kota, Dinchan ada yang menjaga…”, kata Keito lagi.

“Aaargghh~ MUKATSUKU!! Awas kalau kau berani menyakiti Neechanku!!”

“Iya adik ipar… tenang saja..”

Bermimpi pun tidak ia bisa melihat kakaknya berpacaran dengan Keito. Beda umur mereka hampir enam tahun, bahkan kakaknya itu tak bilang – bilang soal ini. Namun Keito baru sadar, selama ini Din memang belum pernah punya pacar. Setahunya, Din selalu single, baru kali ini ia mengenalkan pacarnya pada Daiki.

“Neechan… kau serius dengan Keito?”, tanya Daiki beringsut mendekati kakaknya yang berada di depan laptop.

“Hah? Tentu saja… kenapa?”

“Tapi dia kan pacar pertamamu?”, tanya Daiki lagi.

“Hahhaa… bukan… dia bukan pacar pertamaku… aku selalu berhasil menutupinya dari Dai-chan… karena tahu sikap posesifmu itu bisa membuat pacarku tak nyaman.”, jelas Din.

“Eeeehh?? Kok? Neechan tak pernah memberi tahuku??!!”

“Karena.. kenapa ya? Entahlah..dibanding Ayah, aku lebih takut padamu… hahaha..”

“Tapi aku tak pernah menghalangimu berpacaran..”

“Tidak secara lisan, tapi sikapmu itu…”

“Iya benar…”, Opi baru saja masuk kamar dan tertawa pada Daiki.

“Tapi… aku kan hanya berusaha melindungi kalian…”, ujar Daiki beralasan.

“Melindungi dan posesif itu beda tipis..hahaha.. mengaku saja kau takut kehilangan perhatian kami kan?!”, kata Opi yang kini ikut duduk di sebelah Daiki.

“Adik kita yang manis sudah besar ya Opi…”, kata Din mengacak rambut Daiki.

“Aku…”, Daiki menatap kedua kakaknya, “Iya aku takut kehilangan perhatian kalian…”, aku Daiki.

“Hahaha… sampai kapanpun kau adikku, dan adik Opi juga… dan ikatan itu tak ada yang bisa mengalahkan…”, jelas Din pada Daiki.

Daiki menatap Din dan Opi bergantian.

“Jadi… adikku yang manis… jangan takut kehilangan perhatian kita lagi..”, kata Opi ikut mengacak rambut Daiki.

“Atau….”, Din menatap Opi.

“Atau apa?”, Diaki merasa terancam karena kini ia diapit kedua kakaknya.

“Atau kita akan mendandanimu lagi!!”

“Kyaaa!! Gak mau!!”

“Tak hanya itu… kau akan kami suruh berjalan – jalan di harajuku… bagaimana??!!”, timpal Din.

“KYAAA~ Neechaaaannnn!!!!”

Untuk sekarang setidaknya kehidupan mereka bernagsur membaik. Daiki tahu tak seharusnya ia bersikap begitu akan keputusan kakak – kakaknya.

==========

OWARI~
Ih…aneh banget ni fic…sungguh saia gak ngerti kenapa ceritanya jadi gini…hahahaha… tau lah…tapi komen tetap cinta buat saia…
Tolong di kritisi…LOL
COMMENTS ARE LOVE~



Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] When The Little Brother Get Jealous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s