[Oneshot] When The Little Brother Falls In Love

Title: When The Little Brother Falls In Love (Oneshot)
Author : Fukuzawa Saya
BETA-READ by Dinchan Tegoshi
Starring: Arioka Daiki( HSJ), Suzuki Saifu (OC), Arioka Din (OC) , Arioka Opi( OC), and other character.
Genre: Family, Romance..hahaha
Rating: PG.
Disclaimer : Baiklah.. Daiki Arioka bukan punya saya(sebenernya maunya jadi punya saya) dia milik J.E dan keluarganya…other OC silahkan akuin masing masing except Suzuki Saifu.hahahaha gaje banget saya..abisan kesel bunda sama Opi neechan ngingetin saya tentang masa kelam fict AIL eps 10 part you-know lah bunda …opi neeechan.hahahaha

When The Little Brother Falls In Love

“Onee-chan..yamete yo…huu…”, seru sebuah suara anak laki laki kecil pada dua orang gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya, anak laki laki itu bahkan sudah menangis namun, bukannya berhenti ..kedua gadis itu malah terus melanjutkan kegiatannya mendandani adik laki lakinya yang wajahnya memang sangat manis itu, setelah adik laki lakinya dipakaikannya gaun dan di pakaiakan bando..Kedua gadis itu mendandani wajah imut adik laki lakinya tersebut, mereka membubuhi wajah adiknya itu bedak.

“Opi nee-chan..yamete kedasai..”,seru anak laki laki bernama Arioka Daiki yang berumur 7 tahun kepada kakak perempuannya yang kedua Arioka Opi yang berumur 11 tahun.

Bukannya berhenti, Opi malah memakaikan kalung di leher Daiki yang menolak, namun Daiki yang bertubuh lebih kecil dari Opi tentu saja kalah melawannya.

“Huahahaha..Dai-chan..kau cantik sekali.”, seru Din, kakak pertama Daiki yang berumur 12 tahun.

Daiki merenggut, dia benci saat dua kakak perempuannya ini sedang bosan..karena pasti akhirnya dia yang akan dijadikan korban keisengan mereka.

Daiki bangkit berdiri, “Onee-chan!!jangan seperti ini..aku ini laki laki!”, serunya kesal, membuat Opi dan Din terbahak keras .

“DIN!!OPI!!KALIAN….haduh, Daiki….cepat ganti bajumu itu..” ,kata Ibu yang tiba tiba masuk ke dalam kamar Daiki, ia mengangguk lalu dengan cepat menghampiri lemari pakaiannya dan mengambil kaos dan celana pendeknya. Dia menoleh lalu memeletkan lidahnya kepada kedua kakanya yang lalu malah berkata.

“Dai-chan kawaiii…”.

Membuat Daiki tambah kesal dan tidak menggubris kakaknya lagi, ia memutuskan untuk segera mandi. Daiki merutuki dirinya sendiri, kenapa juga dia harus menjadi anak bungsu..dan lagi dia satu satunya anak laki laki dirumah ini,dan sialnya dia punya dua kakak perempuan yang sangat suka mendandaninya menjadi perempuan, membuatnya kesal.

Daiki terus merutuki dirinya sendiri, dia akui wajahnya memang manis..bahkan lebih manis dari dua kakak perempuannya itu, walau begitu daiki sebenarnya sangat menyangi dua kakakknya itu , kecuali saat mereka mendandaninya seperti perempuan.

“Dai-chan maaf ya…jangan marah…”, kata Din saat Daiki baru saja masuk kedalam kamarnya setelah tadi dia baru saja mandi, Daiki cemberut. Mana mungkin dia bisa marah pada dua kakaknya itu kalau mereka meminta maaf seperti itu.

“Dai-chan gomen..kami cuma iseng mendandanimu seperti perempuan..hehe..”, kata Opi meminta maaf juga.

Daiki mengangguk, “Un..daijobu..”, katanya sambil tersenyum simpul membuat dua kakanya itu memeluknya, membuatnya malu .

“Onee-chan..lepas….”, kata Daiki sambil meronta ronta namun dia senang juga kakanya memeluknya, dua kakanya itu lalu mengelus elus kepalanya sambil tersenyum kearahanya membuat daiki mau tak mau balas tersenyum juga kepada dua kakaknya itu.

9 years later

“DIN NEE-CHAN!!MANA KEITAIKU???”, teriak suara lantang laki laki yang sudah menginjak masa remaja itu sambil menuruni tangga rumahnya dengan cepat,lalu segera menghampiri dua kakak perempuannya yang tengah memegang keitainya tmpak tersenyum senyum melihat sesuatau di keitinya tersebut,dengan cepat daiki merebut keitainya itu dari tangan Din yang memegang keitainya, sedangkan Opi hanya tersenyum senyum melihat wajah panik Daiki yang sekarang sedang menge check isi keitainya.

“Su ..zu..ki…”, gumam Din sambil tertawa tawa dengan Opi, wajah Daiki sudah memerah malu karena tau kakaknya itu sudah melihat kotak emailnya.

“Onee-chan!!!kau baca email ku?????”, tanya Daiki dengan wajah memerah walau dia sudah pasti tau apa jawaban dua kakanya itu. Opi dan Din tertawa tawa lagi.

“Din..Opi..jangan menggoda adik kalian terus…”, tegur Ayah yang juga sedang membaca koran di meja makan,Opi dan Din tidak diam sepenuhnya karena mereka masih terkekeh kekeh kecil sambil menatap daiki yang malu.

“Daiki..ayo sarapan..kau bisa terlambat..”, seru Ibu yang tengah menaruh jus jeruk di meja makan, Daiki merenggut kepada dua kakaknya yang masih saja menggodanya dengan tatapan mereka.

“Aku tidak sarapan…”, kata daiki “ittekimasu..”, seru Daiki lagi lalu berangkat ke sekolahnya.

“Itterashai.. Saifu-chan~…”, seru Din dan Opi berbarengan membuat Daiki seketika menoleh dan menatap kedua kakaknya itu dengan tatapan kesal campur malu.

“Dia mulai dewasa ya Opi..”, kata Din sambil memakan roti selainya, Opi yang juga sedang memakan roti selainya mengangguk.

“Maa..dia kan juga sudah SMA..wajar saja ne?tapi sepertinya padahal baru kemarin dia kita dandani seperti perempuan ya?~”, kata Opi.

Din terkekeh pelan, “maa…kita akan kehilangan wajah manisnya kalau dia sudah punya pacar sepertinya..”, keluh din, din sangat menyangi Daiki begitu juga dengan Opi, itu sebabnya mereka sedikit banyak khawatir nantinya Daiki akan lebih bersama dengan pacarnya kelak ketimbang dengan mereka.

Daiki berjalan cepat menyusuri koridor sekolahnya, dia ingin cepat melihat wajah gadis itu, gadis yang sejak dia masuk ke SMA ini setengah tahun yang lalu terus berada di benaknya, Daiki menyukainya, namun dia belum berani menyatakannya kepada Saifu Suzuki itu, teman – temannya bahkan terus menyuruh Daiki untuk menembak Saifu, namun sepertinya Daiki masih malu.

“Ohayou Fu-chan…”, sapa Daiki pada Saifu yang tengah duduk dibangkunya sambil tersenyum kearah Daiki yang berjalan menghampirinya.

“Ohayou Daiki-kun….”, sapa Saifu balik , Daiki merasa detak jantungnya tidak beraturan namun tetap berusaha untuk tenang melihat wajah Saifu yang tengah tersenyum manis kearahnya.

“Fu…pulang sekolah ada acara?”, tanya Daiki tiba – tiba, entah kenapa kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Daiki,teman – teman Daiki yang duduk tak jauh dari tempat duduk Saifu menatap Daiki, seolah mereka sudah menunggu – nunggu  Daiki mengatakan hal tadi ke Saifu.

Saifu menggeleng, “Tidak ada..doushite?”, tanya Saifu.

“Hmm….mau jalan denganku?”

“Hallo? Opi…aku di café biasa..iya, cepat ya..”, kata Din lalu memutuskan sambungan telponnya ke Opi. Din sudah menunggu Opi di café 30 menit lebih, rencanannya mereka ingin membelikan Daiki video game yang sejak kemarin diingankannya, namun karena game itu cukup mahal, Daiki mengurungkan niatnya untuk membeli game itu, walau dia sangat menginginkannya.

“Din…”, panggil Opi sambil berjalan menghampiri Din yang sedang duduk dengan wajah bosan menunggu Opi yang baru saja pulang dari kampusnya.

“Sudah yuk langsung saja..atau kau mau minum dulu Opi?”, tanya Din.

Opi menggeleng, “Langsung saja…ikou…”, kata Opi lalu berjalan beriringan dengan Din menuju sebuah toko yang menjual video game.

“Ne.. Dai-chan suka video game ya?”, tanya Saifu yang kini berada di sebuah toko video game , tadi setelah mereka makan cake di sebuah café Daiki mengajak Saifu ke sebuah toko video game, Saifu menuruti saja ajakan Daiki itu toh Daiki begitu baik padanya.

“Un..aku suka sekali.. Fu-chan suka game?”, tanya Daiki .

“Hmm.. tidak juga, aku tidak begitu mengerti cara memainkannya..hehe..”, kata Saifu sambil terkekeh pelan,lalu memperhaikan kotak kotak video game yang berjejer rapi, Daiki tersenyum melihat wajah Saifu yang nampak lucu saat memperhatikan kotak kotak video game itu, Daiki merasa dia harus menyatakan perasaanya ke saifu secepatnya.

“Opi…”, panggil Din sambil menusuk nusuk pundak Opi yang nampak memperhatikan setiap deret video game yang ada di rak, mencari video game yang akan dia beli untuk Daiki.

“Opi…lihat itu..”, kata Din sambil menarik narik baju Opi membuat mau tak mau ia menoleh menatap Din.

“Apa?”

“Itu Daiki kan?”, tanya Din sambil menunjuk seorang laki laki yang tengah memakai seragam SMA bersama seorang gadis yang juga memakai seragam yang sama dengan laki laki yang ditunjuk Din itu. Opi memicingkan matanya

“Ah..benar! Itu Dai-chan…!!!”, seru Opi. Mereka lalu bertukar pandang lalu tersenyum jahil.

Daiki masih asik dengan video game yang ada di depannya, sedangkan Saifu namapak sedikit bingung, dia tidak begitu mengerti game, namun membiarkan saja Daiki yang asik dengan video gamenya.

“Daiki baka…cewek itu kebingungan sepertinya…”, kata Opi pelan sambil mengintip Daiki dan Saifu dari balik rak cd.

Din mendesah pelan, “Daiki bodoh..”, kata Din pelan lalu melangkahkan kakinya mendekati Daiki dan Saifu.

“Eh.. Din!! Jangan…”, cegah Opi namun Din tetap saja menghampiri Daiki, sehingga mau tak mau Opi ikut juga.

“Hai… Nampak senang.. Daiki…”, kata Din sambil tersenyum walau dalam hatinya dia merutuki dirinya mempunyai adik yang gila game sampai sampai dia lupa dengan gadis yang ada bersamanya itu, Saifu nampak bingung melihat Din dan Opi.

“Onee-chan!!”, seru Daiki saat melihat Din dan Opi yang tersenyum kearahnya.

“Hai Dai-chan…”, kata Din sambil menatap Daiki tajam.

Daiki menatap Din yang terus mengoceh dengan kesal, setelah tadi mereka bertemu di toko video, Din menariknya paksa ke café untuk mengobrol, Din terus mengajak Saifu bicara sedangkan Saifu nampak sedikit canggung dengan Din dan Opi .

“Nee-chan..yamerou …dia takut padamu..”, kata Daiki .

“Setidaknya lebih baik daripada seseorang yang asik sendiri dengan video game sampai melupakan teman kencannya..”, sindir Din membuat Daiki seolah tersadar tadi dia terlalu asik dengan video video game tadi.

“Eh.. Fu, gomen tadi aku…”

“Un..Daijobu..aku tau kau sangat suka game…”, kata Saifu sambil tersenyum manis membuat Daiki ingin mencium pipi putih saifu itu kalau saja dia tidak bisa menahan dirinya.

“Ne…Saifu chan..”

“Ya? Din neechan?”

“Kau tahu?”, tanya Din , membuat saifu mengernyitkan dahinya bingung begitu juga dengan Daiki dan Opi.

“Ya?”

“Daiki menyukaimu…”, kata Din, kontan membuat Daiki dan Saifu terperangah mendengar perkataan Din itu.

“NEE-CHAN!!KAU SUDAH KETERLALUAN!! KAU TAHU???”, bentak Daiki saat mereka sudah sampai dirumah, Din sudah terlalu muak dengan sikap Daiki yang seperti itu, kalau dia suka harusnya dia langsung saja meminta Saifu menjadi pacarnya.

Opi sedikit tidak setuju dengan sikap Din ini, harusnya dia tidak mengatakan hal seperti tadi ke Saifu,ini kan masalah pribadi Daiki dan Din harusnya tak ikut campur.

“URUSEE!! BUKANNYA AKU MALAH MEMBANTUMU?!”, teriak Din kesal, Daiki menatap kakaknya itu kesal. Entah apa yang dipikirkan Din itu hingga bisa seperti ini.

Tanpa bicara apapun lagi Daiki menaiki tangga masuk kekamarnya, memikirkan bagaiamana sikapnya besok ke Saifu setelah kejadian tadi.

“Din..kau ini sebenarnya kenapa?”, tanya Opi.

Bukannya menjawab din malah terisak, “Aku ..aku hanya ingin membantu Daiki..”, kata Din sambil terisak.

“Ne.. Din, bukan begitu caranya…itu malah akan membuat hubungan mereka jadi canggung…”, kata Opi sambil mengusap pelan punggung Din.

“Aku… aku hanya ingin adikku bahagia,aku tadi terlalu kesal…jadi tanpa sadar aku…”

“Sebaiknya kau minta maaf pada Daiki…”, kata Opi akhirnya, Din mengangguk.

“Dai-chan…”, kata Din sambil mengetuk pintu kamar Daiki, tak ada jawaban, “Daiki…buka pintunya, Nee-chan mau bicara..”, tetap tidak ada jawaban.

Din mendengus kesal,lalu menggendor pintu kamar Daiki dengan keras, “DAIKI BUKA PINTUNYA!!”, teriak Din, akhirnya pintu dibuka.

Daiki menatap Din kesal, “Apa!!??”

“Gomen..nee-chan yang salah..gomen ne Daiki..”, kata Din sambil menunduk, Daiki mendengus.

Sejak dulu dia tidak berubah, dia tetap tidak tega melihat kakaknya itu meminta maaf padanya.

“Kau tau nee-chan, aku ..aku memang menyukai Saifu,namun kau tidak usah mengatakannya pada Saifu, aku bisa mengatakannya sendiri. Kau membuat hubungan kami jadi canggung kau tahu?”

“Iya aku tahu..gomen…”, kata Din sambil menunduk.

Daiki menghela nafas, “Baiklah…aku tak marah lagi, selanjutnya aku sepertinya harus benar – benar menembaknya”, kata Daiki dengan sedikit malu.

Din tersenyum senang karena Daiki sudah memaafkannya, “Ne..ganbareeeeee!!”, seru Din sambil menepuk nepuk lengan adiknya itu, Daiki tersenyum.

“Hahaha…ganbarimasu …”, kata Daiki sambil terkekeh pelan.

Daiki menghela nafas sebelum akhirnya masuk kedalam kelasnya, Saifu seperti biasa sudah duduk dibangkunya, tidak seperti biasa Daiki yang setiap pagi menyapa saifu kini langsung saja menghampiri Saifu.

Saifu sedikit kaget mendapati Daiki tengah berdiri di hadapannya.

“Gomen..kemarin kakaku…”, mulai Daiki.

Wajah saifu memerah, menggeleng, “Daijobu.. Daiki-kun…”, kata Saifu tanpa menatap Daiki.

“Anou Saifu…”, kata Daiki dia mengatur detak jantungnya yang terus berdetak tak karuan itu, tanpa Daiki sadari Saifu juga begitu, dia berdebar – debar menunggu kata yang akan diucapkan Daiki. Sedangkan teman – teman sekelasnya yang sudah tak sabar menunggu Daiki menyatakan perasaannya ke Saifu terus menonton adegan ini dari bangku deretan  belakang.

“Ayo cepat bilang Daiki baka..”, gumam Hikaru pelan, Yabu langsung menjitak kepala Hikaru yang meringis.

“Sttt..diam…”, kata Yabu. Hikaru hanya terkekeh pelan lalu melanjutkan melihat Daiki dan Saifu.

“Suki…daisuki..mau jadi pacarku..?”, kata Daiki dengan wajah semerah kepiting rebus, yang lain tegang menunggu jawaban Saifu, beberapa menit lewat akhirnya Saifu menoleh sambil tersenyum kearah Daiki walau wajahnya juga nampak sangat merah sekarang.

“Un..aku mau…”, kata Saifu sambil tersenyum membuat Daiki dengan refleks memeluk tubuh Saifu yang nampak kaget Daiki memeluknya tiba tiba.

“AKHIRNYAAAAAA…OMEDETOU~!!”, seru anak – anak kelas Daiki yang sedari tadi menyaksikan adegan itu dengan serius ,membuat Saifu malu dan berusaha melepaskan pelukan Daiki, namun Daiki nampaknya enggan melepaskan pelukannya itu, daiki menatap wajah saifu lalu tanpa aba aba daiki mencium bibir saifu sekilas..membuat saifu mematung dipelukan daiki itu.sedangkan teman teman mereka yng menyaksikan adegan itu bersorak lebih kencang.

“HEI!!JANGAN RIBUT!! DUDUK DI BANGKU KALIAN MASING MASING!”, seru Tanaka-sensei yang masuk kedalam ruang kelas itu, membuat Saifu dan Daiki gelagapan melepas pelukan mereka dan duduk dibangku masing masing.

Din duduk di ayunan yang menghadap halaman belakang rumahnya,sedikit bosan. Baru dia akan beranjak masuk ketika suara Daiki terdengar, Din sedikit senang karena Daiki sudah pulang karena dia bisa menjahili Daiki, namun Din segera mengurungkakn niatnya begitu dia lihat ada Saifu bersama Daiki, Din tersenyum senang melihat Saifu.

“Waa.. Fu-chan..genki?”, tanya Din.

Saifu mengangguk, “Un..neechan?”, tanya Saifu.

“Baik..silahkan masuk…”, kata Din.

“Ojamashimasu….”

“Nee-chan…aku sudah jadian dengan Saifu…”, kata Daiki sedikit malu kepada Din yang tengah menuangkan jus jeruk kedalam gelas untuk Saifu, Din tersenyum senang.

“Maa..omedetou ne..otoutou-chan..”, kata Din.

“Arigatou ne…”

Din tersenyum senang akhirnya adik kecilnya jatuh cinta. Din senang karena adik kecilnya sedikit demi sedikit mulai berubah dewasa.

“Tadaima…”, seru Opi yang baru saja pulang, Din menghampiri Opi sambil menenteng sebuah kamera digital,lalu menarik Opi kearah halaman belakang tempat Daiki dan Saifu tengah mengobrol.

“Eh?ada apa?”, tanya Opi bingung dengan Din yang tiba tiba membawanya ke taman belakang.

“Sst…jangan berisik…”, kata Din, Opi ikut mengumpat – umpat ke halaman belakang, sedikit kaget karena melihat Daiki sedang berciuman dengan Saifu, Din kaget juga namun akhirnya terkekeh pelan lalu mmbidik kameranya kearah Daiki dan Saifu.

CRIKKK.

“Ah..baka! Aku lupa matikan lampu blitznya..ah..baka baka…”, seru Din pelan, Daiki dan Saifu sontak menoleh menatap Din dan Opi yang tersenyum canggung menatap Daiki dan Saifu yang salah tingkah karena kepergok tengah berciuman.

“Etto ..tadi..aku..”, kata Din gelapgapan, sedangkan otaknya tak mampu berfikir apapun.

“NEE-CHANNNN!!!”, seru Daiki kesal lalu mengejar dua kakanya itu yang berlari menghindarinya sambil tertawa – tawa, sedangkan Saifu ikut tertawa juga menatap kakak beradik itu yang selamanya pun akan selalu saling menayangi dan tentu saja dua kakak perempuan itu yang akan terus mengganggu adik kecilnya yang tengah jatuh cinta.

O~W~A~RIIIII~
comment minnaa…however this fict gaje kuadrat..hahahaha



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s