[Multichapter] Happiness (chap 7)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Seven
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
=Chapter 7=



Aiba pulang setelah hampir pagi. Ia membuka pintu apartemen tanpa berbicara sama sekali, karena tahu gadisnya tak akan ada disitu. Ia sudah marah pada Aiba, bahkan sekarang ponselnya sama sekali tak bisa dihubungi membuat Aiba sedikit panik. Tapi dia berinisiatif untuk membiarkan sementara Din agar ia bisa berfikir dengan kepala dingin, begitu juga dengan dirinya. Ia takut jika terus memaksa Din berbicara, maka mereka akan benar – benar putus.

Ia melihat DVD di ruang tengah masih menyala, begitu pula dengan banyaknya cemilan yang berserakan di sekitar sofa. Aiba mengambil remote, dan memainkan film yang masih ada di dalam DVD.

“Ah…film ini..”, gumamnya.

Film kesukaan mereka berdua, karena film ini romantis dan punya banyak arti yang bagus. Tiba – tiba saja ia merasa ingin menangis, ia tahu ia bukan orang yang cengeng, tapi mengingat akan kata – kata Din membuatnya merasa sangat bersalah pada Din. Begitukah kekasihnya itu merasakan keberadaannya? Hingga ia bahkan kesepian?

Aiba kembali mempertanyakan apakah keputusannya tinggal bersama dengan Din adalah hal yang benar. Seingatnya, sebelum dirinya dan Din tinggal bersama, mereka tak pernah mempermasalahkan tentang kesibukan masing – masing. Walaupun mereka jarang bertemu, justru menjadikan moment bertemu itu jadi sangat istimewa. Tapi sekarang mereka malah bertengkar padahal setiap hari mereka bertatatap muka.

“I miss you baby-chan…”, bisik Aiba sambil menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.

Sesaat kemudian matanya menyapu ke seluruh ruangan di apartemen itu. Setiap sudut dimana Din selalu ada untuk tersenyum ketika ia pulang, memasak untuknya, terkadang menggoda dirinya, menemaninya bekerja bermalam – malam untuk mengedit sebuah foto.

Beberapa bulan ini kehidupan mereka dihabiskan dnegan tangisan dan beberapa kali pertengkaran. Ia sedikitnya menyesali keputusannya mengajak Din tinggal bersama.
=============

Saifu turun dari café tempatnya bekerja, ia sudah siap pulang dan berencana mampir ke toko 24 jam untuk membeli makanan sebelum pulang.

Ia hendak menyebrang ketika tiba – tiba sebuah mobil dengan cepat lewat di depannya, bahkan menyerempet tubuhnya hingga terjatuh.

“Kyaaa!!”, Saifu berteriak kaget, tubuhnya terjembab di jalan dan ternyata kakinya sudah berdarah.

Namun mobil yang menyerempetnya itu sudah hilang entah kemana. Beberapa orang di jalan menolongnya berdiri.

“Kau baik – baik saja? Lebih baik ke dokter…”, seru seorang pria yang membantunya berdiri.

“Tak usah… aku baik – baik saja…”, tolak Saifu.

Ia tak mau menghabiskan uangnya di Rumah Sakit hanya untuk memar dan luka sedikit.

Saifu memang sedikit merasa aneh, belakangan ini ia sering sekali mendapat kesusahan. Mulai dari suara aneh di jendela setiap malam, selain itu ia merasa diikuti seseorang, dan sekarang ia malah terserempet mobil.

Ia mengurungkan niatnya ke toko 24 jam dan segera pulang ke apartemen.

Wajahnya terlihat kusam di kaca, entah sudah beberapa hari ini ia sulit tidur karena suara – suara aneh di jendela, ia takut tapi tak berani mengatakan apapun.

Saifu menghela nafas berat, ia menebak – nebak apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Tiba – tiba ponselnya berbunyi. Saifu meraihnya dan melihat nama di LCD, “Dai-chan”

“Moshi-moshi?”

“Fu-chan… kau bisa datang ke tempatku sekarang?”, tanya Daiki.

“Hmmm.. ada apa?”, tanya Saifu kaget.

“Ada yang ingin kubicarakan…”, kata Daiki.

Saifu kembali keluar rumah setelah mem plester kaki dan tangannya. Sebenarnya kakinya sedikit susah dipakai berjalan, tapi ia tahan karena ia fikir tempat Daiki bekerja tak jauh dari apartemennya. Ia tak mungkin naik taksi, ia tak mau membuang uangnya untuk itu.

Ia merasa ada orang yang mengikutinya. Saifu berusaha tak menggubris, ia berdoa semoga saja itu hanya perasaannya saja karena berada di tempat yang cukup gelap.

Saifu memutuskan untuk menghubungi Daiki agar ia merasa lebih tenang. Ia segera menghubungi nomor Daiki.

Tiba – tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang.

“Kyaaa!!”, teriak Saifu kaget, ia terjembab ke aspal karena cepatnya tarikan itu.

“KAU!!”, teriak orang itu. Ia memakai topeng dan baju serba hitam, tapi Saifu tahu itu suara wanita.

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Saifu, “Kau berani menyentuh Dai-chan??!! HAH??!!”, teriaknya di depan muka Saifu.

Air mata Saifu mulai mengalir, ia bahkan tak sanggup berteriak karena terlalu shock.

Orang itu kini memukul lagi wajah Saifu dengan keras. Saifu mencoba berlari, melepaskan diri dari orang itu.

“Moshi-moshi? Fu-chan?”, Daiki heran mengapa Saifu menelepon tapi tak mengatakan apapun, “Fu-chan?!”

“Kyaaa!! Hentikan!! Hentikan!!”, seru Saifu, Daiki bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Saifu.

“Kau sudah mengambil Dai-chan!! Jangan harap kau bisa bebas..”

Daiki mengerutkan keningnya, dan ia segera tahu kalau Saifu dalam bahaya. Ia keluar dari toko itu sambil masih menempelkan ponselnya, mencoba mencari dimana Saifu. Ia berlari menyusuri jalan yang menuju toko dari apartemen Saifu.

Itu Saifu. Mata Daiki terbelalak karena Saifu kini ditendang sekelompok orang berbaju hitam.

Daiki menutup ponselnya, berlari menuju Saifu.

“Hentikan!!”, seru Daiki.

“Dai-chan!!”, teriak seseorang.

Tak lama semua orang disitu berhenti dan melihat Daiki. Mereka hendak kabur, Daiki menahan seseorang yang sejak tadi hanya melihat adegan Saifu dipukuli oleh orang – orang.

“Kau!!”, Daiki menarik topeng yang dipakai wanita itu, “Konoha?!”, seru Daiki kaget.

Itu Konoha, mantan pacarnya sebelum Saifu.

“Ini Salah Dai-chan!! Kenapa kau meninggalkanku untuk cewek murahan kayak dia!!”, serunya sambil menunjuk kea rah Saifu yang tergeletak di jalan.

Daiki tiba – tiba menampar Konoha dengan keras, “Karena begini sikapmu… ia lebih muda, lebih baik darimu!! Apa lagi?!”, bentak Daiki.

“Tapi aku lebih mencintaimu~”, isak Konoha.

“Omong kosong!!!”

Tak lama beberapa polisi datang, ternyata warga sekitar melihat dan berinisiatif untuk menghubungi polisi.

“Dai-chan…?”, seru Konoha ketika dirinya diringkus oleh polisi.

“Jangan pernah berani menyentuh Saifu lagi…”, kata Daiki dingin, ia merengkuh tubuh Saifu yang penuh memar dan akan dibawa oleh ambulance.

“Fu-chan…gomen ne…”, kata Daiki penuh sesal.

Saifu masih sadar walaupun penuh memar, ia sudah diobati dan kini masih berada di ER.

“Dia siapa?”, tanya Saifu lirih.

Daiki menjelaskan semuanya, bahwa Konoha adalah mantan pacarnya. Ia menceritakan memang Konoha type wanita yang sangat protektif dan posesif terhadap dirinya.

“Arigatou Dai-chan sudah datang menyelamatkanku..”, kata Saifu lagi.

Saifu menyentuh pipi Daiki pelan, dengan telapak tangannya. Daiki meraih tangan Saifu yang berada di pipinya, “Aku tak akan membiarkan ini terjadi lagi…”, bisik Daiki.

Ia menatap wajah Saifu yang tersenyum lemah di hadapannya. Tiba – tiba terlintas di fikirannya, ia tak ingin meninggalkan Saifu. Entah dengan alasan apa, hari ini ia tahu apa itu rasa ingin melindungi seseorang.

=============

Karena kuliahnya masih 2 jam lagi, Opi memilih untuk makan siang di cafe dekat kampusnya. Ia sebenarnya tidak suka kalau harus makan siang sendirian seperti ini. Tapi apa boleh buat karena Daiki entah berada dimana dan sejak tadi ponselnya tidak dapat dihubungi.

Opi memilih kursi yang dekat jendela lalu memanggil seorang pelayan terdekat. Setelah memesan, ia mengeluarkan majalah yang baru saja ia beli. Lumayan untuk mengusir kebosanan sebelum pesanannya datang.

Tepat saat akan membuka halaman pertama, pandangannya menangkap sosok yang sangat ia kenal baru saja masuk ke dalam cafe. Tiba-tiba senyumnya mengembang. Ia memutuskan untuk beranjak dan menghampiri kenalannya itu.

“Sakurai-san?”, tanya Opi.

“Ah~”, orang yang ternyata adalah Sho langsung menatap Opi dengan kaget.”Opi-san? Makan di sini juga?”

Opi mengangguk. “Sakurai-san sendirian?” tanyanya.

“Begitulah. Kau?”

Opi tersenyum. “Aku juga.”

“Souka. Kalau tidak keberatan, boleh aku bergabung?” tanya Sho meminta izinnya.

Mungkin terdengar gila, tapi jika cafe ini adalah kamarnya, ia sudah lompat kegirangan karena senang.

“Tentu saja. Aku duduk di sebelah sana,” Opi menunjukkan mejanya.

“Oia, bagaimana keadaan Reina sekarang?” tanya Opi setelah Sho memesan makanannya.

“Sudah lebih baik. Dia sudah sekolah kembali.”

“Yokatta~. Aku senang mendengarnya,” seru Opi. Ia benar-benar lega mendengar keadaan Reina karena saat kejadian itu, ia benar-benar panik.

“Bukan hanya itu,” tambah Sho. “Dia sudah bisa berlari kesana kemari membuat aku pusing,” ucap Sho sedikit kesal.

Opi tertawa. “Itu tandanya dia sudah sehat.”

Tak berapa lama, ponsel Sho berbunyi. Opi melihat wajah Sho seperti enggan untuk mengangkatnya. Tapi akhirnya laki-laki itu menjawab panggilan dari ponselnya.

“Moshi-moshi? Ada apa Rei?”

Opi sedikit tersentak ketika mendengar nama tetangganya itu. Ternyata mereka masih berhubungan.

“Aku sedang ada di cafe dekat Keio. Ada apa? Moshi-moshi? Rei? Rei?,” Sho berulang kali memanggil Rei dengan wajah bingung.

“Doushite? Rei-san kenapa?” tanya Opi penasaran.

Sho mengangkat bahu tanda ia pun tidak tahu.

Opi memutuskan untuk tidak mengambil pusing tentang Rei yang tiba-tiba memutuskan hubungan telpon Sho. Tapi ia sendiri tidak membayangkan ketika ia dan Sho sudah menghabiskan makanan mereka dan asyik mengobrol, tiba-tiba Rei datang dan sudah ada di hadapan mereka.

“Rei?” Sho terlihat kaget. Sama kagetnya dengan Opi. “Sedang apa di sini?,” tanyanya kemudian.

“Ah~, aku tidak tahu kau sedang bersama Opi,” kata Rei.

Opi hanya membalas dengan senyuman.

“Gomen. Tadi ponselku habis baterai. Tapi tadi aku sempat mendengar kau ada di cafe dekat Keio. Dan ternyata benar kau ada di sini,” Rei menjelaskan.

“Lalu ada apa mencariku?” tanya Sho lagi sambil menuntun Rei untuk duduk.

Opi merasa kesal karena Sho terlihat sangat peduli dengan Rei. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bukan siapa-siapa dari Sho.

“Aku hanya ingin meminta tolong. Bisa menemaniku hari ini? Aku mau membeli kado untuk temanku yang akan menikah. Temanku itu laki-laki. Mungkin kalau aku membawamu, aku bisa mendapatkan hadiah yang bagus, “ ucap Rei.

“Maaf Rei. Aku tidak bisa. Hari ini aku ada perlu dengan Opi,” tolak Sho dengan menyesal.

Opi yang sedang mengaduk-aduk minumannya langsung menatap Sho dengan bingung. Ada apa ini?

“Tidak perlu hari ini. Besok juga tidak apa-apa.” Seperti biasa Rei tidak ingin menyerah.

“Besok juga tidak bisa. Aku ada kencan dengan Opi. Gomen ne, Rei.”

“Mou..Souka..sepertinya aku mengganggu kalian. Gomen ne, Opi,” ucap Rei merasa tidak enak.

“Daijoubu,” balas Opi. Mungkin ini yang diinginkan oleh Sho. Opi memutuskan untuk mengikuti skenario Sho.

“Kalau begitu aku pergi saja,” kata Rei seraya beranjak dari duduknya.

Sho ikut berdiri. “Tidak makan siang dulu?”

Rei melihat jam tangannya lalu menggeleng. “Sepertinya tidak. Aku harus menjemput Hiroki. Ja ne, Sho-kun, Opi-chan.” Rei mengangkat tangannya kemudian berlalu meninggalkan cafe.

“Gomenasai…” Sho membungkukkan tubuhnya di hadapan Opi. Tentu saja Opi kaget karena Sho tiba-tiba seperti ini.

“He?”

“Aku sudah melibatkanmu tadi.”

Opi mengangguk mengerti. “Daijoubu. Selama aku bisa membantumu,” balas Opi sambil tersenyum.

“Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Opi ketika mereka berdua sudah di luar cafe. Jam kuliah Opi sebentar lagi dan ia sudah harus kembali kalau tidak ingin tertinggal.

Sho mengangguk. Tapi tak berapa lama, ia memanggil sehingga Opi kembali berbalik.

“Opi-san….. bagaimana kalau kita benar-benar melakukannya? Seperti yang aku katakan tadi..” kata Sho membuat Opi terdiam.

“Bagaimana kalau besok kita benar-benar kencan?” ulang Sho.

Opi melebarkan matanya. Ia benar-benar tidak percaya ini. Sho mengajaknya kencan?

=============

Reina menatap Sho dengan heran. Sejak tadi ia melihat papanya senyum-senyum sendiri. Kadang menahan tawa. Bukan hanya itu. Sesekali ia melihat papanya bersenandung.

“Papa sedang senang yah?” tanya Reina.

Sho melihat Reina sekilas tapi kembali melihat ke depan jalan. “Kenapa tahu?”tanyanya.

“Itu..” Reina menunjuk wajah Sho. “Dari tadi aku lihat papa senyum-senyum sendiri. Seperti orang aneh.”

Sho hanya tersenyum. “Tidak apa-apa. Oia, minggu depan kamu menginap di sekolah kan?” tanya Sho teringat saat tadi berbicara dengan Kazunari tentang acara sekolah Reina.

Reina mengangguk dengan semangat. “Aku tidak sabar menunggu,” ucap Reina.

Keesokan harinya, tiba-tiba Reina ingin pergi dengan neneknya, yang juga ibu dari Sho. Sho merasa ia sangat bangga dengan Reina karena gadis itu sepertinya tahu apa yang dirasakan olehnya. Dengan begini ia bisa tenang pergi dengan Opi.

Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin mengajak gadis itu kencan. Perasaannya sedikit aneh saat ia memeluk Opi di rumah sakit tempo hari. Walaupun ia merasa aneh, tapi setelah itu perasaannya sedikit tenang.

Sho melihat sekilas jam tangannya. Ia sudah terlambat 10 menit dari waktu janjian mereka. Saat ia memberhentikan mobilnya di depan rumah Opi, Sho melihat gadis itu sedang duduk sambil membaca majalah.

Sho tersenyum lalu menurunkan jendela mobilnya. “Opi-san..” panggilnya.

Opi mengangkat kepalanya lalu tersenyum kearahnya. Tak berapa lama ia sudah masuk ke dalam mobil.

“Sudah siap?”

Opi mengangguk.

Sho berencana ingin mengajak Opi ke suatu tempat. Tapi sebelumnya ia ingin mengetahui tempat yang ingin Opi kunjungi.

“Ada tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Sho.

“Ii no?” tanya Opi.

Sho mengangguk yakin.

Opi terlihat berpikir lalu tersenyum pada Sho sambil berkata, “Aku ingin ke kebun binatang”.

“He?”

“Ahahahahahahaha…”

Suara tawa itu keluar dari mulut Opi saat ia melihat pipi Sho dijilat oleh seekor jerapah.

“Puas sekali kau tertawa..” protes Sho sambil mengelap pipinya dengan tissu yang disodorkan oleh Opi.

Bukannya menjawab, Opi masih saja menertawakannya.

Sejak mereka masuk ke area kebun binatang, Opi terlihat senang melihat berbagai macam binatang yang terdapat di sana. Sho merasa ia seperti membawa Reina. Tapi ia tidak mempermasalahkannya selama Opi senang.

“Selanjutnya kita lihat macan,” ujar Opi bersemangat.

“Baiklah,” jawab Sho pasrah saat Opi menarik lengan bajunya. Ia berpikir mungkin Opi dan Reina sangat cocok karena memiliki sifat yang sama.

Setelah hampir 2 jam mereka di kebun binatang, Opi maupun Sho terlihat sangat lelah. Mereka memilih duduk di bangku panjang yang disediakan di area itu sambil meminum minuman mereka.

“Sudah puas?” tanya Sho.

Opi mengangguk. “Sudah lama aku tidak kesini. Terakhir saat aku sekolah dasar. Itu pun aku tidak ingat.”

“Kalau begitu kita pergi ke tempat selanjutnya..” putus Sho.

“He? Kemana?”

“Waaaaaaaaaahhhhhhh~” seru Opi saat Sho mengajaknya ke pantai.

“Kau senang?” tanya Sho.

Opi menoleh. “Un~ aku sangat suka pantai,” ucapnya.

“Ano…Sakurai-san..” Opi memanggil Sho pelan.

“Hmm?”

“Apa Sakurai-san tidak merasa lapar? Aku sangat lapar sekarang..” ucap Opi membuat Sho menahan tawa. Setelah mengenalnya, Sho merasa gadis itu sangat lucu. Banyak sekali hal yang tidak pernah ia bayangkan.

“Baiklah..kalau begitu kita makan di kedai itu.” Sho menunjuk tempat yang tak jauh dari mereka berdiri.

“Mau berfoto?” tanya Sho saat mereka menunggu makanan mereka datang.

Opi mengangguk.

Sho memandang berkeliling mencari orang yang dapat memotret mereka berdua dan ia memilih pelayan lain untuk melakukannya.

“Sumimasen, jarak kalian terlalu jauh,” ucap pelayan itu saat akan bersiap membidik mereka.

Sho menoleh ke arah Opi lalu tanpa aba-aba langsung menggeser sehingga tidak ada jarak antara mereka.

Opi terbelalak. Ia tentu kaget tapi bercampur senang. Mungkin terlalu senang.

“Sakurai-san, boleh aku bertanya?” tanya Opi di sela-sela makan mereka.

“Nani?”

“Sudah berapa lama Sakurai-san mengenal An-chan?”

“Kazu? Hmmm~ kapan yah? Aku mengenalnya saat kami berumur 3 tahun mungkin,” jawab Sho tidak yakin.

“3 tahun? Kalau begitu Sakurai-san tahu kalau aku dan An-chan…..”

“Kalau kalian saudara angkat?” potong Sho. “Aku tahu. Karena bisa dibilang aku pernah hidup bersama Kazu.”

“Pernah hidup bersama An-chan? Sakurai-san dan An-chan tinggal di panti asuhan yang sama?” tanya Opi.

Sho mengangguk. “Aku sama seperti Kazu. Aku diadopsi oleh keluarga Sakurai.”

“Souka..”

Tidak banyak orang yang tahu tentang masa lalunya. Tapi ia sendiri tidak mengerti kenapa ia dapat menceritakannya pada Opi.

Setelah mereka makan, Opi meminta ingin jalan-jalan sebentar di pesisir pantai sebelum mereka pulang. Tentu saja Sho tidak keberatan.

“Sepertinya sedang ada pemotretan,” ujar Opi saat mereka melihat ada sekumpulan orang dengan peralatan dimana-mana.

“Kau benar,” sahut Sho.

“Ah~, itu kan Aiba-kun,” Opi menunjuk orang yang sedang sibuk memotret dan mengintruksi model yang ada dihadapannya.

“Aiba-kun?” Sho sepertinya pernah mendengarnya.

“Ya. Orang yang sedang memotret itu, namanya Aiba Masaki. Dia sahabat An-chan. Aku ke sana sebentar. Aku ingin menyapanya.”

Belum sempat Opi berjalan, Sho sudah menarik tangannya dan menjauhi tempat mereka tadi berdiri.

“Kita pulang sekarang,” kata Sho.

“Tapi….”

“Gomen ne. Aku harus menjemput Reina. Jadi kita harus cepat pulang.”

Opi mengerti dengan alasan Sho. Tapi ia sama sekali tidak mengerti kenapa wajah Sho menjadi berubah.

Selama perjalanan pulang, Opi maupun Sho tidak saling bicara. Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.

“Sakurai-san, arigatou”, ucap Opi setelah mobil Sho berhenti di depan rumahnya.

“Gomen ne. Kita harus pulang terburu-buru,” balas Sho menyesal.

Opi menggeleng. “Aku senang hari ini.”

Setelah melambaikan tangan pada Opi, Sho langsung memutar arah untuk menjemput Reina.

Reina…..

Memikirkannya membuat ia teringat saat di pantai itu.

“Dia….Kenapa dia?” gumam Sho sambil memukul stir mobilnya dengan kesal.

=============

“Hai!! Aku segera ambil baju Matsumoto-san sekarang…”, kata Din di ponselnya sambil masih terus menyetir.

Siang ini Jun ada syuting, dan bajunya baru saja selesai sehingga ia harus mengambilnya.

Sebenarnya hari ini ia sedikit tak enak badan. Ia curiga ia tertular sakit kakaknya, namun ia tak menggubris sakitnya, paling sedikit demam saja pikirnya.

Ponselnya kembali berbunyi, itu ponsel pribadinya dan ia tak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang menelepon, itu pasti Aiba. Tapi ia malas mengangkatnya, untuk beberapa hari ini ia memang tinggal di apartemen Jun. Sama sekali tak berusaha untuk menemui Aiba karena ia terlanjur malas menemuinya.

Sesampainya di butik ia segera mengambil baju – baju Jun, ia menemukan sebuah café di sebelah butik. Ia melihat jam tangannya, “Hmm… masih ada waktu satu jam setengah lagi…”, Ia masuk ke café ketika melihat seseorang yang sepertinya ia kenal.

“Opi-san~”, sapa Din.

Opi terlihat sendirian disitu, mejanya penuh dengan beberapa berkas yang mungkin adalah tugasnya.

“Eh… Din-san…”

“Boleh aku ikut duduk disini?”, tanya Din.

“Tentu saja…”, jawab Opi sambil tersenyum.

“Tugas?”, tanya Din pada Opi yang dikerubungi kertas – kertas di sekelilingnya.

“Iya… begitulah…”, jawabnya.

Din memanggil pelayan dan memesan kopi serta kue.

“Oh iya… Aiba-kun apa kabar? Aku dengar dari An-chan kemarin dia menemani Aiba-kun mabuk – mabuk… aku tak yakin dia kenapa?”

Wajah Din berubah menjadi sedikit tegang, “Aku tak tahu…”, jawab Din tertawa miris, “Hubungan kami sedang tidak baik…”, kata Din lagi.

“Ah…”, Opi terlihat kaget, “Gomen na… aku tak tahu… aduh… aku fikir dia ada masalah dengan pekerjaannya..”, Opi merutuki dirinya yang sering keceplosan itu.

“Daijoubu…”.

“Sou… sering kesini?”, tanya Opi akhirnya, mengalihkan pembicaraan.

“Tidak juga… aku hanya kebetulan mengambil kostum untuk Jun… jadi sekalian saja kesini…”

“Hmmm.. kudengar kau manajer nya Matsumoto Jun ya? Waaa~”, ujar Opi.

Din tersenyum, “Begitulah… aku asistennya sebenarnya…”, kata Din lagi.

“Souka…”

Opi memperhatikan Din terlihat pucat dan sakit, tapi ia tak berani menanyakan hal itu pada Din. Terlebih mereka memang bisa dibilang baru saja kenal.

Setelah berbincang – bincang, Din memutuskan untuk pergi. Karena ia harus ke lokasi syuting Jun.

“Aku duluan ya Opi-san…”, pamit Din.

“Iya… senang bertemu denganmu hari ini..”, kata Opi seraya berdiri, lalu mengangguk.

Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba – tiba Din ambruk dan pingsan di hadapan Opi.

“Din!! Din-san!!”, teriak Opi sambil menghampiri tubuh Din yang terjatuh di lantai. Beberapa orang ikut mencoba membantu.

Aiba berlari sampai masuk ke Rumah Sakit, ia mendapat kabar dari Opi kalau Din pingsan. Tanpa pikir panjang ia meninggalkan pekerjannya dan segera menuju Rumah Sakit.

“Opi-chan… Din??”, tanya Aiba yang sampai di tempat ER.

“Dia baik – baik saja… katanya kecapekan, flu dan demam…”, jelas Opi.

Aiba mengehela nafas lega, sejak tadi pikirannya sudah dipenhi dengan kemungkinan terjadi hal yang lebih buruk pada Din.

“Arigatou na… untung kau ada disana…”, kata Aiba pada Opi.

“Iya… kebetulan kami bertemu tadi…”, jelas Opi.

“Souka… yokatta…”, seru Aiba terlihat sangat lega.

“Kalau begitu… aku pamit dulu Aiba-kun..semoga Din-san cepat sembuh…”, kata Opi.

“Arigatou na Opi-chan…”, ucap Aiba sambil menyentuh bahu Opi.

Opi mengangguk dan segera berlalu dari tempat itu.

Aiba masuk ke bilik tempat Din terbaring. Wajahnya memang terlihat pucat, apa yang Din lakukan beberapa hari ini sampai ia sakit?

Aiba duduk di sebelah ranjang Din, lalu meraih tangan gadisnya yang kini terinfus, “Kau kemana saja?”, gumamnya lirih.

Saat melihat wajah Din, Aiba sadar ia begitu rindu pada gadisnya ini. Tak lama Din membuka matanya perlahan, ia mulai sadar dari pingsannya.

“Dinchan…”, panggil Aiba lembut.

“Hmmph…”, Din bergumam sambil mengerjapkan matanya, “Masaki-kun?”, seru Din kaget melihat Aiba di sampingnya.

Ia tak ingat apa – apa. Yang ia ingat hanya saat tadi ia meninggalkan Opi di café, ia merasa sangat pusing, dan selebihnya gelap.

Aiba berdiri memandang Din, “Kau baik – baik saja… ini di Rumah Sakit..”, jelas Aiba.

“Oh… aku kenapa?”, tanya Din.

“Kau kecapekan dan kena demam…”, jelas Aiba lalu menyentuh kepala Din dengan lembut, membelainya.

“Aduh… aku harus ke tempat syuting Jun…”, keluh Din yang seketika ingat dengan pekerjaannya.

“Kau tak boleh kemana – mana dulu…”, kata Aiba menahan tubuh Din yang hendak pergi dari situ.

“Dinchaaann!!!”, seru seseorang tiba – tiba membuka tirai bilik itu.

Baik Aiba maupun Din seketika menoleh ke arah suara, dan ternyata itu Jun.

“Gomen…”, kata Jun kaget karena ternyata ada Aiba disitu.

Aiba tersenyum, “Dinchan hanya kecapekan… dia sudah tak apa – apa…”, jelasnya pada Jun yang memang terlihat sangat khawatir.

Jun merasa sangat ingin memeluk Din, tapi Aiba disitu, menggenggam tangan Din dengan sikap protektif. Lagipula siapa dia? Din hanya asistennya, setidaknya itu yang Aiba tahu. Lebih lagi Aiba menganggapnya sahabat, dan jika ia bertindak gegabah, hubungannya dengan Din akan ketahuan.

“Souka… yokatta na…”, kata Jun sambil mendekati ranjang Din, tersenyum miris tanpa bisa berbuat apa – apa.

“Kau harus istirahat…”, kata Aiba sambil menutupi tubuh Din dengan selimut.

Din diam, ia tak tahu harus berkata apa pada Aiba. Apalagi tadi saat bertemu Jun, ia jadi salah tingkah didepan Aiba maupun Jun.

“Masaki-kun…”, panggil Din, ia menimbang – nimbang apakah ia harus jujur pada Aiba atau tidak?

“Ya?”, tanya Aiba sambil kembali menghampiri Din.

“Hmmm..”, Din melihat wajah Aiba yang kini terlihat sangat lembut dan perhatian, membuatnya tak berani menghancurkan suasana seperti ini.

“Kenapa?”, tanya Aiba lagi kini membelai kepala Din lembut.

Din menggeleng, “Nani mo nai… arigatou na… tak kusangka kau akan datang..”, jawab Din akhirnya.

Aiba tak menjawab, ia hanya tersenyum dan lalu mematikan lampu kamar, “Kau istirahat dulu… kubuatkan sesuatu..”, katanya.

Din kecewa pada dirinya sendiri. Ia memang berniat untuk mengatakan segalanya pada Aiba. Ia tahu kemungkinan terburuk jika ia mengatakan hubungannya dengan Jun adalah ia akan putus dengan Aiba, tapi ia tak pernah berbohong pada Aiba sebelumnya, apalagi masalah sebesar ini.

From : Jun-kun
Subject : (no subject)
Ne~ genki ka?
Aku tak bisa mengatakan apapun
Karena Masaki ada disitu…
Cepat sembuh… jangan memaksakan diri
Untuk bekerja.. kau harus banyak istirahat..

-Jun-

Din kembali memandang e-mail itu, memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Kenapa tiba – tiba ia merasa menjadi wanita yang sangat jahat?

=========

Ting..tong..

Kazunari yang sedang bermain game, mem-pause permainan saat ia mendengar bel rumahnya berbunyi.

“Ah..Satoshi. Ada apa?” tanya Kazunari setelah melihat tetangganya itu berada di depan rumahnya.

“Kau sibuk?” tanya Satoshi.

“Tidak. Ada apa?”

“Aku bosan sekali di rumah. Bagaimana kalau kita keluar?” tawar Satoshi.

Kazunari diam sebentar lalu berkata, “Baiklah. Masuk dulu..”

“Rei dan Hiroki kemana?” tanya Kazunari sambil meletakkan minuman di meja.

“Mereka sedang belanja. Biasanya mereka kalau pergi, pulangnya pasti malam,” jawab Satoshi kemudian menyesap tehnya.

Kazunari mengangguk.

Sudah lama sekali Kazunari tidak pergi keluar dengan Satoshi. Selain mereka sama-sama sibuk, ia juga tidak enak kalau harus mengajak Satoshi yang sudah berkeluarga.

“Kau sendiri? Kemana Opi?” Satoshi bertanya saat mereka sudah ada di dalam mobil Kazunari.

“Dia pergi,” jawab Kazunari singkat.

“Dengan pacarnya? Ahahaha…” Satoshi tertawa karena ia tahu bagaimana Kazunari sangat protektif pada Opi.

Kazunari mendelik pada Satoshi. “Jangan menakutiku, Satoshi.”

Sebenarnya ia tahu kalau Opi pergi dengan Sho walaupun Opi tidak berkata apapun padanya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini padanya? Dia kan sudah besar. Dan kau juga sudah saatnya memikirkan masa depan. Bukan hanya mengurus Opi,” oceh Satoshi melihat teman dekatnya itu tidak mengalami perubahan.

Kazunari diam sambil menerawang. “Aku belum memikirkannya.” ucapnya.

“Kau tidak berubah, Satoshi”, ujar Kazunari.

“He? Apanya?”

“Itu,” Kazunari menunjuk alat pancing yang Satoshi pegang. “Kau selalu terlihat bersemangat setiap kali melihat hal yang berbau memancing dan ikan,” lanjutnya.

“Kau juga..” timpal Satoshi.

“Apanya?” tanya Kazunari mengulang pertanyaan Satoshi.

“Itu,” Satoshi menunjuk alat game yang dipegang oleh Kazunari. “Kau tetap saja maniak game,” lanjutnya tidak mau kalah.

Kazunari maupun Satoshi lalu tertawa. “Kita ternyata tidak berubah,” kata Satoshi.

Setelah mereka puas dengan hobi mereka masing-masing, Satoshi mengajak Kazunari untuk minum.

Kazunari menyetujui ajakan Satoshi. Awalnya ia akan minum hanya 1 atau 2 gelas. Tapi tanpa ia sadari, Kazunari sudah merasa mabuk. Kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya sehingga harus dipapah oleh Satoshi.

“Kau ini. Kau kan membawa mobil. Kenapa minum sampai mabuk?” omel Satoshi sambil menatap Kazunari yang tertidur di sampingnya. Mau tidak mau, Satoshi yang menggantikan Kazunari mengemudi.

Setelah mereka sampai di depan rumah Kazunari, Satoshi kembali memapah membantu Kazunari berjalan.

“An-chan kenapa, Satoshi-san?” tanya Opi yang melihat kakaknya dipapah oleh Satoshi.

“Dia mabuk. Salahku juga sudah mengajaknya minum. Gomen ne.”

“Ya sudah. Biar aku saja yang membawa An-chan masuk. Arigatou Satoshi-san.”

Setelah Satoshi pergi, Opi berusaha keras membantu Kazunari berjalan. Tapi Opi sangat bersusah payah hanya untuk membuat Kazunari berdiri. Seharusnya tadi ia minta tolong Satoshi untuk membawa Kazunari masuk.

“An-chan bangun. Kau berat sekali sih,” keluh Opi.

Kazunari lalu membuka matanya dan menatap Opi.

“Opi..” gumam Kazunari setengah sadar.

“An-chan, kalau kau sudah sadar, cepat berjalan dengan benar ke kamarmu,” omel Opi masih berusaha untuk membantu Kazunari.

“Kau sudah pulang?” tanya Kazunari.

“Aku baru saja pulang,” jawab Opi.

Brukk~

Karena tidak kuat menopang tubuh Kazunari, akhirnya mereka jatuh ke lantai bersamaan. “An-chan, sudah kubilang jalan yang benar,” seru Opi kesal.

Opi mengerjapkan matanya dan tercengang saat tiba-tiba Kazunari memeluknya.

“An-chan, ayo ke kamarmu. Kau harus istirahat,” kata Opi pelan tepat di telinga Kazunari.

“Jangan pergi..” gumam Kazunari pelan.

“He?”

“Jangan pergi dengan Sho lagi,” gumam Kazunari lagi.

Opi diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya seolah membeku.

Kazunari merenggangkan pelukannya dan perlahan terlepas. Matanya kini menatap mata Opi.

“Kau harus berjanji tidak akan bertemu dengan Sho lagi,” kata Kazunari dengan tatapan serius.

“An-chan ini bicara apa? Cepat berdiri,” perintah Opi sambil membantu Kazunari berdiri.

Alih-alih berjalan ke kamarnya, Kazunari kembali memeluk Opi erat.

“An-chan…lepas..” Opi berusaha melepaskan diri tapi kekuatan Kazunari lebih besar darinya.

Kazunari melepaskannya tapi setelah itu dengan tiba-tiba ia mencium bibir Opi. Sangat tiba-tiba sampai Opi tidak dapat menghindar.

“An…” Opi berusaha menolaknya tapi sama seperti tadi, Kazunari merengkuhnya terlalu kuat. Sehingga Opi sulit untuk lepas. Selain itu Opi merasa takut karena ciuman Kazunari semakin dalam.

Opi merasakan pelukan Kazunari melonggar dan dengan segera ia mendorong tubuh Kazunari lalu menghapus bekas ciuman Kazunari di bibirnya.

“An-chan ini kenapa? Aku ini adikmu…”

“KAU BUKAN ADIKKU,” teriak Kazunari. Opi tersentak karena kaget mendengar Kazunari berteriak. Selama ia tinggal dengan Kazunari, belum pernah ia melihat Kazunari seperti ini. Apa ini bentuk sikap kakaknya karena terlalu lama memendam perasaannya?

Kazunari meraih kembali tubuh Opi dan memeluknya.

“Daisuki..hontou ni daisuki,” gumam Kazunari. Opi merasa tubuhnya kembali membeku karena Kazunari mengucapkannya tepat di telinganya.

“Jangan pergi dengan Sho…” Kazunari kembali bergumam.

Opi tidak menjawab apapun. Ia hanya diam. Perlahan tangannya melingkar di tubuh Kazunari dan membenamkan kepalanya di dada laki-laki itu.

========

“Tadaima…”, seru Satoshi di pintu, ia masuk dan segera menyimpan peralatan mancingnya.

Rei terbaring di sofa, TV masih menyala. Beberapa hari ini Rei memang begitu, setelah sakit, ia memang jarang keluar rumah, tapi ia sering begadang, atau mengacuhkan Satoshi walaupun mereka ada di ruangan yang sama.

Satoshi tak mau membangunkan istrinya, maka ia memapah tubuh Rei ke kamar dan menyelimutinya.

“Aku akan memberitahumu… tapi tidak sekarang Rei…”, bisik Satoshi yang mulai hilang kesabaran atas sikap Rei yang selalu menghindar darinya.

Pandangan Satoshi menoleh pada foto pernikahannya dengan Rei. Ia tahu saat itu Rei sudah melahirkan Hiroki, mereka hanya membuat pesta sederhana dengan keluarga terdekat. Ia mengingat kejadian lima tahun lalu dengan sangat jelas.

-Flashback-

Satoshi agak kerepotan membawa semua sketsa itu. Ia sudah lulus, tapi pekerjaan belum juga mengahmpirinya. Ia hampir kewalahan dengan titel sarjana tanpa pekerjaan, karena Ibunya mulai cerewet akan hal itu.

Ia kembali menapaki kakinya di kampus karena ada sesuatu yang harus ia urus. Lagipula dosennya bilang ada sesuatu yang harus ia bicarakan.

Tiba – tiba saja ponselnya berbunyi, ia melihat ternyata hanya sebuah pesan.

From : Rei-chan
Subject : (no subject)
Hari ini ada waktu? Kita perlu bicara..
-Rei-

Satoshi tak sempat membalasnya karena dosennya memanggilnya untuk masuk ke ruangan. Tak disangka, ia mendapatkan beasiswa ke Eropa. Negri yang ia impikan untuk belajar seni lebih dalam lagi. Ia tahu ia ingin juga pulang ke Jepang, sekarang ia ada di Korea dan sudah mengahabiskan hampir tujuh tahun untuk tinggal di sana. Tapi Eropa adalah impiannya, dan ia pasti akan mengambil kesempatan itu.

Ia ingat Rei mengrimnya pesan sebelum ia bertemu dosen, maka ia segera menelepon Rei, dan bilang bahwa mereka bisa bertemu, sekalian ia ingin menyampaikan berita gembira itu pada Rei.

“Yokatta na… Satoshi-kun bisa ke Eropa..”, kata Rei dengan wajah setengah senang, tapi terlihat jelas kekecewaannya.

“Kenapa? Ada yang salah?”, tanya Satoshi.

Rei menggeleng. Satoshi sebenarnya memang sangat mencintai Rei, berkali – kali pun wanita ini menolaknya, ia terus saja mengejar Rei. Mereka memang cukup dekat, kesamaan mereka yang datang dari Jepang, lalu Rei memang berbakat juga di Seni. Tapi mereka tak pernah jadi pasangan resmi, namun Satoshi selalu menjaga Rei yang memang lebih muda darinya.

“Tidak ada… omedetou~”, kata Rei.

“Aku pergi mungkin sekitar enam bulan lagi… setidaknya itu membantuku melupakan Rei-chan..”, kata Satoshi.

“Sou ne…”, Rei meminum teh nya dengan cepat, “Aku ada urusan… semoga Satoshi-kun berhasil…”, kata Rei sambil tersenyum lalu meninggalkan Satoshi dalam kebingungan.

Selama lima bulan Satoshi tak pernah mendengar kabar apapun dari Rei. Ia tak bisa menghubungi Rei, sulit sekali mencarinya di kampus juga.

“Kau melihat Rei sshi?”, tanya Satoshi pada salah seorang mahasiswi yang Satoshi tahu adalah teman sekelas Rei.

“Eh?? Rei kan sudah pulang ke Jepang…”, jelas mahasiswi itu.

“Hah? Pulang ke Jepang?”, seru Satoshi bingung.

Satoshi akan pergi ke Eropa sebulan lagi, tapi ia juga ingin pamit dengan benar pada Rei. Ia tahu mungkin setelah pergi, ia tak akan pernah bertemu Rei lagi, atau bahkan mungkin Rei akan bersama pria lain, tapi setidaknya sekarang ia bisa pamit dengan benar pada Rei.

Sebelum kepergiannya ke Eropa, ia memutuskan untuk pulang ke Jepang. Mengurus beberapa hal, termasuk pamit pada kedua orang tuanya. Beruntung Dosennya mengizinkan hal itu, sehingga ia bisa pulang dengan tenang. Bahkan diizinkan untuk berangkat dari Jepang.

“Okaa-san… aku mau beli sesuatu di toko 24 jam!!”, seru Satoshi pada Ibunya.

“Iyaa..”, jawab Ibunya.

Setelah seminggu pulang, ia tetap tak menemukan jawaban dimana Rei. Sudah ia coba untuk mencari ke beberapa tempat, tapi hasilnya nihil. Kini pikirannya kacau, ia tak mau meninggalkan Jepang tanpa tahu keadaan Rei.

Tak sadar ia sudah sampai di toko 24 jam, ia segera masuk dan mencari beberapa barang.

Deg! Itu Rei!! Satoshi memerhatikan orang yang baru saja lewat di depan toko 24 jam. Ia tak mungkin salah orang! Tanpa pikir panjang ia segera keluar dari toko itu, mengejar Rei.

“Rei-chaaann!!”, seru Satoshi ketika ia berhasil meraih tangan Rei.

Rei berbalik.

Satoshi kaget, dan tak menyangka apa yang terjadi di hadapannya.

“Gomen Satoshi-kun… aku tak bisa mengatakannya karena kau akan berangkat ke Eropa…”, tangis Rei terus saja mengalir ketika Satoshi sudah membawanya ke sebuah café.

“Tapi.. Rei…”, Satoshi seakan kehilangan kata – kata, ia shock dengan apa yang dilihatnya.

“Lima bulan lalu… ketika Satoshi-kun bilang akan pergi ke Eropa, usianya sudah tiga bulan… kini sudah menginjak delapan bulan…”, jelas Rei.

“Tapi kau tak boleh menyembunyikannya dariku… itu anakku kan?”, tanya Satoshi lagi.

Rei mengangguk. Mereka memang pernah sama – sama hilang kesadaran dan melakukan hubungan walaupun dibawah status pertemanan.

“Aku harap walaupun Satoshi-kun tahu keadaanku, kumohon jangan batalkan kepergianmu ke Eropa… itu impianmu kan?”, tanya Rei.

Satoshi terdiam. Selama delapan bulan, Rei emngandung tanpa memberi tahu dirinya, dengan alasan anak itu akan membunuh impiannya. Tapi yang Rei lakukan justru membunuh imipannya sendiri kan?

“Memang apa rencanamu?”, tanya Satoshi.

“Aku akan membesarkannya sendiri… lagipula aku sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan… jadi kau tak perlu khawatir..”, Rei berusaha tersneyum, menghapus air matanya, “Aku tidak sendiri, ada dia…”, kata Rei sambil mengelus perutnya yang sudah membucit.

Hari ini akhirnya ia akan berangkat ke Eropa. Segala keperluannya sudah di persiapkan. Satoshi selalu memantau segala keadaan Rei sejak saat itu, dan Rei tetap bersikeras agar Satoshi pergi ke Eropa, meninggalkannya.

Selama berada di dalam mobil ia terus terngiang wajah Rei. Apa benar ia harus meninggalkan Rei? Pikirannya kalut, ia bahkan merasa otaknya kini kosong, bingung akan banyak hal.

Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Rei, setidaknya itu bisa menenangkannya sedikit.

“Moshi-moshi?”

“Moshi – moshi?”, angkat seseorang, itu bukan Rei.

“Ini… siapa?”, tanya Satoshi bingung.

“Ini Ibunya Rei. Rei sedang di dalam ruang operasi, ia akan melahirkan..”

“Operasi?!”, seru Satoshi kaget.

Setelahnya Satoshi tahu ia hanya harus berlari menyambut kedatangan Hiroki yang akan dilahirkan ke dunia. Ia mungkin membuang impiannya ke Eropa, ia mungkin akan menyesal nantinya. Tapi satu hal yang ada di kepalanya, Rei, dan anaknya tak pernah boleh merasa kehilangan impian dan kebahagiaan. Ia berlari meninggalkan bandara menuju Rumah Sakit, ia tahu apa yang dilakukannya, ia yakin dengan apa yang dipilihnya.

-Flashback End-

Satoshi mendapati dirinya masih memandangi wajah Rei sejak tadi, “Rei… kau tak tahu betapa aku bersyukur telah meninggalkan bandara saat itu, mengejarmu dan Hiroki…”, bisik Satoshi lalu mencium pelan puncak kepala Rei.

==============
TBC~
Maap seribu maap Jun nya dikit banget~ soalnya ini aja udah hampir 6 rebu kata,,,ntar puyeng bacanya… di next chapter aja yaa…hahaha.. COMMENTS ARE LOVE~



Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chap 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s