[Multichapter] Happiness (chapter 6)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Six
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG hmmm~ NC-17 dikit~ XP
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC.except Saifu Suzuki is Fukuzawa Saya’s OC. collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
=Chapter 6=



“Ohayou~” sapa Kazunari saat ia melihat Opi baru saja turun dari kamarnya.

Opi memutar kepala cepat dan kaget. “An-chan? Kenapa masih ada di rumah?” . tanyanya.

Kazunari memang di rumah pada saat yang tidak biasa. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi laki-laki itu masih sibuk di dapur untuk membuat sarapan. Seharusnya jam-jam sekarang Kazunari sudah berangkat ke TK.

“An-chan sengaja terlambat. An-chan menunggumu bangun.”

Opi tidak merespon apapun tentang jawaban Kazunari.

Kazunari merasa akhir-akhir ini Opi berubah. Tidak begitu jelas terlihat tapi Kazunari dapat merasakannya. Ia menebak mungkin Opi sedang ada masalah dengan kuliahnya. Hal itu sering terjadi sehingga ia tidak bertanya secara langsung. Ia memilih untuk memberi perhatian sedikit pada Opi.

“Ini,” Kazunari meletakkan sepiring roti dihadapan Opi yang sudah duduk di kursinya. Mata Opi terlihat menyipit dan sesekali tertutup lagi dan tidur di atas meja dengan menopang dagu.

“Ayo sarapan! Kau harus kuliah kan?” ucap Kazunari sedikit mengagetkan Opi dan gadis itu lalu membuka matanya lebar.

Opi tetap diam lalu mengambil rotinya dan melahapnya.

“Setelah selesai makan, cepat siap-siap. An-chan yang mengantarmu,” lanjut Kazunari.

“Tidak usah. Aku berangkat sendiri,” balas Opi.

“Tidak apa-apa. Biar An-chan yang mengantar.”

“Tapi….”

“Cepat habiskan lalu siap-siap,” potong Kazunari.

Opi mengangguk pelan lalu memakan rotinya lagi.

Kazunari sesekali menoleh pada Opi yang hanya melihat keluar jendela saat mereka sudah di dalam mobil. Wajah gadis itu terlihat kusut. Sebenarnya Kazunari merasa cemas. Adiknya yang biasanya cerewet, tiba-tiba diam seperti ini.

“Pulang jam berapa nanti? An-chan jemput,” kata Kazunari memecah keheningan.

“Aku tidak tahu. Aku harus mengerjakan tugas bersama Daiki,” jawab Opi tanpa menoleh sedikitpun.

Kazunari tidak suka ini. Ia penasaran, apa yang membuat Opi seperti ini?

Setelah mengantar Opi, Kazunari langsung memutar arah ke TK. Ia sudah menugaskan guru lain untuk menggantikannya mengajar tapi sepertinya menyendiri di ruangannya itu lebih baik sekarang.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponselnya bergetar dan setelah melihat layar ia lalu tahu kalau yang menghubunginya adalah Aiba.

“Moshi-moshi?”

“Kazu, ada waktu hari ini?” Terdengar suara Aiba di ponsel Kazu. Dia mengerutkan keningnya sambil memikirkan jadwalnya hari ini.

“Sepertinya ada. Doushite?”

“Kita perlu bicara. Ini penting. Aku tunggu di tempat biasa.”

“Baiklah.”

Kazunari sebetulnya tidak mengerti kenapa Aiba terdengar memaksanya. Tapi temannya itu menyebutkan ada hal penting. Tidak ada salahnya ia menuruti keinginan Aiba.

Seperti yang dijanjikan, jam 7 malam Kazunari sudah tiba di tempat biasa ia bertemu dengan Aiba. Terlihat temannya sudah datang.

“Ada apa?”

Aiba meneguk minumannya terlebih dahulu lalu berkata, “Apa kau sudah bilang tentang perasaanmu pada Opi?”

Kazunari bingung sesaat. “Belum,” lanjutnya.

“Lalu……?”

Aiba terlihat kaget. Kazunari sama sekali tidak mengerti dengan reaksi Aiba.

“Ada apa?”

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Opi saat makan siang. Dan dia sudah tahu semuanya. Dia tahu kau menyukainya,” jelas Aiba.

Tentu saja Kazunari kaget. Ia belum siap Opi mengetahui semuanya.

“Apa yang dia ketahui lagi?” tanya Kazunari. Saat ini perasaannya sangat tidak tenang.

“Aku memberitahunya kalau kau adalah kakak angkatnya. Tapi saat aku akan memberitahunya kalau kau baru saja tahu kau adalah anak kandung ibumu, dia pergi. Sepertinya ada sesuatu di kampusnya.”

Kazunari maupun Aiba terdiam. Tidak ada yang berbicara satu pun. Aiba mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.

“Aku tahu ini sulit, tapi kau harus menjelaskan semuanya pada Opi,” ucap Aiba.

Kazunari tidak bereaksi apapun. Bukan hal mudah mengakui tentang perasaannya. Apalagi perasaan itu untuk adiknya sendiri.

Saat perjalanan pulang, Kazunari menyadari tentang perubahan Opi akhir-akhir ini. Apa mungkin itu karena Opi yang sudah mengetahui perasaannya? Demi apapun, ia sangat berharap tidak memiliki perasaan seperti ini kalau pada akhirnya menyakitkannya dan Opi.

“Tadaima,” ucap Kazunari lemas saat ia menarik handle pintu. Tidak ada jawaban dari dalam rumah.

Kazunari baru ingat kalau ibunya sudah kembali ke Okinawa. Ia menyesali ketidakberadaan ibunya karena saat ini ia sangat membutuhkan ibunya.

Kazunari akan masuk ke dalam kamar saat tiba-tiba ia melihat pintu kamar Opi yang tepat di seberang kamarnya.

Apa Opi sudah tidur? pikir Kazunari.

Perlahan, Kazunari membuka pintu kamar Opi dan terlihat adiknya sudah terbaring di balik selimutnya.

Kazunari berjalan pelan menghampiri tempat tidur Opi. Ia menatap adiknya yang sedang tertidur lelap. Mungkin karena terbawa suasana, dengan tiba-tiba, ia mendekati wajah Opi dan mencium bibirnya pelan. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Tapi yang ia ketahui ia sudah melakukan hal gila dengan menyentuh Opi di luar batasnya.

=====

Untuk kesekian kalinya, Sho terlambat menjemput Reina. Bukan di sekolahnya tapi di rumah orang tuanya. Kebersamaannya dengan Rei membuat ia sering menitipkan Reina di rumah ibunya.

“Gomen ne, okaa-san. Aku merepotkan lagi,” ucap Sho menyesal sambil membetulkan posisi Reina yang tertidur.

“Daijoubu. Okaa-san tahu kau sibuk sekali dengan pekerjaanmu.”

Ucapan ibunya membuat Sho makin merasa bersalah. Karena keterlambatannya bukan karena pekerjaannya. Tapi karena ia menghabiskan waktu dengan Rei.

Setelah berpamitan dengan ibunya, Reina yang digendong oleh Sho lalu dibaringkan di kursi belakang.

Sejak Rei masuk lagi ke dalam kehidupannya, waktu Sho lebih sering dihabiskan bersama wanita itu dibandingkan dengan Reina. Karena hal ini, Sho bukan hanya merasa bersalah pada ibunya tapi juga pada Yui. Janjinya untuk menjaga Reina ia langgar.

Sho kembali menggendong Reina ke kamarnya. Sesaat ia menyentuh kepala Reina sebelum ia meninggalkan kamar. Melihat wajahnya membuatnya menyesali apa yang ia lakukan belakangan ini.

“Gomen ne, Reina.”

“Papa…” panggil Reina saat Sho mengantarkan gadis kecil itu ke depan kelasnya.

“Nani?” tanya Sho sambil tersenyum.

Reina terlihat berpikir lalu tersenyum. “Hati-hati di jalan,” ucapnya kemudian.

Kening Sho berkerut tapi kemudian ia menjawab, “Hai.”

“Oia, hari ini Papa akan menjemput tepat waktu. Setelah itu kita makan siang di tempat yang kamu mau,” ucap Sho lagi.

“Hontou ni?” seru Reina senang.

Sho mengangguk. Ia memang merasa bahagia kalau melihat senyum Reina.

Sejak dari rumahnya, Sho berniat akan menolak ajakan Rei jika wanita itu mengajaknya pergi. Tapi sepertinya niatnya harus dibatalkan karena tiba-tiba Rei sudah ada di tempat kerjanya. Lagi-lagi ia harus mengalah.

“Sedang apa di sini?” tanya Sho menampakkan sedikit kepeduliannya pada Rei.

“Tadi aku baru saja mengantarkan dokumen Satoshi yang tertinggal. Sebelum pulang aku berpikir untuk mampir ke sini. Sudah selesai?” tanya Rei.

“Sudah. Baru saja selesai. Aku langsung ke sini begitu mendengar kau di sini.”

Rei tersenyum. “Aku senang mendengarnya. Bagaimana kalau kita makan siang sebentar?”

Sho tidak menjawab. Ini yang ia takutkan. Ia takut tidak dapat menolak. Tapi ia sudah berjanji pada Reina akan menjemputnya tepat waktu.

“Sepertinya tidak bisa. Aku harus menjemput Reina sekarang. Selain itu aku sudah janji akan makan siang dengannya,” tolak Sho halus.

“Hanya sebentar. Mungkin minum saja. Tidak masalah kan? Aku juga harus menjemput Hiroki. Kita bisa pergi ke sekolah bersama,” usul Rei memaksa.

“Aku…..”

Sho berhenti karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Moshi-moshi?Hai….Apa?”

Rei sedikit kaget karena Sho berteriak.

“Baik. Saya segera ke sana,” ucap Sho sebelum menutup ponselnya.

“Ada apa?” tanya Rei penasaran.

“Gomen na Rei. Aku harus ke rumah sakit sekarang,” kata Sho terlihat panik.

“Sebenarnya ada apa?”

“Reina mengeluh perutnya sakit. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”

Sho lalu pergi. Ia tidak peduli dengan panggilan Rei. Yang ada dipikirannya adalah ia berharap Reina baik-baik saja.

Hanya dalam waktu 15 menit, Sho sudah sampai di rumah sakit. Setelah bertanya pada suster, Sho segera menuju kamar tempat Reina dirawat.

“Reina!” seru Sho begitu membuka pintu kamar.

Sho sedikit kaget karena yang ia lihat di dalam kamar adalah Opi yang sedang mengelus kepala Reina yang tertidur.

“Ah…Sakurai-san,” panggil Opi dengan suara hampir seperti berbisik.

Opi beranjak dari duduknya lalu mendorong Sho untuk keluar kamar.

“Reina sudah tidak apa-apa. Dia hanya salah makan. Tapi tidak serius. Kalau Reina sudah bangun, ia sudah boleh pulang,” jelas Opi sebelum Sho bertanya.

“Yokatta~. Aku lega mendengarnya. Arigatou, Opi-san.” Sho membungkuk dalam.

“Kochira koso. Tadi kebetulan aku sedang bersama Reina. Tiba-tiba dia mengeluh perutnya sakit, aku panik sekali. Lalu An-chan mengantarku dan Reina ke sini. Syukurlah Reina tidak mengalami masalah seri…..”

Opi berhenti berbicara tepat ketika Sho menarik tubuh gadis itu lalu memeluknya. Mungkin ini tidak sesuai dengan akal sehatnya tapi entah kenapa tubuhnya menginginkannya.

“Sakurai-san….” gumam Opi.

“Sebentar saja. Aku sudah merasa lemas saat mendengar Reina masuk rumah sakit. Aku perlu mengisi tenagaku,” ucap Sho.

Opi tidak membalas lagi. Sho berpikir mungkin saat ini gadis itu merasa bingung dengan sikapnya. Tapi biarlah. Untuk sekarang, ini adalah yang ia butuhkan. Dan benar saja hanya dengan memeluk Opi, bebannya terasa berkurang.

====

Opi mengerjapkan matanya saat dengan tiba-tiba Sho memeluknya.

Mulutnya ingin berbicara, tapi ia sulit mengatakannya. Jantungnya sesaat berhenti berdetak. Napasnya pun terasa tercekat.

Setelah cukup lama Sho memeluknya, laki-laki itu melepaskan pelukannya kemudian menatap Opi.

“Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya Opi. Ia terlihat tenang tapi dalam hatinya ia merasa sangat gugup.

Sho mengangguk. “Arigatou.”

Tepat saat itu, ponsel Opi berbunyi. Sebenarnya ia malas mengangkatnya karena itu sangat menganggu moment bersejarahnya. Tapi mungkin itu panggilan penting yang harus ia jawab.

“Moshi-moshi?” sahut Opi begitu berjalan menjauhi kamar Reina.

“Opi? Kau ada dimana? Kau tahu aku sudah menunggumu selama 1 jam,” omel Daiki di seberang. Opi lalu melihat jam tangannya dan ia baru saja menyadari kenapa Daiki mengomelinya.

“Hehehe…gomen ne. Tadi ada sesuatu di TK jadi aku lupa sudah janji denganmu,” jawab Opi.

“Apa? Aku sudah menghabiskan 5 pocky dan 2 minuman lalu kau bilang lupa?” suara Daiki terdengar meninggi. Opi tahu itu artinya ia dapat masalah.

“Aku segera kesana,” sergah Opi cepat. “20 menit. Ok?”

“10 menit?”

“Jangan gila. Rumah sakit ini jauh dari tempat kita janjian,” jawab Opi kesal. Kadang Daiki memberi penawaran yang tidak masuk akal.

“Ya sudah. 20 menit. Kalau lebih dari itu, kau harus membayar semua makanan dan minuman yang aku pesan,” ancam Daiki.

“Dasar diktator,” ucap Opi lalu menutup ponselnya dengan kasar.

Sebelum pergi, Opi harus kembali ke kamar rawat Reina karena tasnya ada di dalam. Saat ia membuka pintu, ia berhenti sejenak karena Sho sedang bergumam pada Reina yang sedang tertidur.

“Syukurlah kau tidak apa-apa. Kalau sesuatu terjadi denganmu apa yang akan Papa katakan pada Mama-mu? Sudah pasti dia akan menendang Papa sampai jauh.”

Opi menahan tawa saat ia mendengar kata-kata Sho. Lalu ia kembali memasang telinga untuk mendengarnya.

“Gomen ne. Papa akhir-akhir ini terlalu sibuk. Sampai menelantarkanmu. Papa mengakui Papa salah,” lanjut Sho.

Opi tersenyum. Sesuai dengan pikirannya selama ini, Sho memang Papa yang sangat baik walaupun selalu disibukkan dengan pekerjaannya.

“Papa sudah menjadi kakak yang buruk untuk Mama-mu. Dan Papa tidak mau menjadi Papa yang buruk untukmu. Papa ingin menjadi Papa yang terbaik yang kau punya.”

Opi mengerutkan keningnya. Kakak? Siapa? pikir Opi.

“Eh?”

Sho menoleh ke arah Opi. Ternyata tanpa ia sadari, Opi menyuarakan pikirannya lagi.

“Kau mendengarnya?” tanya Sho yang sudah berdiri.

“Itu…gomen ne. Aku tidak sengaja. Aku kembali hanya untuk mengambil tasku,” jelas Opi dengan terbata-bata.

Opi merasa makin bersalah karena Sho tiba-tiba diam. Dipikirannya mungkin Sho marah padanya. Tapi kemudian Sho tersenyum.

“Daijoubu.”

Karena sudah tertangkap basah, Opi lalu segera mengambil tasnya.

“Opi-san,” panggil Sho saat Opi akan membuka pintu.

“Ya?”

“Apa kau tidak penasaran?” tanya Sho membuat Opi diam.

“Sebenarnya aku penasaran. Tapi aku tidak akan memaksa kalau Sakurai-san tidak mau cerita,” jawab Opi.

Sesaat suasana menjadi hening.

“Reina bukan anakku. Dia anak adikku, Yui. Dapat dikatakan kalau Reina adalah keponakanku,” Sho mulai bercerita.

“Saat Yui meninggal, aku memutuskan untuk merawat Reina. Selain karena Yui menitipkannya padaku, aku juga merasa mempunyai kewajiban untuk membesarkannya. Itu semua untuk membayar kesalahanku.”

Opi mulai merasa bingung. Semakin Sho bercerita, semakin banyak pertanyaan yang muncul dipikirannya. Tapi Opi memutuskan diam saja.

“Saat itu aku merasa Reina adalah kewajibanku. Tapi sekarang aku bersyukur Reina bersamaku.” Sho lalu tersenyum sambil menatap Reina yang masih tidur.

“Maaf kalau aku lancang, tapi kemana ayahnya?” tanya Opi.

“Aku tidak tahu. Aku berharap tidak pernah bertemu dengannya. Karena dia sudah membuat Yui menderita selama hidupnya,” kata Sho.

Opi kembali diam. Ia merutuki dirinya karena sudah bertanya yang aneh-aneh. Kemudian ia menatap Sho. Ia yakin, perasaannya Sho pada Reina adalah tulus. Terlihat dari cara Sho menatap Reina.

“Kenapa memasang wajah seperti itu? Mungkin menurutmu ini hal yang rumit. Tapi aku sudah mengatasinya,” ucap Sho kemudian menunjukkan senyumnya.

Tanpa sadar Opi ikut tersenyum. Setidaknya ia tidak perlu terlalu merasa bersalah karena kebodohan.

“Opi-san..”

“Hmm?”

“Arigatou..sudah mendengar ceritaku. Aku merasa lega sekarang. Sudah lama sekali aku tidak merasakan seringan ini,” lanjut Sho.

Opi tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Tapi saat ini ia yakin, kalau ia sudah jatuh cinta pada laki-laki dihadapannya itu.

=======

Rei pulang dalam keadaan setengah tak sadar lagi. Sudah seminggu ini ia sering sekali pulang malam. Satoshi terlihat cukup tenang, dan itu juga yang membuat Rei tambah kesal. Ia selalu merasa Satoshi tak lagi mencintainya. Kemana Satoshi yang empat tahun lalu memintanya menjadi istrinya? Walaupun ia sudah menyembunyikan kehamilannya dari Satoshi, akhirnya Satoshi mengetahuinya, mengejarnya setelah mereka putus.

“Tadaima…”, seru Rei di depan pintu.

Ia tak mendengar jawaban apapun. Rei melangkah ke dalam rumah ketika tiba – tiba lampu menyala.

“Rei… kau ini kenapa sih?”, tanya Satoshi tiba – tiba, membuat Rei sedikit kaget.

Tanpa menggubris Satoshi, Rei membuka mantelnya, ia hendak menuju kamar. Satoshi menahan tangan Rei.

“Rei… kau kenapa sih?”, Satoshi kembali mengulang pertanyaannya.

“Apa Satoshi pernah menyesal menikahi aku?”, bukannya menjawab, Rei malah bertanya pada Satoshi.

“Kau ini bertanya yang aneh – aneh saja. Kau mabuk?”, Satoshi tak ingin menjawab Rei karena itu tentu saja tidak benar.

Rei berdecak pelan, “Yappari… kau menyesal kan? Ke Eropa adalah impianmu… apakah seharusnya aku tak memberitahumu kalau aku mengandung Hiroki saat itu? IYA??!! Jadi kau bisa ke Eropa dengan tenang. Kau tak perlu menikahi aku… ya kan?”, air mata Rei meleleh.

Saat itu, empat tahun lalu cerita sebenarnya adalah Rei menyadari dirinya telah berbadan dua. Ia bertemu Satoshi dan punya hubungan yang cukup dekat, bahkan tanpa mereka sadari mereka melakukan hal yang salah hingga Rei hamil. Pada awalnya Rei ragu untuk memberi tahu Satoshi, sehingga hampir selama sembilan bulan kehamilannya, Rei terus menghindar dari Satoshi. Namun pada akhirnya Satoshi tahu, padahal saat itu Satoshi telah mendapat beasiswa pasca sarjana ke Eropa. Namun ia meninggalkannya, untuk menikahi wanita yang memang ia cintai, yang bahkan sudah mengandung anaknya.

Semua itu tak pernah ia ceritakan pada Sho. Tentu saja Rei tak mau menceritakannya.

“Kau bercanda hah?”, nada suara Satoshi yang biasanya selalu tenang seketika sedikit terdengar kemarahan.

“Apa maksudmu?”, Rei berbalik manatap Satoshi yang masih menggenggam lengannya, “Apa harusnya aku tak memberitahu….”

PLAK!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Rei, “Baka janai?!!”, seru Satoshi dengan nada tinggi dan penuh amarah.

“Satoshi…”, Rei memegangi pipinya dengan air mata berlinang.

Satoshi menarik Rei ke dalam pelukannya, “Aku selalu berfikir, menikahimu saat itu adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat…”, bisik Satoshi pelan, tepat di telinga Rei, “Jangan pernah berfikir macam – macam lagi…”

“Lalu kenapa kau mengkhianati aku?!! Nande??!! Nandeee??!!”, tangis Rei makin keras.

Satoshi berusaha menenangkan Rei, “Rei… aku tak pernah mengkhianatimu…”

“USOTSUKI!!!”, elak Rei melepaskan pelukan Satoshi, “Lalu siapa gadis SMA itu? HAH??!!”

Satoshi tak mampu menjawabnya, ia hanya terdiam menatap istrinya yang memang sedang mabuk itu.

=============

Hari sudah pagi, cahaya matahari masuk melalui sela – sela tirai di kamar apartemen itu. Din memandangi Aiba yang amsih terlelap di sebelahnya. Ia duduk bersila di hadapan Aiba.

“Ne… Honey-kun…”, bisik Din sambil mencubit hidung Aiba, memblokir jalan pernafasan Aiba.

Aiba tentu saja merasa terganggu, menarik tangan Din pelan.

“Kau pura – pura tidur kan??”, kata Din lagi.

Aiba membuka matanya perlahan, menatap Din dengan seksama. Tak lama Aiba membuka selimut yang ia pakai, ikut duduk bersila di hadapan Din dengan hanya memakai sebuah boxer.

“Ohayou baby-chan….”, sapa Aiba yang masih setengah tertidur itu.

“Hahaha…”, Din menyentuh mata Aiba lalu membuka kelopaknya sedikit, “Melek dong Masaki-kun…”, ejek Din.

Aiba menarik tangan Din, “Kau tahu aku sudah melek…”, protes Aiba lalu tangan Aiba meraih pinggang Din, menarik tubuh Din ke dalam pelukannya sehingga kini Din berada di pangkuannya.

“Mou… sudah pagi… kau harus kerja kan?”, kata Din pada Aiba yang memeluknya, menyembunyikan wajahnya di tubuh Din.

“Aku gak mau kerja…. Nanti kau pergi lagi..”, jawab Aiba.

“Ayolah Aiba Masaki-san… cepat bangun!!!”, seru Din lagi.

Aiba menengadah, melihat wajah Din, “Ayo mandi…”, putus Aiba sambil menggendong Din menuju kamar mandi.

“Iyada!!! Hari ini aku libur….”, tolak Din sambil meronta dari pelukan Aiba.

“Baiklah..”, Aiba menurunkan Din, mencium pipi Din sekilas.

“Mandilah… aku buatkan sarapan…”, kata Din tersenyum lebar, hatinya sangat bahagia karena Aiba bersikap bahkan lebih baik daripada biasanya.

“Mana sarapannya Mama?”, Aiba tiba – tiba saja sudah berada di belakang Din beberapa saat kemudian, memeluk pinggang Din.

“Sebentar Papa…”, jawab Din sambil tertawa kecil.

“Waaa… kau mengotori kemejaku ya…”, kata Aiba menyentuh kemejanya yang Din pakai, tampak kebesaran di tubuh Din.

“Hehehe… nanti aku bersihkan Papa…”, kata Din lagi.

“Wakatta Mama….hahaha..”.

Ponsel Aiba berdering tiba – tiba. Ia segera mengangkatnya ketika melihat siapa yang menelepon.

“Hai?! Wakatta… secepatnya aku akan kesana…”, jawab Aiba.

“Hai… dekita!!!”, Din berbalik melihat Aiba, “Kenapa?”, karena Din lihat wajah Aiba sedikit berubah.

“Gomen… ada sedikit masalah di studio… aku harus segera kesana…”, Aiba sungguh menyesal harus meninggalkan Din tiba – tiba, terlebih ketika kekasihnya itu sudah menyiapkan sarapan untuknya.

“Wakatta… pergilah…”, jawab Din lalu tersenyum.

“Gomen…”, Aiba mengecup puncak kepala Din lalu bergegas mengambil peralatannya dan berlalu dari tempat itu.

“Shoganai na…”, bisik Din lalu membuang makanan yang baru ia buat ke tempat sampah.

===========

Daiki melangkahkan kakinya keluar dari kampus. Urusan dengan dosennya sudah selesai hari ini. Tapi ia tak bisa menemukan Opi, mungkin gadis itu seperti biasa pulang duluan.

Ia mengeluarkan ponselnya, berfikir siapa yang akan ia ajak pergi hari ini. Kontak nama di ponselnya di dominasi oleh nama wanita, entah siapa saja itu. Ia sendiri kadang melupakan siapa saja yang sudah berkencan dengannya.

“Naoko…hmm.. tidak…”, gumamnya sambil menekan tombol untuk mencari nama, “Saifu…”, jarinya berhenti disitu.

“Moshi – moshi?”, angkat suara diseberang.

“Fu-chan… dimana?”, tanya Daiki yang akhirnya memutuskan untuk menelepon Saifu.

“Aku di apartemen.. kenapa?”, tanya Saifu.

“Ya sudah… aku kesana ya…”, kata Daiki.

“Eh? anou..tapi sebentar lagi aku harus pergi kerja…”, jawab Saifu.

“Tak apa… oke? Aku kesana…”, putus Daiki lalu masuk ke bis yang kebetulan sudah datang.

“Ada apa Dai-chan?”, tanya Saifu ketika Daiki sudah datang ke apartemennya. Sungguh hal yang cukup aneh mengingat Daiki biasanya selalu meminta bertemu di luar, ia tak suka berada di apartemen kumuh ini.

“Betsu ni… aku hanya ingin kesini saja…”, jawab Daiki singkat.

“Sou… aku buatkan teh.. sebentar ya Dai-chan…”, kata Saifu sambil beranjak ke dapur.

Daiki baru kali ini benar – benar memerhatikan sekeliling apartemen ini. Sebuah apartemen yang bisa dibilang jauh dari layak, yang pasti akan terasa sangat dingin di musim dingin, dan panas di musim panas. Hanya ada sebuah pemanas ruangan sederhana di sudut ruangan dekat tempat tidur, juga sebuah kipas angin.

“Douzo..”, kata Saifu memberikan secangkir teh dihadapan Daiki.

“Arigatou…”, katanya lalu menyesap teh tersebut.

“Hmm…”, Saifu memerhatikan setiap gerakan Daiki, ia tak mengerti kenapa ia bisa begitu mencintai laki – laki di hadapannya itu.

“Fu-chan hidup seperti ini… dan aku masih saja sering merepotkanmu… gomen na..”, kata Daiki pelan.

Saifu menggeleng, “Tak apa.. aku tak pernah keberatan kok..”, jawabnya lalu menghampiri Daiki.

Daiki meraih tubuh Saifu dan membiarkan kepala Saifu bersandar pada dada bidangnya, memeluk Saifu. Memang beginilah Daiki, ia bisa memberikan kepercayaan pada wanita – wanita selama ini, memberikan kenyamanan pada wanita – wanita itu sehingga ia selalu kelihatan bisa dipercaya.

“Maafkan aku…”, bisik Daiki pelan, “Kau harus jatuh cinta pada pria seperti aku…”.

Saifu tak menjawab, ia hanya membiarkan dirinya sekali lagi percaya pada semua kata – kata Daiki. Ia tak punya alasan untuk tidak percaya pada Daiki. Ia sebatang kara, ia punya keluarga jauh tapi bukan di kota ini, bahkan mereka tak mau repot untuk mencarinya. Ia hanya punya Daiki, dan seorang seniman bernama Ohno Satoshi yang entah kenapa selalu membantunya.

Bersama Daiki dirinya selalu merasa tenang, setidaknya ada orang yang mau membiarkannya mengeluh segala sesuatu hal, mendengarkan setiap kata – katanya, menemaninya.

Ponsel Daiki berbunyi, Daiki melepaskan diri dari Saifu, “Sebentar ya…”, kata Daiki sambil menempelkan ponselnya di telinga.

“Aku harus pergi sekarang Fu-chan… ada kerjaan..”, kata Daiki pada Saifu.

“Hmm… wakatta…”, Saifu mengantar Daiki ke depan pintu gedung apartemen itu, “Hati – hati ya Dai-chan…”

Daiki mengangguk, lalu mencium pipi Saifu, “Un… jaa ne!!”, Daiki berbalik meninggalkan tempat itu.

Saifu masih saja memandangi punggung Daiki yang menjauh.

Sementara itu seorang wanita berdiri tak jauh dari apartemen itu, memperhatikan setiap gerak – gerik Saifu, “Dai-chan itu milikku….”, bisiknya penuh kemarahan.

=============

Din yang seharian ini tak ada kerjaan hanya menonton DVD sambil ngemil. Ia belum juga mengganti bajunya atau mandi. Ia tak punya selera untuk melakukan apapun.

Ia pun sengaja mematikan ponselnya, ia malas dihubungi oleh siapapun.

Namun tak lama, telepon apartemen pun berbunyi. Ia merutuki dirinya sendiri, ia malas mengangkatnya, jadi ia biarkan telepon itu berbunyi hingga masuk ke mailbox.

“Dinchan…ini Satoshi… Rei sakit, bisa kau membantuku untuk menjaganya? Aku harus ke kantor… tapi ponselmu tak ak…”

Din segera menyambar gagang telepon yang kebetulan dekat dengannya.

“Satoshi-nii??”, seru Din, “Neechan sakit??!!”

“Un… dia kena demam karena sepertinya dia kecapean… aku tadi coba menghubungi kantormu karena kupikir kau disana… ternyata tidak… tapi ponselmu juga tidak nyala…”, jelas Satoshi.

“Sou… baiklah… aku segera ke rumah…”

“Maaf merepotkanmu Din… tapi aku benar – benar harus ke kantor..”, kata Satoshi, “Demam Rei cukup tinggi, aku tak berani meninggalkannya seorang diri..”, jelas Satoshi lagi, nada khawatir benar – benar terdengar dari Satoshi.

“Wakatta… aku pergi sekarang juga. Paling dua puluh menit lagi sampai..”, Din segera menuju kamar mandi, membiarkan kondisi DVD menyala serta makanan berserakan.

“Maaf ya Dinchan… aku pergi sekarang..”, pamit Satoshi ketika Din sudah di rumah kakaknya itu.

“Un… tak perlu khawatir.. aku akan menjaganya..”.

Rei terbaring tak berdaya di atas futon, wajahnya memerah tampaknya ia benar demam tinggi. Seakan baru sadar, Din sudah lama tak datang ke rumah ini, menjenguk kakaknya. Rei terlihat lebih kurus dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Din mengganti kompres yang dipakai Rei, lalu beranjak ke dapur untuk memasakkan bubur untuk kakaknya itu.

“Neechan.. makan dulu.. kau harus minum obat..”, kata Din pada Rei yang ternyata sudah terbagun ketika ia selesai masak.

“Dinchan…”, panggil Rei lirih, “Kenapa kau ada disini?”.

“Satoshi-nii meneleponku, ia khawatir karena demam mu tinggi… lagipula hari ini aku libur..”, jelas Din sambil mulai menyuapi Rei.

“Ah… iya… aku hanya kecapean saja…”, jelas Rei.

“Neechan terlihat sedikit lebih kurus… kenapa? Apa Satoshi-nii memperkerjakanmu lebih keras?!”, seru Din.

“Chigau… aku hanya sedang dalam kondisi tak baik… badanku sering sekali drop akhir – akhir ini…”, tentu saja Rei tak mungkin membuat adiknya khawatir jika tahu ia juga ada masalah dengan Satoshi.

“Sou ne… kau harus banyak makan… gomen na.. aku sibuk sekali, tak sempat main kesini..”, sesal Din.

“Daijoubu… kau tak perlu mencemaskan aku…”, kata Rei lalu mengambil mangkuk bubur yang Din pegang, “Ne.. bisa tolong jemput Hiroki?”, Rei memandang jam dinding, sebentar lagi memang sudah harusnya ia menjemput Hiroki.

“Ah… neechan bisa makan sendiri kan? Setelah makan kau harus makan ini..”, Din menyodorkan obat pada Rei.

“Hai… hai… wakatta.. arigatou na..”

Din tersenyum lalu mengambil mantelnya, menuju keluar rumah. Ia baru ingat ponselnya sama sekali belum ia nyalakan, maka ia menyalakannya sambil berjalan menuju ke TK.

BRUKK!!

“Ah!! Gomeeenn!!”, seru Din kaget ketika ia menabrak seseorang karena asyiknya membaca banyak pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

“Tak apa… tak apa…”, jawab orang itu yang ternyata gadis yang sepertinya seumuran dengannya.

Gadis itu baru saja keluar dari rumah sebelah rumah kakaknya.

“Kau… tetangga kakakku ya?”, tanya Din.

“Kakakmu?”

“Maksudku.. Ohno Satoshi… ya?”, tanya Din lagi.

“Un… Hajimemashite.. Ninomiya Opi desu…”, katanya sambil tersenyum.

“Aaah… hajimemashite.. aku adiknya Ohno Rei.. namaku Ikuta Din.. yoroshiku…”

“Kau mau kesana juga?”, tanya Opi yang baru sadar mereka berjalan beriringan.

Din mengangguk, “Ya… aku mau ke TK dekat sini… aku menjemput keponakanku..”, jelasnya.

“Hahaha.. kebetulan sekali… aku juga mau kesana.. aku janjian dengan kakakku disana…”, Opi terlihat membawa sebuah map.

“Souka…”

“Ya… kakakku pemilik TK itu…”, jelas Opi.

Din memperhatikan sekilas wajah Opi, dan sepertinya ia tak asing dengan wajah itu. Selain itu, sepertinya ia pernah mendengar nama Opi. Tapi ia tak yakin dimana.

“Sepertinya kita pernah bertemu… ya?”, Din sedikit penasaran pada Opi.

“Benarkah? Mungkin saja ketika Ikuta-san ke rumah Rei-san… kita pernah bertatap muka mungkin… tapi aku juga tak yakin..”, kata Opi pada Din yang masih memperhatikan wajahnya.

“Sou ne… mungkin saja..”, jawab Din akhirnya.

“An-chaann!!”, panggil Opi pada seseorang ketika mereka sudah sampai di TK. Ternyata suasana di TK sudah cukup ramai, karena sudah pulang sekolah.

Din kaget ternyata itu Kazunari, sahabat dekat Aiba.

“Yo!! Mana pesananku?”, tanya Kazunari pada Opi.

“Kenapa sih An-chan suka melupakan hal – hal penting seperti ini?! Aku kan yang jadi repot..”

“Ninomiya-kun?”, panggil Din yang sejak tadi hanya melihat Kazunari dan Opi berbicara.

“Eeehh?? Dinchan?? Kenapa? Eh?”, Kazunari melihat Din dan Opi bergantian, “Kalian sudah saling kenal?”

“Hah? Maksud An-chan??!”, kening Opi berkerut tak mengerti.

“Ini pacarnya Masaki… kau tahu?!”, kata Kazunari.

“Ah!! Hahahaha…”, Din tertawa karena ternyata Opi adalah adiknya Kazunari, “Pantas aku sepertinya pernah melihatmu.. kau adiknya Ninomiya-kun ya?? Haha.. sepertinya aku pernah lihat fotomu gitu..”

“Iya!! Aku juga!! Hahaha..”, Opi juga pernah melihat foto pacar Aiba walaupun belum pernah bertemu.

“Oba-chan!!”, panggil seseorang yang ternyata Hiroki.

Din mengacak rambut Hiroki, “Ne!! sudah kubilang panggil Dinchan saja..”, protes Din.

Hiroki hanya mencibir, “Dinchan… Okaa-chan sakit ya?”, tanya Hiroki pada Din.

Mendengar Rei disebut – sebut membuat Opi sedikit kaget namun ia berusaha tak menunjukkannya.

“Iya… tapi sudah baikan kok…”, jelas Din.

“Ayo pulaaanngg~ Okaa-chan sendirian kan?”, Hiroki menarik – narik tangan Din.

“Baiklah.. Ninomiya-kun.. Opi-san… aku pulang dulu…”, kata Din, “Ne.. Ninomiya-kun… ajak sekali – kali ia makan malam dengan kami…”.

“Wakatta… nanti kita makan malam bersama.. ne?”, kata Kazunari akhirnya.

“Waaa.. dunia memang sempit… hahaha.. ternyata dia adiknya Rei ya?”, gumam Kazunari setelah Din dan Hiroki pergi.

Opi seakan baru tersadar, “Ah iya… dia adiknya Rei-san…”, bisik Opi.

================

Saifu menggeliatkan badannya yang terasa kaku. Akhirnya pekerjaan terakhir, yaitu membuang sampah, sudah ia lakukan. Suasana café sudah sangat sepi. Hanya ada dirinya dan seorang pegawai lain yang hari ini bertugas membersihkan kafe. Ia sudah berhenti jadi host, sekarang ia jadi waitress di sebuah café.

Ini tempat yang di rekomendasikan oleh Satoshi, Saifu awalnya menolak terus dibantu, tapi kesulitan ekonomi membuatnya akhirnya menerima saja semua yang diberikan oleh Satoshi.

Saifu kembali ke dalam café, membuka apron nya dan bersiap untuk pulang. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

“Sudah mau pulang?”, tanya seseorang yang ternyata sudah ada di luar ruang ganti pegawai.

“Ohno-san!!”, seru Saifu kaget.

“Ya… ayo pulang..”, ajak Satoshi.

Saifu mengikuti pria itu menuju ke mobil, lalu ikut naik ke mobil milik Satoshi.

“Kau betah kerja disitu?”, tanya Satoshi sambil mengemudi.

“Iya… arigatou Ohno-san…”, jawab Saifu lalu menunduk karena bingung harus berkata apa lagi.

“Tak perlu berterima kasih…”, ucap Satoshi sambil masih konsentrasi pada jalanan.

Saifu memandang sekilas pada Satoshi, sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan sejak dulu. Sejak mereka bertemu, lalu beberapa minggu setelah itu Satoshi selalu membantunya, memberinya bantuan entah itu uang atau hal lain. Tapi, Satoshi tak pernah meminta apapun darinya, sepertinya ia benar – benar hanya ingin membantu. Tapi ia juga penasaran, masa sih Satoshi tak pernah mengharapkan apa – apa darinya?

“Anou… Ohno-san…”, panggil Saifu.

Satoshi menoleh sekilas, “Apa?”

“Ada yang ingin aku tanyakan….”, ucap Saifu pelan, ia berharap Satoshi tidak tersinggung.

“Ya?”

“Kenapa Ohno-san begitu baik padaku?”, akhirnya pertanyaan itu keluar juga.

Mobil berhenti mendadak. Beruntung mereka bukan di jalur cepat sehingga Satoshi mudah saja menepikan mobilnya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?!!”, seru Satoshi.

“Aku…hmmm..”, Saifu kini tak berani memandang Satoshi, “Aku hanya penasaran… kita kan bukan siapa – siapa, tapi Ohno-san begitu baik padaku… hmmm.. aku…”

Satoshi tak menjawab, ia lalu menarik Saifu ke dalam pelukannya, “Kau akan tahu… tapi bukan sekarang saatnya….”.

Saifu masih kaget akan pelukan Satoshi yang tiba – tiba. Ia hanya bisa diam, berusaha menebak segalanya ini ada apa?

===============

Sekali lagi Din mencoba menghubungi ponsel Aiba, tapi sama sekali tak ada jawaban. Ia sedikit kesal, namun ia tahu kekasihnya itu pasti sedang sibuk kerja.

“Kenapa?”, tanya Rei ketika melihat wajah Din yang kesal.

“Maaa.. Masaki-kun sibuk sekali..”, jawab Din.

“Yah… laki – laki memang seperti itu kan? Kalau sudah berhubungan dnegan pekerjaan…”, kata Rei yang masih terbaring di futon itu.

“Neechan tidur saja… sudah hampir tengah malam…”, kata Din sambil menyelimuti Rei.

“Kau menginap malam ini?”, tanya Rei.

“Maa… mungkin… kalau Satoshi-nii pulang, aku akan pergi saja.. ne?”, kata Din, “Sekarang neechan harus tidur…”, ucapnya lembut lalu meninggalkan kamar kakaknya.

Ponselnya tiba – tiba berbunyi, tanpa melihat namanya ia mengangkat telepon itu.

“Hai?”, angkat Din cepat.

“Ne… doko?”, Din segera melihat nama orang yang meneleponnya, ‘Jun-kun’.

“Ehh?? Jun? itu… aku di rumah kakakku..”

“Pantas saja… aku ke apartemenmu, tapi tak ada yang menyahut, bahkan Aiba pun tak ada…”, jelas Jun.

“Ngapain kau disana??!!”, seru Din panik.

“Betsu ni… aku kangen padamu…”, jawab Jun tanpa sedikitpun berfikir.

“Eeehh??”, tentu saja itu membuat Din bingung.

“Aku jemput ya… kita makan malam…”, kata Jun lagi.

“Baka!! Ini sudah jam berapa?”, seru Din lagi.

“Hahhaa… iya sih… tapi… aku ingin bertemu denganmu..”, rengek Jun.

Din mencibir, malas menghadapi Jun yang terkadang menyebalkan seperti itu.

“Hmmm.. tidak bisa… aku tak akan pulang jika kakak iparku belum pulang…”, jawab Din akhirnya.

“Eeehh… Dinchan…”

“Sudahlah…”, Din menutup flip ponselnya, lalu duduk di kursi meja makan. Otaknya kini jadi tambah pusing saja, selain memikirkan Aiba, pekerjaan, kini Jun juga.

“Tadaima…”, seru seseorang di depan pintu.

“Satoshi-nii…”, seru Din menyambut kakak iparnya itu.

“Sou… Dinchan… ada seseorang di depan… temanmu?”, tanya Satoshi yang tidak yakin siapa di depan karena cukup gelap.

“Hah? Teman…ku?”, Din keluar memastikan siapa yang datang.

“EEEEHHH???JUNNNN??!!”, seru Din kaget ternyata Jun sudah ada di depan rumah kakaknya.

Jun menghampiri Din yan masih bersama Satoshi di depan pintu.

“Matsumoto Jun desu…”, kata Jun pada Satoshi.

“Masaka!! JUNN!!”, seru Satoshi.

“Eh?? Eeehh??”, Jun bingung sendiri pada apa yang dilihatnya.

“Jadi Satoshi itu kakak iparmu?”, tanya Jun setelah mereka memutuskan untuk pulang.

“Iya… sepertinya aku sudah pernah cerita..”, jawab Din.

“Iya.. tapi nama Ohno di Jepang ini kan banyak… baka~”, cibir Jun.

“Jadi kalian teman lama, ya?”, Din tak menggubris perkataan Jun tadi.

“Ya… kami teman lama.. sepertinya sudah hampir dua puluh tahun aku tak bertemu dengannya… sekarang malah jadi kakak iparmu? Lucu sekali ya…”, kata Jun lagi.

“Apanya yang lucu coba??!!”

Ponsel Din kembali bergetar, Din melihat nama penelepon, lalu memandang Jun, “Gomen… Masaki-kun…”, kata Din pada Jun yang sedang menyetir.

“Ii yo..”, jawab Jun santai.

“Halo? Honey-kun?”, angkat Din.

“Gomen na… aku tak sadar kalau kau menelepon… ponselku ada di tas… gomen.. kau bosan ya di apartemen sendirian??”, tanya Aiba, terdengar suara yang cukup bising di belakangnya.

“Aku… di rumah kakak tadi.. kau tak membaca pesanku?”, Din balik bertanya, karena sebenarnya ia sudah mengabari Aiba soal sakit kakaknya.

“Aku belum sempat membacanya… disini ramai sekali, dan aku masih banyak pekerjaan…”, jawab Aiba.

“Sou… se-tidak penting itu kah aku?”, tanya Din yang merasa matanya mulai berkaca – kaca.

Aiba mendesah pelan, “Bukan begitu Dinchan.. kumohon mengerti… aku…”

“Kalau aku yang minta kau lebih mengerti diriku? Apa itu akan kau penuhi juga?! Aku tak akan pulang malam ini…”, seru Din sambil mematikan ponselnya.

Din terus menangis sepanjang perjalan pulang itu. Jun akhirnya membawa Din ke apartemennya, ia membiarkan Din terus menangis.

“Din…”, panggil Jun sambil menyerahkan segelas teh hangat pada Din.

“Aku ingin Masaki-kun yang dulu…”, rengek Din sambil menelungkupkan wajahnya, menutupinya dengan telapak tangannya.

Jun hanya diam, ia sama sekali tak punya kata – kata penyemangat untuk Din.

“Masaki-kun selalu punya waktu untukku… aku tak kenal dia yang sekarang…”, rengek Din lagi.

Jun menarik telapak tangan Din, lalu menyentuh pipi din yang sudah basah oleh air mata itu.

“Ne… Jun…”, panggil Din sambil menatap Jun.

“Hmm??”

“Apa cinta selalu se sakit ini?! Aku tak pernah jatuh cinta pada orang lain selain Masaki-kun… apa cinta selalu se sakit ini?!!”, dengan air mata yang terus mengalir Din tampak sangat sedih dan tak berdaya.

“Aku…”, Jun tak bisa menjawab apapun, ia hanya memandangi Din.

“Kalau iya.. aku tak mau jatuh cinta lagi.. aku tak mau…”, seru Din lagi.

Jun menarik tubuh Din ke pelukannya, ia tak mampu berkata apapun lagi, ia juga sangat sedih melihat Din seperti ini.

“Jun…”, air mata Din berhenti seketika.

“Ne… aku tak punya jawaban untuk itu… tapi… aku….”, Jun melonggarkan pelukannya lalu menatap Din.

Tak butuh waktu lama Jun menautkan bibirnya pada bibir Din. Awalnya Din ragu untuk membalas ciuman itu, namun akhirnya ia menyrah pada insting dan kemarahan yang saat ini sedang ia rasakan pada Aiba.

“Biarkan aku membuatmu melupakan rasa sakitmu..”, bisik Jun sekilas.

Jun kembali merengkuh tubuh Din, dan mencium gadis itu. Kali ini lebih dalam dan bernafsu. Jun menggigit bibir bawah Din, meminta jalan masuk bagi lidahnya. Awalnya ia ragu, namun akhirnya Din membuka mulutnya dan menyambut Jun masuk.

Jun membawa Din masuk ke kamar dan membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur. Dia berciuman dengan Din sambil membuka kancing baju gadis itu satu persatu. Dia memasukan tangannya dan mulai membelai dada gadis itu.

“Jun… yamete…”, bisik Din yang tahu bahwa harusnya ini adalah salah, tak seharusnya ia begini dengan Jun.

“Ssshht…”, jawab Jun lalu mulai menggerayangi tubuh Din.

“Jun… anou…”, Din masih mencoba menolak Jun.

Jun sedang tak menerima penolakan, ia menarik baju Din yang sudah terbuka sepenuhnya, bibirnya kini beralih ke leher dan dada Din, menimbulkan keluarnya suara desahan dari mulut Din.

“Kau…”, Jun mencibir lalu meneruskan kegiatannya. Tangannya sibuk entah itu di dada gadis itu atau mulai menarik celana jeans yang Din pakai.

Din menyentuh tangan Jun, “Gak adil… kenapa Jun masih pakai baju?!”, protes Din.

Jun berhenti sejenak, ia membuka kaos yang ia pakai lalu kembali sibuk dengan tubuh Din yang kini sudah polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

“Jun…”, panggil Din pelan.

Lagi – lagi Jun tak menjawab, ia merasa sedikit kepanasan hingga kini ia pun tak memakai apapun, sama polosnya dengan Din.

“Tenanglah… aku sudah bilang kau akan baik – baik saja denganku..”, bisik Jun menenangkan Din.

=============
TBC~
Maap lama update… kedua penulis kemaren ngestag adanya…
COOMENTS ARE LOVVVEEEE!!!



Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chapter 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s