[Multichapter] Happiness (chap 5)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Five
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance and Friendship
Ratting    : PG nyangkut2 lah…LOL
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members and Daiki Arioka are belong to JE, others are our OC. except Saifu Suzukiis belong to Fukuzawa Saya…. collaboration neh~. makin pabaliut lah ini cerita… COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~chapter 5~

From : honey-kun
Subject : (no subject)
Miss u…

Din sekali lagi membaca e-mail singkat itu. Ia tak salah baca kan? Itu dari kekasihnya yang selama beberapa hari ini memusuhi dia kan?

Alih – alih senang, Din merasa sedikit bingung. Pesan itu diterima ponselnya malam tadi, tapi baru ia baca pagi ini. Din terdiam sesaat, saat akan menutup flip ponselnya ia menemukan fotonya bersama Aiba. Begitu mesra, seakan mereka tak akan pernah terpisahkan.

“Honey-kun…”, panggil Din lirih.

Ia segera membuka flip ponselnya kembali, mengetik sebuah pesan untuk Aiba.

To : honey-kun
Subject : (no subject)
Miss u too..
Genki ka??
Maaf selama ini aku sedikit egois padamu…
Aku hanya ingin kita balance..
Kau dengan pekerjaanmu saja, aku bisa menerima..
Lalu kenapa kau tidak bisa??

Tapi segera ia hapus karena kesannya malah seperti menghakimi Aiba.

To : honey-kun
Subject : (no subject)
Miss u too…

Din pun mengirimkannya, hanya kata – kata sesingkat itu karena dirinya sudah capek bertengkar dengan Aiba. Ia berharap sesampainya di Jepang nanti, Aiba sudah tak emosi lagi, sehingga mereka bisa bicara dengan kepala dingin, bukan dengan emosi sesaat.

“Din…”, panggil seseorang.

Din kaget setengah mati. Ia tak sadar ada orang di sebelahnya. Ini kan baru pukul sembilan? Hah?

Sedikit demi sedikit Din menoleh pada orang di sebelahnya.

“JUN!!!”, Din berteriak lalu mundur beberapa langkah sambil menarik selimut yang melingkar di tubuhnya.

Kepalanya cukup pusing, tapi akal sehatnya mengerti apa yang sedang terjadi.

“Jun??!! Jun??!!”, teriak Din kalut.

Jun menyipitkan matanya, “Jangan ambil selimutnya dong… aku kedinginan nih..”, Jun tak memakai apapun kecuali sebuah boxer, kulit putihnya terekspos cahaya pagi yang masuk di sela – sela tirai yang tertutup itu.

Din berusaha berfikir apa yang terjadi semalam. Jun memang memaksa masuk setelah kejadian ia berciuman, namun setelahnya mereka hanya minum – minum. Ia mabuk, ia ingat ia sangat mabuk ketika terjadilah hal itu.

“Hey… jangan melamun gitu…aku mandi duluan ya… atau mau bareng?”, tanya Jun tersenyum nakal pada Din yang masih berdiri dengan selimut melingkar di badannya.

“Kita…melakukan itu semalam?”, tanya Din bingung.

Jun hanya tertawa ringan, “Well, dua orang dewasa, di satu ruangan, dalam keadaan mabuk, apa lagi yang bisa terjadi?”, ujarnya sambil mengambil handuk.

“HAAAHH??!! Jun… ini gak bener… ini…”, Din kalut setengah mati mendengar apa yang Jun katakan.

Dengan santai Jun menghampiri Din, dengan gerakan tiba – tiba memeluk tubuh Din, “Daisuki dakara… aku tak meminta lebih… hanya jika kau ada disisiku…itu sudah cukup…”, bisik Jun lalu mencium pelan puncak kepala Din.

Jun berlalu, Din terduduk di lantai hotel itu dengan perasaan campur aduk. Dengan kesal ia mengacak – acak rambutnya, menelungkupkan wajahnya dengan gusar.

Apa yang harus ia katakan pada Aiba nanti? Apa ia harus berbohong pada Aiba? Ia sudah mengkhianati Aiba.

===========

Sho menghentikan langkahnya saat ia sudah keluar dari gedung tempat ia bekerja. Matanya menatap layar ponselnya dengan bimbang. Tertera pada layar ponselnya tulisan ‘Rei’. Sebetulnya ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Rei padanya. Wanita itu pasti ingin menghabiskan waktu bersamanya dengan mengajak pergi ke suatu tempat seperti hari-hari sebelumnya.

“Moshi-moshi?” sahut Sho pelan akhirnya memilih menjawab telpon.

“Sho-kun, sudah pulang?” tanya Rei di seberang sana.

“Sudah,” jawab Sho sedikit dingin. “Ada apa?”

“Aku yakin kau belum makan siang. Jadi aku akan ke apartemenmu siang ini. Aku yang memasak,” ujar Rei terdengar senang. Dari suaranya ia terdengar yakin Sho tidak akan menolak.

Sho diam sejenak. Berbeda dengan Rei, Sho tidak begitu antusias. Mungkin karena otaknya terlalu capek memikirkan berbagai hal. Terutama tentang Rei.

“Sho? Kamu masih mendengarku?”

Sho terenyak lalu berbicara kembali. “Gomen ne. Aku harus menjemput Reina. Mungkin lain kali saja,” tolak Sho sambil memijit-mijit keningnya.

“Aku tahu. Kita bisa bertemu di TK. Jadi kita bisa ke apartemenmu bersama-sama,” putus Rei.

Sho menghembuskan napasnya dengan keras. Percuma ia menolak. Rei pasti akan terus memaksanya.

“Baiklah,” kata Sho pasrah.

Sho tidak langsung pergi begitu ia menutup flap ponselnya. Semakin hari ia merasa ini adalah sebuah kesalahan. Pernyataan Rei beberapa waktu lalu, tidak membuatnya sangat senang. Rei ingin kembali bersamanya. Bukankah itu berarti Rei mengkhianati Satoshi? Saat awal ia bertemu Rei, ada perasaan senang dan rindu yang begitu mendalam. Tapi jika kenyataannya Rei sudah menikah dan pada akhirnya seperti ini, Sho berharap ia tidak pernah bertemu dengan Rei lagi.

Di sela-sela kebingungannya, pandangannya berhenti pada sosok seorang gadis yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Gadis itu sedang menunduk menatap ponselnya sambil tersenyum dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa beberapa buku tebal yang terlihat berat. Tapi gadis itu tidak merasa keberatan. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan hal itu. Bidangnya memang membuatnya terbiasa dengan buku-buku itu.

Tanpa Sho sadari, ia tersenyum. Kakinya lalu melangkah cepat menghampiri gadis yang menarik perhatiannya itu.

“Kalau berjalan seperti itu, kau bisa menabrak orang lain,” ucapnya begitu Sho sudah di dekat gadis itu.

Gadis itu menoleh dan matanya terbelalak karena kaget. Sho hanya menahan tawa karena wajah kaget gadis itu terlihat lucu.

“Sakurai-san?” seru gadis itu.

“Konichiwa!”

Dalam sekejap wajah kagetnya berubah. Terkembang senyuman yang manis di bibirnya. “Konichiwa…kenapa aku selalu bertemu dengan Sakurai-san di tempat yang tidak terduga?”

Sho tertawa pelan. “Kau benar. Ini sudah ketiga kalinya. Benar kan, Opi-san?”

Gadis bernama Opi itu mengangguk. “Ya. Sakurai-san benar.”

“Mau kemana?” tanya Sho.

“Ke sana,” Opi menunjukkan sebuah kedai ramen yang terlihat ramai. Bukan hal yang aneh karena sekarang memang sudah jam makan siang.

“Sokka. Hmm~ sepertinya enak siang ini makan ramen,” kata Sho membuat Opi bingung dengan arah pembicaraan mereka.

Opi mengerutkan keningnya.

“Baiklah. Aku putuskan siang ini makan siangku adalah mie ramen.” Sho lalu menarik tangan Opi dan menggenggamnya. Tentu saja gadis itu kaget dengan perlakuan Sho yang tiba-tiba. Tapi Sho lega karena Opi terlihat tidak menolaknya.

“Ikimasho~”

“Mie ramen ini enak sekali,” ucap Sho begitu menyeruput mie ramennya.

“Tentu saja. Ini kedai favoritku dan An-chan,” timpal Opi bangga. Tiba-tiba Sho melihat Opi diam. Ekspresinya terlihat murung.

“Doushita no?” tanya Sho.

Opi yang ditanya lalu menggeleng kepala dan tersenyum. “Nani mo nai.”

Sho mengangguk lalu melanjutkan makannya. Begitu juga dengan Opi.

“Kenyang sekali,” seru Sho setelah keluar dari kedai ramen.

“Arigatou sudah mentraktirku. Lain kali aku yang mentraktir Sakurai-san,” ujar Opi sambil menyejajarkan langkahnya dengan langkah Sho.

“Tidak perlu seperti itu. Aku senang kita bisa makan bersama.”

Kata-kata Sho membuat Opi lagi-lagi mengerutkan keningnya. Ia merasa bingung.

“Ah~ aku harus menjemput Reina,” seru Sho setelah melihat jam tangannya. “Mau ikut bersamaku?” tanya Sho pada Opi.

“Eh?”

“Biasanya kau ke TK menemui kakakmu.”

Opi diam. Sho lagi-lagi melihat wajah murung seperti tadi. Dia memang tidak tahu apa-apa, tapi Sho menebak pasti ada sesuatu antara Opi dan Kazunari.

“Tidak apa-apa kalau…”

“Aku ikut,” potong Opi cepat.

“Eh?”

“Aku ikut dengan Sakurai-san,” ucap Opi lagi.

“Baiklah.”

Ada sesuatu yang Sho rasakan setiap kali bersama gadis itu. Tapi ia tidak tahu perasaan apa. Ia senang saat mendengar gadis itu bercerita. Dan yang lebih membuatnya tertarik, mereka selalu bertemu di tempat yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Tawa dan senyuman tidak pernah terlepas dari bibir Sho saat ia bersama Opi karena kadang gadis itu membuat cerita yang lucu dan tidak membosankan. Setelah semua yang mereka lakukan, saat ini timbul perasaan baru yang terbit di hati Sho. Perasaan ingin mengembalikan senyum Opi saat gadis itu merasa sedih seperti sekarang ini.

“Kalau ada yang ingin diceritakan, kau bisa menceritakannya padaku,” ucap Sho sambil mengemudikan mobilnya.

Opi yang tadi hanya melihat keluar jendela, menoleh ke arahnya sebentar lalu menatap kedua tangannya.

“Kalau kau tidak keberatan,” lanjut Sho.

Sesaat suasana hening. Yang terdengar hanya suara kendaraan lain di luar sana.

“Sakurai-san mempunyai adik?” tanya Opi setelah diam cukup lama.

“Ya..” jawab Sho ragu. Ia kaget juga mendengar pertanyaan Opi yang tiba-tiba.

“Perempuan atau laki-laki?”

“Dua-duanya.”

“Sokka..”

Sho mengerutkan keningnya. Apa yang ingin gadis itu bicarakan?

“Sakurai-san menyayangi mereka?” tanya Opi.

“Tentu saja. Umurku dan adik-adikku cukup jauh. Dulu aku sering membantu Okaa-san mengurusi mereka,” sahut Sho.

“Sepertinya Sakurai-san kakak yang baik,” kata Opi sambil tersenyum lirih.

Sho hanya tersenyum. Ia belum menemukan maksud dari pembicaraan ini.

“Sumimasen kalau aku lancang, tapi apa ada masalah dengan Kazunari?”

Opi menggeleng. “Daijoubu..”

Tepat setelah itu, mobil Sho sudah memasuki daerah TK.

“Sudah sepi,” ujar Sho yang dibalaskan dengan anggukan Opi.

Mereka berjalan menuju kelas Reina dan terlihat gadis kecil itu sedang menggambar ditemani oleh seorang guru wanita.

“Reina..” panggil Sho.

“Papa..” seru Reina setelah melihat Sho.

“Konichiwa,” sapa guru yang tadi menemani Reina.

“Konichiwa,” balas Sho dan Opi berbarengan.

“Kana-san, mana An-chan?” tanya Opi sambil mengedarkan pandangannya ke sudut area sekolah.

“Ninomiya-san sedang menerima telpon. Mungkin sebentar lagi selesai,” jawab Kana.

Opi mengangguk mengerti.

“Sho-kun.”

Tiba-tiba terdengar suara yang Sho kenal dari kejauhan. Opi maupun Sho sama-sama menoleh ke arah sumber suara.

“Rei,” gumam Sho pelan. Ia lalu teringat tentang rencana Rei yang akan memasak untuknya di apartemen dan ia benar-benar melupakannya.

“Rei-san!! Hiro-chan!!” Opi memanggil sambil menghampiri Rei dan Hiroki. “Masih di sini?”

Rei mengangguk. “Aku menunggu seseorang,” ucapnya sambil tersenyum tapi pandangannya sedikit menatap Sho.

Opi melihat arah pandang Rei. “Dengan Sakurai-san?”

“Aku lihat tadi kalian datang bersama,” kata Rei menghiraukan pertanyaan Opi tadi.

Opi mengangguk. “Un~..tadi kami tidak sengaja bertemu. Lalu kami makan mie ramen. Rei-san tahu, kami selalu bertemu dengan tidak sengaja. Tadi pun seperti itu,” jelasnya.

“Souka. Sepertinya menyenangkan,” sahut Rei.

“Opi-san, kalau begitu aku dan Reina pulang dulu,” kata Sho.

Opi mengangguk. “Ja ne, Reina-chan.”

“Dadah~,” Reina melambaikan tangan ke arah Opi.

“Hati-hati di jalan.”

“Jangan bersedih lagi yah..” lanjut Sho sambil mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Opi dengan lembut.

Opi diam. Saat ini perasaannya menjadi campur aduk karena keanehan yang terjadi sejak tadi.

“Matta ne..”

======

Matanya terbelalak saat melihat kepala Opi disentuh oleh Sho. Hatinya cukup tidak tenang saat melihat Opi datang bersama temannya itu tadi. Tapi ia lebih kacau kalau Opi disentuh oleh orang lain.

Kazunari menggeleng menghilangkan pikiran yang ingin ia lupakan tapi sulit. Ia kembali menyadari diri kalau gadis yang di sana itu adalah adik kandungnya.

Selama dua puluh tahun ini, Kazunari hanya mengetahui kalau ia adalah anak angkat yang diadopsi oleh keluarga Ninomiya. Ketika ia menyadari perasaannya terhadap Opi, ia merasa itu bukan hal yang terlarang. Sampai ibunya memberitahu kalau ia sebenarnya adalah anak kandung dari ibunya yang juga ibu dari Opi. Kenyataan itu membuatnya sangat kecewa dan terpukul. Ia belum mengatasi masalah perasaannya tapi kenyataan berkata lain. Sesaat ia merasa hidupnya tidak adil.

Sekarang Kazunari hanya dapat memandang Opi dari jauh. Walaupun gadis itu ada dihadapannya, ia tidak bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan. Kadang ia tidak dapat mengontrol dirinya, seperti malam itu ia tiba-tiba memeluk Opi karena gadis itu memintanya tidak meninggalkan rumah.

“An-chan sedang apa?”

Suara Opi membuyarkan semua yang Kazunari pikirkan. Ia tidak sadar Opi ternyata menghampirinya.

Kazunari tahu ini tidak adil untuk Opi, tapi setiap kali melihatnya, Kazunari merasa sakit di hatinya.

“Tidak sedang apa-apa,” jawab Kazunari dengan memaksakan tersenyum.

Opi memiringkan kepalanya. “An-chan aneh. Masa tidak melakukan apa-apa tapi dari tadi seperti orang yang melamun.”

Kazunari mengacak-acak rambut Opi pelan. “Sok tahu. Kaerimasho..”

Opi merapikan rambutnya yang tidak beraturan dengan kesal. Sambil menggerutu pelan, Opi mengikuti Kazunari untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Kazunari kembali ke dalam pembicaraan serius dengan ibunya.

“Kazu, sekarang semua terserah padamu. Kalau kau ingin meninggalkan rumah ini, okaa-san terima semuanya. Mungkin ini hukuman karena dulu okaa-san sudah meninggalkamu di panti asuhan itu,” ucap ibunya pasrah ketika mereka duduk di ruang makan. Opi sejak tadi ada di kamarnya. Mungkin dia sudah tidur.

Kazunari menggenggam tangan ibunya. “Kaa-chan bilang apa? Itu bukan hukuman. Aku bersyukur ternyata yang mengambilku adalah ibu kandungku sendiri. Dan aku tidak akan meninggalkan rumah ini,” jelas Kazu.

“Tidak,” sergah ibunya. “Kau harus meninggalkan rumah ini, Kazu.”

“Tapi…”

“Kau tidak akan bisa mengatasi ini sendirian. Kau belum bisa melupakan perasaanmu. Okaa-san tidak bisa membayangkan kalau kau dan Opi..”

Ibunya lalu menunduk karena tidak sanggup membayangkan hal yang terburuk.

Kazunari memikirkan kata-kata ibunya. Apa yang dikatakan ibunya itu ada benarnya. Ia takut suatu hari ia tidak dapat mengontrol perasaannya yang sudah menyiksanya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan, Kaa-chan?”

“An-chan tidak pergi?” tanya Opi keesokan harinya saat Kazunari sedang asyik bermain game di hari Minggu.

“Tidak. Aku sedang malas keluar,” jawab Kazunari tetap dengan pandangan menatap ke televisi.

“Souka. Padahal aku ingin mengajak keluar. Aku bosan di rumah,” ucap Opi sambil duduk di samping Kazunari.

“Memangnya mau kemana?” tanya Kazunari sambil menoleh ke arah Opi dan kembali melihat televisi secara bergantian.

“Kemanapun.”

Kazunari diam sambil terus memperhatikan layar. Sebetulnya itu adalah caranya untuk tidak memperdulikan Opi. Kazunari semakin menyadari, karena perhatiannya pada Opi yang terlalu berlebihan membuatnya semakin tidak dapat mengontrol perasaanya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tak sanggup seperti ini.

“Ya sudah. Aku menghubungi Daiki saja. Mungkin dia sedang senggang sekarang.” Opi membalikkan badannya lalu akan pergi ke kamarnya sampai tiba-tiba Kazunari memanggilnya.

“Baiklah. Kita pergi kemanapun sesukamu. Asalkan jangan bilang bersama Daiki,” kata Kazunari akhirnya.

Opi sedikit tersenyum. “Kalau begitu aku ganti baju dulu.”

Kazunari memang tidak suka dengan laki-laki manapun yang mendekati Opi. Tapi ia lebih tidak suka dengan Daiki, laki-laki yang Opi bilang hanya temannya. Daiki yang selalu menampakkan senyumnya kapanpun membuat Kazunari tidak dapat menebak apa yang dipikirkan olehnya. Tapi ia merasa ada yang tidak beres dengan teman pertama Opi di kampusnya itu.

Seperti yang dikatakan Kazunari, dia mengantar Opi kemanapun gadis itu pergi. Dimulai dari berjalan-jalan di taman, lalu membeli es krim dan sekarang Kazunari terdampar di toko pakaian. Tubuhnya memang terasa lelah tapi rasa lelah itu seolah menguap begitu ia melihat senyum Opi.

“An-chan, bagus tidak?” tanya Opi tentang dress yang berwarna biru pada Kazunari.

“Bagus,” jawab Kazunari cepat.

Opi mengerucutkan bibirnya. “Pendapat An-chan terlalu cepat. An-chan pasti berbohong.”

“Tidak. Tentu saja baju ini bagus sekali kalau kau memakainya,” ucap Kazunari yakin.

Selagi Opi sibuk dengan kegiatannya, tiba-tiba Kazunari melihat sosok Sho dari kejauhan. Ia hampir saja memanggil dan menghampirinya. Tapi ia tahan karena ternyata Sho tidak sendirian. Sho bersama Ohno Rei yang ia kenal sebagai tetangganya dan ibu dari muridnya.

Kazunari tidak akan peduli meskipun ia melihat tangan Rei begitu mesra menggandeng tangan Sho. Kazunari juga tidak akan peduli walau ia menyaksikan senyuman Rei yang terlihat gembira saat wanita itu memilihkan baju untuk Sho. Tapi mengingat Sho adalah laki-laki yang disukai oleh Opi dan Rei adalah istri dari Ohno Satoshi, tetangga sekaligus temannya, membuat Kazunari sedikit kesal.

“An-chan kenapa?” tanya Opi membuat Kazunari gugup lalu menatapnya.

“Tidak..sudah memilih bajunya?” Kazunari mengalihkan perhatian Opi tapi rasa penasaran gadis itu ternyata lebih besar sehingga pengalihannya tidak mempan.

“An-chan lihat apa sih?” Opi bertanya lagi sambil melihat-lihat objek yang menarik perhatian kakaknya.

Mata Opi berhenti saat melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang memilih kemeja. Orang itu tidak salah lagi adalah Sho dan Rei.

“Lebih baik kita pulang,” kata Kazunari sambil merangkul Opi.

“Kenapa pulang?” tanya Opi.

Kazunari tidak menjawab. Ia terus membawa Opi dan berjalan tak tentu arah. Kazunari harus menjauhkan Opi dari Sho.

“An-chan ini kenapa?”

“Opi, sebaiknya kamu lupakan Sho. Aku tidak mengira dia bermain dengan istri orang. Dia sudah berubah,” kata Kazunari kesal saat mereka sudah di dalam mobil.

“Melupakan Sakurai-san? Main dengan istri orang? Apa maksud An-chan?” tanya Opi bingung.

Kazunari menatap Opi. “Bukankah kau menyukai Sho?” tebak Kazunari.

Opi terlihat gelagapan. Bagaimana bisa Kazunari tahu?

“Kau pasti bertanya kenapa An-chan bisa tahu. Semua terlihat jelas. Kau menunjukkan tanda-tandanya kalau ada yang berhubungan dengan Sho.”

“Tanda-tanda?” Opi memegang kedua pipinya karena ia yakin pipinya memerah. Kalau Kazunari saja tahu, apa mungkin Sho juga tahu?

“Pokoknya kau jangan mendekati Sho lagi,” putus Kazunari.

“Kenapa An-chan yang memutuskan? Tentang Rei-san, mereka itu hanya teman semasa kuliah. Aku tahu hubungan mereka,” jelas Opi sedikit kesal.

“Apa yang namanya teman itu harus semesra itu? Aku tidak percaya.”

“Kenapa sih An-chan tidak suka aku dengan Sakurai-san? Dia kan teman An-chan.”

“Karena…….”

Kazunari berhenti berbicara. Hampir saja. Hampir saja ia mengucapkan kata-kata yang tidak harus dikatakan. Hampir saja ia mengatakan kalau ia mencintai Opi.

Kazunari mencoba tenang. Emosinya akhir-akhir ini sering naik kalau menyangkut Opi dan Sho.

“Jangan bertanya lagi. An-chan tetap tidak suka kalau kau menyukai Sho,” kata Kazunari dengan suara yang lebih pelan.

Opi ingin bertanya lagi, tapi melihat kakaknya terlihat marah ia lalu mengurungkan niatnya.

Apa alasan kakaknya tidak suka ia menyukai Sho karena perasaan seorang kakak atau ada alasan lain?

============

Satoshi melihat lagi kearah jam dinding di rumahnya. Tak biasanya istrinya pulang selarut ini. Hingga tadi sore bahkan ia di telepon oleh pihak TK, bilang bahwa Hiroki belum dijemput.

Wajahnya berkerut, ia tak tahu kemana istrinya sekarang? Tak biasanya Rei tak memberi kabar padanya.

Satu kali Rei pernah tak menjemput Hiroki, namun itu karena mertuanya sakit. Satoshi mengerti jika itu alasannya. Tapi kali ini, kemana dia? Selama hampir empat tahun pernikahannya, ia tak pernah melihat Rei tak patuh padanya seperti sekarang, bahkan ponselnya tidak aktif.

Tak lama, pintu rumah itu terbuka, “Tadaima…”, kata seseorang di pintu.

“Kau dari mana?”, tanya Satoshi dingin, tatapannya tajam melihat Rei.

Rei terlihat gugup, lalu membuka mantelnya, “Itu… aku hanya keluar sebentar…”, sanggah Rei pelan.

“Hingga selarut ini? Hingga kau melupakan kewajibanmu menjemput Hiroki?”, tanya Satoshi lagi.

Rei terdiam, ia paling takut jika melihat Satoshi marah.

“Aku hanya… gomen…”, Rei tertunduk.

Sebenarnya tadi ia minum bersama beberapa teman lama, tentu saja dengan Sho juga. Karena tujuan sebenarnya adalah bertemu Sho.

“Kau kemana??!!”, tanya Satoshi lagi, kini nadanya makin meninggi.

“Aku hanya pergi dengan teman lama Satoshi… aku kan sudah jawab…”.

“Kau bau alcohol…”, potong Satoshi cepat.

Rei semakin tertunduk, “Gomen…aku…”

“Apa pernah aku melarangmu pergi dengan temanmu??!! Apa pernah aku tak mengizinkanmu pergi??!! Tapi kewajibanmu sebagai Ibu dan seorang istri harus tetap kau penuhi!!”, kata Satoshi tegas, tapi tak terlalu lantang karena ia takut Hiroki bangun.

“Ini semua salahmu… salahmu…”, seru Rei yang sepertinya masih setengah mabuk.

“Apa maksudmu?!!”

“Kau selingkuhkan?? Iya kan??!! Mengaku sajaaa!!”, seru Rei menerjang tubuh Satoshi dengan marah.

“Apa sih??!! Kau masih mabuk ya??!! REII!!”, ini Satoshi tak dapat lagi menahan suaranya.

“Aku melihatmu!! Aku melihatmu dengan gadis belasan tahun!! Kau selingkuh kan?? Iya kaaann??!!”, tangis Rei membuncah, ia sesenggukan sambil terus mengguncang badan Satoshi.

“Aku tidak selingkuh!!”, elak Satoshi keras.

“BOHONGG!!KAU BOHONNGG!!! Hahahaha… apa karena dia lebih muda? Lebih cantik dari aku?? Iyaaa???!!”.

“Rei… kau mabuk…”, kata Satoshi lagi.

Rei menangis sesenggukan, “Aku sudah tak cantik.. aku tahu… tak ada yang mencintai aku lagi… hiks… hiks…”, sesaat kemudian Rei terjatuh dan tertidur.

Satoshi kaget dengan apa yang Rei katakan. Apa selama ini Rei tak pernah bahagia bersamanya?

======

Suasana kampus hari itu cukup sepi. Ia tak menemukan sosok Opi yang sedari ia cari. Daiki membuka laptopnya, mulai mencoba mengerjakan tugasnya sendirian tanpa Opi.

Karena bosan, ia membuka situs jejaring sosial yang ia miliki.

“In a relationship with Saifu Suzuki”, itu statusnya untuk beberapa bulan ini. Saifu adalah kekasihnya, setidaknya itulah yang Saifu yakini.

Ia tak pernah percaya kata cinta, semua ia lakukan semata – mata karena uang saja. Terserah mereka mau memanggilnya penipu berkedok cinta? Atau apapun itu namanya. Sejak kecil satu hal yang diajarkan oleh Ayahnya, uang adalah sumber kebahagiaan. Ia tak pernah bertemu ibunya yang meninggalkan Daiki dengan Ayahnya yang tukang mabuk itu. Sementara Ibunya pergi dengan selingkuhannya yang kaya.

Sejak itu, Daiki tak percaya cinta, sejak itu ia selalu benci dengan kata cinta. Ia selalu hidup dengan kebohongan, ke pura – puraan adalah hal yang paling ia kuasai. Satu – satunya yang ia percaya hanya Opi. Dengan polosnya gadis itu mendekatinya tanpa tedensi apapun. Murni karena persahabatan, itulah yang membuat Daiki bisa dekat dengan Opi.

Sementara Saifu, adalah gadis yang ia temui di sebuah klub. Dulu ia bekerja disana, Saifu tertarik padanya, dan setelah itu Daiki sering sekali memanfaatkan gadis itu. Apalagi menurut cerita Saifu kini ia di biayai oleh seorang seniman yang selalu memberinya uang. Daiki hanya memanfaatkan keadaan Saifu, yang rela bekorban untuknya walaupun sebenarnya keadaan Saifu juga sulit seperti dirinya.

Daiki melihat sebuah wall yang dikirim oleh kekasihnya itu.

“Dai-chan~”, tertulis di wall tersebut.

“Dasar anak SMA…”, cibir Daiki tapi lalu membalas wall tersebut.

Daiki beralih melihat jam di laptopnya, ternyata sudah hampir tengah hari, pasti sebentar lagi Saifu istirahat siang di sekolahnya. Ia segera menghubungi Saifu dengan ponselnya.

“Fu-chan… lagi apa?”, tanya Daiki manis, seperti biasa, dibalik wajahnya dan kata – katanya yang manis, Daiki menyimpan perasaannya yang sebenarnya, sebuah benci yang mendalam namun tak ada yang pernah tahu.

“Aku sedang istirahat.. kenapa Dai-chan?”, tanya Saifu di seberang.

“Malam nanti ada acara? Aku mau bertemu Fu-chan…”, kata Daiki pelan.

Saifu tersenyum, “Ya… boleh… sepulang aku baito ya..”, jawab Saifu.

“Baiklah… nanti ku jemput…”, putus Daiki lalu mematikan ponselnya.

Sementara itu Saifu tersenyum karena Daiki mengajaknya kencan malam ini. Itu artinya Daiki sedang berbaik hati padanya. Saifu tak seperti yang Daiki kira, sebenarnya sedikit banyak mengetahui bahwa Daiki terkadang membohonginya. Saifu tak keberatan, ia hanya butuh Daiki karena ia sangat mencintai Daiki, apapun yang Daiki katakan padanya, sebanyak apapun Daiki berbohong padanya, ia akan terus mempercayai Daiki.

===========

Opi mengaduk-aduk minumannya dengan asal. Arah pandangannya ke depan tapi pikirannya entah melayang kemana.

Siang ini Opi berada di sebuah cafe. Sendirian. Ini adalah caranya untuk menenangkan diri setelah semua yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Hati maupun fisiknya terasa lelah. Entah itu karena tugas-tugasnya maupun masalah lain.

Opi mendesah keras saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari Daiki.

“Ada apa?”

“Kau dimana?” tanya Daiki.

“Di cafe,” jawab Opi malas.

“Kau kenapa? Aku ke sana sekarang.”

“Jangan,” tolak Opi. “Aku ingin sendiri. Kalau kau ke sini walaupun hanya selangkah, aku akan menendangmu,” ancam Opi.

“Baiklah. Kalau ada apa-apa telpon aku.”

Opi hanya mengangguk lalu mematikan telponnya.

Ia memang sedang tidak ingin diganggu. Banyak yang ia pikirkan dan tidak bisa diceritakan pada siapapun. Ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana karena masalahnya begitu rumit, terutama tentang kakaknya yang ternyata memiliki perasaan lain padanya.

Tak berapa lama, tiba-tiba Opi mendengar ada yang memanggil namanya. Saat ia menoleh, tenyata itu Aiba Masaki, sahabat Kazunari yang sangat ia kenal.

“Sendirian?” tanya Aiba.

Opi mengangguk. “Tumben sekali ada di sini? Biasanya sibuk di studio.”

“Memangnya seorang fotografer tidak pernah lapar. Aku juga kan manusia,” sahut Aiba.

Opi hanya menanggapi dengan senyuman. Kadang-kadang Aiba berbicara hal-hal konyol padanya. Tapi yang ia tahu Aiba adalah orang terdekat Kazunari dan kakaknya itu selalu menceritakan apapun padanya.

Tiba-tiba Opi teringat sesuatu. Apapun kakaknya selalu bercerita pada Aiba, mungkin saja laki-laki itu tahu sesuatu yang dipikirkannya.

“Aiba-san..” panggil Opi.

“Hmm?”

“Apa An-chan bercerita sesuatu padamu?” tanya Opi.

Aiba mengerutkan keningnya. “Bercerita apa?”

“Apapun.”

Aiba lalu melipatkan tangan di depan dadanya. “Hmm..apa ya?”

“Misalnya tentang orang yang dia sukai?”

Aiba mulai mengerti maksudnya. Lalu ia mengangguk. “Pernah.”

“Siapa?” tanya Opi penasaran.

“Hei..hei..semangat sekali. Memangnya ada apa? Ada yang salah dengan Kazunari?”

Opi diam sebentar lalu berkata, “Aiba-san dapat dipercaya kan?”

Aiba mengangguk.

Setelah itu Opi menceritakan semua yang dikatakan Kazunari pada ibunya. Tentang rencana kepindahan kakaknya, tentang Sho, dan yang lebih penting tentang perasaan Kazunari padanya. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun.

Aiba terlihat kaget karena ternyata Opi sudah mengetahui semuanya.

“Lalu apa yang ingin Opi-chan tanyakan?” tanya Aiba setelah Opi selesai bercerita.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan An-chan? Katakan apa yang tidak aku tahu.”

“Apa kau tahu kalau Kazunari adalah kakak angkatmu?” tanya Aiba. Suasana di sekitar mereka berubah menjadi sangat serius.

“Kakak angkat?”

“Ternyata kau belum tahu. Saat kau lahir, Kazunari sudah ada di keluarga Ninomiya. Wajar saja kalau kau tidak tahu. Kazunari yang selama ini menjadi kakakmu sebenarnya hanya seorang anak angkat. Dia diambil di sebuah panti asuhan, sama sepertiku. Tapi Kazunari beruntung karena dia diadopsi oleh keluarga yang baik. Keluarga yang menyayanginya.”

Aiba berhenti sejenak untuk minum.

“Walaupun kami berpisah, tapi dia masih bercerita padaku. Tentang keluarga barunya, termasuk tentangmu. Kau adalah orang yang paling sering diceritakan oleh Kazunari.”

Napas Opi tercekat. Gadis itu ingin bertanya, tapi ia urungkan karena Aiba melanjutkan ceritanya.

“Dia senang saat memiliki adik. Ia merasa kehidupannya sangat lengkap karena memiliki orang tua dan adik. Aku sampai bosan mendengarkan tentang semua perkembanganmu. Aku sampai tahu kapan kau pertama kali memiliki pacar. Lalu aku merasa ada yang ganjal dari semua hal yang Kazunari ceritakan. Kecemasan dan kebahagiaannya kadang begitu berlebihan dan aku yakin kalau Kazunari bukan hanya menyayangimu. Tapi dia mencintaimu.”,  Aiba mengakhiri ceritanya.

Dengan ini semuanya jelas. Alasan kenapa Kazunari tidak pernah suka dengan pacar-pacarnya dulu.

“Dan sekarang pikirannya kacau karena dia melihat kau menyukai Sho,” lanjut Aiba.

Opi menutup wajah dengan kedua tangannya. Mengetahui kebenarannya ternyata tidak membuatnya menjadi lebih baik. Sekarang ia semakin bingung, bagaimana gadis itu harus menghadapi kakaknya sekarang?

==========

“Tadaima…”, seru Din di pintu apartemen milik Aiba.

Ia tak mendapati seoran pun menjawabnya, padahal hari ini hari Senin, hari dimana Aiba seharusnya libur.

Apa Aiba belum pulang ke apartemen? Pikir Din.

Padahal ia sudah meninggalkan apartemen ini lebih dari tiga hari selama Jun syuting di Korea. Masalahnya dengan Jun belum juga selesai, Jun masih saja terus mendekati Din. Sebaliknya Din juga tak bisa menolak Jun sepenuhnya, dengan Jun ia sedikit banyak memberinya kebahagiaan pada hatinya yang masih terluka oleh Aiba.

Tapi Din takut terjebak pada perasaan sesaat, perasaan dimana ia membutuhkan seseorang, bukan karena ia benar – benar mencintai Jun.

Ia cukup lapar karena sejak dari Korea, hingga sampai di Jepang ia sama sekali tak amakn apapun. Ia menolak menerima makanan apapun karena terlalu gugup berada di sebelah Jun, dan terlalu bingung apa yang harus ia lakukan ketika bertemu Aiba.

Segera ia melihat ke meja makan, ternyata tidak ada apa – apa, begitu pula di kulkas. Ia mendesah kesal, ia lupa bahwa ia lupa belanja dan sekarang tentu saja tak ada apa – apa di apartemen ini. Mau tak mau Din harus melangkahkan kaki ke supermarket.

Pintu apartemen tiba – tiba terbuka ketika Din hampir menyentuh gagangnya.

“Kyaaa!!”, teriak Din kaget.

“Dinchan?”, kata Aiba di depan pintu itu, memandang Din dengan tatapan canggung.

“Masaki-kun…”, ucap Din lirih.

“Okaeri…”, kata Aiba lalu tersenyum lembut pada Din.

“Tadaima…”, jawab Din pelan.

Aiba melepaskan plastik belanjaan yang ia bawa. Entah kenapa ia begitu merindukan Din. Seakan sudah lama sekali mereka tak bertemu. Aiba meraih tubuh Din dan memeluknya erat, ia tak rela gadisnya pergi lagi.

“Kau kemana saja? Hah?!”, seru Aiba tepat di telinga Din.

Din membalas pelukan Aiba, ia juga sangat merindukan Aiba.

“Aku ke Korea… maaf Masaki-kun… aku tak bilang…”, kata Din lembut.

Aiba menggeleng pelan, “Aitakatta… sugee aitakatta…”, bisik Aiba semakin mempererat pelukannya.

Air mata Din jatuh, “Masaki-kun…”, bisik Din lirih.

“Jadi… kau ke Korea kemarin?”, kata Aiba sambil menyentuh rambut Din.

Mereka sudah makan siang dan sekarang ber malas – malasan di balkon apartemen itu. Cuaca cukup panas sehingga mereka memutuskan di luar sebentar, daripada di dalam terus memakai AC.

“Un…ah iya… tunggu sebentar…”, Din melepaskan diri dari Aiba, lalu masuk ke dalam, mengambil sesuatu.

“Apa ini?”, Aiba sedikit kaget melihat apa yang Din bawa.

“Hehehehe… aku menemukannya di pasar di Korea… hanya untuk iseng sih… kalau kau tak mau juga gak apa – apa..”, kata Din kembali menarik apa yang ia bawa.

Aiba meraih barang itu, lalu memakainya, “Tak apa… aku suka kok..”

Din juga memakai jaket itu. Warnanya cukup mencolok, warna pink muda dengan corak seperti macan, di tudung jaketnya dibentuk seperti telinga macan. Sangat cute dan memang selera Din.

“Hahaha… lucu juga kau pakai itu…”, kata Din sambil meraih capuchon milik Aiba, memasangkannya.

Aiba tertawa, “Hahaha… kau ini.. aku sudah hampir dua puluh sembilan…tega kau memberikan ini padaku?”, seru Aiba lalu meraih tubuh Din, meggoda Din dengan menggelitiki badan Din.

“Kyaaa… hahaha… bukannya kau ini fashionista ya?? Harusnya mau dong…hehehe..”, Din mencoba meraih tangan Aiba yang terus menggelitikinya.

“Tapi gak pink muda juga warnanya…”, seru Aiba lagi.

“Yamete yo… Masaki-kun!! Yamete!!!”, Din terus mencoba memberhentikan Aiba.

“Panggil aku….”

Din sudah tahu apa maksudnya, “Honey-kunnn~ yamete yo…”, kata Din.

Aiba berhenti, lalu memeluk Din yang masih berada di pangkuannya, “Ne… baby-chan.. maafkan ke egoisanku… tapi aku tetap tak bisa membiarkanmu bersama Jun…”, kata Aiba lirih.

Din seketika ingat Jun, tapi ia tak mungkin memberi tahu tentang apa yang terjadi di Korea pada Aiba sekarang. Itu sama saja bunuh diri dan merusak suasana yang sudah kembali normal antara dirinya dan Aiba.

Tak menjawab, Din memeluk Aiba dengan erat, “Wakatta… aku gak akan meminta hal seperti itu lagi…”, jawab Din pelan.

“Yokatta…”, kata Aiba lagi, sesaat Aiba melepaskan pelukannya, melihat Din, “Kau tahu kan Dinchan… aku tak bisa membayangkan hidup tanpamu lagi…”

Din mengangguk.

Dua tahun lalu, Aiba pernah putus dengan Din. Awalnya memang Aiba merasa akan bisa melupakan Din, namun kenyataannya ia selalu mencari sosok Din pada setiap wanita yang ia temui. Itulah mengapa, lima bulan kemudian mereka malah kembali lagi.

“Hey… foto yuk…”, ajak Aiba sambil menggendong Din ke dalam, bersiap mengambil kameranya.

=============

TBC oh TBC~
dou??
COMMENTS ARE LOVE Minna-san… ^^



Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chap 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s