[Multichapter] Happiness (chapter 4)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Four
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance and Friendship
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Ikuta Rei (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Hiroki (OC), Ohno Rei (OC), Arioka Daiki (HSJ), Suzuki Saifu (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. except Suzuki Saifu is Fukuzawa Saya’s OC…. collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~Chapter 4~

“Hei Dai!” panggil Opi lemas sambil menopang dagu pada laki-laki yang ada di sampingnya.

“Hmm?”

“Apa yang kamu lakukan kalau menyukai orang yang sudah memiliki anak dan orang itu belum bisa melupakan mantan pacarnya?” tanya Opi.

Daiki terlihat berpikir lalu bertanya, “Jadi Sho Sakurai seperti itu?”

Opi menenggelamkan kepala di kedua tangannya dan mengangguk pelan.

“Kalau aku jadi kamu, aku akan melupakannya,” jawab Daiki. “Bukankah kamu sudah bilang tidak akan mengganggu rumah tangga orang?” tanyanya mengingatkan.

Opi mengangkat wajah dan menopang dagu lagi. “Aku memang pernah berkata seperti itu. Tapi sepertinya orang itu sudah membuatku penasaran.”

“Lalu kamu benar-benar jatuh cinta?” lanjut Daiki.

Opi diam. Apa benar dia sudah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang memiliki anak itu?

“Sudah..kali ini jangan berpikir cinta dulu. Kita harus mengerjakan tugas yang belum sempat kamu kerjakan di rumah,” seru Daiki yang sudah bermain dengan laptopnya untuk mengetik tugas-tugas mereka.

Opi melirik Daiki dengan kesal. “Aku tidak suka dibilang seperti itu oleh orang yang sudah memiliki pacar. Menyebalkan sekali,” gerutu Opi.

Daiki lalu menyentuh kepala Opi pelan. “Baiklah. Gomen ne. Ayo sekarang kita kerjakan tugas kita. Nanti aku carikan laki-laki yang lebih hebat dari dia,” kata Daiki.

“Tidak berguna,” balas Opi kembali menenggelamkan kepalanya.

Makan siang beberapa waktu lalu tidak dinikmati sedikitpun oleh Opi. Setelah Rei pergi, Sho terlihat murung dan sering melamun. Opi tahu apa yang dipikirkan oleh Sho. Tapi ia tidak ingin mengatakannya dan berusaha menikmati suasana makan siang mereka walaupun tidak berhasil.

Karena mood Opi tidak kunjung membaik, akhirnya Daiki memutuskan untuk meneruskan tugas mereka esok hari. Daiki maupun Opi memilih pulang karena kebetulan mereka tidak ada kuliah lagi.

Saat Opi dan Daiki yang akan pulang bersama sampai di gerbang depan kampus mereka, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka dan menghalangi jalan mereka. Opi hampir saja mengomel, ketika jendela mobil turun dan melihat siapa yang ada di belakang kemudi. Lalu Opi mengurungkan niatnya.

“Sakurai-san?”

“Hai…bisa ikut denganku?” tanya Sho pada Opi.

Dalam hati Opi tentu saja ia ingin ikut. Tapi kemudian ia menatap Daiki yang ada di sampingnya.

“Daijoubu..” kata Daiki seolah tahu apa yang ingin Opi katakan. “Kau pergi saja. Aku bisa pulang sendiri.”

“Hontou desuka?”

“Yaps. Sudah sana.” Kemudian Daiki berbisik di telinga Opi. “Ini kesempatanmu.”

Opi memukul bahu Daiki sambil tersenyum malu-malu. “Kau bisa saja.”

Daiki sedikit meringgis kesakitan karena ternyata pukulan Opi keras. “Ya sudah. Nanti malam aku telepon. Matta ashita..”

“Dia pacarmu?” tanya Sho saat mobil sudah melaju kembali.

“Dia siapa?” Opi kembali bertanya. “Maksudnya Daiki? Bukan. Dia bukan pacarku,” jawab Opi.

“Tapi kalian terlihat dekat,” timpal Sho.

Opi mengangkat alis. “Tentu saja kami dekat. Dia teman pertamaku saat hari pertama masuk kuliah.”

“Sepertinya dia menyukaimu,” lanjut Sho tanpa mengalihkan pandangannya.

Opi menggeleng cepat. “Muri~. Dia sudah punya pacar. Tidak mungkin dia menyukaiku.”

“Oh~,” Sho mengangguk mengerti.

“Ada apa Sakurai-san mengajakku pergi?” tanya Opi begitu teringat tidak seperti biasanya Sho mengajaknya pergi.

Sho menggaruk-garuk kepala. “Itu..sebenarnya..aku ingin meminta maaf tentang beberapa hari lalu saat kita makan siang. Aku yakin kamu pasti merasa tidak nyaman,” jelas Sho.

Opi mengangguk. “Daijoubu. Mungkin waktu itu bukan saat yang tepat.”

“Maka dari itu, aku ingin membayarnya.”

“Membayar?”

“Hari ini aku ingin mengajakmu makan siang.”

Opi membelalakan matanya. Ia seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Apa barusan ia mendengar Sho mengajaknya makan siang?

“Opi-san?” panggil Sho karena Opi diam saja.

“Ya?”

“Tidak keberatan?” tanya Sho.

“Tentu,” jawab Opi cepat. “Hari ini kebetulan tidak ada acara apapun.”

Sho tersenyum senang. “Bagus kalau begitu. Aku dengar di dekat sini ada restoran yang enak sekali makanannya.”

Seperti yang dikatakan oleh Sho, makanan di tempat itu memang terlihat sangat enak. Begitu melihat daftar menu, ia sampai bingung memilih yang akan ia pesan. Tapi Sho memberitahunya bahwa pasta di restoran itu yang paling enak. Tanpa berpikir lagi, akhirnya Opi memesan pasta dan melon juice sebagai minumannya.

“Ah~” seru Opi saat tidak sengaja melihat foto seorang wanita di dalam dompet Sho.

“Ada apa?”

“Foto itu, “ Opi menunjuk dompet yang dipegang oleh Sho. “Aku pernah melihatnya. Di apartemenmu,” kata Opi.

Sho melihat foto yang dimaksud Opi kemudian menatap gadis itu lagi. “Kamu mau melihatnya?”

Opi mengangguk. Lalu Sho menyerahkan foto itu pada Opi.

“Cantik,” gumam Opi sambil mengamati foto seorang wanita dengan rambut panjang dengan seorang gadis kecil dipangkuannya. Di dalam foto itu mereka tertawa.

“Tentu saja. Itu ibu dari Reina,” kata Sho sambil tersenyum lemah.

Berarti istri Sakurai-san, batin Opi.

“Dia…sudah meninggal 3 tahun yang lalu,” lanjut Sho pelan.

Opi terdiam. Ia bingung harus merasa senang atau sedih. Ia senang karena itu berarti masih ada kesempatan untuknya mendekati Sho. Tapi ia juga sedih karena melihat Sho menjadi sangat murung.

“Gomen,” gumam gadis itu. “Jadi teringat lagi hal yang buruk.”

“Daijoubu. Aku merasa itu bukan hal yang buruk. Walaupun Yui sudah tidak ada, tapi kenangan indahnya selalu kuingat,” kata Sho dengan senyuman yang lebih lepas dibandingkan senyum sebelumnya.

“Jadi namanya Yui? Pantas saja ia mirip dengan Reina.”

Sho hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Opi senang makan siang hari ini lebih baik dibandingkan tempo hari. Apalagi ia dapat mengetahui beberapa hal baru tentang Sho. Opi merasa tidak menyesal setuju dengan ajakan Sho walaupun ada kemungkinan kejadian waktu itu akan terulang lagi.

Setelah makan siang, Sho lalu mengantar Opi ke rumah karena sore harinya ia harus bekerja.

“Arigatou….sudah mengajakku makan dan mengantar pulang,” ucap Opi sambil menundukkan sedikit kepalanya.

“Doitashimashite. Kalau begitu aku pergi dulu.”

Opi mengangguk lalu melambaikan tangan sampai mobil Sho melaju dan menjauh. Ia kemudian berbalik, membuka pagar, dan masuk ke dalam rumah.

“Tadaima~” seru Opi lemas sambil membuka sepatunya.

“Okaeri~” balas Kazunari berdiri di hadapan Opi dengan wajah yang tampak kesal.

Opi tersentak kaget karena kakaknya sudah ada di rumah di jam-jam yang tidak biasanya.

“An-chan sudah pulang?” tanya Opi basa-basi.

“Dari mana saja?” tanya Kazunari menghiraukan pertanyaan Opi.

“Tentu saja dari kampus,” jawab Opi walaupun tidak sepenuhnya benar.

Kazunari menyipitkan matanya.

“Kenapa pulang dengan Sho?” tanya Kazunari membuat Opi kaget karena kakaknya tahu ia diantar oleh Sho.

“An-chan mengintip?” tuduh Opi.

“An-chan hanya melihat,” ralat Kazunari.

Opi mendengus kesal. “Tadi tidak sengaja bertemu. Puas?” kata Opi lalu gadis itu pergi ke kamarnya dengan kesal.

Kebiasaan kakaknya yang ingin tahu urusannya sedikit membuat Opi merasa tidak nyaman. Kazunari melakukannya bukan hanya hari ini saja. Sejak Opi SMP, atau tepatnya saat dirinya pertama kali mempunyai pacar, Kazunari selalu ingin ikut campur urusannya. Dan sejak Opi pertama kali pacaran, tidak ada satu pun laki-laki yang kakaknya itu setujui. Kazunari selalu bersikap tidak bersahabat pada semua laki-laki yang pernah Opi pacari. Ia sendiri heran dan tidak tahu apa dengan Kazunari? Hingga sekarang gadis itu hanya menganggap kalau kakaknya cemas padanya jika suatu hari disakiti oleh laki-laki.

Pintu kamarnya diketuk, ketika Opi sedang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Opi menoleh siapa yang sudah berani mengganggunya di saat-saat sulit seperti ini dan ternyata itu Kazunari.

“Ada apa?” tanya Opi ketus.

Kazunari mengernyitkan keningnya. “Kenapa kau marah? An-chan hanya mau bilang kalau Okaa-chan datang. Lebih baik kamu turun,” jelas Kazunari.

Opi tidak menjawab. Ia langsung beranjak dari kursinya dan melesat pergi ke bawah untuk menemui ibunya.

“Okaa-chan!!!” Opi memeluk ibunya seerat mungkin. Opi sangat merindukannya karena ibunya sudah beberapa bulan tinggal di Okinawa. Alasannya untuk menikmati hari tua. Tapi Opi yakin itu hanya alasan karena ibunya ingin bersenang-senang tanpa anak-anaknya.

“Kau sehat kan, sayang?” tanya ibunya sambil melihat-lihat wajah Opi dengan seksama.

“Sehat. Ada apa Okaa-chan pulang?”

Ibunya tersenyum. “Tentu saja menengok anak-anak Okaa-san. Kalian makan dengan benar kan? Tidak kekurangan gizi? Atau sakit?” tanya ibunya beruntun.

“Okaa-chan tidak usah khawatir. Lihat saja Opi terlihat tambah gemuk,” timpal Kazunari yang sedang menyiapkan minuman untuk ibunya.

“Aku tidak gemuk,” balas Opi cemberut.

Sejak kedatangan ibunya, praktis Opi melupakan tugasnya. Sepanjang hari hingga tengah malam, Opi, Kazunari dan ibunya terus mengobrol. Ia tahu besok pasti omelan Daiki sudah menantinya karena lagi-lagi Opi tidak mengerjakan tugas mereka. Tapi bukan Opi namanya kalau tidak bisa menghadapi amarah Daiki. Opi sudah merencanakan besok ia akan membeli banyak makanan untuk ‘membayar’ Daiki dan masalah akan selesai.

Tapi tidur terlambat, tidak membuat Opi bangun siang. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur dan akhirnya ia terbangun pagi-pagi. Saat akan menuju tangga untuk ke dapur, Opi mendengar suara Kazunari dan ibunya sedang mengobrol di kamar Kazunari. Karena penasaran apa yang mereka bicarakan, Opi menempelkan telinganya di pintu untuk menguping.

“Apa itu sudah keputusanmu?” kata ibunya.

“Aku sudah berusaha, Okaa-chan. Tapi tetap tidak bisa. Aku sudah putuskan. Aku akan pindah dari rumah ini,” ucap Kazunari membuat Opi membelalakan matanya. Kakaknya akan pindah?

“Tapi apa kamu tega membiarkan Opi sendirian di rumah sebesar ini? Tolong pikirkan baik-baik.” Kini suara ibunya kembali terdengar.

Opi mengerutkan keningnya. Apa mereka sedang membicarakan dirinya?

“Aku tidak ada pilihan lagi. Aku sudah sangat menderita karena perasaan ini. Kalau aku masih terus di sini…..”

Kazunari menggantungkan kata-katanya. Opi bingung, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

“Gomen,” ucap ibunya. “Ini semua salah Okaa-san. Okaa-san yang memaksamu untuk tetap tinggal di sini. Okaa-san tidak memikirkan perasaanmu.”

“Okaa-chan tidak salah. Aku yang salah. Tidak seharusnya aku mencintai Opi. Bagaimanapun dia adikku.”

Nafas Opi tercekat saat mendengar kata-kata terakhir Kazunari. Bagaimana mungkin? Jadi selama ini kakaknya…….????

Opi berjalan menjauh dari pintu ke kamarnya. Pikirannya masih belum menerima kenyataan jika kakaknya ternyata…ternyata mencintainya?

Astaga…

Opi menggeleng-geleng kepalanya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan?

====

Sho tersenyum sendiri. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja mengantar Opi pulang. Entah kenapa, Sho tiba-tiba ingin mengajak gadis itu makan bersamanya. Selain itu ia merasa tidak enak atas kejadian beberapa hari yang lalu saat Reina mengajak Opi untuk makan di rumahnya. Ia merasa harus membayar karena ia yakin Opi pasti tidak nyaman dengan suasana saat makan siang hari itu.

Lamunan Sho membuyar saat tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat, ia memasang earphone di telinga kanannya.

“Moshi-moshi?” sahut Sho.

“Sho-kun? Ini aku.” Ia tahu. Ia sangat mengenal suara Rei walaupun hanya suara di telpon.

“Aku tahu. Ada apa, Rei?”

Rei terdiam sesaat lalu berkata, “Ada waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu makan.”

Sho pasti akan berkata ‘iya’ ,jika saat itu ia tidak ingat dengan keadaan Rei sekarang. Status Rei yang sudah menikah, tidak membuat Sho merasa bebas untuk menyetujui ajakan Rei.

“Gomen ne….Rei. Aku baru saja makan siang. Mungkin lain kali, “ tolak Sho halus.

“Kalau untuk minum teh?” tanya Rei lagi. Sepertinya wanita itu tidak ingin menyerah.

Sho tidak menjawab. Kalau ia terus menolaknya, Rei akan terus mengajaknya hingga Sho mau. Ia sangat tahu dengan sifat Rei yang satu ini.

“Baiklah,” jawab Sho akhirnya.

“Aku tunggu di café biasa. Ja ne~” ucap Rei terdengar senang.

Sho melepaskan earphone-nya setelah memutuskan telpon. Ia tidak tahu apa keputusannya benar? Apa dengan seperti ini, itu artinya ia masih terbayang-bayang dengan masa lalunya? Apalagi Rei itu adalah istri temannya.

Sho mengacak-acak rambutnya pelan. Ia lalu membuat laju mobilnya meningkat. Ia ingin hari ini semua hal yang membuatnya bingung selesai.

Tak berapa lama, Sho sudah tiba di café. Yang dimaksud Rei dengan café biasa adalah café yang sering mereka datangi dulu. Semua interior café ini tidak berubah sejak dulu membuat Sho semakin teringat dengan masa lalunya bersama Rei.

Sho melihat Rei sudah datang terlebih dulu. Hatinya miris karena Rei menempati meja yang dulu sering mereka duduki yaitu meja yang ada di dekat jendela, posisi yang sangat disukai oleh Rei.

“Sudah lama?” tanya Sho sambil menarik kursi dan duduk.

Rei menggeleng. “Mau pesan apa?”

Sho menyebutkan pesanannya begitu pelayan datang.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Sho begitu pelayan pergi untuk mengambil pesanan mereka.

“Hmm? Tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu,” kata Rei.

Sho sangat heran dengan sikap Rei. Sebenarnya ada apa dengannya? Sejak datang ke apartemennya, Rei selalu mengajaknya keluar. Entah itu makan, ataupun sekedar minum seperti saat ini. Bahkan saat Sho menjemput Reina, ia selalu bertemu dengan Rei. Setiap kali Sho bersama Rei, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri siapa Rei sekarang. Tapi saat itu juga ia lupa dengan batasan itu.

“Rei..” panggil Sho pelan.

Rei menatap Sho dengan senyuman. “Hmm?”

“Kita terus bertemu seperti ini, apa tidak apa-apa?” tanya Sho ragu. Ia sendiri bingung harus memulai darimana.

“Daijoubu….aku tidak ada kerjaan di rumah. Biasanya sih aku membantu suamiku bekerja di rumah. Tapi kebetulan dia sekarang tidak ada di rumah. Nande?” tanya Rei.

Sho menggeleng lemas.

“Kau tidak suka bersamaku?” tanya Rei lagi.

Sho mengibaskan tangannya. “Bukan begitu. Tentu saja aku senang,” jawab Sho tak kalah cepat dengan gerakan tangannya.

Rei kembali tersenyum yang sempat memudar tadi. “Aku tahu itu.”

Tanpa jeda, Rei kemudian berbicara banyak hal. Kebanyakan dia membicarakan tentang teman-teman semasa kuliah mereka. Sho mendengarkannya dengan seksama. Ia memang senang sekali mendengar Rei bercerita. Suaranya yang jernih membuat Sho sangat tenang. Tiba-tiba Sho merasa ia pernah merasakan hal ini juga. Tetapi bukan Rei.

Tak berapa lama, Rei berhenti karena pesanan mereka sudah datang.

“Rei, Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Sho sambil mengaduk-aduk minumannya.

“Nani?”

Sho menarik napas pelan kemudian menghembuskannya. “Apa Satoshi-san adalah laki-laki yang dijodohkan denganmu waktu itu?” tanya Sho.

Rei terlihat sedikit kaget karena tidak mengira Sho akan bertanya hal itu. Tapi ia tampaknya pintar menyembunyikan rasa kagetnya itu.

“Apa kamu ingin bertanya, alasan aku meninggalkanmu karena Satoshi?” Rei memperjelas.

Sho tidak bereaksi apapun. Dia hanya diam.

“Bukan.”

“He?”

Rei tersenyum sebentar. “Satoshi bukan orang yang dijodohkan denganku saat itu. Kau tidak akan tahu, betapa buruknya orang yang nyaris akan menikah denganku. Aku menolak saat orang tuaku menjodohkanku dengan laki-laki itu. Tapi mereka memaksa. Mereka bilang ini semua demi perusahaan keluarga. Lalu saat hari petunanganku, aku kabur dari rumah.”

Sho membelalakan matanya. Dia benar-benar tidak tahu kalau Rei mengalami hal itu.

“Sebetulnya aku pergi ke rumahmu. Tapi ibumu bilang, kau sudah pergi,” lanjut Rei.

Sho masih diam. Setelah berpisah dengan Rei, Sho memilih untuk pergi menenangkan diri. Jadi dia tidak tahu kalau Rei ternyata datang untuk menemuinya.

“Aku bertemu dengan Satoshi 4 tahun yang lalu. Kami sering bertemu karena kami berada di tempat kerja  yang sama. Sebenarnya kami dekat, tapi saat itu aku hanya menganggapnya teman. Karena aku masih menunggumu.”

Napas Sho tercekat. Bagaimana bisa dia sebodoh itu, membuat Rei menderita?

“Tapi kau tidak juga muncul. Sampai Satoshi melamarku, aku masih menolaknya. Tapi melihat ketulusannya menungguku, akhirnya aku menerima.” Rei mengakhiri ceritanya.

Sho lalu menundukkan kepalanya. Seandainya…..seandainya ia tidak menyerah, mungkin Rei masih bersamanya. Tapi ia tahu, tidak ada gunanya menyesal sekarang karena Rei sudah milik orang lain.

“Gomen…” sahut Sho lirih.

Rei mengangkat alisnya. “Doushite?”

“Kalau saja saat itu aku tidak pergi, kau pasti tidak akan mengalami hal itu,” lanjut Sho menyesal.

Tiba-tiba Rei memegang tangan Sho. Sho mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya menunduk.

“Kamu tahu, perasaanku belum berubah. Kita bisa memulainya dari awal,” ucap Rei.

Sho mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Aku ingin bersamamu…” ucap Rei.

Sho menatap mata Rei. Ia tidak tahu wanita itu sungguh-sungguh atau tidak. Akal sehatnya terus menerus menolaknya. Tapi hatinya ingin sekali percaya pada semua ucapan Rei. Bagaimanapun, perasaannya masih menyimpan sedikit harapan sekecil apapun. Tiba-tiba terbersit sosok Satoshi. Demi kebahagiaannya, apa ia harus mengorbankan kebahagiaan temannya?

====

“Sensei!!”

Terdengar suara anak kecil memanggil-manggil Kazunari. Tapi Kazunari tetap diam. Tatapannya entah melihat kemana. Pikirannya pun melayang jauh.

“Sensei!!”

Untuk kedua kalinya anak kecil itu memanggil Kazunari dan ia masih saja diam.

“Reina-chan, Ninomiya-sensei kenapa?” tanya anak yang memanggil Kazunari pada gadis kecil berambut panjang.

Reina hanya mengangkat bahunya. “Mungkin Ninomiya-sensei belum diberi bensin. Kata Mama, kalau mobil tidak diberi bensin, pasti mobilnya lemas. Hiro-chan tidak tahu?” celoteh Chika dengan wajah yang serius.

Hiroki berpikir sebentar. “Tapi Ninomiya-sensei kan bukan mobil,” timpalnya.

Reina ikut berpikir juga. “Hiro-chan benar. Lalu Ninomiya-sensei kenapa?” Reina balik bertanya.

Hiro lalu mengangkat bahunya. Kemudian ia memanggil Kazunari lagi sambil mengguncangkan tubuh laki-laki itu dengan keras.

“Sensei!!!!”

Kazunari tersentak. Semua yang dipikirkan langsung menghilang dalam sekejap.

Kazunari mengerjapkan matanya lalu menatap Hiroki dengan bingung.

“Ada apa Hiroki?” tanya Kazunari lembut.

“Aku sudah selesai menggambar,” sahut Hiroki. “Kenapa Ninomiya-sensei diam saja?”

Kazunari tersenyum mendengar pertanyaan Hiroki yang membuatnya gemas. “Sensei tidak apa-apa. Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat origami?” tanyanya sambil menyentuh kepala Hiroki.

Hiroki mengangguk cepat dengan senang. “Aku mau!!!” serunya.

Kazunari merutuki sikapnya. Tidak seharusnya ia memikirkan masalahnya di sekolah.

Kazunari tiba di rumahnya tepat pukul 6 sore, jam yang tidak biasa untuk dirinya pulang. Hari ini Kazunari sama sekali tidak ada semangat untuk pergi bersama teman-temannya seperti malam-malam sebelumnya. Ia ingin merebahkan diri untuk saat ini.

“Tadaima~,” ucap Kazunari saat bertemu dengan ibunya yang sedang memasak untuk makan malam.

“Okaeri. Kazu, bisa tolong angkat baju-bajumu? Okaa-san baru saja pulang dan tidak sempat mengangkat. Gomen ne,” kata ibunya terlihat sibuk dengan bermacam-macam sayuran. Sepertinya malam ini mereka akan makan nabe.

“Haaaiii~.”

Pikirannya sangat lelah padahal ia tidak melakukan apa-apa hari ini. Ini karena dirinya yang memikirkan tentang rencana kepindahannya. Ia sendiri tidak yakin keputusannya sudah tepat atau tidak. Tapi ini mungkin yang terbaik. Terbaik untuknya dan juga Opi. Ia tidak bisa terus membiarkan perasaannya pada Opi terus berkembang. Ia tahu ini salah. Ini alasan Kazunari mengambil keputusan seperti ini.

Tapi Kazunari juga tidak berhenti memikirkan bagaimana dengan Opi jika ia meninggalkannya sendirian? Apa Opi akan baik-baik saja? Apa Opi akan lebih baik?

“Haaaah~,” desah Kazunari sambil meletakkan baju-bajunya di lantai kamarnya.

Kazunari melipat baju-bajunya dengan asal lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Ia akan melipat baju terakhirnya ketika tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dan muncul sosok Opi di hadapannya.

“An-chan?” gumam Opi di sela-sela napasnya yang sedikit tidak beraturan.

Kazunari menatap Opi heran. “Doushita no?”

“Apa yang sedang An-chan lakukan?” tanya Opi sambil berjalan mendekati Kazunari.

Kazunari menunjuk keranjang yang berisi baju-bajunya. “Membereskan baju. Ada apa? Kenapa kau terlihat capek?”

“Yokatta~,” seru Opi lega lalu terduduk di lantai.

Kazunari mengangkat alisnya. Ia tidak mengerti kenapa Opi terlihat capek? Dan ia juga tidak mengerti kenapa Opi menjadi sangat lega hanya mendengar ia berkata sedang membereskan baju?

“Aku pikir An-chan sedang membereskan baju karena akan pindah,” ucap Opi.

Kazunari sedikit tersentak. Kenapa Opi tahu ia akan pindah?

Kazunari melihat Opi mengangkat wajahnya dan menatap dirinya dengan serius.

“An-chan tidak akan kemana-kemana kan? An-chan tetap di sini kan? An-chan tidak akan meninggalkanku kan?” tanya Opi beruntun.

Kazunari menatap Opi tidak percaya. Ia berpikir, apa mungkin Opi mendengarkan pembicaraannya dengan ibunya? Sejauh mana? Kazunari lalu merasakan kecemasan.

“Kenapa An-chan diam?”

Kazunari tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mendekati Opi lalu memeluknya erat.

===========

“Din…Dinchan..”, Jun memanggil Din yang sedari tadi hanya melihat ke arah laptopnya dengan pandangan hampa, tanpa ekspresi.

Sepertinya pikiran gadis itu entah sedang berada dimana.

Jun menghampiri Din, “Dinchan!!”, panggil Jun sedikit berteriak.

Mereka sedang di ruang tunggu keberangkatan, di bandara.

“Eh… ya?”, tanya Din bingung.

“Kau kenapa sih?”, tanya Jun lagi.

Din menggeleng, tersenyum dengan canggung. Kejadian beberapa hari lalu memenuhi pikirannya.

~Flashback~

Din pulang lebih awal dari biasanya. Sekarang baru jam delapan, maka tentu saja kekasihnya Aiba belum pulang. Hari ini rencananya dia ingin memasak sesuatu yang special untuk Aiba. Untung saja hari itu Jun masih dalam perawatan, maka ia bisa pulang cepat. Segera ia membeli bahan – bahan untuk memasak, juga sebuah buku panduan karena ia sama sekali tak bisa memasak makanan rumit.

Ia segera mengikat rambutnya, memakai celemek dan berkutat dengan resep yang baru ia lihat. Makanan Italia yang sebenarnya judulnya saja baru ia lihat hari ini. Ya sudahlah, demi Aiba. Ia pikir.

Sambil memasak ia menunggu telepon Aiba. Kemarin ia janji akan memberi tahu jika ia akan pulang cepat atau tidak. Tergantung pada boss nya yang kadang suka mendadak memberinya tugas tambahan.

Handphone Din berbunyi, ia segera mengangkatnya.

“Honey-kun!!”, seru Din semangat.

“Oops… kau semangat sekali sayang?hehehe.. aku di jalan pulang nih..”, kata Aiba senang.

“Yatta!! Cepat sampai ya honey-kun…”, kata Din lembut.

“Wakatta… sebentar lagi aku sampai..”, jelas Aiba.

Din kembali konsentrasi pada masakannya. Jelas ia sangat senang karena kekasihnya itu akhirnya menepati janji untuk pulang cepat hari ini. Segalanya menjadi sering terabaikan sejak Aiba naik pangkat menjadi fotografer professional, bukan hanya sekedar asisten. Tapi selain itu, ia juga masih harus sering mengerjakan proyek bersama boss nya yang menurut Din terlalu menyebalkan. Karena Aiba masih pemula di dunia professional, membuatnya sering sekali diberikan tugas tambahan.

“Tadaima!!”, seru seseorang di depan.

“Okaeri!!”, balas Din.

Aiba masuk ke dalam apartemen sambil tersenyum karena melihat Din di dapur. Sepertinya sudah lama ia pulang dan tak mendengar balasan dari dalam apartemennya.

“Masak apa cantik?”, tanya Aiba lalu menghampiri Din di dapur.

“Ada deh… Masaki-kun tak boleh lihat!!”, seru Din menutupi buku yang sedang ia buka.

“Baiklah… aku ganti baju dulu ya…”, kata Aiba sambil mencium pipi Din sekilas.

Din menoleh dan menyambut ciuman Aiba yang sekilas itu.

“Sudah cepat ganti baju.. ini akan segera selesai..”, kata Din.

“Wakatta…”, Aiba pun segera berlalu menuju kamar, mengganti baju kerja nya dengan baju rumah.

Setelah ia cuci muka, ia kembali ke dapur. Din ternyata sudah menunggunya di meja makan. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya mengikuti setiap gerakan Aiba yang menuju ke meja makan.

“Hey.. ada apa?”, tanya Aiba heran.

“Tidak apa – apa…”, jawab Din sambil masih tersenyum sumringah karena ia baru sadar kalau ia sangat merindukan sosok yang kini duduk di hadapannya.

“Kau ini kenapa sih?”, Aiba mengulurkan tangannya, menyentuh pelan dahi Din, “Kau sakit?”, tanyanya lagi.

Din menggeleng, meraih tangan Aiba dan menyentuhkannya ke pipinya, “Ternyata aku sangat merindukanmu ya..”, kata Din lagi.

“Kita hanya jarang berkomunikasi…”, kata Aiba lagi.

Din mengangguk. Walaupun mereka sempat jalan – jalan Senin kemarin, tapi setelah dua minggu berlalu, ia jarang sekali bertemu Aiba. Jika ia sedang ada, maka Aiba tak pulang, atau ketika Aiba pulang, ia sudah tidur.

“Ayo makan…”, kata Din lalu menaruh makanan itu ke piring Aiba.

“Itadakimasu!!”, seru Aiba sambil mencicipi masakan Din.

Din tidak makan, ia harap – harap cemas, takut masakannya tidak enak.

“Enak kok..”, kata Aiba melihat ekspresi Din yang takut itu.

“Maji de??”, Din segera menyuap makanan itu yang ternyata tidak buruk juga rasanya, hanya ada sedikit rasa gosong.

Mereka melanjutkan makan malam itu dengan banyak sekali yang mereka ceritakan. Kecuali Din belum bisa menceritakan sesuatu, ia butuh waktu agar tak merusak suasana malam ini. Setelah ini mereka akan nonton DVD, mungkin saat itulah Din bisa memberitahukan Aiba.

“Ne.. Masaki-kun…”, panggil Din.

Setelah makan, seperti biasa mereka menonton DVD. Din juga seperti biasanya berada di pelukan Aiba, bersandar padanya.

“Hmm??”, jawab Aiba sambil masih konsentrasi pada film, tangannya yang melingkar di tubuh Din membelai pelan tangan Din.

“Takeda-san…”, Din mulai berfikir keras agar Aiba tak merasa ditinggalkan, “Takeda-san memintaku tinggal bersama Jun.”

Aiba tersentak. Tapi ia berusaha tenang agar Din tak ikut kaget.

“Kenapa?”, tanyanya masih dengan suara tenang.

“Ia bilang Jun makin lama makin banyak pekerjaan. Selain itu, sebentar lagi ia juga akan rekaman, Takeda-san ingin aku mendampingi Jun terus..”, jelas Din takut – takut.

“Berlebihan jika aku bilang… aku juga butuh kau disampingku?”, tanya Aiba sambil mempererat pelukannya pada Din.

“Tapi Masaki-kun… Jun kan pekerjaanku..”, kata Din lagi.

“Lalu aku apa? Aku kan kekasihmu? Bukankah seharusnya kau lebih mementingkan diriku?!”, Aiba meninggikan suaranya, makin terdengar kemarahannya.

“Masaki-kun… kumohon.. ini hanya untuk…”

“Pekerjaan??!! Aku tak mengerti… kenapa harus sampai tinggal dengan Jun?? ada apa kau dengan Jun sebenarnya? Hah?”, seru Aiba lagi.

Din melepaskan pelukan Aiba, “Ia hanya aktor yang aku urusi!! Kau harus mengerti!! Bukankah selama ini kau juga hanya mementingkan pekerjaanmu saja??!!”, kini Din ikut marah.

Aiba terdiam. Ia memandang Din yang kini berdiri di hdapannya.

“Terserah kau!!”, seru Aiba sambil berlalu. Pikirannya kalut, ia segera mengambil kunci mobil dan meraih mantelnya.

Hanya satu tempat yang harus ia datangi jika pikirannya kacau.

Din diam menyaksikan kekasihnya meninggalkannya begitu saja. Ia kalut, pikirannya juga kacau. Sambil berbaring di sofa hijau itu ia terus menangis karena merasa terabaikan oleh Aiba.

~Flashback end~

Sudah lima hari sejak pertengkarannya dengan Aiba. Selama itu pula baik Din maupun Aiba tidak ada yang berusaha menghubungi satu sama lain. Din sibuk karena persiapan Jun syuting di luar negeri. Begitu pula dengan Aiba yang menenggelamkan diri pada pekerjaan dan selama ini tinggal di hotel, enggan pulang bertemu Din.

“Kau baik – baik saja?”, tanya Jun yang duduk di sebelahnya.

Hari ini mereka berangkat ke Korea selatan, tempat Jun akan syuting film terbarunya.

“Aku baik – baik saja…”, jawab Din lalu mematikan ponselnya karena pesawat akan segera Take Off.

Selama lima hari ini, ponselnya sama sekali tak menerima sebuah pesan atau panggilan dari Aiba. Ia sejujurnya sangat merindukan Aiba. Tapi setiap kali akan mengirim pesan atau menelepon Aiba, ia kalah oleh gengsinya, sehingga segera ia mengurungkan niatnya.

Jun memerhatikan Din yang beberapa hari ini sering sekali melamun dan tidak fokus. Walaupun ia tak cerita, Jun tahu ini pasti ada hubungannya dengan Aiba.

“Apa ada masalah dengan Aiba?”, tanya Jun pelan.

Din terdiam. Air matanya tiba – tiba saja meleleh karena rasa sakit terabaikan itu masih sangat ia rasakan.

Jun meraih kepala Din, membenamkannya di dada bidangnya.

“Kau bisa menceritakannya padaku…”, bisik Jun lagi.

Sambil terus menangis, Din tak menjawab Jun. Beruntung mereka duduk paling depan di kelas eksekutif seperti biasanya. Sehingga hanya sedikit orang yang melihat mereka.

Jun menarik Din ke pelukannya, Din melingkarkan tangannya di tubuh Jun, masih terus terisak.

Hingga sampai di Korea, Din sama sekali tak menceritakan apapun pada Jun. Sepanjang perjalanan itu Jun menggenggam erat tangan Din, mencoba memberi kekuatan pada Din yang sedang sedih.

Din juga tak menolak, untuknya kini Jun bisa jadi sandaran baginya, ia tak keberatan dengan perlakuan Jun.

“Kau akan baik – baik saja..”, kata Jun ketika mengantar Din sampai di depan kamar hotelnya.

Din mengangguk pelan, “Arigatou Jun-kun..”, kata Din pelan.

Biasanya malam hari seperti ini pasti ada saja pesan singkat dari Aiba. Entah itu menanyakan keadaan, atau sekedar memberinya ucapan selamat malam. Tapi kali ini berbeda. Padahal ia pikir malam itu hubungannya dnegan Aiba akan segera membaik, tapi ini malah sebaliknya, hubungan mereka malah semakin renggang saja.

Ponsel Din tiba – tiba berbunyi, tanda SMS masuk.

From : Jun-kun
Subject : (no subject)
Kita keluar yuk…
Aku tahu restaurant enak sekitar sini..
~Jun~

Din segera mencuci muka dan keluar dari kamarnya. Kebetulan kamar Jun berada tepat di depan kamarnya.

Jun menggunakan syal serta jaket besar, tak lupa topi juga. Walaupun ini di Korea, resiko bertemu fans tetap saja ada. Apalagi Jun memang cukup dikenal di Negara tetangga itu.

“Makanan disana enak.. kau pasti suka..”, jelas Jun lalu mengambil tangan Din, menggenggamnya.

Din sedikit kaget, tapi Din tahu itu cara Jun menghiburnya.

Tak lama, mereka sampai di sebuah restaurant yang cukup mewah. Jun pun menyebutkan namanya yang ternyata sudah memesan tempat disitu. Pelayan itu menunjukkan tempat Jun yang ternyata sangat private dan jauh dari keramaian sehingga ia bisa dengan leluasa membuka jaket dan topinya.

“Kau pendiam sekali..”, kata Jun pada Din yang masih terlihat sembab.

“Tidak juga..”, jelas Din malas.

“Lihat saja… kau itu mudah ditebak…”, kata Jun sambil memerhatikan Din dengan seksama.

“Maksudmu?”

“Kalau kau dalam keadaan senang, tak mungkin kau berdandan asal – asalan seperti ini… sejak beberapa hari lalu juga…”, Jun diam sebentar melihat ekspresi Din, “Kau asal – asalan memakai jeans dan kaos seadanya.. sangat bukan kau…”, kata Jun lagi.

Din mencibir dalam hati. Memang sih, ia cenderung emnajdi sangat cuek saat di terpa masalah. Bahkan tak memoles mukanya dengan make up, padahal akan datang ke acara se-penting press conference beberapa hari lalu. Ia hanya tak mood untuk melakukannya.

“Sudahlah.. percuma berbohong padaku..”, kata Jun lagi.

Tak lama pesanan mereka datang. Din sebenarnya sama sekali tak lapar, namun memaksakan diri untuk makan juga akhirnya.

“Kau masih belum mau cerita?”, tanya Jun.

Din tahu alasan Jun mengajaknya malam ini adalah untuk mengetahui masalah Din. Tapi ia sendiri enggan mengingat kembali malam itu. Lagipula, Jun juga tak tahu rencana Takeda untuk ia tinggal dengan Jun itu.

“Belum bisa.. maaf..”, jawab Din pelan.

“Baiklah…”, kata Jun lalu menyentuh tangan Din sekilas, tersenyum lembut ke arah Din, “Kau tahu kau akan baik – baik saja.. aku ada di sini..”, kata Jun lagi.

Tak ayal membuat Din tersenyum.

“Kau harus tidur… ya?”, kata Jun ketika mereka sudah sampai lagi di hotel.

Din mengannguk, “Arigatou Jun-kun..”.

Entah dengan alasan apa, Jun tak mampu menahan dirinya. Ia menarik Din dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Din.

Mata Din terbelalak, ia kaget setangah mati.

Ciuman itu bertahan beberapa saat sampai Din mendorong bahu Jun keras.

“Jun!!”, seru Din kaget.

“Eh… gomen… aku…”

Din tak lagi ingin mendengar. Ia segera masuk dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Dadanya bergemuruh karena masih kaget dengan apa yang Jun lakukan tadi.

Di balik pintu itu ia tahu Jun masih ada disana. Dadanya bergemuruh, tanpa sadar ia menyentuh bibirnya yang sempat Jun cium tadi. Ia sama sekali tak menyangka Jun akan melakukan hal itu.

=============

“Hei bodoh…”, sapa Kazunari sambil duduk di sebelah Aiba yang duduk mengahadap ke bar.

“Hei..”, jawab Aiba masa bodoh.

Biasanya Aiba setidaknya akan marah pada Kazunari, tapi hari ini moodnya sedang tidak ada untuk bercanda.

“Kau kenapa lagi? Masih belum menghubungin Dinchan?”, tanya Kazunari setelah memesan minuman.

Aiba menunduk. Sejujurnya ia sangat rindu pada Din. Tapi ego nya sebagai seorang pria terusik, dan ia gengsi untuk menghubungi Din. Terlebih Din juga sama sekali tak ada niat untuk menghubunginya.

“Belum.. ia juga belum menghubungi aku…”, jawab Aiba.

“Ya… kalau kalian berdua sama – sama keras kepala, kapan kalian bisa berbaikan?”, ucap Kazunari.

“Entahlah… kenapa juga ia harus tinggal dengan Jun?”, umpatnya kesal.

Kazunari tertawa pahit, “Kau sendiri yang dulu memintanya bekerja kan? Sekarang kau yang mengeluh masalah itu? Bodoh..”, kata Kazunari lalu meneguk minuman yang ia pesan tadi.

Aiba tak mampu menjawab, ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri saat ini. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

“Kau akan merasakannya saat kau benar – benar kehilangannya… kau akan menyesal lebih dari apapun..”, kata Kazunari tiba – tiba.

“Kau juga kenapa hah? Opi lagi?”, tanya Aiba sambil menoleh.

Wajah Kazunari berubah sedih, ia tak mampu menutupi ekspresi sedihnya.

~Flashback~

“An-chan tidak akan kemana-kemana kan? An-chan tetap di sini kan? An-chan tidak akan meninggalkanku kan?” tanya Opi beruntun.

Kazunari menatap Opi tidak percaya. Ia berpikir, apa mungkin Opi mendengarkan pembicaraannya dengan ibunya? Sejauh mana? Kazunari lalu merasakan kecemasan.

“Kenapa An-chan diam?”

Kazunari tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mendekati Opi lalu memeluknya erat.

“An-chan…kenapa?”, tanya Opi bingung.

“Tak apa…”, Kazunari melepaskan pelukannya, lalu beranjak menuju ruangan lain. Ia harus mengontrol dirinya sendiri.

“Kazu…kesini sebentar…”, panggil Ibunya.

Kazunari menghampiri ibunya. Tidak seperti biasanya, Ibunya terlihat seperti  habis menangis.

“Kenapa Okaa-chan?”, tanya Kazunari khawatir.

Ibunya menggeleng, “Ini semua salah Okaa-san… harusnya memberi tahumu sejak dulu..”, isak tangis Ibunya semakin keras, untungnya mereka berbicara di ruang depan. Sehingga Opi yang kamarnya di atas tak bisa mendengarnya.

“Okaa-chan… ada apa?”, tanya Kazunari lagi.

“Aku sungguh berdosa membiarkanmu tak mengetahui ini.. maafkan aku…”, kini Ibunya menunduk, seakan menyesali sesuatu.

“Kaa-chan… sebenarnya ada apa?”, Kazunari semakin penasaran apa yang Ibunya maksud sejak tadi.

“Kau tahu.. kesalahanku dua puluh delapan tahun lalu…”, Ibunya kembali terisak.

“Apa maksud Okaa-chan?”

“Aku melahirkanmu… aku tak mampu membesarkanmu sendirian.. sehingga aku meninggalkanmu di panti asuhan…”

Kazunari terdiam, masalahnya semakin jelas.

“Tapi delapan tahun kemudian aku juga melahirkan anak lagi… dan saat itu kehidupanku semakin membaik, saat itulah aku mengambilmu lagi…”

Tepatnya dua puluh tahun lalu, Kazunari masih ingat, ketika itu ia sudah delapan tahun. Ibunya yang ia kira selama ini adalah Ibu angkatnya, ternyata….

“Aku ibu kandungmu… aku… aku…”, Ibunya kembali terisak hebat.

Kazunari tak mampu membendung tangisnya lagi, air matanya ikut mengalir.

“Apa Okaa-chan mau bilang… kalau Opi itu… Opi itu adik kandungku?”, tanya Kazunari lagi.

Ibunya mengangguk.

Dan semuanya menjadi sangat jelas untuknya.

Ia jatuh cinta pada adik kandungnya sendiri.

~Flashback end~

Aiba menyusuri jalan menuju apartemennya. Setelah mendengar cerita Kazunari, ia menjadi takut kalau ia juga akan menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Din.

Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya. Walaupun ia tak tahu Din dimana, setidaknya ia mencoba menghubungi Din

To : baby-chan
Subject : (no subject)
Miss u…

Ia mengirimkannya. Berharap perasaannya tersampaikan pada Din.
=========

“Kau dari mana?”, tanya Satoshi melihat istrinya baru pulang sekitar jam lima sore.

Tak seperti biasanya.

“Eh… itu… aku tadi bertemu dengan teman lamaku…”, jelas Rei sambil menyimpan mantelnya.

“Oh…”, Satoshi masih mengutak – atik laptopnya sejak tadi Rei pergi hingga sekarang ia pulang.

“Matamu tak capek di depan laptop terus?”, tanya Rei lalu beranjak ke dapur.

“Lumayan…”, jawab Satoshi singkat.

“Hmm.. Hiro-chan mana?”, tanya Rei sambil menyimpan sekaleng bir di dekat Satoshi.

“Arigatou..”, kata Satoshi, “Hiro-chan di kamarnya…belakangan dia hanya keluar saat memperlihatkan hasil gambarnya..”, jelas Satoshi.

“Maa… makin lama dia makin mirip kau saja..”, kata Rei tertawa.

“Tentu saja.. dia anakku..”, kata Satoshi menimpali.

Rei beranjak, “Aku ke kamar Hiro-chan dulu..”

“Hmmm..”, jawab Satoshi lagi.

Begitulah sifat Satoshi yang terkadang membuat Rei bosan. Satoshi akan hanyut pada pekerjaannya. Walaupun fisik Satoshi selalu ada, tapi Rei kadang ingin sekali Satoshi lebih memerhatikannya.

“Rei… aku pergi keluar sebentar…”, kata Satoshi dari ruang depan.

“Iya… hati – hati!!”, seru Rei.

Satoshi melihat ponselnya lagi. Ia akan kembali ke apartemen lusuh itu. Hari ini harusnya emmang hari pembayaran sewa apartemen.

“Ohno-san… “, seru Saifu sedikit kaget melihat Ohno datang tanpa diminta.

“Hari ini kau harus bayar sewa kan?”

Saifu menunduk, “Ohno-san tau?”.

“Tentu saja… kenapa kau tak pindah saja? Aku kan..”

“Aku tak mau merepotkan Ohno-san… setiap kali aku terus merepotkanmu…”, jelas Saifu lagi.

“Daijoubu… kau tak perlu enggan begitu…”, kata Satoshi sambil menyerahkan sejumlah uang di dalam sebuah amplop coklat, “Itu buat sewa dan makanmu… ya?”.

“Ohno-san…”, panggil Saifu lirih.

Sejak bertemu Saifu lima bulan lalu, praktis Satoshi selalu membantu gadis belia itu. Mereka bertemu di sebuah klub. Saat itu Saifu yang masih di bawah umur, bekerja sebagai host. Satoshi yang saat itu datang bersama temannya, banyak mengobrol dengan Saifu. Sejak saat itu pula Satoshi selalu ingin membantu Saifu.

“Arigatou gozaimasu… Ohno-san…”, Saifu menunduk karena bingung harus berkata apa lagi.

“Tak apa… kau harus jaga kesehatan ya.. tempat ini kurang layak untukmu..”, kata Satoshi lagi.

Saifu mengangguk.

Setelah Satoshi pulang, Saifu masih saja memandangi uang yang berada di dalam amplop itu. Sudah pasti jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar sewa. Ia segera menghubungi pacarnya.

“Dai-chan… kita bisa bertemu?”.

Daiki masuk ke apartemen lusuh itu, sedikit mengerenyit karena tempatnya kurang bersahabat dengannya.

“Ada apa Fu-chan?”

“Ini…”, Saifu menyerahkan sisa uang yang tidak ia pakai untuk membayar sewa apartemen.

“Maaf Fu-chan… aku…”

Saifu menggeleng, memeluk Daiki erat, “Daijoubu Dai-chan… ibumu sakit kan? Tak apa.. pakai saja.. itu masih bisa untuk membayar sewa kok..”, kata Saifu.

Daiki membalas pelukan Saifu, wajahnya tersenyum sinis, “Arigatou..”.

===========

TBC oh TBC~ comments are Love sodara – sodara…
maap sepanjang jalan kenangan gini..hahahaha.. ^^
Arigatoooouuu~


Advertisements

One thought on “[Multichapter] Happiness (chapter 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s