[Multichapter] Happiness (chapter 3)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Three
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance and Friendship
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Ikuta Rei (OC), Sakurai Rena (OC), Ohno Hiroki (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Happiness
~Chapter 3~

“Sakurai-kun…ini istriku Rei…”

Sho berdiri, berbalik.

Ia tak percaya apa yang ia lihat.

Rei juga membeku karena kaget.

“Ohno Rei desu…”, kata Rei terbata – bata.

“Sakurai Sho desu…”, jawab Sho masih sedikit terbelalak.

“Buatkan teh…”, kata Satoshi pada istrinya itu, “Rei..”, panggil Satoshi lagi karena melihat Rei terdiam.

“Ah… iya… sebentar…”, katanya sambil lalu masuk ke dapur.

Sho memandangnya dengan nanar. Dirinya tak pernah menyangka bertemu lagi dengan Rei. Demi apapun, ia tak mau bertemu dengan Rei jika begini keadaannya. Rei sudah menikah dengan temannya. Ia tak bisa membayangkan hal yang lebih buruk daripada ini.

“Papa…”, Reina bingung karena sejak tadi Sho hanya melamun saja, “Papa??!!”, seru Reina.

Sho kembali ke dirinya lagi, ia sedang menyetir dan sangat berbahaya jika ia melamun.

“Gomen Reina… Papa sedikit capek…”, jawab Sho lembut.

Reina hanya mengangguk – angguk.

Sesampainya di rumah, Sho membiarkan Reina sibuk dengan gambarnya. Sedangkan ia menuju altar, dimana foto Yui berada.

“Yui… hari ini aku bertemu lagi dengannya. Apa yang harus kulakukan??”, tanya Sho pada foto yang jelas tak akan bisa memberinya jawaban, “Kau tahu kan Yui?? Aku belum bisa melupakan cinta pertamaku itu??”, ucap Sho sedih.

==========

Din melemparkan dirinya di sofa ruang tengah. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Jelas Aiba belum pulang. Ia bilang pekerjaannya masih banyak. Tentu itu artinya ia akan disana semalaman, bahkan sampai tak pulang.

Ditambah hari ini Jun begitu menyebalkan, dikiranya ia robot? Bisa kerja sepanjang hari tanpa istirahat? Jun begitu memaksakan diri, padahal ia sedang flu berat.

To : Jun-kun
Subject : tidur
Cepat tidur!! Kau tak boleh sakit besok…

Din mengetik cepat dan mengirimkannya pada aktor manja itu. Ia merasa punya anak dibanding bekerja biasa. Jun biasa bergantung segala sesuatunya pada Din.

“Akh… aku lapar..”, keluh Din lalu menuju ke dapur, melihat makanan apa yang ada?

Ia tak pandai masak, namun sedikitnya ia bisa membuat masakan sederhana. Dulu, sebelum Aiba begitu sibuk, Aiba selalu membuatkan makanan untuknya. Walaupun ia tak bisa masak, Aiba tak pernah protes, dengan sabar ia yang akan melayani Din.

Kemana Aiba-nya yang dulu? Din menghela nafas berat, ia akhir – akhir ini sering kecewa karena Aiba jarang sekali pulang.

Akhirnya Din memutuskan untuk makan mie instan saja. Selain karena ia malas masak, bahan untuk masak pun sudah sangat menipis, dan ia malas berjalan ke toko 24 jam.

Din menunggu air masak sambil bersenandung tak jelas. Ia letih sekali dengan semua rutinitas ini. Sejak ia masuk manajemen Jun, otomatis jadwal makan dan tidurnya tak pernah benar, ia ikut banyak pesta, dan sering sekali tidak tidur hingga pagi hari.

Ponsel Din berbunyi, Din membuka flip ponselnya, tapi tak langsung membacanya. Karena air panasnya sudah matang, ia segera mengangkatnya dan memasukkannya ke cup.

Sambil makan, akhirnya ia melihat e-mail itu.

From : Jun-kun
Subject : re: tidur
Aku pusing…badanku panas…

Din mengerenyitkan dahi melihat e-mail itu. Tak biasanya Jun seperti itu, maka segera ia menelepon Jun.

“Halo?”, kata Din cepat, ketika telepon diangkat.

“Panas Din… aku pusing sekali…”, kata Jun dengan suara yang aneh, tak seperti biasanya.

“Hey!! Kau baik – baik saja?! Jun??”, seru Din panik, nafsu makannya seketika hilang.

“Uhuk… uhuk… aduh… badanku… aku…”

Klik.

Telepon mati. Tanpa pikir panjang Din keluar dari apartemen, mengutuk dirinya yang tak punya mobil sehingga sekarang harus berlarian ke halte. Berharap bus masih ada, walaupun Tokyo adalah kota yang tidak pernah tidur, tapi tempatnya ini sedikit jauh dari apartemen Jun yang berada di pusat kota Tokyo.

“Jun… semoga kau baik – baik saja…”, Din tak hentinya berdo’a.

=============

“Tadaima…”, seru Aiba di depan pintu.

Hening.

Ia yakin kekasihnya sudah tidur sejak tadi. Karena sudah pukul tiga pagi sekarang. Namun saat membuka pintu kamar tidur, dilihatnya kosong. Di meja makan ada sebuah mie instan yang belum tersentuh. Sedikit penasaran, Aiba akhirnya mencoba menelepon Din, tapi yang ia dapati malah ponsel Din tidak aktif.

Aiba mencoba menulis e-mail, agar Din bisa membacanya ketika ponselnya nyala kembali.

To : baby-chan
Subject : kau dimana?
Dimana sayang?
Kenapa ponselmu mati??
Terjadi sesuatu kah??
Aku khawatir…
Telepon aku jika kau mendapat mail ini

Sambil menyesap kopi, ia merebahkan punggungnya di sofa. Ia jadi ingat kejadian setahun lalu. Saat Din baru saja pindah kesini. Sofa ini adalah kesukaannya. Warnanya hijau tua, begitu nyaman untuk bersantai. Mereka berdua selalu menyempatkan diri untuk menonton film bersama. Din pasti akan bersandar padanya, dan ia begitu suka dengan aroma khas Din, wangi yang buatnya sangat spesial. Ia senang bermain dengan rambut Din yang panjang, membelainya dengan lembut.

Di sofa ini juga mereka sering bercumbu. Senang bercerita berbagai hal sampai lima bulan lalu Din diterima kerja di sebuah manajemen. Awalnya ia tak mau menerima, tapi setelah Aiba memberinya semangat, akhirnya Din menerima pekerjaan itu.

Menyesalkah ia?

Tapi ini untuk masa depannya.

Din yang datang dari keluarga broken home, tak mengambil kuliah. Din ‘melarikan diri’ dari kehidupannya, tinggal bersama Aiba karena sudah tak tahan dengan keadaan di rumahnya.

Tak berbeda jauh dengannya yang tak pernah punya orang tua.

Sekali lagi ia memejamkan matanya, menyesapi tempat ini jadi sedikit lebih hangat ketika Din datang. Empat tahun lalu mereka bertemu, Din selalu bilang ia jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Aiba sedikit tersenyum ketika mengingat ekspresi muka Din saat menyatakan cinta padanya.

“Aitakute.. my baby-chan..”, bisik Aiba yang baru sadar, walaupun mereka seatap, tapi selama hampir tiga bulan ini mereka jarang sekali berbicara satu sama lain.

================

Jun tertidur pulas. Din memandang sang aktor dengan pandangan iba. Untungnya ia cepat datang. Ternyata Jun panas badannya. Din segera mengganti baju Jun yang sudah basah oleh keringat. Setelah itu menyuapinya makan, serta sedikit memaksanya minum obat. Akhirnya Jun tidur juga.

“Baka ne… kalau sakit kau tak usah sok kuat..”, gumam Din yang duduk di sebelah ranjang Jun.

Jun bergerak – gerak tak nyaman. Din membenarkan posisi kompresnya.

Ia baru ingat belum menghubungi Aiba. Tapi ponselnya mati karena batere nya habis. Mudah – mudahan saja Aiba hari ini juga tidak pulang ke apartemen.

“Dinchan…”, gumam Jun dalam tidurnya.

Din terkesiap. Sejak tadi memang hanya namanya yang Jun sebut. Ia tak mau berfikiran aneh – aneh. Pasti Jun menyebutnya karena memang Din lah yang selama ini selalu mendampinginya saat Jun sakit atau apapun. Sejak lima bulan lalu.

“AKu disini… kau akan baik – baik saja..”, kata Din sambil menggegam tangan Jun.

Lama kelamaan Din merasa ngantuk, dan tertidur di sebelah Jun

Alarm itu berbunyi nyaring membuat Din terbangun. Ia merasa tidak kedinginan, dan tersadar dirinya ada di bawah selimut.

“Eh?”, ucap Din kaget.

Namun Jun sudah tidak ada disitu, sepertinya sudah bangun.

“Jun?”, kata Din setelah melihat Jun ada di ruang tengah, sedang menonton TV.

“Ohayou Dinchan…”, sapa Jun sambil tersenyum.

Jun memperlihatkan mug nya, “Aku minum teh dengan madu dan jeruk nipis… ok kan?”, tanya Jun sambil tersenyum.

Aku menghampiri Jun, “Awas kau!! Kalau sudah tak enak badan, kau harus langsung menghubungi aku…”, protes Din.

“Oke boss!! Maaf kau sampai tertidur gitu semalam..”, kata Jun.

“Huuu~ eh… makasih sudah memindahkanku ke kasur..hehehe..”, ujar Din sambil bangkit menuju kamar mandi.

Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Begitu berantakan, bajunya sudah kusut dimana – mana karena ia pakai tidur semalam. Rambutnya juga acak – acakan.

“Juuuunnn!! Sikat gigiku manaaaa??!”, seru Din dari kamar mandi.

“Aku simpan di dalam lemari keciiilll!!”, jawab Jun.

Din memang sudah sering mampir ke apartemen Jun. Sehingga ia sudah menganggapnya apartemennya sendiri.

“Ck… dasar..”, umpat Jun sambil tersenyum kecil.

Ponselnya berbunyi, tanda telepon masuk.

‘Aiba Masaki’

Tertulis di LCD nya.

“Halo?”, angkat Jun.

“Jun… kau dimana?”, tanya suara diseberang.

“Di apartemen… ngomong – ngomong, semalam aku sakit, jadi Din ada disini merawatku… gomen..”, jelas Jun langsung karena tahu apa yang akan ditanya oleh Aiba, keberadaan Din.

“Souka… aku sedikit tenang kalau ia disana… suruh dia telepon aku nanti..”, pinta Aiba lagi.

“Ok desu… aku akan bilang padanya…”

Klik. Telepon ditutup. Jun merasa tak perlu memberi tahukannya pada Din. Biar saja Din tak menelepon Aiba.

Din keluar dari kamar mandi dan langsung menuju dapur.

“Aku bikinkan roti bakar saja ya?”, kata Din.

Jun mengagguk lalu memerhatikan Din lagi. Ia mulai berharap lagi ini adalah pemandnagan yang akan dia lihat setiap hari. Ia bisa bersama Din terus, ia bisa memiliki Din seutuhnya, bukan sekedar menjadi seorang asistennya.

“Jadi karena kau masih sakit, jadwalmu di potong setengahnya. Malam ini kau tak ada jadwal..”, jelas Din sambil memandang PDA nya.

Ia kembali konsentrasi pada jalan raya, karena ia sedang mengemudi. Saat lampu merah ia baru ingat baterainya habis. Segera ia mengganti dengan cadangan, dan menemukan puluhan pesan mail dan pesan suara dari beberapa orang termasuk Aiba.

“Ponselmu ribut…”, protes Jun yang duduk di sebelahnya.

“Aku lupa menyalakan ponselku tadi pagi…”, kata Din yang langsung menyambung teleponnya dengan Aiba.

“Honey-kun? Dimana?”, tanya Din sambil masih sibuk menyetir.

Jun mengerling ke arah Din.

“Iya… maaf ya… semalam bateraiku habis..”, kata Din lagi, “Ok.. ok… aku malam ini pulang cepat kok… ok..”, Din lalu menutup ponselnya.

“Apa?”, tanya Din pada Jun yang terus memerhatikannya.

“Tidak… tidak apa – apa..”, Jun menutupi rasa cemburunya dengan membuang muka ke arah jendela.

Seandainya, ia bertemu lebh dulu dengan Din, bisakah ia menjadi lebih dari sekedar asisten – aktor?

===============

Sho melirik jam tangannya. Masih ada setengah jam lagi sekolah hari ini berakhir. Tidak biasanya pekerjaan Sho selesai lebih cepat. Jadi ia dapat menjemput Reina lebih awal. Kalau Reina mengetahui ini, Sho yakin gadis kecil itu pasti akan sangat senang. Sho tersenyum tanpa sadar saat memikirkan yang akan ia dan Reina lakukan setelah ini.

Tak berapa lama Sho melihat Kazunari sedang keluar kelas sambil berbicara dengan ponselnya. Sho teringat kalau akhir-akhir ini sikap Kazunari sedikit berbeda padanya. Mungkin hari ini ia dapat mengetahui alasannya kalau ia bertanya sendiri.

“Kazu!” panggil Sho sambil menghampiri Kazunari saat temannya itu selesai berbicara.

Kazunari menoleh pada sumber suara yang memanggilnya.

“Hai Sho. Tidak biasanya kau datang cepat,” jawab Kazunari.

Sho terperanjat. Ini Kazunari yang biasa. Sikapnya tidak berubah dengan sebelumnya. Sesaat Sho bingung. Apa ia salah mengira?

“Umm~ kebetulan pekerjaanku cepat selesai,” sahut Sho. “Kazu, apa kau ada masalah akhir-akhir ini?” tanyanya kemudian.

Kazunari tidak menjawab kemudian terkekeh pelan. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Sho memiringkan kepalanya. “Sikapmu berubah minggu-minggu ini. Kau menjadi pendiam.”

Kazunari memeluk dirinya sendiri. “Perhatianmu membuatku merinding, Sho.”

Sho melirik Kazunari dengan kesal.

Kazunari tersenyum sebentar. “Mungkin ada beberapa hal yang kupikirkan. Tentang pekerjaan, tentang kehidupanku, juga tentang perempuan,” jelasnya.

“Perempuan?” seru Sho kaget.

“Kenapa? Apa aku terlihat seperti orang yang menyukai laki-laki? Aku masih normal, Sho,” sahut Kazunari.

“Maksudku….kau tidak pernah cerita apapun,” gumam Sho.

Kazunari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku memang belum pernah cerita. Nanti akan kuceritakan. Jangan khawatir.”

Sho mengangguk walaupun ia masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kazunari. Tapi ia lega karena Kazunari kembali seperti biasanya.

Tepat setelah itu, bel berakhirnya sekolah hari ini berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar. Termasuk Reina yang berjalan berdampingan dengan Hiroki. Seperti yang Sho pikirkan, Reina terlihat senang begitu melihatnya sudah ada di sekolah di jam yang tidak biasa.

“Papa sudah datang?” seru Reina.

Sho hanya membalas dengan senyum.

“Kazu-san, aku pergi dulu. Lain kali kau berceritalah padaku,” kata Sho pada Kazunari.

Kazunari mengangkat jempolnya. “Nanti kuhubungi.”

“Dadah Hiro-chan…” Reina melambaikan tangannya pada Hiroki.

“Dadah Reina-chan…..ah…Okaa-chan..” Hiroki berseru ketika ia melihat ibunya datang menjemputnya.

Sho berbalik dan melihat seorang perempuan cantik yang berambut panjang berjalan menghampiri Hiroki yang ada di dekat Sho, Reina dan Kazunari. Sho sedikit bingung, apa yang harus ia lakukan?

“Konichiwa, Kazunari-san..” Ohno Rei sesaat melihat Sho yang tampaknya tidak begitu terkejut seperti tempo lalu.

Sho tidak dapat mengelak lagi karena Rei sudah menatapnya. “Hi Rei..” sapanya.

Rei tersenyum pada Sho. “Menjemput Reina?” tanya Rei.

“Sou..” jawab Sho singkat.

“Kalian saling kenal?” tanya Kazunari seolah menangkap sesuatu yang aneh.

“Rei teman kuliahku. Kebetulan kami bertemu lagi beberapa hari yang lalu,” jelas Sho.

Kazunari mengangguk mengerti. “Souka~”

Sho mengambil album lusuh yang tersimpan di rak bukunya. Sepertinya album itu sudah lama tidak pernah dilihat dan hanya menjadi penghuni tetap raknya saja. Sho membawa album itu lalu duduk di sofa. Dengan perlahan ia membukanya halaman demi halaman. Senyumnya mengembang saat Sho melihat foto di halaman pertama. Di dalam foto itu ada sepasang laki-laki yang memakai hakama dan perempuan yang memakai yukata cantik berwarna merah. Kedua orang itu sama-sama terlihat bahagia. Tidak salah lagi, orang di dalam foto itu adalah dirinya sendiri dan Rei.

Ia kembali teringat pertemuannya dengan Rei setelah 7 tahun mereka tidak bertemu beberapa hari yang lalu. Sho tidak menyangka pertemuan selanjutnya dengan Rei akan menyakitkan hatinya. Rei sudah berubah. Dia sudah milik orang lain.

Hingga sekarang Sho masih bisa memutar ulang kejadian nya bersama Rei. Setiap senyum Rei, tawa yang mereka bagi bersama selama tiga tahun lebih. Untuk beberapa alasan Rei harus meninggalkannya ke Korea, belajar beberapa keterampilan yang memang ia inginkan. Sho tak rela, namun demi masa depan Rei, Sho melepasnya. Saat itulah hubungan mereka menjadi renggang, mereka jadi sering bertengkar, puncaknya Rei memutuskan hubungan dengan Sho secara sepihak. Sho sudah berusaha mencari Rei, namun tak berhasil. Selama tujuh tahun pula ia berusaha melupakan Rei, tapi tak juga berhasil. Sekarang ia malah bertemu dengan Rei dengan cara yang sama sekali tak ia inginkan.

“Papa..” panggil Reina sambil memeluk boneka panda kesayangannya.

Sho menoleh. Kelihatannya Reina sudah mengantuk. Seperti malam-malam sebelumnya, Sho mengantar Reina ke kamar lalu menemaninya hingga tertidur.

Sambil membelai rambut Reina, Sho kembali teringat Rei. Cepat-cepat Sho menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh seperti ini. Saat ini seluruh perhatiannya hanya untuk Reina, karena Sho sudah berjanji akan membahagiakan Reina bagaimanapun sulitnya dia membesarkan gadis kecil itu.

“Papa, kita ajak Opi-chan datang ke rumah kita!” tiba-tiba Reina berkata saat Sho sedang membuat pasta di dapur untuk makan siang mereka. Kebetulan hari ini hari libur sehingga Sho mencoba resep yang baru saja ia dapat dari buku.

“Opi-san?” tanya Sho heran.

Reina mengangguk. “Un~  Waktu itu kan Opi-chan bilang akan mencoba masakan Papa.”

Sho berpikir sejenak. Ia merasa tidak keberatan jika Opi diundang ke rumahnya. Apalagi sepertinya Reina sangat menyukai Opi.

“Baiklah. Reina boleh mengajaknya. Nanti Papa telepon,” ucap Sho akhirnya.

“Hore~”

Sho meronggoh ponselnya di dalam saku, lalu mencari nomor Opi di phonebooknya. Tiba-tiba dia berhenti memijit karena ia baru sadar kalau ia tidak tahu nomor Opi. Mau tidak mau Sho harus menelepon ke telepon rumah Ninomiya.

“Moshi-moshi?” Terdengar suara Kazunari di seberang sana.

“Kazu-san, Sho desu,” katanya. “Uummm~ Opi ada?” tanya Sho kemudian tanpa basa basi.

Tidak ada jawaban apapun. Tapi itu hanya sebentar. “Ada. Ada apa?” tanya Kazunari.

“Ano~ Reina…ingin mengundangnya ke rumah untuk makan. Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu di hari libur seperti ini. Tapi aku tidak ingin mengecewakannya,” jelas Sho. “Oh~ tentu saja aku juga mengundangmu. Kalau kau tidak keberatan.”

Kazunari kembali terdiam.

“Baiklah. Sebentar lagi aku dan Opi ke apartemenmu,” jawab Kazunari.

Sho menghela nafas. “Aku tunggu.”

“Bagaimana?” tanya Reina yang sudah mengunggu jawaban papa nya dengan tidak sabar setelah Sho menutup flip ponselnya.

“Mereka akan ke sini. Maksud Papa Opi-san dan Ninomiya-sensei,” jawab Sho kemudian disambut seruan kesenangan dari Reina.

Tak berapa lama bel rumah Sho berbunyi.

“Papa, itu mereka!” seru Reina semangat.

“Oia? Cepat sekali mereka,” sahut Sho sambil mematikan api kompor lalu berjalan menuju pintu. Saat ia membuka pintu, Sho sangat terkejut karena kedatangan tamu yang tidak dibayangkannya.

“Rei?” gumam Sho terbelalak.

Rei terlihat gugup. “Hi Sho,” sapanya. “Apa aku mengganggu?”

Sho terdiam sebentar. Ia sedang berusaha meyakinkan diri jika pandangannya tidak salah. Apakah perempuan yang dihadapannya benar-benar Rei? Ada urusan apa datang ke apartemennya?

“Sho?” panggil Rei.

“Ya?” sahut Sho terkesiap.

“Apa aku mengganggumu?” tanya Rei lagi.

Sho menggeleng cepat. Pandangannya masih berpusat pada sosok cantik dihadapannya. “Tidak. Sama sekali tidak mengganggu,” jawab Sho mantap.

“Papa!” panggil Reina menghampiri Sho.

“Hi Reina-chan!!” sapa Rei pada Reina.

“Ah~ Mamanya Hiro-chan,” seru Reina.

“Sebenarnya ada perlu apa?” tanya Sho.

====

Kazunari sebetulnya ragu menerima undangan Sho, tapi tidak adil rasanya kalau ia terus bersikap tidak bersahabat pada temannya itu. Sho adalah teman baiknya. Apalagi undangan makan itu karena Reina yang meminta. Ini bukan alasan dirinya untuk cemburu pada temannya sendiri. Belum tentu juga Sho menyukai adiknya. Dan belum tentu juga Opi menyukai Sho. Mungkin saja Opi hanya tertarik sesaat.

Dari lantai dua rumahnya, tiba-tiba terdengar suara langkah yang keras. Kazunari tahu itu pasti adiknya. Dan ia juga tahu adiknya pasti sedang kesal. Dengan cepat, ia menghampiri Opi di kamarnya.

“Ada apa? Ribut sekali..” kata Kazunari lembut sambil duduk di dekat Opi.

“Aku kesal. Daiki dari tadi tidak bisa dihubungi. Padahal dia janji mau mengajakku menonton film,” oceh Opi kesal. Saking kesalnya, ia melempar ponselnya sendiri. Beruntung Kazunari dapat menangkapnya dengan gesit. Kalau tidak, ia pasti harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli ponsel baru.

“Hati-hati dengan ponselmu, Opi. Kau pikir ponsel ini tidak memakai uang,” omel Kazunari sambil memeriksa ponsel yang baru saja Opi lempar. Ia terus bergumam semoga ponselnya tidak tergores sedikitpun.

“Aku tidak peduli,” ucap Opi sekenanya.

Kazunari menggeleng kepala. “Apa kamu masih tidak peduli kalau Sho meminta kita datang ke apartemennya karena Reina mengundang kita makan siang?” tanyanya kemudian.

Opi yang sedang duduk di kursinya, lalu memutar kepalanya menatap kakaknya dengan tidak percaya.

“Uso….”seru Opi membelalakan matanya.

“Uso janai…kalau mau ikut cepat ganti bajumu,” sahut Kazunari.

“Baiklah,” jawab Opi cepat. “An-chan keluar dulu. Aku mau ganti baju.”

Kazunari dan Opi pergi ke apartemen tak lama kemudian dengan menggunakan mobil. Setelah sampai di depan apartemen, Opi turun. Tapi Kazunari tetap di mobil karena ternyata ia harus menemui temannya jadi ia tidak bisa ikut untuk makan siang. Kazunari kembali melaju setelah berkata nanti ia akan menjemput Opi jika sudah selesai.

Opi baru saja akan masuk apartemen ketika gadis itu melihat Sho bersama seorang perempuan cantik sedang berjalan berdampingan. Opi menghentikan langkahnya dan hanya menatap mereka berdua dengan bingung.

“Opi-san!” panggil Sho pandangannya bertemu dengan Opi.

Opi hanya tersenyum lalu menundukkan sedikit kepalanya.

“Opi-chan?” Perempuan yang bersama Sho itu berseru.

“Rei-san?”

Opi tidak mengira ia akan bertemu dengan tetangganya. Rei sangat dekat dengan Opi karena anaknya Rei, Hiroki, bersekolah di sekolah milik Kazunari. Selain itu mereka sering melakukan hal bersama-sama, seperti berbelanja, memasak atau pun mengobrol banyak hal. Bahkan saat libur, biasanya Opi selalu berlama-lama di rumah Rei untuk sekedar bermain dan mengobrol dengan Satoshi, suami dari Rei.

“Sedang apa?” tanya Rei sambil menghampiri Opi.

Opi menatap Sho sebentar. “Aku….mau ke rumah Sakurai-san,” jawab Opi pelan.

Rei kini yang menatap Sho dengan tatapan bingung. “Kalian……”

“Opi-san datang untuk makan siang karena Reina yang meminta,” jelas Sho cepat.

Opi tahu memang itu alasannya ia berada di sana. Tapi entah kenapa ada sedikit rasa kecewa di hatinya.

Rei tersenyum. “Souka~”

“Kamu mau makan siang di rumahku juga?” tawar Sho.

Rei terlihat berpikir sebentar. “Baiklah,” jawabnya. “Jika tidak mengganggu.”

“Tentu saja tidak. Ayo Opi-san!”

Opi tidak suka ini. Tentu saja bukan haknya untuk menentukan siapa saja yang boleh makan siang di rumah Sho. Tapi mendengar Sho yang terang-terangan mengajak Rei, membuat nafsu makannya menghilang. Ia pikir ini akan menjadi momen yang indah karena Sho mengajaknya makan siang walaupun hanya atas permintaan Reina.

“Jadi Rei-san dan Sakurai-san teman kuliah?”

Opi baru saja mendengar cerita masa lalu Rei dan Sho. Sedangkan Reina dan Sho sedang sibuk membuat makanan di dapur. Ia sangat penasaran ada hubungan apa antara mereka berdua sehingga tanpa ragu menanyakan langsung pada Rei. Dari jawaban Rei, Opi mendapat kesimpulan kalau mereka teman satu kampus tetapi mereka berbeda jurusan dan hubungan mereka memang dekat.

Di sela obrolan mereka, ponsel Rei berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

“Moshi-moshi…ada apa, Satoshi? Hiroki? Baiklah. Aku akan pulang sekarang.”

Rei menutup flip ponselnya dengan cepat lalu berdiri sambil berkata, “Sho, gomen. Sepertinya lain kali saja. Aku harus cepat pulang.”

Opi melihat Sho terlihat kecewa. Tapi lalu dia tersenyum. “Baiklah. Aku antar…..”

“Tidak usah,” tolak Rei. “Kalau kau mengantarku, bagaimana dengan Opi-chan?”

Sho menatap Opi. “Baiklah. Hati-hati di jalan,” ucapnya kemudian.

“Kenapa tidak dicegah?” tanya Opi ketika Rei sudah pergi.

Sho menggeleng. “Aku tidak berhak mencegahnya.”

“Eh?”, Opi terkesiap, namun terdiam tak berani bertanya apapun.

Sesaat Opi menahan napasnya. Ia tahu ada sesuatu antara mereka berdua. Saat Sho menatap Rei, ia merasa ada yang berbeda. Tatapan penuh kerinduan yang tertahan hingga bertahun-tahun. Tapi Opi yakin, Rei adalah perempuan yang sangat special untuk Sho. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi karena kenyataan itu membuat tubuhnya lemas ditambah ia menyesali diri karena tidak dapat melakukan apapun.

===========

“Iya… wakatta.. aku segera kesana…”, Satoshi menutup ponselnya, ia sekarang juga harus pergi menemui orang itu.

Sesaat Satoshi memandang istrinya yang sedang menidurkan Hiroki.

“Rei… aku harus keluar sebentar…”, jelas Satoshi pelan, ia tak ingin Hiro bangun.

“Kemana?”, tanya Rei tak kalah berbisik.

Satoshi memutar otaknya mencoba mencari alasan untuk member tahu istrinya itu kenapa ia harus keluar malam – malam.

“Itu… ada bahan yang tertinggal di kantor…”, kata Satoshi sedikit gugup.

“Oh… ya sudah… aku kerjakan sebagian setelah Hiro tidur..”, jawab Rei lalu tersenyum pada Satoshi.

Suaminya itu tersenyum lalu bergegas keluar sambil memakai mantelnya, menuju ke sebuah tempat.

Tak perlu waktu lama, Satoshi sudah berada di depan sebuah gedung apartemen lusuh yang seakan tak terurus. Ia melangkahkan kakinya hingga ke lantai dua, tempat yang ia tuju.

“Ohno-san… silahkan masuk..”, sapa orang itu mempersilahkan masuk.

Gadis itu sebenarnya lumayan cantik, tak sepadan dengan tempat lusuh yang ia tinggali.

“Ada apa?”, tanya Satoshi ketika ia sudah duduk di hadapan gadis itu.

“Aku mau pinjam uangmu lagi… kumohon Ohno-san… aku bingung pada siapa lagi aku harus meminjam… ini untuk biaya praktek sekolahku..”, keluh gadis dihadapannya itu.

“Berapa?”, tanya Satoshi lagi.

Gadis itu menyerahkan sebuah kertas yang ia ambil dari tas sekolahnya.

“Baiklah…”, kata Satoshi sambil mengeluarkan sejumlah uang.

“Ini lebih Ohno-san…”, kata gadis itu lirih.

“Tak apa… sisanya untuk kau jajan…”, kata Satoshi sambil mengembangkan senyum.

“Arigatou… aku tak tahu harus berkata apa lagi…”

“Dan kau tak perlu mengembalikannya… aku tak pernah meminjamkan apapun padamu… mengerti?”, kata Satoshi lagi.

“Demo… Ohno-san..”

Satoshi mengacak rambut gadis itu pelan, terlihat Satoshi menyayanginya.

“Sudahlah… aku pulang dulu ya… Fu-chan…”, katanya sambil beranjak dan keluar dari apartemen itu.

============

TBC oh TBC~
silahkan di comments… don’t forget… comments are LOVE!! ^^


Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s