[Oneshot] Because I Love You *We Are side story*

Title        : Because I Love You (“We Are” side story)
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot, SongFic
Song         : Aishiteru Kara by. KAT-TUN
Genre        : Romance *again and again~ LOL*
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    :all HSB Member, Ryutaro Morimoto (HSJ), Saifu Suzuki (OC), Takaki Din (OC), Takaki Yuuri (OC), Inoo Opi (OC) , PyPy (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here. All HSB member and Ryutaro Morimoto are belongs to Johnnys & Association. Other character is my OC, except Suzuki Saifu is Fukuzawa Saya’s OC. Ini adalah side story dari side story… yeah!! Hahahaha.. it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Because I Love You


Sebuah mobil sport kuning berhenti di depan sekolah. Pemiliknya membuka kaca mata hitam yang ia kenakan sebelum akhirnya turun dari mobil. Dengan sedikit kesal ia melihat ponselnya, memastikan ia tiba tepat waktu.

“Fu mana sih?”, keluhnya bingung.

Ia menekan tombol nomor satu, lalu menempelkan ponselnya di telinga.

“Fu-chan?? Kau dimana? Aku di depan sekolahmu…”, protes pria itu sedikit kesal.

Tak lama, seorang cewek dengan perawakan sedang menghampiri pria itu.

“Gomen Dai-chan… aku tadi keasyikan ngobrol dengan teman – temanku…”, katanya sambil tersenyum manis, seakan meminta maaf pada kekasihnya itu.

Daiki mencium puncak kepala gadis itu, “Daijoubu Suzuki Saifu-san… sejak kapan aku bisa marah padamu?”, katanya lembut.

Saifu tersenyum pada Daiki, “Hehehe,, kau tak pernah marah padaku…”, jawabnya.

“Ayo…”, ajak Daiki sambil membukakakan pintu.

“Kita akan kemana?”, tanya Saifu.

“Ikut saja…”, kata Daiki dengan sok misterius dia mengerling ke arah Saifu.

Pertanyaan Saifu terjawab ketika mereka tiba di sebuah rumah yang cukup mewah. Ini rumah Daiki, mereka turun dan masuk ke rumah itu.

“Fu-chaaann!! Omedetouu!!”, seru seorang wanita yang sibuk dengan anak bayi perempuan yang lucu di pangkuannya.

“Din-neechaaann!!”, sambut Saifu lalu memeluk Din.

“Omedetou…”, kata pria disebelah Din, yang tak lain adalah suaminya, Takaki Yuya.

“Aduh Yuuri… jangan menjambak rambut Papa…”, kata Din sibuk dengan anak perempuannya itu, yang berusia kurang dari setahun.

“Fu-chaaann!! Selamat atas kelulusanmu ya..”

“Makasih Opi-neechan..”, Saifu juga memeluk Opi.

“Py-chan belum datang ya?”, tanya Opi pada Din.

“Belum… dia bilang sebentar lagi setelah pekerjaannya selesai.”, jawab Din.

Saifu memerhatikan ruang tengah ini, semuanya lengkap. Ada Din dan Takaki, Opi dan Inoo, Hikaru, bahkan Yabu juga. Ia sangat senang karena walaupun hanya kelulusan SMA, dirinya di rayakan oleh semua orang.

“Dai-chan…arigatou!!”, seru Saifu menghambur ke pelukan Daiki.

Daiki mengangguk pelan, tak menjawab apapun.

Sudah setahun berlalu sejak semua kejadian berakhir dengan baik. Din dan Takaki kembali menjadi pasangan bahkan mereka sudah dikaruniai seorang bocah perempuan, Opi dan Inoo juga bahagia, Hikaru dan Py beberapa bulan ini sibuk mempersiapkan pernikahannya. Hanya Yabu yang terus saja betah dengan status jomblo dan masih juga berkelana dengan wanita – wanita yang ia temui.

“Fu… berhenti melihat mereka dengan pandangan seperti itu..”, tegur Daiki yang menyadari pacarnya itu memerhatikan semua teman – temannya.

“Hehehe.. iya…maaf..”, Saifu jadi malu diperhatikan oleh Daiki.

“Maaf aku telaatt!!”, seru PyPy dari pintu.

“Py-nee!!”, sambut Saifu beranjak menyambut PyPy.

“Omedetou ne… Fu-chan..”, kata Py sambil memeluk Saifu.

Saifu mengagguk senang. Setelah ini ia akan kuliah design di sebuah univeritas terkenal di Jepang. Seluruh rencana itu sudah berada di dalam kepalanya, ia bahagia sekali walaupun belum sempat memberi tahu Daiki. Akhir – akhir ini Daiki lebih sibuk dari biasanya, selain kuliah, Daiki juga sudah mulai membantu ayahnya di perusahaan, sehingga praktis waktunya sedikit tersita dengan hal itu.

“Baiklah… semuanya sudah datang…”, seru Daiki pada semua orang yang ada disitu.

Semuanya memerhatikan Daiki yang sedang berbicara di depan. Ia dan Saifu menjadi pusat perhatian. Daiki tiba – tiba berlutut di hadapan Saifu, mengambil sesuatu di dalam sakunya.

“Will you marry me? Suzuki Saifu?”

Saifu kaget, ia sama sekali tak menyangka Daiki melamarnya dalam acara ini. Ia bahkan tak pernah memikirkan ini.

“Dai-chan…”, bisik Saifu pelan.

Saifu melirik ke semua arah. Sepertinya semua orang di ruangan ini sudah tahu akan rencana Daiki, karena semuanya tersenyum, seakan memberi semangat pada Daiki.

Pandangan Saifu beralih ke Daiki kembali, ia masih tersenyum, berlutut di hadapannya.

Mata Saifu bergerak – gerak bingung, “Gomen Dai-chan!!”, tangis Saifu meleleh, ia segera berlari meninggalkan tempat itu, ia tak bisa begitu saja menikah, dirinya punya banyak ambisi yang harus ia penuhi.

Even if I lost you tonight,
I won’t ever forget, because I love you

“Salahku apa ya Kou-chan?”, tanya Daiki yang kini duduk di balkon bersama Yabu. Satu – satunya sahabatnya yang masih tinggal setelah gagalnya pesta tadi sore.

Sebenarnya semua sahabatnya tak ingin meninggalkan Daiki, tapi mereka juga punya banyak urusan lain, sehingga mereka harus pergi.

“Kau tak salah…”, jawab Yabu sambil menuangkan bir di gelas Daiki yang sudah kosong.

“Lalu, kenapa Fu-chan bersikap seperti tadi?”, tanya Daiki lagi.

“Karena kau terlalu mendadak mungkin?”, kata Yabu dengan tenang.

“Tapi Kou-chan…”

“Yang terbaik, kau bicarakan masalah ini dengannya. Bagaimanapun juga, kalian sudah bersama selama dua tahun kan? Ia pasti punya alasan kenapa ia menolak lamaranmu… berasumsi tak akan menyelesaikan masalahmu…”, ucap Yabu.

Daiki memikirkannya, Yabu benar. Apapun alasan Saifu, ia pasti punya alasan kuat kenapa ia menolak lamarannya tadi. Daiki memejamkan matanya, menghirup udara musim semi yang berhembus dingin, berharap angin ini juga bisa menyejukkan hatinya.

Saifu memandang Daiki dengan sedikit canggung. Mereka akhirnya memutuskan untuk membicarakannya di apartemen Daiki.

“Anoo… Dai-chan… maafkan aku…”, kata Saifu takut – takut.

“Aku sudah dengar dari Mama, kau diterima di fakultas design?”, tanya Daiki tenang.

Saifu mengangguk, “Maaf aku gak ngasih tau Dai-chan… karena akhir – akhir ini kau sibuk, aku….”, Saifu menegak minumannya cepat, “Aku tak sempat…”

Daiki menarik Saifu ke dalam pelukannya, “Maafkan aku Fu-chan… aku melamarmu tanpa tahu apa – apa, aku egois, aku harusnya tak begitu…”

“Aku bisa menjwabnya… iya… tapi tak sekarang… masih banyak yang harus kulakukan…”, kata Saifu melepaskan pelukan Daiki.

“Wakatta.. aku akan menunggumu… untuk sekarang, kita bisa tinggal bersama kan?”, tanya Daiki lagi.

Saifu mengangguk, “Un… bisa..”

Daiki mencium bibir Saifu sekilas, lalu memeluknya kembali, “Aishiteru…”, bisiknya pelan.

Every time we softly exchanged a short kiss under the moonlight,
affection would overflow with the gentle feeling

“Jadi gambar ini seharusnya tak begini?”, Saifu mengerenyitkan dahinya sedikit bingung.

Pria yang ia ajak bicara itu membalikkan gambarnya dengan sabar, “Begini maksudnya Fu-chan…”, jelasnya dengan nada sabar.

“Hahahaha… oh~ aku mengerti!! Arigatou Morimoto-kun..”, kata Saifu pada temannya itu.

“Ryutaro Morimoto!”, seru dosen di depan, “Ini hasil ujianmu..”, katanya lagi.

Ryutaro ke depan mengambil hasil ujiannya, lalu kembali ke sebelah Saifu, “Not bad.. B plus..”, katanya lagi.

“Wah.. nilaimu bagus.. aku hanya dapat B loh… sulit sekali mendapat nilai bagus di mata kuliah ini..”, keluh Saifu lagi.

Ryutaro tak menjawab, “Fu-chan habis ini ada acara?”, tanya Ryutaro.

Saifu menggeleng, “Tidak… kenapa?”

“Kita ke perpus ya… sekalian mengerjakan tugas berkelompok ini..”, ajak Ryutaro.

“Ok desu..”, jawab Saifu.

Tak lama ponselnya bergetar, tanda e-mail masuk. Untungnya sekarang sedang diskusi kelompok, sehingga ia tak akan dimarahi walaupun menerima e-mail di tengah – tengah kelas.

From : Lovely Dai
Subject : gomen
Aku akan pulang malam lagi..
Jangan lupa ke ulang tahun Yuuri..
Sore ini..
Gantikan aku ya…
Walaupun aku sudah bilang pada Yuya,
Tapi tak enak jika kau tak datang…
Love you,
Daiki

Saifu manyun ke arah ponselnya, sejak Daiki lulus beberapa bulan lalu, dia praktis sangat sibuk. Perusahaannya sedang sedikit bermasalah, sehingga ia harus ekstra memperhatikannya.

“Kenapa?”, tanya Ryutaro.

“Hmm.. mau menemaniku ke ulang tahun?”, ajak Saifu tanpa pikir panjang.

“Ulang tahun?”

Saifu mengangguk, “Anak temanku ulang tahun…”

“Baiklah…”, jawab Ryutaro akhirnya.

Setelah mengerjakan beberapa hal, Saifu pun berangkat ke rumah Takaki bersama Ryutaro.

“Waaaw~”, seru Ryutaro memandang mansion yang mereka datangi.

“Hah?”, tanya Saifu bingung.

“Tidak apa – apa.. hehehe..”

Ryutaro tambah kaget ketika yang dilihatnya, yang berulang tahun adalah seorang anak kecil berumur setahun. Pesta yang diadakan cukup mewah.

“Fu-chaaann!! Arigatou kau datang.. Dai-chan sibuk sekali..”, kata Din sambil memeluk Saifu.

“Yuuri-chan.. otanjoubi omedetou..”, kata Saifu pada Yuuri yang berada di pangkuan Din, “Waa.. Yuuri-chan cantik sekali..”, puji Saifu pada Yuuri yang tersenyum senang, mencubit pipi Saifu.

“Eitz… Yuuri.. jangan gitu sama Fu..”, tegur Din menarik tangan Yuuri.

“Tak apa nee-chan…”

“Itu siapa?”, tanya Din.

“Ah iya… ini teman kuliahku…”

Ryutaro membungkuk sopan, “Morimoto Ryutaro desu… yoroshiku onegaishimasu..”

“Takaki Din desu… ini Yuuri..”, sapa Din ramah.

Ryutaro merasa dirinya salah tempat. Ia salah kostum, dimana hampir semua orang memakai pakaian resmi. Ia sedikit heran, apa ini lingkungan Saifu? Kenapa tak terlalu terlihat di diri Saifu ya? Pikirnya sambil menlihat ke sekeliling.

“Neechan.. maaf ya aku tak sempat ganti baju..”, kata Saifu pada Din.

“Daijoubu… yang penting kau datang… ayo.. sebentar lagi potong kue..”, ajak Din lagi.

Ryutaro tak bisa menikmati pesta ini sepenuhnya. Ia sedikit canggung, ditambah lagi ia salah kostum. Ia merutuki dirinya yang ikut saja pada ajakan Saifu tadi.

“Kenapa Morimoto-kun?”, tanya Saifu yang sudah ada di sampingnya.

“Tidak apa – apa… aku hanya kaget dengan semua ini.. hehehe..”, kata Ryutaro sambil meminum jus yang ia pegang.

“Aku juga dulu masih terkaget – kaget, tapi akhirnya terbiasa..”, jelas Saifu.

“Eh?”

“Ya… aku hanya dari kalangan biasa. Ayahnya Daiki dulunya adalah sahabat ayahku, itulah mengapa kami di jodohkan. Jadi, bukan untuk alasan bisnis, atau hal lain.. itulah kenapa aku sebenarnya bukan dari tempat seperti ini..”, jelas Saifu lagi.

Ryutaro mengagguk – angguk mengerti. Mungkin karena itulah Saifu tak berbeda dengan dirinya.

“Fu-chan..”, kata seseorang dari belakang.

“Hiyaaa!! Hikka-nii!!”, seru Saifu kaget.

“Hahaha… wajahmu jelek sekali..”.

Hikaru menarik Saifu, “Kau menutupi tempat kue.. aku mau ambil kue..”, kata Hikaru lagi.

“Eh.. gomen Nii-chan..”, kata Saifu.

“Dai-chan pasti gak kesini…”, kata Hikaru menoleh mencari Daiki.

“Ia ada urusan… perusahaan seperti biasa..”, jelas Saifu.

“Ya.. ya… bocah itu… sibuk sekali dia akhir – akhir ini…”, keluh Hikaru.

Saifu mengagguk – angguk setuju.

“Eh.. tolong ambilkan aku champagne…”, katanya pada Ryutaro.

“Hah?”, Ryutaro bingung, “Apa?”

“Tolong pelayan…”.

Ryutaro yakin ia tak mau lagi datang ke tempat seperti ini.

“Berhenti marah – marah seperti itu Fu!!”, kata Daiki mencoba menenangkan Saifu.

“Tapi Hikka-nii keterlaluan sekali!! Morimoto-kun itu kan temanku!!”, teriak Saifu sambil berurai air mata.

“Hikaru akan minta maaf.. aku jamin… ia hanya tak tahu itu temanmu..”, kata Daiki mulai capek dengan sikap Saifu.

“Kalian memang orang kaya… tapi bisa kan menghargai orang sedikit?!!”, bentak Saifu pada Daiki.

“FUUU!! STOP IT!!”, bentak Daiki keras, lalu meninggalkan Saifu yang masih menangis di kamar, pikirannya yang sedang penuh dengan masalah bisnis dan perusahaan, ditambah sekarang Saifu bersikap sangat kekanakan, membuatnya capek baik mental maupun fisik.

Both your laughter and your sad face,
I had come to see them many times,

“Fu-chan masih marah padaku kah?”, tanya Hikaru pada Daiki.

“Entahlah.. kau sudah minta maaf padanya?”, Daiki balik bertanya.

“Sudah kok. Saat itu pun aku langsung minta maaf, aku hanya tidak tahu kalau ia teman Fu…”, kata Hikaru.

“Aku tak tahu kenapa ia begitu sakit hati? Apa sih maksudnya?”, tanya Daiki yang pertanyaan itu lebih untuk dirinya sendiri.

“Aku akan minta maaf lagi padanya…”, kata Hikaru walaupun ia tak tahu kenapa Saifu begitu marah.

“Sudahlah Fu… aku tak apa – apa kok..mungkin karena saat itu aku pakai baju seperti pelayan..”, kata Ryutaro setelah mendengar keluhan Saifu siang itu.

“Tapi… aku tak suka ia begitu sombong dengan menyuruhmu…”, seru Saifu kesal.

“Ia sudah minta maaf…”, kata Ryutaro lagi.

Saifu terdiam, “Iya sih… tapi…”, nada suara Saifu melembut.

“Sudah ya.. aku benar – benar tak apa – apa..”, kata Ryutaro sambil tersenyum.

but that look which I saw for the first time still amazed me
You hold the key to unlock my heart, softly…
My gratitude won’t even reach your heart

“Ini dari Hikaru…”, kata Daiki saat melihat kekasihnya itu ternyata sudah di apartemennya.

“Apa ini?”, tanya Saifu sambil mengambil bingkisan dari Daiki.

“Ia baru pulang dari Taiwan… itu oleh – olehnya..”, jelas Daiki lagi.

Saifu mengangguk – angguk.

“Semalam Hikka-nii minta maaf lagi padaku..”, kata Saifu pelan.

“Lalu?”, tanya Daiki sambil membuka setelan jasnya.

“Kupikir aku juga keterlaluan..”, Saifu mengambil jas Daiki, membukakan dasi yang Daiki pakai.

“Sou ne… aku tak mengerti juga kenapa kau marah Fu-chan… tapi sudahlah.. yang penting kau sudah tak apa – apa..”, kata Daiki lalu menyentuh rambut Saifu, membelainya pelan.

“Un… maaf ya aku juga marah – marah padamu…”, kata Saifu lagi.

Daiki mengecup dahi Saifu pelan, “Tak apa… ya sudah.. aku masuk ofuro dulu ya..”, Daiki pun berlalu meninggalkan Saifu.

“Ayah… jangan bercanda denganku…”, seru Daiki dengan nada tinggi.

“Maaf Daiki.. Ayah harus melakukan ini.. kalau kau juga ingin menyelamatkan perusahaan ini… kumohon kau ikut aturan main ini..”, kata Ayahnya dengan wajah tak kalah khawatir dengan Daiki.

“Tapi Ayah… apa tak bisa dengan jalan lain? Aku yakin aku bisa menemukan jalan lain yang lebih baik..”, kata Daiki lagi.

“Ini jalan paling cepat Daiki… kumohon kau mengerti..”

Daiki meninggalkan kantor ayahnya dengan pikiran sangat kalut. Bagaimana ini jadinya? Ayahnya tiba – tiba memutuskan untuk menikahkannya dengan anak partner bisnisnya. Agar perusahaan ini terselamatkan, Ayahnya meminta Daiki menikahi orang lain. Setelah perjodohannya dengan Saifu, seharusnya Ayahnya tidak melakukan itu. Tapi hal ini diperlukan mengingat posisi perusahaannya yang hampir terpuruk.

“Okaeri…”, sambut Saifu ketika Daiki masuk.

Tanpa basa – basi Daiki menghambur ke pelukan Saifu.

“Dai-chan?? Ada apa?”, tanya Saifu bingung.

Daiki tak menjawab, pelukannya semakin erat, ia tak bisa menjelaskan apapun pada Saifu saat ini.

“Dai-chan…”, panggil Saifu lagi. Daiki tak mau menjawab, ini pasti sangat menyakitkan untuk Saifu, untuk dirinya juga.

Dengan alasan apapun sebenarnya Daiki tak akan mau melepaskan Saifu. Jika saja saat Daiki melamarnya, Saifu menerima, maka kejadian seperti ini tak akan ada. Statusnya akan jelas dengan Saifu, dan Ayahnya tak mungkin memaksanya menikah dengan orang lain.

In the middle of this road that goes on endlessly,
I wonder what you are thinking
Don’t ever forget, let me softly stay by your heart
There was a time when I would mess around,
hiding my pains in the darkness,

“Fu… kau baik – baik saja?”, tanya Ryutaro melihat Saifu sepertinya tidak konsentrasi akhir – akhir ini.

Saifu menoleh, tersenyum canggung, “Iya.. aku tak apa – apa.”

Ia sebenarnya memikirkan perkataan Ayah Daiki beberapa hari lalu. Ayah Daiki datang dan menjelaskan semuanya. Ia harus melepaskan Daiki karena perusahaan Daiki. Sampai saat ini sebenarnya Daiki belum mengatakan apapun, itulah yang ia bingung. Mengapa Daiki belum menjelaskan apa – apa padanya? Malah masalah ini ia dengar dari Ayahnya Daiki.

“Kau benar – benar tak apa – apa?”, tanya Ryutaro lagi, karena sepertinya Saifu berbohong padanya.

“Hanya masalah sepele kok…”, senyum Saifu terlihat getir.

“Kalau gitu, cerita aja sama aku..”, kata Ryutaro lagi.

Saifu memandang Ryutaro lama, namun akhirnya menceritakan masalahnya dengan Daiki. Saifu tak mampu menahan tangisnya, ia mulai menangis saat menceritakan bahwa ia harus putus dengan Daiki.

“Fu-chan… Arioka-san belum bilang apa – apa padamu?”, tanya Ryutaro.

Saifu menggeleng, “Aku tak mengerti kenapa dia menyembunyikan hal seperti ini?! Padahal kami tinggal bersama… tiap hari kami bertemu…”, tangis Saifu semakin keras.

Tiba – tiba Ryutaro menarik Saifu ke dalam pelukannya, “Kalau kau bersamaku, kau tidak akan menangis seperti ini Fu-chan…”, bisiknya sangat pelan, namun Saifu masih bisa mendengarnya.

“Morimoto-kun….”, tangis Saifu seketika berhenti, “Kenapa?”, tanyanya lirih.

“Suki dakara…”, bisik Ryutaro lagi.

“Morimoto-kun… tapi…”, Saifu bingung bereaksi dengan pernyataan tiba – tiba ini.

“Mereka hanya orang kaya…. Mereka tak akan mengerti perasaanmu sepenuhnya… aku bisa mengerti…”, kata Ryutaro tanpa melepaskan pelukannya.

Saifu terdiam.

Selama ini ia tak pernah berfikiran seperti itu, lagipula sebenarnya baik Daiki maupun teman – temannya tidak pernah terlihat membedakan mereka. Din mungkin memang dari kalangan elit seperti Takaki, tapi Opi-nee, Py-nee, mereka juga sama sepertinya, bukan dari kalangan elit, tapi semua Nii-channya tak pernah membedakan mereka.

Saifu melepaskan pelukan Ryutaro, “Tidak… bukan seperti itu Morimoto-kun…”, elak Saifu.

fully planning on become just another boring adult,
but you held the key to softly open up my heart
I wonder if my word of “thanks” will reach you in this moment

Daiki pulang dan mendapati apartemennya kosong. Ia ingin sekali menceritakan semuanya pada Saifu, apa masalahnya? Dan bagaimana ia sudah mendapatkan penyelesaiannya?

Sekali lagi Daiki menempelkan ponselnya di telinga, mencoba meraih dimana Saifu berada.

To : my Fu-chan
Subject : doko?
Kamu dimana?
Kita harus bicara…
Love,
Daiki

Tak lama ponselnya berdering, ternyata Saifu meneleponnya.

“Moshi moshi? Kau dimana?”, tanya Daiki langsung saat mengangkat telepon.

“Ini ponsel Fu-chan… aku Morimoto Ryutaro… Fu-chan sedang di kamar mandi…”, jelas orang itu.

Darah Daiki mendidih, “Dimana ini?”, tanya Daiki dengan nada sedingin es.

“Hmmm…”, suara di seberang tampak enggan.

“Jangan diangkat teleponnya!!”, seru seseorang yang Daiki tau itu suara Saifu.

Telepon pun ditutup. Daiki berusaha menghubunginya kembali, namun telepon Saifu benar – benar mati.

Dengan kalut Daiki menelepon Yabu, Hikaru, Takaki dan Inoo. Semuanya sepakat untuk mencari Saifu karena kebetulan mereka juga sedang diluar.

“Iya… aku di jalan menuju ke klub…”, kata Yabu di seberang sana, sepertinya sedang mengemudi, “Tenang saja… kita pasti bisa menemukannya..”, kata Yabu lalu menutup teleponnya.

“Oke… alamat pria itu sudah kuketahui… kau meluncur kesana sekarang… aku juga akan kesana..”, kata Takaki. Baginya informasi semacam alamat adalah hal mudah.

Daiki bergegas meluncur dengan mobil sport kuning itu, sepanjang jalan pikirannya hanya dipenuhi oleh bagaimana Saifu dan pria itu bisa bersama hingga larut malam? Apa yang mereka lakukan? Pikiran Daiki penuh dengan asumsi bahwa Saifu mengkhianatinya.

Ponselnya berdering, Daiki melirik ke layarnya, ternyata dari Hikaru. Ia akan mengangkat telepon itu ketika sebuah truk meluncur di hadapannya. Daiki mencoba membanting setir, namun terlambat. Hal terakhir yang Daiki ingat adalah gelap, ia merasa tak berdaya.

In the middle of this road that goes on endlessly,
I wonder what you are thinking
Don’t ever forget, let me softly stay by your heart

Takaki mencoba menelepon Daiki, namun sama sekali tak diangkat. Ia sudah ada di depan apartemen milik pria bernama Ryutaro Morimoto itu. Baik Yabu maupun yang lain juga tidak mengangkat teleponnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu apartemen itu. Siapa tau Saifu memang disini?

Seorang pria yang cukup tinggi dan muda membuka pintu.

“Ya? Cari siapa?”, tanya pria di hadapannya itu.

“Kau Morimoto Ryutaro?”, tanya Takaki hati – hati.

Ryutaro mengangguk, “Ya… ada apa?”

Takaki tak menjawab, lalu mendorong Ryutaro dari pintu. Ia masuk ke apartemen sederhana itu, dan mendapati Saifu sedang duduk di ruang tengah itu.

“Yuya-Nii!!”, Saifu kaget sekali Takaki ada disitu.

“Fu… ini gak lucu… ngapain kamu malam – malam ada di apartemen ini?”, nada suara Takaki meninggi, tandanya ia benar marah.

“Hmmm… itu… Nii-chan… itu…”

“Apa?!!”, Takaki berbalik menghadap Ryutaro, “KAU!! KAU YANG MEMBA…”

“Bukan Nii-chan!! Bukan!!”, seru Saifu sambil mencegah Takaki memukul Ryutaro.

Ponsel Takaki berbunyi, Takaki mengangkatnya tanpa melihat namanya.

“Ya? APA??!! Kau serius??!!”, Takaki tampak kalut.

Baik Ryutaro maupun Saifu hanya melihat Takaki bingung.

“Fu… kita harus ke Rumah Sakit…”, kata Takaki.

“Eh? Ada apa Nii-chan?”, tangannya sudah ditarik oleh Takaki.

“Dai-chan kecelakaan..”

“HAAAAHHH??!!”, seketika tangis Saifu meleleh.

Looking back on the days we were together,
you were the one who taught me that I was not alone

“Bagaimana keadaannya?”, tanya Takaki saat tiba di Rumah Sakit.

Hikaru, Yabu, Inoo, Din, Opi dan Py sudah ada disana.

Din menghampiri Takaki dengan berurai air mata, “Dai-chan kena serangan jantung… ia sedang operasi sekarang…”, Din menghambur memeluk suaminya.

“Hah?”, tangis Saifu semakin keras, ia terduduk dan menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya.

Py menghampiri Saifu lalu memeluknya, “Daijoubu Fu… ia pasti tak akan apa – apa…”, katanya mencoba menenangkan Saifu.

“Dai-chaaaannn~”, isak tangis Saifu semakin keras.

“Aku beli kopi dulu…”, kata Yabu sambil berdiri.

Semua orang tahu, jika Yabu menghindar, ia pasti ingin menangis sendirian, menenangkan diri.

Saifu belum juga berhenti menangis, pikirannya dipenuhi oleh Daiki. Ia sangat menyesal melarikan diri dari Daiki, hingga kini Daiki kecelakaan saat mencarinya. Hampir tiga jam setelahnya lorong Rumah Sakit itu hening. Hanya tangis Saifu yang terdengar. Semuanya dalam ketegangan menunggu hasil operasi Daiki, tak ada yang berani bicara apapun.

Tak lama seorang dokter keluar dari ruang operasi itu.

“Bagaimana dokter?”, tanya Yabu cepat.

“Ia akan baik – baik saja. Lukanya sangat parah, tapi tak menyebabkan pendarahan di dalam..”, kata dokter itu.

Semuanya tampak lega, mereka pun bergegas ke ruangan Daiki. Perban di seluruh tubuhnya, di tambah infus dan beberapa alat lain di sekeliling Daiki.

Saifu mendekati tubuh Daiki, melihatnya dengan perasaan campur aduk.

“Dai-chan…”, bisik Saifu lirih sambil menggenggam tangan Daiki, “Gomen…”.

I have decided that I would be the one to stand by your side
in times of sadness

Setelah lima hari tak sadar, akhirnya Daiki sadar juga. Ia mengerjapkan matanya, merasa sangat pusing pada saat bersamaan. Ia merasa tangannya dipegang seseorang.

“Fu…”

Saifu terbangun, ia kaget melihat Daiki sudah sadar, “Dai-chan…”

Daiki tersenyum, Saifu tak kuat melihat Daiki seperti ini. Ia memeluk Daiki yang masih terbaring, “Yokatta kau sudah sadar…”, kata Saifu sambil terisak.

“Hei… jangan menangis.. aku tak apa – apa…”, bisik Daiki.

Saifu melepaskan pelukannya, “Tidak apa – apa bagaimana?!!”, seru Saifu memukul dada Daiki pelan.

“Ouch… kau bisa dihukum karena mencoba menyakiti pasien…”, kata Daiki.

“Huwaaaa~ Dai-chan…”.

“Dai-chan… maaf ya… aku… hari itu aku…”, Saifu terbata – bata.

“Kau dimana hari itu?”, tanya Daiki yang kini sudah bisa duduk di ranjangnya.

“Di apartemen Morimoto-kun… aku ingin menenangkan diri…”, kata Saifu sambil tertunduk.

Daiki memalingkan mukanya, “Kau kenapa sebenarnya?”, tanyanya.

Akhirnya Saifu menceritakan masalah Ayah Daiki yang datang dan memberi tahu tentang rencana Daiki di nikahkan dengan orang lain.

“Kenapa Dai-chan gak bilang sama aku?”, tanya Saifu sedikit kesal pada Daiki.

“Karena aku ingin melindungimu Fu…”, jelas Daiki.

“Hah? Maksudnya?”

“Karena aku yakin aku akan menemukan jalan keluar yang lebih baik untuk perusahaan itu. Aku tak akan meninggalkanmu… itu sebabnya aku belum bisa menceritakannya padamu…”

“Eh?? Hontou?”

Daiki mengangguk, “Dan aku sudah menemukan jalan keluar untuk perusahaan… aku ingin menceritakannya padamu, tapi kau malah ngambek dan melarikan diri..”, kata Daiki lagi.

Saifu beranjak dan memeluk Daiki, “Gomen… aku… aku malah berasumsi macam – macam soal Dai-chan… aku pikir Dai-chan sudah menerima perjodohan itu…”

“Bodoh… orang yang dijodohkan denganku itu Suzuki Saifu… tak ada orang lain…”, kata Daiki membelai kepala Saifu lembut.

“Dai-chaann~”, panggil Saifu lalu menatap Daiki.

“Ya?”, kini mereka di jarak sangat dekat.

“Will you marry me?”, tanya Saifu.

“EH??!!”, Daiki kaget.

“Aku gak mau kehilangan Dai-chan lagi… aku takut…”, seru Saifu sambil memeluk Daiki lagi.

“Hahaha.. baiklah… jangan harap kau bisa melarikan diri lagi…”

Saifu menatap Daiki.

“Will you marry me? Suzuki Saifu?”

Saifu mengangguk lalu meraih bibir Daiki, mereka berciuman lama.

“Yuhuuuu~ jadi setelah pernikahanku, akan ada pernikahan Saifu dan Dai-chan..”, kata Hikaru dari pintu.

“Heee??”, muka Saifu memerah karena sadar sejak tadi diperhatikan orang – orang.

“Omedetou ya Fu-chan… Dai-chan…”, kata Din yang membawa serta Yuuri.

“Omedetou..”, yang lain pun memeberikan selamat pada keduanya.

Saifu menyesal pernah berburuk sangka pada teman – temannya ini. Din dan Takaki, Inoo dan Opi, Py dan Hikaru, bahkan Yabu pun adalah temannya yang sangat berharga. Mereka tak pernah membedakan dari mana ia berasal.

“Kou-chan kapan?”, tanya Hikaru melihat Yabu.

Yabu malah mengedarkan pandangannya, “Aku akan jadi single sampai kalian smeua punya anak… hahahaha…”

“Baka!”, seru Din memukul pelan bahu Yabu.

“Jadi kapan kalian menikah?”, tanya Opi pada Daiki.

“Secepatnya… aku takut pengantinku kabur lagi…”, kata Daiki disambut tawa semua orang.

Saifu memeluk Daiki lagi, “Aku tak akan kabur lagi…”, jawabnya mantap.

Don’t ever forget, that I love you…
Even if I lost you tonight,I won’t ever forget,
because I love you
Don’t ever forget, because I love you

(Aishiteru Kara by. KAT-TUN)

———————-
OWARIIIIII!!!
Yeah! Oneshot beneran… LOL
Silahkan di komen… maap rada gaje… saia juga aneh bacanya…tapi tak apeu ya??? 😛
COMMENTS pleasssee!! 😛



Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] Because I Love You *We Are side story*

  1. dinchan

    hahaha… selamat datang di blog q.. 😛
    banyaaakkk kalo lagu KAT-TUN semuanya enak… yang Rock apalagi…
    kalo yang di lagu ini mellow..
    hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s