[Multichapter] Happiness (chap 2)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Two
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance and Friendship
Ratting    : G
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Ikuta Rei (OC), Sakurai Rena (OC), Ohno Hiroki (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~Chapter 2~



Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam ketika Kazunari tiba di rumah. Ia melempar tasnya lalu berjalan menuju lemari es untuk mengambil minuman.

“Aaah~ segar sekali.”

Kazunari meregangkan tubuhnya sejenak. Kegiatannya hari ini sangat padat. Setelah mengurus laporan-laporan tentang sekolah, ia lalu dipaksa pergi minum-minum bersama temannya. Tentu saja ia tidak ikut minum karena akan sangat buruk jika pagi-pagi ia masih terasa mabuk sementara ia harus mengajar di TK.

Suasana rumahnya sangat sepi. Ia merasa Opi ada di kamarnya. Tapi ia tidak tahu apa adiknya itu sudah tidur atau belum. Ia lalu berjalan menuju kamar Opi untuk memastikannya.

Kazunari sudah di depan pintu kamar Opi. Ia hampir saja mengetuk pintu, ketika tiba-tiba ia mendengar Opi berbicara tentang hal yang sepertinya ia ketahui.

“…….ternyata dia sudah punya anak,” kata Opi saat Kazunari berusaha mendengar pembicaraan. Sepertinya Opi sedang berbicara di ponselnya.

“Kamu tidak akan tahu kalau belum melihatnya. Dia sangat berbeda dengan laki-laki lain. Tapi sayangnya aku harus patah hati saat tahu kalau anaknya ternyata salah satu murid An-chan,” lanjut Opi.

Tidak salah lagi. Orang yang adiknya bicarakan itu adalah Sho Sakurai, temannya sendiri.

“Apa maksudmu, Dai? Kalau dia mempunyai anak, tentu saja dia mempunyai istri. Aku tidak mau mengganggu rumah tangga orang lain. Aku tidak sejahat itu,” kata Opi melanjutkan lagi

Kazunari menyenderkan tubuhnya pada dinding. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ternyata adiknya menyukai Sho Sakurai. Ia tahu ini aneh, tapi yang jelas ia sangat tidak menyukai kenyataan ini. Ia sangat berharap jika dirinya salah mendengar atau tidak pernah mendengar kata-kata itu sama sekali.

From : Kazu An-chan
Subject : Urgent
Kalau sudah pulang, tolong antarkan barang.
An-chan tunggu di TK.
Np: kalau tidak datang,jangan harap dapat makan malam ^^

“Hah?” seru Opi sedikit kesal setelah membaca pesan dari Kazunari.

“Ada apa?” tanya Daiki Arioka, teman kelompok Opi. Mereka baru saja melepas lelah di kantin kampus.

Opi mendengus pelan. Kadang ia kesal dengan kakaknya yang suka seenaknya.

“Tidak apa-apa. Hanya ada pesan dari An-chan,” jawab Opi pelan.”Sepertinya aku harus pulang sekarang. Kalau ada apa-apa tentang hasil praktikum kita, beritahu aku,” lanjutnya.

“Tentu. Lalu kalau ada apa-apa denganmu karena kakakmu, beritahu aku juga,” balas Daiki lalu tertawa. Mau tidak mau, Opi ikut tertawa juga. Daiki memang sangat tahu tentang kebiasaan Kazunari karena kadang ia datang ke rumah Opi untuk mengerjakan tugas mereka.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2.15 siang saat Opi melihat jam tangannya. Tadi ia mendapat telepon dari Kazunari kalau ia harus sampai di TK pada pukul 2.30.

“Yabai~ mana mungkin sampai di TK dalam waktu 15 menit?” gerutu Opi sambil berlari. Kedua tangannya sibuk membawa buku dan tasnya. Berulang kali ia membenarkan posisi tas dan bukunya. Emosinya hampir saja meledak saat tak jauh dari posisinya, berhenti sebuah mobil. Perlahan kaca jendelanya turun dan terlihat orang yang dikenal oleh Opi.

“Sakurai-san?”

“Sedang apa?” tanya Sho.

“Menunggu bis,” jawab Opi.

“Memangnya mau kemana?”

“Ke TK.”

“Ayo masuk!” perintah Sho kemudian.

Opi sedikit ragu untuk masuk ke dalam mobil. Tapi pintu sudah terbuka dan Sho menatapnya dengan tatapan seolah berkata ‘Cepat masuk sebelum membuat masalah di jalanan’. Akhirnya ia masuk walaupun masih dengan perasaan enggan.

“Kelihatannya kamu terburu-buru sekali?” Sho memulai pembicaraan karena sejak tadi Opi hanya diam  saja.

“Begitulah,” jawab Opi tidak yakin. “Sumimasen. Aku sudah merepotkan Sakurai-san sampai harus mengantar,” ucap Opi sambil menundukkan kepalanya berulang kali.

Sho yang di belakang kemudi lalu memberi senyuman.”Tidak perlu seperti itu. Aku juga sekalian menjemput Reina.”

Menyebut nama Reina, tiba-tiba Opi teringat dengan pembicaraan dirinya dengan Kazunari beberapa hari yang lalu. Apa benar Reina itu anak Sho Sakurai?

“Apa?” tanya Sho ramah.

“Eh?” Opi tidak mengerti karena Sho tiba-tiba bertanya.

“Tadi kamu bertanya tentang Reina. Ada apa?” tanya Sho lagi.

Opi merutuki dirinya sendiri. Lagi-lagi ia menyuarakan pikirannya. Opi kesal sekali dengan kebiasaannya yang aneh ini.

“Ano~ tadi aku hanya bertanya, apa Reina-chan…..anak Sakurai-san?” tanya Opi pelan.

Sho terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan Opi. Opi lalu menyesal sudah menanyakan hal yang aneh karena tiba-tiba Sho diam.

“Sumimasen. Tidak dijawab juga tidak apa-apa. Maaf sudah menanyakan hal yang aneh,” ucap Opi menyesal.

“Tentu saja Reina itu anakku,” kata Sho sambil tersenyum.

“Oh~” Opi mengangguk-angguk. Tentu saja Reina itu anak Sakurai-san, batin Opi. Sepertinya hanya mimpi saja kalau Opi mendengar Sho menyangkal perkataannya. Dan sekali lagi Opi patah hati untuk hal yang sama.

Tak berapa lama, mereka sudah sampai di TK. Seperti biasa kalau jam-jam seperti ini, sekolah sudah terlihat sepi. Hanya beberapa anak saja yang memang belum dijemput dan salah satunya adalah Reina yang sedang duduk di ayunan sambil menunggu.

“Reina~” panggil Sho begitu ia dan Opi memasuki kawasan sekolah.

Terlihat Reina langsung menoleh cepat dan terkembang senyuman manis dan senang karena Sho sudah datang.

“Papa!!” seru Reina sambil berlari kecil menghampiri Sho dan Opi.

“Gomen ne. Papa terlambat menjemput lagi,” kata Sho sambil berlutut.

Reina mengangguk mantap. ”Reina tahu Papa sedang bekerja. Jadi tidak perlu mencemaskan Reina,” sahut Reina. Ia lalu melihat Opi yang diam saja di samping Papa-nya.

Opi yang menyadari dirinya ditatap oleh Reina lalu tersenyum.”Hai, Reina-chan!”

“Opi-chan!!” Reina langsung menghamburkan pelukan kepada Opi.

“Loh? Kenapa Papa bisa bersama Opi-chan?” tanya Reina ketika ia menyadari Sho datang bersama Opi.

“Uumm~” Opi bingung harus menjawab apa.

“Tadi Papa bertemu Opi di jalan. Karena sama-sama akan ke sini, jadi Papa ajak saja,” jawab Sho.

Opi hanya membalas dengan cengiran khasnya.

“Loh? Kamu datang bersama Sho?” suara itu keluar dari Kazunari yang sedang berjalan menghampiri mereka.

“Hanya kebetulan bertemu di jalan,” sangkal Opi mengulang jawaban Sho.

“Oh”.Kazunari mengangguk.”Ini,” Kazunari lalu menyerahkan benda yang sudah dibungkus dengan kertas berwarna coklat.

“Apa ini?” tanya Opi heran.

“Itu barang yang harus kamu antar sekarang,” jawab Kazunari. ”Dan jangan coba-coba mengintip apa isinya.” Kazunari memperingati.

Opi mengerucutkan bibirnya.

“Perlu aku antar?” tawar Sho ramah.

“Tidak,” tolak Kazunari cepat. Opi maupun Sho langsung menoleh kepada Kazunari dengan pertanyaan yang sama. Kenapa tidak perlu? Bukankah lebih cepat kalau diantar?

Kazunari gelagapan karena ternyata reaksinya berlebihan. “Maksudku tidak perlu diantar karena tujuannya dekat dari sini,”ralatnya.

“Kalau dekat, kenapa harus aku yang mengantar? Kenapa bukan An-chan saja?” tanya Opi bingung.

“Karena An-chan ada keperluan. Sudah sana. Nanti kamu terlambat mengantarnya. Kalau sampai terlambat, tidak ada makan malam untukmu,” ancam Kazunari.

“An-chan curang. Ya sudah aku pergi sekarang. Dadah Reina-chan..”

“Dadah, Opi-chan,” balas Reina sambil melambaikan tangannya.

Opi lalu pergi setelah menundukkan kepalanya pada Sho dan Sho membalasnya.

“Kau terlalu keras padanya,” kata Sho pada Kazunari.

“Dia sudah terbiasa,” balas Kazunari dingin. “Sho, bukankah kau harus bekerja 2 jam lagi?” ucapnya mengingatkan.

Sho menatap jam tangannya. “Kau benar.”

“Sampai bertemu besok, Reina-chan.”

“Un~. Dadah Ninomiya-sensei.”

Kazunari memperhatikan mobil Sho membelok ke jalan raya. Ia lalu berbalik dan mengeluarkan keitai-nya kemudian menghubungkannya kepada seseorang.

“Moshi-moshi. Kamu ada waktu hari ini?”

“Tidak seperti biasa kau mengajakku minum duluan,” kata Aiba pada Kazunari yang sedang minum. Mereka duduk berdampingan di sebuat bar langganan mereka.

“Pikiranku sedang kacau,” jawab Kazunari singkat.

“Kalau pikiranmu sedang kacau, berarti ini tentang Opi. Benar kan?” tebak Aiba.

Kazunari tidak membenarkan tapi juga tidak menyangkal. Ia hanya diam saja sambil fokus memperhatikan minuman yang ada pada gelasnya.

“Jadi apa yang terjadi dengan Opi-chan? Apa dia punya pacar?” Aiba menebak pikiran Kazunari lagi. “Atau dia menyukai seseorang?”

Kazunari meletakkan gelasnya dengan kasar. “Kau berisik sekali, Masaki.”

“Gomen…gomen.” Aiba lalu tersenyum jahil. “Tapi pasti ada hubungannya dengan Opi. Karena kau seperti ini setiap kali Opi-chan menyukai seseorang atau berpacaran.”

Kazunari tetap diam. Ia kembali menuangkan minumannya ke dalam gelas. Kalau Aiba tidak salah menghitung, ini sudah gelas keenam yang Kazunari minum.

“Jadi yang mana?” tanya Aiba.

“Apanya?” Kazunari bertanya kembali.

“Opi-chan sudah mempunyai pacar atau dia sedang menyukai seseorang?”

Kazunari mengerutkan keningnya. “Kenapa kau ingin sekali tahu?”

“Karena tentang masalahmu, yang aku tahu, kau sangat menyayangi Opi-chan,” jawab Aiba.

“Tentu saja aku menyayanginya. Dia adikku,” tegas Kazunari.

“Tidak..tidak. Lebih dari itu,” ralat Aiba. “Kau mencintainya, Kazunari,” kata Aiba yakin.

Kazunari melirik Aiba dengan tajam lalu mnghabiskan minuman di gelasnya dengan sekali teguk.

Kazunari beranjak dari duduknya.”Lebih baik aku pulang. Ternyata minum bersamamu tidak membuatku lebih baik,” katanya lalu pergi meninggalkan Aiba.

Selama perjalanan pulang, Kazunari memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Aiba.

Kau mencintainya, Kazunari

“Aaaaaggghhh~” teriak Kazunari kesal setiap kali teringat kata-kata itu.

Saat Aiba mengatakannya, ingin sekali ia menyangkal. Tapi tidak bisa karena semua yang diucapkan Aiba itu benar. Ia menyayangi Opi melebihi rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Ini aneh dan…gila. Bagaimana mungkin ia mencintai adiknya sendiri? Dan yang lebih menyakitkan, ia sama sekali tidak dapat mengontrol perasaannya. Semakin hari rasa suka itu semakin besar dan membuatnya tidak merelakan gadis itu untuk menjadi milik orang lain. Itulah alasannya kenapa pikiran Kazunari selalu menjadi kacau saat mengetahui adiknya menyukai seseorang.

——-

Sho pusing sekali hari ini. Sejak pagi Reina merajuk karena ia lupa membelikan crayon untuknya. Pekerjaannya sangat padat akhir-akhir ini sehingga Sho sedikit melupakan hal-hal yang kecil. Tadi ia berencana untuk mengajak Reina berbelanja tapi Reina hanya diam saja. Ajakannya berhasil setelah Sho berkata akan membelikannya crayon baru hari ini.

Sho dan Reina memilih pergi berbelanja dengan naik bis. Karena hari ini hari minggu, Sho ingin menikmati acara berbelanjanya dengan Reina. Untuk mencapai halte bis, mereka membutuhkan waktu 10 menit dengan jalan kaki.

“Papa, hari ini Reina ingin makan kare,” ucap Reina manja.

“Baiklah,” jawab Sho sambil tersenyum.

“Ah~ Papa..papa,” Reina menarik tangan Sho lalu menunjuk ke sebuah rumah dengan jari kecilnya.“Itu rumah Hiro-chan.”

“Hontou desuka?”

Sho memperhatikan rumah yang sederhana itu. Ia melihat di dindingnya tertulis nama ‘OHNO’.

“Kamu benar, Reina. Ini rumah Hiro-chan,” kata Sho yakin.

Selagi Sho memperhatikan rumah keluarga Ohno, muncul seorang gadis berambut sebahu keluar dari rumah sebelah. Sho menatap sekilas gadis itu. Ia tidak akan menyadari siapa gadis itu kalau saja Reina tidak memanggilnya.

“Opi-chan!!!!!!”

“Loh? Reina-chan? Sedang apa di sini?” tanya Opi lalu menghampiri Sho dan Reina.

“Reina dan Papa mau belanja hari ini. Iya kan, Pa?” Reina menoleh kepada Sho.

Sho mengangguk. “Iya.” Ia lalu melirik papan nama pada rumah sebelah. ‘NINOMIYA’.

“Konichiwa, Sakurai-san!” sapa Opi sedikit canggung mengingat pembicaraan mereka terakhir kali yang kurang mengenakan.

“Konichiwa! Mau pergi?” tanya Sho ramah.

“Iya. Mau belanja. Persediaan di rumah sudah habis,” jelas Opi.

“Kebetulan sekali. Kami juga. Bagaimana kalau pergi bersama?” tawar Sho.

“Eh?”

“Ayo, Opi-chan. Pasti seru berbelanja bersama-sama,” timpal Reina sangat bersemangat.

Opi terlihat memikirkan sesuatu, lalu berkata, ”Sepertinya tidak. Aku tidak ingin mengganggu liburan kalian. Mata~”

Opi berbalik dan berjalan pergi. Sho tahu Opi sudah menolak tawarannya, tapi entah kenapa ia ingin menahan gadis itu agar tidak pergi.

“Opi-san!!” panggil Sho setengah berteriak karena Opi sudah berjalan agak jauh.

Opi mendengar panggilan Sho, lalu berbalik lagi.

“Kalau untuk minum teh?” tanya Sho tidak yakin.

“Eh?”

“Jadi kamu kuliah di Keio?” tanya Sho saat mereka bertiga sudah ada di sebuah café. Sho dan Opi duduk berhadapan, sedangkan Reina sedang bermain di taman yang penuh dengan permainan yang disediakan oleh café .

“Hai. Nande?” tanya Opi.

“Aku dulu kuliah di Keio juga. Jadi kamu kouhai-ku ternyata,” jawab Sho.

“Maji de? Kebetulan sekali.”

Sho tidak menyangka mengobrol dengan Opi akan semenyenangkan ini. Saat pertama kali bertemu dengan Opi di sekolah Reina, ia berpikir Opi adalah gadis yang membosankan dan manja pada kakaknya, Kazunari. Ia hanya mengenal Opi karena gadis itu adalah adik dari temannya. Tapi siang ini ia menemukan sesuatu yang menarik yaitu ia senang saat Opi bercerita segala hal.

“Oia, aku baru tahu ternyata Sakurai-san seorang pembawa berita. Menarik sekali ada orang yang kukenal ada di dalam tv ahahahha….” Opi tertawa renyah sambil mendorong troly nya. Pada akhirnya Opi berbelanja bersama-sama dengan Sho dan Reina atas paksaan Reina.

“Papa keren kan saat ada di tv?” tanya Reina pada Opi.

“Keren,” jawab Opi mantap. “Hanya saja terlihat aneh.”

“Aneh?” tanya Sho penasaran.

Opi mengangguk. “Karena sangat jauh berbeda saat aku berbicara dengan Sakurai-san seperti tadi dengan melihat Sakurai-san di tv. Seperti melihat dua orang yang berbeda.”

“Hontou ni? Lalu kau menyukai yang di tv atau yang di depanmu sekarang?” tanya Sho.

Opi tidak tahu harus menjawab apa. Ia terlalu kaget mendengar pertanyaan yang membuat jantungnya berdegup kencang, walaupun pertanyaan itu sangat biasa untuk dikatakan.

“uumm…itu…yang mana yah?” Opi masih kebingungan.

“Kalau Reina suka Papa waktu sedang memasak,” sahut Reina semangat.

“Oia? Papa Reina-chan bisa memasak?” tanya Opi pada Reina sekaligus mengalihkan pembicaraan.

Reina lalu mengangguk cepat. “Waktu Papa memasak, kadang serius seperti ini,” Reina menarik kedua alisnya menunjukkan wajah serius. ”Tapi kadang juga senyum-senyum sendiri kalau masakannya enak,” lanjutnya.

Mendengar ocehan Reina yang sudah berbicara terlalu banyak, Sho lalu menutup mulut Reina dengan tangannya sambil menggerutu. “Cukup Reina-chan. Mau sampai mana mempermalukan Papa?”

Opi tertawa lagi. “Ahahaha…itu tidak memalukan, Sakurai-san. Aku tidak tahu Sakurai-san suka memasak.”

“Aku masih belajar. Kadang kalau ada resep baru, aku mencobanya di rumah. Tapi Reina sering tidak mau mencicipinya,” ucap Sho dengan suara lemas.

“Karena rasanya campur aduk,” balas Reina sambil cemberut.

“Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang mencicipi masakan Sakurai-san?” usul Opi.

“Tidak apa-apa?”

“Dengan senang hati,” balas Opi.

Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan untuknya. Ia tidak menyangka akan berbicara banyak dengan laki-laki itu dan mengetahui banyak hal. Tentang Sho yang pernah berkuliah di Keio, universitas yang sama dengannya. Juga tentang Sho yang bisa memasak. Apalagi ia diijinkan menjadi pencicip masakannya. Seketika ia melupakan kalau ia tidak boleh mendekati Sho. Tapi kesenangannya menghalangi batasan yang sudah Opi bangun sendiri.

“Opi, arigatou…” ucap Sho pada Opi yang mengantarnya pulang sekaligus membantunya membawakan belanjaannya karena Reina sudah tertidur saat perjalanan pulang di punggung Sho. “Gomen sudah merepotkanmu.”

“Daijoubu. Reina-chan pasti kelelahan. Tapi aku senang bisa berbelanja bersama Reina-chan,” jelas Opi.

“Hanya dengan Reina?” tanya Sho.

“Eh?”

“Bukankah kau juga berbelanja denganku?” Sho mengingatkan kehadiran dirinya.

“Ah~ dengan Sakurai-san juga,” tambah Opi sedikit malu.

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Ja matta~” pamit Opi.

“Opi!” panggil Sho menghentikan langkah Opi.

“Nani?”

“Tidak ada apa-apa. Ja ne~” balas Sho lalu masuk ke dalam apartemennya setelah sosok Opi menghilang di sudut koridor.

Sebenarnya tadi Sho ingin mengantar Opi. Tapi sepertinya Opi akan menolaknya. Selain itu, ia merasa sikap Kazunari sedikit aneh terhadapnya dan ia tidak tahu alasannya. Sho memutuskan untuk sementara ini menghindari Kazunari terlebih dahulu, baru ia akan bertanya padanya.

=============
Aiba memerhatikan gadis di sampingnya yang masih tertidur lelap. Ia menopang kepalanya, menelusuri tiap lekuk wajah gadisnya itu. Tangannya bergerak membelai wajah gadis itu.

“Bangun Dinchan.. sudah pagi..”, bisik Aiba tepat di telinga Din.

Din bergerak,menggeliat, lalu sedikit demi sedikit membuka matanya.

“Ohayou…”, sapa Aiba ketika Din membuka matanya.

“Ohayou Masaki-kun..”, jawab Din mengerjapkan matanya karena sedikit silau.

Aiba membelai bahu Din, membawanya ke dalam pelukannya.

“Dingin…”, keluh Din.

Tangan pria itu melingkar di tubuhnya. Ya, ia tak memakai pakaian barang sehelai. Pantas saja ia merasa kedinginan, hanya selimut lah yang menutupi tubuhnya dan Aiba.

“Ayo sarapan… hari ini kan kita akan kencan..”, kata Aiba lagi.

Din masih enggan bergerak, namun Aiba beranjak dari ranjang.

“Aku tunggu di meja makan… aku akan membuatkanmu sarapan…”, katanya lagi.

“Wakatta..”, jawab Din pelan.

Setelah mandi dan siap – siap Din beranjak ke meja makan. Aiba sedang memasak, memunggunginya.

“Bikin apa sih?”, tanya Din penasaran.

“Rahasia…”, jawabnya sambil sedikit menoleh pada Din.

Din manyun dan mulai memainkan ponselnya, sebuah pesan masuk tadi malam belum ia baca.

From : Jun-kun
Subject : (no subject)
Besok pagi aku ada pemotretan kan?
Kenapa kudengar kau off besok?

Ia tahu hari ini ada pemotretan untuk Jun. Tapi ia sudah izin pada manajer Jun hari ini ia tidak bisa menemani Jun. Lalu karena selama lima bulan ini ia tak pernah meminta libur, akhirnya permintaan Din untuk off diterima.

To : Jun-kun
Subject : re: (no subject)
Hari ini aku off~
Bersenang2lah tanpaku Jun..
😛

“Kenapa?”, tanya Aiba yang membawa dua porsi sandwich di sebuah piring.

Karena kaget Din malah lupa memencet tombol ‘send’.

“Tidak ada apa – apa..”, kata Din menutup ponselnya.

“Memangnya ia libur hari ini?”, tanya Aiba lagi sambil duduk di hadapan Din.

“Jun?”, Din mengambil sandwich itu, memakannya hati – hati.

Aiba mengangguk, “Tumben dia bisa libur…”

“Sebenarnya aku yang libur…hehehe… habis kalo gak gini, kapan lagi aku bisa bersama Masaki-kun?”, ucap Din pelan.

Aiba merasa bersalah karena kekasihnya itu merasa kesepian selama ini. Aiba hanya melihat kekasihnya itu lama, memerhatikan Din yang masih makan dengan lahap.

“Gomen…”, kata Aiba lalu memeluk bahu Din dari belakang.

“Eh? Kenapa Masaki-kun?”, tanya Din bingung.

“Maaf ya… kau kesepian ya?”, kata Aiba lembut.

Din tak menjawab, meraih tangan Aiba yang melingkar di lehernya.

“Aku tak apa – apa kok Masaki-kun…”, jawab Din pelan.

Sekali lagi Jun mencoba menghubungi Din, namun hasilnya nihil. Manajernya, Takeda, hari ini mendampinginya.

“Jun.. berhenti mengeluh dan menghela nafas seperti itu..”, kata Takeda sebal.

“Diam kau…”, elak Jun sambil kembali membuka ponselnya, mencoba menghubungi Din.

“Jun… kau harus take sekarang…”, Takeda mengambil ponsel Jun, “Ini akan kusita hingga pengambilan gambar ini selesai…”

“Takeda!!!”

Takeda tak menjawab lalu mengisyaratkan Jun ke lokasi pengambilan gambar.

“Hufft…”, umpat Jun namun akhirnya pergi juga ke lokasi.

Jun tak bisa konsentrasi, karena Din sama sekali belum membalas e-mailnya semalam. Sejujurnya karena dia khawatir pada Din. Entah sejak kapan ia mulai memperhatikan Din lebih dari sekedar seorang asistennya, maka setiap Din tak ada kabar, ia malah lebih khawatir akan terjadi apa – apa terhadap Din.

Jun sendiri tahu bahwa Din sudah punya pacar. Lebih buruk, pacar Din adalah temannya sejak kecil, tapi ia juga tak bisa membohongi dirinya dan perasaannya sendiri.

Lokasi fotonya hari ini kebetulan di sebuah taman kota. Di taman ini terdapat pemandangan indah serta sebuah danau kecil di tengah – tengah taman.

“Jun… ekspresimu kurang…”, kata fotografer itu memarahi Jun yang tidak konsentrasi.

Jun menghela nafas berat, mencoba konsentrasi pada pekerjaannya.

“Baiklah… kita kasih waktu lebih untuk kau mengumpulkan mood mu…”, kata fotografer itu sambil menggeleng karena sedikit kesal.

Pasti dipikirannya menilai Jun sebagai aktor-manja-ada-masalah-cewek. Jun sendiri sudah biasa dianggap seperti itu. Lagipula tidak salah karena memang masalahnya adalah cewek.

“Masaki-kun… itu punyaku..”

Jun menoleh mencari suara itu.

Suara yang begitu dikenalnya.

Din dan Aiba tampak sedang berpiknik di seberang tempatnya mengambil gambar.

“Masaki-kun…”, seru Din kesal karena croissant nya diambil oleh Aiba.

Aiba tak peduli lalu memakan setengah dari croissant coklat kesukaan Din. Disambut wajah kesal Din.

Hari ini akhirnya mereka memutuskan untuk berpiknik. Bukan pilihan yang biasa, tapi begitulah Aiba sering membawanya ke tempat – tempat yang aneh dan unik menurut Din.

“Wajahmu jelek sekali… baiklah…”, Aiba menyodorkan sisa croissant itu.

Din menggeleng, “Aku sudah tak mau…”, katanya kesal.

“Hahaha… ayolah…”, Aiba memiting tubuh Din dan memaksa menyuapi Din.

“Aaarrgghh!! Masaki-kun!!”, seru Din sebal.

Aiba hanya tertawa – tawa melihat kekasihnya terlihat kesal padany.

“Baiklah…”, Aiba lalu mengecup pipi Din, “Bagaimana? Dimaafkan?”, tanya Aiba lagi.

Din mengangguk sambil tersipu malu, “Hehehe.. termaafkan tuan Masaki Aiba..”, kata Din lagi.

Dengan begini mood Jun bukannya lebih baik, ia malah tambah malas bekerja dan ingin segera pergi dari tempat itu.

“Eeehh?? Jun!!”, teriak seseorang.

Jun menoleh, ternyata Aiba memanggilnya.

“Ternyata malah bertemu disini…”, kata Aiba sambil menghampiri Jun.

Jun tersenyum canggung. Niatnya melarikan diri malah ketahuan oleh Aiba.

“Yah… kenapa juga aku harus tetap bertemu denganmu saat liburan…”, keluh Din ikut menghampiri Jun.

Jun tak menjawab hanya tersenyum bingung.

“Masih lama? Kita makan siang yuk..”, ajak Aiba pada Jun.

“Masih ada beberapa sesi foto lagi…”, kata Jun dengan maksud menolak ajakan Aiba.

“Sou ne… padahal kita akan pergi makan siang sehabis ini…”, jelas Aiba.

“Hari ini tak bisa sepertinya. Hehe…”

“Iya.. lagipula aku tiap hari makan siang dengannya…”, kata Din lalu menjulurkan lidahnya pada Jun.

Jun mengacak rambut Din kesal, “Dasar bodoh..”, katanya.

“Ya sudah… kita pergi duluan ya Jun…”, pamit Aiba sambil menggamit tangan Din.

“Dadah Jun!! jangan rindukan aku…”, kata Din sambil melambai pada Jun.

Jun memandang Aiba dan Din yang semakin menjauh, dan ia bahkan merasa sangat bersalah karena harus jatuh cinta pada pacar sahabatnya sendiri.

===============
“Papaaaa!!”, seru Reina menyambut Sho yang hari ini sedikit telat menjemput Reina karena ada rapat.

“Maaf ya Reina… Papa telat..”, kata Sho sambil menyambut Reina.

“Gak apa – apa Papa…”, jawab Reina sambil tersenyum.

Tidak seperti biasanya Sho tidak menemukan Kazunari keluar untuk mengantar Reina pulang, tapi hari ini malah seorang guru lain.

“Papa… ke rumah Hiro-chan yuukk..”, ajak Reina saat mereka sudah di dalam mobil.

“Eh? Ada apa Reina?”

“Ini…”, Reina memperlihatkan sebuah gambar, “Ini punya Hiro-chan… tadi ketinggalan…”, jelasnya lagi.

“Oh… ya sudah… ayo…”, kata Sho akhirnya.

Sho untungnya masih ingat dengan alamat Hiroki kemarin, yang sempat Reina tunjuk.

Dia jadi sedikit mengingat badge nama yang berada di depan rumah Hiroki. ‘OHNO’. Persis sama dengan nama temannya dulu. Tapi di seluruh Jepang ini ada rarusan atau bahakan ribuan nama Ohno pastinya.

“Sudah sampai Reina..”, kata Sho pada Reina.

“Iya Papa… ayo!!”, ajak Reina.

Sho turun dan membukakan pintu untuk Reina. Sambil berlari – lari dan menggandeng tangan Sho, menuju ke rumah dengan tulisan ‘OHNO’ itu.

Sho memencet bel, setelahnya pintu terbuka.

Selama beberapa detik keduanya hanya saling memandang. Setelahnya keduanya tertawa karena menyadari siapa yang berada di hadapannya.

“Sakurai Sho? Iya kan??!!”, seru Satoshi sambil menghampiri Sho.

“Waaa~ hisashiburi!!”, balas Sho, memeluk teman lamanya itu.

Sho dan Reina akhirnya masuk ke rumah itu. Sho tak menyangka bahwa ia bisa bertemu kembali dengan Satoshi.

“Jadi kau ayahnya Hiroki?? Kebetulan sekali ya…hahaha..”, ujar Sho.

“Aku tak menyangka kau sudah menikah juga…”, kata Satoshi menimpali.

Sho tidak menjawab, ia hanya tersenyum menanggapi Satoshi.

“Tak kusangka seorang newscaster bisa mampir ke rumahku…”, kata Satoshi lagi.

“Eh?? kau tahu?”

“Siapa yang tidak tahu Sakurai Sho??”.

“Hahaha… kau bisa saja… bagaimana dengan kau?”, tanya Sho.

“Seperti inilah… aku punya kantor creative design… jadi kadang aku menyelasikan proyek pesanan di rumah..”, kata Ohno.

“Oh..”, Sho memandang sekeliling ruangan yang memang cukup berantakan dengan beberapa barang.

“Oh iya…Hiro sebentar lagi pulang… sepertinya istriku ke supermarket dulu sebelum pulang..”, jelas Satoshi pelan.

Tak lama, suara pintu terbuka.

“Tadaima…”, seru seseorang di pintu.

“Okaeri..”.

Hiroki masuk duluan, “Otou-chan… tadi.. eh?? ada Reina-chan??”, mata Hiroki membulat melihat Reina disitu.

“Aku membawakan gambar milik Hiroki…”, kata Reina sambil menyerahkannya Hiroki.

“Waaa!! Arigatou Reina-chan…”

“Dia ribut sekali gambarnya hilang… padahal ingin diperlihatkan padamu..”, kata Rei sambil membuka mantelnya.

“Hahaha… dasar Hiro…”, ucap Satoshi sambil mengacak pelan rambut Hiroki.

“Sakurai-kun…ini istriku Rei…”

Sho berdiri, berbalik.

Ia tak percaya apa yang ia lihat.

Rei juga membeku karena kaget.

“Ohno Rei desu…”, kata Rei terbata – bata.

——————
TBCCCCC~~
Comments are love.. maap rada2 gaje…
kebut neh…hehehhee
😛



Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chap 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s