[Oneshot] It Feels Like Love

Title        : It Feels Like Love (Saifu Gonna be Feminine side story)
Type          : Oneshot
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance and a little bit friendship
Ratting    : PG nyerempet – nyerempet lah.. #Plakk
Fandom    : JE
Starring    : Tegoshi Yuya (NEWS), Din Ikuta (OC), Yuya Takaki (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Ikuta Toma (JE), Saifu Nakajima (OC), Yamada Ryousuke (HSJ), Ryutaro Morimoto (HSJ), and other OC that I made.. 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. All JE artist are belongs to Johnnys. Other OC is mine, but Saifu is belong to Saifu . It’s sequel of Saifu Gonna Be Feminine by Fukuzawa Saya. Oneshot dengan 6 rebu kata… COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

It Feels Like Love



Dinchan’s POV

‘Upacara Penerimaan Siswa Baru’

Kubaca lagi tulisan itu untuk kesekian kali. Aku kembali menarik nafas panjang. Hari ini kehidupan baru sekolahku di mulai. Aku masuk sekolah favorit ini, sekolah yang dulu juga tempat kakak semata wayangku bersekolah.

“Tenang saja… kau akan baik – baik saja…”, kata Nii-chan yang mengantarku hingga ke gerbang depan sekolah.

“Aku takut Toma-nii…”, kataku sambil memonyongkan bibir ke arah Toma.

Toma menangkap bibirku dengan tangannya, “Baka! Ini cuma sekolah, bukan medan perang..”, katanya lagi.

Toma mendorong bahuku.

“Nii-chan…”, keluhku, sekali lagi memandangnya.

“Kau akan baik – baik saja…”, katanya lalu memberikan senyumnya.

Akhirnya aku melangkahkan kakiku sendiri ke dalam sekolah itu,aku duduk dengan gugup, menunggu acara penerimaan siswa baru dimulai di sebuah kelas bertuliskan ‘1B’. Kelasku sekarang, dan untuk setahun ke depan.

Seorang pria gondrong dengan rambut pirang menyala duduk di sebelahku, “Hai…”, sapanya pelan.

Aku hanya sanggup mengangguk dan tersenyum.

“Haaaiiii!! Inoo Kei desu!!”, teriak pria lain yang datang ke tempat ku dan pria gondrong itu, “Yuyaaa~ pagi – pagi jangan lemes gitu!!”, serunya pada pria gondrong itu.

‘Ah~ namanya Yuya..’, pikirku.

“Takaki Yuya desu…”, katanya tiba – tiba memperkenalkan dirinya padaku.

“Eh…iya.. Ikuta Din desu…”, kataku pelan.

“Ah bosan~ kita masuk klub mana ya?”, tanya Kei kesal sambil memainkan ponselnya.

Setelah perkenalan singkat pagi tadi, entah mengapa aku jadi menempel pada dua mahluk cowok ini. Sekarang adalah saatnya memilih klub untuk diikuti. Aku sendiri bingung mau ikut klub mana? Buatku semuanya sama saja, tidak ada yang menarik.

“Yuya mau ikut football? Atau karate?”, tanya Kei dengan gaya pembawa acara, membuat mic bohongan dari tangannya.

Yuya menggeleng, “Wakannai…”, katanya.

“Dinchan bagaimana?”, tanya Kei seakan sudah akrab denganku.

“Hush! Kau itu tak sopan… maaf Ikuta-san…”, kata Yuya membenarkan Kei.

“Hahaha.. tak apa Takaki-san… Inoo-san boleh memanggilku Dinchan..”, jawabku.

“Jaaa~ kalau gitu Dinchan panggil aku Kei-chan ya…”, pinta Kei padaku.

Aku hanya mengangguk.

“Kalian yang disana!”, teriak seseorang memanggil kami.

Kami serentak menoleh.

Huaaa!!

Siapa dia?

Kenapa wajahnya begitu membuatku terpana??

Ia tampan, bahkan terkesan cantik, wajah mulusnya, senyumnya mengembang, aku bagaikan tersedot pada pesonanya.

“Kalian harus masuk klub memasak…”, katanya sambil menyerahkan selebaran pada kami.

Aku menatapnya, ia benar – benar tak ada cela.

Tiba – tiba saja aku mengangguk, “Mochiron…”

“Eh??!! Hontou!!! Yokattaaa!!”, serunya sambil memegang tanganku.

Sekali lagi…

Dia memegang tanganku.

“Aku juga ikuuutt senseiii!!”, seru Kei.

Eh? Sensei??

“Sensei?”, ulangku lagi.

Dia mengangguk, “Benar… aku sudah memperkenalkan diriku kan tadi… namaku Tegoshi Yuya.. aku guru matematika disini.. yoroshiku…namamu siapa?”, tanyanya sambil mengeluarkan sebuah notes dari saku celananya.

“Ikuta Din..”, jawabku.

“Inoo Kei deeessuu!!”, seru Kei, “Dan yang ini Takaki Yuya.. dia juga ikut…”, kata Kei semangat.

“Chotto~ kenapa aku juga?”, tanya Yuya protes.

“Baiklah…besok siang sepulang sekolah kita akan berkumpul…mengerti?”, katanya lalu pergi dari tempat itu.

“Chotto matte Kei!! Kenapa aku juga ikut – ikutan?”, protes Yuya kesal.

“Karena Yuya harus ikut… kau kan juga bisa masak..”, kata Kei enteng.

“Yabai!!!”, teriakku.

“Kenapa Dinchan?”, Kei seakan kaget.

“Aku gak bisa masak…”, keluhku disambut tawa Kei yang membahana.

Setelah beberapa kali ikut klub memasak itu, aku tetap gak bisa masak. Masakanku adalah bencana menurut Tegoshi-sensei, tapi aku sedikit tak peduli, yang penting setiap kumpul, aku bisa memandang Tegoshi-sensei lebih lama.

Ya, sepertinya aku jatuh cinta pada Tegoshi-sensei. Entah mengapa, sejak saat aku melihatnya, aku merasa menyukainya. Aku tahu, perasaan ini sungguh tak mungkin berbalas. Dia guru, sedangkan aku hanya murid, tapi dengan memandangnya saja setiap aku di klub memasak, bagiku sudah cukup.

“Dinchan…”, panggil Yuya.

Aku menoleh, akhirnya setelah beberapa kali aku memintanya memanggilku Dinchan, ia setuju.

“Ya?”

“Jadi besok aku ke rumahmu jam berapa?”, tanya Yuya, masih sedingin biasanya.

“Hmmm~ jam 11 saja ya…”, jawabku lalu tersenyum.

Tak disangka, Yuya sangat mahir memasak, terutama makanan penutup, atau semacam kue. Ia bilang pengaruh dari orang tuanya yang juga mahir memasak, bahkan punya toko bakery lah yang membuatnya senang memasak juga. Tapi selama ini, ia tak pernah menunjukkannya. Kei juga pandai memasak, terlebih yang aku sempat lihat, ia berasal dari keluarga berada, karena Kei sering sekali antar – jemput leh sebuah mobil mewah.

“Sou ne!! aku ikut…”, seru Kei menghampiri kami.

Aku hanya tertawa. Kei memang selalu bisa membuat suasana tak canggung, berbeda jika aku hanya berdua dengan Yuya.

Besok, rencananya Yuya dan Kei akan mengajari aku membuat kue brownies dan biskuit. Karena tidak ada kemajuan, Tegoshi-sensei bilang aku harus banyak latihan di rumah.

“Ojyamashimasu…”, seru seseorang di depan rumah.

Aku bergegas keluar, “Takaki-kun… douzo..”, kataku sambil tersenyum menyambutnya.

“Yo!”, katanya mengagguk sedikit, “Kei-chan tidak bisa ikut… Kakeknya ingin dia berlatih hari ini…”, kata Yuya sambil membenarkan letak sepatunya.

“Latihan?”

“Iya… upacara teh. Keluarga Kei adalah keluarga master the, sehingga ia harus berlatih..”, jelas Yuya.

“Waaa~”, aku baru mengerti kenapa Kei terlihat sangat kaya.

“Siapa?”, teriak Nii-chan dari dalam.

“Temanku!!”, jawabku sedikit berteriak.

Di rumah ini hanya ada aku, kakakku, dan Ayahku. Namun hari ini Ayah ada rapat walaupun ini hari sabtu.

Yuya mulai mengajariku cara membuat adonan untuk kue dan biskuit. Ia memakai satu tempat, aku pun begitu, agar aku bisa belajar sendiri.

“Bukan gitu caranya Dinchan…”, Yuya meraih tanganku, membimbing tanganku meremas adonan di depanku.

“Eh!!”, aku sedikit kaget karena Yuya begitu dekat denganku.

“Din… aku…”, Toma-nii berdiri di depan kami, “Kalian sedang apa?”, tanyanya dengan sedikit gusar.

“Ano… itu Nii-chan… kami membuat kue.. aku diajari olehnya…”, jelasku sedikit gugup.

“Takaki Yuya desu… yoroshiku onegaishimasu..”, kata Yuya sambil membungkuk pada Toma-nii.

“Ikuta Toma desu…”, katanya dingin.

“Ada apa Nii-chan?”, tanyaku.

“Aku lapar… mau masak.. tapi karena dapur penuh, aku pesan saja deh..”, kata Toma enteng.

Tak biasanya dia mau makan makanan pesan – antar seperti ini.

“Pesan? Tumben…”, kataku.

“Jangan harap aku mau meninggalkan kalian berdua…”, cibirnya lalu kembali ke sofa ruang tamu.

“Gomen na Takaki-kun… kakakku sedikit aneh..”, kataku.

“Iiya… dia baik kok… pasti dia mengkhawatirkan adiknya sendirian bersama seorang pria..”, kata Yuya lagi.

Akhirnya kami melanjutkan membuat kue brownies. Kini hanya tinggal menunggu matang dari oven.

Yuya mengeluarkan kue itu dari oven, dua kue yang berbeda. Satu milikku, satu lagi milik Yuya.

Baunya sih cukup harum, “Huwaaa!! Milikku terlihat buruk!!”, seruku kesal, karena kue milik Yuya tentu saja lebih bagus.

“Pasti ada sedikit yang salah… tapi kupikir ini suatu kemajuan Din…”, katanya lalu memotong kue buatanku.

Tanpa basa – basi ia mencicipinya, “Uwaa!! Rasanya enak kok..”, katanya, membuatku senang dan mencobanya juga.

“Aku akan pamerkan pada Tegoshi-sensei!!”, seruku senang.

Esoknya aku berniat menemui Tegoshi-sensei. Aku akan bilang kue buatanku tidak terlalu buruk lagi sekarang.

Maka siang ini aku ke ruang guru, menunggu Tegoshi-sensei keluar dari ruangan itu.

“Tegoshi sensei!!”, teriakku ketika ku lihat sosoknya keluar dari kantor.

“Eh… ada apa Dinchan?”, sapanya sambil tersenyum.

Senyum yang selalu bisa membuatku meleleh.

“Ini…”, kataku menyerahkan kotak bento mungil, yang di dalamnya tentu saja brownies buatanku.

“Apa ini?”, katanya sambil mengambil dan berniat membukanya.

“Itu buatanku loh sensei!! Aku berusaha keras agar bisa membuatnya…”, kataku senang, walaupun kini dadaku bergemuruh karena deg – degan.

Tegoshi-sensei memakannya sedikit, “Rasanya enak Dinchan…kau ada kemajuan..”, katanya sambil menyentuh kepalaku pelan, “Kau harus lebih berusaha lagi ya…”, katanya manis, membuatku semakin senang.

“Baiklah… pelajaran hari ini selesai..”, seru Tegoshi-sensei di depan kelas.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Pelajaran ini selalu membuatku sukses terjaga dan memerhatikannya dengan seksama. Walaupun dulu aku benci matematika, kini jadi satu pelajaran favoritku. Bukan karena hal lain, hanya karena Tegoshi-sensei yang mengajar.

Kadang – kadang cinta bisa bikin kita lebih rajin dan mencintai apa yang orang itu cintai kan? Seperti aku, mulai mencintai pelajaran matematika.

“Dinchaaann~”, seru Kei tepat di telingaku.

“Huwaaa!!”, seruku kaget.

“Melamun saja…hahaha.. tadi ku bilang, ayo ke ruang klub…”, kata Kei lagi.

Aku mengagguk canggung karena takut ketahuan kalau aku menyukai Tegoshi-sensei.

“Minggu depan kita sudah ujian ya..”, kata Kei setelah kami berada di ruang klub. Yuya sedang memasak sesuatu untuk kami makan.

“Sou ne…”, timpalku.

“Huwaaa~ sebentar lagi kita kelas dua… kita sekelas lagi gak ya?”, tanya Kei pada kami berdua.

“Shiranai yo omae!!”, seru Yuya yang masih sibuk dengan masakannya.

“Aku gak mau berpisah dengan kalian…”, seru Kei lagi.

“Kau tahu Dinchan… ia selalu bilang begitu, itulah hingga sekarang, aku terjebak dengannya..”, jelas Yuya.

Yuya dan Kei memang teman sejak masih sekolah dasar.

“Yuyan jahat…”, kata Kei lagi.

Aku hanya tertawa. Anehnya, aku baru sadar mereka menjadi teman baikku sekarang. Sudah hampir setahun, dan aku tetap tak bisa dekat dengan teman cewekku di sekolah.

“Ah iya Yuyan!! Besok ada goukon… Hikaru mengajakku…”, kata Kei pada Yuya.

Yuya menggeleng, “Aku tak mau..”, jawabnya, sedingin biasanya.

“Ayolah…. Masa kita belum punya pacar sampai hampir kelas dua??”, Kei cemberut, memandang Yuya.

“Iya Takaki-kun… pergi saja.. Kei benar..”, kataku berniat membantu membujuk Yuya.

“Benar kan…”, Kei setuju, “Eh iya… Dinchan kan juga belum punya pacar…”, seru Kei heboh.

“Eh?!”, mukaku memerah seketika karena pipiku terasa panas.

“Apa mungkin… Dinchan punya orang yang disukai?”, tebak Kei, dan itu benar. Aku menyukai seseorang, sayangnya orang itu tak mungkin menyukaiku.

“Eh… itu… hmmm..”

“Siapa?!! Siapa?!!”, seru Kei bersemangat.

“Haaaii!! Makanan siaaapp~”, seru Yuya sambil menyodorkan panci panas di hadapan kami.

Kei beralih melihat makanan, “Umasooouu!!”, serunya segera mengambil sumpit yang dibawakan oleh Yuya.

Aku memandang Yuya, “Arigatou..”, ucapku tanpa suara.

Yuya mengangguk sambil tersenyum padaku.

“Kau repot – repot membuatkanku bekal setiap hari..”, katanya sambil mengambil bentou buatanku.

“Tidak apa – apa sensei… kan Sensei sendiri yang bilang aku harus banyak berlatih…”, kataku sambil tersenyum pada Tegoshi-sensei yang kini membuka bentou tersebut.

“Sou ne..aku senang kau mau membuatkanku bekal..”, katanya lagi.

Sekarang aku memutuskan untuk serius mengejar Tegoshi-sensei. Aku tak peduli orang bilang apa, lagipula cinta memang seharusnya diperjuangkan kan? Yang tahu hal ini hanya Yuya dan Kei. Mereka berdua setia menyemangati aku.

Aku jadi bersemangat hari ini. Itulah yang selalu membuat aku menajdi lebih bahagia setiap harinya. Kemunculan Tegoshi – sensei di dekatku, walaupun hanya tersenyum atau sekedar menyapa pada pagi hari membuatku senang.

Sambil bergumam sebuah lagu aku lewat di depan beberapa cewek yang lagi nongkrong. Aku tahu mereka menatapku dnegan tajam, sudah sejak lama aku menyadar hal itu. Sejak aku, Yuya dan Kei terlihat selalu bersama.

“Liat deh cewek itu… cantik aja gak.. berani – beraninya deketin dua ouji-sama disini..”, bisik yang satu.

“Iya… kayaknya dia perlu pelajaran deh..”, kata yang lain.

Aku berusaha menulikan diriku. Yang memutuskan ingin berteman denganku kan bukan aku, tapi Yuya dan Kei sendiri.

Sejak kelas dua, aku tahu aku sering sekali di bicarakan oleh orang – orang. Karena aku mendekati “ouji-sama” mereka. Yuya dan Kei sejak kelas dua semakin populer saja tampaknya.

Hari ini kegiatan klub berlangsung agak lama. Selain itu, aku ingin berlama – lama dengan Tegoshi – sensei sebenarnya. Tapi bagaimanapun, aku berusaha untuk tidak terlalu mencolok, hari ini aku membantunya membereskan ruangan. Yuya dan Kei sudah pulang duluan, tepatnya Kei menarik Yuya pulang karena ingin membiarkanku berduaan dengan Tegoshi-sensei.

“Kau pulang duluan saja Dinchan…”, kata Tegoshi-sensei memberhentikan pekerjaanku menyapu ruangan.

“Eh? Gak apa – apa kok sensei.. aku bisa menyapu dulu sebelum pulang..”, kataku.

“Tapi ini sudah sore.. sudah ya~ biarkan aku yang membereskannya.”, katanya sambil mengambil sapu dariku.

Aku tak punya pilihan lain, aku pun mau tak mau meninggalkan ruangan itu dengan sedikit perasaan kesal pada Tegoshi-sensei. Huuft~ kenapa sih dia selalu berkesan menghindari aku?

“Tunggu sebentar… Ikuta-san..”, seseorang memanggilku.

Aku menoleh mencari sumber suara, ternyata seorang cewek populer yang kalau tak salah namanya Keiko atau semacamnya, aku lupa.

“Bukan~ bukan… tapi Din~chaaann..”, kata Keiko dengan nada yang dibut – buat dan menyebalkan.

Tapi ia tak sendiri, ia berdiri dengan tiga orang lainnya, sama – sama kelas dua, tapi tampak menakutkan.

“Ada apa?”, tanyaku bingung.

Keiko mendekat seakan mencoba mengancamku, lalu tangannya menyentuh pipiku pelan.

“Well, kau tidak buruk…”, nada bicaranya seakan melembut – lembutkan, dibuat – buat,  “Tapi kau menyebalkan!!”, bentaknya keras, lalu menarik rambutku dengan kasar.

“”Ittai!!”, seru ku tak lagi dapat berpikir jernih.

Ketiga temannya ikut mendorong – dorongku hingga kami berada di kamar mandi putri. Pikiran ku mendadak kalut, aku takut sekali.

“Heh! Cewek sok cantik!! Kau ini sebenernya mau apa mendekati kedua pangeran disini??!!”, bentaknya sambil melipat tangan di dada, tubuhku di dorong hingga membentur tembok.

Aku tak menjawab, rasanya aku tak sanggup menjawabnya.

“Gak mau jawab tuh!!”, seru salah satu teman Keiko, yang berambut pirang terang, dengan piercing di telinganya cukup banyak.

“KAU PIKIR KAU BISA MENDAPATKAN MEREKA??!!”, teriak Keiko lagi dengan kemarahan yang jelas ada di matanya.

Aku tak dapat berpikir siapa yang menendang ketika kelompok itu bersama – sama memukuli dan menendang tubuhku. Aku tak tahu itu kaki siapa saja.

Seorang cewek berambut pendek mengambil selang dan mulai menyemprot tubuhku yang masih tergeletak, dan pukulan serta caci maki masih juga bergema di ruang itu. Aku tak mampu berteriak lagi, suaraku tampaknya habis ketika dipukuli tadi.

Keiko tertawa puas sekali, seakan misinya sudah berhasil, ia terus menghujaniku dengan cacian dan makian yang tak sanggup lagi ku dengar karena setiap katanya semakin buruk saja terdengarnya.

“Ada apa ini??!!”, teriak seseorang dari belakang.

Aku tak sanggup melihat itu siapa, tubuhku sudah sakit semua.

Keiko dan kelompoknya tampak bergerak seacara acak dan panik, lalu berlarian keluar dari kamar mandi itu.

“DINCHAN!!”, seru orang itu.

“Tegoshi-sensei…”, hal terakhir yang kuingat adalah wajah khawatir Tegoshi – sensei.

Kepalaku pusing sekali, rasanya badanku juga sakit semua. Aku mengerjapkan mataku, tempat ini rasanya asing. Dimana ya?

“Dinchan… kau sudah sadar?”, suara Tegoshi-sensei membuatku terbangun sepenuhnya.

“Sensei… aku dimana?”, tanyaku bingung.

“Kau di ruang UKS… kakakmu akan datang sebentar lagi.”, jelas Tegoshi-sensei.

“Oh…”, ujarku pelan.

Bajuku tak terasa basah, sepertinya aku sudah berganti baju dengan baju olahraga.

“Kau ingat siapa saja yang tadi di kamar mandi? Bisa kau beritahu aku?”, tanya Tegoshi-sensei.

Aku menceritakan semua kejadiannya, dan siapa saja yang aku ingat ada di sana. Walaupun aku tak tahu namanya, tapi aku bisa memberi tahu ciri – ciri dari orang – orang tersebut.

Tak lama seseorang mengetuk pintu UKS. Tegoshi-sensei mendekati pintu dan membukanya.

“Sensei!!”, napasnya memburu seperti habis berlari, “Saya Ikuta Toma… saya kakaknya.. Ikuta Din..”, katanya masih dalam keadaan sulit bernapas.

“Ah.. iya.. Tegoshi Yuya desu.. adikmu baik – baik saja.. tapi sedikit shock tampaknya..”, kata Tegoshi-sensei.

Toma-Nii menghampiri aku dengan wajah super-khawatir nya. Ia selalu terlihat begini jika aku sakit, atau terjadi sesuatu.

“Baka!!”, katanya hampir terlihat ingin menangis, “Untung kau baik – baik saja…”, keluhnya sambil memelukku erat.

Ia pasti bolos dari tempatnya bekerja, hingga harus berlarian kesini.

“Gomen…”, kataku lirih.

Sudah hampir dua minggu sejak kejadian itu. Aku dengar dari Tegoshi-sensei, Keiko dan kelompoknya sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Sejak saat itu aku sedikit menghindar dari Yuya atau Kei. Aku takut, masih sedikit trauma dengan tudingan orang – orang terhadapku.

Yuya merasa ada yang aneh denganku, jadi ia sempat bertanya, namun aku tak pernah menajwabnya, begitu pula dengan Kei.

Sejak dua minggu itu pula aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Tegoshi-sensei. Entah kenapa sejak saat itu ia terlihat lebih protektif terhadapku. Seperti ia selalu mengantarku pulang setelah kegiatan klub.

“Tegoshi-sensei… arigatou…”, kataku pelan. Aku yakin wajahku kini memerah.

“Yup.. doita.. aku hanya memastikan kau baik – baik saja…”, katanya sambil tersenyum ramah.

“Kau tak perlu mengkhawatirkan ku berlebihan sensei…”, kataku lagi.

“Daijoubu… sampai batas waktu tak ditentukan, aku akan mengantarmu.. hehe..”, katanya lalu mengacak rambutku pelan, “Aku pergi dulu… salam pada keluargamu ya..”, katanya lalu beranjak dari depan rumahku.

Dia tak pernah masuk ke rumah, kecuali ada Toma. Baik Toma maupun Ayah seringnya pulang malam, jadi praktis lebih sering di rumah hanya ada aku sendiri.

“Hei!! Kau!!”, teriak seseorang membuatku kaget setengah mati karena masih bisa merasakan ketegangan saat Keiko memanggilku.

Aku menoleh pelan, saat kulihat Yuya dan Kei melambai ke arahku.

“Takaki-kun… Kei-chan..”, panggilku pelan.

“Jadi… ada apa ini sebenarnya.. kenapa kau menghindari kami?”, tanya Kei setelah berada di dalam rumahku.

Aku menunduk, tak mau menjawab.

“Kudengar… kau kena bully oleh Yamagawa-san ya?”, tanya Yuya padaku.

“Gomen… aku gak ngasih tau kalian.. aku..”

“Dinchan… kau kenapa sih? Apa karena tudingan orang – orang yang bilang kau memanfaatkan kami?”, tanya Kei lagi.

“Tapi benar kan Kei-chan… aku hanya mahluk invisible jika berada di antara kalian, aku mengurangi kepopuleran kalian… aku…. Pengganggu…”

“Sayangnya Dinchan… hal seperti itu hanya bisa ditentukan oleh kami..”, Yuya diam sejenak setelah bicara seperti itu, lalu kurasakan tangan Yuya merengkuh bahu kananku, “Yang menentukkan kau berharga bagi kami atau tidak, itu kami sendiri.. jadi, berusaha saja jadi yang terbaik, kami juga begitu untukmu… itu kan namanya teman?”.

Kurasakan air mataku meleleh, aku tak sanggup menahan tangis lagi.

“Gomen…”, seruku di sela tangis ku.

“Sudahlah Dinchan!! Jangan begini lagi yaaa!! Aku tak suka kau abaikan~ lagipula… ada apa dengan Tegoshi-sensei??hehehe…”, goda Kei sambil mencubit pipiku, yang padahal basah oleh air mataku.

Aku menceritakan semua kejadiannya, serta mengapa Tegoshi-sensei selalu mengantarku sejak saat itu.

“Hehehe~ wah… perkembangan yang pesat. Bagus – bagus..”, Kei menggodaku lagi.

Aku hanya tersipu saat mendengarnya. Ya, harapanku terhadap Tegoshi-sensei semakin besar.

“Jadi, kita harus bisa mengumpulkan anggota untuk tahun depan… kalau tidak klub kita ini akan dibubarkan…”, kata Tegoshi-sensei dengan wajah sedih karena tahun ini anggotanya hanya kami bertiga, praktis kekurangan orang.

Wajahnya penuh kekecewaan. Yang aku tahu, klub ini memang dibuat oleh Tegoshi-sensei yang memang hobi memasak, maka ia ingin sekali klub ini dipertahankan.

“Tenang saja sensei!! Setidaknya tahun depan aku bisa mengumpulkan satu orang!!”, seruku lalu tersenyum padanya.

“Hontou?”

Aku mengangguk. Tentu saja aku yakin karena tahun depan, adik sepupuku Ryutaro Morimoto akan masuk ke SMA ini, dan sudah pasti aku memintanya masuk ke klub ini, toh dia juga suka masak.

“Ne~ sensei…”, kataku memanggilnya setelah klub berakhir.

“Ya?”, Tegoshi-sensei memintaku menunggunya karena ia akan mengantarku pulang.

“Nilai matematika ku belum ada kemajuan…”, keluhku, “Cara ku memasak sudah banyak kemajuan, tapi nilai matematika ku tidak…”, kataku lagi.

“Hmmm~ kau mau aku ajari?”, tanya Tegoshi-sensei menghentikan kegiatannya membereskan meja di ruang klub.

Iya!! Iya!! Tentu saja hatiku bersorak iya, aku mau ia ajari.

“Kita bisa belajar setelah kegiatan klub.. bagaimana? Aku juga tak mau di salahkan nilaimu turun karena terlalu sering ikut kegiatan klub..”, jelas Tegoshi-sensei sambil tersenyum padaku.

Aku mengangguk menyetujuinya.

Tegoshi’s POV

Muridku yang satu ini, entah sejak kapan ia selalu ada di otakku ini. Sejak ia memerhatikanku, sejak ia selalu membuatkan bento untukku. Seperti sekarang, ia minta aku ajari matematika, apa karena ia ingin lebih lama bersamaku?

Jujur saja, aku senang dia memintaku mengajarinya.

Waktuku bersamanya tentu akan lebih lama dari biasanya.

Tapi dia hanya muridku, aku tak boleh bertindak gegabah dengan mendekatinya, memberinya harapan lebih. Aku harusnya tidak seperti ini padanya, tapi hati kecilku mengatakan lain, aku ingin jadi lebih dari sekedar gurunya.

“Sensei..”, panggilnya.

Aku menoleh melihatnya, “Ya?”.

“Ayo pulang~”, ajaknya. Tampaknya dia memerhatikan aku yang melamun sejak tadi.

“Ayo!”, kataku sambil mengambil tasku dan keluar dari ruang klub bersamanya.

Ia berjalan di sebelahku, aku bisa merasakan ke canggungannya tiap berhadapan denganku, ia terlalu polos saat ini pun.

From : Sao-chan
Subject : ketemu~

Kita harus bertemu Yuya..
Aku ingin kita bertemu hari ini..

Kulirik lagi e-mail itu. Dari kekasihku yang sudah tiga tahun ini bersamaku. Lima bulan lalu kami putus, ia sendiri yang meminta kami mengakhiri hubungan ini. Aku sendiri sudah berhasil melupakannya. Ia mencurangi aku dengan pria lain, mungkin karena pria itu lebih mapan dariku. Aku tak lebih hanya guru honorer yang pekerjaannya belum tetap dan belum mapan. Saori sudah memintaku untuk menikahinya, tapi tentu saja aku tak bisa menyanggupinya, aku ingin membuat karier ku mapan terlebih dahulu tentunya.

“Sensei… arigatou..”, kata Din membuyarkan lamunanku.

“Ah…iya Dinchan… salam untuk keluargamu ya…”

“Eh.. nii-chan ku sudah pulang kok… mau masuk dulu sensei?”, tanya Din lagi.

“Gomen ne.. aku ada urusan malam ini..”, kataku lalu menjauh dari tempat itu.

Din tersenyum, “Hai… baiklah sensei.. hati – hati…”.

“Sao-chan… ada apa?”, tanyaku saat aku tiba di tempat kami selalu bertemu. Sebuah restaurant sederhana.

Ia menangis, wajahnya sembab karena air matanya.

“Sao-chan…”, panggilku lagi.

Saori menatapku, berdiri dan memelukku, “Aku takut Yuya… aku takut… dia memukuliku…”, isaknya semakin keras.

Sudah kuduga, ia pasti ada masalah dengan pria brengsek yang baru saja ia pacari itu. Aku membiarkannya menangis dulu, walaupun banyak yang melihat, aku juga tidak tega menyuruhnya berhenti.

“Lalu kau mau bagaimana?”, tanyaku setelah ia sedikit tenang.

“Entahlah Yuya… aku tak berani pulang kesana…”, matanya terlihat sangat takut, “Bisakah… aku tinggal sementara di tempatmu?”, tanyanya dengan wajah memelas.

Keluarga Saori memang berada di luar kota. Di Hokkaido tepatnya. Aku berfikir sejenak, aku tak tega membiarkannya luntang – lantung di jalan.

“Baiklah..”, jawabku akhirnya.

“Bukan… bukan dengan rumus ini Din…”, kataku sambil memeriksa hasil pekerjaan Din yang sedang les dihadapanku.

Ia manyun menarik kembali bukunya, memeriksanya sekali lagi.

“Huwaaa~ aku gak ngerti..”, keluhnya tampak kesal.

Aku duduk di sebelahnya, menuliskan rumus yang benar.

“Hooo~”, dia mengangguk – angguk mengerti, lalu menuliskannya kembali di buku catatannya.

Aku menunduk ke arah bukunya saat wajahnya menoleh menghadapku. Sontak aku kaget dan menjauh darinya.

“Gomen… gomen…”, kataku dengan hati masih berdebar – debar.

Wajahnya memerah, menunduk kembali ke catatannya.

“Maaf sensei…”, katanya.

Aku menggeleng, “Iiya… daijoubu..”, kataku cepat sambil membenarkan letak jaketku.

Sial. Kenapa aku harus begitu terganggu dengan berdekatan dengannya? Hufft~

“Sensei…”, panggil Din pelan.

“Ya?”, jawabku pelan.

“Takaki-kun bilang kau…”, ia menoleh memandangku.

“Aku kenapa?”

“Hmmm~ begini…”, Din akhirnya menceritakan kalau Takaki-kun melihatku dengan seorang wanita, bahkan berpelukan, ia bilang kebetulan toko bakery milik keluarga Takaki berada di seberang restaurant yang aku datangi dengan Saori kemarin.

“Oh…itu..”

“Bukan maksudku mencampuri urusan sensei… aku hanya penasaran..”, kata Din lagi takut – takut.

“Dia… mantan pacarku…”, aku akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Din.

“Sou ne…”, wajah Din terlihat sedikit sedih, namun lega pada saat bersamaan.

“Kau tak perlu khawatir… aku sudah tak mencintainya lagi…”, perkataan ini setelahnya membuatku sangat menyesal. Secara tak langsung aku memberi harapan pada Din.

Din’s POV

“Sudah kelas duaaaa!!”, seru Kei ribut di sekitar bangku ku dan Yuya.

“Uruseee!!”, seru Yuya menutup telinganya lalu merebahkan kepalanya di meja.

Hari ini penerimaan siswa baru. Kami sudah kelas tiga, lalu Tegoshi-sensei meminta kami untuk merekrut anggota baru untuk klub memasak.

“Ayo Kei-chan!! Yuyan!!”, teriakku sedikit memaksa kedua pria ini berdiri dari tempatnya.

“Gak mau…”, keluh Yuya, yang kini sudah mengizinkanku memanggilnya Yuyan, seperti Kei.

“Ya udah… aku ke aula sendirian deh..”, kataku sambil berdiri.

Kei dengan sigap menarik lenganku, “Gak boleh… ayo Yuyan!!”, kata Kei.

Sejak kejadian kelas dua, baik Yuya maupun Kei sedikit protektif padaku. Walaupun aku tak pernah mendapat ancaman secara langsung lagi, tapi tetap saja mereka merasa harus menjagaku.

Sesampainya di aula, berbagai klub sudah mempromosikan klubnya. Aku, Kei dan Yuya tentu saja tak mau kalah. Kami membagikan phamplet, serta formulir, walaupun sedikit sia – sia karena jarang sekali yang melirik pada kami.

“Ryuuu!!”, panggilku ketika melihat sosok Ryu yang berdiri tak jauh dari situ.

Ryutaro menghampiri kami, “Kau harus masuk klub masak… kau sudah janji kan…”, kataku sedikit memaksanya.

“Ah nee-chan…baiklah..”, jawabnya karena aku memperlihatkan pandangan penuh ancamanku.

“Kita dapat satuuu!!”, teriak Kei sambil memeluk Ryutaro.

Anggota yang berhasil kami kumpulkan hanya dua orang saja. Ryutaro Morimoto, adik sepupuku, dan Yamada Ryousuke, seorang murid baru yang mengaku sangat suka kue.

Walaupun hanya dua orang, Tegoshi-sensei sangat senang karena ini artinya klub tak jadi dibubarkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, anggota klub ini sama sekali tidak bertambah. Namun dengan hanya lima orang saja klub ini cukup heboh. Ryutaro dan Yamada mulai terlihat populer. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana irinya orang – orang terhadapku. Walaupun sebenarnya mereka hanya tak tahu kelakuan aneh para prince ini.

“Aku ingin bergabung dengan klub ini…”, jelas seorang murid perempuan di hadapanku.

Ia lebih pendek dariku, dengan rambut pendek acak – acakan, serta gaya tomboy. Sebentar, ini kan Nakajima Saifu, dia berhasil mengharumkan nama sekolah kami di kejuaran Kendo. Tapi kenapa ia berdiri di hadapanku? Meminta masuk ke klub masak? Aku tidak sedang masuk acara TV kan?

“Selamat datang di klub memasak…”, sambutku dengan senyum.

Ia tersenyum, aku mengenalkan semua anggota klub, ia hanya ikut tersenyum saja. Paling tidak aku dapat satu anggota wanita.

“Ryuu-chan…”, panggilku pada Ryutar yang berdiri di depan pintu ruang klub.

“Nee-chan!!”, keluh Ryu yang tampak kaget.

“Hahahaha~ ketahuan deh… masuk aja… kenapa gak kamu aja yang mengajari Fu-chan memasak?”, tanyaku sedikit menggoda Ryutaro yang menyukai Saifu.

“Kau sendiri yang menyuruh Yama-chan mengajarinya…”, cibirnya padaku.

“Hahahhaa… baka!!”, umpatku sambil mengacak rambut Ryu.

“Aku penasaran… kapan ya aku berani mengungkapkan perasaanku padanya?”, tanya Ryutaro pelan sambil menyingkir dari depan pintu, bersandar pada tembok.

“Maksudmu?”, tanyaku bingung.

“Ya… aku takut dia keburu diambil orang…”, jelas Ryutaro lagi.

“Memangnya cowok selalu gitu ya? Terburu – buru?”, tanyaku lagi.

“Bukan terburu – buru… tapi kita takut kehilangan dia…”, jelas Ryutaro lagi.

Berarti selama ini? Apa benar Tegoshi-sensei tak pernah menganggapku penting untuknya? Berarti ia tak pernah takut kehilanganku? Mendengar celotehan Ryutaro malah membuatku sedikit pesimis dengan hubunganku dengan Tegoshi-sensei.

Sore ini kegiatan klub sudah selesai. Aku meminta Yuya dan Kei pulang duluan, karena aku bilang ada yang ingin kubicarakan dengan Tegoshi-sensei.

“Sensei…”, dadaku bergemuruh karena aku sudah berencana mengungkapkannya pada Tegoshi-sensei.

“Ya?”, tanya Tegoshi-sensei sambil masih membereskan peralatan masak tadi.

“Apa….apa…”, aku menelan ludahku dan berusaha bernafas dengan teratur, “Apa sensei menyukaiku?”.

PRANG!!

Tegoshi-sensei menjatuhkan sebuah gelas, ia terlihat sangat kaget.

“Dinchan…”, panggilnya lirih.

“Jawab aku Tegoshi-sensei…”, air mataku tiba – tiba saja keluar, aku tak sanggup menahannya lagi.

“Aku…”, Tegoshi-sensei berbalik memunggungi aku, “Tolong jangan berharap padaku… kau hanya muridku… kau terlalu muda untukku…”, katanya terbata – bata.

“Jadi selama ini aku hanya muridmu?!!”, seruku lagi.

“Iya…”, jawabnya lirih.

Aku berlari meninggalkannya, dadaku sesak hingga rasanya aku tak mampu bernafas.

“Akh..ittai…”, kata seseorang, aku baru sadar aku berlari terlalu cepat.

“Gomen ..gomenasai..”, kataku sambil melihat siapa yang ku tabrak.

“Eh?!! ..din-san? Kenapa?”, tanyanya bingung ,aku tak mampu menjawab, merasa membutuhkan pundak untuk menangis, aku memeluknya, menangis lebih keras.

“Arigatou…”, kataku sesaat setelah Saifu memberiku sekaleng teh hangat.

“Din-san..kenapa?apa yang terjadi?”

“Yuya..Yuya..dia menolakku..”, jawabku tak berhasil mengeluarkan kata ‘Tegoshi-sensei’ karena terlalu panik.

“Tenanglah Din-san…”, kata Saifu, mencoba menenangkan aku.

“Dia bilang..dia bilang..aku terlalu muda!!dia tidak bisa menerimaku..!!fu-chann~!!”

“Fu…!!apa menurutmu aku sebegitu buruk sampai sampai dia tidak mau menerimaku…huaaaaa…”, jeritku mulai histeris.

“Din-san!!tenangkan dirimu!”, bentak Saifu. Untuk tiga puluh menit setelah itu, aku hanya bisa menangis hingga rasanya mataku akan lepas, mataku sembab, dan badanku terasa tak enak karena menangis terlalu lama.

“Gomen ne Saifu-chan..”, ujarku pelan, malu dengan keadaanku seperti ini.

“Daijobu yo..sebenarnya ada apa?hm..tapi kalau din-san gak mau cerita juga gak papa kok“kata saifu sambil tersenyum.

“Nanti pasti aku cerita kok Fu-chan ..aku duluan ya..”, aku bukannya tak ingin cerita, tapi aku tak mampu menceritakannya sekarang.

Kepalaku cukup pusing saat keluar dari sekolah. Cuaca cukup mendung, namun hari ini aku lupa membawa payung karena sejak pagi aku terlalu gugup tentang Tegoshi-sensei.

Aku menunduk menyusuri jalan setapak, pikiranku hanya dipenuhi kata – kata Tegoshi-sensei tadi, otakku terasa kertas putih yang ditulisi kata – katanya tadi, sehingga hanya hal itu yang bisa kuingat.

“Dinchan!!”, panggil seseorang sambil menarik lenganku.

Aku sedikit kaget, namun segera bisa menguasai diriku ketika yang kulihat adalah Yuya.

“Yuyan…”, panggilku lirih, “Bukannya kau pulang dengan Kei-chan?”, tanyaku bingung.

Ia tak menjawab apapun, matanya seakan menelanjangi aku, ia sepertinya tahu semua yang terjadi tadi.

“Yuyan…kena…”

Perkataanku terputus karena Yuya menarikku dalam pelukannya, aku kembali menangis sesenggukan, bahkan turunnya hujan pun tak membuat kami pergi dari situ. Yuya masih terus memelukku, ia seakan berkata aku akan baik – baik saja.

Aku berusaha tak menggubris Tegoshi-sensei sejak itu. Hari – hariku kuhabiskan bersama Kei, Yuya, Yama, Ryutaro, dan Saifu saja. Aku mencoba berfikir bahwa memang diantara kami tak ada apa – apa.

“Dinchan… ini… rencana ke Okinawa…”, kata Tegoshi-sensei padaku siang itu.

Kertas yang dipegang olehnya segera ku ambil, “Wakatta sensei…”, kataku tanpa sedikitpun melihat mata Tegoshi-sensei. Aku takut air mataku tak mampu kubendung jika aku melihatnya.

Perjalanan ke Okinawa kali ini tak cukup menyenangkan untukku. Tapi bukan Din namanya jika aku tak bisa menutupinya. Aku cukup lihai berakting di depan semua anggota klub ini.

Yuya tau, ia tak bisa kubohongi. Sepanjang jalan Yuya terus menerus melihatku, memastikan aku baik – baik saja. Hingga ia sengaja duduk di sebelahku, tak membiarkan Kei mengkudetaku hari itu.

Samapi di Okinawa, kami masuk kamar dan sebelum tidur aku dan Saifu masuk ke onsen. Tubuhku lelah, hatiku juga sangat lelah, namun entah mengapa aku sama sekali tak bisa tidur.

Maka malam itu aku memutuskan untuk berjalan – jalan sendirian. Sengaja aku tak memberi tahu Yuya atau Kei, akrena mereka pasti ingin ikut, padahal aku ingin sendirian.

Tegoshi’s POV

Sejak hari itu ia menghindariku, matanya tak lagi berbinar ketika melihat aku. Ku tahu perkataanku keterlaluan, tapi aku juga tak mau ia berharap terlalu banyak padaku. Aku sudah cukup pusing dengan perasaanku sendiri, aku tak bisa bohong pada hati kecilku, aku menginginkannya, tapi logikaku berkata lain.

Suasana pantai Okinawa sesaat menghanyutkan aku. Kuhirup udara malam itu, mencoba menghilangkan penatku.

“Dinchan?!”, Aku merasa tak sedang bermimpi. Ia berada beberapa meter di depanku, sama – sama sedang menghirup udara malam.

Ia menoleh, tampak kaget melihatku.

Kami hanya duduk, tak jelas ingin berbicara apa. Ia sama sekali tak mengeluarkan kata apapun, begitu pula denganku.

“Gomen…”, ucapku akhirnya.

“Untuk apa Sensei?”, tanyanya dingin.

“Untuk semuanya… aku minta maaf..”

“Kenapa? Hmm? Kenapa sensei jahat sekali padaku?”, tanyanya lirih, matanya mulai berkaca – kaca.

“Din… kumohon… jangan berkata seperti itu…”

“Lalu apa kau tak bisa menerimaku?”, tanyanya lagi.

“Din!!”

“Yuya!!!kumohon!!”, jerit Din.

Aku sedikit kaget karena ia memanggilku dengan nama depanku.

“Din , berhentilah.!!!kau tahu status kita kan? Kita tak mungkin bersama, kau terlalu muda..aku tidak bisa!”, aku mulai kehilangan kendali.

“Kau selalu bilang begitu!!!”, bentak Din, kini air matanya mengalir.

“Tapi pada kenyataannya memang begitu , mengertilah aku tidak bisa!!”, aku berusaha menenangkan Din dengan nada suara yang sedikit terkendali.

“Tapi aku juga bukan anak kecil lagi!!!!”, Ya… kau bukan anak kecil lagi, itu yang kupikirkan sejak dulu. Tapi, kau muridku.

“Gomen ..dem..”, ucapanku terblokir bibir Din yang kini menempel pada bibirku.

Sayangnya malam itu logikaku sepertinya macet. Tanpa pikir panjang aku membalas ciuman Din. Kurengkuh tubuhnya semakin mendekat padaku. Aku tak membiarkan Din melepaskan ciumannya, tangan Din meraih leherku, kami berpelukan sambil terus berciuman. Ciuman ini kurasakan semakin dalam, aku sedikit mendorongnya hingga ia tersudut pada sebuah pohon kelapa yang memang berada dekat kami.

Din tersengal, melepaskan ciumannya, melihatku dengan sedikit bingung.

“Sensei…”, panggilnya pelan.

“Yuya… panggil aku Yuya..”, kataku kembali meraih bibirnya dengan bibirku.

Aku tak bisa berhenti memikirkan kejadian malam itu. Memang akhirnya kami hanya berciuman, tanpa sedikitpun kata – kata Din menggenggam tanganku malam itu, kami seakan tak perlu kata – kata apapun.

Dengan ini tentu saja perasaanku tersampaikan sepenuhnya pada Din, tapi aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata – kata.

Hubungan kami setelah itu cukup canggung. Din seakan memintaku mengesahkan segalanya, memperjelas ikatan antara kita. Tapi di sisi lain, dia masih muridku, dan itu tak bisa mengubah status kami.

Seperti siang ini, Din memintaku bertemu di tangga menuju ke atap. Entah apa yang ingin ia bicarakan.

“Sensei…”, katanya pelan, lalu menggeleng, “Bukan.. Yuya… apa aku salah telah menyukaimu?”, tanyanya lirih.

“Dinchan… bukan masalah itu…”, Aku tahu pasti sangat bingung menghadapi perasaan itu, terlebih karena aku membalas ciumannya saat itu.

“Lalu kenapa waktu itu kau membalas ciumanku???!!”, bentak din kesal. Refleks aku menarik Din, membekap mulutnya

“Kecilkan suaramu din!!”, bentakku pelan.

“Kau menyukaiku kan Yuya??!!jujur saja!”, bentak din lagi , wajahnya benar benar terlihat marah.

“Begini Din..aku tidak mungkin dengan mu..kau masih SMA”, jelasku lagi, berharap Din akan mengerti.

“Dakara nani???!!”, teriak Din kesal.

“Kau tidak mengerti Din….”, bisikku sedikit putus asa dalam menjelaskan hal ini.

“Tidak mengeti apa??”, teriaknya lagi.

Aku memandang matanya, ia kecewa padaku. Aku terlalu banyak menyakitinya.

“Aku memang menyukaimu… tapi.. aku tidak bisa….”, akhirnya aku mengakuinya. Aku sendiri sudah tak mampu menutupinya.

“Kalau begitu ..tunggu aku hingga aku lulus dari SMA ini…”, jawab Din.

Aku sedikit kaget. Ia benar, kami bisa bersama jika ia lulus. Aku bahkan tak pernah memikirkan kemungkinan ini. Aku mengangguk, Din seketika itu menghambur ke pelukanku. Aku merengkuhnya dalam pelukanku, tersenyum karena aku tahu suatu saat aku bisa bersamanya.

Din’s POV

Akhir – akhir ini Yuya terlihat sedikit lebih sering marah. Apa mungkin akrena ujian kelulusan akan segera datang? Aku tak yakin, tapi Kei bahkan sering tak mampu membendung kemarahan Yuya. Ia lebih sering menghindar dari kami.

Aku sendiri tak berani bertanya padanya. Ia terlihat membangun tembok denganku, sehingga aku tak mampu menembusnya, aku tak bisa berbicara dengannya.

Saat kutanya pada Kei, ia hanya bilang aku harus bertanya sendiri padanya, namun aku sendiri tak yakin aku bisa bertanya pada Yuya.

Hingga upacara kelulusan, Yuya sedikitpun tak memberi tahu ada apa dengannya. Walaupun ia mencoba bersikap biasa padaku, tapi aku bisa merasakan keanehan dari Yuya.

“Din… bisa bicara sebentar?”, tanyanya ketika kami habis berpesta merayakan kelulusan aku, Yuya dan Kei.

“Ada apa Yuya?”, tanyaku ketika kami sudah berada di atap.

Ia menatapku lama.

“Daisuki…”, ucapnya mantap.

“Hah?? apa?”, tanyaku meyakinkan apa yang sudah ku dengar dari mulutnya.

“Daisuki….kau tau apa alasanku masuk klub memasak?”, tanya Yuya.

Aku hanya menggeleng bingung.

“Itu karena kau….”, jelasnya sambil tersenyum pada langit.

“A..apa???”, aku bahkan tak mampu berkata apapun.

Aku tak pernah menyangka Yuya punya perasaan seperti itu. Maksudku, ia memang selalu lebih perhatian dari Kei, apapun itu ia selalu berusaha membantuku, tapi… untuk punya perasaan spesial?? Aku selalu melihatnya sebagai sahabat terbaikku.

Krekkk…

Kami serentak melihat ke arah pintu. Tegoshi terlihat sedikit kaget melihat kami berdua.

“Eh? Maaf….”, kata Tegoshi.

“Yuya… kesini saja.. tak apa…”, kataku pada Tegoshi.

“Din… aku tahu kau sudah bersamanya..”, kata Yuya lirih, tapi ia tetap tersenyum.

“eh?”

Yuya meraihku, memelukku sebentar, “Berbahagialah…”.

Ia melepasku, menyerahkan tanganku pada Tegoshi, “Jaga dia… aku tahu sensei yang bisa membahagiakannya…”, jelasnya sambil berlalu dari situ.

“Ne… aku sudah lulus loh…”, kataku ketika Yuya sudah pergi, Tegoshi masih saja menggenggam tanganku.

“Aku tahu… kau bukan lagi muridku…”, katanya lalu menunduk, menciumku hangat seperti waktu di pantai dulu.

“Hmmm.. Yuya.?”, panggilku setelah ia melepaskan ciumannya.

“Ya?”

“Kita bisa terus seperti ini? Sampai nanti?”, tanyaku sedikit takut jika ia tersinggung.

“Bisa kubilang….”, ia menggantung kalimatnya, memelukku erat, “Aku tak bisa menjanjikan apapun… tapi aku ingin kau tahu… kita mungkin akan merasakan bosan satu sama lain, mungkin juga kita akan marahan… tapi… tetap saja rasanya bernafas tanpamu sepertinya tidak menyenangkan..”, katanya membisikkan kata – kata itu tepat di telingaku.

Aku tahu, aku juga sulit bernafas jika ia tak ada di sisiku.

==========

OWARI~
Yeaaaaahhhhh!!!
One shot bohongan… hampir enem rebu kata booooo…
*dies*
Read it happily…
COMMENTS ARE LOVE!! ^^



Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] It Feels Like Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s