[Multichapter] Happiness (chap 1)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : One
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance and Friendship
Ratting    : G
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Ikuta Rei (OC), Sakurai Rena (OC), Ohno Hiroki (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. collaboration neh~. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Happiness
~chapter 1~



“Ah sebal..” gerutu Opi sambil mengayunkan tasnya dengan kasar. Wajahnya benar-benar menunjukkan kalau ia sedang bête. Bagaimana tidak bête kalau tugasnya selalu saja mendapatkan nilai yang tidak memuaskan dari dosennya? Padahal ia mengerjakannya dengan susah payah. Karena rasa kesalnya, ia berjalan dengan arah yang sembarangan. Tapi bukan berarti ia kehilangan arah.

Tiba-tiba ia berhenti berjalan lalu berbalik ke arah yang berlawanan dengan rute awal. “Mungkin lebih baik bertemu An-chan saja,” ucapnya kemudian.

Tak berapa lama Opi sudah sampai di bangunan yang terlihat ramai. Ramai oleh anak-anak dan para ibu yang menjemput. Tempat yang Opi datangi memang sebuah sekolah. Tepatnya taman kanak-kanak.

Opi mulai melewati gerbang sekolah. Tak jauh dari gerbang sudah terlihat macam-macam jenis permainan. Opi kadang berpikir, kalau dia masih kecil, pasti tempat ini menjadi surga untuknya karena banyak sekali permainan yang ia sukai dulu saat ia masih kecil.

“Konichiwa, Opi-chan!” sapa beberapa anak yang sedang bermain di tempat permainan. Dua dari anak-anak itu lalu menghampiri Opi dengan riang.

“Konichiwa!” balas Opi. “Kalian belum pulang?”

“Chika sedang menunggu Mama. Yang lain juga,” jawab Chika yang berambut panjang.

“Onee-chan, tadi kami menggambar loh! Kata Ninomiya-sensei gambaranku paling bagus.” Kini gadis kecil yang berjepit yang berceloteh.

“Oia? Nanti Onee-chan lihat gambaran Koharu-chan,ya!” ucap Opi sambil tersenyum.

“Aku juga! Aku juga!” anak-anak lain mulai menyerang Opi karena mereka pun tidak ingin kalah.

Opi lalu tertawa. Ia sangat senang dengan suasana seperti ini. Mendengar celotehan anak-anak yang masih polos menjadi hiburan yang paling menyenangkan untuknya. Ditambah ia memang tidak mempunyai adik di rumah.

Setelah berpamitan dengan anak-anak, Opi kembali menelusuri jalan ke arah tujuannya. Opi melihat tiap kelas sudah tidak banyak penghuninya. Karena memang jam sekarang sudah waktunya pulang. Hanya terlihat beberapa anak yang didampingi oleh gurunya sedang menunggu dijemput oleh orang tuanya.

“Konichiwa, Onee-chan!” tiba-tiba ada yang menyapanya lagi. Kali ini hanya seorang gadis kecil yang Opi kenal dengan nama Reina-chan.

“Konichiwa, Reina-chan! Sudah mau pulang?” balas Opi.

Reina mengangguk kecil. “Papa sudah menjemput.”

“Ah..souka. Hati-hati yah!” ucap Opi sambil melambaikan tangan. Reina membalas lambaian Opi sambil berlari kecil.

“Kawaii ne!!!” seru Opi senang kemudian ia lanjut berjalan.

Setelah melewati tiga kelas, Opi lalu berbelok di kelas yang keempat. Di sana sudah ada 2 orang laki-laki dewasa yang salah satunya sangat ia kenal.

“An-chan!” panggil Opi.

“Opi? Sedang apa di sini?” tanya laki-laki yang lebih pendek dari laki-laki yang satunya.

“Hanya mampir,” jawab Opi singkat.

Opi tidak banyak bicara karena ia sedang memperhatikan laki-laki yang lebih tinggi dari orang yang tadi bicara padanya. Penampilannya rapi dengan kemeja dan celana jeans yang dia pakai. Rambutnya yang hitam tertata sedikit berantakan walaupun tidak terlalu terlihat.

“Kanpeki~” gumam Opi lalu tersungging senyuman di bibirnya.

“Hai?”

“Ano hito wa~” Opi sedikit memancing pembicaraan. Mungkin saja ia dapat kesempatan seperti yang ia pikirkan.

“Ah~ Sho-kun, ini adikku, Opi. Dan Opi, ini Sho Sakurai, teman lamaku.”

“Ninomiya Opi desu,” ucap Opi.

“Sakurai Sho desu,” balas Sho. “Aku dan Kazu-san adalah teman lama.”

“Souka,” gumam Opi.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada pekerjaan,” kata Sho kemudian.

Setelah berpamitan dengan Opi dan Kazunari, Sho pergi meninggalkan kelas.

“Jadi…” Kazunari memulai pembicaraan. “Ada apa kamu datang ke sini?” tanyanya.

Seolah teringat yang sempat ia lupakan beberapa menit yang lalu, tiba-tiba ia meraih kursi kecil yang selalu digunakan oleh anak-anak lalu duduk dengan kasar.

“Tadi aku sedikit kesal dengan dosenku. Aku berpikir mungkin dengan bertemu An-chan aku bisa melupakannya,” jawab Opi ringan.

Kazunari memiringkan kepalanya. “Maksudmu kamu bisa melupakannya setelah menceritakan semuanya sambil marah-marah?”

“Bingo..ahahahahhaha..”

“Sial. Ayo pulang!” ajak Kazunari yang diikuti oleh anggukan Opi.

Ninomiya Kazunari. Kakak Opi satu-satunya ini adalah pemilik sekolah taman kanak-kanak ini. Kesukaannya pada anak-anak yang menginspirasinya untuk membentuk sekolah. Sekolah ini cukup terkenal karena sepertinya para ibu sangat penasaran dan tertarik dengan pemiliknya yang masih sangat muda. Tapi tentu saja kemajuan sekolahnya tak lepas dari kemampuan Kazunari untuk mengajar anak-anak.

“Oia, laki-laki yang tadi siang itu, apa benar teman lama An-chan?” tanya Opi saat mereka sedang makan malam.

“Sou desu. Nande?”

“Kok aku tidak pernah lihat? Teman SMP dan teman SMA An-chan aku kenal semua. Apa teman SD?”

Kazunari mengerutkan keningnya. Sepertinya ia mencium hal yang tidak beres. “Kamu tertarik pada Sho-kun?” tebaknya.

“He?” Opi terlihat gelagapan. “Bukan seperti itu. Aku hanya merasa pernah melihatnya. Rasanya tidak asing,” jelas Opi.

“Umm~..Sekarang pukul berapa?” tanya Kazunari membuat Opi tidak mengerti. Ini sangat jauh dari topik yang sedang mereka bicarakan.

Opi melihat jam dinding yang ada di sebelah kirinya. “Pukul 8.”

Kazunari lalu beranjak dari kursinya dan menyalakan televisi. “Maksudmu pernah lihat di sini?” tunjuk Kazunari pada televisi.

Opi terbelalak. Itu kan…Sakurai-san?

“Sakurai-san? Jadi dia pembawa berita?”

Kazunari lalu duduk kembali ke kursinya dan melanjutkan makan.

“Uumm~ sekitar 5 tahun dia menjadi pembawa berita. Aku sendiri tidak menyangka dia akan menjadi seperti sekarang. Padahal dulu dia terlihat seperti orang bodoh.”

“Pantas saja aku seperti pernah melihatnya,” ujar Opi. “Berarti dia pintar. Kakkoi ne!!” seru Opi.

Kazunari terlihat tidak terlalu peduli. Ia tetap melanjutkan makannya.

“Lalu ada urusan apa Sakurai-san ke sekolah An-chan?”

Kazunari lalu menatap Opi. “Menurutmu? Tentu saja menjemput anaknya.”

“Hah!!?? Sakurai-san sudah mempunyai anak?” seru Opi tidak percaya. “Siapa anaknya?”

“Reina-chan,” jawab Kazunari lagi membuat Opi patah hati hanya dalam beberapa jam.

—-
“Papa!” panggil Reina pada Sho yang menggandeng tangannya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Kepalanya tetap saja menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“Papa!” panggil Reina sekali lagi dan tetap dengan hasil yang sama.

“Papa!!” panggil Reina pelan sambil menangis.

Sho terlonjak kaget melihat Reina yang sudah mulai menangis.”He? Doushite? Doushite?”

“Papa marah? Reina salah apa sama Papa?” isak Reina.

Sho lalu berlutut agar pandangannya sejajar dengan Reina. “Kenapa Reina bilang seperti itu?”

“Habis Papa tidak menjawab panggilan Reina. Jadi Reina pikir Papa marah,” ucap Reina sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya.

Sho tersenyum. “Papa tidak marah. Gomen ne. Tadi Papa tidak mendengar panggilan Reina.”

“Jadi Papa tidak marah?” tanya Reina memastikan.

“Tentu saja,” ucap Sho sambil membelai kepala Reina. “Kita harus cepat pulang. Biar kita dapat memasak lalu makan. Reina sudah lapar kan?”

“Reina sudah lapar. Reina ingin makan omurice,” ucap Reina sangat bersemangat.

“Yosh!!!Ayo kita harus cepat pulang!”

“Tadaima~” ucap Sho lalu diikuti oleh Reina.

Tidak ada jawaban. Wajar saja karena mereka hanya tinggal berdua di apartemen yang lumayan besar itu.

Begitu mereka sampai, Sho lalu menuju dapurnya untuk membuat makanan. Sementara Reina pergi mandi karena seharian dia di luar rumah membuat badannya tidak nyaman. Sho mungkin beruntung karena Reina sangat mandiri untuk mengurusi dirinya sendiri, seperti mandi, menyiapkan alat makan atau membereskan tempat tidurnya. Walaupun sebelum tidur, Reina harus selalu ditemani hingga ia tertidur.

“Itadakimasu~” seru Reina yang sudah ada di depan meja makan. Dihadapannya sudah tersedia sepiring omurice yang baru saja dibuat oleh Sho.

“Bagaimana? Enak?” tanya Sho setelah Reina memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Oishii~” seru Reina senang. “Masakan Papa semakin hari semakin enak.”

Sho meringgis. Patut diakui kalau saat pertama kali ia dan Reina pindah ke apartemen ini, masakan Sho sangat jauh dari kata enak. Bahkan Reina sempat tidak mau makan karena masakan Sho yang beraneka rasa alias rasanya campur aduk. Sejak itu Sho membeli buku yang berisi resep makanan dan jika ada kesempatan atau hari libur ia akan mencoba mempraktekannya. Dan sekarang kemampuannya dalam memasak mengalami kemajuan.

Setelah selesai makan, Reina lalu duduk di sofa yang menghadap televisi. Wajahnya sangat serius padahal acara tv itu hanya menayangkan iklan saja. Melihat Reina, Sho yang sedang mencuci peralatan makan hanya tersenyum sekaligus gemas. Tapi tak berapa lama, saat Sho melihat kembali kegiatan Reina, ia meliat Reina sudah tertidur.

“Kalau tertidur seperti ini, kamu bisa sakit leher, Reina,” gumam Sho. Tentu saja tidak ada respon dari Reina karena Reina sudah terlelap.

Sho lalu mengangkat Reina dan memindahkannya ke kamar. Setelah menyelimuti dan mengecup kening Reina, Sho tiba-tiba mendengar Reina yang mengigau dan mengucapkan kata ‘Mama’ di tengah tidurnya.

Sho tersenyum sambil membelai rambut Reina dan kemudian menatap foto di sebelah ranjang. Itu adalah foto seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang tersenyum.

“Yui, Reina sekarang semakin besar dan dia mulai memanggilmu,” gumam Sho sambil masih menampakkan senyumnya.

———————
“Tadaima!!”, Aiba melemparkan sepatunya begitu saja di depan pintu masuk apartemen yang cukup besar itu.

Aiba melirik jam dinding, sudah hampir pukul dua, wajar saja ia merasa sangat lelah. Bosnya selalu membuat dia naik darah karena permintaannya yang macam – macam. Jika tidak dituruti, tentu saja pekerjaannya sebagai fotografer bisa terancam.

Tidak ada jawaban dari dalam apartemen itu. Aiba melangkahkan kaki masuk, lalu membuka kamar tidur, Din dalam posisi di depan laptop, dengan wajah menunduk di kursi, terlihat sangat lelah juga.

“Dinchan…”, bisik Aiba pelan.

Kekasihnya itu pasti kecapean menunggunya. Ia lihat di dapur juga ada makanan yang masih belum tersentuh.

Aiba memapah Din dan merebahkannya di kasur, ia segera ganti baju dan berbaring di sebelah Din yang sudah terlelap.

“Gomen na… aku sibuk sekali akhir – akhir ini..” bisik Aiba lalu merengkuh Din dalam pelukannya.

Hubungannya dengan Din sudah berjalan hampir empat tahun. Sejak Din masih SMA, mereka sudah berpacaran. Perbedaan umur yang cukup jauh, sekitar 8 tahun tak membuat mereka ingin mengakhiri hubungan itu. Sejak setahun lalu Din memutuskan untuk tinggal bersamanya.

Tiba – tiba Aiba merasa Din bergerak, sepertinya ia terbangun.

“Masaki-kun..”, panggil Din yang masih setengah tertidur.

Aiba tak menjawab, kembali merengkuh Din dalam pelukannya, “Tadaima…”, bisik Aiba pelan.

Mata Din terbuka sepenuhnya, “Okaeri..”, jawab Din lalu balas memeluk Aiba.

“Gomen na…. Dinchan… aku tak bermaksud untuk pulang telat setiap hari…”, jelas Aiba dengan nada sangat menyesal.

Ia begitu mencintai Din, kalau tidak, tak mungkin ia berani ambil resiko untuk tinggal bersama Din.

“Hmmm~ daijoubu… hari Senin minggu depan milik aku ya…”, kata Din lagi, itu berarti Din ingin berkencan hari itu.

“Wakatta… sekarang tidurlah..”, kata Aiba mengiyakan.

Kebetulan ia hanya libur hari Senin. Din tak punya hari libur, tapi sepertinya tak ada event apapun hari senin hingga Din bisa mengajaknya berkencan.

Aiba menyelimuti dirinya dan Din, bersyukur ia punya kekasih yang masih bisa memaafkannya walaupun sudah sering ia mengecewakan Din.

“Jangan banyak bergerak… nanti kau bisa ku serang…”, bisik Aiba pada Din yang sejak tadi bergerak berusaha melepaskan pelukan Aiba.

“Huwaaa~”, seru Din.

“Hahaha…”, Aiba menarik Din agar diam, “Tidur… kau butuh tidur..”, bisik Aiba lagi sambil mengunci tubuh Din yang akhirnya menyerah dan tidur di pelukan Aiba malam itu.

—————————-

Sekali lagi Din melihat PDA di tangannya, lalu beralih pada ponselnya.

“Angkat dong~”, keluh Din yang berada di dalam mobil bersama Aiba, kekasihnya.

“Kenapa sayang?”, tanya Aiba yang berada di belakang kemudi.

“Jun belum bangun sepertinya…ck~”, keluh Din masih menempelkan ponsel di telinganya.

“Jadi kita ke apartemen Jun?”, tanya Aiba lagi.

Din mengangguk sambil kembali mengecek ulang jadwal hari ini.

“Masaki-kun.. aku bisa pulang larut nih… ada acara tengah malam..”, kata Din sebelum Aiba meninggalkan tempat itu.

“Wakatta… aku juga pulang larut kok.. hati – hati ya..”, seru Aiba sambil berlalu dengan mobil sportnya itu.

Din tak punya banyak waktu, segera berlari menuju lift dan beranjak ke apartemen milik Jun.

“JUNNN!!!”, seru Din setelah masuk memakai kunci cadangan yang ia punya.

Di hadapannya sekarang adalah Matsumoto Jun, actor terkenal yang sekarang sedang naik daun. Popularitasnya karena membintangi banyak film dan dorama membuatnya jadi actor yang diperhitungkan di Jepang saat ini.

“Jun!!!”, seru Din terus mencoba membangunkan actor bebal yang sepertinya semalam kembali mabuk.

Jun menggeliat, bangun dari tidurnya.

“Ah… cuma Dinchan..”, kata Jun kembali menarik selimutnya.

Din bergerak ke tirai lalu membukanya, “Bangun atau aku terpaksa menyeretmu!!”, seru Din mulai tak sabar.

Akhirnya Jun bangun, dengan mata setengah tertutup ia duduk di ranjang king size itu, hanya dengan boxer saja, buat penggemar Jun mungkin pemandangan itu bisa membuat pingsan atau bahkan mimisan. Tapi tidak buat Din, sebagai salah satu manajer Jun, ia malah ingin melempar Jun ke kamar mandi.

“Ohayou Dinchan..”, sapa Jun mengucek matanya lalu menguap.

“Kau cuma punya waktu sepuluh menit. Aku siapkan sarapan, sekarang cepat siap – siap..”, kata Din tegas sambil menarik Jun dari ranjangnya.

“Wakatta… manajer-san..”, jawanya ogah – ogahan.

Din mencibir, “Aku belum jadi manajermu..”, tegur Din lalu keluar menuju dapur apartemen itu.

Din memang hanya asisten manajer Jun. Itulah kenapa Din yang selalu di daulat untuk menemani aktor itu kemanapun Jun pergi. Sementara manajer Jun sibuk mengurusi kontrak milik Jun, Din di tugasi mengontrol semua kegiatan serta jadwal Jun.

Sekitar lima belas menit kemudian mereka sudah berada di jalan, dengan Din dibalik kemudi karena keadaan Jun yang sedikit masih hangover  tak mungkin mengemudi.

“Kau tahu… harusnya kau tahu hari ini kau harus berangkat pagi, jadi berhenti minum – minum terlalu banyak…”, keluh Din.

“Wakatta… habis semalam kau pulang duluan kan..”, balas Jun manyun.

Din menoleh dan mencibir pada Jun, “Aku tak hanya mnegurusi kau saja..”, kata Din lagi.

“Tau… kau juga harus mengurus pacarmu kan?”.

Din tak menjawab, meneruskan perjalanan itu.

“Siang ini kau gym kan?”, tanya Din memegang PDA yang sudah berisi penuh jadwal milik Jun hingga akhir tahun ini.

Jun mengangguk – angguk. Mereka di lokasi syuting, dan sedang istirahat sebelum Jun harus ke Gym.

“Baiklah… aku punya waktu dua jam..”, gumam Din.

“Kau mau kemana? Tidak ikut Gym?”, tanya Jun.

Din menggeleng, “Tidak bisa… aku harus ke rumah kakak ku..”, jawab Din.

“Ayo!”, ajak Din sambil membawa tas milik Jun.

“Huaaa~ aku malas… boleh ke rumahmu saja tidak?”, tanya Jun lagi dengan manja.

“Tidak! Kau sudah janji dengan personal trainermu… aku tak mau lagi di complain oleh manajermu karena kau sakit… menegrti?”, sahut Din cepat sambil masuk ke mobil.

“Huuummm~ wakatta…”, jawab Jun.

Setelah mengantar Jun ke Gym, Din segera meluncur ke rumah kakaknya. Ikuta Rei, kakak perempuannya yang kini sudah bergati nama menjadi Ohno Rei, setelah menikah kakaknya itu memutuskan jadi ibu rumah tangga saja.

“Ojamashimasu…”, teriak Din di pintu sesaat setelah sampai.

“Eh… Dinchan… masuk…”, sambut seorang pria.

“Satoshi-nii tidak kerja?”, tanya Din heran melihat kakak iparnya itu di rumah.

“Aku melakukan proyekku di rumah…”, jawabnya terlihat capek sekali.

Kakak iparnya, Satoshi Ohno adalah seorang seniman dan designer untuk beberapa produk. Dia kadang membawa pekerjaan ke rumah, karena kantor creative design nya adalah miliknya. Jadi, ia tak perlu terus ke kantornya.

“Sou…”, Din masuk setelah membuka sepatu bootnya. Terkadang hanya jadi seorang asisten manajer saja dirinya harus berdandan modis, mengimbangi Jun yang terus menempel padanya sepanjang hari.

“Iya tuh… dan dia menyuruhku ikut bekerja…”, kata kakaknya dari ruang tengah.

“Hahaha~”, Din hanya tertawa melihat pasangan ini.

“Ini kak… pesananmu..”, kata Din memberikan sebuah bungkusan berisi tas bermerek.

“Huwaaa~ arigatou ne Dinchan..”, kata kakaknya sambil mengambil tas itu.

“Rei… kau sudah banyak punya tas..”, tegur Satoshi.

“Tapi ini kan dari Paris… aku kan ingin..”, kata Rei lagi.

Din baru saja mengantar Jun selama tiga hari ke Paris, sehingga Rei meminta Din membelikannya tas bermerek.

“Dasar kau!”, kata Satoshi tapi tersenyum ketika istrinya itu mencoba sambil mematut dirinya di cermin.

“Kau cantik… sudahlah.. ayo bantu aku lagi..”, kata Satoshi.

Rei manyun, “Lihat Dinchan… jangan sampai kau dapat suami seperti dia… kalau tidak menggambar, kerjaannya hanya memancing, bahkan tidak bisa member istrinya pujian…”, keluh Rei pada Din.

“Hahahhaa… iya kakak ipar.. kau harusnya memuji istrimu..”, tegur Din.

“Berhenti mengadu pada adikmu…”, kata Satoshi lagi.

“Ah!! Yabai!! Sudah jam segini… aku harus menjemput Hiroki!!”, kata Rei tiba – tiba sambil emlihat ke jam dinding.

“Aku saja yang menjemput Hiroki…”, tawar Din.

“Tolong ya Dinchan… lagipula Hiro mengeluh karena kau jarang sekali ke sini..”, kata Rei lagi.

“Un… wakatta..”

Din memutuskan untuk berjalan kaki menuju sebuah sekolah TK di sekitar situ. Selain cukup dekat, ia ingin berjalan kaki. Sulit ia lakukan jika sedang bersama Jun.

Ternyata sesampainya disana, sekolah itu masih terlihat sepi. Sepertinya belum waktu mereka untuk pulang. Din memerhatikan sekelilingnya, sebagian orang tua juga sudah datang seperti dia. Tempat ini sebenarnya cukup membuatnya trauma. Bagaimana ia harus menunggu seseorang menjemputnya hingga larut malam. Ayah Ibunya yang sibuk, dan pada malam hari akhirnya yang menjemputnya adalah Rei, atau kakak cowoknya, Toma, yang sekarang di luar negeri.

Orang tuanya tidak pernah ada di rumah, TK adalah tempat mereka meninggalkan anak bungsunya untuk diurus oleh pihak TK. Mereka tak pernah datang pada acara apapun, Din memandang suasana TK yang buatnya tak pernah terasa menyenangkan.

“Eh?! Sakurai-san!!”, sapa Din pada newscaster yang pernah ia temui sekali saat mengantar Jun ke sebuah stasiun TV.

Sho memandang Din sedikit aneh, “Maaf?”

“Aku Ikuta Din… ingat? Kita pernah bertemu sebelumnya..”, kata Din lagi.

“Ah!! Manajernya Jun ya?”, seru Sho akhirnya mengingat Din.

Din mengagguk, “Aku asistennya…”, ralatnya.

“Sou.. sou… menjemput juga?”, tanya Sho ramah.

“Anak kakakku…kau juga?”

“Un… anakku sekolah disini juga..”, jawab Sho lagi.

‘Oh… jadi dia sudah punya anak..’, batin Din tak menyangka karena seorang seperti Sho sudah menikah dan punya anak.

Din hanya mengagguk – angguk mengerti. Tak lama bel sekolah itu berbunyi, semua kelas terbuka dengan guru – guru mereka di pintu, mengantar mereka pulang dengan wajah – wajah ramah.

“Hiro!!”, panggil Din pada seorang anak kecil yang celingukan, sepertinya mencari seseorang.

“Dinchaaaannn!!”, panggil Hiroki menghambur pada Din.

“Kaa-chan mana?”, tanya Hiroki bingung.

“Aku kan ingin menjemput Hiro… ne??”, kata Din sambil berjongkok mengacak rambut Hiro pelan.

“Papa!!”, seorang anak kecil lain menghampiri Sho.

‘wah~ anaknya cantik sekali..’, batin Din lagi.

“Reina-chan?”, kata Hiroki pada Reina.

“Ini Papaku…”, seru Reina pada Hiroki, sambil menggandeng tangan Sho erat.

“Ohno Hiroki desu…”, sapa Hiroki dengan sopan.

Din tersenyum melihat Hiroki bersikap sopan seperti itu.

“Ini tanteku…”

Din mengetuk pelan kepala Hiroki, “Jangan sebut aku tante..”, tegur Din tak rela.

“Hahahaha…”, Sho tertawa.

“Ayo pulang…”, ajak Din pada Hiroki.

“Dadah Reina-chaaann!! Sampai jumpa besok!!”, seru Hiroki melambai pada Reina.

“Oh… jadi Reina-chan itu pacarmu ya?”, tanya Din di sepanjang perjalanan menuju rumah.

“Bukan Dinchan!! Bukann!!”.

“Ayo mengaku saja…”, goda Din lagi.

“Kau telat sepuluh menit…”, kata Jun sambil melipat tangannya di dada.

“Gomen na… jalanan penuh… aku sudah mencoba untuk cepat… lagipula setelah ini kan hanya pemotretan, dan itu masih…”, Din mengambil PDA nya, “sejam lagi… tak usah mendramatisir..”, kata Din lagi.

“Hahaha~ iya… iya… aku tahu..”, kata Jun sambil berlalu dari lobby tempat Gym itu, menuju lift.

“Pemotretan plus wawancara, lalu malam hari kau harus tampil di acara tengah malam.. yosh!”, kata Din mengecek lagi jadwal Jun.

Jun menarik tasnya yang dipegang oleh Din, karena Din terlihat repot dengan berbagai macam barang yang ia bawa.

“Kau sudah terlihat repot tanpa tasku..”, ujar Jun cuek.

Ia membawa PDA, dua ponsel, kostum Jun untuk nanti malam yang baru saja ia ambil, serta tas miliknya dan sebuah jaket milik Jun.

“Hehehe~”.

“Hehehe jyanai..”, kata Jun lalu masuk ke lift, diikuti Din, “Kau tak perlu pakai celana sependek itu, dan sepatu boot juga kan?”, kata Jun memerhatikan dandanan Din.

“Berisik…”, kata Din sibuk dengan ponselnya yang kini berdering.

From : Masaki-kun 🙂
Subject : Tonight
Mala mini aku jemput ya sayang~
Aku pulang tengah malam…
Aku akan ke tempat kau..
Love you~

Din tersenyum melihat e-mail itu. Sudah lama Aiba tidak menjemputnya, lagipula akhir – akhir ini hubungan mereka sedikit terasa hambar karena kurangnya komunikasi antara mereka berdua.

To : Masaki-kun
Subject : Re:Tonight
Wakatta honey-kun~
^^
Jangan lupa makan siang ya..
Love you too~

“Pasti e-mail dari Aiba ya..”, kata Jun memerhatikan ekspresi wajah Din.

“Kalau iya memang kenapa?”, tanya Din.

“Tidak apa – apa..”, kata Jun sambil keluar dari lift.

Din baru sadar mereka sudah sampai di basement.

“Jadi malam ini kau juga pulang cepat?”, tanya Jun yang kini berada di balik kemudi, ia yang akan membawa mobilnya.

“Tidak akan ikut after party sepertinya..”, kata Din menjawab sambil masih fokus pada ponselnya.

“Membosankan…”, keluh Jun.

“Apanya?”

“Kalau tak ada kau jadi membosankan tau!”, keluhnya lagi.

Din hanya mengerling berusaha tak mendengar Jun.

——–
TBC~
baru prolog kawan2!!karena kita lagi gila ARASHI!!hahaha 😛


Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Happiness (chap 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s