[Oneshot] This Love

Title        : This Love
Type          : Oneshot
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance *yeah~* XP
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Saifu Suzuki (OC), all HSJ member, and other OC
Disclaimer    : I don’t own all character here. All HSJ member is belong to Johnnys~ this is just for my daughter birthday present~ maap gaje ye naaaakk~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

THIS LOVE


Suasana sekolah tampak lebih ramai daripada biasanya. Hari terakhir sebelum liburan musim panas biasanya memang lebih ramai seperti ini. Setiap orang bersemangat akan datangnya liburan selama tiga bulan lamanya ini. Begitu juga dengan seorang gadis yang kini sedang berbincang – bincang dengan teman – temannya.

“Enaknya ngapain ya?”, keluh cewek itu sambil menelungkupkan kepalanya di bangku, “Mi-chan mau ngapain?”, tanya nya pada sahabatnya yang duduk di seberangnya.

“Aku kan mau ke Bali sama keluargaku…”, jawabnya bersemangat, “Fu-chan mau kemana?”.

Saifu menggeleng, “Aku belum tau… inginnya sih dapat arubaito… dimana gitu~ aku butuh uang…”, katanya lagi.

“He?? Buat apa?”, tanya Mika heran mendengar sahabatnya berkata seperti itu.

“Ya buat nonton konser JUMP…”, kata Saifu lagi.

Mika langsung paham. Untuk seorang fangirl seperti Saifu, uang untuk konser tampaknya sangat penting.

“Sou ne…”, gumam Mika mengerti.

“Ahhh~ aku arubaito dimana ya??”, keluh Saifu lagi.

“Sebentar! Kakakku kemarin bilang ia dapat arubaito, tapi dia harus menolaknya karena akan ke Bali… siapa tau masih bisa diambil olehmu…”, kata Mika cepat.

“Huwaaa!! Hontou??!! Hontou??!!”, seru Saifu bersemangat.

Mika tertawa karena Saifu mengguncang bahunya dengan kuat, “Iya.. iya.. sebentar.. aku telepon dia dulu ya…”, kata Mika menenangkan Saifu.

Saifu menunggu Mika menelepon kakaknya itu. Dengan harap – harap cemas Saifu berdo’a dalam hati semoga pekerjaan itu bisa ia dapatkan.

Tak berapa lama, Mika berbalik dan mengagguk pada Saifu.

“Dia bilang boleeehh!!”, serunya.

“Kyaaaaa!!!”, Saifu memeluk Mika karena bahagia, “Memangnya pekerjaan apa?”, tanya Saifu tiba – tiba sadar dia belum tahu apa pekerjaannya.

“Kata kakakku,  minggu depan datang aja ke alamat yang nanti dia kirim… pokoknya kamu bakal dapet instruksinya.. kamu tinggal bilang kamu yang bakal gantiin Misaki Yuri… kakakku..”, jelas Mika panjang lebar.

“Haii!! Sankyuuu!!!”, Saifu kembali memeluk sahabatnya itu.

Hari yang Saifu nantikan akhirnya datang. Setelah libur selama seminggu tanpa kegiatan, ia akhirnya akan arubaito juga. Mika sudah mengirimkan alamatnya, dan ia sangat bersemangat hingga tanpa sadar ia mengerjakan semua tugasnya di minggu awal liburan.

Ia cukup bersyukur juga maka selama sisa liburan ini ia akan menikmati hari – harinya bekerja saja.

Langkah Saifu hampir berhenti ketika ia baru sadar dimana ia sekarang.

“EEEEHHH??!!”, teriaknya kalut, ia tak percaya ia berdiri di sebuah gedung yang bahkan tak pernah ia impikan untuk ia injak.

Masih sedikit tak percaya, Saifu berusaha mengandalikan diri lalu masuk ke dalam dengan membawa kertas yang diberikan oleh Mika.

“Aku menggantikan Misaki Yuri..”, kata Saifu di front office sedikit bergetar karena masih kaget.

“Ah ya..”, pegawai itu memanggil seseorang, yang lalu mengantarkan Saifu ke sebuah ruangan, beberapa orang sudah berkumpul. Tampaknya mereka juga orang baru.

“Namamu siapa?”, tanya orang itu pada Saifu sesaat setelah Saifu masuk.

“Eh~ Suzuki Saifu desu…”, jawab Saifu sedikit gugup.

Orang itu laki – laki dengan perawakan sedang, tampak menggunakan air phone untuk telepon, dan tampak membawa sebuah ipad di tangannya.

“Kau…”, dia tampaknya mencari nama Saifu.

“Aku menggantikan Misaki Yuri-san..”, kata Saifu cepat.

“Oh ya~ baiklah…”, katanya cepat.

Semuanya tampak terlihat sangat awas dan pastinya lebih tua darinya. Saifu sedikit terintimidasi, namun berusaha tetap tenang.

“Tugas kalian akan aku bagikan setelah ini. Semua job desk sudah jelas… Coordi… pastikan mereka fitting baju hari ini… kita hanya punya waktu kurang dari seminggu…mengerti?!”, katanya sibuk.

Aku mengintip amplop yang belum sempat dia buka selama seminggu ini karena terlalu excited, ia lupa melihat deskripsi pekerjaannya.

Clothes Coordinator for Hey! Say!JUMP

Saifu merasa ia bisa pingsan sekarang.

“Kau yang baito itu ya..”, sapa seseorang ketika Saifu masuk ke sebuah ruangan yang isinya hampir menyerupai toko baju, namun lebih besar dari itu.

Saifu mengangguk cepat, “Hai!”, dirinya masih sedikit ingin pingsan dan nafasnya tercekat karena masih shock.

“Aku Mizukawa Airin… kau?”, kata cewek yang lebih tua dari Saifu sambil tersenyum.

“Suzuki Saifu desu..”, suaranya hampir lebih seperti cicitan dibanding suara normalnya.

“Kau tampak pucat… ada yang salah?”, tanya Airin dengan nada pelan.

“Aku hanya kaget. Maksudku… aku hanya menggantikan kakak temanku… tapi aku tak tahu kalau pekerjaan ini melibatkan Hey!Say!JUMP…”, jawab Saifu bersemangat.

“Jangan bilang kau fans mereka?”, tanya Airin kaget.

Saifu mengangguk dengan mata masih setengah tak percaya.

“Kau akan terbiasa nanti… hehehe..”, Airin tersenyum, “Sekarang ayo bawa baju – baju yang diperlukan.. sebentar lagi mereka datang..”, kata Airin lagi.

Saifu segera mencoba mengembalikan kesadaran dirinya, mencoba bernafas dengan normal, walaupun dadanya dag dig dug tak keruan.

Setengah jam kemudian Airin dan Saifu sudah ada di sebuah ruangan besar, ditemani beberapa staff lain yang juga mempersiapkan baju – baju tersebut.

“Nyantai saja… kau pasti akan terbiasa… lagipula member JUMP baik – baik kok..”, katanya lagi.

Saifu mencoba tersenyum, namun gagal, tampaknya itu lebih seperti seringai daripada sebuah senyum.

Tak lama pintu terbuka, sosok Chinen Yuuri dan Nakajima Yuto masuk ke ruangan itu.

“Ohayou gozaimasu!!”, seru mereka menyapa para staff.

“Yoroshiku onegaishimasu!!”, seru mereka lagi.

Para staff ikut membungkuk menyambut mereka datang. Saifu seakan mematung, dirinya tak mampu bergerak, ia yakin ia bisa pingsan jika yang masuk itu Morimoto Ryutaro atau Arioka Daiki, dua member yang paling ia suka.

“Suzuki-chan… ayo!!”, seru Airin membuyarkan lamunan Saifu.

Dengan canggung Saifu mengambil baju dan memberikannya pada Airin, sambil mengecheck mana yang harus di fitting terlebih dahulu.

“Ini Mizukawa-san..”, kata Saifu memberikan beberapa baju yang ia yakin benar.

Mereka pun sibuk fitting baju untuk Chinen dan Yuto, ketika pintu kembali terbuka, Takaki Yuya, Kota Yabu, dan Yaotome Hikaru juga masuk untuk fitting. Semua staff juga sibuk membantu mereka fitting.

Saifu rasanya ingin meledak. Ia bahkan tak mampu melihat mereka secara langsung. Apalagi tak lama setelah itu Arioka Daiki dan Ryousuke Yamada terlihat masuk, benar – benar membuat udara terasa panas untuk Saifu.

“Suzuki-chan… jangan cuma mengambil baju… coba tolong Arioka-kun..”, tegur Airin cepat.

“HAH?!”, Saifu setengah berteriak.

“Ssshht~ jangan heboh gitu… udah cepat!”, kata Airin lagi.

“Haaaii~”, kata Saifu gugup mendekati Daiki yang sudah dengan baju pertamanya.

“Yoro..shi…ku…”, kata Saifu gugup setengah mati.

“Kau baru ya?”, kata Daiki.

“Eh? i… ya…”, jawab Saifu lagi.

“Arioka Daiki desu… yoroshiku.. Suzuki-san…”, katanya lagi.

“Hah?”, Saifu mengerutkan kening, ‘kenapa ia tahu namaku?’

Daiki tertawa, menunjuk name tag yang Saifu pakai.

Saifu akhirnya ikut tertawa gugup.

“Kurasa bagian ini harus sedikit di potong..”, kata Daiki lagi membuyarkan lamunan Saifu.

Saifu menuliskannya pada catatan milik Daiki, “Hai… ada lagi?”, tanya Saifu yang sejak tadi sudah memerhatikan staff yang lain.

“Ohayooouu!!”, seru seseorang dari pintu.

Saifu kembali tercekat.

Itu dia…

Itu dia…

Saifu mencoba tenang dan mefokuskan diri pada Daiki.

Morimoto Ryutaro berjalan masuk sendirian dengan seragam Horikoshi nya, sepertinya ia baru saja pulang sekolah.

Tak lama, Inoo Kei dan Okamoto Keito juga menyusul setelahnya.

Ruangan sedikit terlihat penuh dengan berseliwerannya para staff dan member JUMP yang mencoba baju mereka untuk konser summer ini.

“Hahaha~”, tawa Daiki membuat Saifu menoleh melihat Daiki.

“Ada apa Arioka-san?”, seru Saifu kaget.

“Tidak ada… Ryu akan ada disitu, ia tak akan hilang… tak usah diteliti begitu..”, tegurnya.

“Sumimasen…”, Saifu tak elak merasa malu karena kedapatan memerhatikan Ryutaro.

“Daijoubu… hahaha”, Daiki kembali tersenyum membuat Saifu berfikir bahakan bila ia hanya bermimpi saat ini, ia tak ingin terbangun.

Selama seminggu persiapan membuat Saifu sedikit kewalahan. Konser pertama akan dilaksanakan di Osaka. Ia tak percaya bahkan ia bisa nonton gratis dan berada di belakang panggung. Taruhan, teman – teman fandom nya pasti sangat iri padanya saat ini.

Sebelum berangkat, ia kembali melihat kaos yang akan ia kenakan. ‘JUMP SUMMER CONCERT STAFF’ tertulis disitu. Membuatnya bangga dan tak bisa tidur semalaman karena menunggu pagi datang.

Keesokan paginya, Saifu bergegas menuju kantor untuk ikut briefing terakhir. Beruntung orang tua nya membolehkannya untuk bekerja seperti ini. Alasan untuk pengalaman memang paling ampuh untuk kedua orang tuanya.

“Ini briefing terakhir kita sebelum berangkat…”, kata Fujikawa-san yang bertanggung jawab atas semua kostum dan make up kali ini. Pria yang menurut Saifu sangat sibuk saat pertama kali melihatnya.

Sesampainya di tempat, Saifu kembali membaca job desk miliknya, ia bertanggung jawab untuk Daiki dan Yuto. Maka dibelakang panggung nanti, ialah yang akan memastikan baju Daiki dan Yuto benar, dan tak tertukar dengan yang lain. Agar tak terlalu banyak staff yang berkeliaran di belakang panggung, memang hanya lima orang yang bertanggung jawab.

Agar tak ada kesalahan, Saifu kembali mengurut baju mana saja yang akan dipakai Daiki juga Yuto, dan pada saat apa mereka harus berganti baju.

“Ne… Fu-chan..”, panggil Airin mengagetkannya.

“Ah? Ya?”, Saifu mendongak melihat Airin, “Ada apa?”.

“Nanti jangan terlalu kaget ya…”, kata Airin sedikit berbisik pada Saifu.

“Kaget? Kaget kenapa Ai-chan?”, tanya Saifu bingung.

Airin tak menjawab hanya berlalu dari situ.

Akhirnya Konser akan segera dimulai. Seluruh personel sudah memakai kostum pertama mereka. Saifu dengan tak sabar melihat mereka dibalik panggung, setelah beberapa lagu, BEST masuk ke belakang panggung, semua staff coordi sibuk termasuk Saifu yang sejak tadi sudah memegang baju yang Daiki harus pakai.

“Kyaa!”, Saifu kaget ketika Daiki dengan cuek membuka bajunya, memang sih, ia pakai celana pendek namun topless.

Saifu segera mengendalikan dirinya, lalu memakaikan baju Daiki, kurang dari semenit, Daiki kembali ke panggung.

“Sudah kubilang jangan terlalu kaget..”, kata Airin sambil menyiapkan baju milik Yamada sekarang.

Saifu kini mengerti kenapa Airin mewanti – wanti nya. Ini backstage, dan semuanya harus serba cepat, dan tak boleh ada kesalahan.

Setelah beberapa waktu, Saifu cukup terbiasa dengan kerja cepat ini, walaupun memang sangat membuatnya lelah.

“Otsukaresamaaa!!”, seru member JUMP pada staff-san yang ada di backstage.

“Hari pertama bereeess!!”, seru Daiki pada Saifu.

“Eh..iya…”, Saifu kaget.

“Fu-chan!”, panggil Airin.

“Ya?”

“Malam ini jalan – jalan yuk~ merayakan hari pertama.. hehe..”, kata Airin lagi.

Saifu mengangguk dan segera membereskan baju – baju tersebut.

Hari sudah cukup malam, Saifu merasa tubuhnya seidkit sakit karena terlalu lama berdiri, bulak – balik, dan tegang karena takut salah. Namun akhirnya konser pertama berjalan baik. Besok kita masih di Osaka. Seluruh member JUMP sudah berada di hotel untuk istirahat sepertinya.

Ternyata Airin mengajak beberapa staff lain bersama mereka. Malam ini mereka akan makan malam di sebuah restaurant.

“Ah!!yabai!!”, seru Saifu.

“Kenapa Fu-chan?”, tanya Airin.

“Dompet dan handphone ku ketinggalan di hotel… aku kembali dulu ya..”, kata Saifu kesal akan kecerobohannya sendiri.

“Kau yakin bisa kesini sendiri?”, tanya Airin cemas.

Saif mengagguk, “Bisa Ai-chan!! Tenang saja..”, katanya sambil melambai pada yang lain.

Saifu mencoba mengingat jalan pulang ke hotel, namun ia malah tersesat, inilah akibatnya jika sok tahu di tempat orang. Ini kan bukan rumahnya, bukan daerah rumahnya, ia malah sok – sokan jalan sendirian.

‘Aduh… gimana nih?’, pikiran Saifu mulai kalut, apalagi ia tak mebawa ponselnya.

“Suzuki-san?”, panggil seseorang membuat Saifu sontak menoleh.

“Eh? Arioka-san??!!”, seru Saifu.

“Kenapa ada disini?”, tanya Daiki ramah.

Saifu pun menceritakan bagaimana ia ketinggalan ponsel dan dompet, serta lupa jalan pulang.

“Hahaha~ kau ini ada – ada saja..”, katanya sambil tertawa, “Ya sudah… makan denganku saja yuk~”

“Hah?”

“Ayo… aku sendirian… ayo~”, ajak Daiki sambil menarik Saifu masuk ke sebuah restaurant kecil, namun mereka mendapat tempat VIP di dalam, sehingga tidak ada yang lihat mereka.

“Anooo~ Arioka-san..”

“Jangan panggil begitu…”

“Arioka-kun?”, tanya Saifu meminta persetujuan.

“Lebih baik… ya? Ada apa?”, Daiki balik bertanya.

“Kenapa kau jalan – jalan sendirian?”.

“Betsu ni… aku lagi ingin sendiri saja… tadi setelah bersama member lain, aku memutuskan jalan – jalan sendiri..”, jawab Daiki ramah.

“Sou ne…”, Saifu tak mampu menjawab karena dadanya bergemuruh terlalu kuat. Ia tak mampu berfikir jernih.

“Suzuki-chan…”, panggil Daiki, “Kau masih sekolah ya?”, tanyanya.

Saifu mengangguk, “Aku kelas dua sekarang..”.

“Souka… jadi hanya arubaito ya?”

“Iya… tapi aku gak tahu kalau arubaito ku itu… di konser seperti ini..”, jelas Saifu.

“Hontou?”

“Un! Aku kira~ apa gitu… aku kan awalnya hanya menggantikan kakak temanku yang berhalangan..”, jelasnya lagi.

Pembicaraan mereka terpotong ketika pesanan datang. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pun mulai makan.

“Hahaha~ masaka… kau fans JUMP?”, Daiki memandang Saifu.

Saifu sedikit enggan menjawabnya, namun  akhirnya mengangguk.

“Biar kutebak… ichiban mu… Morimoto Ryutaro?”, tebaknya.

Sangat tepat, membuat Saifu sedikit tersedak, dan segera minum karena kaget.

“Sudah kukira… hari pertama aku melihatmu, matamu tak lepas dari Ryu..”, kata Daiki lagi.

Saifu hanya tersipu, pembicaraan ini sangat menyenangkan, bahkan Saifu nyaris lupa kalau Daiki yang dihadapannya adalah Arioka Daiki yang selama ini ia idolakan.

Setelah makan malam itu, mereka pulang ke hotel.

“Ne~ Suzuki-chan…”, panggil Daiki.

“Ya?”

“Boleh aku minta nomor telepon dan alamat e-mail mu?”

From : ano otoko~
Subject : capeeee~ =.=
Hari ini kami ada pemotretan Fu-chan..
Waktunya lama sekali…
Beberapa baju pula…
Aku capek,
Aku ingin pulang~
Fuuuuu~

Saifu tertawa melihat e-mail dari Daiki. Ia sengaja menamai nya “ano otoko” agar orang lain tidak tahu itu nomer Daiki. Mereka terasa semakin dekat setelah dua minggu sering bertukar pesan, dan sering bertemu di kantor atau saat akan konser. Kebetulan hari ini mereka tak ada konser, dimulai lagi besok di Nagoya. Saifu sudah terbiasa dengan kerja cepat sekarang. Ia tak perlu terlalu banyak befikir saat bekerja, tangannya sudah cekatan dalam mengambil baju dan memakaikannya pada Daiki atau Yuto.

From : Fu-chan 🙂
Subject : Re: capeeee~ =.=
Hahaha~
Semangat Arioka-kun!!
Kau pasti bisa~
Hehehe 😛
Aku sedang menikmati hari liburku!!
*guling – guling*
😛
Besok kita ketemu lagi ya~ 🙂

Daiki membuka ponselnya, membaca pesan singkat itu membuatnya sedikit bersemangat walaupun terasa capek. Ia memang sedang kurang fit, bahkan terkena flu musim panas, mengharuskan dirinya tak banyak bergerak dulu agar pada konser besok setidaknya ia lebih baik.

“Dai-chan… punya pacar ya??”, tebak Yamada yang kini duduk di sebelahnya.

Sekarang sedang giliran Yuto ternyata.

“Tidak…”, elak Daiki segera menutup ponselnya.

“Ahahaha~ bohong…”, seru Yamada menggoda Daiki lagi.

Daiki mencibir, tak ingin menjawab.

To : Fu-chan 🙂
Subject : hahaha~
Enak nya kau bisa libur~
Mana hari liburku?? :((
Ah ya,, kota berikutnya Nagoya..
Malam hari mau jalan lagi?
Cuma makan malam seperti biasa..
Dou?
^^

Daiki kembali tersenyum lalu menutup lagi ponselnya, menghindari Yamada yang terus menggodanya, Hikaru yang juga ingin tahu, serta Inoo yang ikut – ikutan menggodanya.

Sementara itu Saifu sangat senang membaca ajakan Daiki untuk makan malam. Sejak malam itu, Saifu merasa dirinya punya J-WEB pribadi milik Daiki. Ia akan tahu apa saja kegiatan Daiki dan JUMP nya.

To : ano otoko~
Subject : OK dechuu 😛
Hari ini kau pasti lelah~
Jangan lupa makan ya…
^^
Ok dechuu~
Otanoshimi ni…

Saifu merasa hatinya berbunga – bunga, tapi ia juga terus mengingatkan dirinya. Daiki bukan orang biasa, ia idol dan punya banyak fans. Mungkin dirinya hanyalah satu diantara fans – fans lainnya diluar sana.

Konser di Nagoya hari itu sukses dan berakhir dengan mulus seperti biasanya. Tidak ada yang cedera, tidak ada yang salah dengan apapun. Saifu melepaskan nafas lega, akhirnya selesai juga hari ini.

“Habis ini aku makan dengan member dulu ya.. kau bisa tunggu kan?”, bisik Daiki sambil membuka kaos yang ia pakai saat encore. Ia sangat basah oleh keringat.

Saifu mendongak melihat Daiki, “Un… wakatta..”.

Daiki pun tersenyum, Saifu memberikan handuk kering pada Daiki.

“Yosh!! Ayo kita makaaannn!!”, seru Hikaru heboh di belakang kami.

“Ne~ Arioka-kun bilang apa tuh?”, tanya Airin yang sejak tadi memerhatikan tingkah Daiki dan Saifu yang terlihat berbeda.

“Ha? Tidak ada apa – apa.. hanya.. ‘otsukare sama..’, gitu…”, jawab Saifu sedikit gugup.

“Aku perhatikan Fu-chan dekat dengan Arioka-kun ya? Hahaha..”, goda Airin lagi.

“Betsu ni…”, elak Saifu sambil mengangkut kembali baju – baju tersebut ke ruang lain dengan wajah masih tersipu malu.

From : ano otoko~
Subject : (no subject)
Fu-chan… tunggu depan hotel ya..
Aku kesana lima menit lagi.

Jam sudah menunjukkan hapir pukul sepuluh malam. Namun Saifu menunggu Daiki, cuaca malam itu cukup panas membuat Saifu merasa tetap harus berkipas – kipas walaupun sudah malam.

“Lama ya?”, tanya Daiki terlihat sedikit merasa bersalah.

“Tidak kok..”, jawab Saifu sambil tersenyum.

“Ayo..”, ajak Daiki, lalu berbalik, menawarkan tangan kirinya pada Saifu.

“Eh?”, Saifu kaget. Itu artinya Daiki ingin Saifu menyambut tangan itu, dan mereka akan jalan bergandnegan tangan.

“Ayo..”, kata Daiki sedikit menoleh pada Saifu.

Takut – takut Saifu menyambut tangan itu. Malam itu mereka berjalan sambil bergandengan tangan, Saifu bahkan merasa sulit bernafas karena dadanya begitu dag dig dug bergemuruh. Kepalanya hanya penuh dengan satu nama. Daiki.

Konser hari ini akan dilaksanakan di Yokohama Arena. Staff sudah sibuk mulai dari kemarin, termasuk Saifu. Ia menyortir dan memeriksa apakah baju – baju itu sudah siap pakai atau belum.

From : ano otoko~
Subject : 😛
Kau dimana? Siap – siap lagi?
Hehehe~
Kyou mo yoroshiku ne,,
Staff-san.. 😛

Saifu kembali tersenyum, Daiki selalu bisa membuatnya tersenyum lagi walaupun saat ia sangat capek sekalipun.

Ia yakin Daiki sudah datang ke tempat, maka Saifu segera mengambil kotak bento itu, menghampiri Daiki di ruang ganti.

To : ano otoko~
Subject : 🙂
Arioka-kun…
Aku diluar~
Bisa kesini sebentar?

Tak perlu waktu lama, pintu terbuka dan Daiki muncul dari dalam.

“Ada apa Fu-chan?”, tanya Daiki saat keluar dari ruangan itu.

Saifu menyerahkan kotak bento nya.

“Aku tak tahu ini enak atau tidak…”, kata Saifu malu – malu.

Daiki mengambilnya, “Waa~ arigatou..”, kata Daiki sambil tersenyum lagi pada Saifu.

Dengan hati – hati Daiki membuka kotak bento itu. Ternyata onigiri sederhana yang dibentuk macam – macam oleh Saifu.

“Kawaaaii! Aku mauu!!”, seru Yuto menghampiri Daiki.

“Eits.. gak boleh!!”, elak Daiki menarik kotak bentonya.

Namun dari belakang justru Inoo mengambil satu onigiri tersebut.

“Hahaha~ enak… enak..”, kata Inoo sambil menggigitnya.

“Hiyaaa!! Kei-chaaaannn!!”, teriak Daiki sambil mencoba mengambil onigiri yang sudah dimakan Inoo.

Inoo tertawa – tawa mengindari pitingan Daiki.

“Iya!! Enak!!”, kata seseorang yang ternyata Yamada juga sudah memakannya. Karena Daiki meninggalkannya di meja.

“Huwaaaa!!!”

“Apa sih ribut – ribut?”, tanya Takaki yang baru saja datang.

“Dai-chan dapat onigiri cintaa…”, goda Yuto iseng.

Semuanya mengooda Daiki yang terus mengelak, namun sebenarnya ia merasa senang hari itu. Ia berjanji akan memakannya nanti.

To : Fu-chan 🙂
Subject : (no subject)
Aku sudah menunggumu Fu-chan…
Ayo~

Saifu bergegas ke depan hotel, ia tak lupa pamit pada Airin yang sejak tadi mengobrol dengannya.

“Gomen lama…”, kata Saifu.

“Daijoubu.. ayo..”, Daiki kembali menggenggam tangan Saifu.

“Kemana kita Arioka-kun?”, tanya Saifu.

Daiki memandang Saifu, “Panggil aku Daiki-kun..”, katanya.

“Eh?”, wajah Saifu memerah, “Nande?”.

“Nande jyanai~ aku kan memanggilmu Fu-chan.. masa aku belum naik tingkat juga.. masih saja Arioka-kun?”, tanya Daiki sambil pura – pura kesal.

“Baiklah…”, Saifu menarik nafas panjang, “Daiki-kun?”, sebut Saifu pelan.

Daiki tersenyum senang. “Hehehe~”.

Daiki ternyata membawa Saifu ke pinggiran sebuah dermaga. Mereka hanya duduk – duduk. Tepat sekali, mengingat cuaca sangat panas, duduk di tempat seperti ini setidaknya membuat mereka sedikit merasa sejuk.

“Ini.. “, Daiki menyerahkan sekaleng jus jeruk yang tadi ia beli.

“Arigatou..”, Saifu mengambilnya dan meminumnya dengan cepat, ia haus juga ternyata.

“Fu-chan.. terima kasih onigirinya. Kei-chan dan Yama-chan bilang enak juga..”, kata Daiki.

“Hah? Mereka makan juga?”

Daiki mengagguk kesal, “Mereka mencurinya dariku..hahaha”, jelas Daiki sambil tertawa.

“Nanti aku bikinkan yang lebih banyak.”, kata Saifu menenagkan Daiki.

“Janji ya..”.

Saifu mengangguk, malam ini walaupun bintang tak begitu tampak, tapi ia merasa malam ini sangat indah. Mungkin karena disebelahnya ada Daiki.

“Daiki-kun… aku mau tanya…”, Saifu mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.

“Ya?”

“Kenapa Daiki-kun begitu baik padaku?”, tanya Saifu setengah berbisik, ia takut Daiki tersinggung atas pertanyaannya.

Daiki menoleh kepada Saifu.

Sedetik kemudian Saifu kaget karena wajah Daiki mendekatinya, tak lama, bibir mereka bertautan satu sama lain.

“Suki dakara..”, kata Daiki sesaat setelah mencium Saifu pelan.

“Eh?!”, mata Saifu terbelalak tak percaya.

Daiki tak bereaksi lain, ia kembali menyentuhkan bibirnya pada bibir Saifu. Mencium Saifu lebih dalam, menegaskan perasaannya pada Saifu.

“Jelaskan padaku.. apa ini??!!”, Daiki mengekeret juga mendengar manajernya membentaknya dengan keras.

Lima tabloid sekaligus, menampilkan fotonya yang berciuman dengan Saifu. Dengan headline tulisan besar – besar.

‘Arioka JUMP punya pacar seorang staff’

‘Ciuman di bawah bintang, seorang Arioka Daiki dan pacarnya’

Lalu judul – judul lain yang provokatif. Daiki hanya menunduk, ia tak sanggup melihat wajah manajernya yang kini terlihat kusut.

“Arioka Daiki!! Jelaskan padaku!! Benar dia staff??”, manajer itu mengacak rambutnya dan menggaruknya walaupun tak gatal.

Ia yakin tak lama lagi panggilan dari bos besar akan datang. Skandal ini pasti sudah diketahui oleh bos besar.

“Daiki!!”, seru manajernya lagi.

Tak lama ponsel manajer-san berbunyi. Daiki semakin mengkeret melihatnya.

“Ayo… kita harus menghadap…”, kata manajer-san terlihat pasrah.

Hasil dari pertemuan itu sudah jelas. Untung foto tersebut tak begitu terlihat jelas, sehingga mereka akan mengadakan konferensi press menganai hal ini. Mengelak foto tersebut adalah Daiki.

“Staff itu akan dipecat. Jangan temui dia lagi…”, kata manajer-san sambil berlalu dari hadapan Daiki.

Saifu masuk ke kantor dengan hati riang. Ia dan Daiki resmi berpacaran, membuatnya begitu bahagia. Ia pun sengaja membuat onigiri untuk Daiki lagi hari itu.

“Ohayou Ai-chan!!”, sapa Saifu pada Airin.

“Yo! Ohayou!”, Airin tersenyum balik pada Saifu.

Konser selanjutnya adalah konser terakhir, di Tokyo Dome. Empat hari berturut – turut pastinya akan menguras tenaganya. Ia mengecheck daftar baju yang akan digunakan, ketika Fujikawa-san memanggilnya.

“Suzuki-san!!”, panggilnya, “Kita harus bicara…”, katanya dengan anda serius.

Di belakang Fujikawa-san seorang pria dengan kacamata dan badan tinggi, menunggunya.

“Saya manajer JUMP..”, katanya memperkenalkan diri.

Saifu mengangguk, “Ada apa?”, tanya Saifu bingung.

Tiba – tiba dia mengeluarkan beberapa tabloid yang menampilkan fotonya bersama Daiki sedang berciuman.

“Hah??!!”, Saifu menutup mulutnya tak percaya.

“Seperti yang kau lihat. Ini menjadi skandal, Arioka –san sudah mengakui ini adalah kau… jadi kumohon… kau tak perlu datang lagi kesini mulai besok. Gaji mu akan dibayar penuh… jangan temui Daiki lagi..”, kata – kata manajer itu tegas dan membuat Saifu kaget.

“Aku… dipecat??”, Saifu hampir menangis di tempat.

“Maaf… tapi kau tak boleh ebrada di sekeliling Daiki… kami akan mengelak foto ini, jadi kau tak boleh ada di sekitarnya…”.

Setelah itu Saifu pulang. Hatinya hancur seketika, ia tak boleh lagi berhubungan dengan Daiki. Lebih buruk, image Daiki rusak gara – gara dia.

From : ano otoko~
Subject : Fu… 😦
Jangan dipikirkan…
Aku tak akan meninggalkan kamu…
Pokoknya kita gak putus..

Saifu melihat kembali isi pesan itu. Ia senang Daiki bilang begitu, tapi bukankah image Daiki akan rusak lagi jika mereka kembali kepergok oleh media? Mereka prince, mereka idola yang dimiliki semua orang, memang seharusnya Saifu tidak mendekati Daiki, menerima Daiki.

Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Saifu membalas pesan Daiki.

To : ano otoko~
Subject : (no subject)
Maaf Arioka-san…
Kita tidak bisa bertemu lagi..

Saifu menangis malam itu dengan perasaan pedih yang mendalam. Ia baru saja merasakan cinta yang manis dengan Daiki. HUbungan mereka baru saja dimulai, tapi tak berjalan mulus malah hancur sebelum benar – benar dimulai.

Sudah dua minggu sejak kejadian itu. Rangkaian konser Hey!Say!JUMP sudah selesai. Saifu menolak untuk menerima telepon dan membalas e-mail Daiki yang hampir setiap hari dikirim olehnya. Saifu rindu sekali pada Daiki, tapi dia tak mau memulai lagi hubungan yang bisa membuat karier Daiki hancur.

Ia tak mau melakukannya.

From : ano otoko~
Subject : hmmm..
Aku di depan rumahmu.
Jika kau tidak menyuruhku masuk,
Aku akan tetap disini, berteriak – teriak
Memanggilmu.

“Eh??!!”, Saifu kaget dan bergegas menuju ke bawah, membuka pintu.

“Ano~ ada apa?”, tanya Saifu enggan.

“Kau akan membiarkanku diluar?”, tanya Daiki.

Saifu mengajak masuk Daiki, mereka berbicara di ruang tengah.

“Soal manajer dan perusahaan… maafkan aku..”, Daiki memulainya, “Kenapa kau menghindariku? Aku sudah bilang… kita~”

“Kita harus putus… aku tak bisa jadi penghalang kariermu Daiki-kun..”, Saifu menunduk, mencoba menahan tangisnya.

“Kau tak pernah jadi pengahalangku… kenapa sih? Ini kan hanya isu tabloid?? Aku tetap Daiki yang kau kenal.. aku gak berubah..”, jelas Daiki lalu meraih tangan Saifu.

“Tapi Daiki-kun…”

“Perasaanmu padaku sudah hilang?”

Saifu menggeleng, “Tentu saja tidak… perasaanku tidak berubah sedikitpun…”

“Itu jawaban yang paling mudah kan? Kita tetap bisa bersama…”, kata Daiki memeluk Saifu.

“Daiki-kun… kita tak boleh terlihat bersama saat di publik..”, bisik Saifu.

“Wakatta…”.

Malam itu Saifu dan Daiki mengikat janji mereka. Walaupun harus main kucing – kucingan dengan media, tidak adanya persetujuan pihak manajemen, mereka tetap ingin bersama. Mereka tak tahu hingga kapan, tapi yang jelas, saat ini cinta ini ingin mereka jaga berdua.

——————-
OWARI~
Gaje amat yaaaa??? Sudahlah tak apa – apa… hahahaha 😛
Happy birthday Saifu-chan!! 🙂



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s