[Minichapter] Another Love Story (chapter 3)

Title        : Another Love Story (With You side story)
Type          : Minichapter
Chapter     : Tiga (end)
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance *yeah~ again!!* XP
Ratting    : PG aja ya~
Fandom    : JE
Starring    : Keito Okamoto (HSJ), Din Ikuta (OC), Saifu Suzuki (OC), Yuya Takaki (HSJ), Opi Yamashita (OC), Kei Inoo (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Keito Okamoto, Yuya Takaki and Kei Inoo are belong to JE, Din, Saifu, and Opi is OC. But Din is a little bit similar with me..LOL. it’s sequel of With You. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Another Love Story
=Chapter 3=


Pagi yang cukup cerah hari ini. Musim semi akan segera beranti ke musim panas. Cuaca cerah sekali akhir – akhir ini. Dengan keadaan cuaca seperti ini, Din mencoba melupakan kejadian hari itu. Perasaan Din pada Keito masih ada, tapi Din sendiri tak tahu bagaimana Keito padanya.

“Ne~ pemalas… ayo banguuunn!!”, seru seseorang yang tak perlu ditebak itu pasti Kei.

Din yang sebenarnya terjaga sejak sejam yang lalu, hanya bersembunyi dibalik selimut.

“Mou~ aku sudah bangun…”, Din menjulurkan lidahnya pada Kei, lalu beranjak dari kasur.

Tidak ada yang tahu tentang kejadian hari itu. Rahasia itu hanya antara dia dan Keito saja. Sejak saat itu, hampir sebulan penuh Din memfokuskan diri pada semua tugas – tugas dari dosennya. Jika tidak, ia akan sibuk pergi bersama Opichi. Nyaris hanya tidur dan mengerjakan tugas ia selesaikan di rumah keluarga Kei.

“Jadi kau sudah siap? Giliran jalan – jalan kau malah semangat…”, cibir Kei mengacak pelan rambut Din.

Hari ini Din diajak keluarga Kei pergi memancing. Pergi ke daerah pegunungan karena cuaca cerah.

“Hehehe..”, Din hanya tersenyum bodoh disambut cubitan pipi dari Kei.

“Baka mitai!!”, serunya, “Eh… kau ajak Opichi kan??”, bisik Kei pada Din.

Din mebulatkan jempol dan jari telunjuknya, “Ok desu!!”.

Mereka pun turn ke ruang makan, keluarga Kei sudah bersiap – siap. Tentu saja Saifu juga ikut, namun Din benar – benar kaget ketika melihat Keito ada di bawah juga bersama mereka.

“Anoo.. Kei-chan… apa maksudnya ini?”, ucap Din setengah berbisik.

“Wakannai~ Fu ingin mengajak bocah itu… gomen na.. aku juga baru tau tadi pagi..”, bisik Kei.

“Dinchan… ayo sarapan dulu!!”, seru Ibunya Kei dari meja makan ketika melihat Din turun.

“Ah.. iya…”, Din menghindari tatapan Keito yang tampaknya juga kaget.

“Fu-chan… maksudnya apa ini?? Kamu gak ngasih tau aku…”, Keito menarik tangan Saifu ke halaman belakang.

“Betsu ni… aku juga gak tau dia ikut… aku hanya ingin Keito ikut… aku gak tau dia juga ikut..”, elak Saifu.

“Benarkah?”

“Hontou…”, tentu saja Saifu bohong. Ia memang sengaja mengajak Keito, bagaimana pun ia ingin tahu reaksi mereka berdua.

Lalu perjalanan itu terasa tak nyaman bagi Keito dan Din. Mobil itu penuh sesak. Di depan ada Ayah dan Ibu Kei, lalu di tengah ada Din, Kei, dan Opi. Di barisan belakang ada Saifu dan Keito.

“Ne.. Dinchan… aku masih penasaran…”, seru Opi pada Din, sedikit sulit karena Kei berada di tengah – tengah mereka.

“Apa?”, tanya Din.

“Hari itu… saat aku menunggumu.. ka sebenarnya kemana? Kau sampai lupa aku masih di rumahmu…”.

“Hah?”, Din jadi kembali mengingat kejadian itu.

-Flashback-

Din memandang punggung Keito yang semakin menjauh dari tempat itu. Ia, entah dengan alasan apa merasa tak ingin Keito pergi.

“Dinchan…”, Keito kaget karena tiba – tiba Din memeluknya dari belakang.

“Jangan pergi..”, kata Din ditengah tangisnya.

“Din…”, panggil Keito lirih sambil menyentuh tangan Din yang kini merengkuh badannya.

Din terisak hebat, “Jangan pergi.. onegai…”.

“Dinchan..”, panggil Keito lagi pelan.

“Suki dakara… daisuki..”, otak Din terasa macet tak lagi ia memikirkan apapun selain perasaannya sendiri.

Sungguh bukan sifat Din tidak memikirkan perasaan orang atau bertindak sesuai perasaannya. Ia selalu dikenal sebagai cewek yang cukup punya logika untuk menghindar dari perasaan seperti ini. Tapi kali ini lain, ia tak mau lagi berfikir apapun selain perasaannya sendiri.

“Aku gak mau kehilangan Keito lagi!!”, seru Dn masih terisak hebat.

“Din.. jangan begini…”, Keito melepas pelukan Din, berbalik memandang Din yang terisak hebat.

Din tak mampu menatap wajah Keito saat ini, ia cukup malu dengan keadaannya sekarang. Seakan tak punya malu dan sangat gegabah.

Keito tak mengatakan apapun, namun menarik Din dalam pelukannya. “Jangan nangis terus Dinchan…”, kata Keito menenangkan Din.

“Aku tak mau kehilanganmu lagi…” bisik Din sangat pelan, namun Keito dapat mendengarnya.

“Tapi aku juga tak bisa meninggalkan Fu-chan… ini tak adil untuknya jika aku kembali bersamamu..”, ucap Keito lembut, berusaha tak menyakiti Din.

“Nande?!! Nande?!!”, Din meminta penjelasan Keito yang berdiri mematung seperti tak sanggup mengatakan apapun.

“Karena aku tak mau meninggalkan Saifu… aku tak bisa…”.

Tapi bagi Din itu sudah cukup menjelaskan ia tak ingin mengganggu kehidupan Keito lagi. Masih dengan keadaan menangis, Din mendorong Keito hingga lepas dari pelukannya, berlalu dari hadapan Keito tanpa mengindahkan teriakan Keito yang memanggilnya dari kejauhan.

-Flashback end-

Keito yang mendengar ikut sedikit kaget karena sepertinya yang Opi maksud adalah saat kejadian hari itu.

“Tidak ada apa – apa.. hahaha.. aku hanya…”, Din memutar otak, mencoba mencari alasan, “aku ketiduran di taman!!”, seru Din sambil tersenyum.

“Baka… kau itu gak bisa bohong…”, sangkal Kei menarik hidung Din, “Sudah kubilang…”

“Kau pasti tahu jika aku berbohong?”, timpal Din.

Kei mengangguk penuh kemenangan.

“Pokoknya aku ketiduran… terserah kau mau percaya atau tidak..”, kata Din tak mau kalah.

“Hahaha…”, Opi tiba – tiba tertawa, “Kalau gitu, kau nanti ceritakan yang sebenarnya ya…”.

“Opichi juga gak percaya?”, seru Din kesal.

“Kau pikir siapa yang kau ajak bicara? Coba hitung berapa lama kita bersahabat?”.

Din manyun, tau kalau Opi bahkan sepertinya akan bisa membaca pikirannya. Mereka sudah terlalu lama bersama, sejak SMP, hingga sekarang Opi sudah bekerja, tentu saja waktu yang sangat panjang untuk memahami sifat seseorang.

“Ada yang mau kopi??”, seru Ibu Kei dari depan.

“Aku mau!!”, seru Saifu, “Keito-kun mau?”

Keito mengangguk, “Boleh…”

“Kau mau Dinchan?”, tanya Ibu Kei sambil tersenyum pada Din.

Belum Din menjawab, “Dia tidak suka kopi dingin…”, seru Keito.

Keadaan seketika hening.

“Ah…sou da ne…”, kata Ibunya Kei lalu menyodorkan air mineral pada Din.

Saifu memandang Din dengan kesal, ia tak suka Din merebut kembali perhatian Keito.

“Ahahaha~”, Din mencoba menutupi rasa gugupnya sambil mengambil air mineral, “Ya… aku tak suka kopi dingin…”.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Mereka membangun tenda dan menyiapkan meja untuk makan. Setelah itu semuanya bersiap – siap memancing.

“Ne~ aku tak bisa memancing..”, keluh Opi.

Kei mendekati Opi, “Tenang… akan kuajari..hehe”.

Opi tersenyum lalu bersiap – siap.

“Ayo!! Ayo!! Semuanya ke sungai!!”, kata Ayah Kei bersemangat. Sementara itu Din dan Ibu nya Kei menyiapkan bumbu – bumbu dan memasak nasi serta panganan lain, tidak ikut memancing.

“Kei-chan itu anak yang baik ya…”, kata Ibunya Kei sambil tersenyum memandang Kei yang sedang memancing dengan Opi.

Din mengagguk setuju.

“Sejak kecil, aku hanya merepotkannya… ia menjagaku saat masih berumur enam tahun…”, ia tersenyum, “Aku depresi ditinggal suamiku.. ia dengan polosnya memelukku, berkata aku akan baik – baik saja dengannya..”.

“Ehh… sugoi ne..”

Ibu Kei mengangguk, “Maka saat aku bertemu Suzuki-san… tak seperti anak kecil lainnya, ia mendorongku segera menikah dengan Suzuki-san, ia bilang ia tak ingin melihat ibunya menangis lagi…hontou ni… aku bangga bisa melahirkannya.”

Din tersenyum, bagi dirinya yang tak pernah bertemu ibunya, hal ini sangat mengharukan. Sejak ia bisa mengingat, ia hanya tahu ada Ayah dan Neneknya yang menjaganya. Saat Neneknya meninggal, Ayahnya jarang di rumah, terkadang ia harus tinggal di rumah sendirian hingga beberapa hari bahkan minggu.

“Yokatta na.. Kei-chan juga punya Ibu yang kuat seperti anda..”, kata Din menyeka air matanya yang mengalir karena terharu.

“Kau boleh memanggilku Okaa-san juga…kalau kau mau..”, ujarnya sambil mengelus punggung Din dengan sayang.

“Hontou?! Ii no ka?”

Ia tersenyum dan mengangguk membuat Din bahagia karena mendapat sosok Ibu baginya.

“Bukan begitu caranya…”, seru Kei membetulkan letak pegangan Opi di kail.

“Aku benar – benar tak mengerti… apa asyiknya memancing?”, tanya Opi kesal karena sejak tadi pekerjaan mereka hanya menunggu.

“Sebenarnya aku juga gak ngerti… hahaha~ hanya ini satu – satunya cara Ayah bisa dekat denganku… maka aku menurut saja padanya…”, kata Kei.

Opi mengangguk – angguk mengerti, “Sou ne…”

“Mukatsuku!! Kenapa mereka terlalu dekat?!”, ujarnya kesal saat melihat Keito dan Saifu bergandengan tangan.

“Hahaha.. jadi kau tipe kakak yang seperti itu ya?”, Opi menatap Kei yang kelihatan kesal.

“Ya… aku memang sedikit protektif… lagipula si Keito itu… apa dia pria baik – baik? Aku tak tahu..”, katanya lagi.

“Setahu aku, dia anak yang cukup baik..”

“Sou… kalian saling mengenal tiga tahun lalu ya?”, sela Kei.

“Ya… setidaknya itu yang ku tahu dari Din… setidaknya ia tampak lebih bahagia saat bersama Keito…”, kata Opi sambil memandang Keito dan Saifu.

“Ne… Keito-kun…”, panggil Saifu yang hanya duduk di samping Keito, ia tidak mau memancing hari ini.

“Hmm?”, Keito membiarkan tangan Saifu melingkar di lengannya yang kekar, Saifu merebahkan kepalanya di bahu Keito.

“Suki?”, tanya Saifu.

“Dare to? Fu-chan to?”, Keito balik bertanya, Saifu mengangguk, “Suki da… kau butuh berapa lama untuk menyadari hal itu? Hah?”, seru Keito kesal.

“Tapi… kau juga suka pada Din nee-chan?”, tanya Saifu pelan.

Keito tak mampu menjawab hal itu. Ia terlalu takut untuk berkata tidak ataupun iya. Saat ini perasaannya bercampur jadi satu, tak tahu apa yang ia rasakan sebenarnya.

“Aku tak tahu Fu…”, jawab Keito jujur, “Aku tak bisa bohong bila aku bilang tidak… tapi aku juga tak tahu…”

“Hmmm…”, Fu merasa air matanya hampir jatuh, namun ia berusaha menahannya.

Hampir tengah hari saat mereka sudah berhasil mengumpulkan beberapa ikan untuk dimakan. Maka saatnya Din dan Ibu Kei memasak hasil tangkapan mereka. Opi dan Saifu juga membantu mereka.

Tak lama makanan siap.

“Ayo semuanya makaaann!!”, seru Ibu Kei yang memanggil ketiga pria yang sedang asyik mengobrol.

“Haaaaii!!”, jawab Keito, Ayah Kei, dan Kei bersamaan.

“Langitnya ceraaaahh~”, seru Kei sambil menengadah.

“Iya… aku suka langit cerah..”, timpal Din.

“Membuat perasaan jadi cerah!!”, seru Din dan Opi bersamaan, lalu tertawa bersama.

Semuanya hanya mendengarkan, lalu memulai makan siang mereka yang sangat menyenangkan ditemani suasana alam yang sangat indah.

“Ne… Opichi… kau jadi ambil beasiswa?”, tanya Din di sela – sela makan mereka.

“Beasiswa? Kemana?”, Kei tiba – tiba ikut bertanya, sembari berdo’a dalam hati Opi akan ke Inggris.

“Aku masih menunggu hasilnya… tapi mungkin kalau ke Eropa lebih baik, apalagi ke Jerman.”, jawab Opi ringan.

“Kenapa ke Jerman? Ke Inggris aja..”, timpal Kei bersemangat.

Din mengagguk setuju, “Benar – benar..”.

“Pacarku ingin aku menyusulnya ke Jerman.”, jawabnya lagi dengan santai.

“Chotto!! Pacar???!!”, Din setengah berteriak.

Wajah Kei seakan tersedak mendengar kata ‘Pacar’ dari mulut Opi.

“Un… aku belum cerita ya..hehehe. Maaf, karena kami jarang sekali ketemu, aku juga jarang membicarakannya… aku akan menceritakan padamu hari ini sebenarnya..”, kata Opi pada Din.

Din melirik wajah Kei yang merah padam, memberi isyarat aku-benar-benar-tidak-tahu-apa-apa-Kei.

“Sou ne… siapa Opichi?”, tanya Din.

“Itu lho… senpai ku di klub Basket. Ingat tidak?”, Opi balik bertanya.

Din mencoba mengingat – ingat masa SMA nya, dan senpai yang ada di sekolahnya.

“Yang mana?”, dahi Din mengerenyit tak ingat.

“Dia sebenarnya sudah lulus saat kita masuk… tapi dia pernah melatih klub basket selama setahun…”

“Chotto… Sakurai-senpai??!!”, Din setengah berteriak.

Ia baru ingat pada senpai yang hampir berbeda delapan tahun dengan mereka. Sho Sakurai adalah senpai idaman saat itu. Walaupun sudah lama lulus, Sakurai-senpai sengaja datang ke sekolah untuk melatih basket selama setahun. Setelah setahun, Sakurai-senpai sibuk dengan pekerjaannya.

“Iya… dia baru saja ambil S2 nya… jurusan ekonomi..”, jelas Din.

Kei tampak cemberut, Din sendiri sebenarnya tak tega. Namun mungkin alasan Opi baru menceritakannya karena akhir – akhir ini ia banyak masalah, Opi tak ingin membebani Din dengan masalah lainnya.

“Anoo~ sejak kapan?”, tanya Din.

“Sebenarnya sudah cukup lama juga.. tapi kami memang sepakat tidak mengumbar hal itu..”, jelasnya lagi.

Suasana cukup canggung setelahnya. Kei tampak murung dan tak bersemangat lagi seperti tadi. Saifu dan keito hanya sibuk berdua sejak tadi.

“Kalian ngapain sih?!”, seru Kei pada Keito dan Saifu.

“Tidak ada…”, elak Saifu, “Okaa-chan…”, panggil Saifu pada Ibunya tanpa mengindahkan Kei.

“Jangan bilang sekarang Fu…”, kata Keito memegang bahu Saifu.

Saifu tak peduli, “Aku ingin tinggal bersama Keito-kun..”, seru Saifu.

Baik Ibunya, Ayahnya dan Kei tentu saja sangat kaget dengan pernyataan tiba – tiba seperti itu. Ayahnya ingin menjawab, namun tampak enggan, begitu pula dengan Ibu Kei.

“Chotto!! Apa maksud semua ini?!! Hah?!”, nada suara Kei terdengar meninggi, tandanya ia benar – benar marah.

“Aku serius Nii-chan!! Aku ingin tinggal bersamanya!!”, teriak Saifu lagi.

PLAK!!

Sebuah tamparan melayang tepat di pipi Saifu, Kei yang menamparnya.

“Sadar!! Kau masih bocah… ia masih bocah… apa yang dapat kalian..”

Tangis Saifu membuat kei berhenti bicara. Din beranjak dari kursinya lalu menarik Kei dari tempat itu.

“Ikut aku!!”, perintah Din tegas.

“Apa sih kau? Kenapa melerai aku?!”, Kei tampak marah sekali.

PLAKK!

Din menampar Kei dengan keras, “KAU!! Aku tahu kau tak suka hal ini terjadi antara Saifu dan Keito.. tapi memukul adikmu sendiri?!! BAKA!!”, Din membentak Kei dengan nada marah.

Kei menunduk tak berani menatap Din, “Entahlah…”, ucapnya lalu meninggalkan Din, menuju ke dalam hutan.

Kei pasti ingin mendinginkan kepalanya. Karena itulah Din membiarkan Kei berlalu. Semua ini tak bisa ia terima begitu saja, lagipula Saifu juga salah, mendiskusikan hal seperti ini pada acara pikinik bukanlah hal yang bijak.

“Fu-chan…”, Keito menarik Saifu kembali duduk, “Hal seperti ini tidak bisa dibicarakan segampang itu..”, jelas Keito, sambil mengusap air mata Saifu.

“Otou-san tidak bisa berkata iya atau tidak… tidak sekarang Fu..”, jawab Ayahnya sambil masuk ke tenda.

Disusul ibunya yang khawatir suaminya itu marah.

Keadaan sedikit mereda ketika malam datang. Semuanya kembali sedikit lebih normal, Kei tampaknya telah meminta maaf pada Saifu, dan begitu juga sebaliknya.

“Nii-chan… gomen na… aku bertindak seperti anak kecil tadi..”, kata Saifu sambil menunduk, menghampiri kakak semata wayangnya itu yang duduk di dekat api unggun.

“Daijoubu… gomen na.. aku juga menamparmu…”, Kei merengkuh bahu Saifu dnegan tangan kanannya,memeluk Saifu, “Kau tahu… Ibu akan kesepian jika kau pergi tinggal dengan Keito.. itu yang aku khawatirkan.”

Kei tahu seberapa rapuh Ibunya itu, dan jika tidak karena beasiswa yang sangat menggiurkan, ia pasti tak akan rela memisahkan diri dari Ibunya itu.

Saifu tak menjawab, hanya tersenyum pada api unggun di hadapannya.

“Yabai… yabai… aku ingin pipis..”, keluh Din sambil mencoba mencari senter di dalam tenda wanita.

Setelah berhasil menemukannya, Din segera berlari menuju WC umum yang terletak cukup jauh dari tempat mereka mendirikan tenda. Karena tak fokus, ia menabrak seseorang.

“Daijoubu?”, tanya orang itu yang ternyata Keito, membantu Din berdiri.

“Daijoubu.. maaf aku buru – buru…”, jelas Din.

“Mau kemana kau?”, tanya Keito.

“Aku mau ke toilet…”, keluh Din melihat jalan setapak dihadapannya sangat gelap.

“Ayo aku antar…”, kata Keito mengambil senter di tangan Din.

“Tak usah…”

“Jangan sok gengsi…ini bukan tempat dimana kau bisa seenaknya… kalau terjadi apa – apa bagaimana… ayo!”, kata Keito sambil menuntun Din menuju toilet umum tersebut.

“Arigatou…”, ucap Din lirih.

“Waaa!! Bintang!!”, seru Keito ketika mereka sudah akan kembali ke tenda.

Mereka tiba di sebuah padang yang tidak terlalu luas, namun hijau dan sangat indah. Mereka tidak memerhatikan hal tersebut saat pergi karena tergesa – gesa.

“Kireeeii!!”, seru Din menengadah melihat jutaan bintang terhampar di depan matanya.

Alih – alih langsung kembali ke tenda, mereka memutuskan untuk melihat bintang sejenak. Sesaat mereka tersedot pada keindahan bintang – bintang, keduanya diam menikmati malam yang begitu indah.

“Ne… Keito..”, Din membuka percakapan.

“Hmm?”

“Untuk yang kemarin… aku minta maaf… aku terlalu terbawa emosi..”, jelas Din tanpa sekalipun beralih pandangannya dari bintang – bintang.

“Aku juga minta maaf…”, timpal Keito.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya… mungkin karena dulu Din bilang jangan menunggumu, aku benar – benar tak menunggumu…”, jawab Keito.

“Kenapa kau begitu murung? Hey! Bocah!!”, seru Din sambil mengacak rambut Keito pelan.

Keito menepis tangan Din, “Dengar..”, Keito menyentuh bahu Din dengan kedua lengannya, “Aku akan menunggumu….”

Din melepaskan genggaman Keito di bahunya, memeluk laki – laki yang selama beberapa bulan ini mengisi kehidupannya.

“Jangan Keito….”, kata Din lirih.

“Nande?”

“Aku tak mau kau menunggu sesuatu yang belum pasti dan tak bisa aku janjikan…”, kata Din lagi.

Keito terdiam, tak mampu menjawab apa yang Din katakan.

“Ahahaha…ya… itu bodoh… aku bodoh..”, kata Din terbata – bata.

“Mungkin awalnya Saifu memang hanya pelarianku…”, jelas Keito pelan.

“Apa maksudmu?! Jangan berkata begitu!”

“Dulu… saat aku benar – benar kehilanganmu.. tapi sekarang, semuanya jadi sangat rumit… aku juga punya perasaan yang sama pada Saifu…”, Keito menunduk lalu menoleh menatap Din yang masih menengadah ke langit.

“Perasaan yang sama?”, tanya Din memastikan.

“Aku mencintai Saifu… tapi perasaanku padamu masih sama seperti tiga tahun lalu…”, jelas Keito.

“Ini jalan untukmu dan Saifu yang Tuhan berikan…”, bisik Din, “Kau tahu… mungkin ini memang takdirmu bersama Saifu… jadi, jangan pikirkan aku…”, jelasnya lagi, tak lama Din menoleh juga, menatap Keito.

Keito secara refleks bergerak memeluk Din yang berada di sampingnya.

“Kau harus bahagia… aku tak akan memaafkan diriku jika kau tidak bahagia..”, bisik Keito di telinga Din.

“Un! Wakatta… kau juga harus bahagia dengan Saifu”.

Mereka berbagi tangis bersama dibawah hamparan jutaan bintang malam itu. Baik Din, maupun Keito membebaskan hati mereka, membuat batasan jelas antara mereka sehingga tak ada lagi yang merasa tersakiti atau terkhianati oleh sikap mereka.

=============

3 Years later.

“Uwaaa~ aku gak mau yang gini…”, keluh Din pada lelaki yang kini menemaninya di sebuah toko.

“Baiklah… kau mau yang mana?”, tanyanya sabar lalu bergerak ke tempat lain sambil menarik lengan Din.

“Hmmmm~ yang ini…”, kata Din setelah memilih beberapa gaun di tempat itu.

“Boleh… coba dulu ya..”, kata laki – laki itu lalu duduk menunggu calon istrinya mencoba gaun pengantin.

Setelah beberapa saat menunggu, karena bosan laki – laki itu memainkan ponselnya sambil mencari tahu harga cincin yang akan mereka beli nanti setelahnya.

“Ouji-sama!!”, panggil seseorang dari tirai yang baru dibuka.

Sesaat ia terpana melihat calon istrinya itu terlihat sangat cantik di balutan gaun pengantin itu.

“Bagaimana?”, tanya Din lagi.

“Uwaaa!! Kireeeiii!!”, serunya menghampiri Din.

“Yuya juga suka yang ini?”, tanya Din sambil tersenyum.

Yuya mengangguk membelai rambut Din yang kini sudah panjang, terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.

“Baiklah… kami ingin yang ini..”, kata Yuya pada pelayan toko yang berdiri di sebelah Din.

“Wakarimashita…”, kata pelayan toko tersebut.

“Setelah ini kemana Yuya?”, tanya Din yang berjalan di sebelah Yuya, bergandengan tangan dengan Yuya.

Lima bulan lalu Yuya melamarnya. Setelah Din kembali ke Jepang dua tahun lalu, setelah lulus, Din kembali ke kehidupannya di Jepang. Ia tinggal di mansion, dan Ayahnya yang kini sudah cukup tua tinggal bersamanya. Ia dan Yuya terus berteman setelah itu, namun ketika lima bulan lalu Yuya melamarnya, Din yakin ia mau bersama Yuya.

“Kita makan siang, lalu setelah itu aku harus kembali ke kantor..”, kata Yuya yang kini sudah memegang perusahaan milik Ayahnya.

“Wakatta… aku ke rumah Kei-chan ya….”, kata Din.

Yuya mengangguk membawa Din ke sebuah restaurant.

“Okaaa-chaaann!!”, panggil Din ketika baru masuk rumah itu.

Setelah mengantarnya, Yuya langsung berangkat ke kantor.

“Dinchaaann!!”, seru Ibunya Kei sambil menyambut putri angkatnya itu ke pelukannya.

“Sudah sebulan kau tak kesini ya..”, kata Ibu protes.

Din hanya tersneyum, “Gomen… pekerjaan dan persiapan pernikahan membuatku pusing..”, keluh Din.

“eh~ hari ini kau tidak kerja?”, tanya Ibu heran sambil menyerahkan segelas teh pada Din.

“Tidak bu.. kebetulan proyekku baru saja selesai. Aku tak akan mengambil proyek apapun hingga pernikahanku selesai.”, kata Din.

“Sou… kau tak boleh cape sebelum pernikahanmu.. ne?”, kata Ibu.

Din hanya mengangguk setuju.

“Tadaimaaa!!”, teriak seseorang dari pintu depan.

Kei masuk rumah dan menghampiri Din saat tau sahabatnya itu ada di di rumahnya.

“Hi Ms. Ikuta…”, sapa Kei sambil mengacak rambut Din.

“Sebentar lagi jadi Mrs. Takaki..”, cibir Din pada Kei.

“Huwaaa~ kau juga menikah lebih dulu daripada aku…”, keluh Kei lalu menyenderkan punggungnya pada kursi.

“Hahaha~ Opichi juga sudah menikah ya?”, goda Din.

“Sialan kau!!”, seru Kei mengacak rambut Din lagi.

“Baka!! Hentikan!”, protes Din sambil merapikan rambutnya.

“Mendokusei!!”, Kei mencubit pipi Din cukup keras.

“Makanya cari pacar… jangan kerja melulu..”, Din mencibir pada Kei.

Disambut cubitan pada pipi Din kembali, “Dasar kau!!!”.

“Itte!! Itte!!”, keluh Din mengusap – usap pipinya yang sakit.

“Kei-chan… ganti baju mu dulu..”, tegur Ibu saat melihat putranya itu masih memakai baju kantornya.

“Wakatta!”, seru Kei lalu beranjak menuju kamarnya, tapi sebelum itu ia tak lupa mencium pipi Ibunya.

“Mou… kau masih saja seperti anak kecil..”, keluh Ibu, Kei tak peduli dan berlalu dari tempat itu, “Ne… bagaimana ia bisa punya istri nanti… masih saja manja padaku…”, keluh Ibu lagi.

“Hahahaha~ iya.. dasar Kei-chan…”, timpal Din.

“Okaa-saann!!”, seru seseorang dari luar, “Tadaima!!”, serunya lagi.

“Ah.. Fu-chan..”, kata Ibu sambil beranjak ke depan.

“Ojamashimasu..”, kata seseorang lagi.

“Ayo masuk…”, kata Ibu.

“Nee-chan!! Kau datang?!!”, seru Saifu ketika melihat Din di dalam rumah.

Din mengangguk, “Un! Waaa~ Karen sudah besar ya..”, Din menyambut anak kecil yang umurnya baru sekitar satu tahun itu di pelukannya.

“Iya… ia baru bisa bilang Mama dan Papa..”, kata Saifu tersenyum.

“Dinchan!! Yo!”, sapa Keito yang sibuk menaruh barang – barang milik mereka.

“Yo!”, sapa Din, “Ne.. Fu-chan… kenapa anakmu ini mirip Keito ya? Rugi banget harus mirip dia..”, kata Din lalu mencibir pada Keito.

“Hahahaha~ sial kau!”, kata Keito.

Keito dan Saifu juga sudah menikah, tapi setahun tahun lalu ketika mereka lulus kuliah. Walaupun keputusan itu membuat orang tua dan Kei sedikit marah, namun karena Saifu sudah mantap dengan keputusannya, ditambah lagi ia sedang mengandung Karen saat itu, akhirnya membuat Kei luluh dan membiarkan mereka menikah.

“Ah! Kebetulan sekali Dinchan datang… hari ini Karen ulang tahun pertamanya..”, kata Ibu.

“Ooohh~”, Din menggendong Karen dengan sayang, “Kau sudah besar ya Karen-chan..”, kata Din gemas.

“Kita akan makan malam bersama.. kau ikut ya…”, kata Ibu.

Din mengangguk lalu tersenyum. Kali ini ia yakin kebahagiannya sudah lengkap. Ia punya keluarga baru yang selalu bisa menyambutnya kapan saja. Ia punya sahabat yang selalu juga menemaninya, dan ia juga punya Yuya.

=======
~OWARI~
Akhirnya selsei jugaaaa~ yeeeyy!! Bener – bener minichapter. Hahahaha..
COMMENTS ARE LOVE Minna!! Thanksss..:)


Advertisements

7 thoughts on “[Minichapter] Another Love Story (chapter 3)

  1. dinchan

    emangnya menurut Py terakhirnya gimana??hehehe
    😛
    yup2..
    akhirnya din tetep sama Takaki.. wkwkwk…ternyata tetep aja ama dia..hahahahaha

    Reply
  2. Nirmala

    kan sekali-kali ama Inoo nggak apa-apa.. hehehe.. dripada Inoonya jomblo disitu… hehehhehe.. karena ternyata opichi udah ama Sho.. Inoo kasian…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s