[Minichapter] Another Love Story (chapter 2)

Title        : Another Love Story (With You side story)
Type          : Minichapter
Chapter     : Dua
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance *ya…ya…apalagi kalo bukan ini?* XP
Ratting    : PG dah~
Fandom    : JE
Starring    : Keito Okamoto (HSJ), Din Ikuta (OC), Saifu Suzuki (OC), Yuya Takaki (HSJ), Opi Yamashita (OC), Kei Inoo (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Keito Okamoto, Yuya Takaki and Kei Inoo are belong to JE, Din, Saifu, and Opi is OC. But Din is a little bit similar with me..LOL. it’s sequel of With You (read here). Setelah dipikir – pikir lum bisa tamat.. dah panjang banget neh… COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Another Love Story
=Chapter 2=

Pertemuan yang tak pernah Din inginkan sebelumnya. Ia telah mencoba menutup rapat – rapat semua kenangannya bersama Keito. Walaupun cukup singkat, buatnya Keito pernah mengisi hatinya cukup dalam. Menorehkan cerita yang walaupun relatif singkat, sangat berarti untuknya.


Maka perjalanan kali ini terasa sangat canggung dan hening. Saifu menahan tangisnya yang sejak tadi seakan tak mampu ia tahan, Din terus menunduk tak berani menoleh ke belakang, Keito sibuk dengan pikirannya, dan Kei yang tak mengerti namun berusaha tak bertanya terlalu banyak dulu. Belum saatnya pikir Kei.

“Hai~ douzo…”, seru Kei saat mereka sedang istirahat. Kei membawakan Din sekaleng teh hangat.

“Arigatou…”, kata Din sambil mengambil teh yang disodorkan oleh Kei.

“Tadi pagi wajahmu lucu sekali loh..”, sindir Kei memulai pembicaraan mereka.

Din tahu kemana arah pembicaraan ini. Ia pasti ingin tahu soal Keito. Tapi Din takut jika ia memberi tahu Kei, maka hubungan Saifu dan Keito terancam.

“Saa~ masa sih?”, tanya Din gugup lalu meminum teh nya.

“Wajah Keito sama anehnya dengan kau…”

“Kei-chan…”, panggil Din tiba – tiba.

“Ya?”

Din menatap Kei. “Berjanji padaku satu hal…”, pinta Din.

“Hmmm? Apa?”, tanya Kei lagi.

“Kau tak boleh mengusik hubungan Saifu dan Keito walaupun kau tahu kebenaran ini dariku..”, sahut Din.

Kei menatap Din seakan bingung dengan pernyataan itu, “Apa maksudmu?”

“Keito itu mantan pacarku… dan kami pernah tinggal bersama.”, jelas Din dengan suara pelan.

“APA??!!”, teriak Kei disambut pukulan pada bahu Kei oleh Din.

“Gak usah heboh gitu!!”, sahut Din kesal.

“Maksudmu?? Dia pernah tinggal bersama denganmu?? Bocah itu??”, tanya Kei penasaran.

Din menceritakan semuanya pada Kei. Mulai sejak Keito datang ke rumahnya hingga mereka berpacaran dan mereka berpisah. Din juga menceritakan bagaimana Saifu dan dirinya pernah bertemu.

“Pantas saja aku begitu familiar dengan Fu-chan saat kemarin bertemu..”, kata Din.

“Dari ceritamu…kau masih mencintai Keito?”, tanya Kei lalu berdiri menuju balkon.

“Chigau!! Aku gak seperti itu Kei-chan…”, protes Din menghampiri Kei.

“Kau tahu… tiga tahun kita bersahabat, aku bisa tahu kau itu berbohong atau tidak…jadi jangan coba – coba berbohong padaku…”, kata Kei lalu menoleh menatap sahabatnya itu.

“Kei-chan…”, panggil Din lirih.

“Maa~ aku tak akan mencampuri masalahmu dengan Keito… ataupun Saifu dengan Keito… asal kau mengikuti kata hatimu, aku tak akan protes apapun..”, jelas Kei.

Din tak mampu menjawab. Ia hanya sanggup menunduk dan tak berani menatap Kei lagi. Saat itu ia merasa tangan Kei menyentuh kepalanya.

“Ganbatte~ Dinchan…”, katanya lalu setelah itu meninggalkan Din.

“Kei-chan!!”, panggil Din.

Kei berhenti dan menoleh, “Ya?”

“Malam ini aku akan menginap di apartemen Opichi… yappari aku belum bisa pulang ke rumahmu….”, jelas Din setengah berteriak karena jaraknya dengan Kei cukup jauh.

“Nande?”

“Aku ingin menenangkan diri, dan aku juga ingin membiarkan Saifu menenangkan diri…”, sahut Din.

Kei mengangguk, “Wakatta…”

“Fu-chan…”, panggil Keito.

Namun Saifu sama sekali tak ingin menoleh karena ia tahu jika ia menoleh, maka air matanya akan keluar, ia akan seperti orang bodoh karena menangis.

“Kau menyembunyikannya dariku? Kenapa?”, tanya Keito lagi.

Masih juga diam, Keito tak sabar lalu membalik tubuh Saifu menghadap padanya.

“Fu-chan!! Jawab aku!!!”, seru Keito.

Kali ini Saifu benar – benar menangis, “Aku tak ingin Keito-kun bertemu dengannya!!”, tangis Saifu semakin keras, Keito merengkuhnya dalam pelukannya.

“Fu-chaaann…”, Keito tak mampu memberi kata – kata penghiburan untuk kekasihnya itu. Ia hanya mampu membelai rambut Saifu mencoba menenangkan Saifu.

Keito tak memungkiri, dirinya sangat kaget ketika pagi tadi bertemu dengan Din. Kejadian tiga tahun lalu seakan kembali berputar di otaknya, semuanya penting, ia bisa menyebutkannya kembali dengan lancar.

Tiba – tiba Saifu melepaskan diri dari Keito, “Gomen…aku harus pergi…”, kata Saifu sambil beranjak meninggalkan Keito.

“Fu-chan!!”, panggil Keito lalu menarik Saifu yang berjalan menjauh.

“Kumohon Keito-kun… aku ingin sendirian..”, elak Saifu melepaskan cengkraman tangan Keito di lengannya.

“Kau tak apa menungguku hingga jam 10 malam?”, tanya Opi khawatir.

Din mengangguk, “Daijoubu yo… aku akan ke jalan – jalan dulu kok…”, jawab Din dengan senyum mengembang, mencoba membuat Opi tak khawatir.

“Tapi lama sekali loh… aku harus menyelesaikan ini hari ini… gomen na..”, ujar Opi tak enak pada Din.

“Hontouni daijoubu yo…”, balas Din.

Sebenarnya ia tak tahu harus kemana. Dari jam setengah enam ini hingga jam sepuluh nanti ia harus menunggu Opi. Selarut apapun sepertinya daerah Tokyo tak pernah sepi, pikir Din. Ia tak mau kembali dulu ke rumah Kei, karena pastinya Saifu sedang tidak bersahabat dengannya, dan ia yang selalu menghindari konflik, tak ingin ada pertengkaran.

“Hara hetaaa~”, keluh Din yang akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah restaurant ramen.

Suasana tempat ramen itu cukup ramai. Mungkin karena jam pulang kantor, hampir semua meja sudah terisi oleh sekumpulan orang. Din akhirnya menuju meja di depan, tempat berjajar menghadap ke arah pembuat ramen.

“Ramen satu..”, kata Din pada pelayan yang ada di hadapannya.

“Wakari….”, pelayan itu kaget ketika mendongak melihat Din, “Dinchan…”, panggilnya.

“Yuya…”, mata Din membulat tak percaya.

“Chotto ne.. wakarimashita.. shosho omachi kudasai…”, katanya sambil berlalu, namun mengisyaratkan bahwa ia sedang sibuk.

“Waaa~ hisashiburi desu ne…”, kata Yuya setelah toko ramen itu sudah relatif sepi.

Sejak tadi Din menunggunya di situ.

“Hai… hisashiburi… genki?”, tanya Din pada Yuya yang kini sambil membereskan beberapa tempat.

“Genki… Dinchan wa?”, tanya Yuya.

“Genki… aku kaget melihatmu disini…”, kata Din.

“Hmm..”, Yuya tersenyum, “Shiftku sebentar lagi berakhir… kita bicara di luar ya…”, kata Yuya lalu masuk ke dalam.

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika Yuya dan Din berjalan beriringan. Keduanya sangat banyak yang ingin dibicarakan, namun tak ada yang berani memulainya.

“Kudengar kau ke Inggris?”, tanya Yuya akhirnya.

Din mengangguk, “Ya… aku dapat beasiswa… sekarang aku di Jepang hanya untuk penelitian..”, jelas Din.

“Sugoi desu ne!!”, sahut Yuya lalu berjalan menuju mesin penjual minum otomatis, “Kau mau apa?”, tanya Yuya.

Din hampir menjawab ketika Yuya kembali berkata.

“Kopi susu hangat… ne?? seleramu belum berubah kan?”, tanya Yuya lagi.

Menggeleng, Yuya yang sudah bersamanya hampir selama lima tahun tentu tahu apa kesukaannya.

Mereka pun duduk di sebuah taman kota, berniat untuk meminum minuman kaleng yang Yuya beli tadi.

“Sugoi naa~ Dinchan…”, kata Yuya.

“Biasa saja.. aku juga tak menyangka ini bisa terjadi…”, jawab Din.

“Pada akhirnya aku hanya bisa meneruskan bisnis ayahku… dan tak bisa jadi hebat seperti apa yang kujanjikan padamu dulu…”, ujar Yuya tiba – tiba.

“Aku akan pergi….”, seru Yuya.

Berhasil membuat Din berhenti.

“Aku akan pergi sampai aku bisa kembali dengan bagga padamu…”, seru Yuya lagi.

“Aku tak pernah bilang kalau meneruskan bisnis ayahmu adalah hal yang tidak hebat kan?”, jelas Din.

Yuya menoleh, “Iya… mungkin aku akan bisa membanggakan diriku di hadapanmu nanti…bukan sekarang…”

Din menyentuh bahu Yuya, mendorongnya pelan.

“Kenapa?”, tanya Yuya heran.

“Move on!! Sudah tiga tahun loh…”

“Ah.. wakatta… tapi itu janjiku Dinchan…eh.. Hime-sama..hehehe..”

Din tersenyum mendengar kata itu kembali di ucapkan oleh Yuya.

“Jadi, kau sekarang kuliah bisnis?”, tanya Din mencoba mengalihkan pembicaraan.

Yuya mengangguk, “Hai!! Ayahku semakin lama semakin lemah. Ia sering sakit – sakitan.. itulah mengapa Ibu bersikeras aku mengambil alih perusahaan nantinya..”, jelas Yuya.

“Souka..”

“Dinchan.. penelitian apa sekarang ini?”, tanya Yuya.

“Aku kan kuliah arsitektur, maka yang ku teliti sekarang itu ya soal bangunan, berbagai macam bangunan di Jepang…”

“Sugoi ne~ Dinchan wa kawatta ne… berubah jadi lebih dewasa…”, ujar Yuya.

“Sukoshi dake… walaupun sedikit aku harus berubah kan Yuya…”, balas Din pada Yuya.

“Un!!”, angguk Yuya setuju.

Din melirik ke arah jam tangannya, “Waa.. sudah hampir jam sepuluh… aku harus menemui Opichi…”, kata Din lalu berdiri.

“Baiklah… ayo.. aku antar..”, kata Yuya ikut berdiri, “Janjian dimana?”

“Stasiun subway…”, jawab Din.

“Ayo.. ke arah sana…”, kata Yuya. “Ne Dinchan… kita bisa bertemu lagi kan setelah ini?”, tanyanya sedikit gugup.

Din menatap Yuya, “Mochiron… tentu saja…”, jawab Din yang kini berjalan di samping Yuya.

Setelah itu mereka bertukar nomor telepon dan e-mail. Din mengucapkan terima kasih pada Yuya karena mengantarnya, dan benar saja Opi sudah menunggunya di pintu masuk.

“Ka bertemu Takaki?”, seru Opi heran ketika Yuya sudah berlalu dari tempat itu.

Din mengangguk, “Ia baito di toko ramen..dan tak sengaja kita bertemu…”, jelas Din.

“Souka… kebetulan sekali ya…”, ujar Opi.

Mereka pun masuk ke stasiun subway, dan tak lama subway yang akan membawa mereka ke dekat apartemen Opi pun datang.

“Kau menghindari Saifu-chan?”, tanya Opi mencoba mengorek masalah yang dialami Din.

“Sepertinya semua keinginan ku tercapai… tapi justru ini yang membuatku tak ingin tercapai… bodoh sekali aku…”, gumam Din.

“Chotto~ apa maksudmu?”

Din menoleh, menatap Opi, “Ne… aku sangat berharap ketika aku pulang ke Jepang aku dapat bertemu orang – orang penting di masa laluku.. dan secara aneh mereka semua muncul…”, jawab Din.

“Sou.. aku, Takaki, Saifu…”, Opi melipat jarinya seakan menghitung banyaknya orang.

“Keito…”, tambah Din.

“Eeeeehhh?? Keito? Maji de?? Maji de?”, tanya Opi penasaran.

Din mengangguk, “Sou.. dan perasaan yang selama tiga tahun ini berhasil kucoba lupakan, kembali hanya dalam beberapa detik aku memandangnya…”, kata Din lalu menunduk, dalam.

Opi menyentuh pundak Din, “Kau berfikir akan menyakiti Saifu kah?”, tanya Opi.

Din kembali mengagguk, “Aku harus menghindari Keito… aku benar – benar harus menghindarinya..”.

“Gak ingin membicarakannya secara baik – baik?”, tanya Opi lagi.

“Aku gak yakin aku bisa membicarakannya baik – baik dengan Keito…”, keluh Din.

“Sou ne… aku berharap kau bisa menentukkan apa yang menurutmu terbaik..”, kata Opi lagi.

“Un… arigatou..”

Keito kini berdiri di depan rumah Saifu. Bukan untuk menjemput Saifu, karena hari ini hari sabtu. Walaupun seharian kemarin Saifu benar – benar menghindarinya, tapi ia ingin berbaikan dengan Saifu, ia tak ingin hubungan mereka berakhir begitu saja.

Setelah beberapa lama di depan pintu tanpa sanggup mengetuk pintu, tiba – tiba pintu terbuka. Malah Kei yang kini ada di hadapannya.

“Fu-chan ada di dalam… kau mau bertemu?”, tanya nya dengan nada sedingin es, dan tatapan kalau-macam-macam-kubunuh-kau.

Keito hanya mampu mengangguk pada Kei yang di hadapannya sangat terlihat curiga.

“Onegaishimasu… aku ingin bertemu dengannya…”, kata Keito gugup.

Tampak Kei sedang bersiap – siap, entah akan kemana.

“Ne.. Keito-kun… aku tak ingin tahu kau ada masalah apa dengan Dinchan maupun Fu-chan… satu hal kau harus tahu.. kalau kau menyakiti salah satunya, aku tak segan menghajarmu..”, kata Kei masih sempat mengancam lalu setelahnya berlalu dari balik pagar.

Keito merasa sedikit takut dengan ancaman Kei. Walaupun mungkin badan Kei lebih kecil, tapi rasanya aura membunuhnya sangat kuat dari tubuh Kei. Akhirnya Keito memutuskan untuk masuk ke dalam.

“Ojyamashimasu…”, katanya sambil masuk ke dalam rumah.

“Aaa… douzo Keito-kun…”, sapa Ibunya Saifu ramah, “Saifu ada di belakang… kesana saja..”, katanya dengan wajah tersenyum ramah, membuat Keito merindukan Ibunya sendiri.

“Arigatou Obaa-san…”

Benar saja.

Saifu ada di belakang rumah, sedang menghadap ke kebun belakang dengan posisi tidur tengkurap memainkan ponselnya.

“Fu-chan..”, panggil Keito pelan.

“Waaaa~”, seketika Saifu bangun dari posisinya, ponselnya terjatuh karena terlalu kaget akan kedatangan Keito.

Ia tak ber make-up, masih pakai baju tidur karena ini hari Sabtu, membuatnya malu dan tak ingin Keito melihatnya seperti ini.

“Keito-kuun.. doushita no?”, tanya Saifu saat Keito sudah duduk di sebelahnya.

“Genki?”, tanya Keito.

“Genki…”, jawab Saifu pelan.

“Souka…kenapa tak menjawab telepon dan e-mail ku?”, tanya Keito lagi.

Saifu tak mampu menjawab, seharian kemarin ia main bersama teman – temannya, dan bahkan membolos dua mata kuliah hari itu.

“Fu-chan… jawab aku..”, kata Keito sambil meraih lengan Saifu.

“Keito-kun… aku mau tanya sesuatu…”, potong Saifu sambil memandang Keito.

“Apa?”

“Apa kau masih menyukai Din nee-chan?”, tanya Saifu serius, ia bahkan memandang Keito dengan tegas.

Keito diam

Tak ada jawaban hingga hampir satu menit.

Saifu melepaskan tangan Keito yang masih menggenggamnya, “Sudah kuduga… kau masih menyukainya kan?”, Saifu menunduk untuk menahan air matanya, “Tiga tahun yang lalu apa aku hanya pelarian untukmu?”, tanya Saifu kini tak mampu lagi menahan air matanya.

Dengan refleks Keito menarik tubuh Saifu ke dalam pelukannya.

“Chigau… aku tak pernah berfikir seperti itu… bagaimanapun… Dinchan itu cinta pertamaku.. mengertilah Fu-chan…”

Saifu berusaha melepaskan pelukan Keito, “Dia sudah pulang.. kembalilah padanya!!” bentak Saifu.

Tanpa melepaskan pelukannya Keito membalas, “Aku tak ada maksud untuk meninggalkanmu!! Kumohon Fu-chan…”.

Badan Saifu yang berontak akhirnya sedikit demi sedikit pasrah, Keito merasa bahunya basah oleh air mata Saifu.

“Jangan tinggalkan aku…”, kata Saifu ditengah – tengah isakannya.

Keito tak menjawab, hanya membelai rambut Saifu pelan.

“Kenapa kita harus ke kampus pada hari sabtu begini??”, keluh Din di sela – sela rapat dengan banyak profesor siang itu.

Tak menjawab, Kei hanya menimpuk kepala Din dengan tangan kosong. “Urusee~”, bisik Kei.

Din menguap lagi.

Tampaknya ia begadang lagi semalaman.

“Begadang lagi?”, tanya Kei.

Din mengangguk, “Karena bukan di rumahmu, aku mengerjakan denah dengan manual… tidak ada mejaku.. aku harus mengulangnya beberapa kali agar terlihat lebih rapi…”, keluh Din lagi.

“Sudah kubilang kau pulang saja ba~ ka~”, seru Kei masih dengan suara berbisik.

“Ssshhtt~ Profesor Kitano memperhatikan kita..”, kata Din sambil membenarkan letak duduknya.

Kei pun membenarkan letak duduknya dan berkonsentrasi lagi dengan rapat yang seharusnya tidak memerlukan mereka. Mr.Brown hanya ingin kedua mahasiswa nya ini tahu bagaimana suasana rapat, tentu saja menjadi membosankan karena mereka hanya menonton hampir lima belas profesor berbicara soal rancangan apa yang akan digunakan.

“Malam ini pulanglah…”, kata Kei saat akhirnya mereka keluar dari ruang rapat.

Din menggeleng, “Jangan dulu Kei… aku tak mau merusak suasana hati Saifu dengan kedatanganku..”, kata Din sambil menguap lagi.

“Ck~ percaya dia tak akan macam – macam..”, sanggah Kei langsung.

“Tapi…”

“Tapi kau butuh mengerjakan tugasmu… kita bukan sedang main – main disini Dinchan…”, potong Kei cepat.

Din tahu itu. Ia juga sangat tahu kalau apa yang dikatakan oleh Kei adalah benar.

“Besok kami sekeluarga akan ke rumah kakek di Shizuoka..jadi kau di rumah saja mengerjakan tugasmu.. dou?”, tanya Kei yang tahu pasti Din tak mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan senin nanti.

“Benarkah?”, tanya Din.

Kei mengangguk, “Hmmm~ ganbatte ne… tapi ini tidak gratis..”, kata Kei.

“Maksudmu??”

“Kau masih berhutang mengenalkan aku pada Opichi…”, kata Kei sambil berlalu.

Din mengejar Kei yang menjauh, “Kau tertarik padanya ya?? Ayo ngaku~”, seru Din sambil mencoba mengelitiki Kei.

“Yamete yo~”, seru Kei menghindar karena geli.

“Hahaha.. ayo ngaku…”, kejar Din lagi.

Sementara itu Yuya mundur dari tempatnya, melihat Din dengan Kei yang ia tak tahu itu siapa. Sepertinya mereka sangat akrab, Yuya pun mengurungkan niat untuk bertemu dengan Din siang itu.

From : Takaki Yuya
Subject : makan siang~
Kau ada waktu siang ini?
Kalau ada..kita makan siang sama – sama ya?

Din mengecheck ponselnya lagi. Ternyata memang ada e-mail dari Yuya sejam yang lalu, dan ia baru menyadarinya. Maka ia memutuskan untuk menelepon saja.

“Yuya?”, sapa Din saat telepon diangkat.

“Ya?”

“Gomen na… aku tak melihat ponselku karena tadi sedang rapat… kau dimana? Jadi mengajakku makan siang?”, tanya Din.

Kei yang ada di sebelahnya penasaran dan mendekatkan telinganya pada ponsel Din, disambut dorongan Din.

“Kau tidak sibuk?”, tanya Yuya.

“Betsu ni…rapat sudah selesai hari ini..jadi aku sudah tidak ada kegiatan…”, jawab Din sambil masih sibuk menjauhkan Kei dari ponselnya. “Demo… aku sudah makan siang…”

“Baiklah… kalau minum teh gimana?”, tawar Yuya.

“Ide bagus…”, jawab Din.

“Baiklah, setengah jam lagi di kafe biasa?”, kata Yuya, “maksudku…kau tahu kan kafe itu..”, jelas Yuya canggung karena tiba – tiba bersikap seperti mereka masih berpacaran dulu.

“Ah.. wakatta… jya!! Aku berangkat sekarang..”, kata Din mengerti apa yang Yuya maksud lalu menutup ponselnya.

“Ahahaha~ siapa lagi itu?”, seru Kei penasaran.

“Himitsu…kau tak perlu tahu..”, sahut Din, “Jya.. aku ada janji..  jya ne~ Keii-chhaaann~”, seru Din lalu melambai menjauhi Kei.

“Tadi aku ke kampusmu…”, kata Yuya ketika mereka sudah di kafe yang Yuya maksud, dan sudah bertemu.

“Souka… kau tahu aku di kampus??”, tanya Din heran.

“Hanya lewat sih sebenarnya… tapi aku penasaran jadi aku turun.. gomen..”, kata Yuya lalu dengan gugup meminum teh nya.

“Daijoubu…”, Din tak kalah canggung. “Bagaimana kabar ayahmu?”, tanya Din lagi, mencoba mencairkan suasana canggung ini.

“Baik – baik saja… dia sudah semakin membaik…”, jelas Yuya lalu kembali meminum teh nya.

“Souka…”, timpal Din.

Mereka berdua tahu. Kafe ini adalah tempat yang cukup bersejarah bagi mereka berdua. Delapan tahun yang lalu, tempat ini menjadi tempat mereka belajar bersama, lalu dua tahun setelah itu atau enam tahun yang lalu, disinilah Yuya menyatakan perasaannya, dan mencium Din untuk pertama kalinya. Yang mereka juga sadari, mereka duduk tepat di tempat mereka berciuman enam tahun lalu. Ciuman pertama bagi mereka berdua, tempat ini menjadi saksi bagaimana mereka bertengkar, berbaikan kembali, sehingga ketika sekarang rasanya sangat canggung berada di tempat yang sama.

“Ne~ tempat ini masih sama seperti delapan tahun lalu ya…”, kata Yuya memandang ke segala arah.

Din mengangguk, “Un… bar itu… lukisan itu juga..”, jawab Din kembali mengingat keadaan delapan tahun lalu.

“Tapi belum berdebu seperti itu…hahaha~”, ujar Yuya menunjuk sebuah lukisan di dekat mereka.

“Haha~ iya ya…”, Din menoleh dan seketika itu mengahadap langsung ke wajah Yuya yang ternyata sejak tadi memperhatikannya.

Karena inilah kebiasaan mereka. Mereka tak pernah duduk berhadapan, ketika sedang makan, posisi duduk keduanya pasti bersebelahan.

Tiba – tiba Yuya mendekatkan wajahnya pada Din. Seakan terbawa suasana karena selain wajah mereka sangat dekat, Yuya juga memang sangat rindu pada Din. Lalu tanpa mereka sadari, bibir mereka bersentuhan. Namun itu tak terjadi lama karena Din segera mendorong bahu Yuya.

“Gomen…”, kata Yuya kaget dengan apa yang ia lakukan juga.

Din membuang muka dan mencoba menenangkan diri dari serangan Yuya yang tiba – tiba itu.

“Gomen na Hime…”, Yuya tanpa sadar memanggil Din dengan kata Hime-sama, “Iiya.. Dinchan.. gomen…”, seru Yuya gugup.

Setelah itu keheningan tercipta diantara keduanya. Baik Yuya maupun Din masih kaget dengan keadaan tadi. Membuat jantung keduanya berdegup kencang, membuat atmosfir canggung semakin terasa.

“Yuya…”, panggil Din setelah keheningan yang cukup lama.

“Hmmm?”

“Gomen na…”, kata Din pelan.

“Kau tak perlu minta maaf… harusnya aku yang minta maaf..”, jawab Yuya gugup. “Yappari.. setelah tiga tahun pun aku masih tak bisa melupakanmu..”, kata Yuya lagi.

Din menunduk, “Aku juga masih sayang Yuya… tapi untuk sekarang, rasa sayang ini tidak sama seperti enam tahun lalu…”, Din terdiam sesaat, “Aku tak bisa merasakan hal yang sama seperti enam tahun lalu ketika Yuya pertama kali menciumku..”, jelas Din.

“Wakatta yo…”, ujar Yuya, “Aku tahu kesalahanku fatal sekali tiga tahun lalu… dan aku sama sekali tak bisa mengubah hal itu…”.

Din memandang Yuya. Wajah Yuya penuh penyesalan karena merusak hubungan mereka tiga tahun lalu hanya karena kecerobohannya.

“Apa Dinchan…sudah menemukan orang lain?”, tanya Yuya ketika ia ingat dengan pria yang bersama Dinchan tadi.

“Ada… setelah Yuya pergi.. aku bersamanya… tapi itu juga tidak berlangsung baik…”, jawab Din.

“Teman sekampusmu?”, tanya Yuya lagi.

Din menggeleng, “Keito… aku bersamanya ketika Yuya tak kembali lagi…”.

“Keito?? Anak SMA yang tinggal bersamamu dulu??”, tapi Yuya yakin yang ia lihat tadi bukanlah Keito. Walaupun hanya bertemu beberapa kali, ia bisa membedakan Keito atau bukan.

“Sou… tapi kami juga sudah berpisah…”

“Ah… souka…”

“Hidup ini sangat rumit… kenapa aku tak bisa memilihmu saja Yuya??”, ujar Din tiba – tiba sambil menghela nafas berat.

“Eh?”, seru Yuya kaget.

“Kau tahu… aku pergi ke Inggris untuk melupakan kenangan bersama Yuya dan Keito.. selama tiga tahun aku mencoba menguburnya dalam – dalam. Lalu ketika aku pulang, tak sampai dua minggu semua kenangan itu kembali…”, keluh Din. Tanpa ia sadari, ia selalu bisa bercerita apa saja kepada Yuya.

“Maksudmu?”, tanya Yuya.

“Kini aku tinggal di rumah Kei-chan… aku tak berharap dapat bertemu Keito, namun ternyata Keito adalah pacar adiknya Kei-chan.. kau bisa membayangkannya??”, keluh Din lagi.

“Kei-chan?”, nada suara Yuya mempertanyakan siapa yang Din maksud.

“Kita sama – sama di Inggris, dan mengambil kelas yang sama… kami teman baik, dan kami sama – sama dibawa untuk penelitian ini..”, jelas Din.

Yuya mulai mengerti siapa yang bersama Din tadi.

“Souka…”

“Ah gomen… aku malah menceritakan hal yang macam – macam.. gomen na…”, kata Din seakan baru tersadar mereka baru saja bertemu lagi, dan Din malah menceritakan banyak hal.

“Daijoubu… aku bisa jadi Ouji-sama mu kapan saja.. ne?”, sahut Yuya sambil memandang Din.

Din mengangguk canggung, “Arigatou…”, Din terdiam sebentar, “Ouji-sama..”, ujar Din pelan.

“Doita.. hime-sama..”, jawab Yuya, “Soal ciuman tadi… lupakan saja ya…”, kata Yuya yang menyadari hati Din sepertinya sudah milik orang lain.

Hari minggu yang cerah. Sangat tepat untuk bermalasan. Terlebih buat seorang Din yang kemarin malam baru saja begadang. Namun tidurnya terusik saat ia merasakan selimutnya tersibak dan jendela kamarnya dibuka.

“Uwaaa~”, keluh Din.

“Bangun pemalas!!”, seru seseorang yang Di langsung menyadari itu adalah suara Kei.

“Aku mau tidur sebentar lagi…”, keluh Din lagi.

“Sudah jam sembilan.. kau mau tidur sampai jam berapa??”, serunya lagi.

Akhirnya Din duduk di kasurnya dengan mata setengah tertutup memandang Kei. “Berisik.. dasar cerewet..”, timpal Din.

Kei mengacak rambut Din karena kesal, “Kami akan berangkat sebentar lagi… ayo ikut sarapan dulu saja..”, kata Kei lalu menarik tangan Din, membawanya ke ruang makan.

“Sudah bangun Dinchan…”, sapa Ibunya Kei dari dapur ketika Din turun ke bawah.

Din hanya sanggup mengangguk lalu duduk di meja makan dengan mata masih setengah tertutup, masih pakai piyama pula. Mata Din terbuka sepenuhnya ketika melihat Saifu memandangnya dengan tajam.

“Ohayou… Fu-chan…”, sapa Din canggung.

“Ohayou..”, jawab Saifu sekenanya.

Setelah itu keluarga itu bersiap untuk pergi sementara Din akan ditinggal di rumah.

“Kami berangkat~”, pamit Kei.

“Hmm… itterashai…”, sahut Din.

Tak sampai dua jam setelah itu, Din sibuk membuat denah di kamar. Beberapa kali ia turun untuk mengambil air mineral dan mencuci mukanya karena sedikit ngantuk. Tak lama bel rumah berbunyi.

“Maaf menunggu lama…”, kata Din membuka pintu karena tadi ia sedang di kamar mandi.

“Ojyamashimasu…”, seru orang di depan pintu.

“Opichiii~”, seru Din senang karena sahabatnya datang. “Kau datang?? Hehe.. ada apa nih?”, tanya Din ketika mereka telah duduk di ruang tamu.

“Maa~ aku ingin kesini saja… hari ini aku libur, dan berfikir untuk ke sini..”, jawab Opi.

“Bukan karena ingin bertemu Kei-chan?”, goda Din.

Opi menggeleng, “Chigau yo!!”, elaknya namun tak bisa menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.

“Hahahaha~ sayang sekali Kei-chan dan keluarganya sedang ke Shizuoka.. ini aku di rumah sendirian…”, kata Din.

“Souka… daijoubu… aku memang ingin bertemu denganmu..”, kata Opi lagi.

Jika Opi dan Din sudah bersama, maka pembicaraan akan mengalir dan biasanya mereka lupa waktu. Seperti sekarang, tak terasa waktu hampir sore.

“Waaa~ sudah hampir jam 4…”, seru Opi saat melihat jam tangannya.

“Sou ne?? kayaknya kalau kita ngobrol pasti lupa waktu…hahaha”, timpal Din sambil tertawa, “Mau Bir?”, tawar Din sambil berdiri menuju dapur.

“Ide bagus…”, jawab Opi.

“Aa~ bir nya habis…”, kata Din dari dapur, “Chotto ne.. aku beli dulu… kau tak apa kan disini sendirian?”, tanya Din pada Opi.

“Wakatta~”.

Din mengambil jaketnya dan berniat untuk ke toko 24 jam membeli bir yang persediannya sudah habis di kulkas keluarga Kei.

“Kore..”, Din menyerahkan sepaket bir pada kasir.

“Dinchan…”, panggil orang itu.

Din mendongak dan menjatuhkan dompetnya saking kaget siapa yang ia lihat.

Orang itu tersenyum

Orang itu mengambil dompet yang Din jatuhkan di meja kasirnya, memberikannya pada Din.

“Keito-kun..”, panggil Din masih heran dengan yang dilihatnya.

“Genki?”, tanya Keito saat mereka diluar toko 24 jam itu. Kebetulan shift Keito berakhir saat itu dan mereka memutuskan untuk berbicara diluar.

“Maa~ sperti yang kau lihat… aku baik – baik saja..”, jawab Din canggung.

“Gomen na… kemarin kita tak bisa berbicara dengan baik ne…”, kata Keito lagi. Mengingat saat mereka bertemu terlalu banyak hal yang mereka pikirkan sehingga mereka tak bisa bicara baik – baik.

“Hmmm..”, jawab Din tak mampu mengeluarkan pembicaraan apapun.

“Aku..bersama Fu-chan sekarang…”, kata Keito tiba – tiba menjelaskan keadaannya dengan Saifu.

“Wakatteru.. omedetou ne.. Fu-chan gadis yang baik untukmu..”, ujar Din lalu menyerahkan satu kaleng bir yang tadi ia beli.

“Hahaha~”, Keito tiba – tiba tertawa.

“Ada yang aneh?”, tanya Din heran.

Keito menggeleng, “Tidak… kau sadar juga aku sudah hatachi.. ne?”.

“Tentu saja!!”, protes Din.

“Dinchan selalu melihatku sebagai bocah … jadi .. ini sedikit menyenangkan.. hahaha.. maaf aku membicarakan hal yang aneh…”, kata Keito.

Lalu keheningan muncul. Baik Din maupun Keito tak tahu apa yang harus mereka bicarakan satu sama lain. Keduanya merasa canggung dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Din..”, panggil Keito.

“Hmm?”

“Hahaha.. lupakan… aku akan bicara hal yang aneh lagi…”, jawabnya.

“Sou… bagaimana kuliahmu?”, tanya Din akhirnya.

“Ne.. bisa kau berhenti mengkhawatirkan tentang sekolahku? Kau terasa seperti ibuku setiap kali kau bertanya tentang hal itu.. haha..”, kata Keito sambil memandang Din.

“Chigau… aku hanya penasaran..”.

“Baiklah… kuliahku baik – baik saja.. nee-chan…”, jawabnya.

Din memukul bahu Keito pelan, “Chotto… tak usah panggil nee-chan segala..”, protes Din.

“Jadi kau mau aku memanggilmu apa??”, Keito melirik Din, “nenek cerewet?”.

Sekali lagi Din memukul bahu Keito, namun kali ini cukup keras, “Dasar bocah!!”, seru Din kesal.

“Hahaha..”, Keito meraih tangan Din yang masih di bahunya, “Kau…”

Keduanya seketika tersadar dan Keito melepaskan tangan Din.

“Gomen…”, katanya canggung.

Din menggeleng, “Aku juga minta maaf…”, kata Din.

“Aaa~ sepertinya aku harus pergi sekarang..”, kata Keito sambil berdiri.

“Hmmm..”, jawab Din sekenanya, “Aku juga harus pulang…”.

“Jya ne!!”, pamit Keito pada Din.

Din memandang punggung Keito yang semakin menjauh dari tempat itu. Ia, entah dengan alasan apa merasa tak ingin Keito pergi.

“Dinchan…”, Keito kaget karena tiba – tiba Din memeluknya dari belakang.

“Jangan pergi..”, kata Din ditengah tangisnya.

“Din…”, panggil Keito lirih sambil menyentuh tangan Din yang kini merengkuh badannya.

Din terisak hebat, “Jangan pergi.. onegai…”.

========
To be continued~
Lalalala~ masih TBC~
Kayaknya bukan mini chapter ya… LOL
Saia masih banyak ide buat fic ini..hahahaha~
Douzo di komen di komen..hahahaha~



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s