[Minichapter] Another Love Story (chapter 1)

Title        : Another Love Story (With You side story)
Type          : Minichapter
Chapter : Satu
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance *as usual, and always, forever and ever* #PLAKK
Ratting    : masih G *hahahha*
Fandom    : JE
Starring    : Keito Okamoto (HSJ), Din Ikuta (OC), Saifu Suzuki (OC), Yuya Takaki (HSJ), Opi Yamashita (OC), Kei Inoo (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Keito Okamoto, Yuya Takaki and Kei Inoo are belong to JE, Din, Saifu, and Opi is OC. But Din is a little bit similar with me..LOL. it’s sequel of With You. Mau nya bikin one shot.. tapi ternyata kepanjangan…hahahhaa… this is first chap.. enjoy it!! ^^

Another Love Story
=chapter 1=

Saifu membenarkan letak jepit yang ia pakai. Sudah saatnya berangkat ke kampus, tapi belum ada tanda – tanda Keito datang menjemputnya. Sesekali Saifu melihat ponsel untuk memastikan jam. Sudah pukul 10 pagi, seharusnya Keito sudah menjemputnya.

Saifu duduk di bangku ruang tamunya dengan gelisah, kurang dari 45 menit lagi kelasnya akan mulai. Tiba – tiba ponselnya berbunyi.

“Hai?! Moshi – moshi?”, angkat Saifu cepat.

“Anoo~ Saifu-chan… aku segera datang. Aku masih di jalan. Lima menit lagi sampai.”, kata orang di seberang.

“Wakatta… tutup teleponnya Keito-chan… kau sedang di jalan…”, seru Saifu khawatir.

“Hai…”.

Klik. Telepon di tutup. Tak lama suara bel terdengar di rumahnya.

“Kaa-chan!! Aku berangkat!!”, seru Saifu dari ruang tengah.

“Hai!! Itterashai!!”, seru Ibunya dari dapur.

“Ohayou!!”, sapa Keito sedikit terlihat merasa bersalah.

“Ohayou Keito-kun…”, balas Saifu sambil tersenyum.

Keito meraih tangan Saifu dan menggandengnya, mereka harus naik satu bus lagi untuk sampai di kampus mereka.

“Gomen na Saifu-chan… aku telat lagi…aku telat bangun..”, kata Keito.

Saifu menggeleng, “Iiya.. daijoubu…”.

“Daijoubu jyanai.. kalau kau telat terus kan bisa bahaya.. yappari… ne… Saifu-chan…”, suara Keito sedikit terdengar aneh.

“Ya?”

“Yappari…. Maukah kau tinggal bersamaku saja?”, pinta Keito tanpa sedikitpun melihat ke arah Saifu.

“EEEHH??”

Usia hubungan mereka tahun ini sudah menginjak tahun ke tiga. Selama ini Keito tak pernah sekalipun mengungkit masalah tinggal bersama atau apapun itu. Maka dari itu Saifu merasa sangat aneh dengan pertanyaan tiba – tiba dari Keito.

“Demo… nande?”, tanya Saifu pelan saat mereka sudah naik bus.

“Kalau kau bersamaku, kita tak akan telat lagi kan? Kita bisa selalu pergi bersama… ne?”, jelas Keito.

“Un… aku akan memikirkannya..”. jawab Saifu.

Keito mengagguk dan menyelipkan jarinya di antara jari Saifu. Seakan berkata bahwa ia bisa dipercaya.

Din menutup matanya dan menghirup udara dengan sedikit perasaan sedih. Setelah beberapa lama di Inggris dirinya sedikit rindu pada kampung halamannya.

“Morning Ms. Ikuta??”, panggil seseorang.

Menoleh dan mendapati sesosok pria menghampirinya.

“Morning Mr. Inoo…”, sapa Din setengah tertawa.

“Ne~ melamun itu tak baik Ms. Ikuta..”, katanya lalu duduk di sebelah Din.

Din mengangguk, “Ne.. Kei… pernah merasa ingin pulang?? Aku rindu Jepang..”, keluh Din.

“Of course… jangan – jangan… pacarmu disana ya? Jadi kau merindukannya?”, tanya Kei dengan nada bercanda.

“Chigau yo!! Aku rindu ayahku juga ternyata… walaupun orang itu masih sibuk terus berpindah – pindah…”, jelas Din.

“Hmmm~ wakatta yo~ aku juga selalu rindu ibuku… tapi sekolah disini kan penting Dinchan..”, jelas Kei.

Ponsel Kei tiba – tiba berbunyi, dengan sedikit tergesa Kei melihat nomernya dan mengangkat ponselnya.

“Dinchan… ayo ke ruang dosen.. kita dipanggil Mr. Brown.. ada sesuatu yang ingin ia bicarakan..”, kata Kei.

Tak perlu waktu lama, mereka kini sudah ada di ruang dosen.

“Seperti yang saya bilang. Saya butuh kalian untuk meneliti ke Jepang. Dan saya pikir kalian berdua adalah pilihan yang tepat. Selain karena kalian memang orang Jepang, saya butuh orang yang berpengalaman disana.”, jelas Mr. Brown.

“Eh?”, Din sedikit kaget.

“Ya… kalau kalian mau, ini bisa dijadikan bahan tugas akhir kalian. Selama enam bulan, meneliti lalu kembali kesini. Bagaimana?”, tanya Mr. Brown.

Baik Kei maupun Din tak bisa berkata apapun. Entah harus merasa senang atau tidak. Karena terlalu mendadak membuat mereka kaget.

“Saya sudah melihat track record kalian mengenai hal ini, dan nilai kalian selalu di atas rata – rata. Maka saya bisa menentukkan bahwa kalian mampu. Kalau kalian siap, dua minggu lagi kita berangkat.”, jelasnya lagi.

“Mr. Brown… ini terlalu mendadak…”, kata Kei pelan.

“Ya. Saya sedikit lama untuk menentukkan siapa yang bisa ikut saya ke Jepang. Tapi dengan kemampuan kalian, bisa kan? Maka semester baru ini kalian akan langsung ikut meneliti dengan saya ke Jepang.”. Jelasnya lagi.

Kei melirik kearah Din yang masih kaget dengan pernyataan dosen pembimbingnya tersebut.

“Hai!!”, kata Din tiba – tiba, “Maksud saya baiklah!! Saya akan ambil kesepatan ini!!”, seru Din.

Selama dua minggu Saifu belum juga memberi jawaban atas pertanyaan Keito yang mengajaknya tinggal bersama. Saifu belum berani member tahu orang tua nya kalau ia bermaksud tinggal bersama Keito. Walaupun sudah lebih dari 20 tahun, tapi tampaknya orang tua nya tak akan mengizinkannya.

“Kaa-chan…”, panggil Saifu di tengah – tengah makan malam.

“Ya?”, tanya ibunya sambil memandang Saifu.

“Anoo ne… kaa-chan… aku kan sudah tiga tahun bersama Keito-kun.. dan kami juga sudah 20 tahun..”, kata Saifu mencoba membawa arah pembicaraannya.

“Sore de??”, tanya Ayahnya, “Kau masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan..”, potong Ayahnya cepat.

“Bukan begitu otou-san…ini bukan soal pernikahan..”

“Aku tahu Keito-kun anak yang baik… tapi kakakmu saja belum menikah… jadi kuharap kau tidak..”

“Bukan masalah itu!!”.

Saat itu tiba – tiba bel rumahnya berbunyi. Ibu Saifu berdiri dan membuka pintu. “Waaa~ Keii-chaaann!!”, seru Ibunya kaget dari pintu depan.

Segera Saifu dan Ayahnya menuju ke depan pintu karena mendengar nama Kei disebut.

“Eeehh?? Nii-chan??!!”, seru Saifu heboh lalu menghambur ke pelukan kakaknya itu.

Mereka memang bukan saudara kandung. Kei adalah anak ibunya sebelum menikah dengan Ayah Saifu. Maka dari itu nama keluarga mereka berbeda. Namun karena sudah tinggal bersama sejak kecil, Saifu merasa Kei adalah kakak kandungnya.

“Genki?”, tanya Kei lalu memeluk ibunya.

“Kenapa kau tak bilang akan pulang?”, tanya Ayahnya.

“Ini juga mendadak sekali…ah iya… ini Ikuta Din..”, kata Kei menunjuk orang yang sejak tadi berada di belakangnya.

“Ikuta Din desu… saya teman sekampus Inoo-san. Saya orang Jepang, tapi karena Ayah saya entah dimana, maka saya belum ada rumah, dan maaf saya merepotkan.”, seru Din sambil menunduk dalam.

Ya, Din memang tinggal sebatang kara. Walaupun ayahnya masih ada, tapi ia bahkan tak tahu dimana ayahnya sekarang.

Saifu merasa familiar dengan wajah Din. Namun tak sempat berfikir jauh.

“Ah… douzo… douzo.. masuk saja…”. Seru Ibu ramah lalu mereka semua duduk di ruang tamu.

“Kei-chan… kenapa tiba – tiba pulang?”, tanya Ibunya saat telah membawa teh untuknya dan Din.

“Kami ada penelitian. Yang terpilih adalah aku dan Dinchan.. kami berdua akan berada di Jepang selama enam bulan… kalau bisa.. kalian juga mengizinkan Dinchan tinggal disini..”.

“Anoo.. Kei-chan.. tak perlu.. aku bisa mencari apartemen besok..”, kata Din setengah berbisik.

“Tak perlu Din… kau disini saja. Toh kita akan sama – sama meneliti kan? Lebih mudah jika kau disini..”, jelas Kei.

“Tapi..aku merepotkan…”, bisik Din lagi.

“Ii yo na, okaa-chan? Otou-san?”, tanya Kei.

“Mochiron… kau boleh tinggal disini..”, jelas Ibunya Kei ramah.

“Yoroshiku Onegaishimasu…”, kata Din lagi – lagi sambil menundukkan kepala.

“Ah!!”, seru Saifu tiba – tiba.

Tiga tahun lalu di depan sekolahnya. Seseorang yang menunggu Keito.

“Dinchan.. pacarku..”, kata Keito pelan, wajahnya tampak memerah.

Saifu memandang nanar ke arah Din. Itu kan Din, Din yang pernah tinggal bersama Keito tiga tahun lalu.

“Ada apa Fu?”, tanya Kei heran melihat adiknya.

“Tidak ada apa – apa Nii-chan..”, jawab Saifu dengan nada sedikit bergetar.

Bagaimana jika Keito kembali bertemu dengan Din? Saifu entah dengan alasan apa, merasa Keito belum bisa melupakan seorang Din.

Keito bersiap menjemput Saifu seperti biasanya. Saifu belum juga member jawaban atas ajakannya tinggal bersama dengannya.

“Ah iya..”, Keito membuka lemari pakaiannya dan mencari jaket yang ingin ia kenakan hari ini.

Sebuah frame jatuh dari sudut lemarinya. Keito memungutnya.


“Thanks to everything~ I was be able with you is my precious time….”

Frame dari Din tiga tahun lalu. Mengapa ia bisa menemukannya pada saat seperti ini? Dengan tergesa Keito menyadari dirinya hampir telat lalu menyimpan frame itu di sembarang tempat.

Sesampainya di depan pintu rumah Saifu, ia segera memencet bel rumah.

Seorang pria dengan perawakan kurus membuka pintu itu, “Cari siapa?”, tanyanya dingin.

“Eh… Saifu-chan… eh… Suzuki Saifu-san..”, kata Keito sedikit kaget.

“Kau siapa?”, tanya Kei lagi.

“Aku…hmmm~”, Keito tak mampu menjawab.

“Yamete yo Nii-chan!! Kau tak ada disini selama tiga tahun, jadi jangan ikut campur…”, seru Saifu yang kini muncul dari bailk pintu.

“Pacarmu??”, tanya Kei kesal.

“Hai!!”, Saifu ke depan pintu dan menggandeng tangan Keito, “dia pacarku..”, jelas Saifu sambil was – was jika Din turun dan bertemu Keito.

“Okamoto Keito desu. Yoroshiku Onegaishimasu!!”, seru Keito lalu menundukkan kepala pada Kei.

“Inoo Kei desu… aku kakaknya Fu…”, kata Kei masih tetap dingin.

“Kami per…”

“Aku dan Din juga akan pergi sebentar lagi… bagaimana kalau bareng saja? Aku kan bawa mobil… aku bisa mengantar kalian..”, tawar Kei.

Keito tersenyum, “Ide bagus kan Fu??”, tanyanya pada Saifu.

“Kekko desu!! Aku mau naik bus dengan Keito-kun..”, seru Saifu lalu menarik tangan Keito.

“Osakini…”, kata Keito lagi.

“Ittekimasu!!!”, seru Saifu.

“Dare?”, tanya Din yang datang beberapa menit kemudian.

“Saifu dan pacarnya..”, jawab Kei.

“Hahaha~ jangan terlalu terlihat shock begitu Kei-chan..”, seru Din melihat ekspresi wajah Kei.

“Aku tak menyangka dia sudah punya pacar..”, jawab Kei lagi.

“Sudahlah.. ayo pergi.. kita hampir terlambat..”, kata Din sambil membawa bebrapa file.

“Okaa-chan… kami pergi…”, pamit Kei lalu mengambil mobilnya.

“Kenapa kau begitu?”, tanya Keito saat mereka sudah di atas bis.

“Hah? Maksudnya?”, Saifu bingung harus bersikap seperti apa.

“Itu kakakmu yang kau ceritakan kan? Kenapa menolak diantarnya? Bukankah Fu-chan sangat merindukannya?”, tanya Keito lagi.

Saifu terdiam. Tak mampu menjelaskan bahwa ia tak ingin Keito bertemu dengan Din. Yang pasti akan membuat Keito teringat akan Din, dah lebih buruk kembali pada Din. Bahkan membayangkannya saja Saifu tak ingin.

“Betsu ni…”, jawabnya pelan.

“Hmmm~ aku bisa bertemu kakakmu kah?”, tanya Keito.

“Ehh? Buat apa?”, seru Saifu kaget.

“Aku ingin memberi salam padanya dengan benar… dia baru pulang kan? Kalau pada orang tua Saifu kan aku sudah, dan karena sekarang kakakmu pulang… aku…”

“Dame desu!!”, seru Saifu.

Keito mengerenyitkan dahi, “Nande?”

“Ia sedikit… aneh… maksudku…”

“Kau kenapa Fu-chan?? Aku serius denganmu, maka dari itu aku ingin bertemu kakakmu…”

Saifu hanya berharap malam ini dengan keajaiban Din tak ada di rumah.

“Kei-chan…malam ini aku akan pulang agak larut..”, kata Din di sela – sela istirahat siang mereka.

“Eh? Ada apa?? Jangan bilang kau akan mencari apartemen?”, kata Kei lalu meminum susu yang tadi ia beli.

“Tidak… aku akan bertemu sahabatku, Opichi namanya… aku kangen padanya… ne?? jadi pulang hari ini, aku akan langsung ke tempatnya bekerja..”, jelas Din.

“hmmm~ wakatta… hehe.. kapan – kapan kenalkan ia padaku ya..”, ujar Kei ringan.

“Hai!! Hehehe..”

Begitulah. Sepulang dari tempat penelitian Din menelusuri jalanan di Jepang. Sangat membuatnya rindu karena sudah lama ia tak melakukannya. Perbedaan di Inggris dan Jepang lumayan banyak, sehingga ia bahkan seidkit takut ia bisa melupakan Jepang.

“Dinchan!!!”, teriak seseorang sambil berlarian.

“Opichiiiii!!”, sahut Din juga lalu memeluk orang yang ia panggil.

“Huwaaa~ aku rindu sekali padamu!!”, seru Opi.

Mereka hanya sering bertukar e-mail dan saling chatting selama Din di Inggris, sehingga membuat Din sangat rindu pada sosok sahabatnya itu.

“Genki?”, tanya Din ketika mereka sudah di sebuah restaurant.

“Genki… aku bekerja di sebuah perusahaan farmasi… kau harus tahu aku keren lho disana..”, serunya.

“Hahaha~ dasar!!”

“Iya.. aku ingin melanjutkan studi ku… tapi rasanya sayang melepas pekerjaanku ini Dinchan…”, jelas Opi.

“Maaa~ kau harus memikirkan mana yang terbaik untukmu…”.

“Wakatta yo… aku mau coba ikut seleksi beasiswa akhir bulan ini…do’akan aku ya…”, katanya lagi. Seperti yang Din duga, Opi tak berubah, masih se-cerewet dahulu.

“Yup…aku pasti mendo’akanmu…hehe..”, Din menyesap kopinya sesaat.

“Ne…kau meneliti kesini?? Sugoooi ne~”

“Ya begitulah… aku sedikit tak menyangka sebenarnya… hehehe..”, sahut Din.

Waktu bersama Opi saat mengobrol tak pernah terasa lama. Sangat singkat dan mereka tentunya lupa waktu. Tiba – tiba saja pembicaraan itu terbawa ke masalah Yuya yang Din sendiri masih sedikit memikirkannya.

“Ne… aku bertemu Takaki kemarin…”, kata Opi tiba – tiba.

Din melirik ke wajah Opi namun lalu bertanya, “Dan? Apa kabar dia?”

“Dia akan mewarisi perusahaan ayahnya ketika lulus nanti.”, jelas Opi.

“Hmmm..”, Din mengangguk – angguk.

“Dan tahu?? Dia menanyakanmu…”

Din hampir tersedak “Uhuk!! Apa maksudnya?? Uhuk…”, Din mencoba tenang setelah mendengar hal itu dari Opi.

“Iyaa… dia menanyakanmu…kujawab kau baik – baik saja..”

“Sou…”

Mau tak mau Din kembali memutar memori nya dengan Yuya tiga tahun lalu. Membuatnya sedikit rindu akan sosok itu. Namun segera Din coba untuk menepis pikiran itu.

“Nii-chan!!”, Saifu kembali menarik lengan Kei yang sedari tadi hanya melihat sosok Keito dengan seksama.

“Hmm?”, tanya Kei tanpa menoleh sedikitpun pada Saifu.

Keito tampak canggung dan tak bisa berkata apapun, hanya sesekali tersenyum.

“Jangan pelototin Keito kayak gitu!!”, protes Saifu entah untuk ke berapa kali, dan jawaban Kei selalu sama, diam tanpa menjawab Saifu.

Saifu sebenarnya ingin pertemuan ini segera berakhir jadi Keito segera pulang dan ia tak akan bertemu Din. Namun Kei membuat semuanya kacau.

“Nii-chan~”, panggil Saifu sambil menarik manja tangan Kei, “Onegai yo~ jangan seperti ini…”, keluh Saifu.

Kei akhirnya menoleh, “AKu hanya sedang menilai dia…”, jawab Kei.

“Tapi gak harus melototin gitu juga kan??”, sahut Saifu tambah kesal dengan kelakuan kakaknya itu.

“Wakatta yo…”, lalu dengan sok bijak Kei merendahkan suaranya, “Kau serius dengan adikku, hah?”, tanya Kei sedikit menyipitkan matanya.

“Tentu saja… Inoo-san.. saya dan Suzuki-san sangat serius. Kami sudah bersama selama tiga tahun..jadi tentu saja ini berarti saya serius.”, jawab Keito mantap, akhirnya pertanyaan itu keluar juga.

“Kau kuliah?”, tanya Kei lagi.

“Iya… saya satu kampus dengan Suzuki-san.”

“Jurusan?”

“Bahasa Inggris…”, jawab Keito sedikit pelan.

Kei mengagguk – angguk tanda mengerti. “Kau tinggal dimana?”

“Aku tinggal sendirian… di apartemen. Ibuku dalam perjalanan bisnis.”, jelasnya lagi.

Kei beranjak dari kursinya, “Aku tak perlu bertanya apa – apa lagi… jaga adikku baik – baik.. jangan sampai kau melakukan kesalahan…ne?”, kata Kei lalu meninggalkan Keito bersama Saifu.

“Fffiuuhh~”, kata Keito yang kini akhirnya bisa bersandar pada sandaran sofa.

“Gomen ne Keito-kun… sudah kubilang kan dia aneh…”, kata Saifu lalu mendekati Keito dan duduk di sebelahnya.

“Daijoubu… wajar ia khawatir Fu…”, jawab Keito lalu mengusap pelan kepala Saifu.

“Ne… soal tinggal bersama…”, Saifu menggantung kalimatnya karena tak yakin ingin berkata apa.

“Untuk sementara ini kita lupakan dulu masalah itu. Ne?”, jawab Keito lagi.

Saifu tersenyum mendengarnya. Sesaat ia lupa soal Din yang ada di rumahnya.

“Baiklah…aku pulang saja. Sudah malam…”, kata Keito lalu beranjak dan pamit pada Saifu.

“Perlu ku antar ke depan?”, tanya Saifu.

“Tak usah… kau istirahat saja.”, kata Keito dan keluar dari pintu rumah Saifu menuju ke pagar.

“Kyaaa!!”, sebuah teriakan terdengar. Membuat Keito terdiam karena mendegar suara itu.

“Sudah kubilang jangan minum sake…”, kata suara lainnya.

“Huhuhuhu~ aku mau terbang Opichiii~”, teriak suara yang satu lagi.

“Aduh~ kau itu berat…”, keluh yang lain.

Tiba – tiba pintu rumah terbuka. Kei keluar dari rumah dan bergegas ke pagar depan, melirik ke Keito sekilas, namun tak berkata apapun.

“Maaf Inoo-san, aku meneleponmu lewat ponsel Dinchan…”, kata Opi setelah persis berada di depan pagar.

“Daijoubu… kau?? Opichi??”, tanya Kei.

“Hai… Yamashita Opi desu..”, jelas Opi.

“Awas~ biar aku yang membawanya ke dalam..kau mau mapir?”, tanya Kei sambil membopong tubuh Din a la princess.

“Tak usah Inoo-san… besok saja aku kesini lagi..”, pamit Opi.

Keito masih tertegun dengan apa yang ia lihat. Sesaat Keito tak percaya karena suara itu sangat familiar baginya.

“Hey kau!!Keito!!”, panggil Kei membuyarkan lamunan Keito.

“Hmm?? Ya??”

“Tolong bukakan pintu…tolong aku bawa Dinchan ke dalam”, perintah Kei.

Keito menurut, membuka pintu lalu mengikuti Kei ke dalam. Dalam hatinya ia berharap itu bukan Dinchan yang sama dengan yang ia kenal. Suasana gelap di luar membuatnya tak bisa melihat dengan jelas sosok mabuk itu.

Sesampainya di lantai dua, Kei menunjuk sebuah pintu kamar dengan dagunya. Keito menurut dan mengikuti Kei ke dalam.

Keito tertegun, matanya terbelalak tak percaya. Wanita yang Kei gendong, wanita yang kini terbaring di atas sebuah kasur dengan wajah memerah dan mabuk itu..,

Dinchan

Sekali lagi ia mencoba mencerna segala hal yang terjadi.

Itu benar – benar Dinchan. Bukan Dinchan yang lain, itu Dinchan yang tiga tahun lalu adalah miliknya.

Din terbangun dengan kepala pusing. Padahal semalam ia hanya menenggak satu sloki sake, dan efeknya ia mabuk berat.

“Ouch…my head…”, keluh Din sesaat setelah mencoba bangun dari tempat tidur.

“Ohayou drunken princess…”, sapa seseorang dari pintu.

Tentu saja itu Kei, membawakan segelas air hangat untuk Din.

Din memegangi kepalanya seakan kepala itu akan jatuh. Kei menyodorkan air yang ia pegang lalu Din mengambilnya.

“Thanks…”, ucap Din pelan.

“Yeah..Don’t mention it…”, Kei mengacak rambut Din yang sudah acak – acakan, “Baka ne~ kau untung saja ada Opichi…kalau tak ada kau pulang pakai apa?? Dasar bodoh!”, seru Kei.

“Mouu~ aku hanya mencoba satu sloki saja kok..”, keluh Din masih memegangi kepalanya.

“Siap – siap.. kita berangkat sepuluh menit lagi. Aku akan membawakan obat, cepat siap – siap!”, perintah Kei sambil beranjak.

“Eh?? Sepuluh menit???”, kata Din sebal.

“Iya…sudah cepat!!”, bentak Kei lembut.

Din mau tak mau beranjak dan mencoba menghilangkan sakit kepalanya. Setelah bersiap – siap ia turun dan duduk sarapan dengan orang tua Kei juga dengan Saifu.

“Ohayou…”, kata Din sambil duduk.

“Ohayou…”, semuanya serentak membalas.

“Ini obatmu tuan putri… bawa roti itu..”, perintah Kei lagi.

“Kei-chan… jangan seperti itu. Biarkan Ikuta-san makan pagi dulu…”, kata Ibunya sambil memberikan semangkuk kecil nasi pada Din.

Din hanya bisa tersenyum, ia tahu seberapa disiplinnya Kei soal jadwal.

“Tapi kita harus sampai di kampus jam 9 kaa-chan..”, keluh Kei namun akhirnya duduk di meja makan.

“Aku tahu… tapi lihat… Ikuta-san…”

“Panggil Dinchan saja..”, potong Din karena tak enak mendengar nama keluarganya terus di sebut.

“Ah ya, Dinchan sangat pucat… ia harus makan pagi. Kau juga harus makan pagi!!”, kata ibunya lagi.

“Dengarkan ibumu..”, sahut Ayahnya.

Kei sedikit kesal namun akhirnya ikut makan juga.

Saifu menoleh ke arah Din yang terlihat sangat pucat, bertanya – tanya apakah Keito melihatnya kemarin? Karena setahu Saifu, semalam Din pulang tepat saat Keito akan pergi dari rumah. Saifu mencoba berfikir positif, namun ia merasa masih mendegar suara Keito semalam.

Bel rumah terdengar beberapa saat kemudian. Kei dan Din juga pada saat yang sama selesai makan.

Saifu segera bergerak ke depan, itu pasti Keito.

“Bareng aja sama kita..”, tawar Kei sambil merapikan bajunya dan mengambil tasnya. Din juga ikut beranjak.

“Tak perlu…”, tolak Saifu.

“Keito bisa ikut juga… sudahlah..kita searah..”, kata Kei lagi.

Saifu benar – benar tak ingin mereka bertemu. Din dan Keito.

“Tak perlu Nii-chan!!”, seru Saifu lagi.

“Aku yang akan mengajak Keito kalau begitu…”, kata Kei lalu berbalik, “Ittekimasu!!”.

“Hai!!itterashai!!”, seru ibunya dan ayahnya.

“Nii-chan…”, seru Saifu panik ketika Kei sudah mendekat ke pintu, sesekali Saifu menarik lengan Kei.

“Kau kenapa sih?”, tanya Kei heran dengan kelakuan adik semata wayangnya itu. Sementara Din hanya menggeleng pelan tanpa ikut campur urusan kakak-adik ini.

Din akhirnya mendahului Kei membuka pintu rumah. Saifu berteriak, Din terdiam lalu mundur sedikit dengan tatapan setengah tak percaya.

Di hadapannya sekarang, seseorang juga kaget karena melihat Din.

“Dinchan…”, panggil Keito lirih.

“Keito…”, Din tak kalah heran.

————–
TBC oh TBC… mari kita berdo’a bersama sambungannya gak bakalan lama..
ahahhaha~
saia sibuk dengan sesuatu akhir – akhir ini.. LOL
^^
COMMENTS ARE LOVE!!! :-*



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s