[Oneshot] Birthday Present

Title        : Birthday Present
Type          : Oneshot only
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance *again?? :P*
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Yuya Takaki (HSJ), Miyako Reina (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Yuya Takaki is belong to JE, Reina is totally my OC *halah* buat kado ultah yuyan ke-21.. hehehe.. happy birthday~ happy birthday abaaaannngg~ :-*

BIRTHDAY PRESENT


The most beautiful moment of my life is…
… When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of my life

“Otanjoubi Omedetou!!!”, suara itu masih terngiang di telinga Yuya hingga saat ini. Sesaat Yuya menutup matanya, mencoba menangkap sosok yang selama ini terus menemaninya, sudah lima ulang tahun selalu ia habiskan bersamanya.

Entah untuk alasan apa, hadiahnya selalu sama. Sebuah syal buatan tangan yang hanya berubah pola atau warnanya.

March, 26th 2010

“eeehh?? Mata??”, kata Yuya ketika membuka bingkisan yang diberikan malam itu. Ini ke lima kalinya ia mendapat kado yang sama.

“Kau tak suka?”, mata Reina membulat, tampak sangat polos.

“Aku selalu suka apa yang kau buat…”, jawab Yuya lalu mencium pelan dahi wanita yang selama ini menemaninya.

Kali ini syal nya warna merah lagi, Yuya tersenyum lalu memakaikannya di leher gadis itu.

“Jangan sampai kau kedinginan…”, kata Yuya lagi.

Mereka saat itu ada di taman. Walaupun hampir masuk ke musim semi, tetap saja cuaca masih cukup dingin.

“Yuya akhir – akhir ini sangat sibuk ya~”, gumamnya.

Yuya tahu kesibukannya di JUMP selama ini membuatnya sedikit tidak memperhatikan Reina, ia banyak sekali konser dan harus berkeliling Jepang. Sebelum ia debut, tentu masih banyak waktunya untuk gadis itu, tapi tak sekarang ini.

“Well, aku kan harus kerja….hehehe. Bukankah kau mau aku menikahimu nanti?hahaha.”

Reina menjawab pertanyaan Yuya dengan memukul pelan bahu Yuya.

“Jangan bercanda tuan Takaki Yuya…”

Mereka bukanlah sepasang kekasih, setidaknya begitulah yang mereka pikirkan. Saling memperhatikan, saling menjaga satu sama lain, komitmen tak pernah terjadi di antara mereka. Satu – satunya ikatan yang mereka tahu adalah mereka bersahabat.

“Halo? Halo? Maaf… bisa tahu anda dimana?”, seru suara di seberang.

Yuya melihat ponsel yang ia pegang, khas ponsel wanita dengan banyak tempelan dan bahkan gantungan yang cukup banyak.

“Aku di shibuya…”, jawab Yuya polos.

“Bisa tunggu disitu? Kau dimana? Ini… aku pemilik ponsel itu…”, suara itu sedikit panik.

“Maa~ baiklah…”

Setelah itu, tak kurang dari 45 menit kemudian seorang gadis muncul di hadapan Yuya, dan saat itulah awal Yuya bertemu dengannya.

“Kalau kau tak meninggalkan ponselmu sembarangan, kita tak akan pernah bertemu…”, kata Yuya sambil mengingat kejadian lalu.

Tak menjawab, Reina hanya menunduk memandangi sepatunya.

“Aku suka waktu itu…”, katanya tiba – tiba.

“Eh?”

“Ya… waktu Yuya masih bisa selalu di sampingku…hehehe.. maaf aku sedikit terdengar egois..”, katanya lalu tersenyum memandang gadis di hadapannya.

Lima tahun perjalanan mereka sebagai sahabat telah menyadarkan Yuya terhadap satu fakta. Ia tak bisa hidup tanpa wanita di hadapannya ini. Yuya tahu memendam perasaannya selama tiga tahun membuatnya seakin tak bisa melepaskan Reina. Untuk berbagai alasan Yuya tak pernah mengungkapkannya secara langsung, ia hanya memperlihatkannya dari berbagai cara perhatian dan sikapnya.

Baby girl, you’re my angel
Cuz I’ve fallen for you by your beauty
You, who grabbed my hand and pulled me out of the dark
Even when I’m struggling, I can smile because of you
Even when I fall down, I can get back up because of you
You are the only one in my life, that will never change,
Because my love for you is eternal
(You’re the one in my life)

“Ne… maaf… aku sibuk sekarang…”, jawab Yuya akhirnya.

“Daijoubu… hehehe.. maaf aku malah mebuat suasana tak enak..”, kata Reina lalu tersenyum.

Yuya membelai rambut gadis itu, mengacaknya pelan.

“Sudahlah… ayo makan… aku lapar…”, Yuya beranjak, memakai kembali kaca mata hitamnya dan menggamit lengan gadis itu.

“Eh? Kau tak pergi bersama yang lain?”

“Nanti setelah ini aku akan bertemu member BEST.. hehehe… sudahlah.. aku ingin makan dneganmu dulu…”, seru Yuya lalu menarik lengan Reina.

March, 26th 2009

Yuya membuka laci lemarinya, melihat syal yang tersimpan rapi disitu. Untuk hari ini, ia mengambil syal merah yang pertama kali diberikan olehnya, melirik ke cermin, Yuya mendapati wajahnya yang letih.

I still have something to tell you
It might be a little late, but these are the words I never got around to say

JUMP mulai banyak job, ia sendiri sebenarnya sudah ingin menyerah, tapi saat ini ia harus terus membangun karirnya. Setelah kelulusannya ia belum memutuskan apa yang ingin ia lakukan.

From : Miyako Reina
Subject : hey~
Hari ini kau harus datang ke tempat baito ku..
Wakatteru?
😛
Aku tahu kau harusnya datang..LOL

Tersenyum, Yuya tahu kalau Reina selalu bisa membuat moodnya kembali baik. Tak peduli betapa capeknya ia, ketika melirik ponsel dan menemukan pesan singkat atau sekedar ucapan selamat pagi bisa membuatnya senang dan tak merasa capek lagi.

Yuya memutuskan untuk meneleponnya saja.

“Ya?”, angkat suara di seberang.

“Kau tahu aku pasti datang kan?”

“Hahahaha~ awas kalau kau bohong ya… aku akan menyebarkan gossip tentangmu nanti…”, jawabnya jahil.

“Hey!! Nona Miyako Reina… Kau tahu aku lebih banyak tahu tentang kekuranganmu.. aku yang akan menyebarkan gossip tentangmu…”

“Well, well, tuan Takaki Yuya… sayangnya aku bukan idol sepertimu.. jadi percuma saja kau seperti itu..hahahaha.”

“Baiklah aku kalah… sampai jumpa nanti malam..”

“Yup…”

Malam itu Yuya pulang larut sekali. Ia di tahan oleh teman – temannya dan tak bisa memenuhi janjinya ke tempat baito Reina. Yuya sedikit merasa bersalah, namun Reina sama sekali tak menajwab telepon atau membalas e-mail nya. Sekitar hampir tengah malam, Yuya sampai di depan rumahnya, ia sadar sebuah kado tersimpan di depan pintu rumahnya.

Kepada Takaki Yuya – Sama
Aku memikirkan gossip mana yang akan ku umbar terlebih dahulu??
Hahahaha~
Jyoudan~
Aku tahu kau sibuk.. ^^
Otanjoubi omedetou Takaki-sama…
Ingat, jaga kesehatanmu mengerti???

-Reina-

Kali ini warna biru, kembali syal rajutan buatan Reina. Yuya tersenyum, mencoba menghubungi Reina lagi. Ajaibnya, kali ini telepon itu tersambung.

“Reina… kau dimana?”, tanya Yuya.

“Hmmm~ aku sibuk Yuya… maaf… anou… sebelum jam 12 malam… otanjoubi omedetou… maaf aku malah jadi orang terakhir..hehe..”

Yuya terdiam, ia tak dapat menajwab pernyataan itu karena sibuk tersenyum pada dirinya sendiri.

“Yuya… aku harus pergi… nanti ku telepon lagi…”

We would chat
We would stroll
These were the happy moments because it was just two of us
We are two different persons
But we’re alike
And sometimes people would ask if we are siblings

March, 26th 2008

The most beautiful moment of my life is…
… When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of my life

“Terserah kau saja deh~”,

Yuya menutup teleponnya juga dengan perasaan sedikit kesal. Kenapa juga mereka harus bertengkar?

Cih, ini kan ulang tahunnya…pikir Yuya.

Yuya berhenti di depan sebuah toko pakaian yang ia lewati, sebuah gaun sungguh indah membuatnya terdiam. Gaun yang pastinya akan sangat cocok untuk Reina.

Ia mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya tak seperti ini. Reina kan sudah punya pacar, dan tidak perlu seharusnya ia memikirkan Reina. Lagipula baru saja ia bertengkar dnegan Reina.

Hanya masalah sepele soal Yuya ingin menghabiskan malam ini dengan Reina. Hanya jalan – jalan, tapi Reina bilang ia sibuk. Pasti ini tentang pacarnya lagi. Cowok yang menurut Yuya, bahkan tak berhak mendapatkan wanita manapun karena sikapnya yang sangat buruk, ia ingat pertama kali ia bertemu dengan pria itu, Yuya tak tahan untuk tidak ingin memukulnya.

Yuya melangkahkan kakinya menuju rumah. Tak ada tempat lain yang bisa ia tuju sekarang, jadi ia memutuskan untuk pulang saja.

“Hey Takaki-sama!! Tidak sopan menutup telepon begitu saja!!”, teriak seseorang ketika Yuya sampai di depan pintu rumahnya.

Reina ada di depan rumahnya dengan sebuah cake di tangannya. Angka 18 menghiasi cake itu.

“Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday dear Yuya… happy birthday to you…”.

Yuya menghampiri Reina, meniup lilin ber angka 18 itu.

“Kenapa kau ada disini?”, tanya Yuya bingung.

“Karena aku ingin…hehehe..”, jawabnya sambil tersenyum.

Tak lama setelah itu, Reina mengambil sebuah syal berwarna merah dari tasnya, memakaikannya pada leher Yuya.

“Mata?”, tanya Yuya menyentuh syal barunya itu. Sudah syal ketiga.

Reina mengangguk, “Un…”

We walk the same path
And share the same view
I will protect you, so trust me
You’re the reason of my life
If it’s just two of us we can be forever happy

Secara refleks Yuya menarik Reina ke pelukannya.

“Yuya…”, panggil Reina pelan, hampir seperti bisikan.

“Bisakah kau diam sebentar? Aku ingin seperti ini sebentar…”, kata Yuya sambil mempererat pelukannya.

Dan hari itu Yuya tahu, Reina melepaskan dirinya dari pria kasar itu. Hari itu pula Yuya berjanji dalam hatinya, ia akan menjaga Reina sepenuh hati.

March, 26th 2007

Pulang sekolah kali ini Yuya ada pemotretan, walaupun belum debut, junior seperti dirinya juga sering melakukan pemotretan.

Hari ini ulang tahunnya, ulang tahun ke 17 baginya. Namun Yuya tak pernah merasa ada yang istimewa dengan hari itu, ia bahkan tak terlalu memikirkannya.

Ponselnya bergetar, sebuah e-mail kembali masuk. Seharian ini ia menerima banyak sekali e-mail, mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

From : Miyako Reina
Subject : Takaki-sama
H-A-P-P-Y B-I-R-T-H-D-A-Y
^^
Hari ini kau ada acara??

Ya, selalu. Sudah dua tahun sejak pertemuan mereka, dan tahun lalu ia bertemu Reina saat ulang tahunnya. Yuya mengingat hari ini ia memang punya acara dengan beberapa temannya.

To : Miyako Reina
Subject : Re : Takaki-sama
Arigatou~ ^^
Kau bisa datang ke tempatku jika mau…
Dou?

From : Miyako Reina
Subject : OK dechu~
Ok desu..
Dimana? Kau beritahu saja tempat dan jam nya…
🙂

Maka malam itu Reina datang ke tempat Yuya bersama teman – temannya. Walaupun Reina bukan wanita sendiri, namun Reina terlihat sangat canggung malam itu. Mungkin karena ia belum familiar dengan teman – teman Yuya yang mayoritas adalah laki – laki.

“Kau baik – baik saja?”, tanya Yuya saat mengantar Reina keluar dari restaurant karena Reina bilang ingin pulang duluan.

“Ya… aku baik – baik saja… hanya.. aku ada sedikit urusan…hehe..”

“Sou… hati – hati ya…”

Reina mengeluarkan sebuah syal rajutan yang hampir mirip seperti tahun lalu ia berikan, hanya beda warna saja, kali ini hitam. Dengan sedikit canggung Reina memakaikan syal tersebut pada Yuya.

“Otanjoubi omedetou~”, ujar Reina sambil tersenyum.

The most beautiful moment of my life is…
… When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of my life
I won’t let go of your hand
I will keep my promise like a man

Entah mengapa, untuk seorang Yuya yang baru saja berumur 17 tahun hari itu, senyum Reina memang paling membuatnya sadar, seorang Reina lah yang membuatnya jatuh cinta saat itu.

March, 26th 2006

Hari ulang tahun nya ke – 16. Dengan malas Yuya membuka matanya, tak ingin rasanya ia bangun. Apalagi sekarang hari minggu, harusnya ia libur saja, tapi ia ada job dan harus berangkat sepagi ini, baru saja jam 9 pagi.

Yuya kembali menggeliat, lalu tiba – tiba saja Mama nya berteriak dari bawah.

“Yuyaaaa!! Ada paket untukmu!!!”, mata Yuya terbuka sepenuhnya.

Dengan sedikit malas ia beranjak ke bawah.

“Dari siapa Ma?”, tanya Yuya malas.

“Entah… itu di meja depan..”, kata Mama lalu kembali sibuk di dapur.

“Ah ya…”

Sebuah paket rapi dengan pita dan sebuah surat di atasnya. Yuya dengan hati – hati membuka surat itu terlebih dahulu.

Dear Takaki-sama…
Otanjoubi Omedetou!!!!
^^
Sdah setahun sejak pertemuan kita…
Aku mau mengucapkan terima kasih lagi..
Hehehe~
Hanya ini yang bisa kuberikan….
Terima kasih sudah menjadi temanku selama ini…

-Reina-

Eh?

Yuya tersenyum melihat surat itu. Reina dan dirinya memang ebrtemu secara kebetulan, dan dengan cara yang sangat konyol. Namun Yuya mendapati Reina adalah orang yang sangat menyenangkan untuk diajak berbicara, sehingga selama setahun ini mereka sudah menjadi teman.

Saat membuka paket itu, Yuya mendapati sebuah syal berwarna hijau tua, dan sebuah foto Polaroid yang menunjukkan Reina sendiri lah yang membuatnya.

Sebuah surat kembali ia dapati di dalam paket itu.

Hehehe~
^^
Winter memang sudah lewat…
Tapi aku ingin memberikan syal untukmu..
HAPPY BIRTHDAY~

Even time passes by
Even if the world changes
I will be by your side, because you’re the only one in my heart

March, 26th 2011

Dear Takaki-sama….

Saat kau membaca surat ini… kau cukup tidur tidak? Kau sudah makan pagi? ^^ Maafkan aku, kali ini hanya sebuah surat yang dapat kuberikan padamu. Syal ke-6 ini akan jadi yang terakhir kurasa… Ingat pertemuan kita enam tahun lalu? Aku tak pernah menyangka kalau kita bisa bertemu. Unmei jyanai no?? hehe..
Maafkan aku.
Alasan ku tak memberi tahu mu tentang semua hal ini, karena aku ingin bisa lepas dari mu. Saat tiba waktunya, aku tak akan sulit melepasmu.
Suki deshita…
Iiya~
Suki desu. Sampai sekarang pun aku akan tetap mencintaimu. Banyak hal yang kita lalui bersama… mungkin kau selalu bertanya kenapa aku selalu memberimu syal?
Aku ingin tetap bisa mendekapmu bahkan ketika aku sudah tak ada, semua syal itu dapat menghangatkanmu, bahkan ketika aku tak ada.
Takaki-sama,
Maafkan aku pergi seperti ini.
Miyako Reina

Ponselnya tak bergetar lagi seperti tahun – tahun sebelumnya, tak ada lagi e-mail dari Reina, sapaan Takaki-sama nya, dan omelan panjangnya saat Yuya tak tidur atau terlalu banyak main game. Kenapa juga hal ini harus terjadi ketika Yuya sudah memutuskan untuk mengungkapkan segalanya pada Reina, hal yang sangat ia ungkapkan selama ini.

Dua bulan lalu, Reina meninggalkannya. Selamanya. Penyakit kanker otak telah merenggut nyawa Reina.

Reina selalu cantik seperti biasanya, foto itu seakan tersenyum dan berkata pada Yuya, “Aku baik – baik saja… tersenyumlah…”. Hanya foto saja yang akan ia lihat di ulang tahunnya selanjutnya.

Air mata tak berhenti mengalir, tapi di depan pusara Reina, air mata itu sekakan tak bisa ia bendung lagi.

“Arigatou Reina.. you know… I love you too”, bisik Yuya menyesali bahwa ia tak pernah mengungkapkan hal itu pada Reina sekalipun.

Yuya meninggalkan pusara itu, membenarkan letak syal yang ia kenakan. “I Will Smile for You…”

Sambil menengadahkan wajahnya ke langit, Yuya tersenyum pada langit, tempat dimana ia yakin Reina sedang menyaksikannya.

Because I love you more than anyone else
You can’t be described with words
It wouldn’t suffice even if I shout that
you’re the most beautiful person countless times
I will show you how much I love you
Because my love for you is eternal
(K.Will – Present)

====================
Owari~
Gaje yaaaakkk???
Sudahlah….
Saia gak ada ide…hahahhaa

Otanjoubi Omedetou abang Yuuyaaaannn~
Luph u bang…lol
😛
Hope the best for you…makin sexy, makin dewasa…hehehe..
🙂


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s