[Minichapter] With You (chap 2)

Title : With You~
Type : Mini Chapter
Chapter : Two
Author : Dinchan Tegoshi
Genre : Romance *apa lagi yang saia bisa??LOL*
Ratting : PG nyerempet NC-17
Fandom : JE
Starring : Keito Okamoto (HSJ), Din Ikuta (OC), Yuya Takaki (HSJ), seliwat2 orang laen.xP
Disclaimer : I don’t own all character here. Keito Okamoto and Yuya Takaki is belong to JE, Din is totally OC. But Din is a little bit similar with me..LOL. Saia anggap ini sebagai hadiah ulang tahun bagi diri saia sendiri..jadi maaf pake nama sendiri… tapi saia tergila – gila pada Keito Okamoto akhir – akhir ini… jadi jangan protes please…hahahaha…

=With You=
chapter 2


Setelah kejadian itu, Keito memang merasa dirinya lebih gugup jika Din ada di sekelilingnya. Keito merutuki dirinya sendiri. Kenyataan bahwa Din memang lebih tua darinya, kenyataan bahwa Din sudah punya pacar juga harusnya bisa membuat dirinya tak mengharap apapun dari Din.

“Keito-kun!!”, panggil seseorang.

Keito menoleh, memandang gadis sebayanya yang tersenyum.

“Ya Fu?”, jawab Keito.

“Ayo ke lab…kau melamun saja…”, imbuh Fu membuat Keito seakan sadar kalau ia sedang di kelas.

Fu, atau Saifu adalah temannya. Sahabatnya yang memang sudah dekat dengannya sejak masuk ke sekolah itu. Walaupun pada awal pertemanan mereka, Saifu harus bersabar dengan banyak hal yang Keito lakukan, seperti mengacuhkannya setiap waktu. Tapi seiring berjalannya waktu, Saifu semakin dekat dan Keito pun seakan membuka dirinya untuk Saifu sehingga mereka bisa ber komunikasi dengan baik.

“Ah ya!!”, kata Keito lalu beranjak dan membawa bukunya.

Saifu berjalan di sebelahnya, membuat banyak orang iri. Sangat sulit mendekati seorang Keito Okamoto.

“Ne, Keito-kun…”, panggil Saifu manis.

“Ya?”

“Pulang sekolah main yuk~ aku bosan di rumah…”, kata Saifu lagi.

Keito tak menjawab. Namun itu berarti jawaban Ya dari seorang Keito.

“Kita ke mana ya?”, Saifu bergumam sendiri, “hmmm~ antar aku belanja ya..”, kata Saifu lagi.

Hanya mengangguk, Keito membiarkan tangan Saifu merangkul lengannya.

“Hmmm~ Keito-kun… mau minuman dingin juga?”

Keito menyentuh kepala Saifu, “Baka~ ini musim dingin…”, keluh Keito yang disambut senyuman jahil Saifu.

“Hehehe~ maksudku teh hangat..”

Keito mengangguk dan menunggu Saifu menyerahkan teh hangat yang baru saja ia beli di mesin otomatis.

“Keito-kun… arigatou sudah mengantarku…”, kata Saifu.

Mereka sedang duduk di taman setelah sore itu mengantar Saifu belanja.

“Un…”, jawab Keito pelan.

Sesaat baik Keito ataupun Saifu larut dalam pikirannya masing – masing. Keito menangkap bayangan Din di depannya, menangis.

Keito berusaha lebih berkonsentrasi, apa sekarang ia mulai berhalusianasi tentang seorang Din? Keito kembali menyipitkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya itu Din atau sekedar ilusinya.

“Keito-kun..”, panggil Saifu.

“Chotto~..”, Keito berdiri dan menghampiri sosok mirip Din itu.

Din tertunduk, dirinya masih terlalu bingung untuk berjalan, hatinya terlalu sakit. Pusing terlalu banyak menangis, Din terdiam di sebuah taman, mencoba melupakan apa yang ia liat tadi.

-Flashback-

“DIN!! Chotto!! DINCHAAANN!!”, suara Yuya menggema dalam otaknya.

Din mencoba berlari lebih jauh dari tempat itu. Yuya, kekasihnya yang selama ini ia percaya berciuman dengan gadis lain.

Hari itu Din menunggu Yuya pulang dari tempat kerjanya. Karena hari ini ulang tahunnya, Din ingin bersama Yuya. Dan bukannya menunggu surprise dari Yuya, Din justru ingin memberi Surprise untuk Yuya.

“Gomen Ayumi…”, Yuya keluar dari toko itu dengan seorang gadis.

Din bersembunyi, mencoba tidak terlihat.

“Kenapa Yuu-chan?”

“Pacarku… ulang tahun hari ini…”

Din membelalakan mata, ‘siapa gadis itu? Ada apa dengan gadis itu?’, pikiran Din kalut.

“Kenapa Yuu-chan selalu bohong ketika akan memutuskan cewek itu?! Kapan??!! Aku sudah bosan menunggu Yuu-chan begitu!!”, seru cewek bernama Ayumi itu.

“Aku…’, Yuya tampak tak bisa menjawab.

Ayumi mencium bibir Yuya. Yuya kekasihnya.. atau ia pikir begitu. Air mata Din meleleh, melihat Yuya membalas ciuman itu, bahkan memeluk Ayumi.

Din keluar dari pinggir tembok itu, matanya kabur dengan air mata. Suara gesekan tubuh Din dengan pagar tanaman memberhrntikan aktifitas Yuya dan Ayumi.

Yuya kaget mendapati Din disitu, berdiri dengan mata terbelalak, menangis dan tampak kalut.

“Din…chan…”, panggil Yuya lirih.

Berlari lebih kencang, Din sudah bersama Yuya selama hampir tiga tahun. Yuya yang selalu ia percaya, Yuya yang seharusnya bersamanya di hari ini, di bertambahnya usia Din menjadi dewasa, Yuya mencium wanita lain.

Tangan Yuya menahan lengan Din, “Dinchan…”

Dengan gerakan kasar Din melepaskan lengan Yuya, “Tak ada yang perlu aku dengarkan!!”

Din berlari menjauh, meninggalkan Yuya.

-Flashback end-

“Din?”, panggil Keito pelan.

Din menatap Keito, matanya yang basah dengan air mata tak bisa melihat Keito dnegan jelas, namun ia tahu itu Keito.

“Keito…”

“Kau kenapa?”, tanya Keito.

Din berdiri, memeluk tubuh Keito dan menangis sekeras – kerasnya.

Saifu yang heran melihat Keito di peluk orang yang tidak ia kenal menghampiri Keito dan Din.

“Keito-kun…”

“Gomen Fu-chan… aku harus pergi!!”, kata Keito menarik Din bersamanya, meninggalkan Saifu.

“Berhenti minum Din!!”, pinta Keito yang menemani Din di kedai minuman pinggir jalan karena Din benar – benar tak ingin pulang.

“Biarkan aku!!”, kata Din mengambil gelas yang Keito jauhkan.

Bau menyengat dari alkohol keluar dari mulut Din.

“Ayo pulang!!”, pinta Keito lagi sambil menarik tubuh Din yang sudah sempoyongan. Padahal baru minum beberapa gelas. Din yang baru menginjak umur dua puluh hari itu belum terbiasa dengan alkohol.

“Hidup Keito!!”, teriak Din yang mabuk sepenuhnya, dan kini berada di gendongan Keito.

“Merepotkan…”, kata Keito namun dadanya berdegup kencang karena kenyataan Din memeluknya sekarang ini.

Keito merebahkan tubuh Din di sofa. Keito menyerahkan segelas air hangat pada Din. Ia sudah biasa menangani ibunya yang mabuk, sehingga sedikitnya ia tahu apa yang harus ia lakukan.

“Hmmm..”, Din tak bergeming, menjauhkan tangan Keito yang terulur, “Uruseee~”, kata Din lalu tubuhnya melunglai.

Duduk di sebelah Din, Keito yang tak tahu apa yang terjadi pada Din masih mencoba membuat Din meminum air hangat itu.

“Aku salah apa?”, tanya Din pada dirinya sendiri, merebahkan kepalanya di bahu Keito.

Tak menjawab, Keito membiarkan Din menangis sesenggukan.

“Yuya jahaaatt!! Hiks… aku salah apa? Hah??!!”, oceh Din yang dalam keadaan mabuk.

Keito berfikir berarti Din sednag ada masalah dengan Yuya.

“Keito…”, panggil Din.

“Ya?”

“Chuuu~”, Din mengerucutkan bibirnya.

“Eh?”, Keito merasa dirinya tambah gugup, “Din… sadarlah…”

Din meraih wajah Keito, menempelkan bibirnya ke bibir Keito. Ia bisa merasakan alkohol dari mulut Din. Keito tak melepaskan ciuman itu, berusaha tak terbawa suasana, Keito mencoba melepaskan diri, namun Din kembali menempelkan bibirnya, kini Keito menyerah pada perasaannya, membalas ciuman Din, memanfaatkan keadaan Din yang mabuk.

Ciuman mereka menjadi lebih panas lagi lidah Keito yang halus itu menggelitik rongga mulut Din. Din menyelipkan lidahnya diantara bibir Keito dan menjilati setiap sudut mulutnya. Tangan Keito mulai menggerayangi tubuh Din. Dia menyelipkan tangannya kedalam pakaian Din. Menyentuh bagian tubuh Din sebanyak ia bisa menyentuhnya.

Ponsel Din bergetar, Din menatap ponsel itu dengan bingung, Keito merebutnya dan membaca LCD nya, “Yuya…”, gumam Keito. “Hufft…”, Keito menekan tombol Off dan melempar ponsel itu ke meja.

Sesaat Keito tersadar, “Dame da… ini terlalu jauh…”, pikir Keito mencoba menjauh.

”Aishiteru yo…”, bisik Din menarik kembali wajah Keito. “Tetaplah disampingku…”, kata Din lagi.

“Un…”, Keito mengalah pada nafsunya, menarik kaos Din dan melemparnya ke sudut ruangan.

“Samui…”, keluh Din.

Keito mengangkat tubuh Din dan membawanya ke kamar. Malam itu, Keito meyakinkan dirinya ternyata ia memang jatuh cinta pada Din, ia tahu ia terlalu memanfaatkan kesempatan ketika Din lengah, sedang terjatuh walaupun Keito tak tahu apa itu, Keito tak berusaha menanyakan pada Din, namun Keito tidak peduli.

Merasa sangat pusing, Din menyipitkan matanya karena terganggu dengan cahaya dari tirai yang baru saja dibuka.

“Dingin…”, gumam Din pada dirinya sendiri.

Din membalik tubuhnya, mendapati sosok lain di sebelahnya.

“Yuya?”, pikir Din namun segera ia hilangka pikiran itu mengingat kemarin ia justru bertengkar dengan Yuya.

Sosok di sebelahnya itu memunggunginya, sehingga Din hanya bisa memandangi punggungnya yang tegap. Seketika sosok itu berbalik.

“EHHHHH?!!”, Din melirik dirinya yang tanpa busana. Kaget setengah mati karena ternyata itu Keito.

‘Apa ini?? Ada apa ini??’, Din mencoba mengingat kejadian semalam, ia ingat ia mabuk, dan mencium Keito karena masih terlalu emosi.

Keito mengerjapkan matanya, Din seketika menutupi dirinya dengan selimut yang ia bagi berdua dengan Keito.

“Ohayou~ Neechan…”, panggil Keito lalu menarik selimut Din.

“Chotto!!! Ini?? Apa ini???”, seru Din kaget.

“Semalam yang bilang aishiteru siapa ya?”

Din kalut, “Apa? Aishiteru?? Apa maksudmu???!! Chotto….”, Din duduk, teringat akan ucapannya kemarin.

“Aishiteru… mo… neechan..”, kata Keito lalu menjulurkan lidahnya, “Aku berhenti memanggilmu nenek cerewet… kau sekarang pacarku…”, katanya lagi lalu beranjak dari kamar Din.

“EEEEHHHH????!!”

Mencoba mendinginkan kepalanya, Din duduk di kafetaria.

“Hey!! Kusut sekali…”, sapa Opi, sahabatnya yang kini duduk di sebelahnya.

“Maaa~ aku mabuk…”, keluh Din sambil kembali meneguk minuman dingin yang ia beli.

“Syndrome dua puluh ya? Hahahaha..”, katanya sambil meletakkan nampan yang ia bawa.

“Hmmm…Opichi…”

“Ya?”

Din diam, mencoba memilih mana yang harus ia ceritakan lebih dulu.

“Bagaimana semalam? Aku membiarkan kau bersama Takaki, jadi aku tak mau mengganggumu…”

“Hiyaaaa~”, Din menceritakan semuanya pada Opi.

“HAH??! Takaki selingkuh? Kau tidur dengan bocah??!!”, mata Opi terbelalak, “Sebentar…”, Opi tampak shock bahkan tampak tak mampu menelan makanannya.

“Dou shiyoooo??”, keluh Din.

“Kau mau bagaimana dengan Takaki?”, tanya Opi.

“Entah… terlalu bingung. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi pun aku tak tahu…”, kata Din lagi.

“Mungkin lebih baik jika kau bicarakan semuanya…dan bocah itu…”, Opi melihat ekspresi Din yang berubah malu, “Hahahaha~ muri!! Kalau aku jadi kau.. aku tak akan pernah mau dengannya..”

“Opichi…”

“Dia tiga tahun lebih muda… hiyaaa~”, seru Opi kembali terbahak.

“Yamete!!! Jangan tertawa begitu!!”, kata Din lagi.

“Hanya… jangan sampai kau menyakitinya…”, kata Opi lagi.

Din mengangguk pelan.

Tak seperti biasanya, Din mengendap – endap masuk apartemennya, berharap tidak bertemu Keito. Din sebenarnya suka juga pada Keito, tapi ia masih dalam ekadaan bingung dengan Yuya. Status hubungannya dengan Yuya masih sangat membingungkan baginya.

“Okaeri…”, Keito duduk di sofa seperti biasa.

Din terdiam. Tak menyangka Keito sudah pulang. Keito tersenyum bahagia melihat Din pulang.

“Hehe..”, kata Din tersenyum canggung.

“Ano ne…. sudah makan?”, tanya Keito.

“Hmmm~ sudah… tadi kan aku baito…”, jawab Din yang masih berdiri di depan pintu.

“Kau kenapa?”, tanya Keito lagi.

“Hmmm… tidak apa – apa… tidak ada apa – apa…”, jawab Din gugup.

Ponselnya berbunyi, Din tahu itu pasti Yuya. Entah berapa banyak pesan dan telepon dari Yuya sejak kemarin, namun Din tak membalas atau mengangkatnya. Din membiarkannya, menuju dapur dan mengambil minuman dingin di kulkas.

“Nee~ kau serius kan?”, Keito secara tiba – tiba sudah memeluk Din dari belakang.

“Hah?”, Din hampir tersedak, “Maksudmu…”

“Anooo….”, Keito membalik tubuh Din menghadapnya, “Din no koto… sukida!!!”, seru Keito lalu memeluk Din.

“Keito…”, panggil Din lirih.

Sudah sebulan sejak kejadian itu, Din memtuskan untuk berpisah dengan Yuya, dan yang lebih aneh kini Din berpacaran dengan Keito. Bukan hal buruk bagi Din, tapi sebenarnya Din masih bingung dengan perasaannya sendiri, namun Keito tak tahu.

“Keito-kun…”, panggil Saifu.

“Ya?”, kata Keito yang sibuk dengan ponselnya.

“Akhir – akhir ini Keito-kun terlihat sibuk….”, kata Saifu yang memang duduk di bangku sebelah Keito.

“Maa~ begitulah…”

“Nande? Soshite… cewek yang memeluk Keito-kun….”, Saifu menggantung kalimatnya, berharap mendapat jawaban dari Keito.

“Pacarku…”, senyum Keito mengembang.

“Eh??!!”, Saifu kaget, “Aku ke toilet dulu…”, Air mata Saifu meleleh. Ia sudah memendam perasaan pada Keito sejak mereka masuk di kelas yang sama saat kelas satu. Saifu tak pernah menyangka ternyata Keito sudah punya pacar sekarang. Keito yang susah payah ia dekati, hingga mereka menjadi sahabat.

Saifu terisak hebat di dalam kamar mandi, mencoba menghapus sakit hatinya dan kenyataan bahwa kesempatannya mendekati Keito hilang sama sekali. Ternyata Keito memang hanya melihatnya sebagai teman saja.

Saifu penasaran dengan pacar Keito hingga ia mengikuti Keito sore ini sepulang sekolah. Karena Keito bilang ia ada janji dengan pacarnya.

“Hei!! Maaf lama…”, kata Keito melambai pada Din yang menunggunya di depan stasiun.

“Maa~ daijoubu yo…”, jawab Din tersenyum.

Keito menggandeng tangan Din tanpa canggung. Walaupun Keito memakai seragam sekolahnya, Din merasa Keito memang dewasa baik dari penampilan maupun sikap. Sehingga Din tak merasa ada perbedaan umur di antara mereka.

Restaurant siap saji itu cukup lengang sore ini. Din memutuskan untuk mengajak Keito ke tempat itu. Tempat biasanya ia bersama Yuya.

“Bagaimana sekolahmu?”, tanya Din ketika mereka sudah duduk setelah mengambil makanan.

Keito tanpa enggan menjawab, “Din…. Kau seperti ibuku saja… aku benci Din menanyakan hal itu..”

“Eh? Nande?”

“Karena ternyata aku masih SMA… dan belum bisa membahagiakanmu?”, jawab Keito.

Din terdiam.

“Maa~ sebentar lagi aku lulus dan aku akan bekerja…”

“Chotto.. apa maksudmu?”, bentak Din pelan.

“Hah?”

“Kau harus kuliah… bukankah itu yang kau inginkan?”, tanya Din.

Keito tampak diam dan berfikir, “Tapi Dinchan…aku…”

“Aku tak mau kau mengorbankan pendidikanmu demi aku…lagipula aku juga kan bekerja..jadi..”

“Tapi…”, potong Keito cepat, “Seperti hari ini… bahkan aku tak bisa mengajak Dinchan ke restaurant yang mahal, bahkan aku kadang harus dibayari oleh Dinchan karena aku amsih sekolah…aku..”

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Keito.

“BAKA!! Aku tak tahan jika kau terus begini!!”, kata Din lalu beranjak meninggalkan Keito.

Keadaan apartemen kecil itu kurang menyenangkan. Din menolak berbicara pada Keito.

“Dinchan…”, Keito di luar kamar Din yang terkunci, mengetuk pintu itu berkali – kali.

Din tak bergeming, membiarkan pintu itu berbunyi.

“Dinchan… kumohon… aku salah… maafkan aku…”, kata Keito lirih.

“Baka…. Aku marah padamu..”, kata Din dari dalam kamar.

“Makanya aku minta maaf…”, kata Keito lagi.

Din bermaksud menuju pintu ketika ponselnya berbunyi, e-mail masuk dan ternyata dari Yuya.

Sender : oujisama_yuu@mail.com
Subject : hime~
Gomen aku mengganggu…
Ada yang ingin ku bicarakan..dan ini penting…
Aku menunggumu di bawah.
-yuya-

“Eh? Dia di bawah?”, gumam Din pada diri sendiri.

“Dinchan…”, suara Keito kembali terdengar.

Din beranjak mengambil mantelnya, saat membuka pintu, Keito terlihat lega karena Din mau keluar dari kamarnya.

“Ano..gomen..aku harus pergi.”, pamit Din tanpa membiarkan Keito bereaksi terlebih dahulu.

“Gomen… aku mengganggumu…”, kata Yuya ketika Din menemuinya di bawah.

“Iiya… ada apa?”, Din menunduk. Terakhir kali ia bertemu Yuya adalah saat ia melihat Yuya dengan Ayumi.

Din tak pernah mau bertemu hingga putus pun Din melakukannya lewat e-mail.

“Maa.. apa kabar?”, tanya Yuya sedikit canggung.

Selama tiga tahun mereka pacaran, dan lebih dari lima tahun berteman, tak pernah Yuya merasa se-canggung ini dengan Din.

“Hmm.. baik… kau?”, jawab Din pelan.

Yuya melirik Din, “Aku baik – baik saja…”, Yuya sedikit terdiam, “Aku putus juga dengan Ayumi…”, jelas Yuya sangat pelan.

“Hmmmm~ “, Din sangat enggan membicarakan hal itu.

“Ano… Hime…”, kata itu sampai sebulan yang lalu masih sangat Din sukai, tapi tidak sekarang, “Iiya… Din…maafkan aku soal semuanya… aku yang salah… dan aku tahu harusnya sangat bodoh aku masih mengharap kau mau memaafkan aku…tapi… semua salah paham..”, jelas Yuya yang kini terdengar sangat sedih.

“Maksudmu?”, Din mau tak mau ingin juga mendengar penjelasan Yuya.

“Ayumi adalah calon istri yang orang tua ku inginkan. Kau tahu bagaimana orang tua ku kan? Yah, aku sudah mencoba menjelaskan pada Ayumi kalau aku sudah punya pacar, namun ia ngotot ingin..”

“Masalahnya Yuya…. Kau tak berani mengambil keputusan untuk bersamaku… maka… aku juga tak bisa bersamamu…”

“Din…”, Yuya menahan tangan Din, “Aku hanya….”, Yuya merasa tak mendapat jawaban yang ingin ia katakana.

“Itu hanya alasanmu Yuya…”, elak Din lagi.

“Mungkin ini memang hanya alasanku… tapi Din…kau sungguh sudah melupakan aku?”, tanya Yuya lagi.

“Menurutmu? Apa yang kita punya selama tiga tahun hanya main – main?”, Din malah bertanya balik.

Yuya tak mampu menjawab hal itu.

Diam

Hening

Kali ini Yuya hanya bisa menggenggam tangan Din.

“Tapi Din…”

“Aku tak tahu bagaimana kita akan berakhir… tapi yang jelas, untuk saat ini aku tak bisa bersamamu…”, kata Din yang kini melepaskan genggaman Yuya.

“Aku akan pergi….”, seru Yuya.

Berhasil membuat Din berhenti.

“Aku akan pergi sampai aku bisa kembali dengan bagga padamu…”, seru Yuya lagi.

Din hanya diam tak berani menatap Yuya.

“Kalau begitu… semoga berhasil!! Aku…aku…”, Din berbalik menatap mata Yuya, “Aku tak bisa menunggumu… tapi… aku juga akan berjuang disini… kalau memang kita harus bersama… mungkin saat kau kembali aku akan bersamamu…”, Din tersenyum, memberikan sneyum terbaiknya pada Yuya.

“Wakatta… kau harus bahagia!!!”, seru Yuya.

Din mengangguk, “Kau juga!! Ganbatte ne!!”.

Berlari meninggalkan pria yang selama tiga tahun ini mengisi kehidupannya memang sangat sulit. Terlebih buat Din, Yuya adalah cinta pertamanya. Din tak pernah tahu masa depannya, ia juga tak mau berandai – andai soal itu, tapi ia tahu Keito menunggunya saat ini.

Keito duduk di sofa ruang tengah itu saat Din kembali.

“Tadaima…”, kata Din.

“Hmmm… kau dari mana?”, tanya Keito dingin.

“Hmmm… Yuya ingin bertemu untuk berpamitan…”, jelas Din.

Keito beranjak, dan secara tiba – tiba memeluk Din, seakan tak rela gadisnya bertemu dengan pria lain.

“Dia pergi?”, tanya Keito.

Din mengangguk dalam pelukan Keito.

“Yokatta….”, kata Keito lagi, memeluk Din lebih erat.

“Chotto… Keito.. kau bisa membunuhku…”, Din menggeliat mencoba melepaskan pelukan Keito.

“Hehehe~ aku senang sekali…”, Keito tersenyum.

“Apa yang bagus? Bocah aneh!!”, seru Din.

Keito terlihat pura – pura gusar, “Sudah kubilang aku bukan bocah… kau kan yang membuatku tak bocah lag..”

“KYAAAAA!!! Stop!!! Jangan bicarakan itu lagi!!!”, seru Din heboh, menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.

Keito mengejar Din yang menjauh dari hadapannya.

“Din…jangan tinggalkan aku…”, Keito kembali memeluk Din kini dari belakang, menyentuhkan kepalanya ke kepala Din.

“Hmmm~”, jawab Din singkat yang bahkan Din sendiri tak tahu jawabannya.

Saifu berjalan cepat menuju depan sekolah. Ia tahu kalau Din sedang menunggu Keito di depan sekolah, ia tahu karena Keito bilang begitu. Setelah melihatnya bersama Keito, Saifu tak ingin kalah dari cewek yang lebih tua dari Keito itu.

Akhrnya Saifu melihatnya, Saifu pun menghampirinya.

“Kau!!”, teriak Saifu.

“Ya?”, Din yang duduk kini berdiri melihat Saifu, “Ada apa ya?”, ujar Din bingung.

“Saifu Suzuki desu… aku… aku…”

“Ya?”, dahi Din berkerut.

“Aku tak akan kalah darimu!!! Lihat saja!!”, Saifu menjulurkan lidahnya.

“Kalah? Apa?”, tanya Din bingung.

“Kau pacarnya Keito kan? Iya kan? Aku tak akan menyerah… Keito-kun akan kurebut!!!”, serunya lagi.

Din tersenyum ketika melihat Saifu pergi dari hadapannya. Ia baru kali ini diajak bertanding oleh anak SMA. Soal pria pula. Rasanya ingin tertawa, namun Din hanya tersenyum pada sosok Saifu yang menjauh.

“Hufftt~”, Saifu menenangkan dirinya setelah ia meledak tadi di hadapan Din. Iya, dia tak mau kalah pada Din, Saifu meyakinkan dirinya.

“Maaf aku telat!!”, kata Keito menghampiri Din.

“Daijoubu… Keito populer ya…”, kata Din saat Ia dan Keito menyusuri jalan pulang.

“Hah? Maksudmu?”

“Tadi saja ada yang mengajakku untuk berduel mendapatkan Keito…hehehe..”, kata Din tertawa.

“Eh? Siapa?”

“Aku tak akan memberi tahumu… ini rahasia para gadis tau!!”, seru Din lagi.

“Daijoubu yo~ aku tetap akan bersama Dinchan…”, kata Keito mepererat pegangannya pada Din.

Terdiam, Din tak sanggup menjawab Keito. Bagi Din, Keito memang sangat baik, tapi Din juga sama sekali tak mau merusak masa depan Keito apalagi Keito bilang ia ingin bekerja saja, membuat Din khawatir.

“Dinchan…”, panggil Keito pelan.

“Hmmm?”

“Hmmm… soal aku kerja….aku…”

“Tolong jangan bahas itu dulu Keito…”, tolak Din kemudian menunduk pelan.

Opichi calling~

Din yang sedang merebahkan kepalanya di kasur kaget karena telepon masuk, dan segera ia angkat.

“Moshi mosh~”, angkat Din.

“Din…. Ada berita baik!!”, seru Opi sedikit terdengar terlalu excited.

“Ya?”, Din terduduk sepenuhnya, “Ada apa?”.

“Aku lihat di website universitas!! Kau masuk kandidat beasiswa ke luar negeri!!”, seru Opi senang.

“HAAAHH??”, Din ingat beberapa bulan lalu ia mengajukan beasiswa itu.

“Memang belum diberitahukan kepada mahasiswa bersangkutan, karena besok sepertinya baru akan diberi tahukan!! KYAAAA~”, seru Opi lagi.

“Kyaaaa!!!! Arigatou Opichi….”

“Iiiya… aku lagi iseng browsing aja…aku tahu kau pasti lupa akan beasiswa ini. Tapi, tes wawancara dilakukan dua minggu lagi… Ganbatte ne Dinchan!!! Aku akan menyusul kalau kau duluan ke luar…”, seru Opi.

Setelah telepon di tutup, Din seakan tak menyangka kalau ia menjadi salah satu kandidat. Hatinya berdebar apakah ia akan berangkat atau tidak? Din keluar dari kamar, mendapati Keito yang sedang bersantai di depan TV.

“Ada apa sih? Heboh banget~”, seru Keito lalu menarik Din ke pelukannya sehingga Din sekarang bersandar pada Keito.

“Hmm… aku jadi kandidat beasiswa ke luar negeri..”, jawab Din.

“Eh?”, Keito tampak kaget, apalagi mendengar kata luar negeri, membuatnya sedikit takut kehilangan Din.

“Iya… wawancaranya dua minggu lagi…”, ujar Din masih berseri – seri.

“Hmmm.. kemana?”, tanya Keito.

“Entah… universitas yang akan menentukan nanti, kuharap di Eropa…”, kata Din lagi.

Hati kecil Keito ingin Din tetap disini, tapi ini juga kan untuk masa depan Din? Keito mempererat pelukannya pada Din.

“Ganbatte~”, bisik Keito pelan.

Setelah wawancara, Din menunggu pengumuman yang akan diberi tahukan lewat telepon menurut pihak Universitas. Din merasa senang karena setidaknya ia selangkah lebih dekat dengan impiannya.

“Eh…chotto..ponselku berbunyi…”, kata Din melepaskan diri dari Keito.

Din mengangkat telepon itu sementara Keito menunggu Din kembali.

“Hiyaaaa~ aku berangkaaaatt!!”, teriak Din girang.

Keito tak tahu harus berkata apa, entah perasaan senang atau sedih yang ia rasakan sekarang.

“Kenapa Keito?”, Din emnyadari juga Keito tampak lesu sejak tadi.

“Omedetou~”

“Hmmm….”, yang tak ia sadari, ia akan berpisah dengan Keito.

Persiapan keberangkatan Din bertepatan dengan ujian masuk Universitas bagi Keito. Praktis keduanya jarang bertemu, Din sudah berhenti bekerja untuk mempersiapkan keberangkatannya. Tekadnya sudah bulat, dan ia juga tak mau menyia – nyiakan kesempatan ini.

Din menatap kalender yang ada di ruangan kamarnya.

1 April.

Seminggu lagi.

Kenapa harus tanggal itu?

Kenapa harus hari itu?

Din melepaskan nafas berat.

“Tadaima…”, suara Keito terdengar di pitu depan.

“Okaeri…”, Din keluar dari kamarnya, sudah beberapa hari ini Keito pulang malam.

Tak seperti biasa, Keito terlihat lebih murung daripada biasanya.

“Bukannya ujiannya sudah selesai?”, tanya Din.

“Hmmm~ begitulah…”, jawab keito sekenanya.

Keito beranjak ke dapur setelah menyimpan tas nya. Din menunggu Keito datang mengambil minum.

“Ada apa?”, tanya Keito yang melihat Din duduk di sofa yang sejak hari ia datang menjadi tempatnya tidur.

“Kenapa kau begitu murung? Hey! Bocah!!”, seru Din sambil mengacak rambut Keito pelan.

Keito menepis tangan Din, “Dengar..”, Keito menyentuh bahu Din dengan kedua lengannya, “Aku akan menunggumu….”

Din melepaskan genggaman Keito di bahunya, memeluk laki – laki yang selama beberapa bulan ini mengisi kehidupannya.

“Jangan Keito….”, kata Din lirih.

“Nande?”

“Aku tak mau kau menunggu sesuatu yang belum pasti dan tak bisa aku janjikan…”, kata Din lagi.

Keito terdiam, tak mampu menjawab apa yang Din katakan.

Din duduk di tempat yang sama ketika terakhir kali ia menunggu Keito di depan sekolahnya. Tak sampai dua jam lagi Din akan berangkat untuk studi di negeri lain. Din menatap gerbang itu sambil tersenyum ketika melihat Keito keluar dari situ dengan seorang gadis.

Gadis yang waktu itu mengajaknya bertarung memperebutkan Keito.

“Hey bocah!! Kau bahkan tak mau mengantarku ke bandara?”, tanya Din.

Keito tampak enggan melirik pada Din, ia benar – benar takut akan mengeluarkan air matanya.

Saifu terlihat sedikit bingung, namun berusaha tak ikut campur.

“Kore~”, Din menyerahkan bungkusan berbentuk kado, “Otanjoubi omedetou ne~”, kata Din sambil tersenyum.

Keito mengambil bungkusan itu, “Arigatou…”

“Jya~ aku harus pergi sekarang…. Ingat bocah!! Kuliah yang benar!!”, seru Din lagi.

“Dinchan…”, panggil Keito.

“Ya?”

“Ima made… Dinchan no koto…”

“Wakatta~”, Din menyentuh tangan Keito sekilas, “watashi mo….”, jawab Din seakan tahu apa yang akan Keito katakan.

Din menoleh pada Saifu yang masih berdiri disitu, “Ne…. kau bisa menang sekarang….”, katanya lalu tersenyum pada Saifu.

“Eh?”, Saifu sedikit bingung.

“Jya!! Sayonara!!!”, Din berlari meninggalkan Keito.

Ia tak mau mengakui matanya kini basah juga oleh air mata. Keputusannya ini menyakiti dirinya juga, menyakiti Keito. Namun Din tahu memang seharusnya ia memberi keadaan yang lebih baik pada Keito. Ia tak tahu bagaimana jadinya nanti, ia tak tahu akan kemana hidupnya akan membawanya lagi.

Seluruh hidupnya bagaikan puzzle yang belum terselesaikan, ia tak akan menyerah, ia tahu Keito juga, Yuya juga, seiring langkahnya yang semakin mantap, Din menghapus air matanya.

“Daijoubu~”, ujar Din pelan.

Sementara itu Keito membuka bungkusan yang Din tinggalkan tadi. Hanya sebuah frame kosong tanpa foto apapun, tertulis disitu…

“Thanks to everything~ I was be able with you is my precious time….you’re the best birthday present I ever had..^^”

Keito berbisik lirih pada dirinya sendiri, “You too~”

~OWARI~

Hahahahahaha…
Sungguh fic yang sangat gaje!!! LOL
Sudahlah..comments are love….
Mini chapter loh..sudah tamat…wakakakakak~

Advertisements

3 thoughts on “[Minichapter] With You (chap 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s