[Minichapter] With You (chapter 1)

Title : With You~
Type : Mini Chapter
Chapter : One
Author : Dinchan Tegoshi
Genre : Romance *again~ YEAH!! :P*
Ratting : PG
Fandom : JE
Starring : Keito Okamoto (HSJ), Din Ikuta (OC), Yuya Takaki (HSJ), seliwat2 orang laen.xP
Disclaimer : I don’t own all character here. Keito Okamoto and Yuya Takaki is belong to JE, Din is totally OC. But Din is a little bit similar with me..LOL. Saia anggap ini sebagai hadiah ulang tahun bagi diri saia sendiri..jadi maaf pake nama sendiri… tapi saia tergila – gila pada Keito Okamoto akhir – akhir ini… jadi jangan protes please…hahahaha…

=WITH YOU=
Chapter 1


Din merepet tubuhnya ke sandaran sofa. Yuya belum mau berhenti menciumnya.

“Yuya…”, kata Din di sela ciuman Yuya yang kini beralih ke leher, “Yuu…stop…”, pinta Din pelan.

Yuya berhenti, memandangi kekasihnya yang kini sedikit tersengal.

“Nande?”, tanya Yuya.

“Aku belum siap…”, kata Din lagi.

Yuya kembali harus mengalah. Namun Yuya selalu menerima Din dengan segala alasannya. Yuya tak ingin memaksa. Beranjak dari sofa, Yuya mengambil dua gelas air, menyodorkannya satu pada Din.

“Gomen na…”, kata Din tampak merasa bersalah.

“Apa yang maaf?? Aku tak apa – apa Dinchan..”, kata Yuya lalu mengecup pelan dahi Din. “Aishiteru dakara, matteru yo…”, kata Yuya lagi.

Din memeluk Yuya erat. Ia begitu beruntung memiliki Yuya. Sudah sejak tiga tahun lalu mereka bersama. Sejak SMA, dan tak pernah Yuya memaksanya.

“Aku antar pulang ya..”, kata Yuya lalu bersiap memakai jaketnya.

Din mengagguk dan mengikuti Yuya keluar apartemennya. Menuju apartemennya. Tak jauh sebenarnya, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Mereka selalu menikmati jalan berdua bergandengan tangan. Din menolak untuk tinggal bersama Yuya, walaupun dekat, tapi Din lebih memilih untuk tinggal sendirian saja.

“Baiklah Tuan Putri… sudah sampai…”, kata Yuya lalu mengecup pelan bibir Din.

“Hati – hati di jalan Ouji-sama!!”, seru Din melambaikan tangannya pada Yuya.

Saat masuk ke apartemennya, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Pintu apartemennya terbuka.

Dengan sedikit hati – hati Din membuka pintu, dan mendapati Ayahnya duduk disitu. Tidak sendiri, tapi dengan dua orang lainnya.

“Otou-chan?”, seru Din kaget.

Ayahnya memang punya kunci cadangannya.

“Duduk Dinchan…”, perintah Ayahnya cepat.

Seorang pria muda, dengan wanita paruh baya duduk di sebelah Ayahnya.

“Apa?”

“Kenalkan dulu. Ini Keiko Okamoto dan ini anaknya, Keito Okamoto.”

“Ikuta Din… yoroshiku..”, Din sedikit mengangguk pada orang yang asing itu.

“Keiko-san adalah partner bisnis Ayah.. dan kami akan melakukan perjalanan panjang ke luar negeri.”

“Lalu?”, Din masih tak mengerti apa yang dimaksud Ayahnya.

“Keito sekarang sudah kelas tiga SMA, dan tak mungkin ia ikut kami, lagipula Keiko-san berniat menjual rumahnya sebelum pergi.”

“Lalu? Apa maksudnya semua ini?”

“Ia akan tinggal denganmu…”

“HAAAAHHHH??!!”

—————–
“Baiklah… Keito..siapapun namamu… aku tak mau ada sampah, tak mau kau berisik, tempatmu di ruang tengah ini. Dilarang keras masuk ke kamarku!! Mengerti?”, kata Din setengah berteriak ketika Ayah dan Keiko-san sudah pergi.

“Gak usah bawel… aku juga gak berniat mendekatimu.”

Din mendengus kesal. Untuk ukuran anak kelas 3 SMA memang ia cukup tampan. Dengan tinggi dan badan yang pas, sudah tentu ia idola di sekolahnya. Tapi buat Din tentu saja anak ini hanya anak ingusan yang seharusnya bisa tinggal sendiri.

“Kau!! Kenapa gak tinggal sendiri aja??!!”, kata Din ketus.

“Tanya pada ibuku… aku juga tak mau tinggal dengan cewek berisik yang kerjanya marah – marah dan tidak menarik sepertimu… tapi aku tak punya pilihan, dan tak punya uang.”, jelasnya.

‘UUURRGHH!! Menyebalkan sekali dia..’, batin Din.

“Jangan berbicara padaku!!”, seru Din lagi.

“Siapa yang bertanya duluan ya?”

“Aaaarrrgghh!!”, Din mengepalkan tangannya dan masuk ke kamarnya dengan kesal.

Jika kesal begini, hanya satu yang bisa Din pikirkan, mendial nomor Yuya dengan cepat.

“Ya hime-sama… ada apa?”, tanya Yuya di seberang.

“Yuu…aku kesaaaalll!!”, Din pun menceritakan segalanya.

“Aku cemburu…”, kata Yuya ketika Din selesai bercerita.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Ia bisa tinggal denganmu Dinchan… aku saja tak bisa…”, kata Yuya setengah tertawa.

“Yuuuuu!,”

“Iya…aku bercanda… sudahlah… asal dia tidak mengganggumu, maka biarkan saja… kau bisa tinggal di tempatku kapan saja. Ok?”, kata Yuya akhirnya.

“Iya… arigatou na.. ouji-sama..”, panggilan sayang Din pada Yuya.

“Ya… kau harus tidur… besok kuliah pagi kan? Aku jemput ya…”

“Un!!”

“Oyasumi hime-sama…”

Din sedikit tenang dan bisa tertidur lelap malam ini dengan mengunci rapat kamar tidurnya.

—————-
Din merasa ada yang berbunyi, ternyata ponselnya berbunyi sejak tadi.

“Hime-sama? Kau baru bangun ya?”, tuduh suara diseberang.

“Ah!! Gomen… iya.. aku siap – siap sekarang…”, kata Din yang setengah tertidur itu.

Din melangkahkan kaki keluar kamar dengan mata setengah tertutup.

“Kok pintu kamar mandi dikunci?”, gumam Din pada diri sendiri.

Seketika pintu itu terbuka.

“KYAAAAA!!!”, Din mejauhkan diri dari sosok yang hanya pakai boxer itu.

Dia baru ingat bahwa dia sekarang tinggal bersama anak SMA kurang ajar yang kini berdiri di hadapannya hanya memakai boxer saja. Sial! Kenapa badannya begitu bagus? Din segera menghilangkan pikiran anehnya itu dan masuk ke kamar mandi tanpa menoleh lagi pada Keito.

“Heh! Ini sarapanmu…”, kata Din setengah kesal pada Keito dan memberikan setangkup roti isi coklat padanya.

Keito tak bergeming.

“Terserah mau kau makan atau tidak.. aku sudah telat.. jya!!”, kata Din sambil menggigit rotinya dan tergesa – gesa memakai sepatunya.

Din pergi dan mendapati Yuya berada di bawah.

“Ohayou…maaf aku telat..”

“Daijoubu… sebenarnya aku hanya ada satu mata kuliah.. itu juga siang nanti..”, jelas Yuya sambil menarik lengan Din dan menggandengnya.

“Eh?? Oujisama….”, Din tahu Yuya hanya ingin pergi bersamanya.

“Tak apa.. aku juga ada perlu di perpus kok..”, katanya sambil tersenyum pada Din.

“Eh?? Jadi tadi pagi kau kaget?”, tanya Yuya saat mereka sudah di dalam Bis yang menuju ke kampus mereka.

Din mengangguk, “Aku kesal sekali harus ada dia… hufft… aku tak mengerti kenapa Ayahku selalu membuat hal – hal aneh yang tidak bisa kupikirkan.. Sekarang ia pergi bersama wanita itu, dan meninggalkan anak laki – laki ingusan yang harusnya bisa tinggal sendiri..”, keluh Din.

Yuya hanya tersenyum simpul. “Bersabar lah dulu… dia sudah kelas tiga kan?? Sebentar lagi juga lulus..”, kata Yuya.

“Ya…dan dia akan pindah… semoga saja…”

“Dan mungkin kau mau tinggal denganku…”, kata Yuya lagi mempererat pegangannya pada Din.

“Hmmm… iya oujisama… hal itu masih kupikirkan… tapi aku belum yakin…”, jawab Din karena itu adalah ajakan yang kesekian kalinya dari Yuya.

Yuya tersenyum simpul, “Un… wakatta…matteru..”, kata Yuya lagi.

Din tahu, harusnya ia bisa saja tinggal bersama Yuya, tapi entah dia belum mau melakukan itu, ia masih bingung dengan semua hal ini.

“Kau pulang telat?”, tanya Yuya mengganti topik pembicaraan, karena dirasa Din menjadi canggung.

“Un… aku kan baito..”, jwab Din.

“Hmm.. baiklah… mau datang ke tempatku?”, tanya Yuya lagi.

“Mungkin..kalau aku tak kemalaman…”

Pekerjaan yang begitu melelahkan. Kalau bukan karena ingin membiayai kuliah dan hidupnya, ia sudah menyerah. Hingar bingar lampu klub masih membuat Din sedikit buta. Jadi waitress dengan baju minim dan beresiko tinggi di colek oleh pengunjung memang cukup melelahkan. Tapi bayarannya lumayan, dan Din juga bukan pelacur di situ, jadi ia cuek saja walaupun memang kadang banyak pelanggan yang berbuat kurang ajar.

Din membuka apron putihnya, keluar membawa sampah hari itu.

“Tsukaretaaa..”, gumam Din pada dirinya sendiri.

Menyandarkan tubuhnya ke tembok seakan bisa menghilangkan penatnya hari itu. Din memtuskan untuk tidak datang ke apartemen Yuya hari ini, karena sudah malam.

“Ouji-sama….”, kata Din sambil berjalan menuju ruang ganti pelayan.

“Hai?”, angkat Yuya di seberang.

“Yappari aku capek sekali… aku kayaknya gak ke apartemenmu…”, kata Din.

“Wakatta… tidur cepat hime-sama… aku jemput besok pagi…”

Din menutup ponselnya, mengganti pakaiannya dan berjalan keluar setelah pamit pada rekan kerjanya.

Tubuhnya sangat capek karena setelah kuliah seharian, dia harus bekerja juga malam hari ini, ditambah pelanggan hari ini banyak sekali. Din mencoba tetap terjaga selama perjalanannya di kereta, ia tak mau turun di stasiun yang salah.

“Eh? Are?”, Din merasa ia melihat Keito di hadapannya, sesaat setelah ia tiba di pintu keluar stasiun.

“Konbanwa nenek cerewet…”

Mata Din terbelalak, “Ngapain kau disini anak ingusan??!!”, seru Din kesal kenapa juga harus bertemu dia di depan stasiun seperti ini.

“Hujan…”, katanya memperlihatkan keadaan di luar stasiun.

Din sepertinya terlalu mengantuk hingga tak menyadari setelah ia naik kereta, keadaan di luar hujan.

“Lalu?”

“Kebetulan aku sedang membeli sesuatu di toko 24 jam dekat sini…”, katanya masih tanpa ekspresi.

“Dan?”

“Ayo pulang….”, katanya menunjuk ke payung yang ia pakai, “Aku hanya menemukan satu payung ini di apartemen… jadi berbagi saja…”, kata Keito lagi.

Din masih gengsi, tapi akhirnya menurut dan ikut dengan Keito, dibawah satu payung. Semalam ini dan ia malah berduaan dengan Keito, dan yang membuat Din tambah bingung, kenapa juga Keito harus menjemputnya? Walaupun ia bilang tak sengaja? Din menunduk, mencoba menghilangkan pikiran anehnya, dan hanya berjalan tanpa suara di sebelah Keito yang juga tanpa suara.

Setelah hampir seminggu, Din mulai terbiasa dengan keberadaan Keito walaupun jarang sekali mereka berbicara satu sama lain karena Din sibuk dengan baito nya, dan Keito juga kadang pulang malam, sehingga mereka praktis hanya bertemu pagi hari ketika Din dengan tergesa berangkat ke kampus, dan Keito yang baru bangun.

Hari minggu yang cerah. Din bangun lebih siang dari biasanya, Yuya juga tidak membangunkannya karena Yuya sedang pulang ke rumah orang tua nya.

“Himaaa~”, seru Din sambil keluar dari kamar, masih dengan piyama nya.

Senang sekali rasanya tak harus pergi kemanapun hari ini untuk Din, kecuali nanti malam untuk baito nya.

“Ohayou.. nenek cerewet….”, sapa Keito yang juga masih dengan setelan tidurnya, boxer dan kaos, menyalakan TV dengan cueknya.

“Hiyaaaa~ kenapa kau masih disini??!!”, teriak Din kaget.

“Kyou wa douyoubi da ne… ba~ ka~”, katanya sambil mengganti saluran TV.

“HAAAAHHH???!! Apa kau bilang???!!”.

“BA—KA—“, katanya lagi santai.

Din menghampiri Keito dan memukul kepala Keito dengan tangan kosong.

Tiba – tiba ponsel Keito berbunyi, karena tempat tidur Keito memang di sekitar ruang tengah itu. Keito melirik ponselnya dan mengangkatnya.

“Ya?”, Keito yang menopang kaki dan berlagak seperti orang dewasa, “Tidak bisa Fu…ya…nanti saja aku telepon lagi…”, putusnya lalu menutup flip ponselnya.

Din tersenyum jahil, “Hehehehe~ pacarmu ya??”, goda Din.

“Chigau….”, jawabnya asal.

“Bohong… pacarmu kan?? Lagi bertengkar??”, tanya Din lagi.

“Bukan!!”, sangkalnya lagi.

“Ah! Kau ini…”, Din beranjak dan menuju dapur mengambil susu untuk sarapannya, “Heh bocah ingusan!! Mau tidak?”, tanya Din.

Keito malah menghampiri Din, “Boleh… nenek cerewet!!”.

“Berhenti memanggil ku seperti itu!!”, protes Din.

“Berhenti juga memanggilku bocah ingusan!!”, balas Keito.

“Tapi kau memang bocah ingusan!!”, kata Din lagi.

“Kata siapa?”, Keito bergerak cepat menghampiri Din, menarik badan Din sehingga kini Din berada dalam dekapan Keito, “Ne? Neechan? Siapa bilang aku bocah ingusan?”, tanyanya masih memeluk tubuh Din.

Dalam keadaan shock, Din bahkan tak bisa menjawab apa yang Keito tanyakan itu. Setelah pulih dari shock nya, Din mendorong tubuh Keito menjauh, “Apa – apaan kau??!!”, teriak Din.

“Itu namanya pelukan bodoh!!”, jawab Keito lalu mengambil susu yang Din tuangkan tadi, dan dengan cuek kembali ke sofa.

Malam ini sungguh dingin. Din merapatkan tubuhnya ke tubuh Yuya yang kini ada di sebelahnya.

“Maaf ya… sebentar lagi pemanasnya berjalan lagi kok…”, katanya sambil memeluk Din.

“Hmmm… gak apa..”, jawab Din.

Pemanas ruangan Yuya sedang diperbaiki, dan akan selesai sebentar lagi.

Cuaca bulan Desember memang selalu membuat Din tak betah di luar, walaupun penuh salju yang Din sukai, tapi cuaca dingin itu tidak menyenangkan baginya.

Tak sampai setengah jam, pemanas itu berjalan sebagaimana mestinya, Din pun membuka jaketnya yang sejak tadi terus ia pakai.

“Bagaimana kemarin?”, tanya Din setelah kembali duduk di sebelah Yuya.

“Orang tua ku?”, Kata Yuya kembali merangkul Din, Din mengagguk. “Seperti biasa… mereka tak banyak berubah…”, jelas Yuya.

“Hmmm…”

“Aku masih ingin kau tinggal bersamaku Dinchan…”, kata Yuya lagi.

“Yuya….”

“Aku tahu kau ingin memikirkannya lagi, tapi… se sulit itukah memutuskan untuk tinggal bersamaku?”, tanya Yuya terdengar sedikit kesal.

Din terdiam, sebenarnya tak heran Yuya marah, karena jaawaban ini sudah ia inginkan sejak merek baru saja kuliah, hingga saat ini Din belum memberikan jawaban pasti akan hal ini.

“Yuya….”

“Sudahlah….”, Yuya beranjak, “Ayo… aku harus baito…”, katanya.

“Eh? Baito apa?”

“Aku mulai di toko 24 jam, hari ini… aku berfikir untuk mengumpulkan uang lebih banyak…”, katanya lalu memakai jaketnya.

“Sou..”, Din heran karena Yuya biasanya menceritakan apapun pada Din, tapi sekarang ia bahkan tak tahu kalau Yuya sudah bekerja di toko 24 jam.

Pulang ke apartemennya, Din sedikit aneh karena sudah pulang jam segini, biasanya ia akan di rumah Yuya hingga hampir tengah malam.

“Tadaima~”, kata Din sampai di apartemennya.

Sejak Keito tinggal disitu, ia terbiasa bilang ‘Tadaima’ karena menyadari ada orang lain di rumah itu. Tapi tak ada jawaban, selain itu keadaan ruangan itu juga masih gelap. Padahal sudah hampir pukul sembilan.

“Ahhh~ tsumaranai…”, kata Din sambil hanya memindahkan channel TV dari satu channel ke channel lain.

Keito belum pulang, Din akhirnya membuat pop corn dan nonton DVD hingga ia tertidur di sofa itu.

Keito mendapati tempatnya biasa tidur sudah di tempati oleh Din, dengan posisi kepala miring dan pop corn yang berantakan malah mebuat Keito lucu melihatnya. Keito baru saja pulang dari tempat lesnya.

Tak berani membangunkan gadis itu, Keito duduk di bawah sofa dan memutar kembali DVD yang sejak tadi sudah dalam keadaan stand by. Keito melirik lagi Din yang tertidur pulas di bantalnya, sejenak menelan ludah melihat wajah Din yang sama sekali tanpa penjagaan.

Tanpa sadar, Keito sudah menyentuhkan bibirnya pada Din yang masih tertidur.

“Hmmm..’, gumam Din membuat Keito menjauh dan beranjak mengambil selimutnya, menyelimuti tubuh Din.

“Baka~”, gumam Keito pada dirinya sendiri yang kini berdiri di meja dapur, merasa bodoh karena mencium cewek yang selama ini jadi roomate nya.

Keito minum air sebanyak – banyaknya, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tak bisa berhenti dan menjadi tenang, “Masaka~ aku jatuh cinta pada nenek cerewet itu?”, gumam Keito.

—————————————
TBC~
Saia jadiin mini chapter karena ternyata~
Sepanjang jalan kenangaaaaannn~ *curcol*
puyeng bacanya kalo kebanyakan…
as usual… COMMENTS ARE LOVE MINNA~
Keito daichuki!!! *diseret Tego*
LOL


you catched me~ LOL

Advertisements

3 thoughts on “[Minichapter] With You (chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s