[Oneshot] We Are (Side story of Married by Accident)

Title : We Are… (Married by Accident side story)
Type : Oneshot only
Author : Dinchan Tegoshi
Genre : Romance *apa lagi yang saia bisa??LOL*
Ratting : PG nyerempet NC-17 hahaha
Fandom : JE
Starring :all HSB Member, PyPy chan, Saifu Suzuki, Dinchan, Opichi.
Disclaimer : I don’t own all character here. HSB is belong to JE. the rest is Original Character… It’s the other side of them… 😛 read it happily, I love to write NC these days… so, enjoy the story.. comments are LOVE

WE ARE…

-Yabu’s side-

Siang ini aku tak pulang dengan keempat temanku. Menolak juga di jemput oleh supir pribadiku. Aku sedang malas setengah mati. Sekolah itu menyebalkan, sebagaimanapun kami diperlakukan istimewa karena kami memang pemilik seluruh asset sekolah itu, tetap saja rasanya membosankan.

Aku menendang – nendang kerikil kecil di hadapanku, praktis diriku ini tak pernah jalan sendirian. Keempat temanku selalu bersamaku, tapi mereka ternyata punya kesibukan lain hari ini.

“Hey kau!!”, teriak seseorang.

“Apa?”, tanyaku sedikit menantang.

“Kau melempar kerikil ini? HAH??!!”, cowok ini tinggi besar, tapi mana mungkin aku takut.

“Iya… kenapa? Keberatan??”, tantangku.

“Ya…aku keberatan…”, kata pria itu.

Ah! Satu orang saja, tak akan mampu melawan aku yang jago karate ini. Tak lama, tak kurang dari tujuh belas pria mengelilingiku.

“Apa – apaan ini?!!”, teriakku agak kalut.

Pukulan terasa disana – sini, aku sudah berusaha melawan, namun tampaknya sia sia saja.

Sedikitnya mungkin aku cukup melukai mereka, tapi rasanya badan ini sudah remuk. Setelah beberapa lama, aku merasa diriku begitu ringan, dan aku tak ingat apa – apa lagi.

Mataku terbuka sedikit, rasanya aku pusing sekali. Tapi, tiba – tiba ada seorang agdis menghampiriku, ia memberiku air minumnya. Hmm? Dia urakan sekali. Rambutnya mencuat kemana – mana, kaos kakinya panjang sebelah, gaya berjalannya tak karuan. Tapi sepertinya dia lah yang membawa aku ke bangku taman ini.

“Arigatou…”, kataku setengah berbisik karena tenaga ku belum pulih benar.

“Un…”, jawabnya lembut.

Aku tak bisa melihat wajahnya dengan benar, selain rambutnya terlalu berantakan, sepertinya lensa kontak ku hilang tadi. Ia berlalu lagi, aku duduk setengah kesakitan dengan pukulan – pukulan tadi. Well, aku tak sepandai Hikaru dalam berkelahi. Harusnya aku membawa dia tadi.

Gadis itu membasuh lenganku dan wajahku dengan sapu tangannya.

“Ano… arigatou na…”

“Aku hanya melihatmu tadi tergeletak di jalanan…”, Tak sempat aku menanyakan namanya, ia menyerahkan sapu tangannya, dan berlari cepat meninggalkanku saat mendengar ponselnya berbunyi.

“anooo… Maaf… aku harus pergi…”, katanya buru – buru.

Saat rambutnya tersibak, aku bisa melihatnya cukup jelas. Dia lumayan juga.

Aku datang ke rumah Yuya seperti biasa.

Hikaru seperti yang sudah bisa aku bayangkan tertawa terbahak – bahak melihatku babak belur.

“Bodoh… kenapa kau mau melawan orang sebanyak itu sendirian? Hah??!!”

“Aku tak punya pilihan lain… btw, mana Yuya?”, tanyaku.

Kei yang sedang membaca menoleh, “Dipanggil Oto-san… entah apa yang mereka bicarakan..”, katanya.

“Kou-chan… Kou-chan..”, panggil Daiki padaku.

“Ya?”

“Kalau seorang gadis marah padaku, apa yang harus aku lakukan?”, Tanya Daiki tiba – tiba.

Hah? Aku juga tak tahu. Bukankah Hikaru pakar percintaan disini? Dia kan paling banyak berkiprah dalam percintaan.

“Tanya Hikaru…”, kataku.

Daiki menyerah dan bertanya pada Hikaru.

Yuya keluar dengan wajah gelisah. Pasti ia dapat masalah.

“Kenapa Yuya?”, tanyaku langsung.

Yuya tampak enggan, “Tak ada.. aku hanya…”

“Ya?”, Kei beranjak dan ikut mendekati Yuya.

“Aku harus pindah sekolah…itu saja…”

Ini tak masuk akal. Sekolah yang kini kan hampir setengah asetnya milik keluarga Takaki, kenapa juga ia harus pindah?

“Ada apa sebenarnya??”, kataku setengah memaksa.

Yuya tetap menggeleng.

“Kemana?”, tanyaku dan Kei bersamaan.

Yuya menyebutkan nama sebuah sekolah negeri yang membuat kami makin aneh. Tapi kami tahu apa yang harus kami lakukan, pisah? Bukan gaya kami.

Ponselku berbunyi. Siapa pula tengah malam begini?

-Kei-chan calling-

Aaarrggh… dia ini… kebiasaan sekali meneleponku malam – malam.

“Ya?”, angkatku.

“Kou-chan?”

“Hmmm??”

“Main biliyard yuk!!”

“Kei…ini tengah malam…”, keluhku.

“Onegai…. Aku kesepian nih…”

Kebiasaan buruk Kei. Entah kenapa pula ia harus selalu mengajakku? Apa aku ini pasangan homonya? Aneh sekali dia ini.

Ditengah kantuk, aku bermain bilyard dengan Kei. Tak sampai dua puluh menit, Kei bilang sudah bosan. Lalu memutuskan untuk main game. Aku ikut saja, namun aku ingin beli kopi dulu.

“Aku ke seberang dulu..”, kataku saat Kei mulai memasukkan koinnya untuk main game.

“Ya… belikan aku juga..”, katanya.

“Hmmm..”, jawabku pelan.

“Shiro… aku tak bisa membawamu pulang… Otuu-sama benci jika aku memelihara binatang…”

Suara lembut yang sama dengan kemarin.

Aku melihat seseorang berlutut di depan sebuah kardus, memakai baju olahraga.

“Maaf…”, kataku lalu menyentuh bahu gadis itu.

Saat menoleh, aku melihatnya berurai air mata.

Dia bercerita bahwa ia menemukan anjing malang itu di dekat rumahnya. Karena kasihan, ia membawanya pulang, namun Ayahnya melarangnya punya peliharaan.

Ia bercerita sambil menangis, walaupun aku sampai sekarang tak tahu namanya, tapi aku hanya mendengarkannya dengan sabar.

“Baiklah..bagaimana kalau Shiro aku ambil saja..”, tawarku.

“Hontou??”, katanya senang.

Aku mengangguk.

“Arigatou!!!”, serunya.

Malam itu aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud dengan cinta pada pandangan pertama.

Kami kaget ketika kami datang ke sekolah baru kami, Yuya bilang ia akan menikah. Ternyata peraturan konyol itu masih berlaku di rumah Yuya.

“Lalu apa rencanamu sekarang?” tanyaku lalu menepuk bahu Yuya.

“Bukan itu yang penting…siapa calonmu?” kata Inoo.

Yuya mengeluarkan foto yang sejak tadi ia pegang, “Ini….”, Semuanya serentak ingin melihat calon istri Yuya.

Tidak!! Cewek ini. Maksudku… ini memang sedikit berbeda, disini sangat rapi, dan mungkin saja bukan orang yang sama.

“Dia lumayan cantik…” ujarku sambil memandang foto itu.

“Kelas berapa?” tanya Hikaru

Yuya melepaskan nafas berat, “Dia sekelas dengan kita…”

Daiki mengedarkan kepalanya ke seluruh penjuru kelas dan menggeleng, “Tapi tak ada cewek
seperti itu di kelas ini…”

Yuya menunjuk sebuah bangku dimana dua orang cewek sedang makan, sambil tertawa – tawa.

Inoo yang sedang menggenggam foto itu berkata, “Jangan bilang kau akan menikahi cewek aneh itu…” katanya menunjuk Dinchan.

Sial! Dandanan yang sama persis ketika ia menolongku,

JANGAN BILANG….

“Iya…dia calon istriku…”.

Aku tak bisa berkata apapun selain ingin menangis.

It hurts since I can’t forget that
Looks like here is not the place where you’re supposed to be
You don’t have to hold back for me
It all will end someday too anyway
My love just can’t seem to reach you
Just as much as the amount of tears that flowed, it’s still far away to go

Dan inilah aku sekarang. Terjebak di pernikahan Dinchan dan Yuya. Ya, dia sudah milik orang.

Lebih buruk, ia punya sahabatku. Sahabtku sejak kecil.

Dinchan memang menyadari kalau aku lah yang mengambil Shiro malam itu. Tapi aku tak mau memperpanjang masalah ini, maka aku bilang untuk tak berkata apapun pada Yuya. Sesekali
Dinchan selalu menanyakan keadaan Shiro.

I have to forget you, I miss you so much
Even if you never know how much it hurts, I will forget

Setelah hari itu, bahkan hari – hari selanjutnya. Dinchan adalah bagian dari kami. Yuya tak pernah tahu pertemuan kami sebelum ini. Tapi aku memang tak bisa melakukan apapun, selain selalu mencoba untuk tak terlihat kesakitan melihat semua ini.

Ponselku berbunyi.

Dinchan’s calling.

“Moshi moshi?”, angkatku.

“Kou-chaaann..”

“Hmmm?”

“Aku ingin ketemu Shiro sebelum aku pergi ke Korea..”, katanya setengah merengek.

Ya, kejadian yang menimpa Dinchan memang cukup miris. Yuya ada selalu di samping Dinchan, aku bersyukur akan hal itu. Walaupun dengan bodohnya aku tak bisa melupakan Dinchan, padahal sudah jelas ia milik Yuya.

“Baiklah..datang saja…”, kataku.

Dinchan datang sendirian. Badannya lebih kurus dari terakhir aku memperhatikannya.

“Kau baik – baik saja?”, tanyaku pelan.

“Un…baik – baik saja…”, jawabnya lirih.

Pasti peristiwa itu sangat membuatnya trauma.

“Kalau kau denganku, apa kau akan seperti ini juga?”, tanyaku konyol.

Yah, aku sering bertanya pertanyaan aneh saat bersamanya.

“Kou-chan….”, keluhnya, “Sudah kubilang…”

“Kau tak bisa melihatku seperti itu kan? Aku tahu, dan aku tahu diri…”, jawabku lagi.

Ya, aku sempat mengutarakannya pada Dinchan. Ia tentu saja menolakku mentah – mentah. Lagipula memang saat itu aku hanya ingin mengutarakannya.

I’m a fool, you know me
My heart’s been ripped apart, but I can only smile

“Kau harus jaga dirimu baik – baik…”, kataku pelan.

“Kau harus bisa melupakan perasaanmu padaku…Kou-chan..”

Lima tahun cukup lama, cukup waktu untuk melupakan Dinchan. Setelah berganti pacar untuk ke berapa kali, aku bahkan tak bisa menghitung wanita yang tidur denganku. Tapi, rasa spesialku terhadap Dinchan masih ada. Itulah mengapa aku masih tak bisa setia pada satu wanita.

Yuya dan Dinchan ada masalah. Aku tak tahu apa itu, tapi mereka terlihat saling menjauh. Alih – alih mengambil kesempatan, aku membantu Yuya kembali pada Dinchan. Well, aku tahu aku bodoh. Entah kapan aku bisa melupakan Dinchan, tapi saat ini aku bahkan masih kerap berharap.

To forget you, even to erase you
For me they are very difficult things to do
have to forget you, I miss you so much
Even if you never know how much it hurts, I will forget

Ya, aku pasti akan melupakannya. Aku hanya butuh orang yang tepat, dan waktu yang tepat.

Song : S.M The Ballad – Miss You
———————

-Daiki’s Side-

When did I start to neglect your kisses?
Now I’m burning, touch my mind
Darling, why you can’t see my eyes?
Baby, are we over?

“Fu!! Berisik!!”, kataku setengah berteriak pada kekasihku yang lebih muda empat tahun itu.

“Dai-chaaann… ini terlalu sulit… aku pusing!!”, keluhnya.

Besok ujian sekolah, ia masih SMA, dan tentu saja itu artinya ia harus belajar. Lagipula bodoh sekali aku berpacaran dengan anak ingusan seperti dia? Huh! Sial aku jatuh cinta padanya.

“Ayo kerjakan…”, kataku lagi.

Aku mahasiswa Bisnis di Meiji University, aku punya banyak uang, aku bisa beli wanita manapun. Tapi kenapa malah gadis ingusan ini yang kini ada di apartemenku?

“Dai-chan jahat!!”, keluhnya lagi.

“Aku tidak jahat… kau harus mendengarkan aku..”, kataku sedikit membentaknya.

“Huh!!”

Aku jujur saja, sedikit capek dengan kelakuan ke kanak – kanakannya. Awalnya ini adalah perjodohan. Seperti yang lain, aku pasti sudah di jodohkan dengan gadis pilihan Ayah – Ibuku.

Kou-chan menolak setengah mati dan masih betah dengan statusnya sebagai playboy jempolan. Hikaru sudah punya pacar, walaupun dia juga masih sering berkelana dengan banyak wanita. Yuya sudah menikah, setidaknya empat tahun lalu. Kei-chan akan segera menikah dengan Opichi sebulan lagi, orang tuanya tak lagi memaksanya untuk menikah dengan gadis pilihan mereka. Dan aku? Terjebak dengan Saifu Suzuki, gadis kelas dua SMA. Salahku juga jatuh cinta padanya.

“Ok…kau mau apa?”, tanyaku akhirnya.

“Hmmmm… es krim!!”, serunya.

“Baiklah… dalam sepuluh menit aku kembali, soal itu sudah harus selesai.”, kataku.

Ia mengangguk, dan aku mulai merasa aku punya pacar anak TK.

“Dai-chaaaann..”, Klub seperti ini memang penuh dengan wanita seksi. Mereka mau dibayar untuk memuaskan siapa saja.

Kou-chan seperti biasa mengajak kami berkumpul. Semua ikut, Yuya dan Kei tak pernah menggubris satu pun wanita disana, sedangkan Kou-chan dan Hikaru adalah ahlinya merayu. Dulu aku mungkin seperti mereka, tapi aku sudah berhenti bermain – main.

“Kau bete sekali malam ini…”, kata Yuya padaku.

“Well, Fu berulah lagi kan?”, tanya Kei yang aku terkadang curiga ia mulai punya kemampuan paranormal.

Aku sedikit mengangguk.

“Apa lagi?”

“Entah apa yang teman – temannya katakan, ia minta aku cium…”

“Wahahaha.. dia sudah SMA loh Dai… wajar sekali… bahkan ia telat..”, kata Kou-chan menyahut.

“Tapi aku kan sudah berjanji tak akan menyentuhnya.”, ujarku.

“Janji pada siapa?”

“Pada diriku sendiri…”, kataku.

“Eh??”, Hikaru melepaskan diri dari seorang gadis.

“Karena aku tak yakin bisa menahan diriku jika aku menyentuhnya… kau mengerti kan? Ia masih SMA… dan…”, aku berhenti, mereka pasti mengerti apa yang kumaksud.

Mungkin aku selalu terlihat seperti anak kecil. Aku memang lebih muda dari Yuya, Kou-chan, Hikaru dan Kei. Tapi aku juga kan sudah dewasa, aku bukan Yuya yang menikah di usia 18, dan hingga kini belum pernah menyentuh istrinya. Bukan juga Kei yang tidak percaya hubungan sebelum menikah. Aku pernah punya pacar sebelum Fu, dan tentu saja bohong jika aku bilang tak terjadi apa – apa. Hanya Saifu tidak pernah tahu.

An ability we have to be able to love each other
An ability that can’t get any greater than this
Baby, do you have another one?
It might conspire

“Dai-chan selingkuh ya??”, teriak Saifu kesal.

“Hah? Kau ini ngomong apa sih Fu??”, tanyaku masih membaca majalah otomotif.

“Lalu kenapa Dai-chan tak mau menciumku??!!”, protesnya lagi.

“Fu…bukan begitu…”

“Tapi aku dianggap aneh, karena aku punya Dai-chan, tapi belum pernah di cium…”, ucapnya polos.

Saifu cemberut, ia pasti sangat kesal padaku. Tapi apa yang harus kulakukan? Ia terlalu muda, aku tak bisa memberinya sesuatu yang belum bisa aku berikan.

“Fu…”, panggilku pelan.

Ia tak menoleh. Sepertinya mendeklarasikan perang dingin.

“Fu…. jangan gitu…”, kataku mengguncang bahunya lagi.

Ia masih tak bergeming, bahunya naik turun, sepertinya ia sedang menangis.

“Fu!!”, kataku membalik badannya. Saifu menangis. “Nakanaide yo..”, kataku menghapus air matanya.

“Dai-chan suka aku tidak sih?”, tanyanya masih menangis.

Aku kembali mengusap pipinya yang basah oleh air mata, “Kau tahu Fu… aku sudah berhenti main- main dengan perasaan wanita. Sejak aku ketemu Fu…”, kataku berusaha menenangkannya.

“La…lu…kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa…Dai-chan tak bisa menyentuhku??”, tanyanya lagi polos.

Aku sedikit tertawa, mengambil tangan Saifu, “Kocchi…”, kataku memnyentuhkan tangannya pada kepalaku, “Kocchi mo…”, kini aku menyimpannya pada dadaku, “Fu dake…”, jelasku.

“Hontou??”, tanyanya. Kini tangisnya berhenti.

Aku mengangguk.

Saifu menghambur ke pelukanku. “Demo… Dai-chan nara iin desu..”, katanya.

“Hah?”

“Dai-chan nara iin desu… kalau Dai-chan yang menyentuhku, aku rela.”, kata Saifu. Ia begitu polos sampai tak menyadari bahwa aku sudah dewasa, bukan lagi bocah yang tak mengerti apa – apa.

“Wakatta… Fu harus percaya aku tak akan meninggalkan Fu..jadi, kita punya banyak waktu bersama. Mengerti?”, ujarku pelan, membelai rambut Saifu.

“Un! Wakatta..”.

Cause you’re my one in a million (My one in a million)
Just believe me like this
You are one in a million
When we met Baby, it’s my destiny (Baby, it’s my destiny)

“Fuuuu…”, panggilku. Tak ada yang menyahut. Apa Saifu belum pulang? Ia biasa menungguku di apartemen walaupun aku belum pulang.

Tapi hari ini pintu aprtemenku terkunci.

Aku mendial nomor Saifu, namun tak ada yang mengangkat. Maka kuputuskan untuk menunggu saja di rumah.

Sudah agak malam, namun tak juga ada kabar. Aku mulai kesal karena bosan, ternyata tak ada anak kecil itu juga tak menyenangkan. Yuya sedang melaksanakan project dari ayahnya, Kei-chan jangan ditanya, menjelang hari pernikahan ia mulai sibuk dengan Opichi, Hikaru sedang merayu pacarnya, PyPy yang sedang ngambek, Kou-chan dimana lagi selain mencari wanita baru. Kemana ya Saifu? Lagipula Saifu biasanya memberi tahunya jika tidak akan datang atau akan telat, tapi hari ini ponselnya bahkan tidak aktif.

Akhirnya aku tertidur, bangun – bangun kulihat sudah pukul sepuluh. Pasti Saifu sudah pulang ke rumah malam ini. Ponselnya berbunyi.

“Halo?”

“Daiki….”

“Ya?”, aku melihat dulu nomor siapa yang menelepon, “Mama?,”, itu Mama nya Saifu.

“Apa Fu ada disana?”

“eh.. tidak… kenapa?”

“Dia belum pulang…”, suara Mamanya sangat panik.

Aku segera berlari ke bawah dan mengambil mobil ku yang ada di parkiran apartemen. Kenapa juga Saifu belum pulang selarut ini? Kemana dia? Sambil terus mencoba menghubungi ponselnya, aku mulai panik dan meminta bantuan Yuya, Kei, Kou-chan dan Hikaru. Mereka semua mau mencari Saifu. Yuya dan Kei yang punya banyak koneksi, Kou-chan dan Hikaru juga ikut mencari.

“Dai… kurasa Fu-chan ada di klub.”, suara Kou-chan diseberang.

“Hah?” Mana bisa? Dia kan belum 20, harusnya tidak bisa masuk klub orang dewasa.

“Masa? Dimana?”, tanyaku masih sibuk dengan setir mobilku.

“Klub kenalanku. Tadi aku mencoba meneleponnya, dan menemukan gadis yang cirinya mirip Fu. Aku akan beri alamatnya. Kau cepat meluncur kesana.”, kata Kou-chan sambil menutup telepon.

Hingar bingar Klub membuatku sedikit sulit mencari Saifu. Mudah – mudahan ia benar ada di sini.

Seorang gadis setengah mabuk berada di atas stage. Menari liar dengan pakaian terbuka.
Tampaknya bukan penari profesional, pasti itu Cuma pelanggan yang cukup mabuk untuk menari seperti itu. Belum lagi para pria hidung belang yang menyentuh badan wanita mabuk itu. Tunggu…. itu Saifu!! Aku bergegas menyibak kerumunan orang, menarik Saifu yang mabuk.

“Fu!!”, teriakku.

“Daaaiii!!!”, katanya. Ia benar – benar mabuk.

“Iya Ma… Saifu tadi di rumah temannya. Malam ini ia akan menginap disini…”, jelasku pada Mamanya Saifu.

Aku tak tega memulangkan Saifu dalam keadaan mabuk berat. Saifu di kamar mandi, muntah karena perutnya pasti terasa di aduk – aduk. Ia minum terlalu banyak.

Setelah agak tenang, aku menyuruhnya ganti baju dengan piyama ku dan memberinya minum hangat.

“Fu….”, panggilku. Jujur saja aku marah, tapi memarahinya dalam keadaan seperti ini tak akan mengubah keadaan apapun.

“Gomen Dai-chaaann… maafkan akuuu…”, Saifu mulai menangis.

“Sudahlah… Fu malam ini tidur saja…”, kataku pelan. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan
sebelum aku benar – benar tak terkendali.

“Chika bilang hanya goukon!! Aku disuruh ikut karena orangnya kurang. Bukan maksud ku untuk selingkuh Dai-chaaann…”, katanya sambil menangis.

“Aku percaya…”, jawabku ditengah pikiranku yang mulai kalut.

“Tapi…. tapi… aku dicium aku dicium cowok itu!! Aku benci dia!! Aku mau ciuman pertamaku dengan Dai-chan!! Huwaaaaa!!!”, serunya dengan nada kesal.

“Kau dicium? Iya?”, aku mulai hilang kesabaran.

Kutarik Saifu ke dalam pelukanku, tanpa aba – aba, aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya.

“Mmm…mmm..”, Saifu berusaha melepaskan aku, karena aku menciumnya terlalu kasar.

“Dai…”, belum sempat ia berbicara, aku telah menutupnya dengan bibirku kembali, “Dai-chaan… matte… anoo~”.

Tanganku kini bergerilya di leher dan badan Saifu.

“Dai-chan…”

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat dengan sukses di pipiku.

“KAU!!!”, teriakku lalu merebahkan tubuh Saifu di sofa dengan kasar.

PLAKK!!

Aku menamparnya balik. Saifu memandangku dengan sorot mata penuh ketakutan.
Well, nafsu dan kemarahanku tak bisa lagi dibendung. Aku tak terima ia disentuh banyak pria. Aku harus menghapus jejak pria itu di tubuh Saifu. Ia milikku, ia tak boleh disentuh siapapun kecuali aku.

If there’s still time, I wanna hold ya
Cause you saw me crying, so lonely soldier
Baby, I love you from the bottom of my heart itself

“Dai-chaan…”, tangan Saifu terus menolakku.

Aku membuka piyama yang dipakai Saifu dengan sedikit paksaan, menimbulkan bunyi robekan, sementara bibirku masih menginvasi bibirnya.

“Dai…jangan…aku takut!!”, katanya ketika aku mulai beralih ke lehernya.

Aku berhenti. Menatap wajah Saifu yang kini berurai air mata. Ia terisak hebat, matanya terlihat sangat takut.

“Dai-chaaann… aku…”

Aku beranjak dan meninggalkan Saifu. Aku perlu mendinginkan kepalaku, apa yang kulakukan tadi? Lalu apa bedanya aku dengan pria yang menyentuh Saifu tadi?

BAKA!!

Kudengar suara isakan masih terdengar, Saifu masih berbaring di sofa, menutupi tubuhnya dengan tangan, meringkuk ketakutan pada tunangannya sendiri. Lalu aku menghampirinya.

“Fu…”, panggilku pelan.

Saifu menghindar dari sentuhanku, meringkuk lebih dalam.

“Fu….maaf…aku terlalu emosi..”, kataku pelan.

Melihat tangisnya, kemarahanku hilang seketika.

Saifu menolak berbicara denganku, aku membiarkannya meringkuk di sofa, memberinya sebuah selimut, aku tak berani mengatakan apapun karena aku terlalu malu untuk mendekatinya.

Aku merasakan tubuhku kaku. Tidur dengan posisi menunduk di atas meja tentu bukan pilihan yang bagus untuk posisi tidur. Saat menoleh, aku mendapati sofa sudah kosong. Saifu sudah pergi.

Terdengar suara pintu dibuka, Saifu keluar dari kamar mandi mengenakan seragamnya. Wajahnya masih terlihat takut padaku.

Aku menarik tangannya, membawa Saifu ke sofa, “Gomen… gomenasai… aku terlalu kalut semalam.”, ujarku berusaha se lembut mungkin agar Saifu tak kaget.

“Hmmm… Itu bukan Dai-chan semalam.. aku tak mengenal orang yang semalam…”, kata Saifu lirih.

“Itu aku Fu… begitulah aku jika marah… membayangkan kau disentuh pria lain… aku tak punya pilihan selain marah… maafkan aku..”, kataku lagi.

Saifu terdiam. Aku memang belum pernah memperlihatkan seberapa kejam aku bisa lakukan jika sedang emosi.

Diam, Saifu beranjak dari sofa dan meninggalkan aku.

Saifu’s POV

Sudah hampir tiga minggu aku tak mau bertemu Daiki. Aku takut, malam itu benar – benar membuka mataku terhadap siapa sosok Daiki sebenarnya. Aku tak menghadiri pesta pernikahan Opi nee-chan. Bahkan Din nee-chan meneleponku beberapa kali, namun aku ingin melarikan diri dari mereka.

Dunia yang terlalu asing buatku.

Mereka semua sudah dewasa, aku hanya anak kecil yang mengganggu ke tentraman mereka. Daiki sudah dewasa, aku hanya pengganggu bagi dirinya.

“Fu,,,,ada yang mencarimuuu~”, teriak Mama dari bawah.

“Siapa ma??”

Mama tak menjawab, namun akhirnya aku menemukan jawaban ketika pintu kamarku dibuka. Din neechan berdiri di hadapanku.

“Apa kabar Fu-chan?”, tanyanya.

Ia terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya. Perkenalanku dengan Din nee-chan memang dulunya hanya sebatas teman chatting. Daiki memperkenalkannya sebagai istri Yuya nii-chan.
Saat itu kebetulan aku menemani Daiki chatting dengannya. Aku sudah bertemu dengannya saat ia pulang hampir sebulan atau dua bulan yang lalu. Din neechan kuliah di Korea dan baru pulang ketika Opi neechan akan menikah.

“Baik nee..”, jawabku lirih.

“Bohong lagi? Eh?”

“Hmmm?”

“Kau membuat Dai-chan frustasi. Ia mencarimu terus..”, kata Din neechan lalu duduk di kasur bersamaku.

“Tapi nee… aku takut padanya… ia menyerangku…”, kataku sedikit terbata – bata.

Din neechan tersenyum, “Ia kehilangan kendalinya kah? Well, Fu… kau harus tau.. Dai-chan sangat berubah saat aku menemukan kau bersamanya.”

“Maksud Neechan?”

“Ia berubah. Dulu ia tak lebih baik dari Kou-chan yang berkelana dari gadis satu ke gadis yang lain. Ia tak pernah menganggap hidup itu serius. Kecuali ketika ia memutuskan untuk bersamamu.”

Aku kaget. Tak pernah aku mendengar cerita versi ini. Daiki yang kukenal selalu baik, dan tak pernah ku tahu ia seperti itu.

“Fu-chan merubah Daiki menjadi lebih baik…”, kata Din neechan lagi.

“Tapi nee… ia selalu bilang kalau aku mengganggunya, aku masih kecil..”

“Tapi pernah ia meninggalkanmu? Dai-chan yang dulu bukan sosok yang bisa setia pada satu gadis saja…”

Aku menggeleng. Daiki sangat baik padaku, bahkan menyentuhku saja… ia tak mau. Saat itu ia hanya marah, seketika aku ingin menangis. Bodoh sekali aku, Daiki mungkin marah, tapi itu berarti ia benar – benar tak rela aku di jamah oleh pria lain.

“Nee…”, panggilku sambil berurai air mata.

“Dai-chan menunggumu di bawah…”, kata Din Neechan sambil memelukku.

Aku berlari keluar kamar, mendapati Daiki yang sedang berbicara dengan Mama. Yuya nii-chan juga ada disitu.

“Dai-chaaan…”, panggilku pelan.

Daiki berdiri, menatapku lama.

“Gomen…”, kataku menghambur di pelukan Daiki.

“Fu… jangan lari lagi… aku mungkin tak mampu mengejarmu lagi nanti.”, kata Daiki lagi.

Aku menggeleng, “Dai-chan… beri tahu aku apa saja yang Dai-chan rasakan.. jangan menyembunyikan apapun lagi…”, kataku di sela isak tangisku.

“Gomen… aku janji hanya Fu yang akan tahu segalanya tentang aku.”

Cause you’re my one in a million (My one in a million)
So never say goodbye
You are one in a million
Each time we embrace Baby, it’s my destiny (Baby, it’s my destiny)

Destiny and emotions surpass time
Because our eternal love will lead the way again
Be my one in a million
You’re the only one, so here we go

Song by: Yamashita Tomohisa – One in a Million
————————————-

-Hikaru’s Side-

It always appeared before me
Your face, I remember
My heart that stopped short

“Iya Py…ayo balik ke kamar… ngapain sih kita di luar??”

Mungkin Py gugup. Sejak tadi memang ia hanya membawaku jalan – jalan tanpa tujuan yang jelas.

“Gak mau…”, kata Py terlihat kesal.

“Ayo pulang… aku janji kan aku tak akan ngapa – ngapain?”

Ini ulah Kei yang ingin mempersatukan Dinchan dan Yuya, sehingga Py akhirnya satu kamar denganku.

“Pulang ya…kau butuh tidur…”, kataku lagi sedikit memaksa.

“Tapi….”, Py menggigit bibir bawahnya, tampak enggan.

“Baiklah.. aku akan tidur dengan Dai-chan dan Kou-chan… ok?”, kataku lagi.

Py akhirnya mengangguk. Aku menuntunnya menapaki jalan pulang. Py selalu begini, ia sangat polos hingga aku selalu merasa dia takut padaku.

“Oyasumi…”, katanya lalu menutup pintu kamar hotel itu. Aku mendengar suara pintu di kunci. Ia benar – benar takut padaku.

Yeah, aku tak punya banyak pilihan. Aku bergabung dengan Kou dan Dai-chan di klub. Ini memang kerjaanku sehari – hari. Selama Py tidak tahu apa saja yang aku kerjakan di klub, maka itu tak akan jadi masalah.

“Hey!!”, kataku mendekati mereka.

Dai-chan mabuk berat, ia memang sedang ada masalah dengan Fu. Sudah seminggu tanpa kabar, menolak untuk ditemui. Kalau Py yang melakukan itu padaku, pasti aku juga akan bertingkah laku seperti Dai-chan.

“Dia baik – baik saja Kou?”, tanyaku.

Memberhentikan kegiatan Kou yang sedang merayu seorang gadis.

“Hmmm~ Maa… lumayan juga. Dia hanya terlalu pusing sekarang..”, kata Kou lalu kembali menoleh ke arah gadis penggoda itu.

Tak lama, seorang gadis mengahampiriku. Aku sudah berpengalaman, Kou dan Dai-chan adalah partnerku di klub. Kei terlalu malas untuk main ke klub, kecuali kami paksa. Sementara Yuya juga sering ke klub, tapi tak pernah menyentuh gadis manapun. Baginya hanya ada Dinchan, dan ia rela menunggu untuknya. Well, untukku itu adalah hal bodoh. Selama kita bisa menikmati hidup kita, kenapa tidak? Toh aku setia saja pada Py, karena buatku, gadis – gadis di klub hanyalah selingan. Mainan saja, dan aku hanya jatuh cinta pada Py, maka itu tak ada masalah.

Dai-chan juga mulai seperti Kei dan Yuya. Ia setia pada Saifu, padahal bocah itu masih SMA, dan kupikir bodoh sekali melepaskan kesempatan bersenang – senang dengan gadis – gadis cantik ini.

“Hikka-chaaann..”, seru gadis itu heboh.

Aku bergenit – genit dengannya, memanfaatkan tubuhnya.

Dai-chan beranjak secara tiba – tiba, “Fuuu..”, serunya sedih.

Aku ikut beranjak, dan memapah Dai-chan. “Gomen Yuri sayang…. aku akan mengantar dia dulu.. ok?? Matte ne..”, kataku karena melihat Kou sedang sibuk degan gadisnya.

“Sini Yuri… sama aku dulu saja…”, kata Kou.

Aku mencibir dan memapah Dai-chan yang sudah mabuk berat.

Aku bangun dengan kepala pusing. Semalam aku bertengkar dengan Py, dan berakhir di ranjang dengan tiga wanita yang ku tak tahu dari mana asalnya. Terlalu banyak minum memang bodoh, tapi pikiranku terlalu kalut malam tadi. Py menolak ku sentuh lagi, tapi semalam ia bahkan menamparku, menangis dan minta putus.

Aku beranjak dan memakai boxerku, berusaha jalan dengan benar menuju dapur.
Saat itulah, pintu kamar terbuka. Aku menoleh dan mendapati Py di hadapanku. Ia memang punya kunci apartemenku, tapi…

“Hikka…kun…”, ia kaget.

Py’s POV

Reaksi ku semalam terlalu berlebihan. Harusnya aku tak begitu kasar pada Hikaru. Maksudku, ia pria dewasa, dan menginginkan hal seperti itu adalah wajar. Maka aku memutuskan untuk minta maaf padanya. Pagi ini aku bahkan bangun jam lima subuh, hanya untuk menyiapkan sarapan untuknya.

Aku membuka pintu apartemen Hikaru, ketika ku dapati banyak sepatu cewek berserakan di depan. Aku mulai curiga, aku berlari ke arah kamar Hikaru. Membuka pintunya yang tak terkunci.

Kaget, bingung, marah adalah reaksiku pertama melihatnya. Ia terlihat baru bangun tidur, aku menoleh dan mendapati tiga gadis sedang tertidur di atas ranjang Hikaru.

“Hikka…kun…”, aku bingung, kaget, aku marah.

Tangisku meledak saat itu juga. Aku melemparkan kotak bento yang kupegang dan berlari ke luar, aku mendengar deru langkah Hikaru dibelakangku, menarik tanganku.

“Py…ini… bukan seperti yang kau pikirkan..”, katanya.

Aku menghempaskan tanganku, berlari dengan pikiran kalut. Hikaru keterlaluan, maksudnya apa tidur dengan tiga gadis? Apa se-desperate itukah ia ingin melakukannya? Aku benci Hikaru!

Ia bukan Hikaru yang aku kenal selalu lembut dan perhatian padaku, bukan Hikaru yang ketika aku ingin bertemu, selalu ada waktunya untukku.

Aku berlari dan ketika ku sadar, aku berada di depan apartemen Kei dan Opichi. Aku mengetuk pintunya, ketika tak lama, Opichi keluar.

“Py?”, ia terlihat sedikit kaget.

“Opichiii…”, aku menghambur ke pelukan Opichi, tak kuat menahan tangisku lagi.

Aku menceritakan semuanya pada Opichi.

“HEEEE??? Tiga gadis?? Sebentar… memangnya kalian bertengkar semalam???”, tanya Opichi.

Aku mengangguk. Pertengkaran yang sebenarnya biasa, tapi aku tak menyangka Hikaru akan seperti itu.

“Aduh… hmmm…”, Opichi terlihat berfikir, “Kau tak mau bicara dengannya?”, tanya Opichi lembut.

“Tidak…aku takut padanya…”, kataku sambil masih menangis.

“Hmmm… baiklah.. tunggu sebentar..”, Opichi mengeluarkan ponselnya.

“Telepon siapa?”, tanyaku.

“Dinchan… kurasa dia yang bisa bicara pada Hikaru. Aku akan marah – marah jika aku yang bicara nanti..”, kata Opichi lagi.

Aku hanya mengagguk.

Hikaru’s POV

You spitefully took my disfunctional heart
And with your bright smile
That’s how you easily opened my heart

Bodohnya aku. Bahkan tak punya keberanian menelepon Py. Terlalu malu, terlalu menyesal. Sekarang aku tahu apa yang dimaksud Dai-chan dengan menyakiti orang yang dicintai. Ia beberapa kali menyuruhku berhenti bermain – main, serius pada Py, tapi aku selalu membiarkan pembicaraan itu berlalu begitu saja.

Tadi pagi, saat aku melihat tangis Py yang terlihat begitu sedih, aku tahu aku salah.

Aku masuk ke restaurant yang ditentukan oleh Dinchan. Ia tadi meneleponku, berkata ada yang ingin dibicarakan. Entah apa itu.

“Hey!”, katanya melambai padaku.

Aku duduk di hadapan Dinchan, “Ada apa?”, tanyaku sedikit ketus.

“Rileks lah Hikka.. aku tak akan menghakimimu…”, katanya santai.

“Py sudah cerita ya?”, tanyaku.

“Iya… dan aku tahu kau memang tak pernah setia padanya kan?”

“HAH?? Aku setia…”

“Setia artinya kau tidak menemui wanita lain tanpa sepengetahuan Py….”

“Mereka hanya mainanku… aku tak punya hati pada mereka semua!”, imbuhku.

“Jahat sekali kau… bagaimana jika Py yang menjadi wanita – wanita yang kau tiduri itu?”
Aku terdiam.

“Aku tahu… mereka lah yang merendahkan diri dan menyerahkan diri padamu… tapi Hikka..”

“Tapi Py tak mau aku sentuh… aku tak tahu ia serius atau tidak padaku?”

“Sekarang aku tanya…. apa keseriusan seseorang diukur dengan ia mau tidur denganmu atau tidak?”

Aku kini merasa sangat jahat pada Py.

It’s true, that is how I became your man
All my unpleasant memories, I no longer recall
Because the hand that holds me tight
is as warm as spring

Aku tak punya keberanian untuk mendatangi Py. Terlalu malu, terlalu merasa hina. Tapi aku juga tidak menyentuh siapapun, tidak mendekati wanita manapun.

Aku ingat ketika aku pertama menjadi pacarnya, mata Py yang berbinar karena menganggumi aku, pasti sekrang sudah tak seperti itu. Ia bahkan membenci aku.

Aku mendengar pintu apartemenku berbunyi, bel yang menandakan seseorang di luar. Sat ku buka, kulihat Py berdiri di depan pintu.

“Konbanwa..”, katanya.

“Aku mau mengembalikan ini semua…”, kata Py menyodorkan sebuah kotak.

Ketika kubuka, adalah semua kenangan kita, foto dan semua barang yang pernah aku berikan pada Py. Dua tahun memang waktu yang cukup lama untuk kita bersama, punya kenangan indah.

“Py…”, panggilku lirih, “Kau tak perlu mengembalikan ini…”, kataku.

“Hmm…”, mata Py berkaca – kaca, “Tak apa…itu…”, kini ia mulai menangis, “Arigatou…”, katanya lagi.

Lama, kami hanya saling berpandangan. Aku tak mampu mengeluarkan kata – kata apapun, begitu pula Py sepertinya.

“Baiklah..aku pulang dulu…”, katanya.

Secara refleks aku menariknya duduk kembali di sofa ruang tengah itu.

“Jangan…”, kataku.

“Aku harus pulang…”, katanya berurai air mata.

Aku menarik tubuhnya, memeluknya dengan erat, “Jangan pulang…”, bisikku.

“Hikka-kun…”

“Bernafas tanpamu ternyata tidak nyaman…”, kataku.

“Hmm?”

“Kau tahu Py, itu bukan pertama kali aku tidur dengan wanita lain di belakangmu…”, aku harus mengatakan semuanya, aku harus jujur padanya.

“Aku tahu… dan aku sadar akan hal itu..”

“Eh?”, aku melepaskan pelukanku, menatap Py kaget, “Maksudmu?”

“Hikka-kun tak pernah berhasil mengajakku, dan aku tahu pasti Hikka-kun bukan pertama kalinya melakukan itu. Hanya… saat kemarin… aku merasa terlalu capek untuk terus memaafkan Hikka-kun..”, katanya di tengah isak tangisnya.

“Aku harus bagaimana supaya Py memaafkanku?”

Ia menggeleng, “Aku pun tak tahu… aku merasa tak berguna sebagai pacarmu… aku terlalu takut untuk melakukannya dengan Hikka-kun, jadi, aku membiarkan Hikka-kun dengan wanita – wanita itu..”

Py kembali menangis, aku kaget karena ternyata Py menyadari hal itu selama ini. Lama, aku hanya memeluknya, tanpa sadar, aku melihat matanya, menyentuhkan bibirku pada bibirnya.

Py mebalas ciumanku, entah kenapa Py tidak berlaku seperti biasanya. Ia bahkan sedikit agresif kurasa. Aku menariknya lebih dekat, Py hanya mengikutiku.

And now like a dream my heart
has gradually stopped by your side
Without awakening for a single moment,
I dream an endless dream

Py menutupi dirinya dengan selimut, “Aku malu…”, katanya.

Ini sudah pagi, dan entah karena kami sedang emosi, semalam aku melakukannya dengan Py.
“Maaf…”, kataku lalu mencium puncak kepala Py.

Anehnya, aku merasa Py berbeda dengan gadis yang pernah aku tiduri. Selain ia memang perawan, tapi dengan Py aku merasakan bahagia yang tak pernah kurasakan dengan wanita lain.

“Kau tak kerja?”, tanyaku.

Py masih emnutupi dirinya dengan selimut.

“Ini hari sabtu bodoh!!”, katanya dibalik selimut.

Aku baru sadar akan hal itu, “Jadi… Py sudah memaafkanku kan?”, tanyaku.

“Hmmmm.. entahlah…”, jawabnya.

Aku menarik selimut dari kepala Py, wajahnya memerah. “aku malu…”, katanya lagi.

“Py….”

“Hmmm?”

“Would you marry me?”

Dan aku sudah tahu jawabannya ketika Py mengagguk pelan.

And now like breathing,
if you were to always rest by my side
if you were to always remain this way
nothing better nothing better than you
nothing better nothing better than you

Song by : Brown Eyed Soul – Nothing Better
————————-

~OWARI~
COMMENTS ARE LOVE sodara2…:P

Advertisements

7 thoughts on “[Oneshot] We Are (Side story of Married by Accident)

  1. Yoshitaka Asuka

    wow~
    cerita kali ini untuk bagian dai dan hika dewasa sekali XD

    kasian yabu jadi ga punya cewe sendiri XD

    wakakaka

    aku suka ceritanya din, jadi lebih jelas gimana keadaan temen yuya dan inoo yg lain yang ga di bahas di cerita utama…

    dai baik banget ama fu XD
    makin suka dai *PLAK!

    kalau bagian py……. *tutupmuka*
    dewasa, aku belum cukup umur bacanya *emangkaupikiirumurmuberapa?!*

    hahahaha XD

    Reply
  2. Yoshitaka Asuka

    wah, ternyata umur tidak hanya menandakan kedewasaan fisik…
    tapi juga cara berpikir~ *ngomongnya muter2*

    karena hatachi deh pasti makanya din mulai nulis2 yang begini XD *sotoy minta ditabok*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s