[Oneshot] TIME~

Title : Time
Chapter : One Shot
Author: Tegoshi Din
Pairing : guess it if u can.. 😛
Genre : Romance as always.. Songfic
Song : Time by Hey!Say!JUMP
Rating : PG
Starring : Daiki Arioka, Saifu Suzuki (Syifa Morimoto), Ryutaro Morimoto
Fandom : Johnny’s Entertainment
Disclaimer : All casts are belongs to theirselves, Hey!Say!JUMP belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story…so read it happily
Request from Syifa…maaf panjang sangat..decided jadi Oneshot aja…

WARNING!!! Disini aku pake alur maju mundur, jadi perhatiin aja..ada yang masa sekarang ama masa lalu. Campuran.. jadi, maaf kalo agak ribet.. hehehe

as usual…COMMENTS ARE LOVE…

~TIME~


Jalanan terasa lebih lengang biasanya, Saifu Suzuki, gadis yang kini masih duduk di bangku SMA ini tak menangis, tapi merasa sedikit kesepian. Tangannya terasa kosong, tak lagi ada tangan itu yang menangkap tangannya, menuntunnya ke tempat mereka berdua.

“Ifu-chan!!”, Saifu menoleh dan mendapati kakaknya di atas mobil.

“Din nee…”, panggilnya lirih.

“Ayo…aku antar kau ke sekolah…”, kata Din lalu tersenyum.

Saifu akhirnya ikut ke sekolah, karena kampus Din se arah dengan sekolahnya. Din memang bukan kakak kandungnya, tapi ia sudah menganggapnya seperti itu.

“Melamun itu tidak baik Ifu-chan..”, kata Din sambil masih memerhatikan jalan dengan seksama.

Saifu menunduk, “Aku hanya…”

“Apa adikku ini sedang patah hati?”, Din terkekeh, “Aku hanya bercanda… Dai-chan tak berbuat macam – macam padamu kan??”, seru Din.

Kontan membuat Saifu ingin menangis, tapi ia berusaha menahannya.

“Ifu-chaaann..”, Din sedikit menoleh, mencoba mencari jawaban dari wajah sedih Saifu.

“Aku tak apa – apa neechan..”, jawab Saifu lagi.

“Baiklah…jika kau tidak mau cerita sekarang…nah…sudah sampai… jangan ragu untuk menghubungiku jika kau ingin cerita..ok?”

Saifu turun dari mobil Din dan melangkah masuk ke sekolahnya.

Sosok itu menangkap sudut matanya, orang itu…kekasihnya.. tidak…mantannya. Daiki Arioka.

You and I were experiencing an endless eternity,
so wouldn’t “Goodbye” not be that bad?
Wouldn’t it be okay? Just shake it off.

————————-
“Ifu-chan…”

Sore itu, dibelakang sekolah. Saifu yang tentu saja murid baru disitu kaget ketika mendapat surat dari penulis tanpa nama yang memintanya ke belakang sekolah sore itu.

“Senpai??”, Saifu kaget karena yang muncul di hadapannya adalah seorang Daiki Arioka.

Ya, Daiki Arioka yang termasuk murid popular, Daiki Arioka yang terkenal dengan kedinginannya menolak wanita yang ingin menjadi pacarnya.

“Hai Ifu-chan…”, sapa Daiki sedikit gugup.

“Ada apa senpai?”, Tanya Ifu sedikit heran.

Daiki menghampiri Saifu, dan dengan sedikit bingung meletakkan tangannya di tangan Saifu,
“Suki desu…”

The words “I love you” are just in our memories now.
The hands of the clock have stopped for us,
and we can’t go back to what we were.

——————–
Daiki yang kini tak lagi pacarnya, menatapnya, sedikit tak peduli lalu melangkah kembali dengan teman – temannya, membuat suasana hati Saifu semakin rusak saja.

“OHAYOUUU~ Ifu-chaaannn~”, sapa seseorang.

Saifu menoleh dan secara spontan memukul pelan lengan orang yang sudah berteriak tepat di telinganya itu.

“Sakit..”

“Urusee Ryu!!”, seru Saifu sambil menggosok telinganya yang terasa sedikit sakit.

“Hehehehe~ “, Ryutaro menggamit lengan Saifu, “Ayo ke kelas.”

“Ryutaro Morimotoooo~ lepaskan tanganku!!!”, protes Saifu, dan tidak di gubris oleh Ryutaro sama sekali.

“Ayo cepat!! Nanti telat~”, katanya masih ribut.

Saifu akhirnya hanya pasrah membuntuti Ryu ke dalam kelas.

Ternyata beritanya putus dengan Daiki sudah menyebar. Padahal Saifu tidak merasa ia memberitahu siapapun, hanya Ryutaro dan dia yang tahu.

“Ryu…kau memberitahu orang lain bahwa aku putus dengan Dai-chan?”, Tanya Saifu.

Ryutaro menggeleng, “Iiya..buat apa? Aku tak dapat keuntungan apapun dari menyebarkan hal itu… lagipula aku hanya tak sengaja melihat adegan kalian putus kan?? Jadi kupikir, itu bukan urusanku..”, kata Ryu lalu meninggalkan Saifu.

“Kau benar putus dengan Arioka – senpai?”, tanya Rina, salah satu teman sekelasnya.

“Hah?”, Saifu menoleh, dan hanya sanggup mengangguk.

Rina menjauh, namun Saifu amsih bias mendengarnya, “Baguslah…Arioka – senpai memang milik semua kan??”.

————-
Musim panas, waktu yang tepat untuk berlibur. Daiki memacu sepedanya menuju rumah Saifu.
Hari ketiga libur musim panas, tapi ia rasanya ia sudah lama tak bertemu Saifu.

Tiba di depan rumah Saifu, Daiki mendial cepat nomer Saifu karena memang nomer Saifu tersimpan sebagai speed dial nomer satu.

“Iya?”, angkat Saifu.

“Tebak aku dimana?”, kata Daiki.

“Hah? Dimana ya? Aku tak tahu Dai-chan dimana?”, Saifu sedikit bingung.

“Buka tirai jendelamu..”, perintah Daiki lembut.

Saifu menurut, menyibakkan sedikit tirai kamarnya.

Tersenyum karena Daiki melambai penuh semangat dibawah sana. “Aku dating menjemputmu..”, Kata Daiki lagi di telepon.

“Eh? Sepagi ini Dai-chan??”

“Jangan bawel… ayo cepat turun!!”.

Tak sampai 20 menit Saifu sudah selesai bersiap – siap, dan turun menemui Daiki.

“Kita mau kemana?”, tanya Saifu bingung.

“Naik saja dulu…”

Ternyata Daiki mengajaknya ke halte, entah apa yang ia rencanakan. Tanpa banyak
menjelaskan, Daiki mengajak Saifu naik bus dan membawa Saifu ke sebuah pantai.

Tempatnya cukup jauh dari Tokyo, untuk sampai tempat itu saja memakan waktu lebih dari empat jam.

“Dai-chan…kenapa pantai?”

“Karena ini musim panas… dan aku ingin mengajak Ifu-chan ke tempat ini…”

Saifu tak lagi berkata apa – apa. Daiki menuntunnya, dan mengajak Saifu duduk. Pantai ini cukup tenang ombaknya.

“Kenapa gak bilang dulu?”, akhirnya Saifu membuka suara.

“Kalo aku bilang, bukan surprise dong…”

“Tapi aku tak mempersiapkan apapun…”, keluh Saifu.

Daiki mencubit pelan pipi Saifu, “Ifu-chan hanya perlu membawa dirinya saja…”, lalu terkekeh.

Invited by a hot wind that could excite our hearts,
we had a party with just the two of us that day.
We talked through the night until the sun rose
at that exciting beach in midsummer.

“Dai-chan…arigatou…”, kata Saifu saat mereka akan pulang.

Malam sudah larut, dan kini mereka naik bus terakhir menuju Tokyo.

“Maaf ya Ifu-chan…sudah malam..”, keluh Daiki menatap Saifu.

“Daijoubu..kalau bersama Dai-chan.. waktu tak terasa…hehehe.”

Saifu menyandarkan kepalanya di bahu Daiki, merasa sangat nyaman di sebelah Daiki, membuat Saifu merasa tak canggung bahkan untuk tidur di sebelah Daiki.

Mata Saifu tertutup, ketika tiba – tiba ia merasakan sentuhan aneh di bibirnya. Itulah pertama kalinya Daiki menciumnya.

“Eh?”, Saifu kaget dengan apa yang terjadi.

“Suki desu kara…”, jelas Daiki lalu menarik kembali kepala Saifu ke bahunya.

——————-
Tempat duduk Daiki sangat strategis. Dari tempat inilah ia selalu memandnagi sosok Saifu yang kelasnya tepat di seberang kelasnya. Walaupun cukup jauh, ia bisa menangkap sosok Saifu yang juga duduk di dekat jendela.

Hari ini Saifu terlihat sangat sedih, ya, ini salahnya, dan ia menyadari hal itu. Tapi Daiki merasa tak mampu berbuat apapun untuk menghibur Saifu. Keputusannya meninggalkan Saifu bukanlah alasan yang mudah, bukan hal yang mudah untuk berbalik membenci Saifu, meninggalkannya.

“Arioka –kun.. ini kertas ulanganmu…”

Daiki menoleh dan mengambilnya, angkanya tidak jelek, hanya 70 saja, dan itu belum bisa membuatnya lolos ke sekolah impiannya. Kini ia sudah kelas tiga, dan memang seharusnya ia lebih berkonsentrasi dengan pelajarannya. Tuntutan dari kedua orang tuanya yang sama – sama bersekolah di Tokyo Daigaku tidak banyak, hanya ingin Daiki mengambil alih Rumah Sakit milik
mereka.

Saifu sebenarnya menyadari sedari tadi Daiki memperhatikannya. Ia juga tahu kelas Daiki ada di seberang, dan tidak sulit untuk melihatnya dari tempat itu.

Why, even if our feelings for each other lessen,
do I still wonder about you?

——————
Bel sekolah berbunyi. Saifu segera berdiri, pasti pangerannya sedang menunggunya di gerbang sekolah untu pulang bersama.

“Tunggu..”, kata Ryutaro tiba – tiba.

“Hah? Ada apa?”, Saifu mengurungkan niatnya untuk berdiri.

“Aku butuh bantuanmu…”

“Apa?”

“Bisakah kau membantuku mengerjakan tugas kemarin?”, pinta Ryutaro.

“Itu… maaf Ryu…aku harus pulang…”

“Dai-chan ya?”, nada suara Ryutaro sedikit berubah.

Saifu tak menyadarinya, hanya mengangguk.

“Baiklah..”, Ryutaro melepaskan tangannya.

“Aku akan meneleponmu. Oke? Kalau sempat aku akan mampir ke rumah Ryu…”, seru Saifu ceria.

Ryutaro tak menjawab, Saifu segera meninggalkan Ryutaro.

“Dai-chaaann!!”, sapa Saifu ceria.

Daiki tersenyum dan menangkap lengan Saifu, menggenggam tangan Saifu.

“Kenapa lama sekali?”

“Gak ah…aku langsung kesini kok..Dai-chan berlebihan..”, seru Saifu.

Tersenyum, Daiki membawa Saifu berjalan, hari ini mereka akan makan es krim.

“Dai-chaaaann~”, Saifu menunjuk mesin photo box yang tak jau dari tempat mereka berdiri.

“Mau foto?”, tanya Daiki.

Saifu mengagguk cepat.

“Ayo…”, Daiki membawa Saifu menuju box itu, dan berfoto.

We can’t go back to how we were that day,
and just have to go ahead to our separate tomorrows.

——————-
Saifu memandangi foto itu, rasanya baru kemarin ia pulang bersama Daiki, berfoto, makan es krim, kadang hanya duduk – duduk saja rasanya sudah sangat menyenangkan.

Apa Daiki masih menyimpan foto ini? Atau sudah ia buang pada hari Daiki meninggalkannya?

“Ifu-chan.. ayo!!”, ajak Ryutaro yang kini ada di sampingnya, mengajak Saifu untuk nonton.

“Ah iya…”, sahut Saifu lalu mengejar Ryutaro.

“Arigatou Ryu…”, kata Saifu ketika Ryutaro mengantarnya pulang.

Belum malam, tapi Saifu ingin cepat pulang.

Ryutaro tersenyum, “Jangan sedih terus Ifu-chan…”, ucap Ryutaro lirih.

Saifu menggeleng, “Aku tak apa – apa kok…”

“Baiklah aku pulang ya… Besok pagi aku akan jemput.”

“Hah? Buat apa?”

“Hanya ingin… sudahlah.. aku pergi dulu!!”, Ryutaro melambaikan tangannya, menjauh dari
Saifu, membuat Saifu bingung.

—————–
Kelulusan kali ini cukup melelahkan untuk Daiki. Banyak sekali gadis yang menginginkan kancing keduanya. Seperti yang sudah diketahui, mendapatkan kancing kedua memang penting untuk seorang gadis. Karena kancing kedua adalah kancing yang paling dekat dengan hati si pemilik gakuran.

Daiki mencopot kancing itu, menyimpannya baik – baik dalam sakunya. Ia harus bertemu Saifu.

Bagaimanapun, ini kelulusannya, Daiki sudah berhasil masuk Tokyo Daigaku, dan kini ia harus menyerahkan kancing itu. Walaupun mungkin Saifu hingga kini masih membencinya, Daiki tidak peduli.

“Siang ini kemana??”, Daiki menangkap sosok Saifu yang sedang berjalan dengan Ryutaro.

“Ah iya.. hari ini kan kita pulang siang~”, sahut Saifu pada Ryutaro.

Daiki ingin sekali memanggilnya, tapi apa itu akan membuat Saifu terkejut, atau mungkin malah menghindari dia?

“Ifu-chan…”, panggil Daiki pelan.

Tanpa disangka, Saifu menoleh, ekspresi wajah tersenyumnya berubah jadi kaget. Seakan meminta persetujuan Ryutaro, Saifu memandang Ryutaro. Seketika Ryutaro mengangguk pelan, meninggalkan mereka berdua.

“Apa kabar?”, tanya Daiki saat mereka sudah duduk di depan aula yang kini sudah hampir kosong.

“Aku baik – baik saja…”, jawab Saifu pelan.

Keheningan itu menyakitkan bagi Daiki, ia tak pernah melihat Saifu sependiam ini.

“Ini…”, Daiki mengambilkancing kedua gakurannya, menunjukkannya pada Saifu.

“Apa itu?”, tanya Saifu.

“Kancing keduaku…”

Mata Saifu menatap Daiki, “Kenapa?”

Daiki tak menjawab, malah menyodorkan kancing itu.

“Kenapa?”, tanya Saifu lagi.

“Suki dakara…”, jawabnya lirih, tak mampu menatap mata Saifu.

“Hah?”, Saifu tak percaya dengan apa yang dikatakan Daiki, “Kenapa kau seperti ini?
Dai-chan??”, suara Saifu bergetar, ia ingin menangis.

“Gomenasai… gomen na…”, Daiki menyimpan kancing itu di telapak tangan Saifu.

Saifu tak bisa menjawab, sudah sejak dua bulan lalu, ia berkomitmen dengan Ryutaro.

You and I were experiencing an endless eternity,
so wouldn’t “Goodbye” not be that bad?
Wouldn’t it be okay? Just shake it off.

Ryutaro menatap Saifu yang terlihat sangat sedih.

“Baik – baik saja?”, tanya Ryutaro.

Saifu mengangguk, “Aku tak apa – apa.”, tersenyum, dan menyambut tangan Ryutaro yang kini menjadi pegangannya.

Ia kembali membayangkan ekspresi wajah Daiki yang bilang cinta padanya. Ia sudah punya
Ryutaro sekarang, ia tak boleh memikirkan Daiki lagi.

Daiki menunduk melihat tanah, ia menyesal, tapi mungkin inilah yang terbaik bagi Saifu.
Seseorang yang tak meninggalkannya hanya untuk sebuah ambisi. Daiki tersenyum, membayangkan wajah Saifu di langit cerah bulan April. Ini memang sudah akhirnya, Daiki tak yakin ia bisa melupakan Saifu, tapi setidaknya, ia akan mencobanya.

The words “I love you” are just in our memories now.
The hands of the clock have stopped for us,
and we can’t go back to what we were.

——————-
Penerimaan mahasiswa baru kali ini sedikit kacau. Fakultas kedokteran tempat Daiki kuliah adalah penyebabnya. Beberapa mahasiswa itu mengganggu calon mahasiswa baru. Daiki yang ikut andil hanya ikut tertawa bersama teman – temannya yang tak tahu malu itu.

“Daiki!! Lihat itu!! Mahasiswi biologi memang selalu lebih menarik…”, seru Yabu.

Daiki menggeleng, “Kau mengatakan itu untuk setiap jurusan bodoh!!”, kata Daiki lagi memukul kepala Yabu.

“Ah masa bodoh!!”, seru Yabu lagi.

Daiki meninggalkan sekumpulan teman – teman bodohnya itu, menuju kamar mandi. Saat itulah ia menangkap sosok itu.

Even now your scent remains,
and every day I turn around just to be disappointed.

Saifu mencari kamar mandi, ia bingung di tempat sebesar ini, ia sepertinya tersesat dari fakultas Design nya. Ia kembali memutar – mutar peta yang ia bawa.

“Ah bodoh… bagaimana membaca ini?”, keluh Saifu ketika sebuah tangan mengambil peta itu.

“Ryu…”

“Baka… kenapa kau menghilang? Aku khawatir tau!!”, seru Ryutaro lalu menggamit tangan Saifu.

“Pakai saja kamar mandi fakultas kedokteran..”, kata Ryutaro lalu mengantar Saifu.

Daiki secara spontan bersembunyi di balik tembok. Jadi mereka bahkan masuk ke kampus yang sama? Daiki mengurungkan niatnya ke kamar mandi, dan berlalu dari tempat itu. Ia tak punya keberanian untuk menghadapi Saifu sekarang ini.

As time passes I’ll start forgetting it,
but does your heart still hurt some?

———————
Sore ini Saifu duduk di taman, menunggu Ryutaro datang seperti biasa. Ryutaro sudah telat hampir sejam, dan ia hanya mengirim e-mail yang berkata ia akan telat.

Berharap ada yang bisa ia lakukan, Saifu pun mencoba membuka tempat jejaring sosial yang biasa ia gunakan.

Ada inbox, Saifu membukanya, dan mendapat invititation untuk reuni SMA nya. Tanpa pikir panjang, Saifu meng-iya kan undangan itu, lagipula itu hari sabtu. Ia dan Ryutaro bisa pergi bersama.

Tak lama berselang, Ryutaro datang, setengah berlari.

“Gomen… dosenku sedikit menyebalkan..”, keluh Ryutaro.

Saifu berdiri, “Daijoubu.. ayo makan.. aku lapar!!”, seru Saifu, menyelipkan tangannya di tangan Ryutaro.

“Kau mendapat undangan reuni?”, tanya Ryutaro tiba – tiba.

Saifu mengangguk, “Kenapa?”

“Rasanya aku tak mau datang…”, kata Ryutaro tiba – tiba.

“Eh? Nande?”, tanya Saifu kaget.

“Karena.. Ifu-chan akan bertemu Arioka-san.. aku hanya tak ingin kalian bertemu.”, keluh Ryutaro.

Tanpa alasan yang jelas, Ryutaro memang masih berfikiran bahwa Saifu masih mencintai Daiki. Saifu sendiri sebenarnya tak bisa memungkiri itu. Kancing Daiki yang ia terima tiga tahun yang lalu bahkan masih selalu ada di dompetnya.

“Tak usah khawatir berlebihan..”, elak Saifu.

Ryutaro menatap Saifu, “Aku tak bisa menyingkirkan perasaan ini… Kumohon Ifu-chan.. jangan berfikir kau akan meninggalkan aku…”, kata Ryutaro lagi.

Saifu tak berani menoleh untuk menatap Ryutaro, bayangan Daiki kembali ke benaknya, hingga tahun ketiganya bersama Ryutaro, bayang Daiki tak pernah menghilang darinya.

It should all just be in the past now,
but I can’t erase my memories.

—————–
Suasana ballroom tempat diadakannya reuni itu cukup ramai karena menampung hampir lima angkatan. Sedari tadi Ryutaro tidak melepaskan pegangannya pada Saifu sama sekali.

“Ryu… aku ingin ke kamar mandi.”, kata Saifu lalu melepaskan genggaman tangan Ryutaro.

Tak rela, namun akhirnya Ryutaro duduk untuk menunggu Saifu kembali dari kamar mandi, dan berharap Saifu tidak bertemu dengan Daiki. Entah mengapa, Ryutaro merasa tak nyaman memikirkan Daiki ada di tempat yang sama dengan mereka sekarang.

Selesai merapikan make up nya, Saifu berjalan keluar dari kamar mandi, ketika tubuhnya terdorong oleh seseorang yang kebetulan lewat.

“Gomen…”, kata orang itu.

Saifu kenal suara itu, sosok itu. Daiki membantu Saifu bangkit, dan kaget ketika melihat siapa yang ia tolong.

“Ifu-chan….”, panggil Daiki lirih.

“Genki?”, tanya Daiki dengan sedikit canggung.

Saifu mengangguk, walaupun ini dekat kamar mandi, tapi mereka tak ingin pindah dari situ, seakan semuanya akan berakhir ketika mereka berpisah dari tempat itu.

“Aku melihatmu di Tokyo Daigaku…”, jelas Daiki.

“Hontou?”, Saifu kaget, “Ah iya… aku lupa Dai-chan..”, tercekat, ia sudah lama tak memanggil nama itu, “Arioka-san kuliah disana juga..”, kata Saifu membenarkan kalimatnya.

“Dai-chan juga tak apa – apa… Ifu-chan… kau tak mau aku memanggilmu Suzuki-san kan?”, protes Daiki.

Lagi – lagi Saifu hanya sanggup mengagguk.

“Ah!!”, Daiki menyadari sesuatu, “Bando ini…kau masih menyimpannya?”, tanya Daiki ketika melihat bando hijau yang kini dipakai Saifu.

Ya, bando yang Daiki berikan saat ulang tahunnya, bando yang ia kenakann ketika Daiki meninggalkannya.

Because it’s not possible to take you along
take the time to just stop.

———————–
“Dai-chaaaann!!!”, panggil Saifu sore itu.

Daiki hanya memberikan sedikit senyum yang menurut Saifu hari itu sangat berbeda dari biasanya.

“Daijoubu?”, tanya Saifu menyentuh lengan Daiki.

Daiki sedikit terlihat tak peduli, “Daijoubu….”

Hari itu Daiki cukup manis. Membelikan Saifu sebuah boneka, dan berjalan – jalan hingga malam tiba.

“Ifu-chan…”, panggil Daiki pelan, ini jalan pulang ke rumah Saifu, Daiki mengantar Saifu pulang malam itu.

“Ya??”, tangan Saifu masih menempel erat di lengan Daiki.

“Aku rasa…kita tak bisa seperti ini terus.”, katanya setelah tepat berada di depan rumah Saifu.
“Hah?”

“Ya…kurasa kita harus putus…”

“HAH?? Dai-chan??!! Apa maksudnya??”, Saifu setengah berteriak, kaget dengan apa yang Daiki katakan.

“Aku tak bisa lagi bersamamu…”

Wajah Saifu memerah, tak sanggup melihat Daiki. KArena kini matanya sudah basah oleh air matanya.

You and I believed in a limitless eternity,
But “Goodbye”s are still possible, aren’t they.

——————
“Jadi…Dai-chan di fakultas kedokteran?”, tanya Saifu lagi.

Mereka masih di tempat yang sama.

“Iya…dan kau di fakultas Design… sasuga…. Memang kau berbakat…”, kata Daiki lagi.
Saifu tersenyum.

“Ifu-chan…ada sesuatu yang ingin kukatakan..”, Daiki mengumpulkan keberaniannya, tangis Saifu malam itu, membuatnya terus merasa bersalah.

“Ya?”, dada Saifu berdetak sangat kencang.

“Bencikah kau pada orang yang terlalu berambisi?”, tanya Daiki.

Saifu tak mampu menjawab.

“Aku meninggalkanmu karena itu, aku harus masuk fakultas kedokteran, aku harus mengambil alih Rumah Sakit milik orang tua ku…dan aku.. mengorbankanmu..”, Kata – kata yang tak sempat diucapkan Daiki tiga tahun lalu.

“Hah?”, Saifu mengangkat wajahnya. “Bukankah Daiki bilang kau sudah tak menyukaiku, soal aku terlalu muda untukmu?”, tanya Saifu.

“Hah? Kapan aku bilang seperti itu?”

Seketika Saifu terhenyak, jadi selama ini Daiki tak pernah membencinya, tak pernah menganggapnya hanya adik kelas yang bisa ia peralat seperti yang ia katakan tiga tahun lalu.

Tak mapu bersuara, keheningan ini tercipta walaupun di luar suasana sangat ramai.

“Ifu-chaaaann~”, Itu suara Ryutaro.

Saifu tak bisa menjawab apapun, berbalik dan menghampiri Ryutaro, tak ingin Ryutaro melihatnya berbicara dengan Daiki.

“Maaf..”, Kata Saifu lalu meninggalkan Daiki.

That’s right, and you turn your back.
The words “I love you” are just in our memories now.
The hands of the clock have stopped for us,
and we can’t go back to what we were.

—————–
Setelah reuni itu, Saifu mau tak mau terus memikirkan kata – kata Daiki, ia tak bisa percaya, ternyata Daiki tak pernah membencinya, tak juga memperalatnya.

Apakah karena itu Daiki memberikan kancing keduanya saat kelulusannya waktu itu?

Daiki tertegun dengan keberaniannya mengatakan itu pada Saifu. Kini gadis itu bukan lagi miliknya. Ia sudah punya Ryutaro, bahkan jika tak salah hitung, maka mereka sudah bersama selama tiga tahun.

Tiga tahun yang disia – siakan Daiki untuk mengubur semua perasaanya yang ternyata tak kunjung hilang. Tiga tahun yang dipakai Daiki untuk terus merasa bersalah atas tangis Saifu malam itu. Apakah ia sudah gila? Rasanya ia ingin mendekap lagi Saifu seperti dulu, tapi apa yang bisa ia perbuat? Ia tak mampu berbuat apapun.

When I see you in my dreams
you’re still as beautiful as ever,
but I’m going to get going now.
And in the empty future?
I won’t make another move.

———————-
“Ifu-chan~”, panggil Ryutaro.

Saifu tersentak dan menghampiri Ryutaro di ruanh tengah. Ya, apartemen Ryutaro sudah seperti apatermennya sendiri, ia sudah leluasa masuk ke tempat ini walaupun tidak tinggal bersama.

“Kau sering melamun..kau yakin kau baik – baik saja?”, tanya Ryutaro yang asyik di depan laptopnya.

“Ryu…aku..bertemu Dai-chan malam reuni itu..”, aku Saifu akhirnya.

Ryutaro menjauhkan dirinya dari laptop, membuka kacamatanya dan menatap Saifu.

“Dan?”

“Ia bilang….”, Saifu terdiam.

Hari yang Ryutaro takutkan akhirnya datang.

“Apa?”

“Ia tak pernah membenciku, tak pernah menganggapku terlalu muda untuknya…”

Ryutaro tak mau menjawab, “Maafkan aku…saat itu…aku berbohong padamu…”, bahkan untuk melihat mata Saifu saja, Ryutaro tak mampu.

——————–
Ryutaro membenci pantulan wajahnya sendiri di cermin. Bodoh, dan terlalu gegabah. Hari itu Saifu datang padanya, menangis karena ia putus dari Dai-chan. Ryutaro tak tahu pasti apa penyebabnya, lalu ia mengarang cerita. Tentang Daiki yang membenci Saifu, Daiki yang tak mau berpacaran dengan adik kelasnya.

Rendahan? Mungkin bisa dibilang begitu.

Tapi apa yang bisa ia lakukan selain itu? Ia sudah lelah menunggu Saifu. Kini Saifu bisa jadi milikknya, bukan hanya sekedar teman, atau shinyuu, atau apapun itu.
————————

Saifu tak bisa menyalahkan Ryutaro atas sikapnya. Ia juga tak bisa memungkiri bahwa selama tiga tahun, Ryutaro selalu menjaganya, dan kebohongan Ryutaro yang sedikit itu tak akan menghapus kebaikan Ryutaro selama ini.

Ia merasa dibohongi? Iya.

Ia merasa dijauhkan dari Daiki? Iya.

Tapi, Ryutaro sudah ada di sisinya ketika Daiki meninggalkannya. Saifu memutuskan untuk menjauh dari keduanya. Baik itu Ryutaro ataupun Daiki. Ia tak ingin menyakiti keduanya. Daiki, cinta pertamanya, orang yang mengajarkan segala hal padanya, dan Ryutaro, sahabatnya, orang yang selalu mendukungnya saat ia jatuh. Keduanya berharga, dan Saifu butuh waktu sendiri untuk memikirkan segalanya.

———————

Some day, by chance,
Wouldn’t it be okay to meet again
under this same vast sky?
It’d be okay, without hesitating.
Even if there’s no love there,

“Jadi, phamplet ini seharusnya lebih menggambarkan Rumah Sakit ini Suzuki-san… kami ingin promosi besar – besaran…”, kata orang itu pada Saifu.

Lagi – lagi phamplet designnya harus diulang. Saifu menghembuskan nafas berat dan hanya bisa mengangguk. Pembeli adalah Raja. Ia harus kembali men designnya dari awal agar sesuai dengan keinginan si pemesan.

Sudah tiga tahun lewat, Saifu ingat seharusnya Daiki sudah jadi dokter sekarang ini. Ia menggeleng dan membiarkan pikirannya itu tak membuatnya terus meimikirkan Daiki.

Ryutaro masih jadi temannya, sekarang hanya teman. Ia berhasil menemukan wanita lain, dan berencana menikahi wanita itu. Saifu hanya bisa ikut berbahagia.

“Apa sampo mu tak pernah ganti?”

Saifu menoleh, seseorang dengan jas dokter menghampirinya.

“Dai..Dai-chan..”

“Jawab aku..”, kata Daiki.

“Itu… itu…”, Saifu terlalu shock untuk menjawab.

“Baunya masih sama…hahahaha…”

“Kau? Disini?”

“Ini Rumah Sakitku nona… well, aku baru mulai sih…belum official milikku..”, jelas Daiki.

Saifu mengangguk, “Sugoi~”

“Kau hantu ya? Kenapa sepertinya mudah sekali bertemu denganmu?”, kata Daiki lagi.

Tak menjawab, Saifu mengikuti Daiki ke taman dekat Rumah Sakit.

“Genki ka?”, tanya Daiki.

“Un…Dai-chan wa?”

“Genki…”

Saifu tak tahu, apa ini akan jadi awalnya bersama Daiki lagi. Ia tak pernah tahu, tapi ketika melihat senyumnya Daiki saat itu, senyum yang masih sama dengan senyum Daiki enam tahun lalu ketika ia berjalan di samping Saifu, menggenggam tangan Saifu erat. Membuat Saifu merasa, jalanan tak akan terasa lengang lagi, karena Daiki akan ada di sampingnya.
Bersama Dai-chan, waktu seakan tak terasa. Ia tak tahu berapa lama ia mengobrol dengan Daiki, hingga Daiki harus kembali ke dalam. Mereka bahkan berjanji untuk bertemu lagi, makan malam.

Setelah itu, entah berapa kali ia dan Daiki terus bertemu. Seperti sore ini, Daiki kembali mengajak Saifu ke pantai. Masih pantai yang sama ketika Daiki pertama kali membawanya, tak banyak yang berubah, bahkan perasaan Daiki dan Saifu juga.

“Ifu-chan…”

“Ya?”

“Masih ingat ini?”, Daiki mendekatkan diri pada Saifu, mengecup pelan bibir Saifu.

“Eh?”

“Maaf…aku hanya ingin…”

“Daijoubu…tapi kau yakin aku tak punya pacar sekarang?”

“Eh??kau punya??”, Daiki kaget, “itu..maaf..itu…”

“Usooo~ hehehe.., rasanya aku akan terkutuk untuk terus disampingmu.”

“Aku tahu kau suka itu…”, Daiki benar – benar menggenggam tangan Saifu. “Kita mulai dari
awal…”

there will be smiles
And the hands of the clock will quietly begin moving again.

-THE END-

Maaf gajeeeee~ akhirnya jadi oneshot aja…
maaf aneh…silahkan di komen..arigatou..*bow*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s