[Multichapter] Married By Accident (story 10)

Title : Married By Accident
Chapter : Ten
Author: Tegoshi Din
Pairing : as you know, Dinchan x Takaki, Opichi x Inoo
Genre : Romance
Rating : PG
Starring : Takaki Yuya, Inoo Kei, Dinchan, Opichi, Hiro…and rest member of HSB
Disclaimer : Dinchan and Opichi belongs to themself, Hey!Say!BEST belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story…so read it happily
kalo keberatan ama nama saia..silahkan sebelum dibaca, ganti pake nama sendiri..
itu OC kok~ hehehe..^^
and~ chapter ini kagok…tapi tak apalah…LOL
as usual…COMMENTS ARE LOVE…

Married by Accident
~Story Ten~


Dinchan pulang dengan perasaan tertekan. Hiro mengancamnya, walaupun ia berharap ancaman itu hanya omong kosong dari seorang Hiro.

Ketika Dinchan sampai, Yuya sudah pulang, dan menatap Dinchan.

“Kau tak apa – apa?”, tanya Yuya karena melihat Dinchan sedikit berantakan.

Dinchan mengangguk, lalu bermaksud masuk ke kamarnya. Sudah dua minggu Dinchan sama sekali tak ingin berkomunikasi dengan Yuya.

Yuya meraih tangan Dinchan, “Sebentar…Dinchan..”

Tanpa sadar Dinchan menepis tangan Yuya dengan kasar, “Tidak..”

“Kau kenapa?”, tanya Yuya lagi dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Tidak ada yang harus aku bicarakan…”, bentaknya pada Yuya.

“Ada!!”, kata Yuya lalu kembali menahan tangan Dinchan.

“Kumohon Yuya…”, pinta Dinchan sedikit memaksa untuk Yuya melepaskannya.

Yuya tak bergeming, “Kenapa kau tidak memberitahu ku??”

Dahi Dinchan mengerenyit. Sedikit heran dengan apa yang dikatakan Yuya secara tiba – tiba itu,
“Apa maksudmu?”, tanya Dinchan.

Yuya menegeluarkan fotonya bersama Ranchan yang sukses membuat Dinchan tercengang.
———————

Suasana di sekolah cukup aneh. Dinchan sendiri tak mengerti mengapa sejak tadi semua orang menatapnya. Tidak hanya menatap, terkadang mereka bisik – bisik di hadapannya.

“Ohayou!!”, sapa seseorang.

Dinchan menoleh dan melihat Hiro tersenyum penuh kebencian.

“Hi…ro….”

“Kau tahu…bodoh…kau tak akan kulepaskan…”, ancamnya lalu pergi dari ahdapan Dinchan.

Masih terheran – heran, tiba – tiba Opichi datang berlari dari kelas.

“Dinchaaaann!!! Itu…itu….”, Opichi yang tampak kehabisan nafas.

Dinchan menatap sahabatnya heran.

“Ada apa?”

Opichi tak sanggup menjelaskan, lalu menarik lengan Dinchan masuk ke kelas.

Yuya juga baru datang, dan kaget dengan apa yang tertulis di papan.

“Call me…aku murah dan mudah di dapat…”, baca Yuya pelan.

“Ternyata….”, kata seseorang mencibir ke arah Dinchan.

Tentu saja, karena jelas sekali tertulis di papan itu Tegoshi Din, lengkap dengan alamat e-mail dan nomor teleponnya.

“SIAPA YANG MENULIS INI???!!!”, teriak Yuya membuat Dinchan sendiri kaget melihat kemarahan Yuya.

Semua orang di kelas diam, tak ada yang berani berkata apapun.

“SIAPAA??!!! JAWAB AKU!!!”

Yuya masih dengan kemarahannya mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan itu.

“Percuma Takaki-san… tulisan itu ada di seluruh kelas…”, kata seorang murid wanita.

Mata Dinchan berkaca – kaca, ancaman Hiro sama sekali bukan omong kosong. Tak lama, secara serentak ponsel di kelas berbunyi, sebuah e-mail dengan foto Dinchan yang di ikat dan tampak tak layak dilihat tersebar ke seluruh ponsel di sekolah ini.

Yuya kaget, ia bahkan tak tahu apa yang terjadi.

“Dinchan…”, panggil Yuya.

Dinchan diam, ia sama sekali tak dapat bergerak, semuanya sudah berakhir. Hidupnya berakhir, ia tak lagi dapat hidup jika ini yang terjadi.

Air mata Dinchan mengalir, ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.

“Dinchan…”, Opichi ikut menangis melihat sahabatnya itu. Ia bahkan tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Secara tiba – tiba Yuya menarik lengan Dinchan.

“Aku akan menghapus semuanya…”, katanya setengah berteriak.

“Aku juga bantu!!”, teriak Hikaru dari bangku belakang.

“Murahan sekali..lelucon ini tak lucu….”, seru seseorang yang ternyata Yabu.

Daiki juga ikut keluar dan masuk ke setiap kelas, dengan cueknya menghapus semua tulisan yang menghina Dinchan.

“Yuya…”, panggil Dinchan lirih.

Yuya membawa Dinchan keluar sekolah, duduk di taman karena Yuya tahu pasti perasaan Dinchan sedang sangat kacau.

Yuya menoleh, tak tega melihat wajah Dinchan, dan ia juga sangat penasaran, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dinchan.

“Maaf…”, kata Dinchan lirih.

“Kenapa kau minta maaf??”, tanya Yuya heran.

“Karena aku merepotkanmu…aku selalu menyusahkanmu…”, kata Dinchan lagi.

Tak menjawab, Yuya hanya memandangi Dinchan. Lama mereka tak bersuara, sibuk dengan pikirannya masing – masing.

“Kali ini aku pasti dikeluarkan dari sekolah..”, kata Dinchan.

“Tapi Dinchan…”

“Opichi bilang foto itu menyebar juga pada guru…”, jelas Dinchan yang masih berkaca – kaca, sejak tadi ia terus menangis.

“Foto itu….”

Dinchan berdiri, tak sanggup memandangi Yuya lagi, “Kau membenciku?”

“Hah?”

“Hahahaha…”, Dinchan tertawa sinis, membuat Yuya menydari sesuatu.

Yuya ikut beranjak, meraih bahu Dinchan, “Katakan padaku…ia tak melakukan apapun…”

Dinchan menangis dalam diam, ia tak mau menjelaskannya.

“Dinchan…”, paksa Yuya pelan.

“Ia….Hiro….melakukannya…”, kata Dinchan di sela tangisnya.

Yuya bahkan tak tahu apa ia masih bisa berfikir jernih atau tidak untuk saat ini.
——————–

Yuya duduk di sofa, dengan tatapan kosong ia sama sekali tak ingin berdebat soal apa yang dilakukan Hiro pada Dinchan. Sampai malam ini Dinchan sama sekali menolak untuk keluar kamar, bahkan ketika Yuya menyuruhnya makan.

Orang tua Dinchan, seperti yang sudah Dinchan kira, akan datang. Mereka bergegas pulang dari luar negeri ketika mendengar berita dari pengurus keluarga.

Pertemuan keluarga akan diadakan malam ini, Yuya hanya berharap semoga Ayahnya masih berfikiran jernih dan tak berbuat hal yang membuat Dinchan semakin terpuruk.

Pintu kamar terbuka, Dinchan keluar dengan wajah sembab.

“Daijoubu?”, tanya Yuya ketika melihat Dinchan keluar.

Tak menjawab, Dinchan duduk disebelah Yuya.

“Ah iya…bodoh sekali aku..kau pasti tidak baik – baik saja…”, jawab Yuya lagi.

Dinchan tersenyum sekilas, tak mampu berkata apapun.

Tak lama, kedua orang tua Dinchan datang, disusul dengan orang tua Yuya.

“Kau baik – baik saja, nak?”, tanya Okaa-sama pada Dinchan yang hanya mampu menunduk, sementara Ayah Yuya dan Otoo-sama sedang berbicara serius di ruangan lain.

Suasana di apartemen kecil itu sungguh tidak nyaman. Yuya yang berbicara dengan Ibunya, Dinchan yang terus menangis di pelukan Okaa-sama, dan dua Ayah yang membicarakan masa depan Dinchan.

Setelah beberapa lama, Otou-sama dan Ayah Yuya datang.

“Dinchan…”, suara Ayah Yuya sedikit meninggi.

Dinchan menoleh menatap Ayah Yuya.

“Kami sudah putuskan, kau harus pergi ke luar negeri, setidaknya sampai semuanya tenang. Kau akan sekolah di Korea.”, kata Otou-sama, suaranya melembut.

“Sebentar!! Apa – apaan ini?”, tolak Yuya yang berdiri secara tiba – tiba.

“Yuya~”, panggil Ibunya lirih.

“Ayah… ini.. aku tak setuju!!!”, pekik Yuya.

“Diam Yuya!! Aku tak butuh penolakan saat ini.”, tegas Ayahnya.

“Tidak Ayah!!! Ini melarikan diri… ini tak menyelesaikan apapun!!!”, teriak Yuya lagi.

Dinchan berdiri, menarik lengan Yuya, “Aku tak apa – apa…”, kata Dinchan pada Yuya.

Menatap Dinchan, Yuya seakan tak rela.

“Orang kita sudah menagkap Hiro, dan ia kasus ini akan diproses segera…tapi Yuya.. kau harus memikirkan perasaan Dinchan..”, kata Ayah, membuat Yuya terdiam.

“Lalu, bagaimana dengan perasaanku??”, kata Yuya lirih.
—————

“Kau benar – benar akan pergi??”, tanya Opichi di bandara.

Tidak kurang dari dua minggu, ia mengantarkan dua orang yang plaing ia sayang pergi ke luar negeri. Air matanya kini tak bisa ia bendung lagi.

“Opichi…harusnya aku yang nangis…”, kata Dinchan sambil amsih memeluk Opichi.

“Aku gak rela… kenapa harus kayak gini??”, kata Opichi di sela isak tangisnya.

“Aku bakal balik….”, kata Dinchan lagi.

Opichi tetap menangis, sementara Yuya hanya memandang Dinchan yang berusaha tegar.

Okaa-sama dan Otou-sama yang akan mengantar Dinchan ke Seoul sedang pergi membeli sesuatu.

Opichi melepaskan diri, membiarkan Yuya berbicara dengan Dinchan.

“Kenapa Yuya?? Bukannya dengan begini, harusnya kau menceraikan aku saja?”, tanya Dinchan yang tak habis pikir dengn keputusan Yuya yang tidak ingin melepaskannya.

“Aku tak mau…”, jawab Yuya lirih.

“Aku tak butuh belas kasihanmu..”, kata Dinchan sinis.

Yuya menggeleng, “Aku tak mau melepasmu…itu saja..”, kata Yuya lagi.

Dinchan tak menjawab, “Alasan ini sudah sangat kuat. Bahkan Ayah saja sudah setuju jika kau dan aku bercerai. Iya kan?”, kata Dinchan tetap tak mau kalah.

“Itu kan kata Ayah…”

“Dan kau tahu, dengan ini kau bisa berkencan dengan siapa saja setelah ini…”

Yuya kembali terdiam, tak sanggup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di hatinya.

“Atau kau mau menungguku pulang? Baru kita bercerai?? Itu lama sekali Yuya…”, ujar Dinchan lagi, tak membiarkan Yuya mengatakan apapun.

Yuya menatap mata Dinchan, yang kini terlihat lebih tegar, bukan Dinchan yang pertama kali bertemu dengannya dan masih sangat manja. Dinchan yang kini ia lihat adalah Dinchan yang lebih kuat.

“Yuya…”, panggil Dinchan.

“Aku tak bisa…biarkan saja seperti ini…”, jawab Yuya akhirnya.

“Jangan membuat dirimu sendiri menderita…aku tak suka kau seperti ini…”, kata Dinchan.

“Aku akan menunggumu pulang… ingatlah.. kau masih istriku…”, kata Yuya membuat Dinchan tak mengerti.

Kata itu tertahan di tenggorokan Yuya hingga Dinchan masuk ke pesawat, hingga Dinchan meninggalkannya.
———————–

3 Years later~ ^Keio University^

“Kau kemana hari ini?”, tanya seseorang pada Opichi yang terlihat tergesa – gesa.

“Hmmmm~”, Opichi tak mau menjawab.

“Pacarmu pulang?”, tanya temannya lagi.

Opichi tersenyum dan melambai pada temannya itu, “Aku harus pergi.. mata ashita!!!”, serunya.

Kembali mengecheck e-mail di ponselnya, ia yakin kalau itu tak salah lagi.

From : kei_inoo@mail.com
Subject : well, yeah..
Narita airport, jam 12.
Kalau kau tak datang, aku akan datang
Ke rumahmu untuk melamarmu..
P.S : berangkat dengan Yabu, aku sudah
menyuruhnya menjemputmu.

Opichi hanya tersenyum menanggapi e-mail itu. Tiga tahu di Amerika tak membuat seorang Inoo Kei sedikit dewasa. Sikapnya masih kekanakan, bahkan bila ditanya apakah Inoo pernah lost contact dengannya? Jawabannya sama sekali tidak.

Bahkan Opichi merasa ia benar – benar bertunangan dengan Inoo saat Inoo mengatakannya lewat telepon setahun lalu. Tanpa cincin, tanpa makan malam romantis, tapi Opichi percaya dengan semua kata – kata Inoo.

Yabu melambai ke arah Opichi yang melangkah keluar dari halaman depan Keio University.

“Hei!!”, seru Yabu.

“Yabu-kun…ayo…”, kata Opichi, dan kaget karena di dalam mobil sudah ada Daiki.

“Opichiii~”, sapa Daiki.

“Kau ikut juga?”, tanya Opichi bingung.

“Apa yang kau harapkan?? Hahahaha. Kami semua ikut tentu saja. Hika-kun akan menyusul dari tempatnya bekerja, dan Yuya… dia juga segera datang.”, jelas Daiki.

Opichi hanya mengangguk, hatinya kini berdebar. Jika semua sahabat Inoo pun datang, maka Inoo benar – benar datang.

= Narita Airport…. time : 12.00 PM=

Opichi membiarkan dirinya duduk sementara Yuya duduk di sebelahnya, “Kau ada kabar dari Dinchan?”, tanya Yuya setengah berbisik.

Menoleh, Dinchan tak menyangka mendapat pertanyaan itu dari suami Dinchan.

“Maksud kau? Bukankah kau ini suaminya?”

Yuya menggeleng, “Iya… tapi ia tak mau mengangkat teleponku, tak membalas e-mail q, apa aku harus ke Korea untuk menjemputnya?”

“Kenapa ia marah?”, tanya Opichi yang sudah hapal betul dengan sikap Dinchan yang tak mungkin marah tanpa alasan.

“Hmmm~ entahlah… aku bertanya kapan ia pulang? Lalu ia bertanya kenapa aku bertanya seperti itu? Lalu kujawab hanya ingin tahu, dan ia menutup teleponku.”

“Ia kesal dengan sesuatu mungkin?”, tanya Opichi lagi.

“Aku tak tahu…”, keluh Yuya lagi.

“Aku akan mencari tahu… jadi, singkirkan wajah memelasmu itu!!”, seru Opichi kesal.

“Kei-chaaaannn!!!”, teriak Daiki yang membuat Opichi dan Yuya serentak bangun.

Ia masih Kei yang dulu. Wajah itu, senyum itu, tatapan itu, masih Inoo yang ia kenal tiga tahun lalu, masih Inoo yang selalu menggodanya, Inoo yang membuat janji dengannya walaupun Opichi tak pernah menjawabnya.

Opichi tak mampu bergerak dari tempat ia berdiri, sama sekali tak mampu menghampiri orang yang akhirnya dapat merebut hatinya.

Seketika Inoo melihat Opichi.

Tanpa aba – aba, Inoo meraih Opichi dalam pelukannya, “Bodoh~ jangan terlihat shock gitu..”, kata Inoo.

Dan tanpa sadar, Opichi menangis, akhirnya ia mau menangis di hadapan Inoo, terisak hebat karena rasanya Inoo ada disini seperti mimpi.

“Berhenti menangis…”, perintah Inoo lembut.

“Huwaaaaaaa~”, tangis Opichi justru semakin keras.

“Mukamu sembab..makanya jangan nangis terus…”, kata Inoo setengah mengejek ketika mereka sudah sampai di rumah Inoo.

Opichi cemeberut, “Aku hanya lega melihatmu di depanku…”, kata Opichi mengakuinya.

“Jadi, sekarang bukan lagi sedikit? Kau suka aku kan?”

Opichi membuang muka, malas menjawab Inoo.

“Kei-chan..aku pulang ya… aku harus menejmput kekasihku..”, kata Hikaru berdiri dan pamit.

“Baiklah..aku juga…”, kata Yuya ikut berdiri, “Pesta nya belum dimulai kan??”

“Iya Kei-chan…party!!”, seru Daiki heboh.

“Hahaha~ baiklah… besok malam ok?? Do’akan aku berhasil..”, kata Inoo lagi.

“Kalo gitu aku juga pulang~”, Opichi hendak berdiri ketika tangan Yabu mencegahnya.

“Kau tak boleh pulang…”, kata Yabu lalu menggamit lengan Daiki.

“Kemana Yabu-kun??”, protes Daiki.

“Kita harus pergi!!”, kata Yabu lalu melambai ke arah Inoo.

“Kenapa aku gak boleh pergi???”, protes Opichi.

Inoo tak menjawab, dan meninggalkan Opichi ke dalam, menuju dapur.

“Champagne??”, tawar Inoo.

Opichi menggeleng, ia tak suka minum beralkohol.

“Hmmmm~ bisa tolong ambilkan kue disana?”, kata Inoo yang masih di dapur.

Opichi menghampiri Inoo yang berada di dapur. “Dimana?”

“Itu…”, tunjuk Inoo dengan dagunya.

Sebuah nampan tertutup, tidak transparan. Opichi membukanya, dan mendapati sepasang cincin di atas nampan itu.

Tangan Inoo tanpa aba – aba melingkar di badan Opichi.

“Itu janjiku…cincin tunangan kita…”, bisik Inoo.

“Huwaaa~ Inoo..”

“Kei…Kei-chan…”, perintah Inoo.

“Kei..ini…ini…apa?”

Inoo meraih cincin itu, dan menyematkannya pada jari manis Opichi, tangan kanannya.

“Will You?”

“Hah?”

“Will you still here even when I become older?”

Opichi berbalik, memeluk Inoo, “I do…”

———————–

TBC~
hahahahahahahahhaha
masih TBC~ kalo diterusin ntar kepanjangan!! hahahaa
tunggu chap selanjutnya aja..gak akan lama kok..LOL

Advertisements

6 thoughts on “[Multichapter] Married By Accident (story 10)

  1. Anonymous

    wakakakkaa…
    bagian q nya bagus banget…
    sankyuu, cherie!!!!!
    ahahhahaa
    jd pengen kei inoo
    *plakk

    bagus”…q nunggu selanjutnya
    tp ttp AIL
    *santet c nuy

    Reply
  2. Anonymous

    tw apaan?

    iah q tw qo km bikin sepenuh hati…
    jd pngn baca lg
    *diseret toma*
    toma, salahin din yg bikin q kesem” lg ma kei. pdhl br bbrp jam yg lalu q bilang cinta ma toma..
    din jahat…

    akakakka…
    km jg kena santet
    karena km ma emak nuy yg bikin
    ahahahahhaha

    Reply
  3. dhechinen

    “Hanguke Hwannyeong hamnida” ^__^

    hihihihi

    aaaa Din main kabor ke korea aja nich –__–
    ntar nyari suawmi baru lagih nih~

    wkwkwk

    >>di hjar< <
    aiyooo segeraaa sambunggggg

    >//<

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s