[Multichapter] Married By Accident (story 9)

Title : Married By Accident
Chapter : Nine
Author: Tegoshi Din
Pairing : as you know, Dinchan x Takaki, Opichi x Inoo
Genre : Romance
Rating : PG menjurus ke NC-17 *digeplak*
Starring : Takaki Yuya, Inoo Kei, Dinchan, Opichi, Hiro…and rest member of HSB
Disclaimer : Dinchan and Opichi belongs to themself, Hey!Say!BEST belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story…so read it happily
kalo keberatan ama nama saia..silahkan sebelum dibaca, ganti pake nama sendiri..
itu OC kok~ hehehe..^^
Maaf menjurus ke NC-17… saia sedang ingin buat yang kayak gitu..xP tapi jamin gak ada apa – apa kok…hahahaha!
as usual…COMMENTS ARE LOVE…

Married By Accident
~Story Nine~


Malam menjelang, sudah hampir pukul lima sore. Yuya melihat kea rah jam dinding dan kembali ke ponselnya yang rasanya tak ada tanda kehidupan sama sekali.

“Menunggu teleponnya?”, Tanya Hikaru sambil duduk di seblah Yuya.

Yuya menoleh, tak ingin menjawab karena gengsi.

Hikaru tertawa kecil, “Kau khawatir kan? Akui saja…”, kata Hikaru lagi.

“Aku tak mau mengganggunya, makanya aku akan pulang jika ia meneleponku saja…”, jawab Yuya akhirnya.

“Tapi kau begitu gelisah sejak pagi…”, ujar Hikaru lalu menyalakan televisi di hadapannya.

Yuya menggeleng lemah, “entahlah…aku khawatir padanya…”, jawab Yuya.

“Pulanglah kalau begitu…kupikir kau harus pulang…”, saran Hikaru.

“Baiklah…aku pulang kalau begitu…”, Yuya beranjak dari duduknya, “terima kasih kau membiarkan diriku disini seharian…”

Hikaru mendorong bahu Yuya, “Kau tak perlu minta izin untuk masuk ke kamarku…hahahaha..”

“Hahaha..”, balas Yuya lalu keluar dari kamar itu.

“Tadaima….”, seru Yuya dari pintu depan.

Tak ada jawaban seeperti biasanya, Yuya melangkah masuk dan mendapati ruangan tengah itu begitu berantakan.

“Dinchan?”, panggil Yuya akhirnya.

Tetap tak ada jawaban.

Yuya mencoba mencari Dinchan di kamarnya, tapi ia tak menemukan juga sosok Dinchan.
Pikirannya mulai kalut, apalagi ruang tengah yang bernatakan itu, sama dengan berantakannya kamar milik Dinchan.

“DINCHAN??!!!”.

Orang yang sejak tadi ia cari, tergeletak di bawah pancuran kamar mandi, Dinchan sadar, namun tampak kosong, tampak terguncang hebat. Ditambah memar di wajahnya, Yuya semakin khawatir mrlihatnya.

Tubuh Dinchan gemetaran, ia bahkan tak sanggup untuk bergerak dari tempatnya, hatinya hancur, tubuhnya sakit di segala tempat, bahkan untuk bergerak sekalipun dia merasa tak mampu.

“Dinchan?”, panggil Yuya lagi.

Ia tak menjawab, tubuhnya kedinginan, tapi ia tak mau beranjak dari bawah shower itu. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghapus segalanya.

Tak lama, ia merasa dirinya sangat pusing, entah sudah berapa jam ia disitu, tubuhnya terasa melayang, dan ia tak ingat apa – apa lagi.
————
Perlahan, Yuya merebahkan tubuh Dinchan di atas kasur, ia memanggil Opichi dan membiarkan Opichi mengganti pakaian Dinchan, karena ia tak mungkin melakukannya sendiri.

“Ia kenapa ya?”, Tanya Opichi terlihat khawatir.

Yuya menggeleng, “Aku tak tahu…Hiro datang tadi pagi, aku meninggalkannya, dan saat aku pulang, rumah ini sudah seperti ini…”, kata Yuya sambil terus membersihkan ruang tengah, dibantu oleh Opichi.

Opichi merasa sedikit ketakutan terjadi seuatu pada Dinchan, namun hingga hampir jam sembilan, tak ada tanda Dinchan akan bangun.

“Kau sebaiknya pulang…”, saran Yuya.

Opichi mengangguk, “Kau harus beritahu aku apa yang terjadi jika ia sudah sadar…mengerti??”, pinta Opichi.

Yuya mengangguk, “Aku mengerti…”

Setelah Opichi pergi, Yuya hanya memandangi Dinchan dengan heran. Dirinya tak habis pikir kenapa ia melihat Dinchan sangat sedih ketika di kamar mandi tadi? Yuya berusaha menghapus pikiran – pikiran anehnya.

Hampir tengah malam ketika Dinchan membuka matanya, Yuya masih terjaga tanpa sedikitpun kantuk menyerangnya. Dinchan mengerjap sebentar, menoleh dan mendapati Yuya duduk di bangku, di sebelah ranjangnya.

“Dinchan?”, panggil Yuya snagat pelan.

Tanpa Dinchan sadari, dirinya kembali menangis, “Huwaaaa!!!”, Dinchan tampak histeris.

Yuya berusaha mendekati Dinchan, namun kali ini Dinchan menolak sentuhan Yuya, mendorong keras bahu Yuya.

“Kau kenapa?”

“Lepaskan…kumohon!! Kumohon!!!”, air mata Dinchan tak berhenti.

“Dinchan!! Kau kenapa?”, Tanya Yuya lagi setengah berteriak, menghampiri lagi Dinchan.

“AKU BENCI HIRO!! AKU BENCI HIRO!!!”, teriaknya lagi.

“Ini aku…ini Yuya…Dinchan…”, berusaha keras membuat Dinchan focus, Dinchan yang terus menerus memukuli Yuya tanpa ampun.

Yuya memegang bahu Dinchan, memaksa wajah Dinchan melihat ke arahnya.

“Ini aku…ini Yuya…”, jelas Yuya lagi.

Awalnya Dinchan menolak, namu akhirnya tersadar kalau yang sedang berada di hadapannya adalah Yuya.

“Yuya…”, panggil Dinchan lirih.

“Ini aku…”, jawab Yuya pelan.

Dinchan kembali menangis, kali ini ia tak diam, ia membenamkan kepalanya di dada bidang Yuya, tangisnya makin keras, ia juga tak mampu menjelaskan apapun untuk saat ini. Tapi Yuya tak melepasnya, membiarkan Dinchan di pelukannya.
——————

Keesokan paginya Dinchan tiba – tiba sudah ada di dapur, lengkap dengan celemeknya, tapi sedikit agak muram. Yuya kaget karena ia pikir Dinchan masih di kamarnya.

“Kau baik – baik saja?”, Tanya Yuya.

Dinchan mengangguk, dan tersenyum aneh, maksudnya itu bukan senyumnya yang biasa.

“Maaf semalam aku hanya sedikit panik… maafkan aku…”, katanya masih sambil mencuci sayuran di hadapannya.

“Kau semalam histeris.. apa Hiro melakukan sesuatu padamu?”, kata Yuya lagi.

Dinchan tak menjawab, Yuya bisa melihat Dinchan terdiam tak bergerak ketika ia menanyakan hal itu.

“kau juga memar.. apa ia memukulmu??”, tanya Yuya lagi.

“Kami putus..”, jawab Dinchan pelan.

‘Hah? Apa karena putus lalu Dinchan terlihat se-frustasi tadi malam?’, batin Yuya bertanya – tanya akan keadaan Dinchan.

“Oh…kau benar – benar baik – baik saja?”, tanya Yuya lagi.

Dinchan berbalik dan tersenyum lagi, “Hanya…sedikit sedih..”, katanya lalu tiba – tiba merasa dirinya tak mampu menahan air mata nya.
——————

From : kei_inoo@mail.com
Subject: kau!!
Berani tak mebalas e-mail ku hah??
Jangan – jangan kau lagi selingkuh??

To: kei_inoo@mail.com
Subject : re:kau!!
Maaf..semalam aku di rumah Dinchan
Hingga larut malam..
Aku tak bisa menjelaskannya di e-mail..
Terlalu kalut hari ini…
Maafkan aku..
Aku akan mengirim e-mail lagi nanti…

From: kei_inoo@mail.com
Subject : ok desu..
Nanti aku telepon…

Setelah membaca balasan itu, Opichi heran melihat Dinchan yang datang pagi itu, disusul Yuya sih, itu artinya mereka pergi berdua. Tapi, dengan wajah se – memar itu, Dinchan berani datang ke sekolah?

“Dinchan?”, tanya Opichi saat Dinchan sudah duduk di sebelahnya, karena Dinchan tampak muram.

“Ya?”, jawab Dinchan cepat, seakan tersadar dari lamunan.

“Kau baik – baik saja?”, tanya Opichi pelan.

“Un!! Daijoubu…”, jawab Dinchan ceria.

Opichi heran, agak aneh melihat sikapnya sekarang, jika melihat keadaannya semalam.

“Maji ka yo?”, Opichi berusaha bertanya lagi.

“Hmm..aku harap aku baik – baik saja…”, jawab Dinchan cukup pelan, tapi Opichi bisa mendengarnya.

“Hah? Maksudmu?”

“Aku baik – baik saja…”, jawabnya lagi.
—————

Terdiam tanpa ingin berbuat apapun, Dinchan menengadah melihat langit sore di atap sekolahnya. Sudah dua minggu sejak kejadian itu, ia masih tak bisa berfikir jernih atas semuanya.

Tak boleh ada yang tahu, terlebih lagi orang tuanya.

Apa kata Otou-sama nanti? Sementara dirinya sebenarnya sudah punya suami. Kembali menitikkan air mata setiap Dinchan teringat pada kejadian itu, ia benar – benar ingin bisa amnesia.

-Flashback-

“Jangan Hiro-kun!!!”, mata Dinchan mulai basah dengan air matanya. Ia mulai berharap Yuya datang, menyelamatkannya, entah kenapa ia baru sadar, Yuya walaupun selalu berada di dekatnya, tak pernah berbuat macam – macam padanya.

“HIRO-KUN!!!”, teriak Dinchan ketika Hiro mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain.

Dinchan menangis tersedu – sedu. Tangannya sakit karena dicengkram keras oleh Hiro, ia tak tahu harus berbuat apa selain menangis.

Hiro tak lagi segan pada Dinchan, tangannya menggerayangi setiap inci dari tubuh Dinchan, masih mencoba melawan, Dinchan terus mendorong bahu Hiro sekuat tenaga.

Ia berhasil melepaskan diri, dengan tenaganya yang masih tersisa, Dinchan mencoba kabur, namun Hiro mencengkram lengan Dinchan, membanting tubuhnya hingga membentur meja tamu.

“Hiro…”, panggil Dinchan lirih.

PLAK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dinchan, membuatnya semakin terisak. Dinchan kembali mencoba berdiri, kali ini Dinchan mencoba melempar Hiro dengan sebuah pajangan di dekat telepon, namun Hiro berhasil mengelak, mendekati Dinchan dengan tatapan penuh amarah.

Hiro menarik tubuh Dinchan yang masih terus menangis, membawanya ke kamar Dinchan, membuat daerah ruang tamu berantakan karena tersenggol tubuh Dinchan.

“Sakit…”, kata Dinchan yang masih terkilir saat itu.

“URUSEEE!!!”, teriak Hiro lalu menarik Dinchan hingga berdiri, melempar tubuh Dinchan ke atas kasur, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

Masih terisak, Dinchan tak mau menyerah, ia berusaha bangkit, namun Yuya mendorongnya hingga menabrak lemari buku, membuat sebagian besar buku disitu berhamburan.

“Kau yang mebuatku seperti ini…”, bentak Hiro.

Kini tubuh Dinchan tepat berada di bawah tubuh Hiro, dengan kasar Hiro menarik sabuk yang ia kenakan, mengikat tangan Dinchan yang sejak tadi masih berusaha melawannya.

“Nande?!!”, tanya Dinchan.

PLAK!

Hiro kembali menampar Dinchan yang sama sekali sudah tak berdaya.

“Kau…butuh berapa lama menyadari kalau aku pacar kakakmu? Hah?!!”

Ingatan Dinchan berkelebat. Kakak perempuannya saat itu berpacaran dengan pria, Otou-sama marah, Kakaknya di jodohkan dengan orang lain dan menolaknya dengan keras. Itu kakak kembarnya, yang seumuran dengannya.

“Nakashima Hiro??!! Ingat??!! Ingat???!!!!!”, bentak Hiro keras.

Dinchan sudah melupakan hal itu. Ia tak mau lagi mengingat saat kakak kembarnya bunuh diri karena menolak perjodohan itu. Sudah berlalu dua tahun lalu, sehingga bahkan ia nyaris tak ingin membuka kembali lembaran itu.

“KALAU SAAT ITU KAU MAU MENGGANTIKANNYAAA??!! IA TAK AKAN MATI!!!!”, bentak Hiro lagi.

Ya, saat itu kakaknya meminta ia menggantikan dirinya di acara perjodohan itu. Ia menolak, lagipula Okaa-sama selalu bilang kalau ia juga sudah punya jodoh sendiri, namun karena Otou-sama tahu kakaknya menjalin hubungan serius dengan pria lain, Otou-sama memepercepat perjodohan kakaknya, tidak seperti dia yang dijodohkan saat berumur 18, kakaknya harus saat 16 tahun.

Hiro kini memukul keras wajah Dinchan, “Kau…kau yang membuatnya mati…kau yang mebuat dia meninggalkan aku!! Kuakui wajahmu sangat mirip dengannya… tapi aku tak bisa membiarkan Ranchan meninggal karena kau!!! KAU!!!”

Dinchan menangis tanpa suara, ingatan yang selalu ia coba hilangkan, rasa pedih saat melihat tubuh Ranchan tergantung di dalam kamar mereka, sehingga Dinchan bahkan harus ke psikiater selama setahun lebih untuk menghilangkan trauma nya.

“Ini untuk Ranchan… aku harus menghancurkan HIDUPMU!!!!”, teriak Hiro kembali menampar Dinchan.

-Flashback end-

Dinchan mendapati dirinya berada di depan altar Ranchan, menangis terisak saat melihat foto Ranchan dan dirinya.

“Ranchan…”, panggil Dinchan lirih.

Seragamnya sudah tak lagi bersih karena ia berlari dari sekolah menuju tempat ini.

Pikirannya kosong, ia bahkan tak mampu melihat altar itu karena matanya terlalu kabur untuk melihatnya.

Sudah dua tahun ia tak datang kesini, hatinya terlalu sakit untuk sekedar mendatangi altar ini. Memory nya seakan sengaja ia hapus untuk kejadian Ranchan dan dirinya. Selama setahun penyembuhannya, Okaa-sama menyingkirkan semua hal yang berhubungan dengan Ranchan, karena itulah ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia melihat fotonya bersama Ranchan.

“Nee-chan…maafkan aku…hikz..maafkan aku…”, kata Dinchan ditengah isakannya yang semakin menjadi.

“Masih berani kesini?”

Dinchan menoleh karena menyadari suara itu.

“Hiro…”

Hiro tertawa mengejek, “Merasa bersalah?? Kau masih berani datang ke sekolah?? HAH??!!”, teriak Hiro yang kini sudah mendekati Dinchan.

Tubuh Dinchan bergetar hebat, matanya ketakutan melihat sosok Hiro.

Hiro kini berjongkok di hadapan Dinchan yang sudah terduduk karena ketakutan, “Kau masih harus diberi pelajaran ya?!!!”, ujar Hiro dengan tatapan sinis.

“Kau lihat Dinchan?”, tanya Yuya pada Opichi yang baru saja hendak pulang.

Opichi menggeleng, “Aku juga mencoba mencarinya, tapi tidak menemukannya…”, ia juga terlihat panik, ditambah ponsel Dinchan yang tidak aktif.

Yuya kalut, ia bingung namun tak tahu harus melakukan apa. Mencoba memeriksa kolong meja
Dinchan, sehingga setidaknya ia mendapatkan petunjuk, Yuya mendapati tangannya menyentuh selembar foto. Yuya menariknya, kaget dengan apa yang dilihatnya.

Opichi menghampiri Yuya, mencoba melihat apa yang ada di tangan Yuya.

“Ia….kembar??”, kata Yuya pelan.

Opichi tahu segalanya, ia juga ada di sana saat kejadian itu berlangsung. Dinchan yang kesakitan, Dinchan yang mencoba bunuh diri juga karena kakak kembarnya meninggal.

“Kau tahu?”, tanya Yuya pelan.

Opichi mengangguk. Sudah saatnya, Yuya harus tahu, maka Yuya bisa melindungi Dinchan.
————

TBC alias To be continued…
wakakakak!
silahkan di komen…maaf kalo agak2 aneh..saia kan emang aneh…LOL
douzo…xP

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Married By Accident (story 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s