[Multichapter] Married By Accident (story 8)

Title : Married by Accident
Author : Dinchan
Chapter : Eight
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : as you know, Dinchan x Takaki, Opichi x Inoo
Fandom : Johnny’s Entertainment, Desperate Housewives. I don’t own them…
it’s just a fanfic..read it happily…just for fun minna~
kalo keberatan ama nama saia..silahkan sebelum dibaca, ganti pake nama sendiri..
itu OC kok~ hehehe..^^ comments are love!!

Married By Accident
~story Eight~


Dinchan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Siapa?”, tanya Dinchan lagi.

“Kamu…”

“Hah?”

“Kamu gak perlu tahu…”, katanya lagi.

“Oh…”, entah kenapa Dinchan sedikit kecewa mendengar penuturan itu.

Dinchan duduk di sebelah Yuya, membiarkan dirinya dan Yuya berfikir masing – masing. Tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kenapa Yuya gak mau ngasih tau aku??”

“Kenapa aku harus ngasih tau kamu?”, tanya Yuya balik.

“Tapi kan…”

“Apa?”

“Tapi Yuya tau siapa yang aku suka…”, kata Dinchan lalu memukul pelan bahu Yuya.

“Karena menurutku, gak ada gunanya kamu tau…”, jawab Yuya.

“Kenapa?”, Dinchan masih saja bertanya.

Yuya berdiri, “Karena ini hanya cinta sepihak…”, jawabnya lagi dan berlalu dari Dinchan.

————-
Baru sehari Inoo pergi, Opichi terus menerus melihat e-mailnya, berharap Inoo memberi kabar bahwa dia sudah sampai dan baik – baik saja.

Kenapa orang itu sama sekali gak memberi kabar?

Tapi Opichi memaki dirinya sendiri, kenapa ia baru menyadari kalau Inoo cukup penting untuknya sehingga pada saat dia tak ada, rasanya malah aneh.

“Opichiii~”, Dinchan mengagetkan Opichi yang masih saja memandang kosong ke layar Handphone nya.

“Kau sudah pulang?”, Opichi lihat, kulit Dinchan sedikit terbakar matahari, walaupun itu akan pulih dalam beberapa hari, tetap saja terlihat berbeda.

Dinchan tersenyum lalu mengangguk.

“Bagaimana? Kau sudah melakukan apa?”

Dinchan secra refleks memukul pelan lengan Opichi, “Mana berani dia melakukan sesuatu padaku?”, kata Dinchan mengelak, membuat Opichi tergelak.

“Apa yang lucu?”, tanya Dinchan heran.

“Yang aku tanyakan apakah kau maen banana boat? Atau berjemur? Atau apa? Kau berfikiran aneh – aneh ya?”, ejek Opichi.

Wajah Dinchan memerah, “Apa sih Opichi??”

“Kalau sudah menikah memang beda ya…”, ejek Opichi lagi lalu melarikan diri sebelum Dinchan sempat membalasnya.

Sementara itu, di atap sekolah, terlihat Yuya dan ketiga temannya yang beristirahat dan sebenarnya sedikit menghindar dari berbagai teriakan dan cewek – cewek sekolah yang sampai sekarang masih saja histeris melihat mereka.

“Kei jahat sekali tak menungguku kembali dan pergi ke Amerika..”, keluh Yuya melihat eksal pada e-mail yang dikirimkan oleh Inoo tadi pagi.

Hikaru menepuk bahu Yuya, “Ia ingin menunggumu, tapi ayahnya sudah menyuruhnya pergi duluan.”, kata Hikaru.

Daiki mengagguk penuh semangat, “Iya…bahkan karena tak ada Yuya, kita sama sekali tak melakukan farewell party..”, keluh Daiki.

“Tapi Inoo menyuruh kami menanyakan sesuatu…”, kata Yabu melirik Hikaru.

“Apa?”, tanya Yuya acuh tak acuh.

“Well, Yuya…kau sudah berhasil?”

“Berhasil apa?”, elak Yuya sambil memainkan ponselnya, tampak tak tertarik dengan apa yang ditanyakan Hikaru.

“Melihatnya saja aku sudah tahu…”, cibir Yabu.

“Kalian membicarakan apa sih?”, tanya Daiki yang tampak tak mengerti.

Yuya mengangkat bahu, “Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan…”

“Yuya…kau tahu sudah berapa lama kita berteman?”, tanya Hikaru yang kini duduk di meja.

Yuya menghitung dengan jarinya, “18 tahun??”

“17 tahun buatku…”, protes Daiki.

“Iya….”, kata Yabu memotong.

“Tepat..”, kata Hikaru, “Jadi, kau tak perlu mengatakannya pun kami sudah bisa membaca perasaanmu..”

“Maksudmu?”

Yabu menghela nafas, “Kau jatuh cinta pada istrimu kan?”

Sukses membuat Yuya menjatuhkan ponselnya.

“Apa? Hah?? Gak mungkin…”, elak Yuya dan segera mengambil ponselnya yang jatuh.

Yabu menggeleng, “Percuma kau bohong pada kami…”

Daiki kembali mengagguk penuh semangat di sebelah Yabu.

Yuya menghembuskan nafas berat, “Tak perlu…aku tak punya kesempatan itu… dia terlalu membenciku..”
————
Baru sehari mereka pulang dari ‘bulan madu’ mereka, tapi Dinchan sudah hampir pukul setengah sepuluh, tampaknya tak ada tanda – tanda ia akan pulang.

Yuya memandang jam dinding dengan marah. “Kenapa cewek aneh itu belum pulang??!!”, gerutunya kesal.

Ia mengambil ponselnya, kembali ia dial nomer milik Dinchan.

“Gak aktif lagi…”, kata Yuya kembali mengeluh.

Yuya merasa dirinya sedikit agak pusing. Ia akui, ia sedikit kecapekan, ditambah ia memang belum makan sama sekali. Sejak pagi tadi ia memang sudah emrasakan ada yang salah dengan tubuhnya, tapi ia mengabaikannya malah ia sempat bermain basket dengan teman – temannya.

Dinchan menatap Hiro yang kini duduk disebelahnya, “Hiro-kun…sudah malam… kayaknya kita harus pulang deh…”, kata Dinchan sedikit berbisik.

Hiro menatapnya, “Kau kan hampir seminggu tak masuk sekolah, lalu kini mau pulang cepat?? Aku kan kangen kamu…”, elak Hiro yang sukses membuat pipi Dinchan memerah.

“Tapi…”, Dinchan tak bisa mengatakan apapun. Yang kini ia takutkan adalah kemarahan Yuya, belum lagi ponselnya mati karena habis baterai.

Hiro menarik lengan Dinchan, “Kita kemana ya??”, katanya tanpa sedikitpun menggubris Dinchan.

“Hiro-kun… kumohon… aku harus pulang…”, kata Dinchan sedikit memohon.

Hiro menatapnya, “Baiklah…”

Di depan apartemennya, Dinchan melambaikan tangan pada Hiro. Berbalik dan menyiapkan diri dari omelan Yuya.

Setelah naik tangga dan akhirnya berada di depan pintu apartemen kecil itu, Dinchan menarik nafas panjang, membuka pintunya pelan – pelan.

Tak terdengar suara apapun, tapi lampu masih menyala.

Dinchan mendapati Yuya tertidur di sofa. Sedikit lega, Dinchan melangkah melewati Yuya dan masuk ke kamarnya tanpa sedikitpun berniat membangunkan Yuya.

“Ah biarkan saja dia…”, gumam Dinchan.

Saat pagi ia bangun, Dinchan tak mendengar suara Yuya yang biasanya sudah ribut di pagi hari.

Dinchan keluar kamar, Yuya masih terbaring di sofa dengan keringat membasahi tubuhnya.

“Hah?”

Dinchan menghampiri Yuya, menyentuh dahi Yuya, “Ya ampun!! Dia demam…”, kata Dinchan yang baru sadar suami nya itu sakit.

“Yuya…”, panggil Dinchan pelan.

Yuya sama sekali tak bergerak, tapi mulutnya terlihat ekring, wajahnya pucat dan tampak sangat lemas.

“Yuya…bangun sebentar…”

Terbatuk sebentar, Yuya pelan membuka matanya, merasa kepalanya sangat berat dan pusing.

“Kau sakit?”, tanya Dinchan yang mulai khawatir, apalagi Yuya hanya menatapnya dengan pandangan bingung.

Dinchan pun memapah Yuya masuk ke kamarnya, “Kau harus ganti baju.”, kata Dinchan yang melihat baju Yuya basah oleh keringat.

Dinchan menatap jam dinding di dapur, sekarang ia sedang menyiapkan bubur untuk Yuya. Dilihatnya sudah jam sembilan, artinya ia sudah telat masuk sekolah.

Setelah menyuapi Yuya, lalu Dinchan pun memberinya obat demam.

“Kau kecapekan?”, tanya Dinchan di sela mengompres Yuya.

Tak menjawab, Yuya hanya diam, memperhatikan apa yang Dinchan lakukan.

“Kau tak sekolah?”, tanya Yuya.

“Baka~”, ucap Dinchan, “Mana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan sakit?”.

“Hmmm..”, Yuya menggenggam tangan Dinchan yang masih sibuk mengompresnya.

“Arigatou…”.
————–

“Kenapa kemarin kau tak masuk?”, tanya Daiki.

Yuya merebahkan kepalanya di meja, “Yah…aku demam…”

“Pantas saja…”, kata Yabu tiba – tiba.

“Pantas apa?”

“Istrimu juga tak masuk…hahahaha,”, jawab Yabu.

“Aku merepotkannya…”, keluh Yuya.

Hikaru menatap Yuya yang kini memandang ke arah bangku tempat Dinchan duduk, “Kau harusnya bilang saja padanya..”, sela Hikaru.

Yuya menggeleng.

Sementara itu Dinchan yang tertawa karena lelucon Opichi itu menoleh ketika seseorang memanggilnya.

“Hiro-kun tuh…”, kata Opichi.

Dinchan tersenyum pada Hiro dan beranjak dari kelas.

“Jadi??”, tanya Hikaru heran, “Dia??”

Yuya mengangguk pelan, “Ia tak mungkin suka padaku.”

“Sebentar Yuya…kau membiarkannya?”, tanya Yabu tiba – tiba.

“Shoganai na…aku tak bisa berbuat apapun…kita sudah membuat perjanjian…”

“Perjanjian apa?”, tanya Hikaru.

“Tak mencampuri urusan masing – masing…”, keluh Yuya kembali merebahkan diri di meja dengan lemas.
————–
“Kemana Hiro-kun?”, mata Dinchan membulat kaget.

“Ke apartemen mu…”, kata Hiro enteng.

Dinchan gelagapan, “Tapi buat apa? Buat apa Hiro-kun?”

Hiro memandang Dinchan aneh, “Tentu saja aku boleh mendatangi rumah pacarku sendiri kan?”, Hiro tampak marah.

Dinchan diam tak bisa menjawab apapun jika itu memang apartemennya, mungkin ia langsung saja meng iyakan ajakan Hiro. Tapi ini, maksudnya apartemen itu kan milik ia dan Yuya.

“Kau sebenarnya serius tidak denganku?”, tanya Hiro tiba – tiba.

“Baiklah…besok kan?? Oke..”, kata Dinchan gugup.

Opichi kembali melirik ponselnya untuk ke seribu kali nya. Tadi pagi – pagi sekali ia mendapati sebuah e-mail dari Inoo.

From: Inoo_kei@mail.com
Subject : jgn khawatir
Aku baik – baik saja.
Maaf baru memberi kabar..^^
Jangan berfikir kau bisa melirik pria lain…
-Kei-

Opichi langsung membalasnya, tapi hingga siang ini balasan dari Inoo tak kunjung datang. Ia bahkan setengah tak fokus pada pembicaraan guru sejak pagi tadi. Opichi sebal pada Inoo yang bukannya langsung memberinya kabar, malah menghilang hampir seminggu lamanya.

Belum sempat Opichi mebuka bekalnya, ponselnya bergetar, tanda e-mail masuk.

From : kei_inoo@mail.com
Subject: re:re:jgn khawatir
Aku bukannya menghilang…
Sedikit sibuk dengan kepindahanku..
Kau tak bisa mengancam akan selingkuh…
Aku punya empat bahkan lima mata2 q disana..
Wakatta??

‘Huwaaaa~’ Opichi merasa dirinya sangat senang bahkan untuk e-mail sesingkat itu. Ia segera membalasnya.

To : kei_inoo@mail.com
Subject : dasar jelek!!!!
Aku tak merasa harus takut pd mata2mu..
😛
Pokoknya kalau kau tak ada kabar, aku
Tak segan mencari pria lain.. 😛
Itu kan janjiku.. hahaha

From : kei_inoo@mail.com
Subject : re:dasar jelek!!!!
Kau harus takut…
Ingat..kau itu milikku…
Hahahaha~
Kau bilang aku harus ada kabar??
Akuilah kau sudah menyukaiku…

To: kei_inoo@mail.com
Subject : (no subject)
Hmmm~
Hmmmm~
Sedikit… *run*

Opichi merutuki dirinya sendiri ketika pesan itu sudah terkirim. Kenapa juga ia harus mengakuinya??
————-
Dinchan pulang ke apartemen cukup sore setelah menunggui Hiro latihan baseball. Sesampainya disana, ia lihat Yuya sedang menonton TV. Ia harus bilang pada Yuya sekarang, kalau bisa Yuya besok tak ada di rumah, mereka harus menyembunyikan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, ia tak mau Hiro tahu ia tinggal bersama laki – laki.

“Yuya…”, panggil Dinchan pelan.

Yuya menoleh, “Baru pulang? Jam berapa ini?”, tanya Yuya sedikit sinis.

“Aku kan Cuma terlambat tiga jam…jangan berlebihan… lama – lama kau seperti ayahku…”, gerutu Dinchan yang kesal dan sekarang ekhilangan kesempatan mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Yuya hanya diam.

“Aku akan masak…”, kata Dinchan yan langsung menuju kamar untuk ganti baju. Setelah itu langsung menuju dapur.

Tidak ada apa – apa disitu.

Hampir semua bahan kebutuhan pokok mereka habis.

Dengan takut – takut Dinchan menghampiri Yuya. “Yuya…bahan makanan kita habis…”, kata Dinchan yang sedikit gengsi menghampiri Yuya.

Yuya menoleh, “Ayo beli! Tak mungkin aku yang pergi sendiri kan? Cepat ganti baju..”, kata Yuya yang langsung mematikan TV dan beranjak dari sofa.

“Istri macam apa kau? Masa bahan makanan sampai habis?”, goda Yuya pada Dinchan di perjalan pulang.

“Dengar ya Yuya… aku kan Cuma lupa…lupa…”. balas Dinchan dengan nada kesal.

“Hahahaha…”, Yuya tertawa keras melihat ekspresi wajah Dinchan.

“Apa yang lucu?”

“Wajahmu..”, Yuya berdecak, “Apa ada yang mau lagi denganmu selain aku?”

“Yuyaaaa!!!”, teriak Dinchan yang kini sudah mengejar Yuya. “Awww~”, Dinchan terjatuh karena sendal yang ia kenakan adalah sendal dengan hak yang walaupun tak terlalu tinggi, namun pastinya bukan untuk berlari.

Yuya menghampiri Dinchan yang amsih meringis kesakitan.

“Aduh…kakiku…”, keluhnya pelan.

Yuya mengambil pergelangan kaki Dinchan, “Kau terkilir…ah kau ini… sampai kapan kecerobohanmu akan hilang? Hah?!”, kata Yuya lalu tertawa.

“Ini kan gara – gara Yuya..”, keluhnya.

“Baiklah…”, Yuya membantu Dinchan berdiri, mengambil semua belanjaan yang Dinchan pegang, lalu berbalik dengan posisi setengah jongkok membelakangi Dinchan.

“Maksudnya?”, tanya Dinchan heran.

“Ayo naik tuan putri….”, kata Yuya lalu tertawa.

Dinchan merasakan pipinya memerah, untung saja ini malam hari, sehingga terlalu gelap untuk melihat ekspresinya.

Akhirnya Yuya menggendongnya, sambil membawa semua belanjaan.

“Kau berat sekali…hahahaha..”

Dinchan memukul bahu Yuya, “Itu karena kau terlalu kurus…”, protesnya.

“Hahaha…belum lagi dadamu kecil sekali…mana ada pria yang mau denganmu?”

“YUYAAAAAA~”, teriakan itu memecah keheningan malam.
—————–

Dinchan lupa akan dirinya yang akan memberi tahu Yuya kalau Hiro akan datang. Sudah pagi, dan Yuya pasti belum bangun karena ini hari Sabtu.

“Ohayoooouu!!”, sapa Yuya yang ternyata malah sudah duduk di depan TV.

“Eh? Kau sudah bangun?”

“Ini sudah jam sepuluh tuan putri…kenapa kau baru bangun?”

“HAH?!! Yuya!! Kau harus pergi…harus pergi!!”, kata Dinchan mulai panik.

“Hah? Apa maksudmu?”, tanya Yuya heran.

Dinchan dengan jalan tertatih mencoba naik ke kursi, bermaksud melepaskan foto pernikahan mereka.

“Tunggu!!”, Yuya beranjak menghampiri Dinchan, “Ada apa ini?”

“Itu….itu… Hiro akan datang!!!”, seru Dinchan, “Jam sebelas… huwaaa~”, kata Dinchan panik.

“Hiro??”

“PACARKU!!!”, kini Dinchan benar – benar panik.

“Oh…”, Yuya kembali duduk di sofa.

“Kau harus menghilang dari sini… nanti apa kata Hiro aku tinggal bersamamu?”

“Kau kan istriku…apa salahnya?”, ujar Yuya tenang.

Dinchan mulai ingin menangis, “Yuya…kumohon…”, suara Dinchan bergetar.

“Baiklah…”, Yuya menarik turun tubuh Dinchan yang masih mencoba menurunkan foto itu.

“Awas… biar aku yang menurunkannya..kau siap – siap saja..”, kata Yuya pelan.

Yuya berjalan tanpa arah, niatnya seharian di rumah rusak oleh kedatangan pria lain istrinya.

Yuya merutuki dirinya sendiri ketika berfikir tentang kalimat ‘pria lain istrinya’, bukankah mereka memang suami – istri? Tapi kenapa rasanya cukup ganjil berfikiran seperti itu?

Yuya tertawa dan melanjutkan langkahnya, sejak awal ia tahu Dinchan dengan pria itu, ia sebenarnya merasa ada yang aneh dengan pria itu. Tapi Yuya sendiri tak bisa menjelaskan se aneh apa itu?

‘kenapa kau berfikiran yang aneh – aneh Yuya!!!’, makinya dalam hati.

Akhirnya Yuya memutuskan untuk ke rumah Hikaru karena menurutnya, tempat itu yang paling dekat dari sini.

“Hiro-kun… mau minum apa?”

Hiro memandang Dinchan dan kaki pincangnya, “Apa saja…”, katanya pelan.

Dinchan dengan tertatih mengambilkan minuman untuk Hiro.

“Arigatou~”, kata Hiro setelah menerimanya. “Kakimu kenapa?”, tanya Hiro setelah Dinchan duduk.

“Ini…semalam aku terkilir…”, jawab Dinchan.

“Oh…”

“Ya…hahaha..aku sedikit ceroboh…”

Hiro tiba – tiba menyimpan minumannya. Meraih bahu Dinchan yang duduk di sebelahnya.

“Ada apa Hiro-kun?”, tanya Dinchan bingung.

Hiro tak menjawab, tapi mendekatkan tubuhnya pada tubuh Dinchan, membuatnya sedikit takut.

“Hiro-kun…”, tolak Dinchan pelan.

Seakan tak mendengar Dinchan, Hiro mencium paksa Dinchan. Mencoba berontak, Dinchan mencoba mendorong Hiro, namun tentu saja itu sia – sia. Hiro terlalu kuat untuk Dinchan lawan.

“Jangan Hiro-kun!!!”, mata Dinchan mulai basah dengan air matanya. Ia mulai berharap Yuya datang, menyelamatkannya, entah kenapa ia baru sadar, Yuya walaupun selalu berada di dekatnya, tak pernah berbuat macam – macam padanya.

“HIRO-KUN!!!”, teriak Dinchan ketika Hiro mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain.

Dinchan menangis tersedu – sedu. Tangannya sakit karena dicengkram keras oleh Hiro, ia tak tahu harus berbuat apa selain menangis.
—————

TBC~
Maaaaaappppphhh~
Sudah lama gak di update…baru sekarang sempet update….COMMENTS ARE LOVE!!! ^^

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Married By Accident (story 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s