[Multichapter] Married By Accident (story 7)

Title : Married by Accident
Author : Dinchan
Chapter : Seven
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : as you know, Dinchan x Takaki, Opichi x Inoo
Fandom : Johnny’s Entertainment, Desperate Housewives. I don’t own them…
it’s just a fanfic..read it happily…just for fun minna~
kalo keberatan ama nama saia..silahkan sebelum dibaca, ganti pake nama sendiri..
itu OC kok~ hehehe..^^ comments are love!!

Married by Accident
~Story Seven~


Cahaya terang membangunkan Yuya dari tidur lelapnya. Sepertinya sekarang sudah cukup siang. Ia merasa tangannya tidak dapat bergerak bebas. Yuya menyipitkan matanya yang baru saja terbangun dari tidur. Mendapati sosok Dinchan sedang memeluknya erat.

Ya, mereka akhirnya malah tidur sekasur.

-flashback-

“Kau mau kemana?”, tanya Yuya ketika melihat Dinchan membawa serta selimut di ranjang itu.

“Aku tak bisa tidur berdua dengan orang seperti kau…”, omel Dinchan kesal.

“Kenapa? Ini kan bulan madu kita…”, kata Yuya.

Dinchan serta merta berteriak, “Kyaaa~ aku tak mau dengarrr!!! Jangan macam – macam denganku!!”, ancam Dinchan.

“Tapi itu selimut hanya satu!!Kembalikaaann!!”, kata Yuya yang sedang berbaring di kasur lalu mengejar Dinchan yang membawa serta selimut mereka.

Yuya menarik selimut yang kini di tangan Dinchan.

Dinchan kembali menarik selimut itu, “Tapi kau kan dapat kasur!! Jadi jangan protes…”

“Kau memilih untuk tidur di sofa luar, maka kau jangan berharap dapat selimut ini.”

“Egoiss!!!”, seru Dinchan kesal, namun tak rela melepaskan selimut itu.

Sebenarnya Yuya tak punya jawaban apapun, namun tetap menarik selimut itu. Selama ini Yuya selalu menikmati jika ia menjahili Dinchan. Entah kenapa, ekspresi di wajah Dinchan menurutnya sangat lucu, dan emosi yang tampak jelas di wajah Dinchan juga membuatnya sering menjahili gadis itu.

“Yuyyyyaaaa!!!”, teriak Dinchan.

“Kalau kau mau selimut, tidur di kasur saja..sama aku..hehehe..”, Yuya terkekeh melihat ekspresi Dinchan yang berubah takut.

“Kau itu berfikiran yang aneh – aneh ya?”, kata Dinchan lagi.

Yuya berdecak, “Bilang saja kau takut kan? Iya kan? Kau tak berani kan? Cewek polos memang membosankan…”, cibir Yuya.

Dinchan melotot, “Apa kau bilang? Yang suka padaku itu banyak tahu!!”, serunya membela diri.

“Mana ada yang suka pada cewek urakan macam kau?”, ejek Yuya lagi.

Secara tiba – tiba Dinchan kembali ke kasur itu lalu menarik selimut yang tadi mereka perebutkan. “Siapa bilang aku takut?”, tantang Dinchan.

Yuya membatin. Bukan reaksi seperti ini yang dia harapkan. Kenapa gadis itu malah menantangnya tidur sekasur. Maksudnya, walaupun ini bukan kali pertama, tapi kondisinya lain sekarang. Tidak ada Ibunya disini, mereka juga hanya berdua. Suasana ini harusnya sangat mendukung untuk pasangan suami – istri yang sebenarnya.

“Lihat? Siapa yang takut sekarang? Kamu tidur di sofa saja sana!!”, usir Dinchan.

Tentu saja dengan seperti itu, Yuya naik ke kasur itu juga, “Lihat saja…siapa yang akan turun dari sini duluan…”, kata Yuya tak mau kalah.

“Siapa bilang aku akan pergi dari sini?”, Dinchan berbalik dan memunggungi Yuya.

Setelah lewat tengah malam, Yuya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Kenyataan bahwa Dinchan ada di sebelahnya, malah membuatnya tambah tidak bisa tidur. Kenapa gadis itu bisa dnegan tenang tidur dengan pulas. Apa gadis itu tidak mengaggapnya sebagai pria normal yang bisa menyerangnya kapan saja?

Sejak tadi posisinya adalah memunggungi Dinchan yang juga memunggunginya. Yuya berbalik, dan baru sadar kalo kini Dinchan sebenarnya sudah berbalik menghadapnya.

Tanpa sadar, Yuya memerhatikan setiap inci dari wajah Dinchan yang sudah tertidur pulas.

“Ternyata memang kau hanya manis ketika sedang tidur. Kau tahu itu?”, kata Yuya sangat pelan.

Dinchan tentu saja tak mendengar hal itu, secara tiba – tiba menarik punggung Yuya dan memeluknya seakan Yuya adalah sebuah guling.

Kaget, Yuya tak berani melepaskan tangan Dinchan yang kini melingkar di badannya.

“Okaa-sama…”, gumam Dinchan dalam tidurnya.

-flasback end-

Tangan Yuya terasa pegal karena semalaman menyangga kepala Dinchan yang kini masih saja memeluknya.

Tak lama, Dinchan membuka matanya, mendapati seseorang begitu dekat dengannya.

“Siapa ya?”, gumam Dinchan pada dirinya sendiri.

Dinchan menyipitkan matanya, menatap wjah yang sudah tak asing baginya.

“KYAAAAAAAAAAAAA~”, teriak Dinchan mendorng keras badan Yuya.

Yuya tampak ikut panik, “Kau yang memelukku duluan!!”, seru Yuya membela diri.

“Bohong!! Mana mungkin? Pasti Yuya yang memelukku…”, Dinchan serta merta melihat tubuhnya, dan lega karena ternyata ia masih berpakaian lengkap.

“Kau yang semalam mengingau dan memelukku!! Dan aku tentu saja tidak melakukan apapun!!”, serunya kembali membela diri.

————
Opichi hanya mampu menunduk, sebenarnya ia sedikit lega, tapi juga begitu merasa kesepian.

“Maaf…”

Opichi menoleh. Inoo duduk disebelahnya, menyodorkan sekaleng orang juice dihadapannya.

“Kenapa pasang wajah sedih gitu? Segitu gak mau aku gak ada?”, kata Inoo tertawa pelan.

Opichi meneguk juice nya dengan cepat, “Siapa bilang aku sedih?? Bagus banget kamu gak ada lagi…heu~”, keluhnya kesal.

Inoo tertawa kecil lagi, menatap Opichi tidak percaya, “jangan bohong…”

“Aku…aku..Cuma kesal kau tidak memberi tahuku sebelumnya!!”

-flashback-

“Gomen…”, itu kata pertama yang ia ucapkan setelah sampai.

“Dari mana?”, tanya Opichi sedikit kesal.

“Aku ada urusan sedikit.”, jelasnya.

Opichi ingin bertanya lagi, tapi Inoo tampak tak ingin membicarakannya.

“Ayo pergi.”, ajaknya.

“Kemana?”, tanya Opichi.

“Ikut saja…”, kata Inoo sambil menarik lengan Opichi.

Setelah berjalan agak jauh, Opichi tak sabar, “Kita sebenarnya mau kemana?”

Mereka di halte, tampaknya Inoo akan membawa Opichi ke suatu tempat.

“Bawel!! Ikut aja~”, kata Inoo kesal.

Opichi menghembuskan nafas berat, kelakuan Inoo memang selalu sulit ditebak.

“HAAAHHH??Kesini? kau mengajakku kesini?”, tanya Opichi takjub.

Mereka sudah di depan sebuah taman bermain, Theme Park bisa kita bilang seperti itu.

“Kenapa? Gak suka?”, tanya Inoo.

Opichi menggeleng, “Sukaaaaa~ ayo masuk!!!”, serunya heboh dan tanpa sadar menarik lengan Inoo.

“Mudah sekali membuatmu senang..”, kata Inoo pelan.

“Hah?”, Opichi yang sedang terlalu excited terhadap permainan yang akan mereka naiki, tampak tak fokus dengan perkataan Inoo.

“You’re just too simple…”, jelas Inoo.

“Huh~ gak ngerti ah!! Ayo cepetan!! Giliran kita!!”

Tidak sempat tentunya mereka menaiki semua wahana yang ada disitu, tapi lumayan juga membuat mereka kelelahan.

“Arigatou~”, kata Opichi di sela – sela makannya.

Inoo hanya tersenyum menatap Opichi yang makan dengan lahap.

“Pelan – pelan aja makannya…”, kata Inoo.

“Hehe..laper tau!! Cape juga seharian kayak gini…hehe..”, jawab Opichi.

Inoo menyadari bahwa Opichi tak lagi se-canggung dahulu, tampaknya Opichi mulai nyaman dengan keberadaannya, sehingga tak segan lagi tersenyum atau tertawa dihadapannya.

Setelah makan, Inoo dan Opichi yang memutuskan untuk pulang menggunakan Densha pun menunggu Densha yang akan membawa mereka pulang.

“Jadi? Kau sudah menyerah?”, tanya Inoo lalu meminum orange juice kalengan yang ia beli tadi.

Opichi memandang Inoo, “Tidak..belum…siapa yang bilang aku sudah meneyerah?”

“Benarkah?”

Opichi mengagguk, “Benar!!”

“Tak ada sedikitpun rasa?”, tanya Inoo lagi.

‘Kenapa juga dia harus tanya hal kayak gitu di tempat umum kayak gini??’ batin Opichi.

“Hmmmm~”, Opichi lalu bilang dengan sangat pelan, “Sedikit…aku tergerak sangat sedikit…”, jelasnya.

Inoo tertawa, “Yakin gak mau nyerah dan jatuh cinta sama aku?”, kata Inoo lagi.

Opichi menggeleng, “Belum mau!!”

“Kalo aku gak ada…kamu gimana?”, tanya Inoo tiba – tiba.

“Hah?”, Opichi kaget. Pertanyaan macam apa itu?

“Iya…kamu gimana?”, tanyanya lagi.

“Aku…”, Opichi diam, ia berfikir apa yang harus ia jawab dengan pertanyaan seperti itu,

“Hmm..kenapa sih?? Kok tiba – tiba tanya hal kayak gitu?”

“Aku harus ke Amerika..ayahku ingin aku belajar bisnis disana…”, jelas Inoo.

Sukses mebuat Opichi tersedak minumannya sendiri.

-flasback end-
————
Keadaan antara Yuya dan Dinchan semakin aneh setelah kejadian semalam dan tadi pagi.

Keduanya tak mau saling bicara, saling malu hanya untuk sekedar membicarakan hal remeh.

Bahkan mereka tampak tak sanggup untuk bertengkar sekalipun.

“Dinchan…”, panggil Yuya. Mereka sedang makan siang, tapi tak ada yang mau bicara, namun Yuya akhirnya membuka suara.

Dinchan tak berani memperlihatkan mukanya, dan terus menunduk melihat makanannya, “Hmm..”, jawabnya pelan.

“Aku benar – benar tak melakukan apapun..”, jelas Yuya pelan.

Tanpa sadar, wajah Dinchan memerah, ia tak sanggup mendengar kata – kata apa yang akan Yuya katakan selanjutnya.

“Hmmm~ YUYA!!”, teriak Dinchan tiba – tiba, “Bagaimana kalau…kita lupakan saja. Anggap hal itu tak pernah terjadi?? Ini hanya salah paham kan..hehehe..”, kata Dinchan dengan canggung.

Yuya mengangguk pelan.

“Dimana – mana..cewek tuh kalo di pantai pake bikini tau!!”, goda Yuya di atas speed boat yang membawa mereka berkeliling ke pulau sekitar.

“Memangnya ada peraturan tertulisnya??”, seru Dinchan tak terima.

“Tapi…kayaknya percuma deh..”, kata Yuya memandang Dinchan yang memakai kaos dan celana jeans selutut.

“Apa maksudmu?”

“Kau tetep gak akan keliatan seksi walaupun pake bikini!!hahaha”, ujar Yuya lalu tertawa lepas.

“HAAHH?? Gak usah pake baju minim supaya keliatan seksi.. dasar cowok!! Pikirannya gak pernah bener…”, balas Dinchan.

“Eh!! Aku normal tau..emangnya mau punya suami…”, kata – kata Yuya terhenti.

Topik tentang Suami-Istri memang selalu menjadi hal yang tidak enak untuk mereka bicarakan. Walaupun sebenarnya mereka sudah suami-istri, tapi toh mereka hingga saat ini hanya mengakui itu hanya status semata, bukan benar – benar mereka.

“Eh..Yuya…aku mau bilang sesuatu..”, Dinchan membuka percakapan setelah lebih dari 10 menit mereka hanya diam.

“Apa?”, tanya Yuya sambil masih melihat pemandangan sekitar.

Dinchan mengahadap ke Yuya, “Walaupun..kau tahu status kita kan? Aku sudah memutuskan untuk berkencan dengan Takahiro…”

Yuya bersyukur ia pakai kacamata hitam kali itu, karena kalau tidak, ia sendiri tak bisa menutupi ekspresi kekagetannya.

“Ah…ya…bagus sekali..”, jawab Yuya.

Sebenarnya memang Takahiro sudah meminta Dinchan menjadi kekasihnya, tapi entah kenapa, Dinchan merasa harus bilang dulu pada Yuya.

“Hmmm~ Yuya sedang suka sama orang juga tidak?”, tanya Dinchan.

“Ada..”, jawa Yuya singkat.

“Siapa?”, tanya Dinchan lagi, ia cukup penasaranYuya suka dengan siapa.

“Kamu…”
——————
“Aku harus pergi loh…tinggal setengah jam lagi sebelum boarding…”, jelas Inoo.

Opichi membuang muka, “Sana pergi!!”

“Gak mau confess dulu?”, goda Inoo lagi.

“In your dream!!”, seru Opichi lagi.

Ya, Inoo memang harus berangkat ke Amerika tepat sehari setelah mereka kencan ke Theme Park. Inoo baru memberi tahu Opichi, dan itu membuat Opichi sedikit kesal.

Tak lama, Daiki, Yabu dan Hikaru datang.

“Kau benar – benar akan pergi?”, tanya Daiki memastikan sahabatnya itu.
Inoo mengagguk.

“Kei-chaaaann~”, seru Yabu memeluk sahabatnya itu.

“Kenapa harus jauh – jauh sih?”, tanya Hikaru.

Inoo mengangkat bahunya pelan, “Wakaranai..ayahku yang ingin aku pergi..”

“Ne~ setidaknya buat pesta perpisahan gitu…”, seru Hikaru kesal.

Inoo tersenyum, “Aku akan pulang lagi…tak usah berlebihan..hahaha..”

“Tiga tahun kan gak sebentar..”, ujar Yabu.

“Tiga tahuuunn??!!”, Opichi yang dari tadi hanya mendengarkan mendadak berdiri.

Memandang Opichi, Inoo mengagguk, “Iya…tiga tahun..”

“Hmmm~”, Speechless. Dalam hatinya yang terdalam, ia tak mau Inoo pergi. Tapi apa yang harus ia lakukan? Masa bilang ia suka? Bilang jangan pergi kayak di dorama – dorama?

“Mau bilang jangan pergi?”, tanya Inoo pada Opichi.

“Hah??hmmm…gak…aku…”, Opichi terduduk, pikirannya kacau. Ia bingung apa yang harus ia katakan.

Tak terasa, Inoo harus segera pergi, ia sudah akan pergi. Inoo berdiri dan memnghadapi semua temannya, “Aku akan segera pulang…jangan khawatir…eh..salamku pada Yuya.”, kata Inoo.

“Hati – hati kei-chaaann!!”, seru Yabu.

“Bye Kei…hati – hati…”, Daiki juga memberi salam perpisahan.

Hikaru hanya mengagguk, menjabat tangan Inoo pelan.

“Bye Opichi!!”, kata Inoo tersenyum.

“Anoooo~”, Opichi memanggil Inoo, “Kalau kau tak kasih kabar padaku…jangan harap aku akan menunggumuuuu~!!”, seru Opichi.

Inoo tersenyum, “Jangan macam – macam gadis aneh!!”, Inoo menghapiri Opichi, dan tiba – tiba mencium pelan pipi Opichi, “Kau milikku..”, ujarnya pelan, hanya dia dan Opichi yang bisa mendegarnya.

Inoo menjauh dan melambaikan tangannya.
——————
TBC alias To be Continued!!!

N.B: MAAPH lamaaaaaa~ mengalami ke-nge-stagan yang berkepanjangan!!! hahahaha~

Advertisements

6 thoughts on “[Multichapter] Married By Accident (story 7)

  1. ~ima~

    neeeeeeeeeeee..
    seru banget..
    aku malu2 bacanya.. hehehe
    bagian nee atau bagian opi sama2 bagusnya..

    aduh ga sabar pengen baca reaksi nee pasa denger yuuyan suka sama nee..
    opi kasiaaaaaan..
    hueeeeeeeeee..
    tapi tenang aja.. inoo pasti setia.. saya jamin.. *sok tau kau 😛

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s