[Multichapter] Married By Accident (chap 6)

Title : Married By Accident
Chapter : Six
Author : Dinchan
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : TakakiDinchan,Inoopichi
Fandom : Johhny’s Entertainment
Disclaimer : Dinchan and Opichi belong to theirselves, Hey! Say! BEST is belongs to JE. we don’t own them…Comments are LOVE minna~

Married by Accident
—story 6—


Kamar Dinchan memang tidak besar, dan hanya terdiri dari satu tempat tidur saja, walaupun ukuran double. Dinchan sedikit risih, tampak juga Yuya sedikit tak nyaman dengan keadaan ini. Walaupun sudah hampir sebulan mereka hidup bersama, tapi mereka tak pernah mengganggu privasi masing – masing apalagi soal tidur.

Dinchan melirik ke arah Yuya.

“Aku tidur di kasur, Yuya dibawah!!”, jelas Dinchan cepat.

“Gak bisa gitu!! Walaupun kamu cewek, aku juga pengen tidur di kasur…kita suit aja…”, tawar Yuya.

“Ih Yuya~ ngalah dong!!”

“Tapi kan dibawah dingin…”

“Tapi kan bisa pake selimut cadangan…jadi Yuya yang dibawah..”

Yuya tiba – tiba mendekati Dinchan, dan merangkul bahu Dinchan, “Gimana kalau di kasurnya berdua aja?”, katanya pelan lalu meniup telinga Dinchan.

Dinchan mencoba melepaskan rangkulan itu, tapi tampaknya Yuya tak ingin melepas Dinchan begitu saja.

“Jangan bercanda!!Yuyaaa~”, protes Dinchan masih berusaha melepaskan tangan Yuya dari bahunya.

“Kan kita suami istri…ya kan??”, goda Yuya lagi, “Tidur sekasur harusnya gak apa – apa dong?”

“Yuyyyaaa~”, Dinchan setengah berteriak. Takut membangunkan Ibu.

Yuya masih saja tak mau melepas rangkulannya.

“Baiklah!! Aku saja yang tidur di bawah!”, seru Dinchan lalu rangkulan itu pun lepas.

“Hehehe..kau tak akan menang melawanku…”, kata Yuya mengejek.

Dinchan pura – pura tak mendengar lalu menyiapkan tempat tidurnya sendiri di bawah.

Mengambil selimut cadangan dan sebuah bantal, sementara Yuya sudah berbaring dengan sukses di atas ranjang milik Dinchan.

Dinchan susah tidur. Ia tak terbiasa dengan lantai dan lumayan dingin juga. Ia berkali – kali berguling kesana – kemari hingga akhirnya tertidur sendiri karena kelelahan. Ia baru bisa terelelap setelah jam 1 pagi.

Yuya terbangun, sepertinya dia haus dan butuh minum. Yuya hendak bangun ketika kakinya menyenggol sesuatu di bawah kaki tempat tidur. Yuya melihat ke bawah dan ia baru sadar kalau mereka memang sedang tidur berdua. Badan Dinchan meringkuk, tampaknya gadis itu kedinginan. Berkali – kali Dinchan meutar – mutar badannya, tampak tak nyaman dengan tidurnya.

“Kau tahu jelek~ sepertinya aku yang tak bisa kalah darimu.”, ujar Yuya pelan lalu dengan perlahan mengangkat tubuh Dinchan ke atas ranjang.

Setelah Yuya kembali dari dapur, ia memperhatikan Dinchan yang kini meringkuk di atas ranjang. Dinchan tampak lebih nyaman disitu. Setidaknya ia tidur dalam diam, tak seperti tadi. Yuya melihat space tempat tidurnya berkurang, ia harus sedikit memindahkan Dinchan ke pinggir ranjang, karena ia juga ingin tidur. Yuya mengangkat sedikit tubuh Dinchan, ke pinggir ranjang, namun tangannya malah terjepit punggung Dinchan. Yuya bermaksud melepaskan tangannya, namun Dinchan bergerak menyamping sehingga sekarang malah Yuya yang tertarik dan menghadap langsung ke wajah Dinchan.

“Sial…”, bisiknya.

Dinchan melingkarkan tangannya di tubuh Yuya sehingga Yuya malah tidak bisa bergerak sekarang.

Pagi harinya, Dinchan mengerjap – ngerjapkan matanya ketika matanya langsung mendapatkan seorang Yuya berada tepat di depannya. Dinchan menoleh ke berbagai arah, melihat tangan Yuya juga melingkar di tubuhnya.

‘Tunggu…semalam aku kan dibawah??!!’

‘Apa dia melakukan sesuatu??!!’

‘Tiddddaaaakkk~’, batin Dinchan yang mulai panik. Terlebih lagi Yuya tak mau melepaskan tangannya dari tubuh Dinchan.

Dinchan mencoba tak membuat suara gaduh, karena Ibu pasti curiga kalau ia berteriak.

“Yuyaaa~ lepaskaaan…Yuyaaaa~”, bisik Dinchan.

“Ibuuuu~”, gumam Yuya malah semakin mendekatkan diri pada Dinchan.

PLAK~

Dinchan mendaratkan sebuah tamparan pada Yuya. Seketika itu Yuya terbangun.

“Apa yang kau lakukaaann??!!”, teriak Yuya kesal.

Secara refleks Dinchan menutup mulut Yuya dengan tangannya, “Jangan ribut.. Ibu masih tidur…”, kata Dinchan pelan.

Klik.

Pintu kamar Dinchan terbuka.

Ibu berdiri di depan pintu menyaksikan anaknya dan menantunya sedang berada di atas sebuah kasur, terlebih tangan Dinchan masih menutup mulut Yuya.

“Kupikir kalian harus dibangunkan…”, kata Ibu lalu tersenyum simpul dan hendak keluar kamar, “Keluarlah..ada yang mau kubicarakan..”

Yuya melepas tangan Din dari mulutnya, “Kita harus siap – siap Bu…”

“Hari ini kalian akan libur sekolah.”, jelas Ibunya.

——————-
“Ohayou~”, panggil Inoo seperti biasa, tepat di telinga Opichi.

Opichi mengibaskan tangannya kesal. “Bisakah tak mengaggetkanku sepagi ini?”, keluh Opichi.
Inoo hanya terkekeh, “Tak usah kaget begitu.”

Menghela nafasnya, Opichi memang sudah biasa sebenarnya, hanya setiap kali Inoo melakukannya, jantung Opichi tetap saja tak bisa diajak kompromi.

Ponsel Opichi dan Inoo berbunyi bersamaan. Keduanya serentak membuka pesan yang mereka terima.

“Haahahaha..”, Inoo lah yang pertama kali mengeluarkan suara ketika membaca pesan itu.

From: dinchan77@gmail.com
To: opi_chi@mail.com
HELP~ T.T masa aku harus bulan madu??

Opichi melihat wajah Inoo, “Kau mendapatkan pesan yang sama?”, sepertinya sudah bisa ditebak oleh Opichi.

“Mereka akhirnya harus bulan madu juga…”, kata Inoo tertawa.

Opichi menutup mulut Inoo dengan refleks, “Jangan ribut..ini kan rahasia…”

Inoo mengacungkan 2 jarinya, membentuk huruf ‘V’, hingga akhirnya Opichi melepaskannya.

“Kei-chaaann~ sudah dengar??”, kata Yabu tiba – tiba menghampiri mereka berdua.

Tersenyum, Inoo mengangguk, “Tentu saja…”.

“Kira – kira Yuya akan seperti apa ya?”, seru Hikaru datang juga.

Daiki menyelinap diantara mereka, “Yuya tak akan macam – macam..memangnya dia mau punya bayi sekarang?”, serunya.

Inoo dengan cepat menutup mulut Daiki, “Tak ada gunanya ngomong seperti itu~”, kata Inoo memotong kalimat Daiki.

Opichi yang merasa tidak ingin mendengar lagi beranjak dari kursinya da bergabung dengan teman – temannya yang lain. Awalnya Inoo tidak menyadarinya, dan sibuk bercanda dengan ke empat sahabatnya.

“Pacarmu kabur~”, kata Daiki yang kini sedang terkena ijime Hikaru.

Akhirnya Inoo ikut beranjak dan menghampiri meja tempat Opichi berkumpul. Semua mata gadis disitu menatapnya, meneba – nebak siapa yang akan diajak bicara.

“Besok jam 9 kujemput kau…tunggulah depan stasiun…”, katanya menatap langsung pada Opichi.

“Chotto~ apa maksudmu?”, tanya Opichi malu. Bukankah mereka sudah sepakat hubungan ini adalah rahasia?, pikir Opichi.

“Kencan…apa lagi? Jangan telat…”, pesannya lalu pergi dari tempat itu.

“Eeeehh?! Kau berkencan dengan Inoo Kei?”, tanya Kaori takjub.

“Maaa~ bisa dibilang begitu juga…”, jawab Opichi gugup.

“Sugoooii~ kenalkan aku dengan yang lain…”, kata Kaori.

Dan sisa pagi itu menjadi sesi pertayaan soal kelima pangeran pada Opichi.

——————
“Baiklah..kau tak boleh mendekati aku atau aku akan berteriak. Aku tak main – main…”, ancam Dinchan memakai jaketnya lagi.

“Sekarang panas sekali kau tahu. Ini daerah pantai kenapa kau pakai jaket? Benar – benar bukan cewek yang menarik…”, kata Yuya lagi melirik pada Dinchan.

“Aku…”, Din meneguk jusnya hingga habis, “Aku tak mau jadi hitam..”, katanya memberi alasan.

Yuya terkekeh. “Cewek tidak menarik sepertimu tak akan dilirik walaupun kau pakai bikini tau!”, ejek Yuya yang disambut lemparan serbet oleh Dinchan.

Ya, mereka harus bulan madu ke daerah pantai ini. Masih daerah Jepang, tapi lumayan terpencil dan tidak begitu terkenal tempatnya. Tempat ini dipilihkan Ibu nya Yuya sebagai tempat mereka bulan madu. Cuaca bagus yang sudah hampir menuju musim panas ini memang waktu yang tepat untuk ke pantai. Sejak samapi disini, Dinchan tak hentinya bersikap aneh. Mulai dari memakai jaket sepanjang hari, hingga menolak ke hotel hingga sore menjelang seperti sekarang.

“Kau aneh! Tahu tidak? Aku butuh air..gerah sekali..aku ingin mandi..ayo ke hotel..”, keluh Yuya lagi.

Dinchan tidak menjawab, “Kayaknya liat sunset dulu. Ya?? Kumohooonnn~”, kata Dinchan kembali merengek.

Yuya hanya menghembuskan nafas beratnya. Masalahnya dua koper itu harus Yuya bawa kemana – mana. Sangat memusingkan, apalagi Dinchan tak mau membawa kopernya sendiri.

Takut –takut, Dinchan melirik ke arah Yuya. Bagaimana tidak panik. Ibu sebelum pergi tadi membisikkan sesuatu padanya. Walaupun Yuya tidak tahu, “Cepatlah beri Ibu cucu”. Bagaimana Dinchan tidak panik. Mereka hanya berdua, belum lagi sifat Yuya yang suka tiba – tiba membuatnya deg – degan.

Setelah sunset, akhirnya Dinchan mengalah untuk pulang ke hotel. Ia juga sudah lelah, dan butuh mandi. Dinchan terus berdo’a dalam hati agar mereka diberi 2 kamar.

Yuya menghampiri resepsionis, “Booking atas nama Takaki Yuya.”, katanya tenang.

“Tunggu sebentar…”, tak lama, resepsionis itu memberi satu kunci kamar.

Dinchan menyeruak, “Hanya satu kunci?”, tanyanya penasaran.

Resepsionis itu tersenyum, “Iya. Disini hanya tertulis untuk satu kamar suit.”, jelasnya sopan.

“Yakin? Gak salah liat?”, tanya Dinchan lagi.

“Iya nona.”, jelasnya lagi.

“Kalau begitu aku mau ambil satu kamar lagi!!”, teriak Dinchan tiba – tiba.

Yuya terkesiap, “Kau ini kenapa hah? Ibu sudah menyiapkan kamar ini.”, kata Yuya menarik Dinchan untuk berbicara berdua.

“Hmmm…aku tak mau kita…”, Dinchan tampak enggan berkata apapun.

“Sayang sekali. Kamar disini sudah penuh, karena kebetulan hari ini ada rapat besar sebuah kantor. Jadi, tak ada kamar kosong lagi.”, jelas Resepsionis itu.

Dinchan dan Yuya berbalik. Yuya tampak puas, sedangkan Dinchan tampak depresi. Yuya menarik Dinchan untuk pergi dari situ, “Maaf…istriku sedang tak enak badan.”, jelas Yuya menarik lengan Dinchan menjauh.

Seorang petugas hotel mengantarkan mereka ke kamar yang sudah dipesan tersebut.

Seperti yang Dinchan takutkan.

Hanya ada sebuah ranjang double di hadapannya. Dinchan takut memikirkannya saja.

“Pemandangannya bagus…”, kata Yuya membuyarkan lamunan Dinchan.

Dinchan menghampiri Yuya yang sedang berada di balkon. Yuya tidak bohong. Kamar itu langsung menghadap ke pantai, ditambah malam itu banyak sekali bintang, membuat suasana makin indah.

“Let’s go to bed.”, kata Yuya menatap Dinchan.

“Iyadaaaaaa~”, teriak Dinchan menghindar dari Yuya.

———————
Di depan stasiun. Opichi yang asalnya menolak ajakan Inoo itu kini sudah berdiri menuggu Inoo menjemputnya. Akhirnya ia luluh juga untuk mengikuti ajakan Inoo. Sebentar lagi jam 9, tapi Inoo belum juga muncul di hadapannya.

Jam 9 sudah lewat, namun Inoo belum muncul. Dengan sebal Opichi berniat untuk menelepon Inoo. Namun ia mengurungkan niatnya, karena pasti Inoo akan menyangka dirinya memang menunggunya dan sudah tak sabar bertemu dengannya.

‘Itu tak akan pernah terjadi’, batin Opichi.

Sudah pukul 10. Opichi mulai tak sabar, seharusnya bukankah jam 9 pagi? Sekarang sudah jam 10. Opichi kembali melihat Ponselnya, tapi tak ada satu pun message atau telepon dari Inoo.

Opichi mulai gelisah ketika jam sudah menunjukkan pukul 10.30. Ia tak tahu harus menelepon Inoo atau tidak.

Ponsel Opichi bergetar, tanda E-mail masuk.

From: kei_inoo@mail.com
To: opi_chi@mail.com
Tunggu sebentar.

Hanya itu isinya. Membuat Opichi kesal, tidak ada penjelasan apapun di e-mail tersebut. Sekitar satu jam kemudian, Inoo datang tergesa – gesa.

“Gomen…”, itu kata pertama yang ia ucapkan setelah sampai.

“Dari mana?”, tanya Opichi sedikit kesal.

“Aku ada urusan sedikit.”, jelasnya.

Opichi ingin bertanya lagi, tapi Inoo tampak tak ingin membicarakannya.

“Ayo pergi.”, ajaknya.

“Kemana?”, tanya Opichi.

“Ikut saja…”, kata Inoo sambil menarik lengan Opichi.

————
N.B: Maaph seribu maaph..lama banget updatenya…Q kemaren gak ada muse nulis ini…xP
hohoho…comments are love..^^

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Married By Accident (chap 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s