[Minichapter] Yabu’s Birthday (Part 2)

Title : Undecided [PART 2]
Author : Nu Niimura
Genre : Angst
Fandom : Hey! Say! Jump, Johnny’s Entertainment
Disclaimer : I dont own the chara nor the original idea

Yabu’s Birthday
– Part 2 –

Apakah kami sudah sampai di Tokyo…?

Langit-langit berwarna putih yang kulihat saat aku membuka mata…

“Dimana ini?!”, aku terbangun dalam kebingunan, kepaku terasa sangat sakit hingga merasa sulit untuk bangun

Dan orang-orang berseragam putih ini…

Kei-chan?!
Aku melihat Kei-chan terbaring di tempat tidur yang berjarak tak jauh dari tempatku, tubuhnya tertutup oleh kain putih hingga aku hanya bisa melihat wajahnya.
Kenapa? Kenapa wajah berlumuran darah?
Kei-chan, ayo buka matamu!!!

“Dia sudah tidak tertolong…”, ucap seorang berseragam putih itu, menutup wajah Kei-chan dengan kain sama yang menutupi tubuhnya dan kemudian mendorong tempat tidur Kei-chan keluar ruangan

Apa-apaan ini ?!

Apa yang terjadi ?

Aku ingat, ketika berada di pesawat aku sempat tertidur. Saat ini aku pasti sedang bermimpi, lalu saat pesawat akan mendarat di Tokyo, crew akan membangunkanku. Kami semua akan pulang, dan aku mengungkapkan perasaanku pada Kei-chan.
Ya, seperti itu !

Aku tak bisa menghentikan langkahku untuk mengejar kemana orang-orang itu membawa Kei-chan. Dan ketika aku berada di pintu, seorang yang sudah sangat tak asing memelukku dengan tiba-tiba

“Kota…syukurlah, kau selamat!”
“O, oka-san?”, aku semakin merasa heran ketika oka-san memelukku erat dan tersedu. Juga oji-san, raut wajahnya sama sekali tak nampak gembira
“Kota…”, oka-san hanya terus menyebut namaku dalam isaknya
“Oka-san, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kota…pesawat yang kalian tumpangi dari Hokkaido menuju Tokyo mengalami kecelakaan…seluruh crew…dan teman-temanmu…meninggal…”

Aku sama sekali tak percaya apa yang dikatakan oka-san. Sekalipun itu benar, tapi ini hanya ada dalam mimpiku.

“Daijoubu ne, Oka-san…nakanaide kudasai…(PS: bener ga sih bahasa japan ny? Saia ngasal, ini =___= ”

Perhatikanku kemudian tertuju pada suatu benda yang tergeletak di lantai, tak lain adalah sebuah digicam. Aku ingat betul, digicam yang dibawa Yuto.
Tampilannya sudah tak lagi seperti saat kulihat ketika Yuto meng-capture potret tersenyumnya bersama Kei-chan. Ketika aku memungutnya, kulihat digicam itu sudah banyak mengalami kerusakan di bagian luarnya, kotor, bekas seperti terbakar dan terlihat juga bercak darah

Satu persatu kuperhatikan file picture dalam digicam milik Yuto. Pada liburan ini, Yuto mengambil banyak sekali gambar. Ketika kami semua berangkat hingga saat berada di pesawat dalam perjalan pulang.
“Mimpi macam apa ini? Kenapa file dalam digicam ini sama persis dengan semua momen yang kami lalui saat liburan, bahkan aku dalam kehidupan nyatapun tak pernah melihat isi digicam Yuto…”

“Ne, Oka-san…shinpai wa nai yo. Beberapa saat lagi aku akan terbangun dari mimpi yang aneh ini, kami akan sampai di Tokyo dan beberapa dari foto ini akan muncul di blog milik Yuto”, ucapku tersenyum sembari menunjukkan digicam yang tengah kupegang

“Sadarlah, Kota. Ini bukan mimpi. Kecelakaan itu nyata dan kau satu-satunya yang selamat!”, nada bicara Oka-san sedikit meninggi
Tangisku mulai pecah, ketika aku mulai mempercayai perkataan Oka-san. Oka-san kembali memelukku, dari balik punggungnya, aku masih bisa melihat orang-orang itu membawa Kei-chan namun kemudian semakin menjauh dan tak lagi terlihat

“Kei-chaaaaaaaaaaaaaaaaan !”

~~~~

Berapa kalipun aku menampar pipiku sendiri, selalu terasa sakit. Kata orang, yang seperti ini bukanlah mimpi.
Televisi, aku menghindar untuk melihatnya, aku tak mau melihat berita tentang teman-temanku. Juga berita lain, koran, internet. Aku ingin sekali meyakini kalau ini semua hanya mimpi.
Kenapa peristiwa itu bisa terjadi, bahkan aku sendiri tak menyadari kalau pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan.
Setiap kali kulihat foto-foto yang diambil Yuto, aku masih merasa kalau peristiwa itu tak pernah terjadi. Diriku sendiri, hanya mengalami luka-luka kecil, rasanya tak mungkin bila teman-temanku sudah pergi.

Dan hingga aku tertidur di depan layar LCD komputerku, terbangun di keesokan harinya.
“05.45 am, masih terlalu pagi…aku akan meneruskan tidur. Jam 06.00 nanti Kei-chan akan mengirim pesan untukku…”
Nampaknya aku telah terbiasa dengan message alert tone ponselku yang selalu berbunyi pada pukul enam pagi, pesan dari Kei-chan.

Aku tak bisa kembali terlelap…

05.55, lima menit lagi poselku akan berbunyi
06.00, tak ada bunyi apapun
Mungkin hari ini sedikit terlambat, Kei-chan masih belum bangun

06.05, senyap

07.00, ponselku sama sekali tak berdering

09.10, ponselku berdering
Bukan dari Kei-chan, hanya seorang dari agensi yang menelfonku, menyampaikan pesan dari Johnny-san agar aku segera datang ke gedung agensi.

Jalanan terlihat normal. Orang-orang yang berjalan dalam kesibukan. Bahkan, di display beberapa toko, kalender Hey! Say! Jump masih terpampang, tak ketinggalan pemandangan gadis-gadis yang terlihat histeris. Dan di large view LCD (saia –yg katro ini- gatau apa namanya) beberapa gedung tinggi, masih terlihat klip promo kami, aku dan kesembilan temanku. Jelas sangat aneh untuk sebuah band yang baru saja kehilangan sembilan dari sepuluh membernya.

“Yabu-kun, aku turut prihatin dengan peristiwa yang menimpa member Jump. Tentunya ini merupakan pukulan besar pula bagi pihak agensi. Tapi, kami merahasiakan dari publik kalau kesembilan member Jump meninggal dalam kecelakaan pesawat…”, tutur Johnny-san dengan begitu hati-hati

Aku yang sekarang berada di ruangan pribadi Johnny-san hanya bisa terbelalak.

“…dan akan mengadakan konferensi pers pada saat yang tepat. Tentang konser Jump pada akhir bulan Januari ini, akan menjadi konser solo Kota Yabu”, paparnya
“Ta, tapi, Johnny-san…”
“Ganbarimasu, aku yakin Yabu-kun bisa. Anggap saja ini adalah hadiah untuk sembilan member Jump lainnya”, Johnny-san berusaha tersenyum

“Baiklah, saya mohon diri untuk ke toilet sebentar…”

Di kamar mandi gedung agensi, di ruangan kecil ini, kuharap tak akan ada yang mendengar tangisanku.
“…Hikaru, Daiki, Yuya, Yamada, Chinen, Yuto, Keito, Ryutaro…

Kei-chan…”

Tempat ini, mengantar ingatku pada Kei-chan. Akan suatu peristiwa tempo hari…
“Inoo-kun, sedang ketik apa? Kenapa harus ketik di kamar mandi?”, tanya Yama yang saat itu tak sengaja bersama Kei-chan di kamar mandi.
“Ini ucapan selamat ulang tahun untuk Ko-chan…”
Ketika mendengar namaku disebut, aku yang saat itu hendak memasuki kamar mandipun menahan langkah. Bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan Kei-chan dan Yama

“Umm…kenapa kirim sekarang? Ulang tahun Yabu-kun kan masih lama, akhir bulan Januari”, tanya Yama lagi
“Tidak, tidak…pesannya akan terkirim pada hari ulang tahun Kei-chan nanti…”
“Hai, hai…wakarimasu!”

Sempat terlupa, sebentar lagi ulang tahunku yang ke-20. Aku tak akan menjadi teenager lagi. Ulang tahunku…tanpa teman-teman.

Bukankah seorang yang berulang tahun boleh meminta satu permohonan. Kalau begitu, aku akan memohon agar teman-temanku bisa kembali bersamaku.

…namun, aku tak terlalu bodoh untuk meyakini harapan itu akan terwujud…

Di studio tempat kami biasa latihan, aku sudah terbiasa datang lebih awal. Juga saat ini, perasaanku tetap sama seperti sebelumnya. Aku yang datang lebih awal karna pesan dari Kei-chan. Ketika aku bertanya “Kei-chan, apakah hari ini kita ada latihan jam 4 nanti?”, Kei-chan selalu menjawab “Ya”, sekalipun latihan adalah pukul 5.

Aku sendiri, aku yang datang lebih awal. Tak lama lagi Chinen dan Ryutaro akan datang bersamaan dan menyapa “Kami kira, kamilah yang akan datang paling awal…”
Keito yang memasuki ruangan dengan tas gitar di punggungnya. Yang lain pun menyusul dan kesepuluh dari kami berkumpul.

Tapi hari ini, sepi. Sekalipun beberapa trainer datang untuk melatihku mempersiapkan konser, aku masih merasa sepi. Ini tak mudah, aku bukanlah seorang solo-is.
Ketika istirahat, aku mulai memejamkan mataku, keceriaan teman-teman masih terasa di sekitar.
Yama akan memainkan cangkir di mulutnya
Daiki yang berang karna teman-teman yang lain mengganggunya ketika ia mencoba untuk tidur
Chinen akan mendekati Yuya dan berkata “Nii-chan, biarkan aku duduk di pangkuanmu…”, aku tertawa kecil, tanpa kami sadari Chinen sudah tumbuh besar
Dan Kei-chan…dia akan terus mencoba untuk bercanda denganku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s