[Multichapter] Married By Accident (Chap 5)

Title : Married By Accident
Chapter : Five
Author : Tegoshi Din
Pairing : We’ll let you guess 0_< Genre : Romance Rating : PG aja deh Starring : Dinchan and Opichi (OC), Hey! Say! BEST member Disclaimer : Dinchan and Opichi belongs to theirselves, Hey!Say!BEST belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story…so read it happily…comments are LOVE…

Married By Accident
~Story Five~

Entah perasaan darimana, Yuya kini wajahnya mendekat pada Dinchan, tanpa aba – aba, bibir mereka kini bersentuhan karena Yuya menahan wajah Dinchan tetap menatapnya.

Lengan Dinchan bergerak, akhirnya mampu lepas dan menapar pipi Yuya.

PLAK!

“Gomen ne..aku hanya bercanda Dinchan…”, kata Yuya.

“Hidoi!!!”, Dinchan mendorong dengan kuat badan Yuya, dan berlari ke kamarnya.

Yuya sendiri termenung melihat Dinchan yang marah, ia tahu memang itu salahnya, tapi maksudnya hanyalah bercanda, ia senang melihat wajah Dinchan yang panik. Tapi, perasaan apa tadi? Kenapa ia tanpa sadar malah mencium Dinchan?

Dinchan tertunduk di atas ranjangnya. Dinchan menyentuh bibirnya yang tadi telah tersentuh oleh bibir Yuya. Ciuman pertamanya direbut oleh Yuya, pria yang baru saja ia kenal, yang sekarang sebenarnya adalah suaminya.

Air mata Dinchan mengalir, bukan karena apa, tapi kata – kata Yuya.

“Gomen ne..aku hanya bercanda Dinchan…”,

Apakah untuk seorang Yuya Takaki, mencium seorang gadis yang bhakan mungkin tak disukainya itu sebuah lelucon? Tangis Dinchan terus mengalir, rasanya ia ingin kabur saja.
———————
Opichi menghela nafas.

Tak pernah terfikirkan bahwa berpacaran dengan srang Kei Inoo akan begitu melelahkan. Inoo terlalu banyak kejutan, sikapnya yang tak dapat Opichi tebak membuat ia lelah. Lelah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Ohayou~”, kata seseorang tepat di telinga kanan Opichi.

Opichi menghela nafas, tak perlu berbalik untuk melihat siapa itu, ia hapal suara Inoo.

“Inoo..yamete yo~”, keluh Opichi.

“Ini masih pagi..jangan cemberut seperti itu.”, kata Inoo menyentuh pipi Opichi pelan, “Panggil aku Kei..Opichi..”, katanya.

Inoo sedikit menoleh, tampaknya ia menemukan objek yang ia kenali, “Dinchan sepertinya tak tidur semalaman…”, kata Inoo tersenyum, “Jaa mata~ aku harus menyusul pengentin baru itu.”

Opichi menoleh, Dinchan matanya begitu bengkak, sepertinya ia menangis semalaman.

“Dinchan..doushita no?”, tanya Opichi ketika Dinchan sudah duduk.

“Nani mo nai…”

“Uso…ayo ceritakan padaku..kenapa kau tak meneleponku semalam?”, tanya Opichi bingung.

Dinchan menatap Opichi, “Sudah, tapi HP mu sibuk.”

“Ah..gomen…”, Opichi baru ingat semalam ia memang tanpa sengaja emmatikan Hpnya. Bosan dengan telepon inoo yang berlebihan.

Dinchan mengucek matanya, “Aku tak tidur semalaman…”

“Baiklah, ayo ceritakan padaku.”, seru Opichi menggamit lengan Dinchan keluar kelas.

Yuya tampak sedikit kesal, sampai ia tak menyapa ketiga temannya.

“Yuya..kau tampak marah…ada apa?”, tanya Daiki.

“Tak ada apa – apa..”, jwabnya sedikit dingin.

Inoo menghampiri keempat temannya, “Yuya..kau lakukan apa?kenapa Dinchan tampak tak tidur semalaman?”, goda Inoo.

“Uso~ kau sudah melakukannya?”, tanya Yabu tiba – tiba bersemangat.

“Waaaahh..Yuya sugooiii omae!!!”, teriak Hikaru ikut bersemangat.

“Chotto~”, Yuya berdiri mencoba menjelaskan pada keempat sahabatnya itu.

“Iya…wajah Dinchan sepertinya habis menangis..kau membuatnya menangis Yuya?”, goda Inoo lagi.

“Nangis??wakakak..seburuk itukah?”, tanya Yabu.

“CHOTTO!!! Aku tak melakukan apa – apa.. Ia hanya..”, intonasi marah Yuya melemah, “Ia hanya menangis karena aku menciumnya..”, kata Yuya kembali duduk, menyesali apa yang ia perbuat.

————————-
“Dinchan…yamete yo~”, keluh Yuya akhirnya, setelah seminggu ini Dinchan sama sekali menolak berbicara padanya.

Dinchan yang sibuk di dapur, membuat makan malam itu tidak menoleh sedikitpun. Ia tak merasa harus menjawabnya.

“Dinchan~…paling tidak berbicara lah padaku…”, bujuk Yuya lagi.

Dinchan tetap tak bergeming. Ia berpura – pura konsentrasi dengan apa yang sednag dimasaknya.

“Ouch!!!”, seru Dinchan. Kelingking kirinya tergores pisau karena ia sama sekali tak berkonsentrasi.

Yuya secara spontan beridiri, mengahampiri Dinchan. Gerakan ini spontan, Yuya mengambil kelingking Dinchan yang terluka, dan menghisap darahnya.

Dinchan berusaha berontak.

“Diamlah!!!”, perintah Yuya membuat Dinchan seketika berhenti.

Yuya menarik Dinchan, membawakan plester dan membalut luka itu dengan plester.

“Lain kali berahti – hatilah…”, nasihat Yuya pada Dinchan.

Mata Dinchan tak lepas dari Yuya, ia bingung harus berkata apa. Yuya masih menggenggam tangan Dinchan, menarik Dinchan ke ruang tamu. Dinchan hanya menurut, duduk dan menunggu Yuya kembali membawa kotak P3K.

“Kau ceroboh…aku tak heran..”, kata Yuya sambil membersihkan luka Dinchan, dan membalutnya dengan plester, “Sudah….ingat…jangan ceroboh lagi!!”, jelas Yuya memandang Dinchan.

Dinchan sejak tadi hanya terdiam. Dirinya bingung kenapa Yuya bisa sebaik ini padanya.

Yuya hendak pergi, ketika Dinchan memanggilnya, “Yuya!!”

Yuya menoleh

“Arigatou…”, akhirnya Dinchan mengeluarkan kata itu.

“Dengar..aku ingin kau bersikap biasa padaku…aku tahu aku salah padamu, dan aku minta maaf…lagipula kita hanya nikah sementara. Sampai nanti aku berani bilang pada ayahku, kita akan bercerai…”, Yuya meninggalkan Dinchan yang masih bingung.

———————-
“Dinchaaann!!”, teriak seseorang. Membuyarkan lamunan Dinchan.

“Opichi?doushita no? Kau tampak terburu – buru…”, tanya Dinchan yang melihat sahabatnya itu seperti habis berlari.

Alih – alih menjawab, Opichi mengatur nafas terlebih dahulu, “Aku melarikan diri dari Inoo.. melelahkan sekali diganggu setiap hari…”, kata Opichi dengan kesal.

Dinchan menatap Opichi, “Bukankah kalian berpacaran?”

“Iya..tapi..tak bisakah ia menghindar dariku sebentar? Ia terus menggodaku…menyebalkan!”, seru Opichi.

“Eh??kenapa kau ada di atap juga?”, tanya Opichi yang baru menyadari mereka berdua berada di tempat yang tidak biasa mereka datangi, atap sekolah.

“Tidak ada apa – apa….hanya sedikit berfikir..”, jawab Dinchan sedikit bingung.

Opichi ikut duduk disebelah Dinchan, “Kudengar Takahiro dari kelas sebelah mencarimu…jangan – jangan ia suka padamu!!”, kata Opichi tiba – tiba.

“Eh??Takahiro?? bagaimana bisa?”, tanya Dinchan kaget.

Tentu saja ia kaget, Takahiro adalah cinta pertama Dinchan. Sejak SMP ia menyukai Takahiro, tapi tentu saja Dinchan tak berani mengungkapkan cintanya. Apakah ini artinya Takahiro mau berkenalan dengannya? Tiba – tiba hatinya terasa lebih ringan.

“Hei!! Kenapa melamun? Tapi Dinchan tak bisa ya? Kan sudah punya Yuya?”, goda Opichi.

Menyadari dirinya sudah bersuami, membuatnya sedikit kecewa.

——————-
“Baiklah..yang kalah hari ini harus mencuci piring!!!”, teriak Dinchan.

Yuya manyun, mendapati dirinya kalah suit dari istri bohongannya itu. Dinchan membuak apron yang selalu ia pakai tiap malam hari. Karena ia lah yang selalu memasak. Hari ini mereka bersuit untuk menentukkan siapa yang mencuci piring.

Dinchan sedikit lebih tenang. Yuya bersikap lebih baik, dan setidaknya mereka tidak sering bertengkar lagi. Dinchan berdiri dan memakaikan apron itu pada Yuya.

“Cuci yang bersih ya!! Aku tak mau harus mencucinya lagi.”, ancam Dinchan yang lalu tertawa.

“Perfeksionis!!”, keluh Yuya.

“Aku ini calon istri yang baik tahu…”, Dinchan berhenti. Menyadari dirinya kini sudah jadi istri.

Suasana menjadi sedikit canggung. Dinchan akhirnya hanya memperhatikan Yuya yang sedang mencuci piring. Apartemen kecil itu menggabungkan meja makan mungil dan dapur pada satu tempat.

Yuya berdehem pelan, membuat Dinchan tersadar dari lamunannya. Menatap Yuya sekilas.

“Aku akan mencuci piring setiap hari…”

Dinchan kaget, tak percaya dengan apa yang ia dengar, “Apa?”

“Hmm…aku yang akan mencuci piring setiap hari…kau memasak saja..ya?”, kata Yuya lagi.

Mata Dinchan membulat, menatap Yuya dengan tak percaya, “Kau?sakit?”, tanya Dinchan.

Yuya pura – pura tidak mendengar, dan meneruskan pekerjaannya.

Lagu Forever dari NEWS menggema dari sebuah kamar. Dinchan yang menyadari itu suara ponselnya, segera berlari ke arah kamar.

LCD HP nya mengisyaratkan sebuah pesan masuk. Anehnya, ia tak mengenal alamat e-mailnya.

From: taka_tsuki_hiro@hero.com
To: dinchan77@gmail.com
Subject: Hi!!

Dinchan..terima kasih kau memberitahukan e-mail mu padaku..
Mulai hari ini, qta bisa saling berbalas e-mail ne?

-takahiro-

Dinchan ingat

Tadi siang Takahiro menemuinya di akntin, dan meminta alamat e-mailnya. Dinchan tanpa sadar tersenyum, hatinya berbunga – bunga. Segera ia membalas e-mail itu.

———————-
Dinchan mencoba tak membuat suara apapun. Ini sudah malam, dan ia yakin Yuya sudah tidur. Dinchan sebenarnya tak suka kegelapan, tapi sepertinya menyalakan lampu apartemen ini akan mengganggu.

Lampu menyala tiba – tiba.

Sesosok pria bercelana pendek berdiri tepat dihadapan Dinchan.

Mengagetkannya.

“Yuya!! Apa yang kau lakukan disitu??hah??”, teriak Dinchan kaget.

“Yang harus kutanya, kau dari mana? Ini sudah jam berapa?!!”, seru Yuya dengan nada marah.
Dinchan tak pernah melihat Yuya semarah ini.

“Aku…”

“Kau pergi dengan Takahiro itu? Iya??”, potong Yuya tak sabar.

Dinchan merasa seperti istri yang kepergok suaminya berselingkuh. Tapi ia memang bersuami, tapi tak berarti Yuya bisa seenaknya. Bukankah ia sendiri yang berkata kita hanya nikah bohongan?

“Kalau iya?? Lalu apa urusanmu?!”, seru Dinchan tak mau kalah.

“Kau!! Kau itu….”

“Siapa aku?”, tantang Dinchan, matanya kini berkaca – kaca.

“Hmmm..tak baik seorang wanita pulang selarut ini!! Kau kan juga putri bangsawan!! Seharusnya kau tahu itu!!”, bentak Yuya lagi.

“Tak usah mengurusi aku!! Kita bukan siapa – siapa kan?!”

Dinchan menghambur masuk ke kamarnya, tanpa mengindahkan teriakan Yuya yang memanggilnya.

Hari minggu yang cukup cerah.

Suasana apartemen kecil yang sempat cukup harmonis dua minggu belakangan ini kembali menjadi canggung. Dinchan menolak berbicara pada Yuya, begitu pun sebaliknya.

Bel apartemen itu berbunyi. Dinchan dengan malas beranjak dan memastikan dulu siapa yang datang.

“Yuya!! Ibumu datang!!!”, seru Dinchan panik.

Yuya panik dan segera mengambil foto pernikahan mereka yang sengaja mereka simpan di gudang kecil. Dinchan juga ikut membantu memasangnya, dan segera menyambar apron di atas meja makan lalu memakainya.

“Ibu!!!”, teriak Yuya menghambur ke pelukan ibunya dengan manja.

Ibunya Yuya menepuk punggung anak semata wayangnya itu, “Kau sudah besar..berhenti manja…”

Dinchan tersenyum manis disebelah Yuya, mengambil barang – barang yang Ibu bawa. Ibunya Yuya terlihat elegan. Walaupun dandannya bisa dibilang cukup sederhana, namun elegan. Dinchan merasa wajah Ibunya Yuya juga lebih melembut dibanding ketika hari pernikahan mereka.

“Selamat datang Ibu..”, sambut Dinchan, lalu memeluk Ibunya Yuya yang kini harus ia panggil Ibu juga.

“Ini semua yang ingin aku berikan pada anak dan menantuku..”, jelas Ibu.

“Terima kasih…”

Dinchan tau apa yang harus ia buat. Ia harus memasak untuk Ibu mertuanya itu.

“Tidak…tidak..biarkan aku yang memasak…”, seru Ibu menghampiri Dinchan yang sudah bersiap untuk memasak.

“Tapi Ibu…”

“Aku yakin bayi besarku itu ingin memakan masakanku.”, kata Ibu tersenyum pada Dinchan.

“Kalau begitu, biarkan aku membantumu..”, kata Dinchan lagi.

Ibu tersenyum dan mengangguk.

“Dinchan…maafkan anakku yang manja ini…”, ujar Ibu selama makan malam berlangsung. Yuya memang tampak manja pada Ibunya ini.

“Tidak apa Ibu…”, jawab Dinchan sesopan mungkin. Latihan bertahun – tahunnya tampak berguna sekarang.

“Aku tidak manja!!”, protes Yuya.

“Ah sudahlah!! Kau ini cerewet sekali!”, seru Ibu.

Yuya manyun, kembali makan, “Aku rindu masakan Ibu…”, kata Yuya lagi.

Dinchan tersenyum, tak menyangka seorang Takaki Yuya juga sangat manja pada ibunya.

Makan malam pun berlangsung dengan cukup lama karena percakapan mereka cukup menyenangkan.

“Ah…sudah malam..”

“Ibu akan pulang?”, tanya Dinchan sedikit berharap.

“Tidak – tidak…kurasa aku akan bermalam disini.”

“Eh??!!”, Yuya menatap Ibunya tak percaya, “Kenapa bu?”, tanya Yuya.

“Karena aku ingin…”

“Tapi Bu…disini Cuma ada dua kamar..dan…”

“Kalian tidur di kamar Yuya…ibu akan tidur di kamar Dinchan.”, atur Ibu tiba – tiba.

“APAAA???!!”, seru Dinchan dan Yuya bersamaan.

TBC~

N.B: Setelah hiatus berabad – abad, akhirnya Q update juga ini…hehehe…seperti biasa..COMMENTS ARE LOVE…^^

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Married By Accident (Chap 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s