[Oneshot] Boku No Kimochi~

Title : Boku no Kimochi~
Author : Din Tegoshi
Chapter : Oneshot
Genre : Romance
Rating : G
Pairing : Dhe-chan x Chinen Yuuri
Fandom : Johnny’s Entertainment
Disclaimer : Chinen Yuuri is belong to Johnny’s, Dhe is belong to herself…I don’t own them..it’s just fanfic..read happily… Comments are LOVE minna….terinspirasi dari lagu WaT berjudul Boku no kimochi~ hehehe…read it happily minna~

Boku No Kimochi

Plak!

Sebuah tamparan mendadak mendarat pada seorang cowok. Dengan mata membulat tak percaya dengan apa yang ia rasakan sekarang. Pipinya sakit, tapi yang lebih penting, hatinya jauh lebih sakit.

“Dhe-chan…ore…”

Plak!

Wanita yang dipanggil Dhe-chan itu kembali menampar pria dihadapannya.

“Dhe-chan…nande?”, tanya pria itu kebingungan, mencari jawaban dari mata Dhe yang kini berlinang air mata.

“Chinen-kun!!kau tak sopan! Apa maksud semua itu?”, bentak Dhe marah.

“Dhe-chan…”

“Jangan berani memanggilku seperti itu!”, bentak Dhe lagi.

Pria itu kaget, selama ini Dhe tak pernah terlihat semarah itu. Apakah ungkapannya tadi begitu berlebihan? Apakah Dhe benar – benar tak bisa menerimanya? Pikiran itu berkecamuk di benak Chinen.

“Demo…aishiteru…”, bisik Chinen lirih.

Dhe terlihat bingung ketika mendengar pengakuan Chinen. Kali ini dengan kata – kata. Ternyata lebih terdengar jujur dibandingkan aksi Chinen merebut ciuman pertamanya tadi.

“Urusai!!! USOTSUKI!!!!”, teriak Dhe sambil mengambil tasnya, meninggalkan Chinen dalam tanda tanya besar.

I’m going to give
My feelings to you
I want to tell them to you as they are
They light up white with the season
———
Cinta??Cinta??? anak yang umurnya lebih muda 4 tahun itu berani mengatakan cinta padanya? Apa maksudnya?? Dhe terbakar dengan kemarahannya sendiri. Lebih karena ia kecewa pada dirinya sendiri, tak bisa menerima kenyataan bahwa apa yang dikatakan Chinen tadi terlihat lebih jujur dari apa yang ia lihat selama ini.

Dhe tiba – tiba merasa lemas, tubuhnya serasa tak bisa lagi menopang tubuhnya. Kini ia di depan apartemennya, hanya terduduk, berlinang air mata tanpa sanggup mengeluarkan suara sedikitpun.

Pintu apartemen terbuka. Dhe mendongak, mendapati sahabatnya, Din berdiri kebingungan.

“Dhe? Doushi yo?”, tanya Din. Disebelahnya, orang yang Dhe kenal sebagai kekasih Din pun ikut membantu Dhe bangun.

Din membantu Dhe masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

“Tegoshi…sepertinya aku tak bisa pergi sekarang.”, jelas Din pada kekasihnya itu.

Tegoshi menatap Din kecewa, namun mengerti apa yang Din rasakan sekarang, kekhawatirannya pada sahabatnya itu.

“Gomen na~ aku akan menebusnya lain kali…aku janji…”, rengek Din.

Tegoshi mengangguk mengerti, lalu beranjak dari tempat itu. “Dhe…cepat pulih ya…”, kata Tegoshi pada Dhe, “Rasanya aku sudah tak diperlukan disini…Dinchan..aku pergi dulu..”, pamitnya seraya mencium puncak kepala Din dan berlalu dari situ.

Baru saja Tegoshi keluar, tangis Dhe pun pecah. Sambil terisak hebat Dhe menangis di pelukan Din. Sementara Din hanya menunggu sampai tangis Dhe berhenti. Walaupun Dhe memang lebih tua dari Din, Dhe lebih bersikap seperti adik buat Din, dan setelah setahun ini mereka tinggal di satu atap, Din semakin mengerti bagaimana Dhe dengan segala ke-childishannya.

Tangis Dhe pun berhenti, memandang Din dengan matanya yang sudah memerah.

“Dhe..doushi yo? Daijoubu ka?”, tanya Din.

Dhe menceritakan bagaimana Chinen, murid private nya itu menciumnya tadi, menyatakan perasaannya. Chinen memang sudah setahun ini menjadi murid private Dhe. Dhe sendiri adalah mahasiswa tingkat 2 yang menjadi guru private sevagai pekerjaan sampingannya.

Din terdiam, sedikit kaget mendengarnya.

“Aku tak suka ia begitu tak sopan padaku!!!”, rengak Dhe, “Ia baru SMA!! Aku tak mungkin menerima perasaannya kan Din-pyon??iya kan??”

“Sekarang fikirkan perasaanmu sendiri Dhe-chan, apakah cinta dapat diukur dengan umur?”, kata Din seraya beranjak mengambil minum untuk Dhe.

Seketika itu tangis Dhe berhenti.

The changing season
Floats on the northerly wind
Before I know it
There’s one event left at the end of the year
——————-
Masih hangat dalam ingatan Chinen, seorang Dhe.

Taking glances at you, who are having fun
A little bit more than usual, out of the corner of my eye

Dhe yang mungil, walaupun sudah mahasiswi, baginya Dhe menggemaskan. Dhe yang pintar, yang selama ini memarahinya bila ia salah mengerjakan soal. Dhe yang sensitif, melihat seekor binatang terluka pun dapat membuatnya menangis tak henti. Dhe yang selalu tersenyum, memberinya kekuatan saat ia tak mampu tersenyum sekalipun.

I was standing aside and looking at you
With timid feelings, for some reason
When the fluttering snow dances in the air

Chinen merasa sesak. Apakah setelah ini Dhe akan membencinya? Apakah sekarang Dhe tak akan lagi tersenyum untuknya? Berlebihan kah ia tadi? Pikiran ini mebuat Chinen lelah, ia tak mampu lagi menahan air matanya yang kini jatuh tak henti.

For some reason, you’re so loveable
I’m grateful to you
But I can’t say it very well
——————
Chinen duduk dengan mata setengah tertutup. Hari ini hari pertamanya menginjak kelas 2 SMA. Hari pertama masuk sekolah memang selalu berat, setelah liburan musim dingin ia masih ingin diam di rumah, apalagi karena golongan darahnya, pagi hari adalah waktu yang buruk untuknya.

“Ohayou!! Chinen!! Kita sekelas lagi!!”, teriak sahabatnya, Yamada Ryousuke.

“Ohayou Yama-chan!! Tidak berangkat dengan Yuto?”, tanya Chinen masih setengah tertidur.

“OHAYOUUUU!!”, teriak Nakajima Yuto dari belakang Yama.

Chinen sepenuhnya terbangun, dengan masih malas ia hanya membaringkan wajahnya di meja.

“Chinen!!! Ayo bersemangat sedikit!! Kita sudah kelas 2!!kelas 2!!”, teriak Yuto semangat.

Yama mendelik ke arah Yuto yang berteriak tepat di telinganya, “Urusai yo omae!!”

“Nanda yo?? Ada apa dengan kelas 2?”, keluh Chinen yang kini memandang kedua sahabatnya. Yama sedang berusaha memukul kepala Yuto yang kini mencekiknya.

“Kelas 2 saatnya kita mencari cinta…da ne??”, seru Yuto melepaskan diri dari Yama.

“Penting?”, tanya Yama dengan wajah malasnya dan duduk di bangkunya.

“Benar kan Chinen? Benar kan???”, seru Yuto mengguncang – guncang bahu Chinen.

“URUSAII!!!”, teriak Yama dan Chinen bersamaan.

Yuto dengan kesal kembali ke bangkunya, “Ayolah…kalian itu tidak dewasa – dewasa…”, keluh Yuto dengan nada sok dewasa.

“Kau yang tidak dewasa!!”, timpal Yama.

Chinen membiarkan kedua temannya bertengkar sedangkan ia kembali merebahkan kepalanya di meja. Tidak tidur, ia kembali mengingat Dhe.

Dhe tak muncul lagi sejak kejadian itu. Ia sama sekali tak kembali. Chinen begitu kecewa ketika Ibunya mengatakan bahwa Dhe berhenti mengajar les hari itu. Chinen berusaha menelepon, mencari Dhe, tapi ia tidak menemukan jejak Dhe.

Apa kabar Dhe?

Apa dia baik – baik saja?

Chinen sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan, sesunggauhnya ia sangat ingin bertemu Dhe, memohon maaf dari Dhe. Tapi tampaknya Dhe membencinya, ia yakin itu.

“Dhe!!!Bangunnn!!”, teriak Din dengan berang melihat sahabatnya itu masih bergelung di atas kasur.

“Sebentar lagi Din-pyon…”, keluh Dhe kembali menarik selimutnya.

Din menarik selimut itu, “First day itu harus baik Dhe!! Ayo cepat bangun…” seru Dinchan mengguncang badan Dhe.

Dhe akhirnya menyerah, ia tahu sahabatnya itu tak akan meninggalkannya sebelum ia bangun.

“Iya…”, kata Dhe sambil menguap.

“Cepat mandi!! Kau hanya punya waktu setengah jam untuk bersiap – siap.

“Aku mau tidur lagi…”, kata Dhe kembali bergelung.

Din menarik bahu Dhe, kembali mengguncang badan Dhe agar Dhe bangun sepenuhnya.

“Hmmm…baru jam 8 Dinchan…aku mengajar jam 9…”, keluh Dhe.

“Jam 8 hingga 8.30 kau siap – siap dan sarapan dan segera berangkat!! Ini hari pertamamu magang kan?”, seru Din sebal.

Din-pyon seperti Mama saja, pikir Dhe. Mata Dhe beralih ke mata Din yang semakin menghitam bagian bawah kelopaknya, tampaknya Din tidak tidur lagi semalam.

“Din-pyon..tak tidur lagi semalam?”, tanya Dhe.

“Jangan mengubah pembicaraan!! Cepat mandi atau aku terpaksa menggusurmu ke kamar mandi!! Mana yang kau pilih?”, seru Din tak menghiraukan pertanyaan Dhe.

“Jawab aku dulu!!”, seru Dhe tak kalah keras. Ia khawatir dengan kesehatan Din yang sekarang cepat turun.

“Aku hanya mengerjakan beberapa tugas…puas?? ayolah Dhe…aku tak mau kau terlambat…aku harus berangkat sekarang…”, keluh Din.

“Baiklah..”, jawab Dhe sambil beranjak, “Kenapa pergi pagi – pagi sekali?”

“Aku harus menemui Tegoshi dulu..ne? daijoubu? Semoga kau berhasil hari ini!!”, kata Din sambil tersenyum dan meninggalkan kamar Dhe.

Dhe menghela nafas dan tersenyum geli, kenapa ia selalu merasa Din seperti kakaknya walaupun ia lebih tua dari Din 2 tahun.

Tiba – tiba pintu kamar Dhe terbuka lagi, “Buat sarapanmu sendiri!! Kau tahu aku payah dalam memasak..jya ne!! Ceritakan padaku nanti setelah pulang!! Ne?”, Din kembali menutup pintu kamar Dhe.
————-
“Baiklah…ini guru magang kalian yang baru…Dheny..”

Seorang cewek mungil yang begitu Chinen kenal masuk.

“Panggil saja Dhe…Yoroshiku Onegaishimasu..”

Chinen tertegun, matanya tak dapat mempercayai apa yang ia lihat.

Masih tubuh yang sama

Wajah yang sama

Dan bahkan….

Senyum yang sama

And my wish is
For you to smile
That would make me more happy than anything

“Chinen!! Kenapa kau melamun?”, bisik Yama pelan.

Chinen menggeleng masih terpana dengan apa yang ia lihat.

Dhe….inikah takdir?
—————
“Din-pyon? Kau sedang dimana?”, Dhe sibuk dengan Handphone nya karena ia tak bisa menunggu hingga ia pulang.

“Aku sedang di kantin…ada apa?”, tanya Din diseberang sana.

“Aku heran kenapa aku ditempatkan di SMA ini??huweeee~ kowaaaaiiii!!!”

“Tenang sedikit…ada apa sebenarnya?”

“Aku bertemu dia!! Dia!!!”

“Dia siapa?”, Din mulai tak sabar, “Aku akan masuk kelas lagi, ayo cepat katakan!”

“Chii..kau ingat? Chii…”

“Eh? Memangnya dia sekolah di SMA itu?”

“Iyaaaa..aku sendiri lupa..lagipula magang ini kan ditentukan pihak Universitas, jadi aku tak bisa menolak untuk magang disini…bagaimana ini?? Aku bingung mengahadapinya, dan kenapa ia harus berada di kelasku? Aku tak bisa berkonsentrasi..ia mengganggu ku!!”, keluh Dhe.

“Anou..Dhe…aku harus masuk kelas sekarang…begini saja..sekarang sebisa mungkin kau tidak bertemu dengannya kecuali di kelas. Kita bicarakan lagi setelah kau pulang…oke?”

Klik.

Dhe mengerutkan dahi. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan jika bertemu Chinen lagi? Kejadian di kelas tadi sudah membuatnya shock.

Dhe keluar dari kamar mandi guru, berharap ia tidak bertemu….

Chinen

Di depannya, Chinen tertunduk, terlihat menunggunya.

Dhe seakan tak dapat bergerak. Badannya seakan tak mampu bergerak lagi.

“Dhe-chan..genki?”, tanya Chinen, tersenyum.

Dhe terdiam, entah kenapa ia merasa belum siap bertemu Chinen.

“Chii…anou…sumimasen..aku harus kembali ke kantor guru..”, pamit Dhe segera meninggalkan Chinen yang masih terpaku.
————
Usaha Dhe menghindar Chinen berhasil setidaknya untuk dua minggu ini Dhe benar – benar tidak bertemu Chinen selain di kelas. Waktu Dhe magang hanya 3 minggu, maka Dhe hanya harus sabar untuk seminggu lagi. Dhe selalu berhasil menghindar dari Chinen walaupun itu melelahkan, tapi Dhe benar – benar tidak siap bertemunya.

Apartemen ini terlihat kosong tanpa Din didalamnya. Din belum pulang, dan entah jam berapa akan pulang.

Handphone Dhe berbunyi, tanda mail phone masuk.

“Aku pulang agak malam, tak perlu kahwatir…makanlah duluan…”

Itu dari Din.

Dhe menghela nafasnya, sudah seminggu ini Din selalu pulang malam, pergi sebelum Dhe bangun, entah apa yang Din lakukan. Membuat Dhe khawatir saja.

Dhe bosan, TV tampaknya tidak ada acara bagus. Beranjak, Dhe mengambil jaketnya dan memutuskan untuk jalan – jalan. Walaupun ia tak tahu tujuannya, setidaknya dapat menghilangkan kebosanannya.

Chinen duduk disebuah bangku taman. Ia dan Yuto sedang menunggu Yama yang membelikan minuman kaleng buat mereka setelah kalah berlomba ke taman itu.

“Chii!!! Kau dengar aku tidak?”, seru Yuto tak sabar.

“Goukon itu ide buruk Yuto!! Aku tak mau!!”

“Ayolah Chii..ini bukan ide buruk..kita bisa bertemu cinta sejati kita..siapa tau?”
Chinen berdehem keras, “Bagaimana kau bisa berfikiran seperti itu? Itu kan hanya acara kencan biasa, Yuto!!”

“Ayolah…aku masih butuh satu orang lagi…Yama sudah setuju untuk pergi.”

“Dia?pergi? yang benar saja!!”

“Iya kan Yama-chan?”, tanya Yuto karena saat itu Yama baru saja samapi di tempat itu.

“Kau ikut Goukon dengan Yuto?”, tanya Chinen seraya menangkap minuman kaleng yang Yama lemparkan.

Yama tampak malu, tapi mengangguk, “Hanya karena Yuto sangat menggangguku kemarin..”

“Jadi Chii..ayo ikut saja…ya??ya??”, seru Yuto masih membujuk Chinen.

“Baiklah..baiklah..lepaskan bajuku!! Kau tak perlu seperti itu…ok..aku ikut..”

“YATTA!! Besok pasti jadi hari yang menyenangkan..ne?”

Yama dan Chinen hanya mengagguk bosan pada Yuto.

“Aku pulang duluan ya!!”, seru Chinen beranjak dari bangku taman.

“Eh? Nande?”, tanya Yama heran.

“Ada urusan…oke? mata ashita!!” teriak Chinen meninggalkan kedua temannya.

Dia tidak ada urusan, hanya matanya menangkap sosok yang sudah ia cari seminggu ini. Ia tak bisa bertemu di sekolah, orang itu terus menghindarinya.

“Dhe-chan…kumohon…bicaralah denganku…”, Chinen yang mengejar Dhe, kali ini menarik tangan Dhe agar sama sekali Dhe tak dapat pergi darinya.

Dhe berbalik kaget, mendapati tangannya digenggam oleh Chinen tambah membuatnya kaget.

“Chii?!!?”, teriak Dhe kaget.

“Dhe….Onegai…hanya bicara saja..ne?”, Chinen menatap Dhe lama.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Ne?”, Dhe menunduk di sebuah bangku taman. Tampak enggan menatap Chinen, karena takut air matanya jatuh.

“Gomen na…hounto…kau ingin aku seperti apa agar aku memaafkanmu?”, tanya Chinen dengan nada suara bergetar.

“Kata siapa aku marah padamu?”, tanya Dhe.

“Kau tak datang lagi setelah hari itu. Jika tidak marah, kenapa kau tidak kembali?”, Chinen menatap Dhe yang masih menunduk. “Dhe..jawab aku…”

“Chii…sudahlah…lupakan..ne?”

I’m going to give
My feelings to you
I want to tell them to you as they are
They light up white with the season

“Perasaanku akan selalu sama Dhe….”

Dhe terdiam, tak ingin lagi mendengar apa yang akan dikatakan Chinen.

“Dhe….”

“Yamete!!! Yamete kudasai!!!”, pinta Dhe sambil menangis, “Kumohon hentikan Chii…kurasa kau salah menilai apa yang kau rasa..ne? Bisakah hubungan kita hanya guru dan murid saja? Ne?”

Before I know it, the decorated streets
Make me feel excited
I’m no good at it
But I’m trying to produce

“Apa setelah setahun, kini kau ingin bilang aku salah menilai perasaanku? Dhe!!! Aku tidak bercanda!!!”, Chinen beranjak, menatap Dhe yang kini berurai air mata.

“Chii…kau…dan aku… terlalu banyak perbedaan kita…”, keluh Dhe yang berharap pembicaraan ini segera berakhir dan ia bisa menangis sendirian saja. Tidak disini.

Chinen kembali duduk, ia tak dapat berkata apapun, “Dhe-chan…bisakah kau melihatku sebagai pria? Sebagai lelaki yang mencintaimu? Mungkin aku memang lebih muda darimu…tapi apakah itu penting?”, wajah Chinen tertunduk.

Dhe tidak menjawab, ia hanya terisak hebat. Dhe tak pernah melihat Chinen berbohong. Dhe sendiri bisa menilai kejujuran dari tatapn Chinen padanya. Apakah Dhe selama ini hanya mengingkari hatinya saja? Dhe melihat Chinen beranjak, dan tanpa aba – aba, Chinen mendekap tubuh Dhe.

“Kumohon Dhe…lihat aku sebagai orang yang mencintaimu…”

Dhe membalas pelukan Chinen, ia tahu kini ia harusnya tak lagi menangis karena sedih.

Where as I normally am just followed
And today, just for you
I’ve thought of some modest
Present to give
——————-
When the fluttering snow dances in the air
We walk at night, along the tree lined streets
Before I know it the lights are on
The streets are colored with lights
This is our season

Din mendapati sekarang sudah jam 12 malam. Ia sudah seminggu ini mengerjakan project bersama teman sekampusnya, ini mengharuskan dia hanya tidur sejam atau bahakan tidak tidur sama sekali.

Lampu kamar Dhe masih terang, tak seperti biasanya hanya lampu tidurnya yang menyala. Apa Dhe masih bangun? Pikir Din. Ia penasaran, Dhe tak pernah tidur selarut ini. Atau mungkin Dhe tertidur tanpa sadar sehingga tidak sempat mematikan lampu? Din menuju pintu kamar Dhe, membukanya pelan – pelan.

“Dhe-chan?”, panggil Din lirih. Takutnya Dhe benar – benar sudah tertidur.

“Din-pyoooonnnn!!!”, Dhe menghambur ke pelukan Din dengan mata basah, tampaknya Dhe menangis terus.

“Dhe-chan??doushita no??”

Dhe menceritakan semuanya, Din dengan sabar mendengarkan apa yang Dhe ceritakan diantara isak tangis Dhe.

“Dhe…sebenarnya kau melihat Chinen seperti apa? Bukannya aku membela Chinen, tapi benar apa yang ia katakan. Lalu apa yang salah dengan perbedaan umur 4 tahun? Atau bahkan status kalian yang sekarang guru dan murid? Kau tahu itu tak ada hubungannya. Iya kan?”

“Tapi Din-pyon..aku…”

“Kau hanya terlalu banyak pertimabangan…Dhe…berhentilah menyakiti dirimu sendiri…terimalah apa yang hatimu katakan padamu.”

Dhe kembali menangis. Kini ia menangis karena menyesal.
—————–
Masa magang Dhe sudah selesai. Kini saatnya ia berpamitan pada seluruh kelas karena sudah membantunya selama 3 minggu di tempat itu. Chinen sendiri tak lagi mengganggunya, namun itu justru mengganggu Dhe. Ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Chinen.

Dhe tersenyum saat diminta untuk berpidato singkat, siswanya memberikan Dhe sebuket bunga, 3 minggu mungkin waktu yang singkat, tapi berkesan bagi Dhe. Setelah ini Dhe harus kemabli kuliah seperti biasa.

Chinen tak tampak di kelas, Dhe ingin memberikan sesuatu pada Chinen, namun tampaknya Chinen menghindarinya terus.

“Nakajima-kun, kau tahu dimana Chinen-kun?”, tanya Dhe.

Yuto mendongak, “Tampaknya ia di taman sensei…”, jawab Yuto yang kemabli sibuk bertengkar dengan Yama.

Dhe melihat Chinen di taman, Chinen hanya melamun, ia bosan dan tak ingin juga berpisah dengan Dhe.

“Chii…”, panggil Dhe.

Chinen tersentak, tak percaya yang ia pandang adalah Dhe yang tersenyum hangat padanya.

You smiling, that’s the only
Thing that I want to see

“Maafkan aku….sepertinya aku sudah sering melukai perasaan Chii..”, aku Dhe. “Hari ini masa magangku selesai, kau tahu?”

“Iya…aku tahu…”, ujar Chinen singkat, “Makanya aku tak ingin ada di kelas. Harus berpisah untuk kedua kali itu menyakitkan..”, jelas Chinen.

“Chii…bisakah kau menungguku sebentar lagi?”

Chinen memandang Dhe tak mengerti.

“Datanglah apdaku ketika kau sudah dewasa, saat itu aku tak akan menolakmu lagi. Kau tahu aku pun punya perasaan yang sama denganmu. Tapi buktikanlah padaku. Kau bisa menjagaku…saat itu, datanglah padaku…”, jelas Dhe.

Not just for today
But for every day
——————-
These feelings of mine will
Pass through all of the seasons

Chinen mendapati dirinya berada diluar gerbang sebuah SMA. Nafasnya mengepul dari mulutnya. Sekarang musim dingin, tapi tak mengurungkan niatnya untuk menunggu.

Jam pulang sekolah tampak sudah lewat, tapi Chinen masih berdiri di luar gerbang, ia tak menunggu murid disitu pulang, ia menunggu guru – guru pulang.

Dhe terpaku ditempatnya. Ia masih mengenali orang yang berdiri di depannya. Sudah 5 tahun berlalu, tapi mustahil ia melupakannya. Pria dihadapannya sudah jauh lebih dewasa, lebih jangkung, sebuah map terselip di tangannya.

“Konbanwa…Dhe-sensei…”, sapa orang itu.

“Chii? Kau?”. Dhe speechless, tak ada kata yang dapat terucap dari mulutnya.

Chinen tersenyum, menyerahkan sebuah map coklat pada Dhe.

“Aku sudah lulus..bahkan sudah bekerja sekarang. Jadi..apa perasaanku dapat kau terima sekarang?”

“I’m going to protect you”
I can’t just simply say that
But instead of standing opposite you
I want to go toward the same future together

Owari~
P.S: Kyaaaaaaa~ owarinya aneh ya??udah puyeng saia..hahahaha…tapi ini udah ke pending lama banget…buat Dhe..hounto gomen kalo gak memuaskan..din hanya menumpahkan apa yang ada di otak..mudah – mudahan suka sih..tapi kalo gak, silahkan marahin din aja..hahaha… *ngakak*
Dalam rangka Chii ultah juga deh…^^
Douzo~ di komen….COMMENTS ARE LOVE…

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] Boku No Kimochi~

  1. dhechinen

    ukyaaaa din~ arigatoouu~

    udh dibikinin penpik >//< dgn chinen puLa~ kyaaaaaaaa >0<
    nanges bahagia~

    hohohoho chii~

    aishiteru yo~

    tentu saja aku mencintai mu~

    nyahahaha dhe ~ dhe~ cinta itu tak mengenaL batas usiaaa~ hahahahhahahahahaha

    dinpyon~
    enaknya bisa bareng kamu di hums hihihi

    sankyuu din~

    dhe sangath suka~

    kyaaa

    demo kependekan~

    mau yang lebih panjang~

    nyahahhaa

    din: banyak mau nya Lu!

    *gePLak paLa dhe*

    wkwkkwkwXDD

    hai hai sankyuu dinpooon~

    uaaa ini kereeen~

    dhe seLaLu suka dgn penpik din~

    penpik din itu bikin dhe berpikir Luas di tiap sensasi kata-katanya~

    kyaaa

    pa lagi ini ada lagu2 nya juga~

    maknanya sangath bagus~

    kyaaaaaAAA

    *bikin saiya buka kamus untuk kesekian kalinyah~

    hahahahha

    arigatou din~

    uaaa kapan2 bikinin Lagi yak?

    wkwkkwXD

    benar2 banyak maunya!!

    khukhukhu

    sankyuu kakak ipaR~

    (bungkusin bang tego buad din khikhikhi

    Reply
  2. dinchan

    haaahh??wkwkwkwk…
    maaf kalo tak memuaskan…
    saia hanya menulis apa yang ada di otak..wkwkwk…
    ^^
    arigatou dhe..
    ntar din pikirin lagi mau nulis lagi apa gak..
    ^^
    arigachu~

    Reply
  3. dhechinen

    iyaa~

    dinpyonn dhe kagak punya pulsa~

    dhe jawab dsini aja yak~

    hehe

    dhe kesasar

    harusnya pan belok kanan eee dhe malah belok kiri

    mana udah magrib jadi gak tapi ingath lagi

    al hasil dhe keujanan+kelaperan di jalan
    *hiks*

    ehehe dhe suka donk din >//< suka bangeth~ mana romantis puLa mana di di di kisu lagi >//< kyaa kyaaa *mati bahagia* hahaha demo ne~ beneran kependekan
    >di cincang din<
    nee? gak apa2 din~

    justru dhe itu nangkapnya chii itu memang dewasa~

    dari dulu dhe merasa chii itu dewasa

    bahkan dalam dunia ke dua dhe~

    chi sangath dewasa disana~

    hhahaha

    makLum lah dhe pan sangath chiLdish

    dhe sangath senang dgn org2 yg dewasa

    hahaha

    termasuk chii

    dia memang terkesan manja dan kekanak-kanakan

    tapi sesungguhnya

    dhe sangath tahu~

    kalo dia benar2 anak yg dewasa~
    sangath cermat dan teliti

    >meLAnkoLis dia< haha
    wuaaaa dhe sangath senang din~

    dulu dhe pernah mau bikin jg dhe jd sensei nya

    tapi kagak jadi2

    hahahaha

    wuaaa syukurlah sudah din kabuLkan

    kyaaaaaaaaa arigatou dinpyoooooooon >//<
    *pelok din mpe remek<

    Reply
  4. dhechinen

    kangen ama ffc din~

    >//< kyaa kyaaaaaaaaaa
    (tereak2)

    >abis reka uLang

    heee maksud te membaca uLang >///< *mati bahagiaaa
    @Dinpyon arigatouuuuuuuuuuuuuu

    @Depyon~ nyai nyai ceritanya din sellau bagus yaph b>//seakan beneran aja sudah >//< *di tabok kyaaaaaaaaaaaa Chiiiiiiiii aishiteru yooooooooooooooooooo!!!

    Reply
  5. Anonymous

    Dinpyon,, dhe kangen <3 dan dhe teringat ff yg khusus Din buatkan utk dhe dan chii ini... Din... hiks *nangis terharu*

    Doumo Arigatou Gozaimasu… huhuhu

    huwaaaaa…… chiiii…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s