[Multichapter] Married By Accident (Chap 3)

Title : Married By Accident
Chapter : Three
Author : Tegoshi Din
Pairing : We’ll let you guess 0_< Genre : Romance Rating : PG aja deh Starring : Takaki Yuya as Takaki Yuya/ Takaki-sama Dinchan as dinchan Inoo Kei as Inoo Kei / Inoo – sama Opichi as Opichi Rest Member of Hey!Say!BEST Disclaimer : Dinchan and Opichi belongs to theirselves, Hey!Say!BEST belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story…so read it happily…comments are LOVE…

Married By Accident
–story 3–


“HUAAAAAAA!!!Opichi…it’s immposible that aku harus menikah dengan orang aneh itu…hikz..” ucap Dinchan

“Aneh bagaimana maksudmu?” tanya Opichi diseberang sana

“Ya aneh…dia terlihat sok cool, sok playboy, dan yang jelas dia hobi marah – marah!! Matilah aku kalau benar – benar jadi istrinya…” keluh Dinchan panjang lebar sambil mengambil segelas coklat hangat di dapur.

Opichi diam sejenak mendengarkan ocehan panjang lebar dari Dinchan, “Ah…sokka… tak ada kemungkinan kalian kabur lalu tidak jadi menikah?” tanya Opichi mencoba memberi saran.

Dinchan terdiam,”Ide yang bagus Opichi!!!!” seru Dinchan bahagia.

Setelah menutup telepon dari Opichi, Dinchan pun segera mendial nomor ponsel Yuya.

“Moshi – mosh…ada apa kau meneleponku calon istri?” angkat Yuya judes diseberang sana.

Dinchan tak mau meladeni sikap anak kecil Yuya, “Aku punya ide bagus…” ujar Dinchan ceria.

“Apa?” tanya Yuya ketus

Dinchan diam sejenak, “Kita kabur saja….”

“HAAAAHHH?Kau Bercanda?”teriak Yuya kaget.

“Sssshhht…jangan sampai ada yang tau!!! Bagaimana?”

“Itu ide gila Dinchan!” Bentak Yuya halus.

“Aku tau…” kata Dinchan ringan, “Tapi kau tak mau sampai dinikahkan kan? Kamu tak sadar, umur kita baru 18… hidup kita masih panjang…” kata Dinchan sok bijak.

Yuya terdiam, tampak memikirkan kemungkinan hal itu bisa mereka lakukan.

“Takaki! Kau mendengarku? Bagaimana?” tanya Dinchan lagi, tak sabar.

“Hmmm…kau berencana kabur kemana?” tanyanya.

Dinchan tersenyum, tampaknya ia puas Yuya akhirnya mengikuti keinginanya, “Kemana saja…besok sepulang sekolah…bagaimana?” tanya Dinchan lagi.

Yuya terdiam sebentar, “baiklah…besok…”

—————
“Kau yakin Dinchan?” tanya Yuya lagi.

“Kau bawel sekali!” kata Dinchan menarik tangan Yuya yang berada tepat dibelakangnya.

Hari ini kalau mereka tidak kabur, adalah hari pertemuan keluarga mereka berdua, tapi Dinchan dan Yuya tidak mau melakukannya lalu berniat melarikan diri.

“Mereka merepotkan sekali…” keluh Inoo sambil memandang ke bawah, dimana supir pribadi
Yuya dan Dinchan menunggu tuan mereka yang tidak muncul – muncul.

Tiba – tiba terdengar teriakan, Inoo berbalik dan mendapati seorang cewek sedang mencoba mengumpulkan buku yang berserakan.

“Kau ceroboh…” kata Inoo sambil membantu cewek itu memunguti bukunya yang berjatuhan.

“Ini salah Dinchan! Harusnya yang piket kan aku dan dia! Tapi dia mau melarikan diri, jadi dia memberikan semua tugasnya padaku!” keluh cewek itu panjang lebar.

Inoo tertawa tertahan, “Kau juga cerewet sekali!” katanya.

Cewek itu terdiam, memandang Inoo dengan wajah memerah karena malu, “Gomen…” katanya seraya mencoba berdiri dari posisinya yang sekarang sedang duduk. Inoo membantunya.

“Arigatou…”

“Maaf…siapa namamu?” tanya Inoo.

“Opichi desu…” jawabnya masih tersipu, menyadari kelakuannya yang berbicara panjang lebar itu sedikit memalukan.

Inoo masih memandangi Opichi, ketika bibir Inoo tiba – tiba berada di bibir Opichi. Keadaan sedikit melambat, Opichi merasakan jantungnya hampir keluar dari tempatnya.

“Gomen…aku…” Inoo salah tingkah dengan perbuatannya sendiri.

PLAK!!

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Inoo.

“Baka!!” teriak Opichi sambil berlari keluar, air matanya tak dapat terbendung lagi.

——————

“Orang bodoh macam apa yang kabur ke taman bermain!!” keluh Yuya pada Dinchan.

Dinchan masih memakan es krimnya berpura – pura tidak mendengar ocehan Yuya.

“Heh! Cewek ajaib! Aku bertanya padamu!” seru Yuya lalu menarik kasar rambut Dinchan.

“Itai~” keluh Dinchan, “Kau tahu…di Taman Bermain kita tak akan bosan…Baka!” seru Dinchan lagi.

Yuya mencibir. Ia berfikir kalau Dinchan memang sangat kekanak – kanakan, manja dan sama sekali tidak berfikir kalau di tempat ramai seperti ini resiko mereka tertangkat tentunya lebih besar.

“Huaaaa!!!Bianglala!!!” seru Dinchan tiba – tiba, “Naik itu ya?ya?” rengek Dinchan menarik tangan Yuya dengan sedikit paksaan.

Yuya hanya menurut saja. Antrian untuk naik ke bianglala ini sungguh panjang, Yuya bahkan tidak heran jika mereka akan kebagian malam hari. Sekarang saja sudah hampir jam 6 sore, langit sudah mulai gelap.

“Antriannya panjang sekali…” keluh Dinchan.

Yuya tersenyum mengejek, “Bodoh! Kincir seperti ini memang selalu penuh..”

“Huuuffft…” keluh Dinchan lagi.

Yuya terus memperhatikan sekitar, ketika matanya menangkap seorang pria dnegan setelan jas yang ia kenal sebagai salah satu pengawalnya. Tampak memutar kepalanya, mencari – cari di keramaian sambil sesekali berbicara dengan airphonenya. Tanpa pikir panjang, Yuya menarik lengan Dinchan.

“Kita mau kemana??!!” seru Dinchan yang tak rela karena ia harus gagal naik Bianglala.

Yuya hanya terus berlari, keluar dari jangkauan pria tadi, tapi Yuya kembali menangkap bayangan orang yang berpakaian persis sama dengan pria yang tadi. Yuya kembali menarik
Dinchan yang tampak tak mengerti kenapa mereka terus berlari menghindar.

“Takaki! Kita mau kemana sih?!!” seru Dinchan tak sabar.

“Urusai!! Ikut saja!!” bentak Yuya lalu terus berlari menggenggam tangan Dinchan, akhirnya memutuskan untuk keluar dari arena Taman Bermain.

Mereka terus berlari, nafas Dinchan tampak sudah tak beraturan, “Berhenti!!! Onegai!!!” keluh Dinchan lalu melepaskan tangannya dari genggaman Yuya.

Yuya pun akhirnya berhenti berlari.

“Kenapa…kita…lari..??” tanya Dinchan masih berusaha mengumpulkan nafasnya.

“Pengawalku…aku melihat pengawalku…” kata Yuya sedikit tersengal.

Dinchan duduk disebuah bangku, ternyata mereka lari sampai pada sebuah taman kecil yang diisi dengan berbagai permainan anak kecil sepert ayunan, dan berbagai permainan anak TK lainnya, taman itu tampak kosong, mungkin karena sudah agak malam.

“Sokka…kupikir kenapa kau tiba – tiba menarikku…”

Yuya ikut duduk, tak menjawab pertanyaan Dinchan.

“Sudah malam…kita akan menginap dimana?” tanya Dinchan lagi.

Yuya mengeluarkan ponselnya, dan terbelalak melihat ponselnya mati, “Yabai!! Kenapa ponselku harus habis batere pada saat seperti ini….pinjam ponselmu..” minta Yuya pada Dinchan.

“Aku tidak bawa ponsel ke sekolah tadi, karena…kupikir justru harusnya kita tak bawa ponsel…” kata Dinchan polos.

“Bagaimana ini!! Aku harus menelepon Kei dan aku juga tidak hapal nomor ponselnya!! Sial!!” seru Yuya kesal.

Tanpa aba – aba, hujan tiba – tiba turun dengan deras, Yuya dan Dinchan berlari ke bawah sebuah perosotan yang berbentuk binatang gajah itu, cukup melindungi mereka dari hujan yang tiba – tiba itu. Tapi mereka berdua sudah cukup basah karena hujan itu turun dnegan deras secara tiba – tiba.

“Kenapa harus hujaaaann..” keluh Yuya.

“Bawel!! Hujan ya hujan!” bentak Dinchan sambil mencoba mengeringkan rambut sebahunya yang sekarang basah, seragamnya juga basah, Dinchan mencoba menepuk – nepuknya, berharap akan kering.

Yuya jadi keki dibentak oleh Dinchan lalu membuka jas sekolahnya yang basah.

“Tampaknya kita harus bermalam disini, Dinchan.”

“Iya…hatchi!!” ternyata Dinchan kedinginan, ia memang tak tahan cuaca dingin, apalagi sekarang dia memakai baju basah, serta rok sekolahnya yang pendek membuatnya semakin kedinginan.

Yuya melemparkan jasnya, “Pakai ini!” perintahnya, Dinchan buang muka tidak menghiraukan jas itu.

Dengan kesal Yuya menutupi kaki Dinchan dengan jasnya, “Aku tak mau disalahkan jika kau sakit!” katanya ketus, Dinchan hanya mencibir.

Keeseokan paginya Dinchan merasakan kakinya sedikit kram, ia tertidur semalam, ketika hujan masih deras. Cahaya menyilaukan membuat matanya sedikit sakit, tiba – tiba cahaya itu tertutupi sesuatu.

“Mereka sudah bangun…” kata orang yang ternyata sedang berbicara pada airphone itu.

Dinchan memandang kakinya, ternyata Yuya tertidur dikakinya.

BLETAK!

Secara refleks Dinchan melempar kepala Yuya yang amsih berada di kakinya, membuat Yuya terhempas ke tembok belakang.

“Itai~”

“prevert!!!” seru Dinchan.

“Apa yang kau lakukan cewek bodoh!” seru Yuya masih kesal dilempar oleh cewek itu.

“Ohayou…Yuya…Dinchan…” panggil seorang pria.

“Ayah?!!!!” seru Yuya kaget setengah mati.

——————
Opichi memandangi bangku sebelahnya yang kosong, sejak kemarin Dinchan sama sekali tak menghubunginya, membuatnya bertanya – tanya dimanakah sahabatnya itu.

“Mereka tertangkap.” Kata seseorang pada Opichi, yang ternyata Inoo.

Opichi teringat kejadian stolen kissu sore itu.

“Apa maksudmu?” tanya Opichi, mukanya memerah.

Inoo tersenyum, “Iya…mereka tertangkap sedang berduaan, dan tampaknya rencana pernikahan ini malah akan dipercepat.” Kata Inoo sambil memandang Opichi.

“Eeeh??maji de?”

Inoo mengagguk, “Opichi gomen na…aku tak bermaksud mencuri ciuman darimu, tapi saat itu aku melihatmu dan tiba – tiba saja aku merasa ingin…”

PLAK!

Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Inoo.

To Be Continued~

P.S : hoho..chapter 3 sudah dataaanggg….please read n comment…Onegaishimasu..^^
*bow* Comments are Love minna~

^dinchan^

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Married By Accident (Chap 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s