[Multichapter] Married By Accident (chap 2)

Title : MBA
Chapter : Two
Author : Tegoshi Din
Pairing : We’ll let you guess 0_<
Genre : Romance
Rating : PG aja deh
Starring : Takaki Yuya as Takaki Yuya/ Takaki-sama Dinchan as dinchan Inoo Kei as Inoo Kei / Inoo – sama Opichi as Opichi Rest Member of Hey!Say!BEST
Disclaimer : Dinchan and Opichi belongs to theirselves, Hey!Say!BEST belongs to Johnny’s Entertainment, and other characters belong to their selves. We don’t own them, just own the idea. Please don’t sue me, it’s just a story…so read it happily…comments are LOVE…

Married By Accident
–story 2–


“Sebentar Yuya…calon istri? Apa maksudmu?” tanya Hikaru setelah berhasil mengendalikan diri.

“Alasan aku dipindahkan kesini, adalah untuk menikah…”

“Uhuk!” Daiki tampak tersedak, “Tapi kau baru 18, Yuya!” kata Daiki.

“Aku tahu… Tapi ini tradisi di Rumahku… Setiap anak pewaris, harus menikah pada umur 18, dengan jodoh yang sudah ditentukan sejak mereka lahir.”

“Peraturan bodoh…” kata Inoo.

“Iya! Aku juga mengaggap itu adalah hal terbodoh yang pernah kudengar…” keluh Yuya lagi.

“Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Yabu lalu menepuk bahu Yuya.

“Bukan itu yang penting…siapa calonmu?” kata Inoo.

Yuya mengeluarkan foto yang sejak tadi ia pegang, “Ini….”

Semuanya serentak ingin melihat calon istri Yuya.

“Dia lumayan cantik…” ujar Yabu sambil memandang foto itu.

“Kelas berapa?” tanya Hikaru

Yuya melepaskan nafas berat, “Dia sekelas dengan kita…”

Daiki mengedarkan kepalanya ke seluruh penjuru kelas dan menggeleng, “Tapi tak ada cewek seperti itu di kelas ini…”

Yuya menunjuk sebuah bangku dimana dua orang cewek sedang makan, sambil tertawa – tawa.
Inoo yang sedang menggenggam foto itu berkata, “Jangan bilang kau akan menikahi cewek aneh itu…” katanya menunjuk Dinchan.

Yuya memandang semua temannya dengan pandangan sedih dan mengagguk tampak sangat menyesal, “Iya…dia calon istriku…”

——————-
Dinchan melangkah gontai pulang ke rumahnya. Sebentar lagi penyiksaan kembali terjadi. Dinchan tak sadar sejak tadi Yuya dan Kei mengikutinya dari belakang.

“Kau yakin mau menikahinya?” tanya Inoo sedikit berbisik.

Yuya yang ditanya hanya terdiam.

“Ia tak layak disebut cewek….” kata Inoo lagi.

“Sudahlah…kita ikuti dulu saja…”

Dinchan berhenti didepan sebuah rumah mewah, ia membuang nafas beratnya, dan mulai merapikan diri., rambutnya yang berantakan ia sisir dengan tangannya, ia naikkan kaos kaki yang tadinya panjang sebelah, tasnya pun ia selempang dengan rapi, lalu Dinchan tersenyum.

“Tadaima~” teriaknya dengan anggun, lalu Dinchan pun berjalan layaknya seorang bangsawan.

Inoo berbalik, memandang sahabatnya yang sekarang mulutnya ternganga, “Ia memang calon istrimu…”

“Okaeri~ Dinchan….” kata sorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangannya, wanita itu pun mengambil tas Dinchan.

“Arigatou Hino-san…” kata Dinchan lalu tersenyum lembut.

“Dinchan sudah ditunggu oleh Otou-sama dan Okaa-sama di ruang keluarga.” Kata Hino-san
pada Dinchan.

Dinchan hanya menunduk, tanda ia mengerti lalu melangkah ke ruang keluarga.

“Dinchan…masuk…”

“Baik Otou-sama…” kata Dinchan dengan suara lembut, lalu masuk dengan sopan.

Ayah dan Ibunya sedang duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di depan masing – masing.

“Kau tahu kenapa kau dipanggil kesini?” tanya Ayahnya.

“Tidak Otou-sama…ada apa Otou- sama dan Okaa-sama memanggilku?” tanya Dinchan sopan.
Seperti apa yang guru kepribadiannya telah mengajarkan bersikap di depan Ayahnya yang keras dan disiplin itu.

“Kau tahu tradisi di keluarga kita?”

Dinchan tau hari ini akan datang, sudah bertahun – tahun ia berharap akan mati sebelum 18 tahun, atau sebelum tradisi ini harus dilaksanakan, karena ia tidak pernah berfikir akan melakukannya.

Dinchan hanya terdiam, tidak mau menjawab.

“Hal itu akan dilaksanakan minggu ini…jadi bersiaplah…” kata Ayahnya.

Air mata Dinchan terasa akan jatuh, tapi Dinchan menahannya mati – matian.

“Baiklah Otou-sama….tapi sebelumnya, bolehkah aku tahu siapa yang akan menjadi calon suamiku?” tanya Dinchan.

Ibunya yang sejak tadi diam, tiba – tiba menyerahkan sebuah foto.

——————
Dinchan menangis keras – keras dikamarnya. Kini masa depannya benar – benar hancur, ia tak lagi akan bisa seperti remaja lainnya, kini ia terikat pada pria yang ada di foto itu.

Tapi Dinchan sangat kaget melihat sosok pendampingnya, itu Takaki Yuya, cowok yang baru saja pindah ke sekolahnya, cowok sok Cool yang sangat tidak dia sukai.

“Ai Ai Gasa~” Ponsel Dinchan berbunyi, Dinchan mengambil Ponsel hitam itu dan melihat nama yang sudah tak asing lagi.

“Moshi mosh~” angkat Dinchan.

“Nada SMS mu mengerikan! Ada apa sebenarnya?”

“Opichi….” tangis Dinchan kembali meledak.

Opichi membiarkan sahabatnya itu menangis sejadi – jadinya.

“Ada apa Dinchan? Jangan membuatku panik!”

“Aku…aku…aku…hikz…sebentar lagi aku akan menikah…”

“HAAAAAHHHH???KAU BERCANDA????!!!”

Akibat teriakan itu, Dinchan terpaksa menjauhkan Ponselnya dari kupingnya.

“Aku tidak bercanda…ini benar – benar…hikz…terjadi…hikz..” rengek Dinchan.

“Jadi tradisi itu benar – benar akan terjadi?” tanya Opichi lagi.

“Iya…hikz..aku harus…ba..gai..ma..na??hikz..”

“Kapan?” tanya Opichi.

“Minggu ini….hikz..” mata Dinchan kini benar – benar bengkak.

“HAAAAAHHHH???!!!” teriak Opichi lagi, “Kau bercanda? Siapa calon suamimu?”

“Hikz…kau pun mengenalnya…”

Opichi terdiam, mungkin berfikir siapa yang pantas menikah dengan cewek bangsawan sepeti
Dinchan.

“Takaki Yuya…” jawab Dinchan lirih, masih dalam isak tangis.

——————
“Jadi…menurut kau…” kata Yuya masih mencoba menyimpulkan apa yang Inoo katakan.

“Iya….sifat Dinchan di sekolah hanyalah kamuflase, atau sebaliknya…di Rumah lah sifat dia palsu…yang jelas ia tak mau terlihat seperti seorang bangsawan di sekolah. Kau lihat kan betapa dia terlihat sangat kucel,” jelas Inoo panjang lebar.

Yuya mengagguk – angguk setuju.

“Jadi kau tak perlu khawatir, pasti dia Putri seperti yang Orangtuamu harapkan…kalau tidak, tidak mungkin ia dijadikan calon istrimu…” jelas Inoo lagi.

TOK!TOK!TOK!

“Maaf….Yuya-sama…bolehkan saya masuk?” tanya orang diluar.

“Masuklah Bi!” teriak Yuya.

“Yuya-sama, Otou-sama mengingatkan bahwa malam ini anda ada makan malam dengan calon
istri anda…jadi jangan terlambat…Inoo-sama…mau tambah minumannya?” tanya pelayannya itu
ramah.

“Tidak Bi…arigatou..sudah cukup.” Jawab Inoo sambil tersenyum.

“Maaf, Takaki-sama…baju anda sudah dipersiapkan di ruang ganti.” Katanya lalu menunduk dan pergi keluar kamar Yuya dengan masih menunduk.

“Yah…malam ini aku harus makan malam dengannya…karena minggu ini pernikahan kami akan dilaksanakan.” Yuya kembali melepaskan nafas berat, “Kuharap ia tak seburuk yang kubayangkan.”

———————
“Hino-san, baju ini terlalu terbuka, aku tidak suka!” rengek Dinchan.
Mukanya sudah terpoles make – up, badannya pun dibalut dengan gaun berwarna pink muda, yang sederhana, namun terlihat sedikit terbuka.

“Dinchan…maafkan Kaachan tak bisa berbuat apa – apa..ini sudah keputusan Otou-sama” jelas Ibunya, lalu memeluk putrinya itu.

“Kaachan…sudahlah…bagaimanapun juga ini sudah takdirku…” kata Dinchan sambil tertunduk.

“Dinchan…mobilnya sudah siap…” kata Hino-san memangil dari pintu.

“Hati – hatilah nak…Kaachan juga dulu sepertimu…tapi semoga kau bisa mencintai calon suamimu, seperti Kaachan akhirnya mencintai Otou-sama…” katanya lalu tersenyum melambai pada putrinya itu. Dinchan hanya tersenyum kecut.

——————-
Yuya sudah sampai di Restaurant yang sudah disiapkan oleh Ayahnya, ia dipersilahkan ke ruang Privat. Disitu hanya ada satu meja, dengan dua kursi yang saling berhadapan, suasananya pun romantis dengan penerangan seadanya dan lilin – lin di sekeliling ruangan itu.

Yuya duduk sambil menuggu Dinchan, ia merasa bahwa setting ruangan ini terlalu berlebihan, apalagi ia makan malam kali ini bukan dengan kekasihnya atau apa, tapi calon istri yang sama sekali belum ia kenal.

Dinchan datang dengan langkah anggun yang Yuya lihat di depan rumah Dinchan tadi sore, bukan Dinchan yang kumal dan tidak beradab itu.

“Maaf aku terlambat…Takaki-sama” ucap Dinchan lembut.

Yuya sedikit terkesiap mendengar Dinchan berkata begitu.

“Aaaa…daijoubu!!” jawab Yuya.

“Aku bersikap begini karena bodyguardku masih disini…” bisik Dinchan pelan, pada Yuya.

Yuya mengagguk tanda mengerti.

Tak lama, para pengawal Dinchan pun keluar dari tempat itu, akhirnya mereka berdua juga.

“Jangan pikir aku kesini karena tertarik denganmu!!” kata Dinchan tiba – tiba.

“Aku juga!!!aku hanya melaksanankan apa yang ayahku perintah!” teriak Yuya tak kalah sinis.

“Cih! Berfikir akan menghabiskan hidup bersamamu membuatku ingin mati saja sekarang….” kata Dinchan lagi.

Yuya memutar matanya, dan mencibir ke arah Dinchan, “Kau fikir punya istri sepertimu adalah anugerah buatku?!!ini bencana!!!”

Semalaman itupun mereka bertengkar, hingga makan malam selesai, tapi tentu saja pada saat pulang, Dinchan bersikap manis sekali tak terlihat mereka tadi bertengakr, walaupun wajah
Yuya sedikit masih masam.

“Malam ini menyenangkan sekali Takaki-sama…Arigatou Gozaimashita..” ucap Dinchan anggun lalu membungkuk sopan.

“Douitashimashita…” balas Yuya dengan membungkuk juga.

To be continued~

Bagaimanakah selanjutnya pernikahan ini???xD

P.s: aneh gak ceritanya??hahaha…comments are Love minna~

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Married By Accident (chap 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s