[Minichapter] Key of Heart (chap 1)

Title : Key of Heart -chapter 1-
Author : deenzchan
Starring : Tegoshi Yuya x din-chan x Masuda Takahisa
Rating : PG
Genre : ROMANTIC (I want make this as romantic as I can)XDD
Cat : Ya ampyun!!akhirnya din bikin Fanfic jughaw..buat semuanya yang baca..please jangan uber – uber din..jangan bunuh din…ini Cuma kenarsisan semata karena din lagi kangen berat sama Tegoshi!!!hahaha….
KEY OF HEART
-chapter 1-

Aku memandangi pria didepanku yang sepertinya sangat exicted dengan apa yang ada di tangannya sekarang. Ia membuka bento nya lalu memakannya dengan sangat hati – hati. Aku tahu kemampuan memasakku itu tiarap banget!!! Makanya aku mengerenyitkan dahiku..rasanya wajahnya berubah, aku tak berani bertanya padanya.
“hmmm…” katanya, “dinchan..hmm…e…nak…uhuk!” ia terbatuk.
Aku mengerucutkan bibirku dan memukul bahunya lalu merebut kotak bento itu, “iya!!iya!!!aku tau!!!masakanku memang tak pernah enak!!!” sambarku lalu mencicipinya. Ih!!!asin banget!!!pantesan wajahnya terlihat seperti mau mati saat memakannya.
“enak kan?” godanya lalu tersenyum.
Senyum itu, aku lemah terhadap senyumnya.
“uhuk!!uhuk!!!” aku terbatuk. Lalu aku tertawa karena malu dengan apa yang aku buat untuknya.
“Tegoshi!!” panggil seseorang pada pria itu.
Aku ikut menoleh. Itu Massu…atau Masuda Takahisa. Siapa pun namanya, dia adalah orang yang paling tidak mau kutemui saat ini. Aku menunduk memandangi lantai karena tak mau terlihat panic. Tego sepertinya tidak menyadari hal itu Karena sibuk melambai pada Massu.
“Ada apa Massu?” Tanya Tego saat Massu sampai di bangku taman itu.
Massu mengatur nafasnya sebentar lalu memandang Tego, “itu…kita harus ke kantor OSIS sekarang..YamaPi mengadakan rapat mendadak.”
Yamapi..atau Yamashita Tomohisa adalah ketua OSIS di sekolah ini. Dia adalah makhluk paling powerful dan paling popular di sekolah. Tapi anak buahnya pun tak kalah pouler darinya. Mulai dari Nishikido Ryo, wakil ketua OSIS yang wajahnya saja sudah membuat semua orang berjengit karena kesinisannya. Lalu ada Shigeaki Kato, penasehat pribadi dari YamaPi yang digila – gilai cewek karena kepintarannya. Tegoshi adalah salah satu anak buah YamaPi juga yang popular karena ketampanannya. Koyama Keiichiro adalah si “loudly” Keii…mampu membuat suasana menjadi ramai dimana pun dia berada. Sedangkan Massu, adalah bendahara OSIS yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk makan, walaupun wajahnya yang chubby itu juga digila – gilai oleh cewek.
“dinchan…” panggilan lembut itu membuat aku tersadar dari lamunanku. Aku memandang Tego yang memanggilku.
“ya?” aku memandang wajahnya tanpa sedikitpun melirik Massu yang berdiri di sebelahnya.
“Gomen..aku harus rapat…” wajahnya menyiratkan bahwa ia tak mau meninggalkan aku.
Tapi aku mengagguk mantap dan melepaskan tangan Tego yang menggenggamku, “nanti telepon aku ya…” kataku padanya lalu kembali menunduk.
——————————————-
Baiklah, jadi ia tak lagi mau menatapku. Apakah kesalahanku begitu besar sehingga untuk menatapku saja ia tak mau.
“Massu!!kau mau rapat atau tidak?” bentakan itu keluar dari Tego, sahabatku.
Aku gelagapan dan menyusul langkah Tegoshi yang sudah menjauh. Ia masih menunduk. Dinchan masih menunduk. Apa kesalahanku malam itu memang begitu fatal?
Flashback
“Massu…kau masih sakit, jangan berjalan kemana – mana dulu.” Tegurnya.
“Aku ingin kue itu dinchan!!!”
Dinchan bergerak mengambil kue yang kumaksud lalu menyumpal mulutku dengan cookies coklat itu. Malam itu aku demam. Sementara okaa-chan sedang pergi ke rumah saudara di luar kota dengan Otou-san. Dinchan yang sudah biasa masuk – keluar rumahku sejak kecil, datang mengantarkan makanan dari mamanya. Saat tau aku sakit, dinchan langsung menyuruhku berbaring dan ia mulai mngompresku dengan telaten. Dinchan adalah temanku sejak kecil. Kami sudah seperti saudara, maka ia tidak canggung sama sekali masuk kamarku.
“Kau itu!!sedang sakit tapi makan aja!” bentaknya lembut, sambil mengganti kompresanku.
Aku tertawa renyah lalu mengunyah kembali cookies coklat itu.
“Kalau begini terus, kau bisa gemuk!” protesnya.
“Ih,,urusan banget sama kamu!!hahahaha…”
Dinchan mencubit pipiku pelan. “Massu…kau pernah berfikir tentang menyukai seseorang?” tanyanya tiba – tiba.
Aku hanya diam, karena ku tak tahu harus berkata apa.
“Bagaimana bila…aku menyukai seseorang?”
Aku hampir tersedak. Aku memandang wajahnya, dan memang ada keyakinan di wajahnya itu.
“Siapa?” tanyaku pelan.
“Hmm…dia seseorang yang kukenal dekat.”
Aku berfikir keras, siapa yang sedang dekat dengannya saat ini ya?
“Ohh…Tegoshi ya?” aku menyadarinya karena sudah seminggu ini Tegoshi hampir tiap hari terlihat mengobrol dengan Dinchan.
Dinchan sedikit berjengit mendengarnya, namun ia tetap tenang. Ketika ia hendak mengeluarkan suara lagi, aku dengan cepat menyelanya, “Baguslah!! Dengan begitu kau tak perlu menyusahkanku lagi!”
Seketika itu dinchan menangis dan berlari keluar tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

————————————————

Sikap itu muncul lagi. Setiap Massu mengahampiri kita, dinchan sudah pasti menunduk tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Aku tahu..aku mengambil kesempatan saat dinchan sedang sedih, tapi bagaimanapun juga, aku ingin melindunginya. Sahabatku Massu, juga tampak baik – baik saja dengan keadaan ini.
flashback­
Aku membaca di atas kasurku. Memandangi buku itu walaupun pikiranku sedang melayang kemana – mana. Ini tidak akan berhasil, pikirku. Walaupun besok ada ulangan, aku tak mungkin menghapal dalam keadaan seperti ini. Aku ke bawah dan pamit kepada okaachan, mengambil jaketku dan berlari keluar. Aku butuh bermain bola, bagaimana pun aku butuh penyegaran otak.
Bagaimana tidak sumpek, sudah seminggu ini aku berusaha mengajak dinchan pergi denganku, berpacaran denganku karena aku ingin melindunginya. Tapi tampaknya dinchan ingin menghindariku dan selalu mengalihkan pembicaraannya, ah! Tampaknya kisah cintaku kali ini tetap harus berakhir dengan penolakan.
Itu dinchan!! Ia berlari dari rumah Massu sambil menangis!! Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi karena tak tahan, aku mengejarnya.
“dinchan!!!” panggilku, sekarang ia ada didepanku. Masih menangis sambil berlari menuju rumahnya, kurasa, “dinchan!!! Dinchan!!!” akhirnya aku berhasil menggenggam lengannya dan membalik tubuhnya.
Dia terisak hebat. Aku tak tahu kenapa ia menangis, tapi aku tak dapat lagi bertahan, dinchan tampak butuh dipeluk maka aku menariknya dalam pelukanku. Ia membalasnya. Ia membalas pelukanku, sambil masih terisak.
“Siapa yang menyakitimu, dinchan?” bisikku lembut.
Ia hanya diam, masih menangis, walaupun isakannya sudah berkurang.
“Kau tahu, siapapun yang menyakitimu, aku tahu aku tak akan pernah membuatmu menangis seperti ini.” Ucapku lalu membelai rambutnya.
Tangisnya berhenti, ia mengendorkan pelukannya dan menengadah memandang mataku. Ia mencari kejujuran pada diriku, aku memandangnya, mencoba meyakinkan bahwa aku tidak bohong.
Aku mendekatkan diri, dan… chu~ aku mengecup bibirnya. Ia shock, selama beberapa detik, kurasa ia hanya memandangiku. Namun akhirnya ia membalas ciumanku, sekarang aku yang shock! Aku tak menyangka ia benar – benar membalasnya.

——————————————–

Yuu’kun CALLING
Tertera di LCD HP ku…hmm, tampaknya Tegoshi benar – benar menepati janjinya untuk menghubungiku malam ini.
“Moshi – moshi?” angkatku.
“Hmm…kayaknya ada sesuatu di bawah, mau lihat?” katanya tiba – tiba.
Aku bingung, apa maksudnya? Kamarku memang di lantai 2, tapi apa maksudnya ada sesuatu di bawah.
“Yuu’kun…sebenarnya ada apa?” tanyaku penasaran.
“Cepat keluar!” perintahnya.
Aku berlari keluar balkon dan terperanjat dengan apa yang ia perbuat. Ia memetik gitarnya dan mulai bernyanyi, aku tertawa dengan apa yang ia perbuat, kayaknya insting romantis dia memang lagi berjalan dengan baik.
Hoshi kuzu wo chiribameta sora no shita wo aruita kaerimichi
Futari kiri mada sukoshi gikochi nakute kaiwa motogire ga chi dakedo
Tsunaidate to te tsunagaru jikan kimi no kotoba no hitotsu hitotsu kara
Tsutawaru omoi ima ni mo nakidashi sou na hitomi ni dekiru koto
Hoshi-tachi mo mite iru kono basho de
Kimi no koto tsuyoku dakishimete itai kara
Zutto zutto soba ni ite
Kimi ga iru sore dake de yasashi kunareru kara
Nando demo ima nara ie sou na kotoba
Sore demo mada ie nakute
DOA made no kyori sukoshi kono te wo hanasu toki
Omowazu kata wo hiki yoseta mou sukoshi dake koko ni iyou
Hoshi-tachi mo mite iru kono basho de
Kimi no koto tsuyoku dakishimete itai kara
Zutto zutto soba ni ite
Kimi ga iru sore dake de yasashiku nareru kara
Nando demo ima nara ie sou na kotoba
“Zutto issho ni itai” to
Setelah selesai, ia menunduk seperti selesai pertunjukan. Aku melambai padanya lalu berteriak.
“GOMBAL!!!!” teriakku dari balkon, ia hanya tersenyum dan melambai.
Tiba – tiba HP ku berbunyi lagi. Ternyata Tegoshi meneleponku dari bawah.
“Apa?” tanyaku.
“Gimana?” tanyanya.
“Hmm…dasar gombal!!”
Ia tertawa renyah lalu berkata, “Itulah yang kuinginkan….zutto…soba ni itte..”
Aku bingung, sejujurnya apa yang hrus kukatakan padanya, karena ku tak yakin, malam itu saat ku membalas ciuman Tegoshi, benarkah aku sudah bisa melupakan Massu? Melupakan orang yang bertahun – tahun ada di hatiku.
“Hmmm…” aku bergumam tak jelas di telepon.
“dinchan….sudah malam..sana tidur.” Ucapnya lembut, aku memandangnya merasa tidak enak padanya.
Setelah Tegoshi pulang, aku menatap foto yang ada di meja belajarku. Jelas itu bukan fotoku dengan Tegoshi, karena kita belum sempat berfoto bersama. Tapi itu fotoku bersama orang yang sudah memenuhi hatiku selama ini. Senyum lebarnya dan pipi chubby nya itu terpampang jelas didepanku. Ia merangkulku, memang seperti itulah biasanya, ia sahabatku, Massu.
Pagi ini ku terbangun oleh HP ku yang berbunyi tanpa ampun. Aku bangkit dari tidurku lalu mencari HP ku yang tampaknya bersembunyi di suatu tempat.
Massu CALLING
Hah? Mataku agak terbelalak melihat namanya di LCD HP ku. Aku agak terguncang namun akhirnya mengangkatnya, “Moshi moshi?” angkatku.
“HOY!!!!BANGUN!!!!” teriaknya, sehingga aku menjauhkan HP dari telingaku.
“MASSUUUUU!!!!” balasku.
“Eh, cepat bangun! Ayo pergi sekolah! Aku menunggumu di bawah.”
Klik. Telepon dimatikan, bikin aku jadi penasaran, apa yang ia lakukan. Maka dengan cepat aku bersiap – siap untuk pergi sekolah, namun pada saat aku turun, di meja makan Massu sedang berbincang seru dengan Mama sambil terus mengunyah sarapan pagi.
“Yah…ternyata tradisi makan pagi di rumahku belum tergantikan ya?” kataku walaupun sedikit canggung.
Massu tersenyum masih dengan mulut penuh makanan.
“Gak apa kok de…kamu juga cepat sarapan.” Kata Mama padaku.
Setelah selesai sarapan, aku dan Massu berjalan keluar menuju ke sekolah. Sebelum malam itu, aku biasa berjalan bersamanya, biasa menganggunya, mencubit pipi gembulnya itu, tapi tampaknya kali ini aku canggung sehingga hanya dapat menunduk saja. Aku malu memandangnya, karena malam itu au pergi tanpa berkata apa – apa.
“dinchan…” panggilnya.
“Hmm…” jawabku tanpa menoleh sedikitpun.
“Apa ucapanku malam itu keterlaluan? Aku tak bermaksud untuk menjauhimu setelah kau berpacaran dengan Tegoshi, tapi aku…tapi…” pernyataannya menggantung membuatku bingung.
“Tidak!” potongku, “Sepertinya aku yang bereaksi berlebihan.”jawabku lalu memandangnya.
“Kau benar – benar tak marah padaku?” tanyanya.
Aku menggeleng dan kembali memandang jalanan.
Tiba – tiba Massu mencubit pipiku dengan keras, membuatku terkejut dan kesakitan.
“Massu!!!!” pekikku sambil mencoba membalasnya, namun sepertinya Massu lebih gesit lalu berlari meninggalkanku. Aku mengejar – ngejarnya sambil tertawa. Rasanya aku juga tak mau kehilangan sahabatku itu.
————————————————
Aku melangkah menuju rumah dinchan, aku berencana mengagetkan dia dengan menjemputnya pagi ini. Tapi ketika aku hampir di depan rumahnya, dinchan sudah keluar rumah dengan Massu, pagi itu Massu menjemput pacarku. Aku tak mau membuat keadaan tambah aneh, karena dinchan tampak sangat canggung dengan Massu disampingnya. Jadi aku memutuskan membuntuti mereka berdua dari belakang. Mereka tampak sangat canggung, ketika tiba – tiba Massu mencubit pipi dinchan, lalu dinchan tertawa, aku membatu… senyum itu, senyum yang pernah kulihat sebelumnya, sebelum aku memutuskan untuk mendekatinya, senyum itu yang terus kupancing agar ditunjukan untukku. Ia sekarang tersenyum, tapi untuk Massu, bukan untukku.
Sesampainya di sekolah, aku segera meluncur ke kelas dinchan. Kita memang tidak sekelas, dinchan di kelas 2 D sedangkan aku di 2 A, jadi jarak kelas kita lumayan jauh. Aku melihatnya sedang berbicara dengan teman sekelasnya, ia tampak lebih ceria daripada biasanya akhir – akhir ini, apa mungkin karena tadi pagi Massu menjemputnya? Rasanya aku terbakar cemburu, aku tak suka ia berdekatan dengan pria lain. Tunggu, Massu bukan pria lain, ia adalah sahabat dinchan sejak kecil, jadi apa salahnya mereka berdekatan?
“Yuu’kun?” panggil seseorang, membuat lamunanku itu tiba – tiba buyar.
Dinchan dihadapanku, menatapku seakan ada yang salah dengan diriku.
“Hah? Dinchan…” jawabku gelagapan, karena tertangkap basah sedang melamun.
“Ada apa kesini? Pake ngelamun lagi…” katanya masih menatapku aneh.
“Tidak…ini…” aku mengeluarkan 2 tiket.
“Ini? Kencan?” tanyanya sambil memandangi tiket masuk ke Taman Hiburan itu.
“Kita…pacaran kan? Apa salahnya kita berkencan?” tanyaku agak emosi, melihat wajahnya yang tidak terlihat senang, padahal tadi ia tertawa – tawa dengan Massu.
“Gak salah sih…tapi…”
“Kamu gak bisa?” tanyaku sambil merebut kembali tiket itu, “ya udah, terserah!”
“Kamu kok ngambek sih?” dinchan kembali merebut tiketnya dari tanganku.
“Kalo kepaksa gak usah deh…” kataku lagi lalu mengambil lagi tiketnya.
“Ya udah, kalo gak mau, aku aja yang pergi…lumayan buat kencan sama pacar..hahahaha.” kata seseorang.
Kita berdua, aku dan dinchan, serentak menoleh dan mendapati Shige sedang mmemegang tiket itu.
“SHIGE!!!!” teriak kita berdua, kebetulan Shige memang sekelas dengan dinchan.
“Abis..ni tiket bulak – balik mulu, kalo gak mau, gak usah pergi…ribet banget ni pasangan dua…” kata Shige.
“Kata siapa gak mau pergi…” dinchan berkata tepat saat aku mau membuka mulut, dengan sigap ia mengambil kembali tiket dari tangan Shige, “Jemputnya jangan telat.” Kata dinchan seraya memberikan satu tiketnya untukku, aku masih terpesona dengan gerakan cepat dinchan.
“Hoy!” Shige membuatku kaget, cowok yang satu ini memang pinter, tapi dia juga ribut, pengaruh besar dari Koyama yang sering hang out berdua dengan Shige.
“Apa sih?” tanyaku.
“oh..pacaran sama dinchan..kok kamu belum ngenalin dia ke kita sih?secara resmi maksudnya…”kata Shige lalu merangkulku.
“Ih..bawel!ntar deh istirahat aku bawa ke markas.” Kataku lalu melepaskan diri dari Shige, “udah bel, aku masuk kelas dulu.” Kataku lalu menuju kelasku, tadi dinchan benar – benar ingin pergi, apa kesal pada Shige ya? Aduh…kenapa aku harus menebak hal seperti itu sih, dia sudah mau jadi pacarku, apa lagi kalau tak ingin pergi denganku.
———————————–
Aduh, gawat!!hari minggu ini aku ada janji dengan Massu. Tapi aku malah bikin janji lagi sama Tego. Massu mengajakku ke restaurant yang baru buka nanti minggu, sekalian ia akan mengajakku nonton. Bagaimanapun, kita berdua sudah lama tidak melakukan hal – hal bersama. Tapi kalau aku menolak ajakan Tego, sudah pasti ia akan curiga, apalagi bila alasannya tidak bagus. Aku harus memutuskan yang mana yang kupilih untuk hari minggu nanti.
“Dinchan…”panggil Keiko, salah satu teman sekelasku.
“Iya?” aku menoleh.
“Itu…ditungguin pacar tuh…” katanya lalu menunjuk ke arah pintu kelas. Tegoshi tampak melambai padaku, kenapa dia jadi rajin ke kelasku gini.
Aku mengangguk pada Keiko dan menghampiri Tego yang bersikap seolah – olah sudah lama menunggu.
“Ada apa lagi?”
“Jadi pacar gak boleh dateng ke kelas pacarnya…”
Kenapa sih, hari ini dia bawaannya sewot mulu.
“Bukan gitu…udah jangan dibahas, ntar berantem lagi.” Kataku lalu diam menunduk.
Ia terkikik pelan, “Ayo…ikut aku ke markas.” Katanya.
“Hah? Gak ah..ngapain?” memikirkan akan bertemu YamaPi dan Ryo? Haduh..bulu kudukku saja sudah berdiri semua.
Tego menghembuskan nafas berat, “Gini…ini peraturan konyol, tapi aku harus mengikutinya. Kita harus selalu mengenalkan pacar kita bila kita punya pacar.”
Aku melongo.
“Officially.” *ciee…Tego ngomong Inggris**hahahaha*
Ngo – ngo Cengo, itu emang peraturan paling konyol yang pernah aku denger seumur hidupku yang 16 tahun ini.
“Officialy? Penting emang?” aku masih berusaha tidak ikut dengan Tego.
“Kumohon, ini tidak akan lama, oke? Setelah itu kita akan makan di kantin.” Katanya berusaha meyakinkanku.
Hmm…aku masih berpikir ketika merasa tanganku ditarik oleh tangan Tego.
“Onegai…” katanya memohon.
Aduh, jangan menatapku seperti itu, aku jadi tak bisa menolak ajakannya, akhirnya aku hanya mengagguk saja dan membiarkan Tego menarikku ke markas OSIS.
Kita sekarang berada didepan markas, Tego memandangku lalu mengagguk mantap dan membuka pintunya perlahan.
“Konnichiwa!” teriak Tego ceria, masih menggandeng tanganku.
Keadaan markas itu tak seperti yang kubayangkan, selama aku ditarik oleh Tego, aku berfikir bahwa didalam markas pasti YamaPi duduk dibalik meja kantoran, memakai seragamnya dengan benar lalu sedang sibuk dnegan laptopnya, lalu Ryo disampingnya dengan Shige mengagguk – angguk berwibawa membicarakan sesuatu. Ini jauh dari bayanganku. Kenyataanya YamaPi, Ryo, Shge dan Koyama sedang asyik main monopoli. Catet MONOPOLI…itu permainan paling lame deh kayaknya kalo dimaenin siang – siang gini. Udah gitu mereka sibuk berteriak – teriak dan bercanda, Massu duduk dipojokan memainkan laptop sambil mengunyah sebuah roti, aku kaget.
“Hei!” sahut YamaPi sambil lalu.
“Aku bawa seseorang.” Kata Tegoshi, “Orang penting,” semuanya masih sibuk dengan urusan masing – masing dan tampak tidak menghiraukan Tego, “buatku…” akhirnya semua memfokuskan pandangan padaku dan Tego yang masih bergandengan tangan.
“Kenalkan…ini…dinchan…dia pacarku.” Kata Tego.
Aku tersenyum semanis mungkin, yah, kucoba semanis mungkin…lalu menunduk sedikit dan berkata, “Hajimemashite…dini desu…Yoroshiku Onegaishimasu.”
Semuanya hening, menatapku, sepertinya menilaiku, haduh! Mampus deh, aku gak biasa menatap mereka.
“Omedetou!!!” Koyama membuka suara duluan.
“Akhirnya Tegoshi…akhirnya…” kata YamaPi dengan mimik wajah sok sedih, “Aku sudah mulai bosan dengan ocehan aku-ingin-dinchan itu..hahahaha.” katanya lalu menghampiri dan menepuk – nepuk bahu Tego, lalu YamaPi merangkulku, “Yoroshiku ne~ jaga dia baik – baik dinchan, walaupun dia sedikit lambat, jadi kau harus sabar.” Katanya, aku tak menyangka YamaPi mengoceh seperti ini, merangkulku pula.
Ryo dan Shige ikut mengucapkan selamat dan membuatku agak risih, aduh kenapa mereka semua tampan, membuatku canggung begini. Massu menghampiriku dan Tego.
“Omedetou..dinchan…Tego..” katanya lalu nyengir dan kembali memakan rotinya.
“Jadi, harus kita rayakan kan?” kata Koyama.
“Benar – benar…kita semua makan – makan, merka yang traktir.” Kata Shige menimpali.
“Makan – makan?” mata Massu berbinar, dasar Massu! Hanya memikirkan makanan saja.
Tego tersenyum tapi tak menjawab.
“Kencan!!!kencan!! ayo kita kencan berenam!” kata Ryo.
“Gak adil,,aku gak punya pacar!” seru Massu dari belakang, “Shige juga kan?”
Shige menggangguk, “Aku kan jomblo….hikz..” katanya.
“Gampang, ntar kita cariin pasangan deh.” Kata Ryo lagi, sambil merngkul YamaPi, “iya kan Pi?” tanya Ryo meminta persetujuan YamaPi.
“Aku juga….!!!” kata Koyama tiba – tiba.
“Hah? Putus?” tanya Shige berteriak.
Koyama memanyunkan bibir dan mengagguk sedih, “Kemaren…” katanya lalu menunduk pura – pura sedih di bahu Shige.
“Iya gampang…aku bisa pergi hari minggu.” Kata YamaPi.
Tego langsung bereaksi, “Kita akan ke taman hiburan hari minggu…bagaimana kalau kesana saja.”
AKU BENAR – BENAR MATI.
MATI…
Massu pasti marah sekali padaku.
Massu menegakkan diri dan memandangku seakan meminta penjelasan. Aku hanya diam tak mampu memandang mata Massu yang kurasakan menembus kulitku.

————————————-

Massu..gomen ne..
From:dinchan
SMS itu berkali kali kubaca, apa aku berlebihan tadi? Entahlah, saat itu aku hanya berfikir bahwa meninggalkan tempat itu paling baik untukku saat itu.
-flashback-
“Iya gampang…aku bisa pergi hari minggu.” Kata YamaPi.
Aku menanggapinya malas – malasan. Lagipula dinchan pasti menolaknya, bukankah kita punya janji minggu ini. Aku akan menolak ajakan Ryo yang aneh itu ketika tiba – tiba Tegoshi bereaksi cepat.
“Kita akan ke taman hiburan hari minggu…bagaimana kalau kesana saja.”
Aku kaget dan seketika berdiri menatap dinchan. Ia berjanji, sudah berjanji akan meluangkan waktunya untukku minggu ini. Kita akan ke restaurant yang baru buka dan kami akan nonton film. Dinchan menunduk. Itulah yang ia lakukan jika gugup. Aku terus menatapnya ketika semua orang mulai meminta YamaPi membawa cewek cantik untuk mereka.
“Ne…Massu…kau mau cewek yang seperti apa?” Tangan Ryo tiba – tiba merangkulku dan membuatku terkejut sesaat.
“Hah?” aku tak menyimak.
“Kau mau cewek seperti apa?”
Aku melepaskan diri dari Ryo dan berjalan keluar tanpa mengatakan apapun. Dinchan bereaksi dengan menoleh saat aku pergi.
“Aaaaa….Massu itu kenapa sih?” kata Ryo dari dalam, aku masih bisa mendengarnya.
-flashback end-
HP itu berdering lagi. Nama yang sama masih muncul di layar HP ku. Aku tak mau repot – repot me-rejectnya. Kudiamkan saja, aku sedang tak mau berbicara dengan siapapun. Aku melamun saja ketika okaa-chan menyuruhku untuk makan. Aku mengiyakan dan berkata akan makan nanti.
Massu…mau jalan2 besok?sabtu?
Aku benar2 tak mau kau marah padaku.
From:dinchan
Hah?besok?sabtu ya?bukankah biasanya dinchan benar – benar tak mau diganggu pada hari sabtu. Akhirnya aku luluh, aku meneleponnya. Sambil menunggu diangkat, aku membuka – buka laci meja belajarku.
“Moshi – moshi?” angkatnya.
Eh? Gelang ini! Aku mengangkat sebuah gelang warna – warni dari laci. Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat gelang ini.
“Massu?” panggil orang diseberang.
“Aaaaa…gomen…dinchan?”
“Gomen ne…apa yang harus kulakukan supaya Massu tak marah lagi padaku?”suara dinchan pelan sekali.
Aku lebih tertarik pada gelang yang kugenggam sejak tadi. Ini adalah gelang yang dinchan beli saat SMP. Ia memakaikan gelang ini sebagai tanda persahabatan. Gelang yang warna – warni ini.
“Massu?”
Ya ampun! Aku membiarkan dinchan sendirian.
“Gomen….” katanya lagi.
Aku kalap! Aku tau dinchan sebentar lagi akan menangis. Aku sudah hapal kelakuannya sejak kecil.
“Dinchan…jangan nangis ya…janji jangan nangis, ya sudah, kita jalan2 besok saja…tak perlu ke pembukaan resto…kita nonton dan jalan – jalan saja ya..” aku memang lemah sekali kalau ia menangis. Aku tak pernah tahan melihatnya menangis.
“Benarkah? Kau tak marah lagi padaku?”
“Hmm…” aku pura – pura berpikir, sejak kapan aku bisa marah padanya?,”kamu pernah lihat aku marah padamu?” tanyaku akhirnya.
Dinchan diam sejenak lalu berkata, “Tidak…” jawabnya pelan.
“Ya sudah, sekarang istirahat saja, besok jam 11.” Kataku cepat.
“Un..” jawabnya lalu menutup teleponnya.
—————————————–
Aaaaaah..capek sekali jalan – jalan dengan Massu. Ternyata dia memintaku menemaninya beli baju. Kakiku berasa sakit, karena kita menenelusuri pertokoan dari ujung hingga ujung lagi, dan itu pun disertai milih – milih yang lama. Aduh…beruntung tadi aku pakai sepetu keds, sehingga tak terlalu berasa sakit. Kebiasaan buruk belanjanya belum juga berubah. Tapi aku kaget, Massu menggunakan gelang persahabatan itu. Gelang warna – warni yang sebenarnya aku bikin sendiri, tapi ia tak tahu karena aku bilang kalau itu kubeli saat aku jalan – jalan. Aku senang ia masih memakainya, bahkan ia menyuruhku memakainya juga besok.
Besok, hari kencan itu. Hari 6 kencan yang aku takutkan sekarang ada dihadapanku. Besok, tepatnya.
Yuu’kun CALLING
Aku baru saja merebahkan diri di kasur saat HP ku berbunyi, tanda telepon masuk.
“Moshi moshi?” angkatku malas.
“Dinchan…sedang apa? Kenapa SMS ku tak dibalas?” tanya Tego.
“Hmm…aku tadi sedang berpergian. Gomen ne..”
“Ah,, sokka.. istirahat yang cukup, besok jam 11 kita aku jemput kau ya?”
“Ano~ Yuu’kun~ bagaimana kalau kita bertemu disana saja? Aku bisa pergi dengan Massu.”
“Hmm..baiklah…Oyasumi..”
“Oyasumi…” aku menutup flip HP dan berbaring terlentang, saat itu juga mataku terasa terpejam dan sepertinya aku tertidur.
Mataku terbuka sedikit – sedikit. Sepertinya sudah pagi, tapi tirai di kamarku masih tertutup. Hari minggu seperti ini, biasanya Mama memang tak membangunkanku. Tanganku bergerak – gerak mencari HP yang entah kulempar kemana semalam. Setelah menemukannya, aku mengintip melihat jam di HP.
10.05 am
Hmmm…masih jam 10…eh?jam 10!!! Tiba – tiba rasa kantukku hilang semua. Hari ini, jam 11 harusnya aku sudah bersiap sejak tadi. Aku kelimpungan, ketika tiba – tiba bel pintu rumahku berbunyi. Itu Massu!! Kita janjian jam 10 agar tidak terburu – buru pergi ke taman hiburannya.
“Dinchan!!!” Oneechan mengetuk – ngetuk pintu kamarku.
“Yaaaaa?!!!” teriakku dari kamar mandi.
“Massu menjemputmu, katanya kalian akan kencan?hahaha.”
“Hmm….suruh tunggu….” kataku cepat.
Persiapan yang kacau. Sangat kacau. Aku mengambil baju apa saja yang ada di lemariku. Tanpa make up apapun, aku menyambar tas tangan, HP dan gelang lalu berlari ke bawah, mendapati Massu sedang mencicipi makanan Mama, seperti biasa.
“Hmm…ayo Massu…” kataku.
Ia menatapku yang berlarian di tangga.
“Dinchan…ano~ kau belum menyisir ya?” kata Massu lalu tertawa.
Aku cemberut melihat penampilanku di kaca.
Mama tersenyum dan masuk ke kamar lalu merapikan rambutku yang sepertinya memang kacau sekali.
“Kenapa kau tak bilang ada janji jam 10?” kata Mama lalu menyematkan sebuah jepit di poniku. Aku hanya cemberut menggenggam tas tanganku dengan kesal.
“Sudah rapi sekarang.” Kata Mama.
Massu dan aku berjalan menikmati pemandangan lalu berhenti di halte menunggu Bis. Aku memperhatikan Massu sebentar, sejak tadi ia hanya tersenyum – senyum saja.
“Heh! Apa yang lucu sih?” tanyaku agak marah.
Ia tertawa lalu menatapku, “Bagaimana ini, baju kita kembaran.” Katanya.
Aku terkesiap dan memperhatikan baju yang ia kenakan dengan bajuku. Sama persis. Aku pakai kaos warna kuning, itu kaos yang ada paling atas di lemariku, dan ternyata Massu juga mengenakan kaos berwarna sama. Yang lebih konyol, aku pakai cardigan panjang putih, ia mengenakan jaket putih juga. Lebih aneh, kita sama – sama pakai jeans dan pakai gelang yang sama. Parah! Ini kencanku dengan Tegoshi, tapi kenapa malah aku pakai baju yang sama dengan Massu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka melihatnya.
—————————————–
To be continue~

COMMENTS ARE LOVE MINNA~

Advertisements

3 thoughts on “[Minichapter] Key of Heart (chap 1)

  1. Nu

    komen ny

    BUNDAAAA
    BLOG MU MENYILAUKAN SEKALEEEEE
    TT__________TT

    huekekekekek
    *make kaca mata item*

    aku sape as dolo aja yak
    bacanya DIRUmah
    0___< )b

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s